Trave[love]ing: Faktanya Adalah…

Trave(love)ing: Hati Patah Kaki Melangkah

Sebuah book teaser dari Novel pertama gue yan

Prolog

Fakta (kurang) penting…

Lebih dari sepuluh tahun yang lalu, di saat gue masih berseragamkan putih-abu, adalah pertama kalinya gue mengalami patah hati. Saat itu gue mengurung diri, mendengarkan lagu yang mewakili suasana hati, lalu menangis sampai pagi. Dan lagu patah hati gue saat itu adalah End Of The World. Begini liriknya:

Why does the sun go on shining
 Why does the sea rush to shore
 Don't they know it's the end of the world
 'Cause you don't love me any more
Why do the birds go on singing
 Why do the stars glow above
 Don't they know it's the end of the world
 It ended when I lost your love
I wake up in the morning and I wonder
 Why everything's the same as it was
 I can't understand, no, I can't understand
 How life goes on the way it does

Lagu lawas tahun 70-an tersebut pertama kali dipopulerkan oleh Nina Gordon, dan juga pernah dinyanyikan oleh The Carpenter. Waktu gue masih kanak-kanak, sudah sangat menyukai lagu ini karena bokap sering banget memutarnya. Kata kakak gue yang saat itu sudah remaja, lagu ini tentang patah hati. Gue manggut-manggut saja padahal enggak mengerti juga patah hati itu apa?

*Kira-kira begitu reka ulangnya :p*

Saat itu, gue enggak pernah membayangkan 12 tahun kemudian akan protes keras akan isi lagu tersebut. Patah hati bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal memulai sesuatu yang lebih baik. Dan bagi gue sesuatu yang baik itu adalah Trave[love]ing.

*****

Faktanya adalah…

Kisah patah hati gue yang menjadi inspirasi di novel ini terjadi kurang dari setahun yang lalu. Gue dikirim oleh kantor untuk mengikuti audit training di Dubai. Moment yang pas untuk getaway from broken heart. Traveling untuk menghilang sesaat dari pahitnya kenyataan, enggak dapat bersama lagi dengan seseorang yang terkasih. Menjelang keberangkatan ke Dubai, gue memang benar-benar meng-update status berikut (Trave[LOVE]ing hal: 65)

Status sebelum take-off

Dendi, teman gue sejak SMA, ikut memberikan komentar dengan membubuhkan sebuah judul dari travel notes-nya, yang pernah di-post juga di Facebook. Seketika komentarnya menginspirasikan gue untuk membuat notes, tentang perjalanan di Dubai.

Pulang dari Dubai, gue enggak langsung menyusun catatan perjalanan gue itu. Banyak pertimbangan dan butuh keberanian untuk menuliskan kisah perjalanan, terutama cerita patah hati di baliknya. Dan lebih luar biasa sulitnya, ketika pertama kali akan publish tulisan itu dan meng-share-nya ke media. Bagaimana perasaan si pematah hati ketika membacanya nanti? Itulah yang menjadi pertimbangan gue. Akhirnya, 4 Desember 2011, pertama kalinya gue post di Facebook, mengikuti jejak Dendi.

The Hopeless Romantic Traveler

Respon yang gue dapat dari teman-teman sangat positif. Si Dia pun bahkan awalnya sempat mengomentari “ A great note for a great person. And also a great traveler”.

Well, I took those words as a compliment. Thanks. 🙂 

Lagi-lagi enggak pernah terbayangkan bahwa beberapa bulan kemudian, gue akan melanjutkan kisah di notes Facebook itu ke sebuah novel.

*****

Fakta cihuynya…

Judul Trave[love]ing, pertama kali tercetus di sebuah restoran khas masakan Negeri Jiran di PS. Saat itu lagi traktiran si Dendi yang baru dapat bonus (Okay, this is too much information). Sebelum muncul nama Trave[love]ing, beberapa nama sempat jadi pertimbangan. Awal naskah sempat diberi judul Move On, Travel Up? Tapi sepertinya kurang gereget. Sempat juga mengalay dengan memberikan judul TraveLoGue End: Travel Lo Gue End!! Tuhan memaafkan hambaNya yang pernah khilaf.

Tepatnya akhir Januari 2012, kami berempat langsung sreg dengan judul Trave[love]ing: Hati Patah Kaki Melangkah. Dari judulnya saja tersurat bahwa buku ini adalah buku perjalanan. Bedanya dengan buku perjalanan lainnya adalah, ini adalah perjalanan dari patah hati menuju move on (baca sinopsisnya di web penerbit Gradien atau lihat teaser-nya di sini).

Proses dimulainya Trave[love]ing adalah patah hati. Patah hati yang menyebabkan seseorang menjadi kreatif. Kreatif kemudian melampiaskan ungkapan hati pada kata. Kata yang terangkai dalam sebuah tulisan. Tulisan yang bak mimpi indah yang terwujud, saat seorang teman, Roy, mengajak gue, Dendi, dan Gelaph (baca blog Dendi untuk proses perkenalan kami berempat) untuk membuat proyek novel cinta berlatar belakang perjalanan karena patah hati (baca blog Gelaph untuk behind the scene-nya).

Ada input, maka ada output. Jika patah hati adalah input, move on adalah output. Dan prosesnya adalah traveling. Begitulah garis besar Trave[love]ing.

*****

Fakta kerennya…

Di saat teman-teman seumuran melahirkan seorang bayi mungil, gue masih melahirkan sebuah novel (yak curhat, sodara-sodara :p).

Launching perdana buku ini sudah dilakukan tanggal 26 Mei 2012, ditandai dengan keempat penulisnya yang menjelajahi Jakarta, menebarkan obat patah hati.

Target pertama kami adalah para endorser yang sudah sangat berbaik hati mau memberikan sepenggal kalimat tentang buku kami ini. Mereka adalah:

@AlbethieneE – penulis
@Fatimaalkaff -penikmat sastra dan literatur
@dwikaputra – social media enthusiast, singer-song writer
@arievrahman – seasonal traveler (money season for the exact)
@rahneputri – delusional arbitch who is trapped in poem, music, film, and photography
@zarryhendrik – penyiar
@ekaotto- penulis Bayangan Kelima
@pervertauditor – pelakon audit, impulsive traveler wannabe, loveable character on Twitter

Dan salah seorang penulis favorit gue, Windy Ariestanty, berkenan memberikan pengantar untuk buku ini. Mimpi jadi kenyataannya paket combo! 🙂

Launching Trave(love)ing

Setelah menyebarkan obat tersebut kepada para endorser, Trave[love]ing kemudian disebarkan secara luas di Jakarta dan sekitarnya. Per tanggal tulisan ini diturunkan, hampir sebulan setelah terbit, sudah ada juga di kota besar lainnya dan toko buku Gramedia, Toko Gunung Agung, Kinokuniya, Leksika, Tisera, dan Toko Buku Salemba.

Faktanya lagi…

Setelah kurang lebih sebulan nangkring di toko buku, Trave[love]ing masuk jajaran best seller. Tercatat di H-1 month-versary ini, sudah laris manis di Gramedia Plaza Semanggi, Kelapa Gading, Botani Square, dan Grand Indonesia. Di online bookstore @bukukita juga sudah jadi best seller! Isn’t it cool? :p

Harapan kami, khususnya gue, buku ini bisa memberikan banyak warna bagi semua pembaca. Untuk yang sedang patah hati, sedang berbunga-bunga, bahkan yang sudah settling down juga. Untuk yang patah hati, setelah membacanya jadi bisa memotivasi untuk cepat move on. Yang sedang berbunga-bunga, agar dapat lebih menjaga suatu hubungan. Patah hati itu enggak enak, kalo enak sudah pasti habis dimakan (maap yak gue emang engak jago nge-jokes). Untuk yang sudah menemukan soulmate, selain jadi bernostalgia bisa jadi ingin honeymoon kedua. Karena buku ini menularkan sensasi ingin traveling. Enggak percaya? Buktikan saja!

Sebagai penutup, gue ingin mengutip pengantar dari @windyariestanty pada novel ini.

“Pada akhirnya, mereka tetap harus berterimakasih kepada para mantan yang membuat mereka melakukan perjalanan ‘patah hati’, dan kembali dengan cerita yang dituliskan. Sebuah cara ‘sembuh’ yang mengagumkan bukan?”

Gue pribadi mengucapkan terima kasih.

Terima kasih untuk dia, yang pasti enggak pernah menyangka bahwa si pensil yang enggak diinginkannya ini, sekarang bisa menuliskan sebuah buku. (Fakta lagi: Ada sebuah joke tentang pensil, hanya gue dan dia yang tau :p)

Terima kasih untuk orang-orang terdekat, yang telah mendukung, menyayangi, dan masih menyediakan ruang dalam hidup dan hatinya untuk seorang gue. Seorang anak, seorang adik, dan seorang sahabat.

Terima kasih untuk para pembaca, yang sudah membeli dan membaca buku ini.

Terima kasih Allah, yang dengan manisnya menjadikan luka dulu menjadi suka kini.

Menjawab lagu End Of The World:

And now I understand. How life goes on the way it does. It keeps on moving on, no matter how hard your heart is grieving.

*****

Epilog

Fakta bukan nih…

Kok bisa ya, kisah patah hati ke-empat penulis Trave[love]ing mewakili empat problematika derita cinta sejak jaman purba sampai akhir jaman: LDR, beda agama, friendzone, dan perselingkuhan. *angkat alis*

Foto yang ada di Trave[love]ing hal: 227, ada foto senyum move on. Benar enggak ya foto itu diambil setelah gue berteriak di balkon gedung tertinggi di dunia: Burj Khalifa…Hmmm. *angkat alis lagi*

😀

Travel is…

Travel is...Travel is figuring out that you are braver than before.

Travel is wondering there’s a world outside every darkened door.

Travel is falling a sleep on a bus and letting the bus driver take you anywhere until the last stop.

Travel is waking up earlier then you use to be and getting ready for today’s adventure.

Travel is enjoying sunset somewhere far away from home.

Travel is turning your head to the wind.

Travel is living life to the fullest, because life is like a road you travel on.

Travel is falling in love… with God, for any creatures you see along the trip.

Travel is waiting for surprise you may get in every journey.

Travel is planning for the next destination.

Travel is hunting for something you can bring home for the one you care about.

Travel is being somewhere that make you say “wish you were here’.

Travel is forgetting that you are on diet.

Travel is sharing your experience because you never have any story to tell if you have been nowhere.

Travel is guessing, perhaps that someone across the street is your soul mate.

Travel is either making you love your someone more or less, depends on your traveling purpose.

Travel is being awake, you never really sleep because you can’t wait until tomorrow comes and gives another experience.

Travel is taking a break from your busy hours that make you go insane.

Travel is sometimes sleeping on an inconvenience bed but feeling extremely satisfied.

Travel is wearing your old favorite shoes but every steps count a great adventure.

Travel is tasting the specialty of somewhere and when you come home you will suggest “you have to try the food”.

Travel is managing your time, you mess one day itinerary then you should rearrange for whole week.

Travel is being sexy without trying hard to be, in your own way.

Travel is knowing the things you never knew before.

Travel is going the distance to make a room for a while

Travel is seeing the world and meeting different races.

Travel is discovering that there is some act of kindness you never thought it existed before.

Travel is creating one simple conversation that could lead to a lifelong friendship.

Travel is being somewhere that you can always proudly say “been there” later on.

Travel is bringing the same bag for a week with difference experience everyday.

Travel is capturing moments you never want to forget, everytime you see the picture you will smile and say “I miss that moment”.

Travel is also learning how to communicate and deal with a completely stranger.

Travel is remembering one day when you’re old that you were once young, wild, free, and cool.

Travel is knowing that you may deserve something better.

Travel is feeling lucky for having a chance to see great places that some people may not have one.

Travel is getting something new that surprisingly surprised!

Travel is listening to one song in your iPod that will remind you of that one gloomy night somewhere.

Travel is figuring out, who is the one who did not miss you and the one who missed you the most

Travel is finding some place you’ve never been before but it just reminds you of that someone special.

Travel is realizing that there is still the one thing missing no matter how far you go.

Travel is wondering there’s a world outside every darkened door.

Travel is making new friends.

Travel is getting away for a while from your problem.

Travel is throwing your sorrow and counting your blessings.

The Hopeless Romantic Traveler – Jangan Jatuh Di Bromo

Jangan Jatuh Di Bromo

Kisah sebelumnya: Patah hati membuat gue memanfaatkan dinas kantor ke Dubai sebagai pelarian untuk move on. Meski selama perjalanan terasa berat karena selalu teringat kenangan masa lalu, di Dubai gue banyak belajar yang membuka mata gue bahwa hidup terus berjalan. Tutup yang lama dan segera mulai lembaran baru.

***

Lembaran baru segera gue buka sekembalinya dari Dubai. Meski belum 100% move on tapi gue mencoba untuk menikmati prosesnya. Perlahan tapi pasti gue mulai kembali ceria dan optimis dengan masa depan indah yang siap menyambut. Amiin.

Tapi terkadang beberapa orang masih salah mengartikan move on. Gue dibilang belum move on karena masih berteman dengan mantan dan belum juga menemukan pengganti. Emang gue peduli? Move on beda dengan move in. Gue sudah move on, yang belum kan tinggal move in aja. Daripada sudah move in tapi ternyata sebenarnya belum bisa move on? (Sumpah ini bukan sindiran).

“Lo sih terlalu milih, Mi.” seorang teman berkata pada gue lewat BBM suatu waktu.

“Bukan, salah banget. Gue bukan milih-milih, tapi lebih hati-hati aja.” balas gue.

Pengalaman menyakitkan di masa lalu jadi alasan otak gue memberikan peringatan keras pada hati. Hati-hati lah hati. Jangan salah jatuh lagi. Mungkin gue juga belum siap jatuh cinta lagi karena ngga mau kembali terluka. Jadi, gue pilih bersenang-senang menikmati hidup sampai hati gue benar-benar pulih. Tentunya juga, sambil terus berdoa agar jangan dibiarkan jatuh cinta kepada yang bukan Jodoh gue. Capek ah pacaran terus putus. Gue mau nikah, serius! (Hey It’s Rhyme).

Selang beberapa bulan setelah pulang dari Dubai, gue sempat beberapa kali dinas ke luar kota. Tapi padatnya pekerjaan ngga bikin gue sempat menikmati holi-work-day. Akhir tahun 2011 gue dinas di Bali tapi sama sekali ngga menikmati Bali. Pergantian tahun pun gue lewati di tempat tidur. Bobok pulas.

Si hopeless romantic ini kangen traveling lagi!

Tapi traveling berikutnya harus beda dong. Bukan untuk move on lagi, tapi..eh lucu juga kali ya kalau ketemu p-a-t-j-a-r pas lagi traveling. Kayak kisah si Dendi dan Riani (Spoiler)*.

Travel is guessing, perhaps that someone across the street is your soul mate. – @myaharyono

Well, perhaps loh. Siapa tau kan?

Tapi gue ngga ngarep muluk-muluk sih. At least, ketemu teman baru aja sudah cukup kok. Dan gue menemukannya waktu Dinas di Bali akhir tahun lalu itu.

Sebut saja dia si Rendang, panggilan akrab gue untuknya yang sangat menyukai makanan berlemak tinggi khas Padang itu.

Travel is creating one simple conversation that could lead to a lifetime friendship. – @myaharyono

Percakapan di Bali itu kalau gue ingat-ngat lagi sangat-sangat ngga penting ya. Si rendang ini awalnya cuma mamer-mamer Iphone miliknya yang lebih bagus dari punya gue. Sial. Lalu percakapan ngga penting itu berlanjut menjadi kicauan ngga jelas di Twitter. Karena dia bekerja di kota yang berbeda dengan gue, ya memang komunikasi kami hanya lewat Twitter dan LINE (aplikasi chatting di Iphone). Punya hobi dan zodiak yang sama mungkin membuat kami cocok berteman. Sangat menyenangkan rasanya punya teman ngobrol ngalur ngidul lagi setelah terakhir kali sama…ah sudahlah.

Tempat favorit kami berdua untuk ngobrol-ngobrol adalah di Starbucks dekat kantor gue. Beberapa kali kami bertemu kalau dia sedang dinas di Jakarta. Suatu ketika, gue memperkenalkannya pada sang masa lalu gue itu. Sejak itu si rendang resmi menjadi tempat gue berkeluh kesah. Kepadanya gue akhirnya bisa menceritakan semua kisah pribadi gue. Tampaknya, persahabatan gue dan si rendang setingkat lebih maju.

Gue punya banyak teman untuk tempat curhat, tapi beda aja rasanya curhat ke someone new. Dia yang baru mengenal gue malah memandang masalah gue dengan fair dan ngga nge-judge. Dia biarkan gue bercerita dulu sampai tuntas, lalu terkekeh.

“Ish kok malah ketawa sih rendang!” umpat gue yang kesal karena tertawa di tengah kesedihan gue yang sedang bercerita.

“Gue males ngasih masukan, percuma lo ngga akan denger juga. Ada 2 orang yang ngga bisa dikasih saran. Pertama lagi jatuh cinta. Kedua sedang patah hati tapi masih ngarep. Hahaha.” tawanya lepas seolah kisah gue itu lucu banget.

Gue cuma bisa merengut.

“Lo juga pasti udah dapet banyak saran dari temen-temen lo kan? Semuanya suru lo lupain dan tinggalin mantan lo kan?” Gue mengangguk setuju dengan perkataannya. “Yaudah, buat apalagi gue komen?” lanjutnya.

“Jadi gue ngga boleh nih cerita-cerita lagi tentang dia? tanya gue.

“Cerita tentang dia gunanya apa? Masih suka berarti kan? haha.” godanya.

“Bukaaaaan. Ish. Ya kalau misal keinget or ketemu dia lagi di kantor kan pengen juga cerita ke seseorang. Temen-temen gue udah bosen pasti denger cerita yang masih berhubungan dengan dia.” semoga pipi gue ngga terlihat merah saat menyangkal ucapannya. Dan si rendang itu tertawa lagi.

“Boleh aja. Kasian amat masa’ dilarang.”

Begitulah awal gue selalu cerita apa saja ke si rendang ini. When I suddenly feel down, karena teringat masa lalu, gue akan mencari si rendang. Gue akan terus bercerita meski responnya hanya ‘haha-hehe’. Dan sungguh, gue bisa ngga sedih lagi dan malah jadi ketawa-ketawa bareng.

Suatu waktu setelah selesai curhat panjang padanya gue mengucapkan rasa terima kasih untuknya karena mau waktunya terbuang dengerin keluhan gue. Dia hanya berkata “Yang penting, ngga galau lagi kan?”

Ucapannya menyadarkan gue, ah betapa baiknya orang-orang di sekitar gue yang ingin melihat gue ngga sedih lagi. Dan gue ngga boleh mengecewakan mereka dengan menunjukkan kesedihan lagi. Menurutnya, gue jadi suka sedih karena membaca status BBM dan tweet si mantan. Setelah membacanya lalu mulai membandingkan dengan ketika masih bersama dulu, tentu saja menyakitkan. Mengetahui dan kemudian mengingat lagi jadi sumber kegelisahan dan penyebab gue kembali sedih.

The less you know, the less you care, and the happier you will be.That is the golden rule, sweety.

“Gue akan delete BBM-nya. Gimana menurut lo?” tanya gue di suatu tengah malam kepada rendang.

“Seharusnya dari dulu malah.” responnya singkat.

Ngga neko-neko, tapi sahabat baru gue itu bisa memotivasi untuk bangkit lagi. Dialah yang membuat gue yakin untuk 100% lepas dari masa lalu. Sempat sedikit ragu di awal, karena sebentar lagi sang mantan akan berulang tahun. Dengan kondisi seperti ini, gue takut galau di hari ultahnya nanti. Karena pasti akan teringat setahun lalu kami masih merayakannya bersama-sama.

“Jangan khawatir, kan pas tanggal dia ultah kita mau ke Bromo. Senang-senang ajalah kita.” hiburnya.

Yes, petualangan si hopeless romantic traveler akan berlanjut di Bromo!

***

Gue dan si rendang kebetulan sama-sama dinas di Surabaya. Kami beserta beberapa teman yang lain merencanakan akan liburan di Bromo. Masa udah ke surabaya ngga ke Bromo. Lalu mulailah si rendang mengatur kepergian kami. Karena gue sedikit manja, gue merengek dulu ke teman-teman lain agar tidak backpacking-an (Please do not ask why). Menggunakan jasa tour sepertinya jadi pilihan tepat kami. Memang mahal sih. Minimal setengah juta per kantong untuk keseluruhan biaya melihat sunrise di Bromo.

Satu jam menjelang tengah malam, sebuah Daihatsu Grand Max sudah menunggu kami di hotel. Mobil tersebut akan membawa kami sampai Malang untuk kemudian bertukar dengan mobil jeep menuju Bromo.

Di tengah perjalanan, tepat pukul 12 malam, muncul reminder ulang tahun sang masa lalu di Iphone gue. Crap! Merusak mood gue aja. Supaya ngga sedih, iseng gue malah mengirimkan ucapan selamat ulang tahun ke Iphone si Rendang. Bunyi notifikasi menandakan ada balasan dari dia berupa siulan, terdengar memecahkan kesunyian di dalam mobil. Sesaat gue merasa ngga enak karena takut menganggu teman-teman lain yang sudah tidur. Lalu gue membaca pesannya. “Masih mau jadi yang pertama ngucapin ke mantan?”

“Ngga kok, malesin.” gue kirimkan balasan singkat kepadanya. Balasan dari dia berikutnya hanya terdengar suara getaran saja karena gue sudah mengaktifkan silent mode. Tapi chatting diam-diam sama si rendang di saat yang lain tidur pulas itu..lucu juga.

“Nanti saja kalau sudah di Bromo. Kirim aja begini: From Bromo, I wish you a happy birthday.” usul si rendang. Gue langsung cepat membalasnya lagi. “Norak ah.”

Rasa kantuk membuat gue ngga berlama-lama memikirkan kalau hari itu adalah hari yang pernah spesial buat gue. Gue ikut tertidur sampai bapak supir membangunkan kami. Pukul dua pagi di Kota Malang. Kami harus bertukar kendaraan. Sebuah mobil jeep sudah menanti kami.

Dua setengah jam perjalanan dilalui untuk sampai ke kawasan Bromo. Mobil jeep kami menghantam pekatnya malam, hanya ditemani cahaya bulan dan bintang yang bertebaran dengan indahnya. Hebat sekali pak supir ini hapal rute perjalanan melintasi gunung dan hutan. Bayangkan saja, salah-salah bisa kesasar! Aduh ada binatang buas ngga ya? Amit-amit!

Di tengah lamunan yang ngawur, tiba-tiba gue dihentakkan oleh udara yang masuk ke dalam mobil. Dinginnya menusuk. Ternyata si rendang membuka kaca jendela untuk melihat indahnya bintang. Dia meminta gue untuk melihatnya juga. Ah, pemandangan gugusan bintang ini jarang-jarang bisa dilihat di kota besar. Tapi gue ngga kuat berlama-lama menikmatinya. Gue meminta rendang juga menutup kaca jendela mobil. Dinginnya gak sante!

Tepat pukul setengah lima pagi, kami sampai di Pananjakan View untuk menyambut sunrise bersama pengunjung lainnya. Semua orang bersiap dengan kamera masing-masing. Gue percayakan SLR merah kesayangan gue pada si rendang untuk memotret pemandangan, yang membuat kami berkali-kali berdecak kagum. Gue cukup dengan Iphone saja. Sesekali gue ambil foto si rendang yang sedang asik mengabadikan moment matahari terbit di Bromo.

Ramai pengunjung menyambut matahari terbit di Bromo.

Travel is falling in love..with God, for any creatures you see along the trip. – @myaharyono

One of God’s best creatures.

Heaven on Earth.

Subhanallah! Indah banget. Seperti lukisan yang dikuas oleh tangan Tuhan sendiri. Gunung-gunung di Bromo tersebut tampak seperti mengambang di antara lautan kabut. Konon, Bromo adalah salah satu gunung dengan pemandangan terbaik di dunia. Ngga heran, pengunjung yang datang juga banyak dari berbagai luar negeri. Jarang-jarang kan ada bule mau ke gunung, biasanya mereka lebih memilih bersantai di pantai.

Heaven is what I feel.

Perjalanan di lanjutkan ke puncak gunung untuk melihat kawah. Pak supir tour menyarankan kami untuk menunggang kuda saja sebelum akhirnya menaiki tangga menuju puncak bukit. Harga sewa kuda untuk bolak-balik mengantar kami naik turun gunung adalah Rp100 ribu. Ya hitung-hitung sambil menolong bapak yang merupakan penduduk asli Tengger tersebut. Dia lah yang mengawal kami dengan berjalan memegangi kuda.

Yihhaaa!

Dan luar biasa capeknya ketika harus menapaki anak tangga menuju puncak gunung. Awalnya gue coba menghitung berapa jumlah anak tangga tersebut tapi lama-lama gue kehilangan konsentrasi.

Satu anak tangga. I do miss him.

Dua anak tangga. I do not miss him.

Tiga anak tangga. Why do i have to think that I miss him or not?

Empat anak tangga. Well who cares if I miss him or not.

Lima anak tangga. I’m tired of missing him.

Gue kecapek-an saat menaiki tangga ke puncak gunung.

Begitu seterusnya hingga beberapa anak tangga terakhir. Gue kehabisan nafas dan menghentikan langkah. Tinggal beberapa anak tangga lagi dan gue akan sampai ke puncak. Lalu gue menengadahkan kepala. Hembusan angin dingin menerpa wajah gue. Sinaran cahaya menyambut mata gue yang menyipit. Ada sesosok siluet tubuh menanti gue di ujung tangga. Tersenyum. Ah, senyum yang mendamaikan hati seketika. Senyum yang sudah lama hilang dan sedang kunanti kembali. Semakin dekat gue lihat sosok itu dengan jelas. Bersamaan dengan itu, telinga gue pun mendengarkan suaranya yang menyemangati gue. “Ayo, sebentar lagi sampai. “ Ternyata sosok itu adalah si rendang.

Dengan keyakinan pasti, gue melanjutkan menaiki anak tangga terakhir.

I’m done thinking of him.

Gue menggapai tangan si rendang agar tidak terjatuh. Lalu dia memastikan gue agar duduk di atas sebuah batu di dekat ujung tangga untuk beristirahat. Gue sudah tergopoh-gopoh saking capeknya. Fakor U nih pasti.

Lalu gue perhatikan keadaan sekitar. Puncak gunung ini seram banget sebenarnya. Ngga ada pembatas dan di bawah gunung yang curam ini langsung kawah. Butuh ekstra hati-hati agar tidak terpeleset dan terjatuh. Yang punya highphobia tidak disarankan mendaki sampai di puncak ini deh.

Gue melihat si rendang berjalan ke ujung jurang untuk memotret kawah. Setelah nafas gue kembali normal lalu gue menyusul ke tempat si rendang berdiri. Sadar gue yang sedang berjalan ‘sradak-sreduk’ ke arahnya dia spontan berteriak agar gue berhati-hati. Wajahnya terlihat khawatir. Mungkin dikiranya gue ada niat untuk lompat ke dalam jurang. Sial.

Ngga ada niatan lompat kok. Sunguh!

Dengan sok berani gue duduk di dekat jurang dan meminta dia mengambil foto gue dengan beberapa gaya. “Gue mau bergaya semacam lompat karena stres ya.” pinta gue lalu dengan kesusahan mencoba berdiri dan hampir terpeleset. Gue pun kena omelan si rendang. Dia cerewet banget meminta gue jangan terlalu ke pinggir. “Hati-hati lo. Awas jatuh!”

Entahlah, tapi seperti ada yang salah dengan peringatannya kali ini. Permintaannya agar tidak terjatuh di Bromo, terdengar seperti… Jangan.  Jatuh. Cinta…kepadanya.

But how can  I not fall for you?

Lalu sederet peristiwa yang terjadi sebulan terakhir berputar-putar di kepala gue. Teringat lagi masa-masa chatting kami malam hari menjelang tidur. Tanggapannya yang cuma terkekeh mendengar curhatan gue. Keisengannya mengirimkan gambar-gambar yang membuat gue mengucap…”ish..” lalu tersenyum. Komentar sinisnya yang mengatakan gue ngga bisa mengemas koper dengan baik. Pujiannya yang mengatakan bahwa dia salut karena gue wanita yang tegar disaat orang lain mungkin mengasihani gue. Dukungannya agar tetap menulis di saat sedih. Pembenarannya kalau menghibur diri dengan berbelanja sesekali itu tidak dilarang. Sikap ogah-ogahannya untuk menemani gue yang ketakutan sendirian, tapi toh dia mau memani gue juga. Sikapnya yang gentle dan memperlakukan gue dengan baik. Mengangkat bawaan gue yang berat ngga peduli tangannya kapalan dan hanya membiarkan gue membawa boarding pass. Menawaran jaketnya untuk menghangatkan gue yang kedinginan di bandara. Satu jam menggalau berduaan di dalam pesawat di atas udara. Dan… teringat juga akan kisahnya dengan wanita itu.

Ya, ada seseorang telah mengisi hatinya.

Alasan yang cukup kuat untuk gue tidak merusak pertemanan kami dengan jatuh cinta padanya. Semua kebaikannya sudah semestinya tidak disalahartikan yang lain.

Kali ini harus lebih berhati-hati. Salah langkah bisa menyebabkan gue terjatuh di Bromo. Resikonya bisa mati masuk jurang. Begitupun dengan hati gue. Syukurlah sejak awal gue sudah diberi peringatan agar tidak jatuh dan terperosok lebih dalam. Jika tak ada wanita lain pun, ada batasan-batasan yang sudah dia tetapkan di awal yang membuat gue dan dia tidak akan berujung pada hubungan lebih dari persahabatan. Masalah prinsipal.

Sekarang yang gue lakukan adalah menikmati kebaikannya dan kedekatan kami sambil tetap menjaga agar tidak jatuh hati padanya. Hati harus seperti kendaraan, dipasang rem yang dipakai untuk mengontrol kapan harus berhenti dan kapan harus terus berjalan.

Mungkin tiga puluh menit di puncak kawasan Bromo ini adalah masa yang akan gue ingat selamanya. Setengah jam dalam masa hidup gue, di mana gue hampir terjatuh di Bromo. Secara harfiah maupun istilah.

Sebelum kami kembali menuruni tangga dan melanjutkan petualangan di pasir berbisik, patung singa, dan padang savanah. Gue memanggil si rendang yang hendak turun mendahului gue. “Eh tunggu, lo jalan di belakang gue aja. Jaga gue ya. Don’t let me fall.” gue memberi penekanan pada kalimat terakhir. Sebuah perintah untuknya.

Dia tersenyum dan mempersilahkan gue melewatinya. Gue terus melangkah turun dengan hati dan kaki yang ringan. Tetapi harus terhenti ketika gue mendengar suaranya yang memanggil. Gue pun segera berbalik badan mengarah padanya yang masih berdiri di atas ujung tangga. Belum sempat gue berucap lalu…

JEPRET. JEPRET. JEPRET.

Thanks for making my day still special without him..

Notes.

* Coming soon: Trave(love)ing, Hati Patah Kaki Melangkah. Sebuah novel oleh Mia, Dendi, Roy, dan Grahita. Doanya ya Kakaaaak….