In every girl’s favorite thing, there is an untold story.
Lady of Giraffe
Hai, I’m a lady of giraffe. The lady who loves giraffe things so much. Started to like the tallest-animal-nowadays since 2004. Until now, I’ve been collecting so many things about giraffe in my room, and also in my cubicle. But why should giraffe? Not many of you know the reasons behind.
The main reason is silly. In 2004, I got a crush on a very tall guy. My friends called him ‘giraffe’. Now I feel like my cheeks are blushing and my neck is itchy.
😀
My First Giraffe
My Collections
My Collections
But there are also other reasons. I may say them with a philosophy of giraffes. So many things we can learn from this long-neck animal.
Fight For Life
Evolution of Giraffe
It is obliged to browse on the leaves of trees and to make constant efforts to reach them. From this habit long maintained in all its race, it has resulted that the animal’s fore-legs have become longer than its hind legs, and that its neck is lengthened to such a degree that the giraffe, without standing up on its hind legs, attains a height of six metres (nearly 20 feet).” – Jean Baptiste Lamarck (1809) “Zoological Philosophy”
A giraffe, in order to live, he has to eat. There was no more food on the land so he ate the leaves. Because the tree was growing up continually then the giraffe must adapt with it (remember the Evolution Theory by Darwin?). This animal is just one of many example that teach us how to fight for life.
Learn from a giraffe. Live your life to the fullest potential, and fight for your dreams.
Learn To Grow
Growing Giraffe
You will never see a giraffe say to itself one day, “Well, this is tall enough, I think I’m going to take a break from growing now”
The extended neck of giraffes instead appears to be a consequence of sexual selection. Male giraffes use their neck and head as clubs in agonistic displays with other males in competition for females: those with thicker necks and more massive skulls and horns are more successful, and are prefered by females. The extended neck of giraffes instead appears to be a consequence of sexual selection. Male giraffes use their neck and head as clubs in agonistic displays with other males in competition for females: those with thicker necks and more massive skulls and horns are more successful, and are prefered by females. (Jean Baptiste Lamarck (1809) “Zoological Philosophy”)
Almost everything on earth has an innate environment it can’t do anything about. It can’t change the direction of the wind, when it rains, among many other things. Yet, all living things still grow and thrive to their maximum potential in the wild.
In life, not being the best you can be, always has severe consequences.
And a giraffe allows us to learn how to grow. Life’s problems are sent to us to make us grow up, mentally and spiritually.
Problem Solving
Giraffe Kicking Ass
A giraffe, with all that height, comes the advantage of being able to see predators from great distances, especially out on the open grasslands. But vigilance is just one of a giraffe’s defense mechanisms. When attacked, a giraffe will use its large powerful hooves, and kick at its enemy. And a kick from a giraffe is no laughing matter. They have been known to sever lions’ heads.
So why don’t we learn from him, in a way of solving a problem. If something happened on his habitat, a giraffe would use his long neck to listen and look around. He would observe first. Identifying first, he doesn’t take any decision in haste. But if he’s really sure that there are things bothering him, then without no doubt he will kick their asses.
😀
Low Profile
Giraffe, A pain in neck
A giraffes is high yet so low. Being the highest animal on earth, while others are very shorter than him, makes him usually lower his neck.
Yes, sticking his neck out for friends.
The way I see it, is… no matter how high we are, sometimes we have to be able to low our standards. So we can stick around with others.
Unique
Spots Pattern
Each giraffe is unique with his long neck and spots pattern that are distinctive to other animals.
As a human, we must have an unique character that will distinct us to other human. Because the character is foundation.
Character is the real foundation of all worthwhile success. – John Hammond
Those above are some philosophy of giraffes that we can use in our daily life.
And I’m proud to say that I think I meant to be a big fan of giraffes. Wherever I go, I always find any cute-giraffe things.
Lo pernah penasaran enggak sih sama silsilah keluarga lo? Ingin tau asal usul lo dan seperti apa buyut lo di masa lalu? Well, gue iya. Banget. Dari dulu paling suka mendengarkan cerita bokap nyokap gue tentang sejarah keluarga. Menurut gue, mengetahui cerita-cerita sejarah keluarga gue itu bagaikan dongeng yang pantas diturunkan ke para generasi penerus, selain cerita Cinderella atau Snow White tentunya. 🙂
Jadi ceritanya siang tadi gue sekeluarga menunjungi salah satu eyang yang masih hidup. Bukan eyang langsung gue, tapi adik laki-laki eyang kakung tepatnya. Setelah perjalanan jauh ke Pamulang plus sedikit nyasar, akhirnya sampai juga di rumah Eyang.
Eyang Sarosa namanya. Atau akrab dipanggil eyang Sar. Ternyata eyang gue yang sudah berumur 80 tahun ini masih sehat wal-afiat. Enggak seperti tipikal kakek tua umumnya yang sering gue lihat di TV. Tidak bertongkat dan tidak pikun. Beliau bahkan masih dapat membaca tanpa kaca mata! Meski jarak pandang mata dan yang dibaca maksimal 10 cm. Hehe.
Eyang Sar saat ini
Eyang gue tinggal sendiri di rumahnya yang cukup dihuni satu keluarga sebenarnya. Tapi hanya sepasang ART saja yang menemani beliau. Istrinya sudah lama meninggalkannya kembali kepada sang pencipta. Anak-anaknya sudah hidup terpencar, meski begitu bukan berarti eyang ditelantarkan. Tiap minggu anak cucunya pasti rajin mengunjunginya kok. Dan beliau akan merasa bahagia sekali, hiburan baginya melihat anak cucunya berkumpul.
Eyang Sar muda (engineer cuy)
Selain berkumpul, yang membuat eyang bahagia adalah teknologi. Jebolan teknik mesin ini di waktu senggangnya ditemani oleh netbook dan blackberry torch. Layar sentuh saudara-saudara! Kalah deh emak babe gue :))
Baru datang saja beliau langsung mengeluarkan sebuah buku dan beberapa poster. Ternyata buku itu adalah silsilah keluarga dan poster itu adalah bagan family tree. Keduanya beliau sendiri yang membuatnya! BRAVO!
Sambil membolak-balik lembaran demi lembaran gue memperhatikan silsilah keluarga gue. Gue menyentuh dan mengusap fotonya seolah ingin mengenalnya lebih dekat. Jujur gue kaget mengetahui buyut gue, selama ini bokap gue enggak pernah menceritakan dengan jelas asal usul kami. And I just found out the history of my family.
Silsilah Keluarga Besar Darsodipradjan
Bagan SilsilahBuku Silsilah
SOROSILAH
Siapakah Darsodipradjan? Beliau adalah eyang kakung bokap gue, means buyut gue! Dilahirkan dengan nama Raden NG Darsodiprodjo. Namanya susah banget ya. Beliau ini masih bangsawan meski bukan turunan langsung Keraton. Makanya ayah beliau mendapat gelar Raden dari keraton sehingga masih dapat diturunkan kepadanya. Jika beliau menikahi rakyat biasa, gelar radennya enggak bisa diturunkan ke anak-anaknya. Dan kakek buyut gue menikahi wanita keturunan langsung Keraton Surakarta. Wanita itu adalah B. R. Ayu Asiyah, putri dari putri langsung Praboe Browidjojo IX yang menikah dengan cucu dari Mangkoe Nagara III. Kedua nama itu adalah nama-nama keturunan kesultanan Surakarta.
My Family Tree
Bingung? Intinya, karena eyang buyut putri masih keturunan langsung keraton oleh karena itu keturunan-keturunannya masih bisa diberi gelar Raden. Jika laki-laki bisa tak terhingga diturunkannya. Gelar akan berakhir pada keturunan perempuan yang menikah dengan pria bukan bergelar raden.
Buku Silsilah Keluarga Keraton Surakarta
Ah aku bangga sama eyang buyut, bisa aja ngedapetin cewe keraton. Semoga eyang tenang di alam sana ya. Terima kasih eyang sudah mencipratkan sedikit darah biru di darah cicitmu ini. 🙂
Jadi dari situ lah semuanya dimulai. Gue teringat siang tadi Eyang Sar menunjukkan ke satu titik pada kertas sebesar poster yang bergambarkan pohon keluarga kami itu. Berawal dari eyang Darso yang menikahi eyang putri Asiyah. Mereka berdua dianugerahi 16 putra dan putri! Astaga, makin salut gue sama buyut gue ini. Sayangnya 6 diantaranya diambil Tuhan YME saat masih kecil – kecil, sehingga tersisa 10 saja. Dan Bapaknya bokap gue, biasa dipanggil Papih sama anak-anaknya, adalah sulung dari 10 bersaudara itu.
Nama eyang kakung nan tampan dan gagah gue adalah R.M Soeratmo. Beliau adalah prajurit dengan nama gelar Hindrajit. Itulah asal mula nama kepanjangan gue ‘Hindrayanti’. Sayangnya gue sendiri ngga sempat bertemu dengan eyang kakung gue itu. Beliau sudah wafat jauh lebih dulu sebelum bokap gue menikah dengan nyokap gue. Bokap gue memang telat menikah untuk ukuran orang jaman dulu.
10 Eyang
Nah, Eyang Sar itu anak keenam. Jadi om-nya bokap gue. Bokap gue dengan om-nya ini paling akrab. Dulunya sering main bareng katanya hehe.
Putra Putri Eyang Hindrajit
Mitos Keluarga
Di rumah eyang Sar tadi, selain menunjukkan silsilah beliau juga menceritakan beberapa mitos keluarga kami.
“Keluarga kita itu tidak sempurna, ada cacatnya. Ada enggak beresnya. Percaya enggak percaya, ada dua hal kejadian aneh yang terjadi di keluarga Darsodipradjan.” Jelas eyang panjang lebar.
“Pertama, enggak ada keturunan keluarga kita yang lahir kemudian diadakan syukuran atau selamatan. Tujuh bulanan aja enggak. Kalau dilanggar, pasti meninggal enggak lama setelah syukuran.” Begitu kira-kira translate bahasa Indonesianya dengan ejaan yang enggak sempurna juga. Eyang ini masih campur-campur bahasa Jawa kalau berbicara.
Dan mitos itu ternyata memang dipegang teguh oleh seluruh keluarga. Gue pun ternyata sewaktu lahir enggak diselamatin sedikitpun. Aqiqah hal yang berbeda ya, itu wajib dalam islam. Biasanya tradisi keluarga Jawa kan banyak syukuran menyambut kelahiran bayi tuh, nah satupun di keluarga kami enggak ada yang melakukannya. Kata nyokap gue, “Lahir ya lahir aja.”.
Mengapa keluarga gue mempertahankan mitos itu ya? Percaya hal seperti itu bukannya syirik? Kenyataannya, memang pernah ada salah satu anggota keluarga kami yang melanggarnya. Terbukti benar jika diadakan syukuran atas bayinya, enggak lama setelahnya meninggal. Bahkan ada sepupu bokap gue yang istrinya ngeyel (enggak nurut) tetap mengadakan syukuran untuk anak berikutnya setelah anak pertamanya meninggal. Yang terjadi, putranya pun meninggal lagi.
“Ingat itu ndok, jangan dilanggar.” Suara eyang Sar terdengar sedikit bergetar. Gue jadi merinding.
Mitos kedua, membuat bulu roma gue berdiri. Anjiis bahasa 80-an banget enggak sih.
“Di setiap keturunan perempuan, ada saja yang enggak menikah.” nada suara eyang menjadi serius. Lalu eyang menyebutkan tiga nama perempuan di keluarga yang enggak menikah hingga kini. Salah satunya, adik langsung bokap gue. Tante yang akrab gue panggil Ibu, karena dia mengganggap gue anaknya sendiri.
Gue, kakak gue, dan nyokap langsung mengetok meja bersamaan. Amit-amit.
“Makanya, kamu ingetin anak-anakmu supaya segera menikah. Mitos kedua ini untuk memotivasi. Putuskan mata rantai di mana ada perempuan yang enggak menikah di setiap keturunan. Hapus.” Pesan eyang ke bokap gue.
Lalu serta merta bokap dan nyokap gue meng-‘tuh dengerin eyang’ ke gue dan kakak gue. Hati gue mencelos. Pesan ini akan selalu gue ingat. Jangan banyak pilih, kata eyang. Tapi juga jangan sampai menikah karena enggak ada pilihan lain.
Iya eyang, tapi masih mending sih kalau enggak ada pilihan. Daripada belum ada yang bisa dipilih?
Alih-alih memecahkan kecanggungan yang tercipta di antara eyang, gue, dan kakak gue, lalu gue menanyakan satu hal pada eyang. “Kok eyang rajin banget buat silsilah dan senang menceritakannya ke anak cucu ya?”
Jawaban eyang cukup menohok, “Supaya kamu enggak pernah lupa darimana kamu berasal. Kamu tau riwayat keluarga kamu dengan harapan, kamu akan berhati-hati dalam bertindak. Menjaga tutur kata serta selalu santun. Ada nama para eyang yang kamu emban di pundak kamu.”
Ah Eyang, benar sekali. Family is where one (personality) starts from. Kepribadian seseorang ditentukan dari bagaimana ia dididik oleh keluarganya. Didikan keluarga yang sudah lurus, jangan dibuat bengkok.
Gue senang pengalaman kemarin membuat gue tau dan mempelajari silsilah keluarga gue. Karena gue bangga karena, maka gue menuliskannya. Meneruskan sejarah untuk anak cucu gue nanti. 🙂
If you don’t recount your family history, it will be lost. Honor your own stories and tell them too. The tales may not seem very important, but they are what binds families and makes each of us who we are. – Madeleine L’Engle
Menyandang gelar keturunan langsung Keraton Solo lantas tidak menjadikan aku merasa spesial. Aku tetap orang biasa, bedanya adalah ada beban nama baik leluhur yang aku pikul. Dan menjadi Mia seperti di titik sekarang ini, kuharap para nenek moyangku bangga, tidak berkeberatan, dan merestuinya. Semoga tenang di sana, para Eyang…
Dua tahun lagi menjelang 30. Usia yang mungkin dikatakan beberapa orang memasuki level ‘terlambat’. Contoh mudahnya ya seperti gue. Lajang di usia 28 dianggap beberapa kalangan sebagai usia yang terlambat untuk menikah.
Tapi inilah adanya. Gue juga ngga pernah sedikitpun terpikir akan memasuki zona meresahkan dalam hidup gue. Di saat orang-orang seusia gue sudah menikah dan memiliki keturunan, gue malah menjalani fase kandasnya sebuah hubungan. Dan detik ini pun tidak ada seseorang yang sedang mengisi hati gue. I don’t even know where does my heart beat now.
Hampir semua wanita muda di usia awal 20-an pernah bercita-cita untuk mengakhiri masa lajang di umur 25 tahun. Gue berbeda. Dari dulu selalu menyebutkan umur impian untuk menikah adalah 28 tahun. Jelas gue menerima umpatan sana sini. Aneh lah, bodoh lah. Entah kenapa Mimi belia saat itu punya bayangan bahwa di umur 28 nanti dirinya telah matang dari banyak segi. Karir, emosi, watak, dan kepribadian. Prediksi yang tepat.
Now I’m 28 and fabulous.
Banyak hal menyenangkan maupun menyedihkan sudah dilalui di perjalanan hidup gue sampai membentuk Mimi yang sekarang seperti ini. Saat menyenangkan dalam hidup gue adalah membuat orang yang gue sayang tersenyum bahagia.
Pertama, orang tua. Gue bukan berasal dari keluarga berada. Bertahun-tahun tinggal di rumah sederhana dan kondisi keuangan pas-pasan. Keluarga gue rela bersusah-susah demi dapat membiayai pendidikan gue. Gue sangat diharapkan dapat menyokong ekonomi keluarga nantinya.
Alhamdulillah gue tidak mengecewakan orang tua yang sangat menginginkan gue melanjutkan studi di perguruan tinggi negeri dengan mengambil jurusan yang dipercaya saat itu akan mudah mendapatkan pekerjaan, akuntansi. Gue juga berusaha mati-matian menyelesaikan kuliah hanya dalam waktu 3.5 tahun demi segera bekerja. Desember 2005 adalah pertama kalinya bekerja dengan status masih pelajar. Januari 2006 gue lulus. Enam bulan kemudian akhirnya gue diangkat menjadi karyawan tetap di kantor gue itu. Hal tersebut penting sekali buat gue karena merupakan langkah awal untuk mengambil Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Impian gue saat itu hanya satu, memberikan tempat tinggal layak bagi orang tua gue.
Setahun kemudian, di saat berusia 23 tahun, akhirnya dapat membelikan rumah untuk keluarga gue. Mengingatnya sungguh mengharukan. Ketika pertama kali gue dan keluarga menempati rumah baru kami, kedua orang tua dan kakak perempuan satu-satunya gue tidak ada habisnya membanggakan si bungsunya ini. Moment tak terlupakan sepanjang hidup gue.
Karir gue meningkat tahun demi tahun. Gue melewati seperempat abad gue dengan kehidupan yang cukup keras untuk seorang wanita muda. Bahkan harus bekerja sampai pagi. Dan gue memang sejak dulu sangat berharap bisa bekerja di kantor pemerintahan. Gue ingin sekali memiliki jam kerja yang normal. Alasannya cuma satu, tidak ingin membuat orang tua gue khawatir karena belum sampai kost-an. Dua kali gagal proses seleksi sebuah badan regulator bank di Indonesia dan satu kali gagal di tahap akhir sebuah perusahaan negara di industri minyak dan gas. Gue pernah hopeless. Sepertinya akan bertahan menjadi akuntan publik sampai level Partner. Akhirnya gue pasrah. Awal tahun 2009 saat merayakan pergantian tahun di Batam bersama teman-teman satu tim karena harus dinas, gue bahkan punya firasat tahun itu belum juga akan resign.
Ternyata gue salah. Semua indah pada waktunya. Dan waktu gue itu adalah di kuartal akhir 2009. Gue mengikuti seleksi dengan prinsip ‘nothing to lose’. Akhirnya, impian gue bekerja di pemerintahan tercapai juga. Bahkan di perpaduan kedua badan yang pernah menolak gue itu. Gue saat ini bekerja di badan regulator perusahaan industri minyak dan gas. Lucu kan rencana Tuhan?
Kedua, para sahabat di sekitar gue. I’ve been always a best friend. Gue senang mendengarkan cerita mereka yang sedang kesusahan. Gue tidak memberi solusi, gue tau mereka hanya butuh didengarkan. Dan gue juga tidak akan men-judge negatif akan susahnya mereka. I love to cheer everyone up. Itu mengapa gue memiliki banyak sahabat. Sebuah liontin berbentuk peri menjadi salah satu kado terbaik pemberian para sahabat. They said, “You’re an angel in disguised, kak Mimi”. Bagi mereka gue adalah rekan kerja, sahabat, sekaligus pelindung dan penolong.
Penolong. Gue lebih suka disebut berbuat baik. Seperti yang pernah gue lakukan pada sahabat gue.
Sudah takdir gue mengenalnya di saat masa-masa terpuruknya. Mendampingi dan menguatkan niatnya untuk bertobat. Tak henti-hentinya gue mengingatkan untuk beribadah sampai akhirnya terjadi peningkatan yang signifikan padanya. Sejak itu kami menjadi sahabat yang saling mendukung. Kemudian tibalah saatnya dia merasa ‘breaking down’ karena teman-temannya meninggalkannya dari kantor yang sudah semakin membuatnya tertekan. Gue lah wanita selain Mama dan kakak perempuannya yang menjadi tempatnya membagi suka dan duka.
Keinginan yang sangat kuat untuk melihatnya sukses akhirnya dapat terwujud. Dengan bantuan atasan gue akhirnya dapat memberikan rekomendasi untuknya sehingga bisa bekerja di salah satu perusahaan dengan industri yang sama dengan gue. Sampai saat ini dia terus berjalan meraih kesuksesannya. Dan gue masih bisa mengawasinya dari kejauhan. Gue bangga dengan apa yang pernah gue perbuat padanya, meski sudah bukan takdir gue lagi untuk terus bersamanya.
Dulu kami belajar berdiri bersama, sampai akhirnya dapat berjalan. Sekarang gue melepasnya pergi untuk mengejar keinginannya.
See, there are so many blessings I have in this life. I always count them, it’s the way to pursue my happiness. Remembering those good moments makes me feel no longer sad. True story.
And yes, I’ve been down there on the floor. Sakit hati, penghinaan, pelecehan. Pernah gue rasakan di perjalanan hidup gue. Itu semua hanya membuat gue belajar banyak.
Something happened for a reason, something not happened for a lesson.
Semakin hari gue semakin kuat dan bijak. It’s wisdom born of pain. I never knew what is feeling better, before I feel bitter.
Gue mencoba berdamai dengan kesendirian dan kesakithatian gue. Kata adalah pelampiasan saat terluka. When I sad, I write. Ungkapan hati, harapan, dan khayalan, semua teramu dalam rangkaian tulisan. Memang benar ungkapan bahwa sakit hati membuat seseorang menjadi kreatif. Gue menulis bukan untuk menjelekkan pihak manapun, murni untuk melepaskan berbagai ide di otak gue. Juga bukan untuk dikasihani, tetapi memotivasi diri sendiri dan mungkin juga orang lain yang membacanya. Dan gue senang ketika pembaca merasakan emosi gue. Dan ketika pembaca merasakan semangat gue yang kembali bangkit.
Dan sungguh, hati patah membawa berkah. Hobi menulis gue membuahkan sebuh novel yang akan terbit di bulan yang sama dengan kelahiran gue. Hadiah ulang tahun terindah tahun ini untukku. Sebuah awal yang akan mengantarkan impian gue menjadi penulis.
Mungkin sudah mulai tua untuk baru mengawalinya, tapi tidak ada kata terlambat untuk belajar bukan. Umur bukanlah batasan. Apa yang gue lakukan di usia dua puluh delapan ini mungkin sama dengan yang dilakukan orang-orang yang masih berumur 3-5 tahun di bawah gue. Ibaratnya, gue baru membuka mata dan melakukan hal-hal yang belum pernah sebelumnya. Menulis novel, blogging, fotografi, dan sosialita (gaya, maksudnya sih keranjingan social media). Hal-hal itu lah yang mengisi kekosongan waktu dan dapat membunuh kesepian.
Jika prediksi Mimi belia memang benar bahwa mencapai kematangan di umur 28, it means I’m getting closer to be settled down. One more step to find my other half.
Dan tenang, masih ada harapan kok menikah di umur 28. Bahkan menikah tanggal 2 Mei 2013 pun usia gue masih 28, bukan?
Terima kasih Tuhan atas semua berkah yang hambaMu capai di usia 28 ini. Gue menangis hari ini, tapi bukan karena sedih. Gue bahagia. Apa yang gue dapat di hari besar ini hanya menandakan banyak yang menyayangi gue.
Me and my bff…
Sahabat baik gue Helina memberikan kejutan di pagi hari, bela-belain sejam menunggu di lobi membawakan kue ulang tahun. Rekan satu tim di kantor, Mba Annaluisa. Mamahnya yang baik hati dan berzodiak sama dengan gue sengaja membuatkan donat untuk gue. Malam hari membuat adonan dan pagi setelah tahajud mengorengnya. Gue hampir menangis mendengar perkataan si Tante yang mengatakan donat ini donat berkah, karena dibuat dengan doa 🙂
Celebration with my besties
Masih dilanjutkan dengan kejutan saat makan siang. Sahabat baru gue, yang sebenarnya adalah teman-teman dari sahabat masa lalu gue. Tiara, Hanny, dan Handy membawakan cupcake dan memberikan hadiah mengharukan. Jerapah baru untuk menggantikan jerapah lama saat gue tidur. Sungguh mereka berusaha agar gue dijauhkan dari kesedihan di hari kelahiran gue ini.
Flower me with your love 🙂
Belum habis juga kejutan gue, sebuah bunga sampai di meja gue. Cantik terangkai membentuk hati. Dikirimkan oleh sahabatku Oppie dan keluarga. Sungguh membuat hari gue berbunga-bunga.
My Bday gifts :p
Ditambah lagi dengan berbagai ucapan dan harapan yang gue terima dan belum sempat gue balas satu persatu. Gue hanya dapat meng-Amini. Terima kasih.
Terima kasih.
Terima kasih.
Many people were born on this day but I guess none is as memorable and celebrateable like me.
Sore tadi gue iseng main ke Plaza Semanggi. Di sana baru saja dibuka sebuah Nail Art Shop yang sedang mempromosikan paket mempercantik kuku dengan potongan harga 50%. Lumayan banget buat gue yang modis (baca: modal diskon) ini :p
Sambil rebahan di kursi eksekusi, gue di-pedicure sama mbak-mbak pelayannya. Gue asik memantau Timeline dan ber-BBM ria untuk mengisi waktu. Lalu ada seorang wanita memasuki ruangan toko menuju tempat kasir. Gue lihat dia melihat-lihat paket treatment yang ditawarkan. Setelah beberapa saat lalu dia berjalan menuju salah satu kursi yang masih kosong, tepatnya dua kursi di samping kiri gue.
Wanita itu sangat familiar di ingatan gue. Dude, is that you?
Putu.
Gue mengenalnya saat pertama kali masuk ke kantor gue sekarang. 28 September 2009. Dia lah orang pertama yang gue kenal di kantor. Mulai dari sama-sama mengisi kelengkapan data di HR Department, sampai mengelilingi satu ruangan untuk menyalami para pekerja lainnya satu-persatu. Beruntung kami berada dalam divisi yang sama.
Wanita muslim keturunan Bali ini memiliki perbedaan usia yang cukup jauh dengan gue, 11 tahun. Dia bahkan masih single di usianya yang berada di penghujung 30-an. Orang tuanya kaya raya dan memiliki jabatan yang cukup berpengaruh di dunia perbursaan. Oleh karenanya, semenjak remaja dia mengemban ilmu di negeri Paman Sam. Bahkan sejak lulus S2 dia juga bekerja di sana. Baru sekitar awal 2000-an dia kembali ke Indonesia.
Berada lama di luar negeri membuatnya tidak suka dipanggil dengan kata sapaan ‘Mbak’ atau ‘Ibu’ misalnya. Just call me Putu, she said. Sehari-hari lebih sering menggunakan bahasa inggris karena menurutnya, susah untuk menghilangkan kebiasaan.
Sejak hari sama-sama menjadi newbie di kantor, kemudian kami menjadi sahabat baik. Bagi gue, dia bahkan sudah seperti kakak sendiri.
Kebiasaan kami bersama dulu adalah pulang kerja bersama, di mana gue selalu ‘nebeng’ CRV silver-nya menerobos polisi 3-in-1. Sama-sama masih sendiri juga membuat kami kerap menghabiskan weekend bersama dengan belanja, perawatan, bahkan datang ke acara nikahan teman bersama. Sebenarnya tidak sepenuhnya belanja, tapi menemaninya belanja barang-barang dengan merk yang harganya berlipat-lipat dari gaji gue. Thanks to her, gue jadi pernah merasakan masuk ke dalam toko Channel, Kate Spade, Gucci, dan seterusnya yang cuma bisa buat sakit hati saja mengetahui harganya.
Dia tidak perhitungan, pernah bersama-sama beberapa teman pergi ke Taman Safari menggunakan mobilnya. Kami pergi dalam rangka mengantar gue melihat jerapah secara langsung. Lucu ya hehe. Kami hanya duduk manis di dalam mobil tanpa harus mengeluarkan uang bahkan. Tapi bukan itu yang membuat gue bisa bersahabat dengannya.
Banyak kisah hidupnya yang membuat gue iba. Dia kaya raya, tapi tidak bahagia. Dia tak memiliki kekasih dan kasih sayang keluarga yang kurang. Orang-orang di sekitarnya hanya mengukur kebahagian dari materi.
Suatu saat kami makan bersama, gue ‘curhat’ padanya tentang seorang laki-laki yang gue sayang pada saat itu. Saking sedihnya gue sampai menangis. Yang Putu lakukan adalah memarahi gue.
“Come on, dude. Don’t be such a fool crying over him. You deserve to be happy. You’re still young, you have so many best friends and a caring family.”
“Look at me.” Lanjutnya semakin berapi-api. “You’re luckier than me, dude.”Putu mulai terisak.
Dia benar. Gue memang ngga seharusnya terpuruk hanya karena seorang laki-laki. Ada orang lain yang memiliki masalah lebih berat ternyata. Melihatnya menangis membuat gue semakin merasa bersalah. Akhirnya kami putuskan untuk menghibur diri bersama. Shopping, menonton film midnight, dan dilanjutkan dengan menginap di rumah mewahnya. Besar tapi sepi. Dia sendiri dan hanya ditemani seorang asisten rumah tangga.
Gue juga masih ingat malam di kamarnya itu kami bermain ramalan kartu. Dia meramalkan kisah gue dan laki-laki yang gue sayang itu. “Berliku. Akan ada beberapa pihak ketiga di antara kalian. But, he’s gonna be your husband.” Begitu ramalannya.
Putu sudah mengatakan itu sejak gue memperkenalkannya pertama kali pada laki-laki itu. Dia teman pertama yang gue perkenalkan, dan gue ceritakan seluruh kisah antara gue dan laki-laki itu sejak awal. Laki-laki itupun pernah mengantarkan gue menjenguk Putu saat sakit.
“Kenapa kalian ngga pacaran saja sih, sudah bersahabat dekat kan?” tanya Putu saat itu.
Gue dan laki-laki itu sama-sama menggeleng dan tersenyum kikuk. Kami menegaskan saat itu hanya bersahabat. Setidaknya saat itu.
God sent people into our life for a reason, and remove them from our life for a lesson.
Mungkin porsi Putu dalam hidup gue hanya sesaat. Dia tidak nyaman dengan kehidupan di kantor kami. “So many fake people, here. F**k them all.” ucapnya dengan gaya khas seorang Newyorker. Peringainya yang keras membuatnya banyak bermasalah dengan banyak orang di kantor. Mulai atasan sampai rekan tim. Gue sendiri takut jika melihatnya marah, tak dapat diredam. Tapi gue berusaha sedemikian rupa menengahi masalah-masalah dia di kantor. Mungkin memang yang terbaik adalah dia harus mengundurkan diri. Dia tiba-tiba resign tanpa sedikitpun memberi kabar pada gue. Bahkan memutuskan kontak dengan gue dan juga teman-teman lain.
Tak ada lagi Putu menemani gue makan siang. Teman pulang kantor. Teman menghabiskan akhir pekan bersama. Teman bercerita apa saja. Dia tidak pernah tau akhir kisah gue dan laki-laki itu. Ingin sekali sebenarnya jika diberi kesempatan bertemu lagi dengannya, hal yang akan gue katakan pada Putu adalah:
Dude, You’re wrong. Ramalan lo salah. Bahkan gue dan laki-laki itu sudah menjadi asing satu sama lain. Semua yang indah pernah kami alami saat dulu berakhir menjadi bencana. Ingat dulu laki-laki itu pernah menamani gue di acara Family Gathering kantor? I bet you never thought that, me and him working at the same buiding now. Dia bekerja di industri yang sama dengan gue, dude. So close yet so far away.
And dude, you’re always wrong. Mengira gue adalah salah satu dari fake people seperti yang lo tuduhkan pada orang lain, sehingga dengan begitu saja memutuskan komunikasi dengan gue. I’m always true, dude. I feel so sad about us.
Don’t you know that I miss you, dude? If only you were not leaving me, at least I still have you as a bestfriend after loosing him.
Dan sore tadi gue sendiri pun ngga yakin apakah lo adalah wanita itu, dude. Sangat mirip tapi ngga mungkin. Lo ngga bergaya seperti wanita itu. Lo selalu memakai rok mahal dan bukannya celana selutut kumal seperti itu. Rambut lo yang di-highlight seperti wanita bule pirang selalu terurai, tidak berwarna hitam dan dikuncir asal seperti itu. Baju, tas, dan sandal wanita itu gue sangat yakin sama sekali bukan selera lo, dude. Dan dude, lo ngga mungkin beredar di Plaza Semanggi kan, bukan level lo.
Dude, dimanapun lo berada saat ini. Gue hanya ingin lo tau, lo tetap teman gue. Dan gue selalu mendoakan yang terbaik untuk lo. Ingat tasbih pemberian gue? Semoga masih disimpan dan dipakai setelah beribadah ya 🙂
Masih ingat tulisan gue yg judulnya: ‘Aku di Kelas Ekonomi, Kamu di Kelas Bisnis: Jarak Yang Memisahkan Kita’?, kalau lupa atau bahkan belum baca, coba deh dibaca dulu. Hehe.
Di tulisan itu menceritakan kejujuran gue yang mengagumi pria-pria matang. Tapi hanya kagum ya, karena gue sadar diri. Para pria yang menua dengan sempurna itu sudah jauh sukses. Bahkan beberapa, naik pesawatnya duduk di kelas bisnis. Gue? Ya di kelas ekonomi aja udah syukur. Jadi, pria-pria dewasa itu ngga lebih dari sekedar mimpi buat gue.
Dan sungguh realita tidak sejalan dengan mimpi.
Di usia gue yang sudah pantas menikah dan memiliki anak ini, gue malah masih sendiri. Belum dikasih jodoh terbaik hanya satu2nya alasan yang dapat menghibur saat ini sih. Bukan berarti gue ngga berusaha ya. Gue mencari kok. Dan yang paling mudah adalah mencari di lingkungan terdekat. Yaitu lingkungan pekerjaan.
Faktanya, tipe cowo yang gue inginkan itu sudah ‘occupied‘. Boro-boro yang jauh lebih tua, yang seumur aja sudah pada menikah. Ngga ada yang single!
Koreksi, ada. Tapi umurnya di bawah gue.
Makin kesini, klien-klien gue semakin muda aja. Tentunya mereka memanggil gue dengan sebutan ‘Mbak’. Dan hubungan kami ngga lebih dari klien-auditor. Belum ada satupun yang kurang ajar, ehm, sok dekat atau akrab lah sama gue. Intinya, meningkatkan hubungan kerja menjadi pertemanan. Itu penting buat gue yang tipenya pelan-pelan membangun kecocokan dengan seseorang. Gue harus berteman terlebih dahulu.
Tapi sepertinya sulit. Gue ngerti sih kalau ada di posisi mereka. Punya auditor yang masih single, mandiri, tapi lebih tua. Yang sejak awal sudah terbiasa memanggil dengan sapaan ‘Mbak’. Terbiasa juga menerima perintah dari mbak auditor dan permintaan data yang sudah kayak teror. Bagaimana mau menjalin keakraban di luar kerjaan? Well, bukan berarti ngga bisa dekat sama gue. Gue cukup dekat kok sama klien-klien gue. Hanya saja, seperti ada prinsip ‘Jalinlah keakraban sampai di meja meeting’.
Salah satu klien gue, perempuan, suatu waktu semangat banget bilang sama gue. “Mi, Mi. Orang keuangan yang nanti ikut meeting masih single loh. Sepertinya seumur.”
Maka berkenalanlah gue dan si klien baru gue itu. Menjaga kesopanan di dunia kerja sudah pasti dia manggil gue Mbak, gue manggil dia Mas. Sembari meeting diselipi dengan obrolan basa-basi pastinya. Tinggal di mana, asal mana, kuliah di mana, dan JENGJENG, angkatan berapa. “Mbak Mia angkatan berapa?” Cara klasik untuk tau umur dengan sopan. Dan kecanggungan di antara kami menjadi lebih lebar setelah informasi angkatan itu diketahui.
Gue langsung ijin ke restroom, supaya ngga keliatan muka gue yang kecewa. Gue butuh ngomong sama diri gue sendiri di depan kaca. “Damn, lebih muda!” So, ngga boleh sedikitpun berharap hubungan kami meningkat dari kerja ke pertemanan. Apalagi sampe berharap akan berlanjut serius lebih dari berteman. Karena kecil kemungkinannya. Dan gue ngga mau kecewa. Lagipula, ada gengsi dikit lah sebagai auditor. Ngga boleh kecentilan dan ‘SKSD’ sama klien apalagi kalau ketauan ‘ngarep’. Harga diri woi!
Lalu ngga lama si Ibu yang mau jodohin gue itu nyamperin ke toilet. Dengan hebohnya dia cerita. Setelah gue dan si Mas ngobrol yang berlanjut gue jedug-jedug di toilet, si Mas bilang “Yah Mbak, katanya seumur. Kok lebih tua sih? Segan, ah”
See, untung gue ngga ngarep dan sudah tau bakal begini sejak awal. Dengan gaya elegan gue hanya menjawab “Haha, brondong ya. Males ah.” Pura-pura ngga tertarik.
Dan ternyata, beberapa pria melihat gue itu cewek ‘untouchable‘. Mereka menganggap gue sebagai auditor mereka yang selain baik hati tentunya (narsis dikit gak apa-apa dong), gaya gue di depan mereka itu elegan, cerdas, berkelas, tegas, mandiri, dan kadang…galak. Tipe dikagumi tapi bukan untuk didekati. Juga ada faktor gengsi yang tidak mau merusak hubungan kerja kami. Akan ada kecanggungan luar biasa pastinya kalau ‘perjodohan’ kami gagal. Jadi amannya, ngga usah macam-macam sama mbak auditornya ini.
Sedih? Sedikit. Pusing? Ngga. Belum ketemu yang pas aja kan. Satu hal, gue ngga akan merubah diri gue. Ini diri gue apa adanya. Dan gue bangga menjadi ‘Miss Independent‘ di mata mereka. Suatu saat pasti akan ada yang berani menaklukan si Miss Independent ini kan. Pencarian masih terus berlanjut 🙂
Another week, another meeting. Kali ini gue meeting lagi dengan banyak muka-muka baru. Here we go, dalam hati gue.
Suatu waktu, gue meeting dengan Perusahaan Minyak lokal terbesar di Indonesia yang diadakan di Hotel berbintang 5. Gue sudah hapal banget. Kalau berdasarkan golongan, jatah mereka menginap dibedakan menjadi hotel bintang 5 dan bintang 4. Rata-rata yang seumur gue sudah boleh menginap di bintang 5. Jadi gue akan dengan mudah memprediksi usia para klien gue dari hotel menginapnya.
Dan cowok ini, muka lama tapi kebetulan baru pertama kali meeting di meja gue. Gue bahkan tidak pernah tau namanya selama ini. Setelah meeting selesai, sambil menuju giliran klien yg lain meeting dengan gue, bisa-bisanya dia sok akrab ngajak gue ngobrol. Obrolan dengan topik ngga penting. Tapi hei, kok gue malah suka ngobrol dan ketawa-ketawa sama dia. Padahal baru 1 jam bersama di meja meeting. Lalu gue teringat satu hal, yang harus gue tanya sebelum keakraban ini terjalin di luar meeting.
“Oya, ngomong-ngomong, nginap di hotel ini juga ngga?” tanya gue dengan harap-harap cemas.
“Belum nyampe golongannya, Mbak. Jatahnya masih hotel bintang 4 nih.” jawabnya sambil nyengir polos.
Pak guru gue waktu SD, beliau sudah 20 tahun menjadi pahlawan tanda jasa yang mengajar di salah satu SD swasta sampai sekarang. Waktu pertama kali mengajar gue, beliau baru lulus sarjana. Usianya saat itu bahkan jauh lebih muda dari usia gue sekarang. Cita-citanya sejak dulu sederhana, menjadi guru di sekolah negeri. Alasan beliau, ingin masa tuanya nanti terjamin. Berkali-kali mengikuti ujian pegawai negeri tetapi selalu gagal. Selama 20 tahun gelar PNS masih menjadi mimpi bagi Pak Guru gue itu. Untungnya, tidak ada batasan usia mengikuti ujian pegawai negeri khusus untuk guru. Meski kerap kali gagal, beliau masih terus berusaha demi impiannya itu.
Kehidupan rumah tangganya juga tak kalah berliku. Hampir sepuluh tahun pernikahannya dilewati hanya bersama sang istri karena Tuhan tak kunjung memberikan kepercayaan kepada mereka untuk memiliki anak. Ketika akhirnya dianugerahi seorang putra, tidak sampai sepuluh tahun Pak Guru gue dan istrinya harus mengikhlaskan anak semata wayangnya itu kembali kepada penciptanya.
Sungguh penuh cobaan dalam hidupnya.
Kisah Seorang Pemuda
Salah satu kenalan gue, memiliki masa muda yang suram. Dicap nakal oleh penduduk setempat karena pernah pulang dalam keadaan mabuk dan mengencingi masjid. Pernah mengenalkan obat-obat terlarang pada sahabatnya waktu SMP, sampai terjerumus dan berakhir meninggal overdosis. Bersama teman-teman saat kuliah melakukan perbuatan tak terpuji, sampai-sampai menjadi mimpi buruk yang menghantui setiap malamnya.
Pada saat bekerja ia bertemu seorang wanita yang membawa perubahan dalam hidupnya. Perubahan pertama, ia berangsur-angsur meninggalkan gelapnya kehidupan malam. Perubahan kedua, mendapatkan pekerjaan yang lebih baik di salah satu perusahaan terkenal di Jakarta . Meski masih kontrak, tapi derajat dan penghasilannya langsung terangkat. Hanya setahun, tak perlu melewati ujian lagi, karena keberuntungan ia pun diangkat menjadi karyawan tetap.
Sungguh penuh kemudahan dalam hidupnya.
Gue bandingkan perbedaan kedua kisah tersebut. Jujur, ada terbesit pertanyaan kepada Tuhan. Adilkah hidup kedua orang tersebut? Seorang guru dengan iman yang taat mengapa hidupnya penuh kesusahan? Dan mengapa si pemuda yang pernah mengotori rumah suciMu malah dibiarkan hidup dengan mudahnya?
Mudah saja bagi orang yang berpikiran sempit untuk menyimpulkan bahwa, Tuhan pasti lebih sayang si pemuda daripada sang guru kan? Tidak, bukan seperti itu. Tuhan sayang keduanya, tetapi dengan cara yang berbeda barangkali.
Contoh, kita sedang asik melangkah. Kemudian ada batu yang menjatuhi kepala kita dari atas. Awch! Sakit. Kita pasti langsung menengadahkan kepala ke atas dan mencari dari mana asalnya batu itu kan? Nah, mungkin begitulah cara Tuhan menegur hambaNya. Membuat makhluk ciptaanNya itu selalu mengingatNya. Diberikannya terus ujian demi ujian untuk menjadikan manusia mencapai level tertinggi tingkat ketakwaannya.
Dan sungguh manusia ada khilafnya. Meski sadar cobaan yang datang adalah ujian keimanannya kadang suka mengeluh juga. Pak guru gue pun pernah mengucap sambil bercucuran air mata, “Ya Allah, apa yang salah dengan hamba? Mengapa cobaan tak ada habisnya?”
Hal yang berbeda diucapkan oleh pemuda kenalan gue itu, “Allah sayang banget ya sama gue. Bukan pribadi yang baik dan banyak dosa, tapi selalu diberikan kemudahan.”
Dan gue miris mendengar ucapan kedua pria tersebut. Yang satu merasa kurang disayang dan satunya lagi merasa sangat disayang oleh Tuhan. Gue melihatnya justru Tuhan lebih sayang pada Pak guru dibanding pemuda itu. Karena Tuhan ingin pak Guru selalu dekat denganNya. Manusia yang sudah digariskan akan dengan mudahnya dihasut setan untuk melupakan Tuhan, cenderung akan mengingat Tuhan ketika tertimpa musibah. Kalau hidupunya enak dan selalu di atas, justru Tuhan malah sepertinya bodo amat kan. Terserah deh mau ngapain, suka-suka kamu. Dia akan terus berfoya-foya, bahkan mungkin perilakunya dapat menyakiti banyak orang. Salah satunya, meninggalkan wanita yang sudah menolongnya itu. Dia akan terus sombong dan merasa hidupnya baik-baik saja. Sungguh kasihan.
Pernah ada istilah, bukan cuaca yang baik yang membuat penerbang menjadi hebat. Dan bukan arus laut yang tenang yang membuat pelaut juga dikatakan hebat. Begitu juga manusia, kalau hidupnya flat-flat saja, apa yang bisa dibanggakan? Manusia hebat adalah manusia yang dapat melalui berbagai ujian dalam hidupnya.
Kamu merasa hidupmu penuh ujian? Selamat. Artinya sebentar lagi kamu akan naik kelas 🙂
P.s.
Tulisan ini didasari dengan obrolan bersama nyokap tadi siang tentang perjuangan hidup.
Intinya, jangan mengeluh dan menyerah.
Tingkatkan terus keimanan dengan selalu menunaikan ibadah wajib kepada sang pencipta.
Faith is taking the first step even when you don’t see the whole staircase. – Martin Luther King, Jr.
“Follow your heart” barang kali adalah salah satu saran ter-ngetop di dunia. Setiap dalam kebimbangan kemudian menceritakan masalah pada teman, biasanya kalau mereka juga bingung ngasih solusi ya kata-kata yang pas banget adalah 3 kata sakti itu.
Gue sendiri jujur masih bingung bagaimana sih yang namanya mengikuti kata hati itu. Rancu antara itu keyakinan atau ‘ngarep’. Contoh gampang, hati kita udah sayang daleeeeeem banget sama seseorang. Trus disuruh ikutin kata hati, ya ngga mau ngelepas lah.
Quotes keren orang bule bahkan bilang gini:
Always follow your heart, although it’s located left but it’s always right.
IMSO (In My Sotoy Opinion), it’s not always right. Kalau emang bener, terus kenapa gue capek-capek mempertahankan seseorang yang gue yakini dia akan terus bersama gue tapi ternyata toh ujungnya kami pisah juga? Gue bahkan dulu pernah yakin keanehan-keanehan yang membuat adanya persamaan di antara gue dan seseorang itu pertanda kalau dia adalah jodoh gue. Sepuluh tahunan gue bertahan sayang sama dia loh. Kurang ‘follow your heart’ apa coba gue?
IMHO (In My Humble Opinion), when in doubt, the best way we can do is praying. Petunjuk Tuhan ya dari mana lagi terefleksi kalau bukan dari kata hati. Sementara, ikuti saja dulu apa yang lo yakini dalam hati benar. Sisanya, watch and learn. Jika ternyata keyakinan tadi salah, ya anggaplah pelajaran.
Ada sebuah cerita tentang KEYAKINAN yang gue mau share.
Semalem gue nonton pertunjukan Teater Koma dalam rangka 35 tahun ultah mereka. Judulnya Sie Jin Kwie di Negeri Sihir. Dan perlu mengikuti terus 4 jam cerita baru bisa tau salah satu hikmah yang bisa dipetik dari cerita ini.
Singkat ceritanya sih gini, seorang putri Jenderal dari satu kerajaan Cina dahulu kala, namanya Hwan Li Hoa, percaya banget sama ramalan Gurunya kalau jodoh abadinya adalah Jenderal dari kerajaan musuh, namanya Sie Teng San (anaknya Sie Jin Kwie). Karena saking yakinnya ya doi keukeuh aja gitu usaha untuk ngedapetin si Teng San. Padahal mustahil banget, karena mereka itu musuh.
Demi dinikahi pujaan hatinya, dia melakukan apapun termasuk memihak kerajaan si jenderal sampai akhirnya memenangkan perang. Jadi si cewek sudah berjasa besar banget sama si Jenderal. Dia hanya minta dinikahi sama si Jenderal dan tanggapan si Jenderal malah menghina habis-habisan. Meski pada akhirnya setuju untuk menikahi Li Hoa, Teng San kemudian membatalkan pernikahan dengan berbagai macam alasan yang cukup menghina, sampai 2 kali. Kalau ditotal, 3 kali si cewe ini disakiti terus-menerus oleh si cowo.
Sekuat apapun keyakinan hati, pada akhirnya akan lelah juga. Tiga kali gagal dinikahi si cowo, cewe ini akhirnya pasrah. Dia berkata, “Aku tetap meyakini dia adalah jodohku, tapi mungkin sekarang belum waktunya kami untuk bersatu”
Lalu dia pergi meninggalkan si cowo. Apa yang terjadi? What goes around comes around.Karma does exist. Si cowo mulai mendapatkan hukuman akibat perbuatannya. Another moral of the story: Do not underestimate the sacrifice of a woman.#curcol :p
Penyesalan datang ketika merasakan penderitaan. Si cowo benar-benar meminta maaf dan memohon ampun kepada si cewe. Dan cinta adalah satu-satunya alasan mengapa seseorang akan dengan mudah memaafkan. Lalu mereka bersatu dan menikah.
Keyakinan si wanita, meski mustahil dan makin terlihat tidak mungkin seiiring waktu toh ternyata terbukti benar. Penantian panjang dengan penuh kesabaran akhirnya berbuah kebahagiaan juga. Artinya apa? Nothing’s Impossible in this world. Just keep the faith.
Satu kutipan dari lakon semalem yang gue ingat. “Jangan pernah menduga-duga, dugaan itu bisa jadi doa. Lebih baik menduga yang baik-baik saja” Bener banget loh menurut gue sih. Karena kejadian-kejadian yang gue alami sekarang, sudah pernah gue duga dari dulu. Terkadang terlalu mengkhawatirkan sesuatu malah jadi kenyataan. Jadi, ngga usah cemas, yakin hal-hal positif aja. Trust me 🙂
Begitulah, intinya sih jalan untuk jodoh memang akan dimudahkan. Tapi jika sulit dan berliku, jangan lantas putus asa. Yakin saja, bahwa sesulit dan semustahil apapun kalau sudah ditakdirkan berjodoh, tidak peduli berapa banyak air mata dan berapa lama penantian pasti pada akhirnya akan bersatu.
Baiknya berjuang saja, lalu pasrahkan pada Tuhan hasilnya. Jika hasilnya sesuai dengan yang diinginkan berarti kamu lucky, jika tidak ya kamu luckier. As simple as that.
Sekali lagi, ini cuma IMFO (In My Faithful Opinion). Lo boleh yakin, boleh juga ngga :p
Mimi and me played #rhyme again on Twitter after a quite-long break. The rules were only two. First, we had to create rhyming lines which have a continuous meaning from the previous tweet. Second, I used English while Mimi used bahasa.
We decided to play kinda mini #rhyme since a sentence was consisted of two rhyming lines only, not four as we usually play.
And, here we go! 🙂
@myaharyono Kenangan jangan sering-sering dikenang,
nanti air matamu menggenang. #rhyme
@gelaph If only you know how hard I try,
avoiding memories become a cry. #rhyme
@myaharyono Air mata di pipi akan mengering,
pertanda cahaya di hati segera menyingsing. #rhyme
@gelaph And I’m really waiting for the day,
the day I leave the tears away. #rhyme
@myaharyono Luka di hati ini,
adalah suka suatu hari nanti. #rhyme
@gelaph Promise yourself there will no him,
in your loudest dream and scream. #rhyme
Apa yang lo pikir waktu denger kata ini? Berapa banyak orang yang merasa kalo kata ini begitu mengerikan, tragis, nelongso, desperate, dan kata bermakna ngasihanin lainnya.
But for me, what’s so bad of being alone? Emangnya salah melakukan berbagai hal sendiri? Kecuali menikah, menurut gue sah-sah saja melakukan apa saja sendiri. Bahkan, maaf, muasin diri sendiri aja bisa ‘self service‘ (populer dengan sebutan ‘swalayan’). Makan di resto, ngopi di cafe, dateng kondangan, belanja, sampai…..hmmm…mungkin yang ini masih pro dan kontra sih, nonton bioskop.
Gue dulu juga ngga pernah nonton bioskop sendirian. Kok berasa ‘nightmare‘ aja gitu. Bayangin, berada di dalam ruangan gelap yang luas sendirian di tengah orang-orang yang asing bagi kita. Mungkin sama seremnya dengan nonton film serem. Hiii.
Bayangan gue dulu, pasti sendiri di bioskop aneh, apalagi kalo sekeliling ada yang pacaran. Kesannya lo ngga punya temen apa buat diajak nonton. Ratusan pasang mata (kalau bioskopnya full ya) seakan menatap iba dan berkata “duh, kasiaaaaan”. Dinding-dinding kedap suara bioskop pun seolah berbisik di telinga “sedihnya jadi kamu”.
Pikiran-pikiran kayak itu yang bikin gue ngga berani nyoba nonton sendiri. Some people rather nonton dvd di rumah instead of sendirian di bioskop. My problem is, selalu ketiduran nonton dvd, seseru apapun tuh film. Di bioskop aja kalo filmnya boring gue bisa tidur.
Alhamdulillah juga dulu gue selalu dapat temen nonton. Movie mates setia gue yang juga penggemar film ya sahabat gue dan ehm, mantan. Dari jaman pacaran sampe jadi mantan kami masih suka nonton bareng. Lalu ada suatu waktu temen nonton lo ngga match jadwal nontonnya sama gue, sang mantan juga sudah ngga boleh lagi nemenin nonton, dan temen-temen kantor yang sudah pada punya baby jelas ngga mungkin diajak nonton. “Gila apa ndro, mending gue nyusuin anak gue.” Kira-kira begitu penolakan mereka.
Akhirnya mau ngga mau gue harus coba. Gue ngga akan pernah tau rasanya nonton bioskop sendirian kalau ngga pernah nyoba. 3 Januari 2012, gue adakan #surveimini di twitter tentang pengalaman nonton bioskop sendirian.
Inilah beberapa hasilnya:
@phies: Sering. Biasa aja. Lagian klo ntn bioskop jg gak ngerumpi :p RT @myaharyono: Pernah ada yg nonton bioskop sendirian? Kayak gmn rasanya?
@anggizoraya: Sering..mlh asik bisa fokus nonton filmnya.. RT@myaharyono: Pernah ada yg nonton bioskop sendirian? Kayak gmn rasanya?
@riyanwahyudi: Pernah. Biasa aja. Lebih asik malah -- "@myaharyono: Pernah ada yg nonton bioskop sendirian? Kayak gmn rasanya?
@dwithya: enak juga..so private..or introvert kekeke..RT @myaharyono: Pernah ada yg nonton bioskop sendirian? Kayak gmn rasanya?
@tiaratiala: Aku udah 2x.. Seru tp gak ada tmn ngobrol. Haha RT @myaharyono: Pernah ada yg nonton bioskop sendirian? Kayak gmn rasanya?
@TiaSetiawati: @myaharyono sering. Dan gue enjoy banget. x))
Dari total 11 responden, 3 aja yang ngga suka loh. Tuh kan, berarti ngga ada salahnya sama nonton bioskop sendirian. Sore itu juga gue langsung pergi ke PS untuk nonton sendirian. Film pertama yang gue tonton sendiri adalah: Alvin & The Chipmunk 3. Gue suka film bagian 1 dan 2 karena lucu banget jadi yang ketiga juga lucu.
This is it.
Dan pengalaman nonton pertama gue sendiri di bioskop adalah: Garing!
Kenapa? Karena gue salah film. Filmnya maksa, ngga lucu sama sekali, dan gue hampir ketiduran. Berdasarkan pengalaman itu, ini dia tips dari gue supaya sukses nonton sendiri di bioskop.
1. Pastikan filmnya bukan film horor setan-setanan atau pembunuhan yah, kecuali kalo lo pemberani.
2. Jangan milih film romantis yang kemungkinan besar penontonnya banyak pasangan. Susah cari kursi kosong satu :p
3. Jangan juga nonton film serius/mikir. Sepinter/sekonsen apapun lo bisa aja loss focus, mending sama temen jadi kalo ada part kelewat bisa nanya kan.
4. Pastiin bagus resensinya. Jangan percaya trailer. Banyak yang terlihat seru/lucu pas nonton ternyata garing. Kebayang kan sudah sendiri filmnya garing pula.
5. Ga usah bawa makanan/minuman. Ngga ada temen sharing jadi bikin banyak makan dan minum, efeknya ke pipis. Kalo sendiri sapa yang jaga tas? Dan gue sih males melewatkan bagian film karena harus pipis ya.
6. Perlu kecermatan dalam milih tempat duduk nih. Pilih kursi paling pinggir. Biar kalo film selesai cepat kabur. Hohoho.
Kesimpulannya, nonton bioskop sendiri bisa garing bisa juga seru. Tergantung cara lo antisipasi kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dan ketepatan milih film. Terus gue kapok ngga milih nonton sendiri? Ya nggalah.
16 Jan 2012 gue kembali nonton sendiri. Filmnya New Years Eve. Dan gue kali ini sudah pintar belajar dari kesalahan pengalaman pertama. Seru, suka, semangat. Mana filmnya quote-able banget deh :)))
Lesson to learn: Just because you’re alone, do not ever make yourself feel lonely. If you can not enjoy doing things alone, how can you enjoy doing things together with anybody?
So, how about you? Bagaimanakah pengalamanmu menikmati kesendirianmu? 🙂
Got a copy of kinda “Personality Based on Zodiac” from a buddy and found myself smiling to the screen for how this article really match myself. Contact me for reading the other signs 😛
A slim moderately tall woman. Taurus woman is funny and a jolly person.Square facial bone structure, high cheek bone. Her round big eyes sparkle with wit and curiosity. You will not see many round faces Taurus women, and mainly she will have a strong jaw line.
She is a constantly change person. If she up sets, she will not show it and will keep it to herself for a long time, and will remember them so well. If she gets really mad at you, you will suddenly become a totally and completely stranger to her.
She is a patient person, but always need new excitement. She hates long talk meeting, long and endless conversation. She can be in love with you today, and…