Aku di Ekonomi, Kamu di Bisnis: Jarak yang memisahkan kita

Pernah ngga suatu waktu dalam hidup lo ketemu seseorang yang membuat lo menyesal, kenapa ngga gue dilahirkan lebih cepat sih?

Gue pernah.

Seseorang itu adalah orang yang gue panggil dengan kata sapaan, “Pak”. Seseorang ini mengingatkan gue akan angan-angan di masa remaja.

Apa ya kata yang tepat, hmm, gue sebenarnya punya impian suatu saat nanti punya suami yang rentang umurnya sampai 10 tahun di atas gue. Kalau cuma lebih tua setahun dua tahun kan sama aja masih sebaya. Lebih tua 5 tahunan juga nanggung, sekalian aja 10 tahun. Bener ngga? Ngga ya? Jadi apakah gue aja yang aneh?

Kalau melihat latar belakang keluarga gue sih harusnya jadi ngga aneh ya. Bokap gue itu 15 tahun lebih tua dari nyokap gue. Tuh lebih dahsyat kan, 15 tahun. Tapi gue juga ngga melihat apa kelebihan ‘yang beda lebih dari 10 tahun’ sama ‘yang beda kurang dari 10 tahun’ selain di muka dan uban.

Bukan pengalaman, bukan kedewasaan, bukan segi bijaknya yang membuat gue cenderung jadi lebih kagum sama pria yang usianya 10 tahun di atas gue. Bokap gue malah rada kekanakan sifatnya, jd jelas bukan sifat yang gue kagumi. Jadi apa?

Ketertarikan pada pria dewasa makin bertambah saat gue SMA gara-gara baca novel Danielle Steel. Novel dewasa pertama yang gue baca judulnya Kaleidoskop. Mengisahkan 3 kakak beradik yang hidup terpisah. Bukan kisah terpisahnya ketiga wanita tersebut yang kemudian bertemu kembali yang membuat gue tertarik, tapi ketiga wanita tersebut diceritakan memiliki pasangan yang berumur jauh lebih tua. Setelah Kaleidoskop gue jadi keranjingan baca karya Danielle Steel lainnya. Hampir semuanya menceritakan si wanita jatuh cinta pada pria yang berumur jauh di atasnya. Dan Danielle ini berhasil meracuni otak gue dengan anggapan pria tua itu seksi. Quote – unquote, ngga semuanya sih.

Film Holywood juga banyak memberikan gue harapan  bahwa pria tua-tua keladi main tua makin jadi itu nyata adanya. Siapa pria beruban terkseksi di dunia? George Clooney jawabnya. Ngga ketinggalan Al Pachino, Craig Daniel, Leonardo DiCaprio, dan masih banyak lagi pria-pria yang menua dengan sempurna.

Ajak gue jalan bareng dan gue akan lebih memperhatikan pria-pria dewasa tapi seksi ketimbang pria muda yang ganteng. Kalau melihat bocah kecil ganteng, mata gue akan otomatis mencari mana Bapaknya? Haha. Ada kekaguman tersendiri terhadap pria-pria tua yang mungkin tidak tampan, tapi guratan-guratan dan garis muka yang menegaskan kematangannya menjadi nilai plus buat gue.

Waktu kuliah bahkan gue pernah sangat mengagumi dosen gue, dia sih sebenarnya ngga terlalu tua pada saat itu ya, gue umur 20 tahun dan dia di usia gue sekarang ini, akhir 20. Namanya Anom, orang Bali, mengajar Teori Akuntansi Keuangan, salah satu mata kuliah membosankan di kampus gue. Tapi gue demen setiap Pak Anom ngajar. Ah gue masih ingat dulu gue stalking Friendster dia, hahaha iya masih jaman Friendster, geli ya.

Tapi ya seiring waktu gue menyadari ketertarikan pada pria tua seksi berubah dari obsesi menjadi hanya sekedar kagum. Bedakan sama naksir ya karena kenyataannya gue malah selalu jatuh cinta dengan yang sebaya. Dan sampai saat ini gue masih mengagumi sosok pria dewasa yang pembawaannya menenangkan, ucapannya meneduhkan, dan obrolannya ‘staring’-able banget. Gue senang berlama-lama ngobrol bersamanya, bahkan hanya mendengarkan cerita dia di masa muda, sesekali diselipi jokes yang bikin gue terkekeh, mengangguk-angguk dengan saran dan nasehat yang dia berikan, ah gue betah berlama-lama dengan pria dewasa ini.

Di selasa malam itu, mendekati penghujung tahun 2011, kami masih terus asik bercakap sambil melangkah memasuki Gate dan menuju pintu pesawat. Dan disitulah kami berpisah, dia duduk di kelas bisnis, dan gue duduk di ekonomi. Ternyata memang selain perbedaan umur yang jauh, ada perbedaan yang lebih menampar pipi untuk nyadarin ya. Jadi jelaskan siapa pria ini sehingga hanya boleh dikagumi saja 🙂

Advertisements

8 thoughts on “Aku di Ekonomi, Kamu di Bisnis: Jarak yang memisahkan kita

  1. Anjrot anjrot gue sepakat banget deh nih sama post lo yang ini.
    1. Mature man equals sexiness. Soalnya mereka udah berpengalaman sih ya, udah banyak makan asam garam kehidupan. Ada banyak cerita2 atau pandangan2 yang gak terpikir sama sekali oleh otak muda kita. Gue seneng kalo berhadapan sama lelaki yang bisa membikin gue tampak bodoh dan lugu tapi mereka tidak merendahkan sama sekali, malah berniat baik ngasih tau. Arggghhhhhh bagi dongggg yang kayak gituu Miiiiiiiii… *ditampar*
    2. George Cloneeeeeeeeeeeeeeeeyyyyyyyyyyyyyyyy emang sexy bangettttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttt. Bikin mimisaaaaaaaaaaaaaan, hadeeeeeeeeeeehhhh, tipe om2 yang minta direbahin banget hahaha.

    Like

  2. Hihihi ga tau knapa ketawa pas baca tulisan lo yang ini, karna gw selalu suka sama cowo pinter kali yaaah ga pernah mikir lebih tua apa engga eh end upnya ma brondong  one thing miaw dewasa ternyata ga tergantung usia hahaha

    Like

  3. @nunik: jgn salah, sapa tau aslinya malah biasa bgt, diburemin malah biar keliatan seksi :p

    @arin: first of all, congrats ya, statusnya jadi diresmikan lagi kan hihi. Nah seperti yg gue bilang, bukan krn kedewasaan, krn dewasa ga pandang umur, gue cm suka tua-nya, matang, dewasa jadi nilai plus. Ah kalo kamu bs tebak siapa orangnya, aku pasti maluuuu

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s