My Family Tree

Lo pernah penasaran enggak sih sama silsilah keluarga lo? Ingin tau asal usul lo dan seperti apa buyut lo di masa lalu? Well, gue iya. Banget. Dari dulu paling suka mendengarkan cerita bokap nyokap gue tentang sejarah keluarga. Menurut gue, mengetahui cerita-cerita sejarah keluarga gue itu bagaikan dongeng yang pantas diturunkan ke para generasi penerus, selain cerita Cinderella atau Snow White tentunya. 🙂

Jadi ceritanya siang tadi gue sekeluarga menunjungi salah satu eyang yang masih hidup. Bukan eyang langsung gue, tapi adik laki-laki eyang kakung tepatnya. Setelah perjalanan jauh ke Pamulang plus sedikit nyasar, akhirnya sampai juga di rumah Eyang.

Eyang Sarosa namanya. Atau akrab dipanggil eyang Sar. Ternyata eyang gue yang sudah berumur 80 tahun ini masih sehat wal-afiat. Enggak seperti tipikal kakek tua umumnya yang sering gue lihat di TV. Tidak bertongkat dan tidak pikun. Beliau bahkan masih dapat membaca tanpa kaca mata! Meski jarak pandang mata dan yang dibaca maksimal 10 cm. Hehe.

Eyang Sar saat ini

Eyang gue tinggal sendiri di rumahnya yang cukup dihuni satu keluarga sebenarnya. Tapi hanya sepasang ART saja yang menemani beliau. Istrinya sudah lama meninggalkannya kembali kepada sang pencipta. Anak-anaknya sudah hidup terpencar, meski begitu bukan berarti eyang ditelantarkan. Tiap minggu anak cucunya pasti rajin mengunjunginya kok. Dan beliau akan merasa bahagia sekali, hiburan baginya melihat anak cucunya berkumpul.

Eyang Sar muda (engineer cuy)

Selain berkumpul, yang membuat eyang bahagia adalah teknologi. Jebolan teknik mesin ini di waktu senggangnya ditemani oleh netbook dan blackberry torch. Layar sentuh saudara-saudara! Kalah deh emak babe gue :))

Baru datang saja beliau langsung mengeluarkan sebuah buku dan beberapa poster. Ternyata buku itu adalah silsilah keluarga dan poster itu adalah bagan family tree. Keduanya beliau sendiri yang membuatnya! BRAVO!

Sambil membolak-balik lembaran demi lembaran gue memperhatikan silsilah keluarga gue. Gue menyentuh dan mengusap fotonya seolah ingin mengenalnya lebih dekat. Jujur gue kaget mengetahui buyut gue, selama ini bokap gue enggak pernah menceritakan dengan jelas asal usul kami. And I just found out the history of my family.

Silsilah Keluarga Besar Darsodipradjan
Bagan Silsilah
Buku Silsilah

SOROSILAH

Siapakah Darsodipradjan? Beliau adalah eyang kakung bokap gue, means buyut gue! Dilahirkan dengan nama Raden NG Darsodiprodjo. Namanya susah banget ya. Beliau ini masih bangsawan meski bukan turunan langsung Keraton. Makanya ayah beliau mendapat gelar Raden dari keraton sehingga masih dapat diturunkan kepadanya. Jika beliau menikahi rakyat biasa, gelar radennya enggak bisa diturunkan ke anak-anaknya. Dan kakek buyut gue menikahi wanita keturunan langsung Keraton Surakarta. Wanita itu adalah B. R. Ayu Asiyah, putri dari putri langsung Praboe Browidjojo IX yang menikah dengan cucu dari Mangkoe Nagara III. Kedua nama itu adalah nama-nama keturunan kesultanan Surakarta.

My Family Tree

Bingung? Intinya, karena eyang buyut putri masih keturunan langsung keraton oleh karena itu keturunan-keturunannya masih bisa diberi gelar Raden. Jika laki-laki bisa tak terhingga diturunkannya. Gelar akan berakhir pada keturunan perempuan yang menikah dengan pria bukan bergelar raden.

Buku Silsilah Keluarga Keraton Surakarta

Ah aku bangga sama eyang buyut, bisa aja ngedapetin cewe keraton. Semoga eyang tenang di alam sana ya. Terima kasih eyang sudah mencipratkan sedikit darah biru di darah cicitmu ini. 🙂

Jadi dari situ lah semuanya dimulai. Gue teringat siang tadi Eyang Sar menunjukkan ke satu titik pada kertas sebesar poster yang bergambarkan pohon keluarga kami itu. Berawal dari eyang Darso yang menikahi eyang putri Asiyah. Mereka berdua dianugerahi 16 putra dan putri! Astaga, makin salut gue sama buyut gue ini. Sayangnya 6 diantaranya diambil Tuhan YME saat masih kecil –  kecil, sehingga tersisa 10 saja. Dan Bapaknya bokap gue, biasa dipanggil Papih sama anak-anaknya, adalah sulung dari 10 bersaudara itu.

Nama eyang kakung nan tampan dan gagah gue adalah R.M Soeratmo. Beliau adalah prajurit dengan nama gelar Hindrajit. Itulah asal mula nama kepanjangan gue ‘Hindrayanti’. Sayangnya gue sendiri ngga sempat bertemu dengan eyang kakung gue itu. Beliau sudah wafat jauh lebih dulu sebelum bokap gue menikah dengan nyokap gue. Bokap gue memang telat menikah untuk ukuran orang jaman dulu.

10 Eyang

Nah, Eyang Sar itu anak keenam. Jadi om-nya bokap gue. Bokap gue dengan om-nya ini paling akrab. Dulunya sering main bareng katanya hehe.

Putra Putri Eyang Hindrajit
Mitos Keluarga

Di rumah eyang Sar tadi, selain menunjukkan silsilah beliau juga menceritakan beberapa mitos keluarga kami.

“Keluarga kita itu tidak sempurna, ada cacatnya. Ada enggak beresnya. Percaya enggak percaya, ada dua hal kejadian aneh yang terjadi di keluarga Darsodipradjan.” Jelas eyang panjang lebar.

“Pertama, enggak ada keturunan keluarga kita yang lahir kemudian diadakan syukuran atau selamatan. Tujuh bulanan aja enggak. Kalau dilanggar, pasti meninggal enggak lama setelah syukuran.” Begitu kira-kira translate bahasa Indonesianya dengan ejaan yang enggak sempurna juga. Eyang ini masih campur-campur bahasa Jawa kalau berbicara.

Dan mitos itu ternyata memang dipegang teguh oleh seluruh keluarga. Gue pun ternyata sewaktu lahir enggak diselamatin sedikitpun. Aqiqah hal yang berbeda ya, itu wajib dalam islam. Biasanya tradisi keluarga Jawa kan banyak syukuran menyambut kelahiran bayi tuh, nah satupun di keluarga kami enggak ada yang melakukannya. Kata nyokap gue, “Lahir ya lahir aja.”.

Mengapa keluarga gue mempertahankan mitos itu ya? Percaya hal seperti itu bukannya syirik? Kenyataannya, memang pernah ada salah satu anggota keluarga kami yang melanggarnya. Terbukti benar jika diadakan syukuran atas bayinya, enggak lama setelahnya meninggal. Bahkan ada sepupu bokap gue yang istrinya ngeyel (enggak nurut) tetap mengadakan syukuran untuk anak berikutnya setelah anak pertamanya meninggal. Yang terjadi, putranya pun meninggal lagi.

“Ingat itu ndok, jangan dilanggar.” Suara eyang Sar terdengar sedikit bergetar. Gue jadi merinding.

Mitos kedua, membuat bulu roma gue berdiri. Anjiis bahasa 80-an banget enggak sih.

“Di setiap keturunan perempuan, ada saja yang enggak menikah.” nada suara eyang menjadi serius. Lalu eyang menyebutkan tiga nama perempuan di keluarga yang enggak menikah hingga kini. Salah satunya, adik langsung bokap gue. Tante yang akrab gue panggil Ibu, karena dia mengganggap gue anaknya sendiri.

Gue, kakak gue, dan nyokap langsung mengetok meja bersamaan. Amit-amit.

“Makanya, kamu ingetin anak-anakmu supaya segera menikah. Mitos kedua ini untuk memotivasi. Putuskan mata rantai di mana ada perempuan yang enggak menikah di setiap keturunan. Hapus.” Pesan eyang ke bokap gue.

Lalu serta merta bokap dan nyokap gue meng-‘tuh dengerin eyang’ ke gue dan kakak gue. Hati gue mencelos. Pesan ini akan selalu gue ingat. Jangan banyak pilih, kata eyang. Tapi juga jangan sampai menikah karena enggak ada pilihan lain.

Iya eyang, tapi masih mending sih kalau enggak ada pilihan. Daripada belum ada yang bisa dipilih?

Alih-alih memecahkan kecanggungan yang tercipta di antara eyang, gue, dan kakak gue, lalu gue menanyakan satu hal pada eyang. “Kok eyang rajin banget buat silsilah dan senang menceritakannya ke anak cucu ya?”

Jawaban eyang cukup menohok, “Supaya kamu enggak pernah lupa darimana kamu berasal. Kamu tau riwayat keluarga kamu dengan harapan, kamu akan berhati-hati dalam bertindak. Menjaga tutur kata serta selalu santun. Ada nama para eyang yang kamu emban di pundak kamu.”

Ah Eyang, benar sekali. Family is where one (personality) starts from. Kepribadian seseorang ditentukan dari bagaimana ia dididik oleh keluarganya. Didikan keluarga yang sudah lurus, jangan dibuat bengkok.

Gue senang pengalaman kemarin membuat gue tau dan mempelajari silsilah keluarga gue. Karena gue bangga karena, maka gue menuliskannya. Meneruskan sejarah untuk anak cucu gue nanti. 🙂

If you don’t recount your family history, it will be lost. Honor your own stories and tell them too. The tales may not seem very important, but they are what binds families and makes each of us who we are. –  Madeleine L’Engle

Menyandang gelar keturunan langsung Keraton Solo lantas tidak menjadikan aku merasa spesial. Aku tetap orang biasa, bedanya adalah ada beban nama baik leluhur yang aku pikul. Dan menjadi Mia seperti di titik sekarang ini, kuharap para nenek moyangku bangga, tidak berkeberatan, dan merestuinya. Semoga tenang di sana, para Eyang…

Advertisements