The Hopeless Romantic Traveler – Jangan Jatuh Di Bromo

Jangan Jatuh Di Bromo

Kisah sebelumnya: Patah hati membuat gue memanfaatkan dinas kantor ke Dubai sebagai pelarian untuk move on. Meski selama perjalanan terasa berat karena selalu teringat kenangan masa lalu, di Dubai gue banyak belajar yang membuka mata gue bahwa hidup terus berjalan. Tutup yang lama dan segera mulai lembaran baru.

***

Lembaran baru segera gue buka sekembalinya dari Dubai. Meski belum 100% move on tapi gue mencoba untuk menikmati prosesnya. Perlahan tapi pasti gue mulai kembali ceria dan optimis dengan masa depan indah yang siap menyambut. Amiin.

Tapi terkadang beberapa orang masih salah mengartikan move on. Gue dibilang belum move on karena masih berteman dengan mantan dan belum juga menemukan pengganti. Emang gue peduli? Move on beda dengan move in. Gue sudah move on, yang belum kan tinggal move in aja. Daripada sudah move in tapi ternyata sebenarnya belum bisa move on? (Sumpah ini bukan sindiran).

“Lo sih terlalu milih, Mi.” seorang teman berkata pada gue lewat BBM suatu waktu.

“Bukan, salah banget. Gue bukan milih-milih, tapi lebih hati-hati aja.” balas gue.

Pengalaman menyakitkan di masa lalu jadi alasan otak gue memberikan peringatan keras pada hati. Hati-hati lah hati. Jangan salah jatuh lagi. Mungkin gue juga belum siap jatuh cinta lagi karena ngga mau kembali terluka. Jadi, gue pilih bersenang-senang menikmati hidup sampai hati gue benar-benar pulih. Tentunya juga, sambil terus berdoa agar jangan dibiarkan jatuh cinta kepada yang bukan Jodoh gue. Capek ah pacaran terus putus. Gue mau nikah, serius! (Hey It’s Rhyme).

Selang beberapa bulan setelah pulang dari Dubai, gue sempat beberapa kali dinas ke luar kota. Tapi padatnya pekerjaan ngga bikin gue sempat menikmati holi-work-day. Akhir tahun 2011 gue dinas di Bali tapi sama sekali ngga menikmati Bali. Pergantian tahun pun gue lewati di tempat tidur. Bobok pulas.

Si hopeless romantic ini kangen traveling lagi!

Tapi traveling berikutnya harus beda dong. Bukan untuk move on lagi, tapi..eh lucu juga kali ya kalau ketemu p-a-t-j-a-r pas lagi traveling. Kayak kisah si Dendi dan Riani (Spoiler)*.

Travel is guessing, perhaps that someone across the street is your soul mate. – @myaharyono

Well, perhaps loh. Siapa tau kan?

Tapi gue ngga ngarep muluk-muluk sih. At least, ketemu teman baru aja sudah cukup kok. Dan gue menemukannya waktu Dinas di Bali akhir tahun lalu itu.

Sebut saja dia si Rendang, panggilan akrab gue untuknya yang sangat menyukai makanan berlemak tinggi khas Padang itu.

Travel is creating one simple conversation that could lead to a lifetime friendship. – @myaharyono

Percakapan di Bali itu kalau gue ingat-ngat lagi sangat-sangat ngga penting ya. Si rendang ini awalnya cuma mamer-mamer Iphone miliknya yang lebih bagus dari punya gue. Sial. Lalu percakapan ngga penting itu berlanjut menjadi kicauan ngga jelas di Twitter. Karena dia bekerja di kota yang berbeda dengan gue, ya memang komunikasi kami hanya lewat Twitter dan LINE (aplikasi chatting di Iphone). Punya hobi dan zodiak yang sama mungkin membuat kami cocok berteman. Sangat menyenangkan rasanya punya teman ngobrol ngalur ngidul lagi setelah terakhir kali sama…ah sudahlah.

Tempat favorit kami berdua untuk ngobrol-ngobrol adalah di Starbucks dekat kantor gue. Beberapa kali kami bertemu kalau dia sedang dinas di Jakarta. Suatu ketika, gue memperkenalkannya pada sang masa lalu gue itu. Sejak itu si rendang resmi menjadi tempat gue berkeluh kesah. Kepadanya gue akhirnya bisa menceritakan semua kisah pribadi gue. Tampaknya, persahabatan gue dan si rendang setingkat lebih maju.

Gue punya banyak teman untuk tempat curhat, tapi beda aja rasanya curhat ke someone new. Dia yang baru mengenal gue malah memandang masalah gue dengan fair dan ngga nge-judge. Dia biarkan gue bercerita dulu sampai tuntas, lalu terkekeh.

“Ish kok malah ketawa sih rendang!” umpat gue yang kesal karena tertawa di tengah kesedihan gue yang sedang bercerita.

“Gue males ngasih masukan, percuma lo ngga akan denger juga. Ada 2 orang yang ngga bisa dikasih saran. Pertama lagi jatuh cinta. Kedua sedang patah hati tapi masih ngarep. Hahaha.” tawanya lepas seolah kisah gue itu lucu banget.

Gue cuma bisa merengut.

“Lo juga pasti udah dapet banyak saran dari temen-temen lo kan? Semuanya suru lo lupain dan tinggalin mantan lo kan?” Gue mengangguk setuju dengan perkataannya. “Yaudah, buat apalagi gue komen?” lanjutnya.

“Jadi gue ngga boleh nih cerita-cerita lagi tentang dia? tanya gue.

“Cerita tentang dia gunanya apa? Masih suka berarti kan? haha.” godanya.

“Bukaaaaan. Ish. Ya kalau misal keinget or ketemu dia lagi di kantor kan pengen juga cerita ke seseorang. Temen-temen gue udah bosen pasti denger cerita yang masih berhubungan dengan dia.” semoga pipi gue ngga terlihat merah saat menyangkal ucapannya. Dan si rendang itu tertawa lagi.

“Boleh aja. Kasian amat masa’ dilarang.”

Begitulah awal gue selalu cerita apa saja ke si rendang ini. When I suddenly feel down, karena teringat masa lalu, gue akan mencari si rendang. Gue akan terus bercerita meski responnya hanya ‘haha-hehe’. Dan sungguh, gue bisa ngga sedih lagi dan malah jadi ketawa-ketawa bareng.

Suatu waktu setelah selesai curhat panjang padanya gue mengucapkan rasa terima kasih untuknya karena mau waktunya terbuang dengerin keluhan gue. Dia hanya berkata “Yang penting, ngga galau lagi kan?”

Ucapannya menyadarkan gue, ah betapa baiknya orang-orang di sekitar gue yang ingin melihat gue ngga sedih lagi. Dan gue ngga boleh mengecewakan mereka dengan menunjukkan kesedihan lagi. Menurutnya, gue jadi suka sedih karena membaca status BBM dan tweet si mantan. Setelah membacanya lalu mulai membandingkan dengan ketika masih bersama dulu, tentu saja menyakitkan. Mengetahui dan kemudian mengingat lagi jadi sumber kegelisahan dan penyebab gue kembali sedih.

The less you know, the less you care, and the happier you will be.That is the golden rule, sweety.

“Gue akan delete BBM-nya. Gimana menurut lo?” tanya gue di suatu tengah malam kepada rendang.

“Seharusnya dari dulu malah.” responnya singkat.

Ngga neko-neko, tapi sahabat baru gue itu bisa memotivasi untuk bangkit lagi. Dialah yang membuat gue yakin untuk 100% lepas dari masa lalu. Sempat sedikit ragu di awal, karena sebentar lagi sang mantan akan berulang tahun. Dengan kondisi seperti ini, gue takut galau di hari ultahnya nanti. Karena pasti akan teringat setahun lalu kami masih merayakannya bersama-sama.

“Jangan khawatir, kan pas tanggal dia ultah kita mau ke Bromo. Senang-senang ajalah kita.” hiburnya.

Yes, petualangan si hopeless romantic traveler akan berlanjut di Bromo!

***

Gue dan si rendang kebetulan sama-sama dinas di Surabaya. Kami beserta beberapa teman yang lain merencanakan akan liburan di Bromo. Masa udah ke surabaya ngga ke Bromo. Lalu mulailah si rendang mengatur kepergian kami. Karena gue sedikit manja, gue merengek dulu ke teman-teman lain agar tidak backpacking-an (Please do not ask why). Menggunakan jasa tour sepertinya jadi pilihan tepat kami. Memang mahal sih. Minimal setengah juta per kantong untuk keseluruhan biaya melihat sunrise di Bromo.

Satu jam menjelang tengah malam, sebuah Daihatsu Grand Max sudah menunggu kami di hotel. Mobil tersebut akan membawa kami sampai Malang untuk kemudian bertukar dengan mobil jeep menuju Bromo.

Di tengah perjalanan, tepat pukul 12 malam, muncul reminder ulang tahun sang masa lalu di Iphone gue. Crap! Merusak mood gue aja. Supaya ngga sedih, iseng gue malah mengirimkan ucapan selamat ulang tahun ke Iphone si Rendang. Bunyi notifikasi menandakan ada balasan dari dia berupa siulan, terdengar memecahkan kesunyian di dalam mobil. Sesaat gue merasa ngga enak karena takut menganggu teman-teman lain yang sudah tidur. Lalu gue membaca pesannya. “Masih mau jadi yang pertama ngucapin ke mantan?”

“Ngga kok, malesin.” gue kirimkan balasan singkat kepadanya. Balasan dari dia berikutnya hanya terdengar suara getaran saja karena gue sudah mengaktifkan silent mode. Tapi chatting diam-diam sama si rendang di saat yang lain tidur pulas itu..lucu juga.

“Nanti saja kalau sudah di Bromo. Kirim aja begini: From Bromo, I wish you a happy birthday.” usul si rendang. Gue langsung cepat membalasnya lagi. “Norak ah.”

Rasa kantuk membuat gue ngga berlama-lama memikirkan kalau hari itu adalah hari yang pernah spesial buat gue. Gue ikut tertidur sampai bapak supir membangunkan kami. Pukul dua pagi di Kota Malang. Kami harus bertukar kendaraan. Sebuah mobil jeep sudah menanti kami.

Dua setengah jam perjalanan dilalui untuk sampai ke kawasan Bromo. Mobil jeep kami menghantam pekatnya malam, hanya ditemani cahaya bulan dan bintang yang bertebaran dengan indahnya. Hebat sekali pak supir ini hapal rute perjalanan melintasi gunung dan hutan. Bayangkan saja, salah-salah bisa kesasar! Aduh ada binatang buas ngga ya? Amit-amit!

Di tengah lamunan yang ngawur, tiba-tiba gue dihentakkan oleh udara yang masuk ke dalam mobil. Dinginnya menusuk. Ternyata si rendang membuka kaca jendela untuk melihat indahnya bintang. Dia meminta gue untuk melihatnya juga. Ah, pemandangan gugusan bintang ini jarang-jarang bisa dilihat di kota besar. Tapi gue ngga kuat berlama-lama menikmatinya. Gue meminta rendang juga menutup kaca jendela mobil. Dinginnya gak sante!

Tepat pukul setengah lima pagi, kami sampai di Pananjakan View untuk menyambut sunrise bersama pengunjung lainnya. Semua orang bersiap dengan kamera masing-masing. Gue percayakan SLR merah kesayangan gue pada si rendang untuk memotret pemandangan, yang membuat kami berkali-kali berdecak kagum. Gue cukup dengan Iphone saja. Sesekali gue ambil foto si rendang yang sedang asik mengabadikan moment matahari terbit di Bromo.

Ramai pengunjung menyambut matahari terbit di Bromo.

Travel is falling in love..with God, for any creatures you see along the trip. – @myaharyono

One of God’s best creatures.

Heaven on Earth.

Subhanallah! Indah banget. Seperti lukisan yang dikuas oleh tangan Tuhan sendiri. Gunung-gunung di Bromo tersebut tampak seperti mengambang di antara lautan kabut. Konon, Bromo adalah salah satu gunung dengan pemandangan terbaik di dunia. Ngga heran, pengunjung yang datang juga banyak dari berbagai luar negeri. Jarang-jarang kan ada bule mau ke gunung, biasanya mereka lebih memilih bersantai di pantai.

Heaven is what I feel.

Perjalanan di lanjutkan ke puncak gunung untuk melihat kawah. Pak supir tour menyarankan kami untuk menunggang kuda saja sebelum akhirnya menaiki tangga menuju puncak bukit. Harga sewa kuda untuk bolak-balik mengantar kami naik turun gunung adalah Rp100 ribu. Ya hitung-hitung sambil menolong bapak yang merupakan penduduk asli Tengger tersebut. Dia lah yang mengawal kami dengan berjalan memegangi kuda.

Yihhaaa!

Dan luar biasa capeknya ketika harus menapaki anak tangga menuju puncak gunung. Awalnya gue coba menghitung berapa jumlah anak tangga tersebut tapi lama-lama gue kehilangan konsentrasi.

Satu anak tangga. I do miss him.

Dua anak tangga. I do not miss him.

Tiga anak tangga. Why do i have to think that I miss him or not?

Empat anak tangga. Well who cares if I miss him or not.

Lima anak tangga. I’m tired of missing him.

Gue kecapek-an saat menaiki tangga ke puncak gunung.

Begitu seterusnya hingga beberapa anak tangga terakhir. Gue kehabisan nafas dan menghentikan langkah. Tinggal beberapa anak tangga lagi dan gue akan sampai ke puncak. Lalu gue menengadahkan kepala. Hembusan angin dingin menerpa wajah gue. Sinaran cahaya menyambut mata gue yang menyipit. Ada sesosok siluet tubuh menanti gue di ujung tangga. Tersenyum. Ah, senyum yang mendamaikan hati seketika. Senyum yang sudah lama hilang dan sedang kunanti kembali. Semakin dekat gue lihat sosok itu dengan jelas. Bersamaan dengan itu, telinga gue pun mendengarkan suaranya yang menyemangati gue. “Ayo, sebentar lagi sampai. “ Ternyata sosok itu adalah si rendang.

Dengan keyakinan pasti, gue melanjutkan menaiki anak tangga terakhir.

I’m done thinking of him.

Gue menggapai tangan si rendang agar tidak terjatuh. Lalu dia memastikan gue agar duduk di atas sebuah batu di dekat ujung tangga untuk beristirahat. Gue sudah tergopoh-gopoh saking capeknya. Fakor U nih pasti.

Lalu gue perhatikan keadaan sekitar. Puncak gunung ini seram banget sebenarnya. Ngga ada pembatas dan di bawah gunung yang curam ini langsung kawah. Butuh ekstra hati-hati agar tidak terpeleset dan terjatuh. Yang punya highphobia tidak disarankan mendaki sampai di puncak ini deh.

Gue melihat si rendang berjalan ke ujung jurang untuk memotret kawah. Setelah nafas gue kembali normal lalu gue menyusul ke tempat si rendang berdiri. Sadar gue yang sedang berjalan ‘sradak-sreduk’ ke arahnya dia spontan berteriak agar gue berhati-hati. Wajahnya terlihat khawatir. Mungkin dikiranya gue ada niat untuk lompat ke dalam jurang. Sial.

Ngga ada niatan lompat kok. Sunguh!

Dengan sok berani gue duduk di dekat jurang dan meminta dia mengambil foto gue dengan beberapa gaya. “Gue mau bergaya semacam lompat karena stres ya.” pinta gue lalu dengan kesusahan mencoba berdiri dan hampir terpeleset. Gue pun kena omelan si rendang. Dia cerewet banget meminta gue jangan terlalu ke pinggir. “Hati-hati lo. Awas jatuh!”

Entahlah, tapi seperti ada yang salah dengan peringatannya kali ini. Permintaannya agar tidak terjatuh di Bromo, terdengar seperti… Jangan.  Jatuh. Cinta…kepadanya.

But how can  I not fall for you?

Lalu sederet peristiwa yang terjadi sebulan terakhir berputar-putar di kepala gue. Teringat lagi masa-masa chatting kami malam hari menjelang tidur. Tanggapannya yang cuma terkekeh mendengar curhatan gue. Keisengannya mengirimkan gambar-gambar yang membuat gue mengucap…”ish..” lalu tersenyum. Komentar sinisnya yang mengatakan gue ngga bisa mengemas koper dengan baik. Pujiannya yang mengatakan bahwa dia salut karena gue wanita yang tegar disaat orang lain mungkin mengasihani gue. Dukungannya agar tetap menulis di saat sedih. Pembenarannya kalau menghibur diri dengan berbelanja sesekali itu tidak dilarang. Sikap ogah-ogahannya untuk menemani gue yang ketakutan sendirian, tapi toh dia mau memani gue juga. Sikapnya yang gentle dan memperlakukan gue dengan baik. Mengangkat bawaan gue yang berat ngga peduli tangannya kapalan dan hanya membiarkan gue membawa boarding pass. Menawaran jaketnya untuk menghangatkan gue yang kedinginan di bandara. Satu jam menggalau berduaan di dalam pesawat di atas udara. Dan… teringat juga akan kisahnya dengan wanita itu.

Ya, ada seseorang telah mengisi hatinya.

Alasan yang cukup kuat untuk gue tidak merusak pertemanan kami dengan jatuh cinta padanya. Semua kebaikannya sudah semestinya tidak disalahartikan yang lain.

Kali ini harus lebih berhati-hati. Salah langkah bisa menyebabkan gue terjatuh di Bromo. Resikonya bisa mati masuk jurang. Begitupun dengan hati gue. Syukurlah sejak awal gue sudah diberi peringatan agar tidak jatuh dan terperosok lebih dalam. Jika tak ada wanita lain pun, ada batasan-batasan yang sudah dia tetapkan di awal yang membuat gue dan dia tidak akan berujung pada hubungan lebih dari persahabatan. Masalah prinsipal.

Sekarang yang gue lakukan adalah menikmati kebaikannya dan kedekatan kami sambil tetap menjaga agar tidak jatuh hati padanya. Hati harus seperti kendaraan, dipasang rem yang dipakai untuk mengontrol kapan harus berhenti dan kapan harus terus berjalan.

Mungkin tiga puluh menit di puncak kawasan Bromo ini adalah masa yang akan gue ingat selamanya. Setengah jam dalam masa hidup gue, di mana gue hampir terjatuh di Bromo. Secara harfiah maupun istilah.

Sebelum kami kembali menuruni tangga dan melanjutkan petualangan di pasir berbisik, patung singa, dan padang savanah. Gue memanggil si rendang yang hendak turun mendahului gue. “Eh tunggu, lo jalan di belakang gue aja. Jaga gue ya. Don’t let me fall.” gue memberi penekanan pada kalimat terakhir. Sebuah perintah untuknya.

Dia tersenyum dan mempersilahkan gue melewatinya. Gue terus melangkah turun dengan hati dan kaki yang ringan. Tetapi harus terhenti ketika gue mendengar suaranya yang memanggil. Gue pun segera berbalik badan mengarah padanya yang masih berdiri di atas ujung tangga. Belum sempat gue berucap lalu…

JEPRET. JEPRET. JEPRET.

Thanks for making my day still special without him..

Notes.

* Coming soon: Trave(love)ing, Hati Patah Kaki Melangkah. Sebuah novel oleh Mia, Dendi, Roy, dan Grahita. Doanya ya Kakaaaak….

Aku di Bintang 5, Kamu di Bintang 4: Jarak Yang Memisahkan Kita

Masih ingat tulisan gue yg judulnya: ‘Aku di Kelas Ekonomi, Kamu di Kelas Bisnis: Jarak Yang Memisahkan Kita’?, kalau lupa atau bahkan belum baca, coba deh dibaca dulu. Hehe.

Di tulisan itu menceritakan kejujuran gue yang mengagumi pria-pria matang. Tapi hanya kagum ya, karena gue sadar diri. Para pria yang menua dengan sempurna itu sudah jauh sukses. Bahkan beberapa, naik pesawatnya duduk di kelas bisnis. Gue? Ya di kelas ekonomi aja udah syukur. Jadi, pria-pria dewasa itu ngga lebih dari sekedar mimpi buat gue.

Dan sungguh realita tidak sejalan dengan mimpi.

Di usia gue yang sudah pantas menikah dan memiliki anak ini, gue malah masih sendiri. Belum dikasih jodoh terbaik hanya satu2nya alasan yang dapat menghibur saat ini sih. Bukan berarti gue ngga berusaha ya. Gue mencari kok. Dan yang paling mudah adalah mencari di lingkungan terdekat. Yaitu lingkungan pekerjaan.

Faktanya, tipe cowo yang gue inginkan itu sudah ‘occupied‘. Boro-boro yang jauh lebih tua, yang seumur aja sudah pada menikah. Ngga ada yang single!

Koreksi, ada. Tapi umurnya di bawah gue.

Makin kesini, klien-klien gue semakin muda aja. Tentunya mereka memanggil gue dengan sebutan ‘Mbak’. Dan hubungan kami ngga lebih dari klien-auditor. Belum ada satupun yang kurang ajar, ehm, sok dekat atau akrab lah sama gue. Intinya, meningkatkan hubungan kerja menjadi pertemanan. Itu penting buat gue yang tipenya pelan-pelan membangun kecocokan dengan seseorang. Gue harus berteman terlebih dahulu.

Tapi sepertinya sulit. Gue ngerti sih kalau ada di posisi mereka. Punya auditor yang masih single, mandiri, tapi lebih tua. Yang sejak awal sudah terbiasa memanggil dengan sapaan ‘Mbak’. Terbiasa juga menerima perintah dari mbak auditor dan permintaan data yang sudah kayak teror. Bagaimana mau menjalin keakraban di luar kerjaan? Well, bukan berarti ngga bisa dekat sama gue. Gue cukup dekat kok sama klien-klien gue. Hanya saja, seperti ada prinsip ‘Jalinlah keakraban sampai di meja meeting’.

Salah satu klien gue, perempuan, suatu waktu semangat banget bilang sama gue. “Mi, Mi. Orang keuangan yang nanti ikut meeting masih single loh. Sepertinya seumur.”

Maka berkenalanlah gue dan si klien baru gue itu. Menjaga kesopanan di dunia kerja sudah pasti dia manggil gue Mbak, gue manggil dia Mas. Sembari meeting diselipi dengan obrolan basa-basi pastinya. Tinggal di mana, asal mana, kuliah di mana, dan JENGJENG, angkatan berapa. “Mbak Mia angkatan berapa?” Cara klasik untuk tau umur dengan sopan. Dan kecanggungan di antara kami menjadi lebih lebar setelah informasi angkatan itu diketahui.

Gue langsung ijin ke restroom, supaya ngga keliatan muka gue yang kecewa. Gue butuh ngomong sama diri gue sendiri di depan kaca. “Damn, lebih muda!” So, ngga boleh sedikitpun berharap hubungan kami meningkat dari kerja ke pertemanan. Apalagi sampe berharap akan berlanjut serius lebih dari berteman. Karena kecil kemungkinannya. Dan gue ngga mau kecewa. Lagipula, ada gengsi dikit lah sebagai auditor. Ngga boleh kecentilan dan ‘SKSD’ sama klien apalagi kalau ketauan ‘ngarep’. Harga diri woi!

Lalu ngga lama si Ibu yang mau jodohin gue itu nyamperin ke toilet. Dengan hebohnya dia cerita. Setelah gue dan si Mas ngobrol yang berlanjut gue jedug-jedug di toilet, si Mas bilang “Yah Mbak, katanya seumur. Kok lebih tua sih? Segan, ah”

See, untung gue ngga ngarep dan sudah tau bakal begini sejak awal. Dengan gaya elegan gue hanya menjawab “Haha, brondong ya. Males ah.” Pura-pura ngga tertarik.

Dan ternyata, beberapa pria melihat gue itu cewek ‘untouchable‘. Mereka menganggap gue sebagai auditor mereka yang selain baik hati tentunya (narsis dikit gak apa-apa dong), gaya gue di depan mereka itu elegan, cerdas, berkelas, tegas, mandiri, dan kadang…galak. Tipe dikagumi tapi bukan untuk didekati. Juga ada faktor gengsi yang tidak mau merusak hubungan kerja kami. Akan ada kecanggungan luar biasa pastinya kalau ‘perjodohan’ kami gagal. Jadi amannya, ngga usah macam-macam sama mbak auditornya ini.

Sedih? Sedikit. Pusing? Ngga. Belum ketemu yang pas aja kan. Satu hal, gue ngga akan merubah diri gue. Ini diri gue apa adanya. Dan gue bangga menjadi ‘Miss Independent‘ di mata mereka. Suatu saat pasti akan ada yang berani menaklukan si Miss Independent ini kan. Pencarian masih terus berlanjut 🙂

Another week, another meeting. Kali ini gue meeting lagi dengan banyak muka-muka baru. Here we go, dalam hati gue.

Suatu waktu, gue meeting dengan Perusahaan Minyak lokal terbesar di Indonesia yang diadakan di Hotel berbintang 5. Gue sudah hapal banget. Kalau berdasarkan golongan, jatah mereka menginap dibedakan menjadi hotel bintang 5 dan bintang 4. Rata-rata yang seumur gue sudah boleh menginap di bintang 5. Jadi gue akan dengan mudah memprediksi usia para klien gue dari hotel menginapnya.

Dan cowok ini, muka lama tapi kebetulan baru pertama kali meeting di meja gue. Gue bahkan tidak pernah tau namanya selama ini. Setelah meeting selesai, sambil menuju giliran klien yg lain meeting dengan gue, bisa-bisanya dia sok akrab ngajak gue ngobrol. Obrolan dengan topik ngga penting. Tapi hei, kok gue malah suka ngobrol dan ketawa-ketawa sama dia. Padahal baru 1 jam bersama di meja meeting. Lalu gue teringat satu hal, yang harus gue tanya sebelum keakraban ini terjalin di luar meeting.

“Oya, ngomong-ngomong, nginap di hotel ini juga ngga?” tanya gue dengan harap-harap cemas.

“Belum nyampe golongannya, Mbak. Jatahnya masih hotel bintang 4 nih.” jawabnya sambil nyengir polos.

Oh crap! Not again.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Life is a continuation test, pass it!

Kisah Seorang Guru

Pak guru gue waktu SD, beliau sudah 20 tahun menjadi pahlawan tanda jasa yang mengajar di salah satu SD swasta sampai sekarang. Waktu pertama kali mengajar gue, beliau baru lulus sarjana. Usianya saat itu bahkan jauh lebih muda dari usia gue sekarang. Cita-citanya sejak dulu sederhana, menjadi guru di sekolah negeri. Alasan beliau, ingin masa tuanya nanti terjamin. Berkali-kali mengikuti ujian pegawai negeri tetapi selalu gagal. Selama 20 tahun gelar PNS masih menjadi mimpi bagi Pak Guru gue itu. Untungnya, tidak ada batasan usia mengikuti ujian pegawai negeri khusus untuk guru. Meski kerap kali gagal, beliau masih terus berusaha demi impiannya itu.

Kehidupan rumah tangganya juga tak kalah berliku. Hampir sepuluh tahun pernikahannya dilewati hanya bersama sang istri karena Tuhan tak kunjung memberikan kepercayaan kepada mereka untuk memiliki anak. Ketika akhirnya dianugerahi seorang putra, tidak sampai sepuluh tahun Pak Guru gue dan istrinya harus mengikhlaskan anak semata wayangnya itu kembali kepada penciptanya.

Sungguh penuh cobaan dalam hidupnya.

Kisah Seorang Pemuda

Salah satu kenalan gue, memiliki masa muda yang suram. Dicap nakal oleh penduduk setempat karena pernah pulang dalam keadaan mabuk dan mengencingi masjid. Pernah mengenalkan obat-obat terlarang pada sahabatnya waktu SMP, sampai terjerumus dan berakhir meninggal overdosis. Bersama teman-teman saat kuliah melakukan perbuatan tak terpuji, sampai-sampai menjadi mimpi buruk yang menghantui setiap malamnya.

Pada saat bekerja ia bertemu seorang wanita yang membawa perubahan dalam hidupnya. Perubahan pertama, ia berangsur-angsur meninggalkan gelapnya kehidupan malam. Perubahan kedua, mendapatkan pekerjaan yang lebih baik di salah satu perusahaan terkenal di Jakarta . Meski masih kontrak, tapi derajat dan penghasilannya langsung terangkat. Hanya setahun, tak perlu melewati ujian lagi, karena keberuntungan ia pun diangkat menjadi karyawan tetap.

Sungguh penuh kemudahan dalam hidupnya.

Gue bandingkan perbedaan kedua kisah tersebut. Jujur, ada terbesit pertanyaan kepada Tuhan. Adilkah hidup kedua orang tersebut? Seorang guru dengan iman yang taat mengapa hidupnya penuh kesusahan? Dan mengapa si pemuda yang pernah mengotori rumah suciMu malah dibiarkan hidup dengan mudahnya?

Mudah saja bagi orang yang berpikiran sempit untuk menyimpulkan bahwa, Tuhan pasti lebih sayang si pemuda daripada sang guru kan? Tidak, bukan seperti itu. Tuhan sayang keduanya, tetapi dengan cara yang berbeda barangkali.

Contoh, kita sedang asik melangkah. Kemudian ada batu yang menjatuhi kepala kita dari atas. Awch! Sakit. Kita pasti langsung menengadahkan kepala ke atas dan mencari dari mana asalnya batu itu kan? Nah, mungkin begitulah cara Tuhan menegur hambaNya. Membuat makhluk ciptaanNya itu selalu mengingatNya. Diberikannya terus ujian demi ujian untuk menjadikan manusia mencapai level tertinggi tingkat ketakwaannya.

Dan sungguh manusia ada khilafnya. Meski sadar cobaan yang datang adalah ujian keimanannya kadang suka mengeluh juga. Pak guru gue pun pernah mengucap sambil bercucuran air mata, “Ya Allah, apa yang salah dengan hamba? Mengapa cobaan tak ada habisnya?”

Hal yang berbeda diucapkan oleh pemuda kenalan gue itu, “Allah sayang banget ya sama gue. Bukan pribadi yang baik dan banyak dosa, tapi selalu diberikan kemudahan.”

Dan gue miris mendengar ucapan kedua pria tersebut. Yang satu merasa kurang disayang dan satunya lagi merasa sangat disayang oleh Tuhan. Gue melihatnya justru Tuhan lebih sayang pada Pak guru dibanding pemuda  itu. Karena  Tuhan ingin pak Guru selalu dekat denganNya. Manusia yang sudah digariskan akan dengan mudahnya dihasut setan untuk melupakan Tuhan, cenderung akan mengingat Tuhan ketika tertimpa musibah. Kalau hidupunya enak dan selalu di atas, justru Tuhan malah sepertinya bodo amat kan. Terserah deh mau ngapain, suka-suka kamu. Dia akan terus berfoya-foya, bahkan mungkin perilakunya dapat menyakiti banyak orang. Salah satunya, meninggalkan wanita yang sudah menolongnya itu. Dia akan terus sombong dan merasa hidupnya baik-baik saja. Sungguh kasihan.

Pernah ada istilah, bukan cuaca yang baik yang membuat penerbang menjadi hebat. Dan bukan arus laut yang tenang yang membuat pelaut juga dikatakan hebat. Begitu juga manusia, kalau hidupnya flat-flat saja, apa yang bisa dibanggakan? Manusia hebat adalah manusia yang dapat melalui berbagai ujian dalam hidupnya.

Kamu merasa hidupmu penuh ujian? Selamat. Artinya sebentar lagi kamu akan naik kelas 🙂

P.s.
Tulisan ini didasari dengan obrolan bersama nyokap tadi siang tentang perjuangan hidup. 
Intinya, jangan mengeluh dan menyerah. 
Tingkatkan terus keimanan dengan selalu menunaikan ibadah wajib kepada sang pencipta.

A Story About The Faith

Faith is taking the first step even when you don’t see the whole staircase. – Martin Luther King, Jr.

Follow your heart” barang kali adalah salah satu saran ter-ngetop di dunia. Setiap dalam kebimbangan kemudian menceritakan masalah pada teman, biasanya kalau mereka juga bingung ngasih solusi ya kata-kata yang pas banget adalah 3 kata sakti itu.

Gue sendiri jujur masih bingung bagaimana sih yang namanya mengikuti kata hati itu. Rancu antara itu keyakinan atau ‘ngarep’. Contoh gampang, hati kita udah sayang daleeeeeem banget sama seseorang. Trus disuruh ikutin kata hati, ya ngga mau ngelepas lah.

Quotes keren orang bule bahkan bilang gini:

Always follow your heart, although it’s located left but it’s always right.

IMSO (In My Sotoy Opinion), it’s not always right. Kalau emang bener, terus kenapa gue capek-capek mempertahankan seseorang yang gue yakini dia akan terus bersama gue tapi ternyata toh ujungnya kami pisah juga? Gue bahkan dulu pernah yakin keanehan-keanehan yang membuat adanya persamaan di antara gue dan seseorang itu pertanda kalau dia adalah jodoh gue. Sepuluh tahunan gue bertahan sayang sama dia loh. Kurang ‘follow your heart’ apa coba gue?

IMHO (In My Humble Opinion), when in doubt, the best way we can do is praying. Petunjuk Tuhan ya dari mana lagi terefleksi kalau bukan dari kata hati. Sementara, ikuti saja dulu apa yang lo yakini dalam hati benar. Sisanya, watch and learn. Jika ternyata keyakinan tadi salah, ya anggaplah pelajaran.

Ada sebuah cerita tentang KEYAKINAN yang gue mau share.

Semalem gue nonton pertunjukan Teater Koma dalam rangka 35 tahun ultah mereka. Judulnya Sie Jin Kwie di Negeri Sihir. Dan perlu mengikuti terus 4 jam cerita baru bisa tau salah satu hikmah yang bisa dipetik dari cerita ini.

Singkat ceritanya sih gini, seorang putri Jenderal dari satu kerajaan Cina dahulu kala, namanya Hwan Li Hoa, percaya banget sama ramalan Gurunya kalau jodoh abadinya adalah Jenderal dari kerajaan musuh, namanya Sie Teng San (anaknya Sie Jin Kwie). Karena saking yakinnya ya doi keukeuh aja gitu usaha untuk ngedapetin si Teng San. Padahal mustahil banget, karena mereka itu musuh.

Demi dinikahi pujaan hatinya, dia melakukan apapun termasuk memihak kerajaan si jenderal sampai akhirnya memenangkan perang. Jadi si cewek sudah berjasa besar banget sama si Jenderal. Dia hanya minta dinikahi sama si Jenderal dan tanggapan si Jenderal malah menghina habis-habisan. Meski pada akhirnya setuju untuk menikahi Li Hoa, Teng San kemudian membatalkan pernikahan dengan berbagai macam alasan yang cukup menghina, sampai 2 kali. Kalau ditotal, 3 kali si cewe ini disakiti terus-menerus oleh si cowo.

Sekuat apapun keyakinan hati, pada akhirnya akan lelah juga. Tiga kali gagal dinikahi si cowo, cewe ini akhirnya pasrah. Dia berkata, “Aku tetap meyakini dia adalah jodohku, tapi mungkin sekarang belum waktunya kami untuk bersatu”

Lalu dia pergi meninggalkan si cowo. Apa yang terjadi? What goes around comes around. Karma does exist. Si cowo mulai mendapatkan hukuman akibat perbuatannya. Another moral of the story: Do not underestimate the sacrifice of a woman.#curcol :p

Penyesalan datang ketika merasakan penderitaan. Si cowo benar-benar meminta maaf dan memohon ampun kepada si cewe. Dan cinta adalah satu-satunya alasan mengapa seseorang akan dengan mudah memaafkan. Lalu mereka bersatu dan menikah.

Keyakinan si wanita, meski mustahil dan makin terlihat tidak mungkin seiiring waktu toh ternyata terbukti benar. Penantian panjang dengan penuh kesabaran akhirnya berbuah kebahagiaan juga. Artinya apa? Nothing’s Impossible in this world. Just keep the faith.

Satu kutipan dari lakon semalem yang gue ingat. “Jangan pernah menduga-duga, dugaan itu bisa jadi doa. Lebih baik menduga yang baik-baik saja” Bener banget loh menurut gue sih. Karena kejadian-kejadian yang gue alami sekarang, sudah pernah gue duga dari dulu. Terkadang terlalu mengkhawatirkan sesuatu malah jadi kenyataan. Jadi, ngga usah cemas, yakin hal-hal positif aja. Trust me 🙂

Begitulah, intinya sih jalan untuk jodoh memang akan dimudahkan. Tapi jika sulit dan berliku, jangan lantas putus asa. Yakin saja, bahwa sesulit dan semustahil apapun kalau sudah ditakdirkan berjodoh, tidak peduli berapa banyak air mata dan berapa lama penantian pasti pada akhirnya akan bersatu.

Baiknya berjuang saja, lalu pasrahkan pada Tuhan hasilnya. Jika hasilnya sesuai dengan yang diinginkan berarti kamu lucky, jika tidak ya kamu luckier. As simple as that.

Sekali lagi, ini cuma IMFO (In My Faithful Opinion). Lo boleh yakin, boleh juga ngga :p

Jaman SD disebutnya Pantun, jaman socmed disebutnya Rhyme…

gelaph's avatargelaph.com

Mimi and me played #rhyme again on Twitter after a quite-long break. The rules were only two. First, we had to create rhyming lines which have a continuous meaning from the previous tweet. Second, I used English while Mimi used bahasa.

We decided to play kinda mini #rhyme since a sentence was consisted of two rhyming lines only, not four as we usually play.

And, here we go! 🙂

  • @myaharyono
    Kenangan jangan sering-sering dikenang,
    nanti air matamu menggenang.  #rhyme
  • @gelaph
    If only you know how hard I try,
    avoiding memories become a cry. #rhyme
  • @myaharyono
    Air mata di pipi akan mengering,
    pertanda cahaya di hati segera menyingsing. #rhyme
  • @gelaph
    And I’m really waiting for the day,
    the day I leave the tears away. #rhyme
  • @myaharyono
    Luka di hati ini,
    adalah suka suatu hari nanti. #rhyme
  • @gelaph
    Promise yourself there will no him,
    in your loudest dream and scream. #rhyme

View original post 455 more words

Won’t you go to the Cinema with me?

Alone.

Apa yang lo pikir waktu denger kata ini? Berapa banyak orang yang merasa kalo kata ini begitu mengerikan, tragis, nelongso, desperate, dan kata bermakna ngasihanin lainnya.

But for me, what’s so bad of being alone? Emangnya salah melakukan berbagai hal sendiri? Kecuali menikah, menurut gue sah-sah saja melakukan apa saja sendiri. Bahkan, maaf, muasin diri sendiri aja bisa ‘self service‘ (populer dengan sebutan ‘swalayan’). Makan di resto, ngopi di cafe, dateng kondangan, belanja, sampai…..hmmm…mungkin yang ini masih pro dan kontra sih, nonton bioskop.

Gue dulu juga ngga pernah nonton bioskop sendirian. Kok berasa ‘nightmare‘ aja gitu. Bayangin, berada di dalam ruangan gelap yang luas sendirian di tengah orang-orang yang asing bagi kita. Mungkin sama seremnya dengan nonton film serem. Hiii.

Bayangan gue dulu, pasti sendiri di bioskop aneh, apalagi kalo sekeliling ada yang pacaran. Kesannya lo ngga punya temen apa buat diajak nonton. Ratusan pasang mata (kalau bioskopnya full ya) seakan menatap iba dan berkata “duh, kasiaaaaan”. Dinding-dinding kedap suara bioskop pun seolah berbisik di telinga “sedihnya jadi kamu”.

Pikiran-pikiran kayak itu yang bikin gue ngga berani nyoba nonton sendiri. Some people rather nonton dvd di rumah instead of sendirian di bioskop. My problem is, selalu ketiduran nonton dvd, seseru apapun tuh film. Di bioskop aja kalo filmnya boring gue bisa tidur.

Alhamdulillah juga dulu gue selalu dapat temen nonton. Movie mates setia gue yang juga penggemar film ya sahabat gue dan ehm, mantan. Dari jaman pacaran sampe jadi mantan kami masih suka nonton bareng. Lalu ada suatu waktu temen nonton lo ngga match jadwal nontonnya sama gue, sang mantan juga sudah ngga boleh lagi nemenin nonton, dan temen-temen kantor yang sudah pada punya baby jelas ngga mungkin diajak nonton. “Gila apa ndro, mending gue nyusuin anak gue.” Kira-kira begitu penolakan mereka.

Akhirnya mau ngga mau gue harus coba. Gue ngga akan pernah tau rasanya nonton bioskop sendirian kalau ngga pernah nyoba. 3 Januari 2012, gue adakan #surveimini di twitter tentang pengalaman nonton bioskop sendirian.

Inilah beberapa hasilnya:

@phies: Sering. Biasa aja. Lagian klo ntn bioskop jg gak ngerumpi :p RT @myaharyono: Pernah ada yg nonton bioskop sendirian? Kayak gmn rasanya?
@anggizoraya: Sering..mlh asik bisa fokus nonton filmnya.. RT@myaharyono: Pernah ada yg nonton bioskop sendirian? Kayak gmn rasanya?
@riyanwahyudi: Pernah. Biasa aja. Lebih asik malah -- "@myaharyono: Pernah ada yg nonton bioskop sendirian? Kayak gmn rasanya?
@dwithya: enak juga..so private..or introvert kekeke..RT @myaharyono: Pernah ada yg nonton bioskop sendirian? Kayak gmn rasanya?
@tiaratiala: Aku udah 2x.. Seru tp gak ada tmn ngobrol. Haha RT @myaharyono: Pernah ada yg nonton bioskop sendirian? Kayak gmn rasanya?
@TiaSetiawati: @myaharyono sering. Dan gue enjoy banget. x))

Dari total 11 responden, 3 aja yang ngga suka loh. Tuh kan, berarti ngga ada salahnya sama nonton bioskop sendirian. Sore itu juga gue langsung pergi ke PS untuk nonton sendirian. Film pertama yang gue tonton sendiri adalah: Alvin & The Chipmunk 3. Gue suka film bagian 1 dan 2 karena lucu banget jadi yang ketiga juga lucu.

This is it.

Dan pengalaman nonton pertama gue sendiri di bioskop adalah: Garing!

Kenapa? Karena gue salah film. Filmnya maksa, ngga lucu sama sekali, dan gue hampir ketiduran. Berdasarkan pengalaman itu, ini dia tips dari gue supaya sukses nonton sendiri di bioskop.

1.  Pastikan filmnya bukan film horor setan-setanan atau pembunuhan yah, kecuali kalo lo pemberani.

2. Jangan milih film romantis yang kemungkinan besar penontonnya banyak pasangan. Susah cari kursi kosong satu :p

3. Jangan juga nonton film serius/mikir. Sepinter/sekonsen apapun lo bisa aja loss focus, mending sama temen jadi kalo ada part kelewat bisa nanya kan.

4. Pastiin bagus resensinya. Jangan percaya trailer. Banyak yang terlihat seru/lucu pas nonton ternyata garing. Kebayang kan sudah sendiri filmnya garing pula.

5. Ga usah bawa makanan/minuman. Ngga ada temen sharing jadi bikin banyak makan dan minum, efeknya ke pipis. Kalo sendiri sapa yang jaga tas? Dan gue sih males melewatkan bagian film karena harus pipis ya.

6. Perlu kecermatan dalam milih tempat duduk nih. Pilih kursi paling pinggir. Biar kalo film selesai cepat kabur. Hohoho.

Kesimpulannya, nonton bioskop sendiri bisa garing bisa juga seru. Tergantung cara lo antisipasi kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dan ketepatan milih film. Terus gue kapok ngga milih nonton sendiri? Ya nggalah.

16 Jan 2012 gue kembali nonton sendiri. Filmnya New Years Eve. Dan gue kali ini sudah pintar belajar dari kesalahan pengalaman pertama. Seru, suka, semangat. Mana filmnya quote-able banget deh :)))

Lesson to learn: Just because you’re alone, do not ever make yourself feel lonely. If you can not enjoy doing things alone, how can you enjoy doing things together with anybody?

So, how about you? Bagaimanakah pengalamanmu menikmati kesendirianmu? 🙂

Kindly match my personality too esp for ‘patient’. Sabar kok gue nunggu jodoh :3

gelaph's avatargelaph.com

Got a copy of kinda “Personality Based on Zodiac” from a buddy and found myself smiling to the screen for how this article really match myself. Contact me for reading the other signs 😛

A slim moderately tall woman. Taurus woman is funny and a jolly person.Square facial bone structure, high cheek bone. Her round big eyes sparkle with wit and curiosity. You will not see many round faces Taurus women, and mainly she will have a strong jaw line.

She is a constantly change person. If she up sets, she will not show it and will keep it to herself for a long time, and will remember them so well. If she gets really mad at you, you will suddenly become a totally and completely stranger to her.

She is a patient person, but always need new excitement. She hates long talk meeting, long and endless conversation. She can be in love with you today, and…

View original post 724 more words

Kebetulan Suratan

Kamu percaya kebetulan?

Gue engga. Ngga ada yang kebetulan di dunia ini. Dan semua kebetulan ngga sengaja, gue percaya adalah rencana Tuhan yang disengaja.

Tapi pernah ngga sih bertanya-tanya, kenapa harus ada kebetulan? Sesungguhnya ada apa di balik kebetulan? Ada pesan apa yang dikirim Tuhan melalui kebetulan?

Kalau gue sering kali dalam hati bertanya, “is it a sign?”

Life is not merely a series of meaningless accidents or coincidences. But rather, its a tapestry of events that culminate in an exquisite, sublime plan. – Serendipity the movie (2001)

Serendipity adalah salah satu bentuk kebetulan. Tepatnya kebetulan yang menyenangkan. Sesuatu yang tidak terduga terjadi justru membawa pada jodoh kita.

Serendipity. Look for something, find something else, and realize that what you’ve found is more suited to your needs than what you thought you were looking for. – Lawrence Block

Nah itu kan ‘kebetulan’ menyenangkan. Gimana dengan yang tidak menyenangkan? Awalnya kita pikir suatu kebetulan yang bisa saja menyenangkan, tapi nyatanya engga.

Enaknya kita sebut apa ya? Not-a-serendipity-but-what-a-pity! atau bahasa gaulnya, “kasiaaaan deh lo!” Heheh.

Baru kemarin ini, gue mendengarkan percakapan dua sahabat gue.

“Eh baru sadar, kita sama-sama lahir tanggal 24. Lo Januari, gue Februari. Lo Aquarius, gue Pisces. Ikan kan emang hidupnya hanya bisa di air. Kebetulan banget ya? Pertanda apa ya?”

Bisa jadi, bukan pertanda apa-apa. Dan itu tidak menyenangkan sama sekali kawan.

Berikut pengalaman-pengalaman gue tentang ‘not-a-serendipity-but-what-a-pity’.

Lebih dari 10 tahun yang lalu, gue juga pernah merasakan ‘is-it-a-sign moment’, mirip pertanyaan sahabat gue tadi.

Tanggal lahir gue adalah 3 Mei 1984. Gue bertemu dengan seseorang yang bertanggal lahir 5 Maret 1984. Terus kenapa? Sekilas ngga ada yang aneh kan? Coba lebih perhatikan lagi deh.

5 Maret 1984 (050384) dan 3 Mei 1984 (030584) adalah angka-angka yang hanya dibalik aja kan? Maksa ya? Hahaha. Biarin. Orang kalau lagi jatuh cinta kan memang suka maksa. Sukak-sukak gue.

Tapi kepercayaan kalau barangkali itu bisa saja suatu pertanda, berlangsung bertahun-tahun loh. Gue masih mikir, ngga mungkin cuma kebetulan. Bisa aja kami berdua jodoh! Bukan jodoh yang ada malah bodoh! It doesnt mean anything!

Lalu bagaimana kamu menjelaskan peristiwa ini.

Gue punya adik kembar, cowo-cewe, tapi meninggal saat lahir. Gue juga punya Om favorit di antara Om gue yang lain, mereka kembar. Intinya, ada darah kembar di keluarga gue. Dan itu mendoktrin gue pingin punya anak kembar, enak banget sekali lahir dua. Nyokap gue bilang, biar kemungkinan punya anak kembar gede, cari suami kembar. Si empunya tanggal lahir kebalikan gue itu kembar loh. Tapi kami toh ngga berjodoh.

Selang beberapa tahun gue bertemu lagi dengan cowo kembar.

Gue tanya lagi ya, how can you explain about that?

Si kembar yang kedua, fyi, orang yang masih jadi inspirasi di balik tulisan-tulisan di blog ini. Hehe.

Berikutnya tentang mimpi.

Pernah ngga di antara kamu yang memimpikan seseorang terlalu sering. Mulai dari berkenalan, dekat, ada hubungan spesial, sampai kembali berteman biasa. Mulai dari belum ada perasaan apa-apa sampai menjadi ada apa-apa.

Jauh sebelum gue tau dia kembar, dan hanya selang beberapa minggu dari perkenalan kami. Gue memimpikan dia, siang bolong. Gue masih ingat mimpinya. Yang jelas saat itu gue terbangun dengan shocked dan mengumpat, “Issshhh kok dia bisa ada di mimpi gue????”

Lalu takdir mendekatkan kami. Ibarat garis, garis hidup kami suatu waktu pernah saling bersinggungan.

Gue percaya bisa jatuh cinta sama dia itu juga sudah di atur sama Tuhan. Lagi-lagi Tuhan menganugerahi cinta di hati gue pada manusia yang terlahir kembar.

Dan bagaimana takdir tidak hanya pernah mendekatkan hati kami, tetapi juga jarak kami.

Gue dan dia bertemu waktu gue ngaudit kantor tempat dia bekerja dulu. Lalu gue resign pindah ke kantor gue sekarang. Industri kami saja sudah berbeda banget. Ngga pernah sedikitpun gue ngebayangin kami bekerja di industri yang sama, atau satu gedung kantor. Ngga mungkin.

Tapi ngga ada yang ngga mungkin di dunia ini kan?

Nyatanya dia dapat pekerjaan di industri yang sama dengan gue bekerja. Dan lagi-lagi bagaimana kamu menjelaskan, ternyata kantor gue mendadak pindah ke gedung yang sama dengan gedung dia bekerja. Tanggal gue menempati gedung itu sama dengan tanggal hari pertama dia bekerja, 24 Januari 2011.

Tunggu, tanggal yang sama dengan yang sahabat gue omongin kemarin. Jangan-jangan…hehhe abaikan ya….. Back to topic.

Semua kebetulan yang mempertemukan dan mendekatkan gue sama dia awalnya gue pikir akan berakhir seperti di Film. Happy ending. Nyaris saja impian gue tercapai, tapi ternyata engga.

Garis yang pernah bersinggungan itu kini berada pada jalurnya masing-masing.

Kebetulan yang berahir tidak menyenangkan bukan? What a pity!

Dan manusiawi dong jika gue bertanya-tanya, jadi maksud semua pertanda itu apa? Alasan gue ketemu dia, hanya untuk membantunya lebih sukses dan mempertemukan dia dengan jodohnya kah? Pedih 😦

Suatu ketika, pagi jam berangkat kerja gue terjebak macet di kolong flyover Kuningan. Gue di dalam taksi seperti biasa sibuk dengan BB gue. Dan begitu gue melihat ke depan, motor-motor banyak seliweran, kebetulan salah satu yang melintas adalah dia. Gue bisa yakin cukup dari jaket merah khasnya. Dan memang benar dia, kami bertemu di depan lift 15 menit sesudahnya. Kebetulan yang aneh bukan?

Dan bagaimana satu lagu menjadi lagu menyenangkan sekaligus menyedihkan buat gue, Forever Tonight by Peter Cetera yang kami dengarkan saat awal-awal, ehm asmara kami. Setahun kemudian, saat kami memutuskan untuk saling menjauh, di Planet Hollywood, lagu yang dinyanyikan live band saat itu adalah Forever Tonight! (Cerita ini juga pernah disinggung di The Hopeless Romantic Traveler Track 3)

Siapa yang tidak pernah suka lagu Grow Old With You-nya Adam Sandler? Popular tahun 1998 lewat film The Wedding Singer. Termasuk gue yang suka banget. Sampe dulu sempet ngapalin. Sekitar tahun 2007, gue masih bersama orang lain, gue berharap banget ada cowok yang juga suka lagu ini dan akan nyanyiin ini lagu buat gue. Gue sampe kirimin lagu dan liriknya ke cowo yang saat itu dekat dengan gue. Tapi yang bersangkutan ngga gitu suka sama lagunya. Bete.

4 tahun setelah itu, di rumahnya, dia memutarkan lagu Grow Old With You dari BB-nya. Dia bilang suka banget sama lagu itu. Gue diam saja saat itu, tapi tersenyum dalam hati. Dan beberapa bulan setelah kejadian di rumahnya, akhirnya gue tau, lagu kesukaannya itu ditujukan untuk wanita lain.

Banyak sekali kebetulan dan tanda-tanda yang gue alami di bab hidup gue sama dia.

Tanda-tanda yang menjadi tanda tanya (?).

Seminggu yang lalu, gue nonton film Thailand 30 + SOS (Single On Sale). Ngga tau kenapa buat gue film Thailand meski dikemas komedi super lucu, tetap saja meaningful.

Singkatnya begini. Si wanita bertemu seseorang, berteman, dan bersandiwara menjadi sepasang kekasih. Tujuannya hanya jadi pemancing, siapa tau malah membawa si wanita pada jodoh yang diinginkan. Yang cakep, kaya, pokoknya idaman semua wanita.

Dan pancingannya berhasil. Si wanita bertemu dengan seseorang yang diinginkannya. Seseorang yang menjadi at the top of her list. Dia bahkan yakin, maybe he’s the one.

Lalu gimana nasib teman prianya itu. Peran dia hanya sebagai penghubungkah? (Sama dengan gue dong)

Si wanita diajak pergi dengan pacar barunya yang ‘dia pikir membuat dia bahagia itu’. Ke Kutub untuk proyek fotografi. Seneng dong, dia langsung oke. Dan hal pertama yang dia ingin bawa ke kutub adalah pena yang tintanya tahan beku, sehingga bisa dipakai di sana.

Ceritanya itu pena cuma satu-satunya di Thailand. Dia cari-cari ngga ketemu. Ternyata sudah dibeli pacarnya untuk hadiah. ‘Satu-satunya pena yang dapat dipakai di kutub untuk wanita yang sangat spesial’. Begitu ucapannya. Mana ada wanita ngga kelepek-kelepek?

Dan menjelang keberangkatan, si wanita disadarkan oleh sebuah hadiah pemberian teman prianya, si penghubung jodohnya itu.

Sebuah pensil. Dengan ucapan, ‘Bisa juga untuk menulis di kutub’.

Astaga, saya sibuk mencari-cari pena tanpa pernah berpikir bahwa masih ada pensil yang bisa juga digunakan. Pikir si wanita.

Selama ini kita terlalu sibuk mencari sesuatu yang belum pernah kita rasakan sebelumnya. Mencari-cari kebahagiaan tanpa pernah sadar, mungkin saja kebahagiaan sejati justru sudah sejak lama menunggu kita. Kebahagian yang datang dari sesuatu yang ngga kita harapkan.

Si wanita mengharapkan kebahagiannya di dapat dari pria impiannya yang tampan dan kaya. Tapi justu kebahagiaan yang sebenarnya di dapat dari teman prianya, yang semula dia anggap sebagai penghubung.

Tapi itu hanya di film kan. Kebetulan tak terduga yang berakhir menyenangkan. Faktanya, si penghubung kerap kali dilupakan. Seperti gue.

Dan daripada terus-terusan questioning life dengan Is it a sign?, What’s the reason behind this?, atau What if?. Bagaimana jika keep the faith. Percaya dan yakin semua sudah takdir Tuhan.

Mungkin memang kebetulan, tapi itu sudah menjadi suratan hidup gue 🙂

Beberapa pertanyaan sebaiknya memang dibiarkan tak terjawab. Hidup akan jadi lebih simple kalau ngga usah ada tanda-tanda.

Kembali mengutip dari film Serendipity:

“Maybe the absence of signs is really a sign”.

Blendship: Friend-love-ship.

What if in the one you love, you find a best friend instead of a lover? (Ika Natassa – Antologi Rasa)

Persahabatan dan cinta. Topik yang ngga ada matinya banget. Sudah berapa kisah yang dibuat bertemakan ‘dari temen jadi demen’. Atau istilah keren jaman sekarang ‘Friendzone‘. Yaitu kondisi pertemanan cowo-cewe dimana salah satunya menyimpan perasaan lebih. Kira-kira begitu. Takut pertemanan jadi rusak, si pihak yang mencinta lebih memilih diam dan bersembunyi dalam zona aman.

Gue lebih suka menyebutnya sebagai ‘blendship‘, percampuran antara persahabatan dan cinta. And it’s a perfect blendship, ketika sahabat dan kekasih kita adalah orang yang sama. Bukankah yang terpenting itu adalah kenyamanan? Kita tentu ingin hidup sampai tua bersama orang yang sudah sangat membuat kita nyaman bukan, dan mostly, itu adalah sahabat.

Sayangnya, sedikit sekali yang beruntung mengalami ‘perfect blendship’. Ngga semua orang bisa menikmati fase ‘dari temen jadi demen’. Bahkan ada yang sampai persahabatan menjadi rusak lalu musuhan. Well, jika berakhir begitu, mungkin memang persahabatan’ yang sesungguhnya ngga pernah terjadi. Persahabatan hanya dipakai sebagai alat untuk memperlancar PDKT. Malah ada juga yang awalnya PDKT, eh jadi keterusan sebagai sahabat.

Ada film Thailand yang mengusung tema persahabatan, judulnya ‘Friendship‘. Cinta sejati yang berawal dari persahabatan. Sayangnya semesta ngga merestui kedua insan ini bersatu. Ketika si pria sadar bahwa ia menyayangi sahabatnya,  mereka harus terpisah. Namun waktu juga yang akhirnya mempertemukan mereka kembali. Sayangnya, si perempuan sudah dalam keadaan sekarat. Ada kutipan bagus yang gue ambil dari film ini yang entah mengapa selalu membuat gue tergetar.

Rasanya baru kemarin kita menjadi teman baik. Tapi kini persahabatan kita telah memudar.

Kutipan itu mengingatkan pada kisah gue sendiri. Persahabatan gue dengan seseorang. Gue termasuk salah satu dari sekian banyak yang tidak beruntung dalam ‘sahabat jadi cinta’.

Gue pernah jatuh cinta pada sahabat gue sendiri. Sahabat dekat. Sebenarnya gue punya banyak sahabat berbeda jenis kelamin. Rata-rata persahabatan yang memang terjalin sejak sekolah. Dan yang begitu justru sudah jelas sekali batasannya. Ngga ada tuh yang namanya gue pernah naksir sama sahabat dekat sendiri. Sampai gue bertemu dia.

Meeting him was fate, becoming his friend was a choice, but falling in love with him I had no control over.

Pertemuan kami di mulai sekitar akhir 2008. Gue auditor dan dia klien gue. Hubungan kami lancar-lancar saja sebagai rekan kerja. Jujur malah gue ngga begitu menyukai sikapnya yang menyebalkan dan kurang kooperatif. Di luar kerjaan, dia justru malah mencoba berteman dengan gue. Awalnya sih banyak nanya tentang akuntansi dan perpajakan. Semangat ingin tau yang tinggi bikin gue mau aja ladenin dia. Dari sharing ilmu lama-lama malah jadi suka ngobrol dan bercanda. Hampir setiap hari gue chatting via Yahoo Messanger sama dia. Sesekali dia juga telpon gue.

Singkat cerita, persahabatan terjalin di antara gue dan dia.

Dan kita memang ngga pernah benar-benar mengingat kapan perasaan cinta itu hadir.

Tapi yang jelas, gue mulai merasa berbeda, sejak malam dia pernah telpon gue dan kami saling bertukar rahasia pribadi. Obrolan yang cukup lama dengan seseorang yang bukan pacar. Gue di rumah, dia di pinggir  jalan. Gue masih ingat bahkan waktu dia bilang “keluar deh, lihat bulan. Gue juga lagi lihat bulan, bagus ya”.

Bulan yang sama yang kami lihat dari jarak yang berjauhan, seakan jadi saksi perasaan gue yang tiba-tiba buncah. Gimana ngga, romantis banget kan?

Dan sesungguhnya saat itu masa depan kami berdua sangat gelap gulita. Tidak ada cahaya bulan sedikitpun yang menerangi dan membuat kami dapat memprediksi seperti apa hubungan kami mendatang.

Berantakan.

Kurang lebih setahun kemudian gue nekat menyatakan perasaan gue sama dia. Seenggaknya gue jujur sama perasaan gue. Ngapain dipendem, sekarang sudah ngga jaman naksir diem-diem. And boom! Our friendship was turning to complicated-shit!

Dia ngga menginginkan lebih dari persahabatan, tetapi bersedia mencoba. But it didn’t work. Hanya bertahan beberapa bulan aja dia kemudian ngga bisa melanjutkan lagi hubungan lebih dari persahabatan ini. Semuanya kacau. Jelas hubungan yang sudah rusak ini ngga bisa diperbaiki. Kami ngga bisa kembali menjadi sahabat dekat seperti dulu. Terutama gue yang mencoba menjaga jarak karena harus menormalkan perasaan dulu.

Entah siapa yang memulai, kami kembali dekat. Persahabatan yang dulu terjalin akrab kembali lagi. Dan kami berdua menikmatinya. Dan gue jatuh lagi. Atau mungkin memang perasaan itu sebenarnya ngga benar-benar hilang. Gue memang sayang sama dia, dan gue sadar sedang berada di zona aman.

Tepatnya bertahan sebagai sahabat adalah cara agar gue selalu di dekatnya.

And it sucks when you’re so close to someone, more than friendship but less than lover. 

Persahabatan kami jelas ngga bisa normal karena gue masih mencampur-adukkan antara persahabatan dan cinta. Selalu saja bertengkar. Gue pernah meninggalkannya, dia juga pernah meninggalkan gue. Dan kami selalu kembali berbaikan.

No matter how hard I try, love always leads me back to him.

Tapi hanya kembali sebagai sahabat. Sampai kapan? Percayalah ngga cuma teman dan keluarga gue yang bertanya. Gue sendiripun kerap selalu menanyakannya dalam setiap doa gue.

Dan jawabannya ternyata, sampai dia akhirnya menemukan seseorang. Seseorang yang dia sayang, dan itu bukan gue.

Gue kecewa dan marah. Entah gue marah kepada siapa. Mungkin kepada takdir. Mengapa gue dibiarkan terperangkap dalam lingkaran blend-shit yang berujung dengan kepahitan. Mengapa semua pengorbanan dan penantian gue dibiarkan berakhir sia-sia.

Kami bertengkar hebat. Tentu saja dia kecewa karena gue yang seharusnya bisa menerima kenyataan dengan ikhlas, malah lebih memilih keluar dari persahabatan kami.

Sudah cukup gue jatuh bangun dalam persahabatan kami. Dan gue tetap pada pendirian gue untuk menjauh dari dia. Dan dia sebaliknya. Dia mencoba mendapatkan kembali apa yang pernah kami miliki sejak awal, persahabatan.

Gue bingung, mengapa dia begitu ngga ingin kehilangan sahabatnya ini. Dia punya banyak teman dekat, pria dan wanita, punya kekasih juga. Lalu untuk apa lagi bersahabat dengan gue.

Dan gue belajar sesuatu, ketulusan. Betapa dia yang sudah menyakiti hati gue, berkali-kali gue coba menghukumnya dengan meng-ignore dia. Tapi gue ngga sanggup untuk terus berusaha menyakitinya. Gue mencoba memahami, bahwa mungkin bagi dia satu-satunya cara yang dapat dilakukan untuk membalas sayang gue adalah tetap menjadi sahabat gue.

Akhirnya gue mau memaafkannya kembali. Mencoba tetap menjalin kembali persahabatan dengan orang yang kita sayang sungguh ngga mudah. Tapi gue harus bisa. Gue ngga ada pilihan lain. Gue capek dengan drama di antara kami selama ini. Pertengkaran. Saling sindir. Buang muka. Toh gue sudah kalah dalam permainan cinta yang dikemas rapih dalam persahabatan. Lebih baik gue menjadi seorang yang kalah terhormat, bukan?

Lalu babak baru persahabatan kami dimulai. Persahabatan gue dan dia yang, kalau gue boleh mengambil contoh, seperti persahabatan Zarry-Rahne.

Yang main Twitter pasti tau mereka berdua, selebriti twitter. Entah ada unsur drama atau bagaimana yang jelas, dua orang pecinta kata ini bersahabat di Twitter. Banyak yang menyukai tulisan mereka sampai ada perkumpulan ‘Pecinta Kata Zarry – Rahne’.

Zarry dan Rahne yang sama-sama sendiri kerap saling meggoda lewat tweet puitis mereka. Sampai-sampai banyak yang menduga di antara mereka memang ada sesuatu. Kemudian dunia pertwitteran Indonesia dihebohkan dengan Zarry yang punya pacar. Bukan Rahne.

Banyak follower yang kasihan sama Rahne ditinggal Zarry demi wanita lain. Mungkin hanya menyenangkan para follower, mereka berdua yang saling tweet berbalas kata puitis. Berikut tweet Rahne dan Zarry:

@rahneputri: Ternyata kamu bukan hilir, kini biarkan aku terus mengalir.

@rahneputri: Jadi rupanya hujan itu berupa dia, yang lebih turun menyentuhmu dulu daripada aku.

@zarryhendrik: Aku adalah kata, tetapi kata tidak aku saja.

@rahneputri: Ada yang tergenang di wajahku, ada yang terngiang di telingaku. Entah apa, entah bagaimana. Mungkin ini namanya mati rasa.

@zarryhendrik: Ada yang memandikan mata indahnya. 🙂

@rahneputri: Jika aku tidak lagi menyebutmu dalam doa, semoga hatiku tidak berdosa.

@zarryhendrik: Now I don’t know how to make you happy. Because as far as I am, if I’m happy you should be happy.

@rahneputri: Entah kamu bagian dari cerita yang mana. Mungkin kamu akan hadir lagi di beberapa halaman di depan …….. atau tidak sama sekali.

Drama mereka berdua berlanjut dengan surat-suratan melalui blog mereka. Kalau penasaran boleh diintip link berikut:

http://rahneputri.com/post/15935436997/drama-semalam

http://zarryhendrik.tumblr.com/post/15937277803/drama-lanjutan#post-notes

Mereka berdua menyatakan dalam tumblr masing-masing, keduanya sahabat dan akan selalu sahabat. Rahne sendiri mengatakan semua kata puitisnya bukan untuk Zarry, murni drama.

Apapun itu, buat gue dalem dan menohok banget. Mengingatkan gue sama sahabat gue, dia.

Gue bahagia kok karena akhirnya sahabat gue itu menemukan kebahagiannya.

Gue selamanya tetap menjadi sahabat dia. Dan dia bagi gue? Entahlah.

Bagaimana mungkin kamu bisa bersahabat dengan orang yang pernah menjadi pusat semestamu. Tak pernah sedetikpun hilang dari pikiranmu. Berada pada urutan tertinggi daftar terpentingmu. Mengisi mimpi di setiap tidurmu. Alasan kesedihan sekaligus kebahagianmu. Sandaran yang selalu kamu andalkan. Dan nama yang disebut dalam doamu. Bagaimana caranya?

Ada pepatah yang bilang, jangan pernah menyerah pada sesuatu yang tidak seharipun kamu berhenti memikirkannya.

Aku sedang melepaskan ranting di hatiku ini, bukan menyerah tetapi menerima.

Kadang berjuang tidak hanya ketika mencintai. Mempertahankan, bahkan melepaskan cinta juga butuh perjuangan.

Inilah yang sedang gue lakukan, berjuang sekuat hati menjalani persahabatan ini.

Dan sesungguhnya, mulai detik ini, masa depan persahabatan gue dan dia kembali menjadi gelap gulita.

 


Coffeanologia – Kopi Vs Cowo

Kalau ada tempat umum yang ngga pernah sepi ya salah satunya Coffee Shop. Tadi sore gue sengaja ke Setia Budi One cari tempat ngopi sambil ngetik untuk proyek buku gue. Buset susah banget, penuh semua. Sebenernya sih masih ada lah meja kosong, yang susah di dapet itu yang deket colokan hehe.

Kedai kopi emang tempat paling oke untuk sekedar duduk-duduk ngopi sambil baca buku. Atau ngetik kayak gue. Ada juga yang cuma mau nge-wifi, bahkan kerja juga ada. Meeting sama klien, diskusi, rumpi, sampe pacaran (sigh). Cuma modal pesen secangkir atau se-tumbler kopi bisa nyantai disitu semalunya deh.

Eniwei, gue ngga mau ngomongin coffee shop sih sebenernya. Tapi kopi itu sendiri.

Kopi adalah sebuah minuman yang diolah dari biji kopi. Menurut Wikipedia, pertama kali minuman kopi dikenalkan itu tahun 700-1000 M oleh orang Arab. Ngga ada keterangan siapa dan awal mula yang nemu resep itu minuman. Karena kalau ada so pasti udah kaya raya keturunannya dapet royalti, karena kopi adalah salah satu minuman paling banyak diminum di seluruh dunia.

Thanks to Bapak Kopi, siapapun itu deh 🙂

Gue sih termasuk yang beruntung yang suka banget sama kopi, meski kadarnya ngga nyandu. Banyak juga loh yang ngga demen. Ngga masuk akal sih qo bisa ngga suka kopi. Tapi ada lagi yang lebih ngga masuk akal yaitu penggila kopi yang rela merogoh kantong mengeluarkan duit yang banyak untuk minum the ass-coffee alias kopi luwak. Katanya sih enak banget dan pembuatannya yang unik yang bikin mahal.

Makin berkembang jaman kopi juga semakin mengalami degradasi warna. Dulu kopi cuma kopi hitam pekat terus jadi coklat karena dicampur susu atau krim. Digawangi oleh Starbucks, sekarang kopi udah aneh-aneh. Coffee latte, Cappuchino, dan kawan-kawan yang bisa juga dikasi toping whipped cream, ceres, whatever you like lah.

Gue minum kopi cuma pas lagi butuh aja. Butuh begadang, butuh semangat kerja, butuh pikiran tenang, butuh buat ngegosip, dan butuh tempat nge-wifi hehe.

Waktu masih jadi auditor di KAP gue minimal mengkonsumsi kopi 3 kali sehari. Faktor mesin kopi otomatis yang bikin gue jadi bolak-balik ngambil kopi. Apalagi kalau harus ngelembur, butuh doping kopi dulu deh gue. Dan murni kebutuhan kopi gue untuk daya tahan mata aja ketimbang cuma gaya, ngga kayak para karyawan perusahaan asuransi yang kantornya selantai di bawah gue. Tiap pagi sebelum ngantor pasti beli Starbucks dulu. Buset banyak duit ya hehe.

Sadar kebanyakan kopi juga bahaya gue mulai stop minum kopi akhir 2009. Waktu itu gue udah pindah ke kantor yang jam kerjanya lebih manusiawi. No overtime means no need coffee, because I don’t have to awake a lit bit longer in the night, right?

Hampir setahun gue stop ngopi. Bisa dihitung deh gue ngopi berapa kali. Ke Starbucks palingan belinya Green tea latte. Dan kondisi badan gue malah gampang ngedrop. Kepala suka keliengan dan lemes banget. Sampe puncaknya tensi gue drop di 80/50. Hampir pingsan. Ternyata gue menderita Hypo tensi. Agak mengejutkan mengingat dulu gue selalu normal. Dokter nyuruh gue banyak-banyak makan ati/kambing untuk naikin tekanan darah. Boleh juga mulai mengkonsumsi lagi kopi asal ngga berlebihan.

Horeeee.

Gue sadar gaya konsumsi ngopi gue udah mengalami perubahan dari dua tahun yang lalu. Kalo dulu kopi sachet-an sekarang cuma ngopi di kedai kopi kayak Starbucks, Coffee Bean, Coffee World, Anomali Cafe, sampai Bengawan Solo. Makin kesini gue lebih milih minuman kopi yang rada mahal. Kenapa? Karena sekarang udah bisa gaya haha. Ngga ding, udah tau enaknya sih. Biji kopinya kualitas oke dan diolah dengan baik.

Ah kaya pernah liat, tau dari mana lo? Anggep aja begitu deh 😀

Dan bagi gue, kopi itu dianalogikan dengan cowo. Itu kenapa gue cinta sama kopi. Berikut adalah persamaan antara kopi dan cowo menurut gue.

1. Coffee, the best quality, can keep you awake all night long.

Kopi punya kafein yang fungsinya bikin ngga ngantuk. Tapi tergantung kualitasnya, sorry to say, tapi kopi sachet-an emang ngga gitu ngefek, tetep ngantuk. Sama halnya dengan cowo. Semakin oke bisa bikin kita betah deh berjam-jam. Ngga ngantuk sampe malem karena keasyikan. Apalagi kalo hot, bikin anget!!! So, coffee and men can keep you both awake and warm all night long.

2. Coffee, the more it’s rich, the more people like.

Semakin mahal kopi semakin digilai kan? Kayak gue juga sekarang yang milih-milih kalau minum kopi, kayak milih cowo. Masa yang sachet-an? hehe. No offense loh. Maksudnya, hari gini kondisi keuangan kan ngga bisa disepelein. So, coffee and men are some things that are better rich.

3. Deja Brew: The feeling that you’ve had this coffee before – Unknown.

Kalo minum kopi kesukaan yang wanginya khas itu berasa…aaaah…haruuuum. Wangi yang sudah gue apal banget dan selalu gue nikmatin sebelum menyeruput minuman itu. Aroma yang ngga ngebosenin. Kayak cowo yang bisa bikin cewe jatuh dan tejatuh lagi. So, coffee and men can give the same old feeling you always love.

4. Behind every successful woman is a substantial amount of coffee – Stephanie Piro.

Wanita karir rata-rata suka kopi. Butuh kopi untuk mood booster, supaya tenang berpikir saat bekerja. Di balik cewe sukses juga ada seorang pria yang ikut andil, apakan pria yang mendukung atau yang pernah menyakiti 😉 So, coffee and men are the booster of a successful woman.

5. Coffee can speed up your blood pressure.

Sama dengan cowok, bawaannya bikin emosi! So, too much of loving coffee and men are not good for your health :p

6. He was my cream, and I was his coffee – And when you poured us together, it was something – Josephine Baker.

Jika wanita adalah kopi, maka pria adalah krimnya. Kopi saja udah enak, tapi lebih anak kalau dikasih krim. Wanita hebat itu mandiri, tetapi tetap butuh pria agar lebih hebat. So, women need both coffee and men in their life 🙂

I can live without coffee and men, but I don’t feel alive without them.

Image