Apa Adanya? Tapi, Pantes Enggak?

Beberapa hari yang lalu gue terlibat perdebatan dengan seorang sahabat cewe. Pemicunya adalah saat gue mengeluhkan padanya, bahwa salah seorang teman yang baru gue kenal dan sempat dekat, kenapa tiba-tiba seperti menjaga jarak.

Singkat cerita, teman cewe gue ini tau kenapa si cowok seolah malas dekat sama gue lagi. Awalnya si cowo memang suka berteman dengan gue, kalau sudah mengobrol bisa ngalor ngidul kemana-mana. Tapi makan lama, ya gue bisa merasakan lah kalau sepertinya dia mulai menghindar dari gue.

Ternyata masalahnya adalah satu. Menurut si cowo, kepribadian gue kenapa makin hari makin tidak seperti gue yang dia pertama kali kenal dulu. Sosok yang sempat membuatnya kagum pada gue.

Gue menghela nafas panjang mendengarnya. ASTAGA. Kemudian menanyakan pada teman cewe gue.

“Jadi dia enggak bisa terima gue apa adanya dong?”

“Apa adanya kamu yang bagaimana dulu? Yang bocor, ngomong enggak pake diayak? Orang kan mikir buset nih cewe mesum amat. Oiya, lo juga mulai ngerokok lagi dan sekarang udah cuek ngebul di depan teman-teman.”

“Itu yang kamu sebut apa adanya? lanjutnya.

Sorry to say, iya. Itu gue apa adanya. Bocor dan sesekali merokok. Gue capek harus jaim. Dan gue akan begitu di depan cowo, karena gue mencari cowo yang mau menerima gue apa adanya.” jelas gue.

Benar kan gue? Kita harus bisa menemukan seseorang yang mau menerima kita apa adanya. Dan bersamanya kita bisa all out, enggak jaim, dan jadi diri sendiri. Itu yang gue mau.

“Lo tuh punya otak enggak sih, Mi? Lo pikir dong, cowo yang tadinya dekat aja jadi menjauh gara2 ‘apa-adanya’ lo ini. Apalagi cowo yang baru kenal lo. Bisa ilfil lah.”

“Yaudah, kalo emang enggak tertarik sama gue yang begini, go away. Gue enggak maksa pertemanan kok. Kalau keberatan gue begini terus gue harus berubah gitu? Berusaha menyenangkan orang lain? Hell no!

“Lo stres ya, Mi?”

Oh tidak. Jangan ungkit itu. Gue enggak suka orang terdekat gue mulai nge-judge.Terlebih, jika itu benar.

Jadi gue terdiam. Lama.

Apa hasilnya gue jadi cewek baik-baik selama ini? Gue mencoba menjadi seseorang yang diinginkan oleh pria yang pernah gue sayang. Gue pernah selama 2 tahun tidak sedikitpun menyentuh rokok lagi karena dia enggak mau gue merokok. Gue juga menghindari pakaian seksi atau short karena dia pernah bilang jangan memakai yang terlalu pendek. Gue juga enggak pernah bocor di hadapannya karena sejak awal kami saling mengenal di matanya gue adalah wanita baik-baik.

Sekali lagi gue tanya. Apa hasilnya?

Gue disia-siakan. Dan tidak ada yang lebih membuat gondok dari semua kebaikan dirimu seolah percuma di hadapan seseorang. Dia malah bilang gue terlalu baik untuknya.

Karena pengalaman itu lah yang akhirnya membuat gue berpikir, untuk apa lagi jadi Mia yang terlalu baik untuk seseorang. Gue suka berbaju seksi. Gue bocor karena lingkungan yang memang begitu, tapi menurut gue sih masih ada aturan dan hanya untuk lucu-lucuan saja. Dan gue sesekali merokok di tempat dingin, hampir tidak pernah di Jakarta.

Dan tiga hal itu yang gue enggak mau tahan-tahan lagi. This is who i am. I want You to take me as I am.

Lalu teman cewe gue itu mengatakan sesuatu yang menyadarkan gue.

Perempuan baik-baik hanya untuk pria baik-baik. Kalau kemarin dia menyiakanmu itu artinya dia bukan pria baik-baik. Lalu kenapa jadi kamu yang harus berubah menjadi tidak baik?

Apa adanya kamu itu bukan masalah baik atau enggak baik sih. Karena baik juga relatif, tergantung cowoknya baik juga apa enggak. Tapi lebih ke pantas enggak?

“Pikir mi, sikap yang kamu bilang apa adanya kamu itu pantas enggak sih dilakukan oleh perempuan baik-baik? Kamu itu baik, baik banget. Manis. Kalau saat ini belum juga menemukan pria baik-baik juga ya enggak usah terlalu khawatir sampai ngaco gini.”

JLEB.

Pantaskanlah dirimu sendiri terlebih dahulu, lalu si pria yang tepat itu akan segera datang.

Benar sekali. Gue akan kembali menjadi Mia yang baik-baik dan pantas, tapi enggak lantas menjadi seperti yang diinginkan orang lain sih. Gue tetap menjadi diri sendiri, mempertahan kan yang pantas dan menyingkirkan yang tidak baik.

🙂

Ps.

Hari ini enggak sebatang rokok pun gue hisap. Bravo Mimi!

Advertisements

13 thoughts on “Apa Adanya? Tapi, Pantes Enggak?

  1. Gue bukan perokok, tapi gak masalah kalo temen2 deket gue ngerokok. Gue nggak minum alkohol, tapi lagi2 gue nggak masalah kalo temen2 deket gue minum.

    Soalnya knp? Soalnya mereka udah gede. Udah bisa mikir sendiri.

    Dan kalopun cewek ngerokok plus berbaju seksi, itu terlihat “nakal”, gue sependapat.

    Tapi ya itu pilihan masing2 kan?

    IMO sih, kalopun lo mau berhenti ngerokok, pastikan krn lo emang pingin. Bukan karena terpaksa.

    Apalagi biar dapet jodoh orang baik2. Oh my.
    Jodoh kita bukannya udah jelas siapa ya? Kalau kita jadi superalim pun, apa mungkin jodoh kita jadi berubah si anu yang superalim jg?

    Udahlah…

    Nikmati hidup. Pilih pilihan hidup lo. Dan tanggung jawab dengan apa yang lo pilih.

    Like

  2. gue ngerokok. dan gue gak pernah keberatan dan gak pernah memandang sebelah mata kepada cewek yg ngerokok. malah pernah dapat gebetan cewek perokok juga, dan teman2 gue pada gak suka itu.
    sama seperti halnya cewek yg suka (pernah) minum alkohol.

    tapi, memang, klo calon istri, cowok (dan gue juga) akan lebih memilih cewek yg tidak merokok. standar ganda?
    ya kenyataannya memang gitu. image cewek perokok itu cewek “nakal” masih menjadi stigma adat ketimuran kita.

    sama halnya pake rok mini. gue suka melihatnya, dan gak keberatan jika salah satu teman memakainya, tapi untuk calon istri, gue prefer yg pake rok selutut.

    emang jodoh gak bisa ditebak, yg cewek baik2 pun banyak dapat suami yg brengsek. buktinya ya lo bisa liat ada di deket kita. you know who.
    tapi bukan berarti kita gak usaha untuk memantaskan diri untuk dapat yg terbaik. ya kan?
    klo lo emang mau berenti ngerokok, itu harus dari diri lo. bukan karena orang lain.
    kecuali orang yg meminta itu orang spesial.
    (baca kisah Tiara Lestari yg berhenti jadi model bugil krn diminta oleh suami dan ibunya.)

    so pesan gue, lebih baik ngerokok daripada jadi model bugil.
    heheh just kidding, mi.

    as a friend, i really dont mind with what your doing, but i ‘m happy if you quit smoking.
    🙂

    Like

  3. Gelaph n dendi: you guys rock! Ini murni hasil perenungan gue, ngga ada yg nyuruh kok. Sapa doi nyuruh2 ya kan haha. Salah seorang teman dekat gue, cowok (dijelasin), bilang: Dian Sastro yg cantik abis n artis aja gue ilfil krn rokok, apalagi lo mi… Bercanda sih, tp damn it’s a little bit true..

    Like

  4. Boleh ikutan komen ya?

    Gw gak ngerokok dan gak suka ama yang namanya asap rokok. Tapii, gw sama sekali gak keberatan sama orang yang mau ngerokok, cowok atopun cewek. Karena balik lagi itu pilihan hidup masing-masing orang. Palingan kalo ngerokok deket gw ya gw minta tolong buat asepnya ga diarahin ke gw. (mirip ama pendapatnya gelaph ya?)

    dan kalo memang mau berenti ngerokok ya menurut gw sih ya yang penting itu memang harus dari diri sendiri (nah loh, sama lagi).

    Like

  5. Iya mungkin kurang tepat kalo kita menganut terima saya apa ada nya… Dari yg pernah aku baca, yg lebih pas mungkin menjadi diri sendiri yg lebih baik dari hari ke hari…
    Mungkin mudah nya begini, sekarang apa kita mau dapat pasangan yg males2an dan seumur hidup ga pernah berubah (terima apa ada nya yaa), atau apa kita mau dapat pasangan yg suka judi n minum2an dan ga berubah seumur hidup (terima apa adanya), atau apa kita mau dapat pasangan yg suka main perempuan dan tukang bohong dan ga mau berubah seumur hidup (terima apa ada nya aku doong)…

    Lebih jauh lagi, kalo sudah menikah nanti, ternyata berubah jadi lebih baik n belajar itu jadi kewajiban suami istri yg harus terus seumur hidup…. 🙂

    Like

  6. Baguslah klo emang mo berubah. Dan jujur aj lebih bagus begitu daripada nyerah. Bukti kalo lo nyerah krna lo balik.
    Beruntung sih lo punya temen yg care dan ingetin baeknya gimana. Support.
    Btw, gue lagi naksir ama cewek, n mungkin bisa di bilang dy lagi dalam masa… Ya gitulah. Enggak tau deh.. Gue suka dia. Hehehe

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s