Tinderella Story: Mr. (swipe) Right – Part Three (The End)

Pict from keena-equinox.com
Pict from keena-equinox.com

When I find someone that makes my heart skip a beat, I’ll stop the search and take the risk.

Previously on Tinderella Story part two:

Gue galau sih karena sudah sebulan sejak peristiwa Puncak (halah) itu kami belum tau juga kapan akan bertemu lagi. Males aja gitu kan kalau kami cuma telponan dan berkirim sexy messages doang. Lama-lama gue bosan juga pasti. (Cerita lengkap di sini)

 

Untungnya memang jadwal kami beneran enggak pas untuk ketemu, jadi gue lumayan rileks. Akhir November kemarin gue juga sempat ke Lombok seminggu penuh, pas gue balik eh dia ke Solo untuk acara Jambore Nasional Mercy. Dia pulang eh gue pergi lagi Ke Bandung. Sabar, Mi. Not to hurry, nothing good gets away.

“Kamu kapan pulang nduut?” tanyanya yang hampir saja memancing gue untuk menjawab, “Kangen ya?” Tapi gue tahan lah. Gengsi dong. Hehe.

Selama gue di Bandung dan di sela-sela gue yang sibuk parah, di malam hari gue selalu ketagihan untuk ngobrol sama dia sebelum dia tidur. Iya, sebelum dia tidur…karena gue harus kerja lagi sampai tengah malam. Pffft. Dan meskipun jauh, dia juga bisa membuat gue merasa aman. Hotel yang rada bikin parno bikin gue enggak bisa tidur sebenarnya, but one good night kiss from him can make me feel so much better. Aeh 🙂

Perubahan di diri gue ini mulai tercium oleh orang-orang di sekitar gue. Gue terlihat sibuk selalu dengan HP gue plus senyum-senyum. Enggak sedikit yang pada kepo sama gebetan baru gue ini. Kadang, di Indonesia belum lazim ya bertemu pacar lewat online gitu. Gue sendiri awalnya sempat bohong sama beberapa teman, enggak mau terus terang kalau gue dan Denny ketemu di Tinder. Tapi lama-lama gue enggak peduli juga apa kata orang, jodoh memang bisa ketemu dari banyak jalan kan.

One thing for sure, I don’t care how we both met. I’m just glad we did.

Kembali ke rencana pertemuan gue dan dia berikutnya yang juga enggak jelas. Gue sih udah kirim kode kalau bakal ada film The Hobbit terbaru dan gue pingin banget nonton itu. Tapi dia alihin pembicaraan dan berhasil bikin gue gemesssss. Sampai lah di hari Rabu sore kami telponan dan dengan sangat mendadaknya dia bilang “Kita nontonnya malam ini aja yuk.”

Gimana gue enggak gedabak gedubuk cobaaaa….

Mungkin gue memang belum ada perasaan yang lebih sama dia, tapi unpredictable-nya dia itu malah bikin gue penasaran.

Rabu malam tanggal 17 Desember 2014 kami bertemu lagi di Setia Budi One. Di pertemuan kedua ini gue enggak mau buat dia nunggu jadi udah maksimal banget lah gue siap-siapnya biar enggak sampai telat kayak pas mau ke Puncak kemarin. Taunya pas gue sampai Setia Budi, dia juga sudah di situ dong. Beda banget deh ya waktu gue sama yang lama, kayaknya banyakan gue yang nunggu dia.

Gue berdiri di lobi sambil menanti kedatangan dia dari parkiran mobil. Perlahan gue lihat bayangan dia mendekat sampai akhirnya gue bisa benar-benar melihat Mr. Swipe Right gue. Dalam hati gue kembali bersyukur, untung saja gue swipe right dia ya.. 🙂

“Hai, apa kabar?” sapanya.

Enggak ada yang berubah sejak sebulan lalu, Denny masih pria yang nice, sopan, dan menyenangkan. Sama sekali enggak seperti dirinya kalau kita sedang saling mengirimkan sexy messages. Hehe.

“Kita ngopi dulu yuk sebelum nonton.” Ajaknya yang langsung gue sambut dengan antusias.

Secangkir Americano coffee dan segelas lychee ice tea jadi saksi obrolan kami malam itu. Dia bersemangat bercerita tentang Elvaro anaknya yang justru membuat gue jadi makin kagum.

“Jarang lho ada cowok single mau adopsi anak. Pasangan yang sudah lama menikah tapi belum punya anak aja kadang suka malas adopsi.” Selidik gue.

“Itung-itung bagi rejeki. Lagian kan aku suka anak kecil.”

“Kenapa enggak bikin sendiri aja, Dutt?” Kenapa gue nanya gini sih, nanti disangka kode kalau gue ajak dia bikin bareng kan x_x

“Kan belum menikah, nanti kalau sudah ada istri.” Fiuh gue lega dengar jawabannya. Berarti Denny ini memang lurus. Mudah-mudahan.

Sambil berjalan menuju XXI, tiba-tiba dia berbisik di telinga gue, dekat sekali…gue sampai risih. Cuma untuk bilang ini…

“Mia, mantan aku jaman kuliah bahkan lebih gemuk dari kamu lho. Tapi dia baik banget. Kayak kamu…”

Cieeeeee. Aaaaw.

“Tapi sering disakitin, Dutt.” Gue timpali ucapannya itu yang dia balas lagi dengan “Itu kan mantan kamu yang sakitin. Aku sih enggak akan.”

Ah, don’t make promises of something that you can never keep, Dutt.

Sepanjang nonton, jujur dia membuat gue nyaman. Enggak seperti kebiasaan gue sama yang dulu yang flat-flat aja kalau nonton, sama Denny ini beda. Dia kerap kali goda-goda gue sambil senggol-senggol manja.

“Mia jangan nangis, Mia.” Goda dia di tengah film, sambil mendempet lengan gue. Gue balas saja dengan mendempet dia juga. “Kamu kali yang nangis.” Lalu kami sama-sama tertawa.

Gue bahkan sadar dia tengah memperhatikan gue yang serius nonton. Lalu ketika gantian gue yang lihatin dia, dia tersenyum. Senyum yang sama waktu kami saling menggoda di dalam mobil menuju Puncak. I will always remember his signature smile yang malu-malu itu.

God, is he the one? Dalam hati gue terus bertanya. Jangan buat gue jatuh cinta dulu pada pria ini ya Tuhan. Masih banyak misteri pada dirinya. Intuisi wanita gue enggak bisa diabaikan.

***

Kira-kira jam 11.30 malam, dia mengantar gue pulang. Gue sempat bertanya padanya “Kita akan ketemu lagi, nggak?”

Dia menegaskan iya, dia akan sempetin bertemu gue di sela kesibukannya. Saat itu sebuah peraasan aneh muncul di perut gue.

I can’t tell the difference between the butterflies in my stomach and the pain that I think I’m going to get hurt again.

Tiba-tiba gue insecure akan kehilangan dia. Bagaimana kalau malam ini adalah pertemuan kami yang terakhir?

Gue melangkah masuk ke kamar kos gue sambil terus membuang pikiran jelek gue. Baru saja sampai kamar dan berganti pakaian, tau-tau dia telpon.

“Kenapa, Dutt? Nyasar ya?”

“Temenin aku ngobrol dong sampai aku nyampe rumah. Sepi nih.”

AAAAAK! JOGET-JOGET!!

Di percakapan telpon malam itu dia kembali menceritakan rahasia hidupnya yang membuat gue semakin appreciate dia. Dia ternyata diangkat anak juga sama Ortunya di Jogja. Ortu kandung masih ada di Kebumen. Itu mengapa dia melakukan hal yang sama karena dia merasa hidupnya jadi beruntung setelah dipungut keluarga lain. Jadi dia murni ingin berbagi dengan anak kecil yang susah.

Isn’t he sweet?

The moment we said goodbye that night, yang sama-sama agak enggan mengakhiri telpon, membuat gue jadi yakin bahwa cerita gue sama dia akan berlanjut lebih dari pertemanan.

He is my too good to be true. My prince. My destin-der. My tinder fella.

I was happy at the moment. But I was afraid, because every time I was too happy…something bad happened.

Benar saja. Tiga hari kemudian, tepatnya Sabtu malam gue menerima telpon dari seorang cewek.

Cewek itu mengaku istrinya.

JEGERRRRR.

Lutut gue lemas. INI KENAPA HIDUP GUE KAYAK SINETRON GINIII???!!!

Gue bingung dan segera menghubungi Denny yang enggak aktif dong ya HP-nya. Pusing lah gue. Gue mulai mengingat-ingat setiap cerita yang pernah disampaikan Denny.

“Mia, kamu sih komen di FB aku. Nanti jadi ketauan mantan aku. Kamu enggak sadar kan kalau kamu tuh lagi dipantau. Kamu jaga-jaga aja suatu waktu diganggu dia.”

Saat itu gue enggak terlalu peduli sih. Ah masa bisa segitunya dapat info tentang gue?

Dan gue jadi kepikiran apa iya benaran nih mantan pacarnya yang neror? Aduh si Denny enggak bisa dihubungin semalaman. Gue enggak bisa tidur ya Tuhan iki piye??? Banyak pertanyaan yang enggak bisa juga terjawab sampai gue ketiduran. Dari mana mantannya bisa dapat nomor gue? Kalau dia sampai begitu berarti ada sesuatu yang berarti di antara mereka. Apa? Kalau memang mantan, kenapa sekarang enggak ada kabar dari Denny? Jangan-jangan memang beneran istri?

Gue berasa jadi Cameron Diaz di The Other Woman ketika pertama kali tau cowok yang dikencaninya sudah beristri. Bingung dan marah.

Shit! Now I’m the other woman???

Untung saja akhirnya Minggu pagi ada kabar juga dari si Denny, yang langsung bercerita kalau cewek itu adalah mantannya yang kembali mengganggu. Menurut Denny, mantannya yang sakit ini masih berusaha menggagalkan setiap Denny mulai dekat dengan cewek. Ini sudah kali ke-empat dan Denny mulai capek menghadapi mantannya ini.

Menurutnya, si cewek datang ke bengkel dan merebut HP-nya jadi dia bisa baca What’s App kami. Dari situ juga si cewek dapat nomor gue.

Aneh sih. Masa iya segitunya? Tapi apa hak gue untuk enggak percaya juga. Toh kami masih berteman. Tapi gue penasaran banget dan feeling gue mengatakan ada yang ditutupi oleh Denny.

Denny bilang dia enggak mau menyusahkan gue dan mau lindungi gue dari mantannya yang sakit jiwa itu. Awalnya dia minta maaf dan bilang kalau lebih baik kami saling menjauh saja. Dia kasihan sama gue yang kena apesnya. Ya masa kami selesai begini saja, gue enggak mau lah. Lalu akhirnya dia minta komunikasi kami sementara jangan intens dulu, apalagi ketemuan. Sebagai cara meyakinkan gue, Denny juga mengirimkan isi sms mantannya yang menyumpah-nyumpah dan meminta gue dan Denny enggak berhubungan lagi.

Menurut gue Denny kurang tegas. Harusnya dia bisa menyelesaikan masalahnya dulu sebelum kembali berhubungan sama gue. Gue mencoba yakinkan Denny kalau gue enggak akan ninggalin dia. Gue mau kok jalanin sama dia. (Berasa ada backsound lagu ‘walau badai menghadang….’)

“Aku enggak rela kalau kita bubar cuma karena mantan kamu yang enggak penting. Kalau kita enggak jadi karena enggak cocok malah lebih fair. At least kita berdua sudah berusaha.”

“Kamu kuat? Kalau dia ganggu kamu lagi gimana?” tanyanya.

Senin malam setelah kejadian gue dilabrak mantannya, melalui telepon kami sepakat kalau hubungan kami akan baik-baik saja. Itu mampu membuat gue tenang sih.

“Den, kalau nanti kita jadian…”

“Mudah-mudahan..” Potongnya.

“Dengerin aku duluuuu. Maksud aku, kalau nanti kita jadian kamu harus bisa bikin mantan kamu enggak ganggu aku lagi dong.”

Denny hanya diam.

Diam yang enggak pernah gue duga kalau dia akan diam seterusnya. Tak ada kabar dari Denny keesokan harinya. Mendadak Denny menghilang.

Semua pesan gue enggak terbalas, belasan telpon gue pun enggak dijawab. Setelah sekian lama gue kembali merasakan spaneng karena hal ini. Berjuta pertanyaan muncul di otak gue. Ada apa ini? Denny kemana?

Sore harinya gue sadar dia sudah men-delete Path dan FB gue, bahkan nomor gue juga di-block dari What’s App-nya. Gue putuskan menyelidiki langsung ke bengkelnya. Man, jiwa auditor gue terpanggil. Gue langsung ajak tukang ojek langganan gue dan menuju ke Cipete.

Alhamdulillah ya gue enggak sulit menemukan bengkel mobil di daerah Cipete yang enggak jauh dari Kemang Village. Gue langsung masuk ke kantornya tapi sangat disayangkan Pak Denny sudah pulang.

Bengkel ini lah kuncinya. Hasil ngobrol-ngobrol dengan beberapa karyawannya, gue malah dapat banyak fakta mengejutkan tentang Denny atau yang punya nama samaran Azka.

DAMN!

Jadi benar dong itu istrinya? Gue anggap benar dengan kaburnya Denny ini. Meski orang bengkel enggak tau pasti apakah Pak Denny sudah menikah apa belum. Tapi mereka juga enggak mengenali foto mantan Denny yang gue tunjukan. Padahal kan menurut Denny, karyawan bengkelnya kenal baik sang mantan yang dipanggil ‘Ibu bos’. Another bullshit.

Entah mana yang benar yang jelas, Denny ini sudah gue cap pembohong. He made up story about his life. Segera gue mengetikkan pesan via What’s App dari nomor gue yang lain kalau gue sudah tau semuanya dan bahwa dia pembohong. Dia langsung block gue.

Well, not to mention he’s also a coward.

Kabur, man. Kabur!

Kayak rekaman yang langsung muncul di ingatan gue betapa manisnya sikap dia selama ini ke gue..dan itu palsu. Syukurlah gue masih dilindungi, belum sampai jauh sama Denny dan terbongkar sudah kebohongannya. Bau busuk cepat atau lambat memang akan tercium juga. Dia membuktikan dirinya yang sebenarnya. Gue sudah dipermainkan mentah-mentah olehnya.

He was selling me dreams but then delivering me a nightmare.

Gue jadi ingat salah satu pembahasan kami dulu di telpon. Dia minta pendapat gue untuk berhenti dari komunitas Mercy dan akan ganti nomor lalu menghilang. Gue dengan polosnya melarang dia melakukan hal itu. “Jangan ah, Den. Jangan pernah menciptakan kesan tidak baik pada siapapun.”

Harusnya di situ gue sadar, kalau Denny ini memang tipe cowok yang lebih memilih kabur dari masalah.

Bagaimanapun juga, gue masih beruntung daripada isterinya sih. Semoga dia sabar punya suami buaya.

Kejadian ini bikin gue berani menyimpulkan enggak ada deh cowok yang emang normal dan benar main Tinder. Rata-rata cowok iseng semua di situ. Rata-rata lho ya.

Semoga dia baca tulisan ini karena dia harus tau, gue cewek yang punya harga diri. Gue memang sedang butuh kasih sayang tapi bukan berarti bisa dimanfaatin cowok seenaknya.

Bukan kekayaan yang bisa buat gue impressed, bukan mobil mewah yang dapat membuat gue jatuh cinta. Dulu bahkan gue mampu sayang pada pegawai pabrik yang hanya memakai motor bebek. Tapi kesederhanaan yang dapat memenangkan hati gue. Gue pikir dia begitu penuh kesederhanaan yang akan menghargai wanita seperti ucapannya selama ini. Tapi nyatanya…satu lagi pria brengsek yang singgah di hidup gue.

Dear Denny, semoga kamu senang tulisan tentang kamu sudah beredar luas dan dibaca banyak orang. Ini kan yang kamu mau?

Kamu memang memiliki kaki yang utuh, tapi hati kamu kemana? Sadar Den, tobat. You better save your drama, for your karma.

 

 

 

 

 

 

 

Pelajaran besar buat hidup gue dan semoga bisa berguna untuk orang lain juga. When you meet someone that is too good to be true, maybe he isn’t real…

Teman-teman, gue share tulisan ini dengan tujuan enggak ada lagi yang terjebak dengan cowok-cowok iseng di luar sana. Mereka bahkan mampu membentuk dirinya terlihat sempurna, tapi justru yang seperti itu lah yang patut dicurigai. Hati-hati juga kalau kenal lewat apapun itu atau bahkan dikenalin dengan cowok bernama palsu Azka.

Good luck untuk para Tinderella yang masih mencari pangerannya. Kalau gue sih sudah uninstall Tinder, for a better life.

P.S Benar juga ya kata penutup video College Humor tentang Tinderella…they’re finally happy because they never spoke again 😀

 

Advertisements

69 thoughts on “Tinderella Story: Mr. (swipe) Right – Part Three (The End)

  1. Hmm at least belum ada apa2 yang serius yaah ☺️. Umm for me personally Sekarang gw lebih prefer sama co yg ngga gitu doyan socmed, Dan lebih sibuk ama hidup, visi n mimpinya dan dia tau mau kemana.. Ngga perlu yg bisa menyanjung asalkan honest and sincere, hopefully I can find another Mr. Pleasant Guy Selain keponakan gw si pangeran kodok.🙏🙏

    But one more thing, Jangan lagi2 mau ke puncak mana sama orang ngga di kenal yah Mimi 🙈

    Like

  2. Mba, makasih banget udah sharing. aku baru banget main tinder. alasan yg sama, siapa tau dapet jodoh soalnya baru putus dan hp sepi haha. Bisa buat pelajaran banget sih cerita kamu, untuk lebih hati-hati hehe.

    Like

  3. seriously?! shit happens ya mbak mia..
    kayaknya memang cowok tinder cuma iseng. I’ve been treated like that for 3 times. macam keledai bodoh yg ngulang kesalahan berkali-kali. hmmm
    Baca cerita mbak dari senyamsenyum sampe sedih. Be strong ya mbakkk 🙂

    Like

  4. mba mia, aku pengguna tinder sejak awal tahun ini,berawal karna dosen kampusku yang bilang anak mahasiswanya dpt jodoh kece di tinder. emang sih kebanyakan dari mereka easy come easy go after meet up. tapi akhir2 ini saya bbrp kali match sm cowok yang seru buat diajakin cerita dan ga ada prospek buat jd “lebih” dr sekdar temen. trus skrg aku angkat tinder ini sebagai penelitian skripsiku mba. well,gak semua orang positive menanggapi aplikasi ini tp bbrp temenku bilang,aku cukup cerdik buat angkat aplikasi heboh ini sebagai penelitian skripsi hehehe…mudah2an aku bisa berbagi hasil studiku ini kepada orang banyak ya sprtyang mba mia lakuin.

    *PS : aku juga pernah ketemu match tinder,dan udh date sekitar 2x. setelah sekian lama ga ada kabar aku tau sendiri kalo dia itu duda beranak satu :(*

    Like

  5. Lagi iseng” cari pengalaman di tinder nemu tulisan ini. Aku baru mainan tinder nih, ya baru 5 hari tapi udah aku delete account ku, membosankan dan rasanya bukan orang bener-bener disini. Ini gara” diajakin temen kantor buat main jd berandai” siapa tau ketemu jodoh. hhaa.. Mungkin lebih baik main ketempat” baik kali ya biar dipertemukan yang baik juga. Btw salm kenal, aku juga auditor loh hheee

    Like

  6. Hai mba salam kenal. Aku baru aja putus dari mantan aku yang kenalannya jg lewat tinder. Ternyata dia baru ketauan kalo emang gak sesayang itu sm aku dan cuma mau duit doang alias matre! Gak gak lagi deh mainan Tinder buat urusan cinta yang serius 😦

    Like

  7. coba pasang foto tindernya pake kerudung. pose standar tanpa unsur sexy wkwk. memang gak menjamin tp seenggaknya orang iseng bwt swipe kanan bu haji, very unlikely. kalo kata peribahasa tu “mau beli emas, ya ke toko emas” “mau dapet emas, ya harus mampu beli emas”

    Like

  8. Hai ka sedih juga baca blog nya 😦 tapi aku iseng baca ini karna aku ngalamin hal yg sama karna kenalan dr tinder. Dan sudah pernah pacaran 🙂 tapi putus juga karna dia mau sekolah di luar negeri. Haha tinder drama banget memang.

    Tapi alhamdulilah org yg aku kenal ini ga brengsek bgt bahkan baik bgt suka ngingetin tentang agama,dan aku gatau sampe kapan aku move on karna skg dia kuliah di luar 😦

    Like

    1. Aduh sedihnya…

      Well kamu beruntung dapet sepersekian persen orang baik yg ada di Tinder 🙂

      Krn recently aku coba-coba lagi install n dapetnya malah parah. Baru first chat udah singgung sex 😐

      Like

  9. Buset udah kaya sinetron. But eniwei thanks bgt buat sharingan ini, hampir aja gue mau daftar recommenan dr temen. Mencari pasangan di dunia nyata memang lebih baik.

    Like

  10. Wah seru juga bacanya, turut bersimpati juga jadi korban keisengan laki2. Tapi gw gak menafikan medsos juga secara gw ketemu sm istri dari friendster. Bahkan (dulu) berapa banyak situs daring yg gw ikutin. Hampir mirip2 lah pengalaman tp kita happy ending. So, semoga menjadi bagian warna hidup kamu. Thanks for sharing.

    Like

    1. Wah kayaknya itu sepersekian persen aja atau katakanlah memang beruntung dan sdh jalannya ketemu jodoh via tinder. Emang bener yg ketemu langsung jg gak semuanya bener tp peluang yg hit n run itu lbh banyak kenalan dr online kan. Kita gak tau asal usul, so dgn mudah bisa kabur. Itu ngeselin bgt..

      Like

  11. iseng barusan google keyword “pengalaman tinder”, dan nemu blog post ini…
    gw bacanya sambil senyum2 pait gimana gituu karena I FEEL YOU SO FRIGGIN MUCH.

    4 kali gw berhubungan sama cowo yg nemu di tinder, dan empat2nya too good to be true, dengan modus first date yg sweet, ngajak nonton, jalan2, pokonya hal2 yg bikin melambung ke langit kesekian lah ..yang ternyata pada akhirnya ketauan bahwa mereka adalah pacar orang! kayak ditabok bolak balik gak tuh, finding out that selama ini gw bahagia diatas penderitaan perempuan lain(ya walopun gw rasa pacar2 mereka nggak tau ya kalo lakinye pada main)..gw sampe nangis2 dan bilang “gw tau gw nggak cantik, nggak keren, nggak tajir etc etc. tapi bukan berarti gw nggak punya perasaan. bukan berarti gw bisa disemena2in” *lebaymode*.

    dan memang dapat disimpulkan laki2 yang mainan tinder itu entah dia belom move on dr mantan, atau lg bosen sm pasangan, or just looking for casual sex. kalo kata temen gw, “jangan harap bisa dapet hubungan serius dari tinder”. true.

    oh well, pedih ya memang, tapi setidaknya kita masih diberikan pencerahan untuk tau kenyataannya, ya nggak. Somehow it’s nice knowing that I’m not the only one being deceived by tinderfellas(or shall I call them “f*ckboys” hahaha) 😀

    Like

    1. Yes you are not the only one haha. Amsyong ya para lelaki iseng yg cuma main tinder utk sesaat doang. Gak tau apa mereka berhadapan dgn wanita yg mudah ngarep. Hahaha

      Like

  12. hai mbak mia.. thanks ya buat sharing your tinder love life.. ceritanya detil mengalir, jadi enak bacanya.. meskipun mbak ini jd pengalaman ga enak, pasti ada pelajaran yg bs diambil ya.. smoga sukses ke depannya, God bless u!
    *gue jg pernah instal tinder n ketemu sm satu cewe di akhir taun 2014. tapi ga brlangsung lama, krn ga ada chemistry pas ketemu. bbrp minggu stlh itu, karena keburu pny pacar dari dunia real, gue ucapkan bye bye ke tinder hehehe*

    Like

  13. Iseng2 googling about tinder, mlh nemu blog ini..
    weww, miaa tragiss bgt ceritanya kyk novel, dr mule part 1-3 deg2an bacanya 😦
    Dan, so lucky yg bisa dpt life partner beneraan dr aplikasi itu yaa…

    Like

  14. whoaaa..iseng googling tentang tinder, aq pikir part 1-2 bakalan jadi happy ending di part 3 ternyata…
    pdhl dia smp kasih liat “anaknya” itu yah..
    parah emg cowo2 di luaran sana.

    Like

      1. Makasih Syera dan Halimah udah baca. Semoga bisa jd pelajaran khususnya buat Halimah yg baru main. Tp saran aku sih selagi masih awal main, buruan deh tinggalin 😂

        Like

  15. Halo mbak! Berawal dari mau kepo cowok yang match di tinder dan menurutku juga too good to be true tapi malah nyasar baca pengalaman mbak yang drama banget kayak sinetron gini. Tapi emang gitu sih, beberapa kali kenal sama cowok dari tinder dan emang dapetnya brengsek semua padahal aku matchnya sama yang tampangnya cowok baik-baik. Emang ga baik ya judge orang dari mukanya 😂😂 aku udah berjilbab dan foto ga yang aneh aneh padahal tapi itu cowok cowok tetep aja mengarah ke sex 😥 btw aku juga FEUI loh mbak hehehe

    Like

    1. Waaah haloo teman satu almamater hihi. Kalau dr denger pengalaman orang, bahkan para penipu di online dating jg berani utk ngaku2 jebolan univ ternama. Duhhh gila ya, nyeremin 😦

      Like

      1. Awalnya ngerasa orang bodoh banget sih mbak aku mengira ketemu cowok baik malah dapetnya yang kayak gitu 😦 tapi yaudahlah jadi punya pengalaman buat diceritain

        Like

  16. saya membaca cerita kamu seperti flashback ke tahun 2010. mirip dengan ex suami saya. hehehe…
    modusnya sama. dulu ketika masih menikah dengan saya, ngakunya duda ke cewek-cewek yang dia kejar.
    salah satu pacarnya mengajak saya ketemuan karena sebelumnya saya menelpon dia. saya terganggu dengan telpon dia jam 1 malam.
    akhirnya kami ketemu (dia bawa temannya, btw. laki2. just in case i was gonna hurt her).
    tapi akhirnya kami jujur2an. suami saya saat itu, entah di mana. enggak brani ketemu muka saya dan bolak balik nelp ce ini.
    eventually, after several affairs, i ended my marriage. my husband was a pathological cheater dan saya sudah terlalu lelah menghadapi dia.

    Like

    1. Wah saya waktu itu gak sampe ajak istrinya ketemuan sih, udah langsung males aja krn istrinya pun saat itu malah nyalahin saya. Pdhl kan saya korban tipu jg. Kayaknya emang ada bbrp cowok yg begitu ya, pathological cheater. Gak mikir perasaan orang lain dia enjoy aja jalaninnya. Baguslah mbak, emang harus ditinggalin cowok begitu 🙂

      Like

  17. aaa, iya nih kak. aku baru aja hari ini install tinder. dan udah match sama 3 cowok gitu sih. tapi belom ada yang berani chat. terus tadi siang malah ketemu cowok korea gitu karna tadi aku set gps nya di seoul. LOL. kami saling ngobrol tentang korea (berhubung saya itu kpopers) 😀 lol. jadi selama ini bener kata temen2 aku, kalo main app begituan buat have fun aja, buat nambah temen baru aja. dan aku sama si cowo korea itu sih nyaman2 aja, as long as on healthy conversation. walaupun kendalanya cuma di b.inggris aja kali ya, wkwkwk itung2 buat belajar 😀

    Like

  18. Ha ha ha ha … dasar Si Mia ini yah, curhat aja bisi bikin orang ngga bosen bacanya. Gegara liat status FB jadi nyasar ke sini terus baca Part 1 ampe ending. Bangke bener yah itu cowok! Keren beut, scenario, alur, pendalaman karakternya dapat banget tuh cowok! Balik lagi sih sibaubaubaunya bangkai ditutupin pake minyak wangi semahal apa juga tetep aja kecium bau bangkenya! *save calender* (((22 juli)) mau nonton versi di tipi ah.

    Btw, it’s a good story to tell loh. Masih ada aja yang cupu nan polos serta naif berharap cari JODOH di TINDER! (iye iyeee gw maksudnya!!!!!)

    Like

    1. Si cupu nan polos itu gue juga dong??! Siyaal. Hahahaha. Aktor watak banget kan nih lakik. Biarin ajah biar dia tau rasa, cerita ttg dia udah kesebar luas bahkan ampe masuk tipi. Tungguin yah :*

      Like

  19. Wahhh…ceritanya kerenn banget mba…
    gw jg lg iseng main tinder…baru sebulanan ini…dan gw gak mau munafik seiseng2nya gw tetep ada sebersit harapan nemu jodoh di app ini…
    Sempet match sama 1 cowo…oke..keren agamanya…berasa daprt calon Imam deh pokoknya…
    doi ampe.nelpon sejam lebih buat ngobrol…but ujung2nya doi ilang gitu aja…gak pernah mulai WA duluan.
    kan berasa jadi gw yg mupeng bgt ama dia 😂
    bener2 PHP dah tuh cowok…
    skrg udh gw unmatch mba…nomernya gw apus…paling masi temenan di instagram aja…
    yah intinya maen tinder boleh aja ya…asal jgn dimasukin ke hati…yg ada perih berasa ditusuk pisau bermata dua…hehehe

    Like

    1. Halooo makasih ya udah baca. Ahh tp ngapain main tinder kalo cuma pingin iseng, justru yg iseng itu nanti lama-lama jadi main hati. Cewek kan suka begitu hahaha. Mending gak usah lah 🙂

      Like

  20. wahhh…ternyata online dating itu masih belum berubah ya..banyak yang iseng.
    saya baru 1 hari install tinder dan badoo, penasaran seperti apa aplikasi yang katanya buat nemuin jodoh.
    Profile pic di Badoo banyak yang aneh2, en bisa sign in anonymous gitu. baru kuinstall, liat2 bentar, langsung delete account dan uninstall.
    Kalo Tinder minimal masih ada fb account yang bisa kita track, buat liat2 kalo fb nya aneh. so far rada bosen sih Tinder, kebanyakan swipe left. Ada bbrp yang match, bbrp kali chat di tinder trus minta nomor what’s app, so far belum ada yang aneh2.

    Like

    1. Semoga emang gak ada yg aneh yah di tinder. Aku dikasi tau reporter tv yg lagi observasi ttg online dating katanya sih yg bener itu setipe.com. Daftarnya rada ribet makanya emang khusus utk yg mau cari pasangan. Mungkin km mau coba? 🙂

      Like

  21. Hi kak salam kenal aku Lisa

    aku baca dari cerita pertama sampai akhir ini kakk dan we have slightly have the same circumstances. dan emang bener don’t trust anybody from tinder. aku juga jadi korban mereka kakk tapi aku lebih tragis haha. dan kayaknya emng harus uninstall tinder kayaknya. Ohiya have a great day ka!

    Like

  22. gue punya banyak cerita about Tinder Guy. Tapi gue gatau harus mulai darimana cerita ini. Yang paling ter update sih gue dijanjiin NIKAH. Parahnya gue percaya…. hahahaha. STUPID.
    Menurut gue Tinder itu cuma buat “halu” , ketemu yang cari FWB-an sejuta miliar… tapi seketemunya yang baik bgt, kudu ati ati. Like u said before.

    Semangat yeeee buat yang masih JOMBLO ! (nunjuk diri sendiri)

    Like

  23. Asik banget mbak ceritanya, haha.
    Beberapa orang sih memang berharap tinder menjadi jalan keluar.
    Apalagi yang kaya saya ini udah hampir satu dasawarsa jomblo.
    Huhuhu.

    Semoga ada jalan keluar untuk kaum single lahhh.

    Like

  24. Hai kak, aku juga pengguna aplikasi itu dulu. Gagal berkali2 setelah meetup karena berbagai alasan mulai dari yg ngajak FWBan, sampe pacar orang (syok banget), dan akhirnya dapet pacar dari sana (sampai sekarang). Dari riset yg aku dapet :
    1. Jangan pernah sekali2 swipe right orang yang gak ada mutual friends sama kita (klo banyak tmn yg kenal dia kan kita bisa dapet banyak info tentang target) – Klo aku, doi itu temennya sahabatku dikampus n beberapa temen lain
    2. Usahakan chat sama beberapa orang lain ditinder, untuk menghindari baper (ini berlaku sampe meetup) haha
    3. Meetup ditempat ramai, cukup mulai setelah 1-2 minggu perkenalan biar cepet juga proses seleksinya (pastikan dia si cowok yg bayar makan (80%) atau gak bayar sendiri2 (20%)) :p – Kami mendaki rame2, waktu itu doi kenalin aku ke temen2nya n kakaknya
    4. Setelah 2-3 kali ketemu, pastikan dia mau kenalin kita ke temen2 deketnya, jackpot banget klo dia bawa kita kenalan sama keluarganya (waktu itu aku langsung dikenalin ke bapak, ibu n keluarga besarnya)
    5. Hubungan bisa dilanjutkan 🙂
    Nb : namanya jodoh kita gak tau, yg jelas kita serahin sama Tuhan biar dapet yang terbaik
    Semangat buat kakaknya. Makasi udah share pengalamannya kakak. Membantu banget

    Like

  25. Hai salam kenal mbak 🙂 Iseng2 search pengalaman pertinderan, eh nemu blog mbak mia hehehe.Aku pernah beberapa x jg ngalamin yg come and go doang dari tinder, sampe akhirnya ketemu sii dia *ciaelah* setelah kita 6 bulan temenan (terhitung sejak awal ketemuan), hampir 2thn pacaran dan akhirnya tgl 1 kmrn dia ngelamar aku :’)
    Jodoh tiap orang mungkin jatahnya beda2 yah mbak, ada yg bertemu di dunia nyata, ada juga yg bertemu dari dunia yg “kurang” nyata hahahaha.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s