The Hopeless Romantic Traveler – Jangan Jatuh Di Bromo

Jangan Jatuh Di Bromo

Kisah sebelumnya: Patah hati membuat gue memanfaatkan dinas kantor ke Dubai sebagai pelarian untuk move on. Meski selama perjalanan terasa berat karena selalu teringat kenangan masa lalu, di Dubai gue banyak belajar yang membuka mata gue bahwa hidup terus berjalan. Tutup yang lama dan segera mulai lembaran baru.

***

Lembaran baru segera gue buka sekembalinya dari Dubai. Meski belum 100% move on tapi gue mencoba untuk menikmati prosesnya. Perlahan tapi pasti gue mulai kembali ceria dan optimis dengan masa depan indah yang siap menyambut. Amiin.

Tapi terkadang beberapa orang masih salah mengartikan move on. Gue dibilang belum move on karena masih berteman dengan mantan dan belum juga menemukan pengganti. Emang gue peduli? Move on beda dengan move in. Gue sudah move on, yang belum kan tinggal move in aja. Daripada sudah move in tapi ternyata sebenarnya belum bisa move on? (Sumpah ini bukan sindiran).

“Lo sih terlalu milih, Mi.” seorang teman berkata pada gue lewat BBM suatu waktu.

“Bukan, salah banget. Gue bukan milih-milih, tapi lebih hati-hati aja.” balas gue.

Pengalaman menyakitkan di masa lalu jadi alasan otak gue memberikan peringatan keras pada hati. Hati-hati lah hati. Jangan salah jatuh lagi. Mungkin gue juga belum siap jatuh cinta lagi karena ngga mau kembali terluka. Jadi, gue pilih bersenang-senang menikmati hidup sampai hati gue benar-benar pulih. Tentunya juga, sambil terus berdoa agar jangan dibiarkan jatuh cinta kepada yang bukan Jodoh gue. Capek ah pacaran terus putus. Gue mau nikah, serius! (Hey It’s Rhyme).

Selang beberapa bulan setelah pulang dari Dubai, gue sempat beberapa kali dinas ke luar kota. Tapi padatnya pekerjaan ngga bikin gue sempat menikmati holi-work-day. Akhir tahun 2011 gue dinas di Bali tapi sama sekali ngga menikmati Bali. Pergantian tahun pun gue lewati di tempat tidur. Bobok pulas.

Si hopeless romantic ini kangen traveling lagi!

Tapi traveling berikutnya harus beda dong. Bukan untuk move on lagi, tapi..eh lucu juga kali ya kalau ketemu p-a-t-j-a-r pas lagi traveling. Kayak kisah si Dendi dan Riani (Spoiler)*.

Travel is guessing, perhaps that someone across the street is your soul mate. – @myaharyono

Well, perhaps loh. Siapa tau kan?

Tapi gue ngga ngarep muluk-muluk sih. At least, ketemu teman baru aja sudah cukup kok. Dan gue menemukannya waktu Dinas di Bali akhir tahun lalu itu.

Sebut saja dia si Rendang, panggilan akrab gue untuknya yang sangat menyukai makanan berlemak tinggi khas Padang itu.

Travel is creating one simple conversation that could lead to a lifetime friendship. – @myaharyono

Percakapan di Bali itu kalau gue ingat-ngat lagi sangat-sangat ngga penting ya. Si rendang ini awalnya cuma mamer-mamer Iphone miliknya yang lebih bagus dari punya gue. Sial. Lalu percakapan ngga penting itu berlanjut menjadi kicauan ngga jelas di Twitter. Karena dia bekerja di kota yang berbeda dengan gue, ya memang komunikasi kami hanya lewat Twitter dan LINE (aplikasi chatting di Iphone). Punya hobi dan zodiak yang sama mungkin membuat kami cocok berteman. Sangat menyenangkan rasanya punya teman ngobrol ngalur ngidul lagi setelah terakhir kali sama…ah sudahlah.

Tempat favorit kami berdua untuk ngobrol-ngobrol adalah di Starbucks dekat kantor gue. Beberapa kali kami bertemu kalau dia sedang dinas di Jakarta. Suatu ketika, gue memperkenalkannya pada sang masa lalu gue itu. Sejak itu si rendang resmi menjadi tempat gue berkeluh kesah. Kepadanya gue akhirnya bisa menceritakan semua kisah pribadi gue. Tampaknya, persahabatan gue dan si rendang setingkat lebih maju.

Gue punya banyak teman untuk tempat curhat, tapi beda aja rasanya curhat ke someone new. Dia yang baru mengenal gue malah memandang masalah gue dengan fair dan ngga nge-judge. Dia biarkan gue bercerita dulu sampai tuntas, lalu terkekeh.

“Ish kok malah ketawa sih rendang!” umpat gue yang kesal karena tertawa di tengah kesedihan gue yang sedang bercerita.

“Gue males ngasih masukan, percuma lo ngga akan denger juga. Ada 2 orang yang ngga bisa dikasih saran. Pertama lagi jatuh cinta. Kedua sedang patah hati tapi masih ngarep. Hahaha.” tawanya lepas seolah kisah gue itu lucu banget.

Gue cuma bisa merengut.

“Lo juga pasti udah dapet banyak saran dari temen-temen lo kan? Semuanya suru lo lupain dan tinggalin mantan lo kan?” Gue mengangguk setuju dengan perkataannya. “Yaudah, buat apalagi gue komen?” lanjutnya.

“Jadi gue ngga boleh nih cerita-cerita lagi tentang dia? tanya gue.

“Cerita tentang dia gunanya apa? Masih suka berarti kan? haha.” godanya.

“Bukaaaaan. Ish. Ya kalau misal keinget or ketemu dia lagi di kantor kan pengen juga cerita ke seseorang. Temen-temen gue udah bosen pasti denger cerita yang masih berhubungan dengan dia.” semoga pipi gue ngga terlihat merah saat menyangkal ucapannya. Dan si rendang itu tertawa lagi.

“Boleh aja. Kasian amat masa’ dilarang.”

Begitulah awal gue selalu cerita apa saja ke si rendang ini. When I suddenly feel down, karena teringat masa lalu, gue akan mencari si rendang. Gue akan terus bercerita meski responnya hanya ‘haha-hehe’. Dan sungguh, gue bisa ngga sedih lagi dan malah jadi ketawa-ketawa bareng.

Suatu waktu setelah selesai curhat panjang padanya gue mengucapkan rasa terima kasih untuknya karena mau waktunya terbuang dengerin keluhan gue. Dia hanya berkata “Yang penting, ngga galau lagi kan?”

Ucapannya menyadarkan gue, ah betapa baiknya orang-orang di sekitar gue yang ingin melihat gue ngga sedih lagi. Dan gue ngga boleh mengecewakan mereka dengan menunjukkan kesedihan lagi. Menurutnya, gue jadi suka sedih karena membaca status BBM dan tweet si mantan. Setelah membacanya lalu mulai membandingkan dengan ketika masih bersama dulu, tentu saja menyakitkan. Mengetahui dan kemudian mengingat lagi jadi sumber kegelisahan dan penyebab gue kembali sedih.

The less you know, the less you care, and the happier you will be.That is the golden rule, sweety.

“Gue akan delete BBM-nya. Gimana menurut lo?” tanya gue di suatu tengah malam kepada rendang.

“Seharusnya dari dulu malah.” responnya singkat.

Ngga neko-neko, tapi sahabat baru gue itu bisa memotivasi untuk bangkit lagi. Dialah yang membuat gue yakin untuk 100% lepas dari masa lalu. Sempat sedikit ragu di awal, karena sebentar lagi sang mantan akan berulang tahun. Dengan kondisi seperti ini, gue takut galau di hari ultahnya nanti. Karena pasti akan teringat setahun lalu kami masih merayakannya bersama-sama.

“Jangan khawatir, kan pas tanggal dia ultah kita mau ke Bromo. Senang-senang ajalah kita.” hiburnya.

Yes, petualangan si hopeless romantic traveler akan berlanjut di Bromo!

***

Gue dan si rendang kebetulan sama-sama dinas di Surabaya. Kami beserta beberapa teman yang lain merencanakan akan liburan di Bromo. Masa udah ke surabaya ngga ke Bromo. Lalu mulailah si rendang mengatur kepergian kami. Karena gue sedikit manja, gue merengek dulu ke teman-teman lain agar tidak backpacking-an (Please do not ask why). Menggunakan jasa tour sepertinya jadi pilihan tepat kami. Memang mahal sih. Minimal setengah juta per kantong untuk keseluruhan biaya melihat sunrise di Bromo.

Satu jam menjelang tengah malam, sebuah Daihatsu Grand Max sudah menunggu kami di hotel. Mobil tersebut akan membawa kami sampai Malang untuk kemudian bertukar dengan mobil jeep menuju Bromo.

Di tengah perjalanan, tepat pukul 12 malam, muncul reminder ulang tahun sang masa lalu di Iphone gue. Crap! Merusak mood gue aja. Supaya ngga sedih, iseng gue malah mengirimkan ucapan selamat ulang tahun ke Iphone si Rendang. Bunyi notifikasi menandakan ada balasan dari dia berupa siulan, terdengar memecahkan kesunyian di dalam mobil. Sesaat gue merasa ngga enak karena takut menganggu teman-teman lain yang sudah tidur. Lalu gue membaca pesannya. “Masih mau jadi yang pertama ngucapin ke mantan?”

“Ngga kok, malesin.” gue kirimkan balasan singkat kepadanya. Balasan dari dia berikutnya hanya terdengar suara getaran saja karena gue sudah mengaktifkan silent mode. Tapi chatting diam-diam sama si rendang di saat yang lain tidur pulas itu..lucu juga.

“Nanti saja kalau sudah di Bromo. Kirim aja begini: From Bromo, I wish you a happy birthday.” usul si rendang. Gue langsung cepat membalasnya lagi. “Norak ah.”

Rasa kantuk membuat gue ngga berlama-lama memikirkan kalau hari itu adalah hari yang pernah spesial buat gue. Gue ikut tertidur sampai bapak supir membangunkan kami. Pukul dua pagi di Kota Malang. Kami harus bertukar kendaraan. Sebuah mobil jeep sudah menanti kami.

Dua setengah jam perjalanan dilalui untuk sampai ke kawasan Bromo. Mobil jeep kami menghantam pekatnya malam, hanya ditemani cahaya bulan dan bintang yang bertebaran dengan indahnya. Hebat sekali pak supir ini hapal rute perjalanan melintasi gunung dan hutan. Bayangkan saja, salah-salah bisa kesasar! Aduh ada binatang buas ngga ya? Amit-amit!

Di tengah lamunan yang ngawur, tiba-tiba gue dihentakkan oleh udara yang masuk ke dalam mobil. Dinginnya menusuk. Ternyata si rendang membuka kaca jendela untuk melihat indahnya bintang. Dia meminta gue untuk melihatnya juga. Ah, pemandangan gugusan bintang ini jarang-jarang bisa dilihat di kota besar. Tapi gue ngga kuat berlama-lama menikmatinya. Gue meminta rendang juga menutup kaca jendela mobil. Dinginnya gak sante!

Tepat pukul setengah lima pagi, kami sampai di Pananjakan View untuk menyambut sunrise bersama pengunjung lainnya. Semua orang bersiap dengan kamera masing-masing. Gue percayakan SLR merah kesayangan gue pada si rendang untuk memotret pemandangan, yang membuat kami berkali-kali berdecak kagum. Gue cukup dengan Iphone saja. Sesekali gue ambil foto si rendang yang sedang asik mengabadikan moment matahari terbit di Bromo.

Ramai pengunjung menyambut matahari terbit di Bromo.

Travel is falling in love..with God, for any creatures you see along the trip. – @myaharyono

One of God’s best creatures.

Heaven on Earth.

Subhanallah! Indah banget. Seperti lukisan yang dikuas oleh tangan Tuhan sendiri. Gunung-gunung di Bromo tersebut tampak seperti mengambang di antara lautan kabut. Konon, Bromo adalah salah satu gunung dengan pemandangan terbaik di dunia. Ngga heran, pengunjung yang datang juga banyak dari berbagai luar negeri. Jarang-jarang kan ada bule mau ke gunung, biasanya mereka lebih memilih bersantai di pantai.

Heaven is what I feel.

Perjalanan di lanjutkan ke puncak gunung untuk melihat kawah. Pak supir tour menyarankan kami untuk menunggang kuda saja sebelum akhirnya menaiki tangga menuju puncak bukit. Harga sewa kuda untuk bolak-balik mengantar kami naik turun gunung adalah Rp100 ribu. Ya hitung-hitung sambil menolong bapak yang merupakan penduduk asli Tengger tersebut. Dia lah yang mengawal kami dengan berjalan memegangi kuda.

Yihhaaa!

Dan luar biasa capeknya ketika harus menapaki anak tangga menuju puncak gunung. Awalnya gue coba menghitung berapa jumlah anak tangga tersebut tapi lama-lama gue kehilangan konsentrasi.

Satu anak tangga. I do miss him.

Dua anak tangga. I do not miss him.

Tiga anak tangga. Why do i have to think that I miss him or not?

Empat anak tangga. Well who cares if I miss him or not.

Lima anak tangga. I’m tired of missing him.

Gue kecapek-an saat menaiki tangga ke puncak gunung.

Begitu seterusnya hingga beberapa anak tangga terakhir. Gue kehabisan nafas dan menghentikan langkah. Tinggal beberapa anak tangga lagi dan gue akan sampai ke puncak. Lalu gue menengadahkan kepala. Hembusan angin dingin menerpa wajah gue. Sinaran cahaya menyambut mata gue yang menyipit. Ada sesosok siluet tubuh menanti gue di ujung tangga. Tersenyum. Ah, senyum yang mendamaikan hati seketika. Senyum yang sudah lama hilang dan sedang kunanti kembali. Semakin dekat gue lihat sosok itu dengan jelas. Bersamaan dengan itu, telinga gue pun mendengarkan suaranya yang menyemangati gue. “Ayo, sebentar lagi sampai. “ Ternyata sosok itu adalah si rendang.

Dengan keyakinan pasti, gue melanjutkan menaiki anak tangga terakhir.

I’m done thinking of him.

Gue menggapai tangan si rendang agar tidak terjatuh. Lalu dia memastikan gue agar duduk di atas sebuah batu di dekat ujung tangga untuk beristirahat. Gue sudah tergopoh-gopoh saking capeknya. Fakor U nih pasti.

Lalu gue perhatikan keadaan sekitar. Puncak gunung ini seram banget sebenarnya. Ngga ada pembatas dan di bawah gunung yang curam ini langsung kawah. Butuh ekstra hati-hati agar tidak terpeleset dan terjatuh. Yang punya highphobia tidak disarankan mendaki sampai di puncak ini deh.

Gue melihat si rendang berjalan ke ujung jurang untuk memotret kawah. Setelah nafas gue kembali normal lalu gue menyusul ke tempat si rendang berdiri. Sadar gue yang sedang berjalan ‘sradak-sreduk’ ke arahnya dia spontan berteriak agar gue berhati-hati. Wajahnya terlihat khawatir. Mungkin dikiranya gue ada niat untuk lompat ke dalam jurang. Sial.

Ngga ada niatan lompat kok. Sunguh!

Dengan sok berani gue duduk di dekat jurang dan meminta dia mengambil foto gue dengan beberapa gaya. “Gue mau bergaya semacam lompat karena stres ya.” pinta gue lalu dengan kesusahan mencoba berdiri dan hampir terpeleset. Gue pun kena omelan si rendang. Dia cerewet banget meminta gue jangan terlalu ke pinggir. “Hati-hati lo. Awas jatuh!”

Entahlah, tapi seperti ada yang salah dengan peringatannya kali ini. Permintaannya agar tidak terjatuh di Bromo, terdengar seperti… Jangan.  Jatuh. Cinta…kepadanya.

But how can  I not fall for you?

Lalu sederet peristiwa yang terjadi sebulan terakhir berputar-putar di kepala gue. Teringat lagi masa-masa chatting kami malam hari menjelang tidur. Tanggapannya yang cuma terkekeh mendengar curhatan gue. Keisengannya mengirimkan gambar-gambar yang membuat gue mengucap…”ish..” lalu tersenyum. Komentar sinisnya yang mengatakan gue ngga bisa mengemas koper dengan baik. Pujiannya yang mengatakan bahwa dia salut karena gue wanita yang tegar disaat orang lain mungkin mengasihani gue. Dukungannya agar tetap menulis di saat sedih. Pembenarannya kalau menghibur diri dengan berbelanja sesekali itu tidak dilarang. Sikap ogah-ogahannya untuk menemani gue yang ketakutan sendirian, tapi toh dia mau memani gue juga. Sikapnya yang gentle dan memperlakukan gue dengan baik. Mengangkat bawaan gue yang berat ngga peduli tangannya kapalan dan hanya membiarkan gue membawa boarding pass. Menawaran jaketnya untuk menghangatkan gue yang kedinginan di bandara. Satu jam menggalau berduaan di dalam pesawat di atas udara. Dan… teringat juga akan kisahnya dengan wanita itu.

Ya, ada seseorang telah mengisi hatinya.

Alasan yang cukup kuat untuk gue tidak merusak pertemanan kami dengan jatuh cinta padanya. Semua kebaikannya sudah semestinya tidak disalahartikan yang lain.

Kali ini harus lebih berhati-hati. Salah langkah bisa menyebabkan gue terjatuh di Bromo. Resikonya bisa mati masuk jurang. Begitupun dengan hati gue. Syukurlah sejak awal gue sudah diberi peringatan agar tidak jatuh dan terperosok lebih dalam. Jika tak ada wanita lain pun, ada batasan-batasan yang sudah dia tetapkan di awal yang membuat gue dan dia tidak akan berujung pada hubungan lebih dari persahabatan. Masalah prinsipal.

Sekarang yang gue lakukan adalah menikmati kebaikannya dan kedekatan kami sambil tetap menjaga agar tidak jatuh hati padanya. Hati harus seperti kendaraan, dipasang rem yang dipakai untuk mengontrol kapan harus berhenti dan kapan harus terus berjalan.

Mungkin tiga puluh menit di puncak kawasan Bromo ini adalah masa yang akan gue ingat selamanya. Setengah jam dalam masa hidup gue, di mana gue hampir terjatuh di Bromo. Secara harfiah maupun istilah.

Sebelum kami kembali menuruni tangga dan melanjutkan petualangan di pasir berbisik, patung singa, dan padang savanah. Gue memanggil si rendang yang hendak turun mendahului gue. “Eh tunggu, lo jalan di belakang gue aja. Jaga gue ya. Don’t let me fall.” gue memberi penekanan pada kalimat terakhir. Sebuah perintah untuknya.

Dia tersenyum dan mempersilahkan gue melewatinya. Gue terus melangkah turun dengan hati dan kaki yang ringan. Tetapi harus terhenti ketika gue mendengar suaranya yang memanggil. Gue pun segera berbalik badan mengarah padanya yang masih berdiri di atas ujung tangga. Belum sempat gue berucap lalu…

JEPRET. JEPRET. JEPRET.

Thanks for making my day still special without him..

Notes.

* Coming soon: Trave(love)ing, Hati Patah Kaki Melangkah. Sebuah novel oleh Mia, Dendi, Roy, dan Grahita. Doanya ya Kakaaaak….

Advertisements

2 thoughts on “The Hopeless Romantic Traveler – Jangan Jatuh Di Bromo

  1. awalnya persahabatan……lama lama perasaan suka itu pasti ada. sering ketemu curhat akan membuat perasaan lain dengannya…..mau ga mau perasaan itu pasti akan muncul…..kalau ga mau jatuh cinta jangan pernah curhat dengan lawan jenis.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s