Langkah Sole Mate

Soul mate. Belahan jiwa.

Banyak yang menganggap belahan jiwa itu ya pasangan hidup. Berjodoh. Yes it is, but for me, jodoh is not always in a romantic way.

Dalam hidup kita, ada beberapa orang yang akan kita temui dan dengan mudahnya ngerasa ‘klik’ begitu aja. Orang-orang yang bersamanya kita bisa nyaman banget, cocok, beda tapi bisa saling memahami. Dan mereka itu bukan berarti significant other. Ya bisa jadi teman, saudara kandung, sepupu, atau siapapun. Anyone you’ve ever been interested with.

Seperti ketika 20 cewek dengan latar belakang yang berbeda, tinggal di kota yang enggak sama juga, exactly no idea banget deh bisa akhirnya sampe dipersatukan lewat sebuah buku kumcer bertajuk Sole Mate.

Setelah bersama-sama menulis novel Trave(love)ing, gue dan Grahita yang biasa gue sapa Gelaph memutuskan untuk kembali berkolaborasi. Awalnya, kami mau membuat novel duet. Tapi sesuatu malah membawa kami membuat kumcer. Yep, it was a serendipity. Menginginkan sesuatu tapi end up-nya mendapatkan sesuatu lain tanpa terduga, dan malah kayaknya lebih suitable deh :3

Kejadiannya benar-benar enggak sengaja. Di sebuah mall, kaki kami tergerak memasuki toko sepatu yang dengan genitnya menggoda kami melalui tawaran diskon besar. Saat sedang memilih-milih sepatu itulah ide Sole Mate tercetus. Lengkapnya bisa dibaca di blog saputraroy.com yang pernah mewawancarai kami perihal awal mulanya Sole Mate digagas.

why women love shoes
Dibuat Oleh @dendiriandi

Mengumpulkan kisah-kisah yang menggunakan sepatu sebagai analogi sepertinya seru. Itulah mengapa diputuskan membuat kumcer yang didukung juga dengan lagi maraknya buku keroyokan. Lalu lewat blog kami berdua working-paper.com dibuatlah sayembara (ceileh) buat para cewek yang hobi nulis dan suka sepatu untuk ikutan.

Lalu SIMSALABIM! Datanglah wanita-wanita ini ke hidup gue. Apa itu namanya kalau bukan jodoh? Yang jelas, Tuhan punya maksud mempertemukan kami, yaitu agar kami bisa menuliskan rangkaian cerita yang terajut dalam benang merah sepatu.

Selain gue dan Gelaph, wanita-wanita hebat ini antara lain….

  1. Okke Sepatu Merah
  2. Connie Wong
  3. Stephany Josephine
  4. Yessy Muchtar
  5. Kiki Raihan
  6. Anggi Zoraya
  7. Ponti Karamina
  8. Ch Amalia Achmad
  9. Ch Evaliana
  10. Riesna Kurniati
  11. Cynthia Febrina
  12. Diar Trihastuti
  13. Lia Khairunnisa
  14. Annisa Fitrianda Putri
  15. Nadya A Moeda
  16. Fani Novaria
  17. Tia Setiawati, sebagai penulis puisi
  18. Fatima Alkaff, sebagai ilustrator

Niatnya, kami ingin Sole Mate beda konsepnya dari kumcer lain. Makanya selain cerpen, ada sejarah sepatu yang bisa menambah informasi pembacanya, puisi indah buatan Tia, dan ilustrasi dibubuhi quote manis khas Fatima Alkaff.

Mengenai judulnya sendiri, Sole Mate adalah salah satu dari 2 cerpen yang gue buat untuk buku ini. Jadi tuh, sebelum bobok cantik gitu tiba-tiba gue kepikiran nama Sole Mate. Pikir gue saat itu, lucu juga ya kayak plesetan soulmate. Judul cerpen sudah dapat, lalu gue segera memutar otak untuk menemukan cerita yang pas dengan judul itu. Intinya sih mau menganalogikan kalo pentingnya sol pada sepatu kita. Apa gunanya sepatu tanpa sol? Enggak bisa dipakai. Apa gunanya gue tanpa…eaaaaa.

Ketika akhirnya nama Sole Mate dipilih untuk judul buku, yang pertama kali mengusulkan ya si Roy Saputra. Maklum, gue sama Gelaph masih belum bisa move on dari Roy dan Dendi sehingga masalah apapun pasti minta advice mereka :p

Proses penerbitan Sole Mate, ibarat kulit sih kasar. Enggak mulus banget. Dari naskah dimasukkan ke penerbit Gradien Mediatama bulan Oktober 2012, baru 12 Juni 2013 resmi rilis. Hambatannya sih Alhamdulillah bukan dari plot cerita, tapi mulai dari penambahan gambar ilustrasi yang semula hanya 5 menjadi 20 dan pemilihan cover yang cukup lama.

Hasilnya? PUAS banget. Lucuk banget kan cover-nya….cewek banget lagi :3

SoleMate

And one good thing leads to another better things. Perjodohan gue enggak berhenti sampai di para wanita kece ini. Lewat Connie Wong yang punya teman penyiar radio, Ade Aditya, gue dan Gelaph diundang ke studio Amirah 100.2 FM untuk bincang-bincang seputar Sole Mate! Huwow! My first experience ‘mengudara’. Kesan gue campur aduk, mulai gugup, grogi, tegang, tapi seneng. Ini dia nih proses siarannya klik di sini 😀

Watch On Youtube!
Watch On YouTube!

Dan tanggal 28 Juni kemarin, Launching Sole Mate resmi diadakan di BirdCage Resto JakSel. Nah ini dia foto-foto kece yang berhasil dibidik si ganteng Panji.

Mia dan Grahita di Launching Sole Mate
Mia dan Grahita, make up by @vanatigh

photo 2

Pembacaan Puisi Oleh @TiaSetiawati
Pembacaan Puisi Oleh @TiaSetiawati
Sebagian Penulis Yang Hadir (Ki-Ka: Tia, Teppy, Mia, Fatima, Grahita, Conni, Lia, Diar, Naya, Riesna, Fani, Eva, Cynthia)
Sebagian Penulis Yang Hadir (Ki-Ka: Tia, Teppy, Mia, Fatima, Grahita, Conni, Lia, Diar, Naya, Riesna, Fani, Eva, Cynthia)

photo 3

photo 3

Sesi Tanda Tangan
Sesi Tanda Tangan
Sesi Foto-Foto
Sesi Foto-Foto
Sesi Games
Sesi Games Read-bulaga
Sesi Tarot Reading Oleh @kikisuriki
Sesi Tarot Reading Oleh @kikisuriki
Yang Jaga Stand Buku: @dianabochiel & @udikers (Syuuuut!!! Mereka ini mantan lho :p)
Yang Jaga Stand Buku: @dianabochiel & @udikers (Syuuuut!!! Mereka ini mantan yang ketemu lagi di acara launching lho :p)

Terima kasih Tuhan atas Sole Mate.

Terima kasih Gelaph dan the Girls yang membantu terwujudnya Sole Mate.

Terima kasih penerbit Gradien atas terbitnya Sole Mate.

Terima kasih teman-teman yang sudah datang ke acara launching.

Terima kasih untuk pihak BirdCage dan Wondershoe atas kerja samanya.

Terima kasih para pembaca yang sudah merelakan pundi rupiahnya untuk mendapatkan Sole Mate. Jangan lupa bikin reviewnya ya, ada hadiah menanti dari kami 😀

photo (38)

Sudahkah Sole Mate menghiasi rak sepatu buku kamu?

Modus Cewek

Siapa bilang cewek enggak bisa atau enggak pernah ngemodus? Siapa bilang modus cuma milik laki-laki? Nah, untuk membuktikannya gue menginterogasi 2 cewek dengan kepribadian yang berbeda nih. Yang satu rame, cenderung agresif. Yang satunya lagi kalem, rada pendiam. Gue mau tau, kayak gimana sih gaya modus mereka pas lagi naksir cowok. Modus curhat? Modus minta tolong? Modus terima kasih? Duh itu sih biasa. Cowok sudah bisa ngebaca banget modus yang begituan. Makanya, kedua cewek ini mau berbagi modus mereka yang beda dan boleh banget lho dicontek 😀

Narasumber pertama gue, siapa sih yang enggak tau si ratu sempak Diana Bochiel (Belum tau? Wajar. Dia emang bukan selebtweet tapi selebtit** :p). Ini nih, trik-trik yang pernah doi pakai buat ngemodusin cowok.

1. Modus Salah SMS

Ini sih jaman purbakala banget, dasar anak lama lo, Chiel. Jijik banget ya modusnya, tapi ternyata jitu lho. Terbukti doi pernah SENGAJA kirim pesan ke gebetan yang isinya kayak gini:

 “Enggak usah jemput yah, mau ngojek ajah.”

Beep. Beep. Lalu dibalas:

“Woy salah kirim. Emang gue Bokap lo. Bilang aja kalo mau minta dijemput gue.”

(Hmmm ini sih kepedean juga ya cowoknya bales begini.)

 “Emang salah kirim kok :D”

Beep. Beep.

“Bilang aja kepikiran gue.”

(Aslik. Nih cowok malah jadi ngegombal. Sinyal nih kalau modusnya berhasil.)

Alhasil, mereka malah bisa sms-an dengan lancar setelahnya.

Gagal modus: Kalau sudah menggunakan trik salah kirim pesan dan enggak dibalas juga, mari cari mangsa baru.

2. Modus Hobi

Bochiel juga menerapkan trik ini dalam menggaet gebetan. Sebelumnya, doi udah tau nih tentang hobi si cowok, dan ini dia jadiin topik buat ngobrol.

(D):        “Eh, lo kan hobby naik gunung nih. Pasti belum pernah ke Gunung Kidul kan? Norak ah.”

(Co):      “Emang Gunung Kidul dimana?”

(D):        “Di Jogja, kampung gue. Pasti nanti lo bakalan sering kesana deh kalau udah jadi mantu Emak gue. Syudududu.”

(Co):      “Taeeeek. Hahahaha.”

Sumpah. Nekad juga nih si Bochiel bilang begini. Buat yang mau coba trik ini, gue enggak nanggung lho ya kalau gagal modus :p

Btw, modus hobi ini bisa juga dengan ngomongin film terbaru kalau gebetan lo suka nonton. Siapa tau bisa nonton bareng kan :p

3. Modus Kebetulan

Trik ini dipakai Bochiel pas kebetulan lagi ada di daerah kantornya si gebetan. Entah kebetulan atau sengaja nyamperin sih hehe. Doi langsung deh tuh BBM si cowok begini:

(D):        “Eh, kantor lo di Sudirman yang gedungnya kaca semua kan ya? Gue lagi ngelapin kacanya lho di luar.” (Bhahahahak! Aslik. Gue nenggakak sendiri pas Bochiel cerita ini.)

Mau enggak mau, si cowok biasanya akan ketawa dan bales sih. Minimal bales dengan “Hahaha.” juga. Setelah mendapat balasan, baru deh lanjutin BBM-nya enggak bercanda lagi.

(D):        “Enggak ding. Kebetulan lagi main ke kantor temen, deket kantor lo nih. ” (Bah, ngapain pula main ke kantor temen. Alasan :D)

Kalau lo beruntung, bisa ketemuan deh sama si cowok. Kalau gagal modus, masih ada Plan B sampai Z kok 😉

Kesimpulan: Melihat dari 3 modus Bochiel di atas, trik yang dipakai doi lebih ke modus bikin cowok betah. Siapapun itu, cowok atau cewek, biasanya emang akan lebih betah sama lawan ngobrol yang humoris. Itu kenapa Kiwil istrinya dua, dan Nunung gonta-ganti brondong. Nah kebetulan juga, mantan terakhir dan pacar sekarang Bochiel itu brondong. LOL

Narasumber kedua adalah pacarnya sahabat gue, namanya Sarah Puspita. Ternyata doi banyak make trik berikut ini, waktu PDKT sama pacarnya sekarang.

1. Modus Hipotermia

Beda sama Bochiel yang seringnya langsung nunjukin kalau lagi ngemodus ke cowok, Sarah ini lebih ke main kode (cewek banget ya hehe). Tapi yang gue amazed, doi sampai sering pura-pura kedinginan kalau lagi jalan sama gebetan, biar dipegang tangannya!! Aeh Sarah, diam-diam ya hahaha. Kalau lagi nonton di dalam bioskop, trik ini juga dipakai doi biar dipinjemin jaket.

Gagal modus: Beruntung sih cowoknya Sarah itu peka, pas si cewek kedinginan langsung megangin tangan dan kasih jaket. Ada lho cowok yang pas ceweknya kedinginan malah bilang, “Jaket kamu enggak dibawa emangnya?” Ada! Hahaha ya nasib 😐

2. Modus Tergelincir

Biasanya cewek emang suka nunjukin kerapuhan, biar cowoknya kasihan gitu. Rapuhnya si Sarah ini pas lagi jalan di trotoar. Cewek yang demen banget ber-heels ria ini suka tergelincir kalau melangkah. Tentu saja biar enggak jatuh dia langsung buru-buru megang lengan si cowok, dan si cowok akan panik dan sigap megang tangan lalu menggandeng biar jalannya Sarah aman deh. Well done, Sarah. *prok prok*

Catatan: Setelah beberapa tahun pacaran atau sudah nikah, cowok masih tertipu daya enggak ya sama trik beginian? Yang ada malah diomelin deh, “Makanya kalau jalan liat-liat!”

Doh 😦

3. Modus Minta Pendapat

Biar obrolan enggak putus, Sarah menggunakan trik nanya pendapat ke cowok untuk hal yang enggak penting. Pada suatu hari, di saat Sarah merasa lawan chatting-nya sudah mulai jawab pendek, dia akan mulai meminta pendapat untuk hal yang cuma cewek dan banci yang tau jawabannya.

(S):         “Eh menurut lo, gue bagusan poni miring atau rata.”

(Co):      [Draft]: “Asal bukan otak lo aja deh yang miring.”

[Sent]:  “Dua-duanya bagus kok :)”

(S):         “Ah….bisa aja *blushing*”

(S):         “Gue bagusnya make baju apa ya nanti pas kita ketemu?”

(Co):      [Draft]: “Enggak usah pakai baju aja deh.” (Eaaa, Kak. Eaaaa.)

[Sent]:  “Apa aja bagus kok :)”

(S):         “Ah….bisa aja *blushing*

Tapi trik ini rada bikin uring-uringan kalau jawaban si cowok ogah-ogahan sih. Ya berasa lah, apakah pertanyaan enggak penting cewek itu mengganggu atau justru menyenangkan si cowok. You’ll know it 😉

Tapi kalau jawaban doi jadi heboh begini,

(Co):      “Kayaknya mending poni rata deh Cyin, muka lo kan bulet gitu ya. Pasti lucu deh. Poni samping kan juga so last yeaaaar. Kalau baju, sih yang penting matching yeee.”

….mending cari cowok lain deh. Suer!

Kesimpulan: Melihat dari 3 modus Sarah di atas, trik yang dipakai doi lebih ke modus bikin cowok merasa dibutuhkan. Rata-rata cowok kan senang kalau si cewek itu butuh dia banget, egonya jadi terangkat gitu kan. Dimintai pendapat juga bisa bikin cowok ngerasa spesial. Tapi hati-hati, terlalu butuh dan berkesan manja atau nempel juga bisa bikin cowok ilfil. Makanya, cara Sarah ini boleh banget dicoba untuk bisa dapet perhatian cowok tanpa bikin ‘males’.

Intinya, sah-sah aja cewek ngemodus. Asal ada gunakan trik jitu dan enggak lebay yang jatuhnya murahan. Main cantik lah. Hihi. Selamat mencoba 😀

29 Bullets

Rasanya baru kemarin gue menulis birthday notes ini, eh hari ini udah 3 Mei lagi aja! If time was a man, he might be a great sprinter. Larinya cepet bgt cyin, udah lewat setahun lagi aja.

Di ultah tahun ini, gue sudah lebih ‘santai’. Mungkin karena justru tahun lalu itu lebih ke titik balik dalam hidup gue. Titik dimana gue banyak merenungi semua fase sedih dan senang yang gue alami. Titik dimana gue lagi bijak-bijaknya (tsaaaah).

Jadi, note gue kali ini hanya akan menekankan selama setahun ini apa saja sih yang sudah gue lewati. Baik itu kesalahan maupun pelajaran, yang gue rangkum dalam 29 poin (in no particular order).

  • Semakin bertambah banyak usia, semakin sedikit teman yang dapat dipercaya untuk jadi tempat curhat. Semacam 4L, lo lagi lo lagi. Sisanya, hanya dapat dibilang sebagai sahabat lama atau teman baik. Tapi sudah enggak pernah lagi berbagi cerita seperti dulu. Apalagi kalau mereka enggak aktif di social media, serius deh, sekarang sahabat dekat gue ya para anak Twitter. Gue justru bisa tetap update sama keseharian mereka ya lewat Timeline (TL). Kalau ketemuan pun, gue dan bocah-bocah malah suka bahas yang ada di TL. Dasar Twitter OD -__-“
  • Sometimes, you have to keep your own problem. Nobody really cares about it. Even your closest one. Kalau dibuat prosentase, kira-kira 60% orang yang dicurhatin itu enggak peduli, sisanya nyebarin. Meh!
  • Someday never comes. Dulu gue pernah menunggu janji seseorang yang bilang “Kalau suatu hari..bla bla bla..” itu akan ditepati. No! Never!
  • Bersyukur dan bersyukur. Jangan sampai jadi orang celaka. Selalu ingat kebaikan orang lain dan lupakan kebaikan kepada orang lain. What you give is what you get.
  • Dreams do come true. For some women, tercapainya adalah saat berhasil menikahi pria impian. For me, having fun in Paris it is \o/
  • Don’t rush into anything.
  • No matter how much I try to impress someone, I’m still not good enough for him. But hey, it’s his problem.
  • Orang cenderung berubah setelah mendapatkan apa yang diinginkan. Dalam tahap awal suatu hubungan misalnya, cowok bisa baik dan peduli banget. Dia rela melakukan apapun demi menyenangkan cewek. Lama-lama juga berubah, malah menyepelekan. It happens to me.
  • Telling someone they’re wrong never leads to anything positive. Janji mau berubah karena salah cuma sekedar di mulut.
  • You only exist when you’re needed. Kalau enggak lagi ada perlu mah enggak bakal gue dihubungi orang. I try to deal with it.
  • Nungguin karma itu kelamaan, kasih pelajaran supaya mereka sadar kesalahan kadang lebih baik.
  • Jangan terlena sama kesendirian, jam biologis menjelang 30 sudah makin berdetak kencang. Tanda harus cepat kawin. Buat prioritas untuk mendapat suami, sudah bukan umurnya lagi dekat sama cowok tanpa ikatan. Apalagi sudah lewat satu tahun dari target nikah nih. Ya bisa saja gue bilang “Jodoh sudah diatur Tuhan dan akan datang tepat waktu”, tapi gue sudah enggak bisa lagi diam menunggu dan mempersiapkan diri dengan baik agar Tuhan segera mempercayakan seorang suami untuk gue urus.
  • Pada akhirnya, sesuatu akan membuat gue ingin belajar masak dan menyukainya. Padahal dulu enggak pernah mau mencoba sedikitpun.
  • Family comes first. Masa muda sudah cukup puas lah membangkang perintah Ortu, makin dewasa jadi mulai mikir kalau omongan Ortu itu ada benarnya. Jadi utamakanlah mereka.
  • Jealousy is the most useless emotion. Memang sih cemburu itu tanda takut kehilangan, tapi enggak guna. Yang benar adalah bersikap wajar. Nobody can never steal what’s meant to be yours.
  • Ada seseorang yang bisa mentolerir sifat jelek gue bukan jadi pembenaran untuk tidak berubah jadi lebih baik. Gue harus pelan-pelan mengikis sifat keras kepala dan suka menyudutkan orang lain.
  • Do not expect to much.
  • Mulai berharap Ted enggak ketemu dulu istrinya karena How I Met Your Mother  is too good to be ended.
  • Pertahankan orang yang mau melakukan apa saja untuk lo, tanpa diminta. Jika belum menemukan orang itu, keep looking.
  • Jangan terlalu mudah memaafkan orang lain, nanti orang mikir enggak apa-apa berbuat salah toh langsung dimaafin.
  • Whatever you do, people will always have things to say about you. Jangan diambil hati, jangan dipikirin. Kecuali mengganggu karir lo.
  • Stay away from anything that only can bring you down. Don’t care too much if you don’t want to get hurt.
  • Semandiri-mandirinya cewek, akan ada pria yang membuat dia jadi depending dan demanding.
  • Kalau cowok hanya mau menjadikanmu sahabat, artinya kamu kurang rupawan di mata mereka. Mana ada cowok yang mau sahabatan doang sama Asmirandah? Semua mau macarin. Yup, that’s the ugly truth.
  • Don’t compare your self to other, termasuk love story. Jangan iri sama kisah romantis orang lain.
  • Untuk mendapatkan sesuatu yang gue ingin enggak pernah tanpa perjuangan. Gpp, malah lebih bisa appreciate dan menjaga dengan baik.
  • Tinggalkan semua yang tidak menghargai keberadaan lo.
  • It’s oke to be sad. Terserah deh malamnya mau nangis atau depresi sekalipun, paginya harus berpenampilan baik dan menutupi apa yang terjadi semalam.
  • Nothing last forever, termasuk persahabatan. Orang yang selalu gue anggap sahabat, akhirnya tahun lalu pergi juga meninggalkan gue karena wanita. And what’s meant to be together will find its way back. Sahabat sejati pasti kembali, dan ia kembali. Tapi sampai kapan? Only God knows.

TJINTA

Kisah yang akan gue ceritakan ini, adalah kisah nyata yang terjadi di era EYD belum ditetapkan. Sekitar tahun 1950.

Wanita dan tjinta. Wanita, jika soedah sangat mentjintai pria maka ia akan mengorbankan apapoen demi membahagiakannya.

Hadeh capek gue harus nulis dalam ejaan lama, mentang-mentang mau berbagi cerita jadul. Biasa aja lah ya nulisnya. Okecip.

***

She was smart, until she fell in love.

Ungkapan itu benar, setidaknya terbukti pada Amini, seorang janda beranak 5. She was a strong woman. Bayangkan saja, dengan tegar ia dapat melanjutkan hidup dan mengurus 5 anak perempuan yang masih terbilang di bawah umur, ketika suaminya harus dipanggil menghadap sang pencipta.

Sebagai janda muda di kampung, ia kemudian mencari nafkah dengan membuka warung nasi dan menyewakan kamar kosong di rumah peninggalan suaminya.

Beruntung Amini memiliki saudara-saudara yang tidak kikir, yang bersedia membantu biaya sekolah ketiga anak perempuannya. Sehingga penghasilan wanita berusia 30 tahun itu, cukup untuk mengurus keperluan dua balitanya saja.

Ia pikir, kehilangan suami adalah kehilangan cinta dalam hidupnya. Ternyata, Tuhan menganugerahi lagi cinta yang dikirim melalui seorang pemuda yang berdiri di depan pintu rumah Amini di suatu Sabtu sore.

“Permisi, dengar-dengar ada kamar kosong disewakan? Apakah masih tersedia? Jika kondisi dan harga cocok, maka saya bersedia mengisinya.”

Kala, nama pemuda berusia 25 tahun itu, yang sedang menuntut ilmu di sekolah Guru Agama. Berwajah rupawan dan bertutur kata manis, membuat Amini terpesona.

Akhirnya Kala pun menyewa kamar tersebut. Hubungannya dengan Amini juga tak seperti anak kos dengan ibu kos. Tapi mereka cukup dekat berteman. Suatu ketika, Kala menghampiri Amini yang sedang menyuapi si bungsu makan.

“Sini Mbak, saya bantu gendong si bungsu. Biar gampang nyuapinnya.” Tanpa menunggu persetujuan, Kala sudah menggendong bayi kecilnya Amini. Pertama, pria ini pintar sekali mengambil hati wanita.

“Ngomong-ngomong gak apa-apa kan ya saya panggil Mbak, bukan Ibu Kos. Abisnya Mbak, terlalu muda dan cantik untuk disapa ‘Bu’.” Senyumnya mengembang.

Kedua, pria ini juga pintar menyenangkan hati wanita.

Amini hanya tersipu malu.

“Saya…sebenarnya…betah tinggal di sini, tapi sepertinya hanya sampai akhir bulan ini.” ujarnya sambil mengelapi mulut mungil bayi yang berecetan makanan.

Amini kaget mendengar ucapan pemuda yang diam-diam mencuri perhatiannya ini. “Ke..napa memangnya?”

Kala menghela napas. “Uang kiriman Ibu saya tidak sebanyak dulu lagi, hanya cukup untuk biaya sekolah dan makan. Saya harus cari sewa yang lebih murah.” Ketiga, pria ini dengan mudahnya membuat wanita lemah dan mengkasihaninya.

Tiba-tiba muncul perasaan takut kehilangan pemuda ini dalam diri Amini. Satu atap selama 3 bulan terakhir memang sudah cukup membuat Amini uring-uringan, tetapi membiarkan pria ini keluar dari rumahnya adalah hal yang akan memusnahkan kebahagiannya.

“Jangan pergi. Hmmm..maksud saya, eh..” Amini terbata-bata, bingung bagaimana harus mengutarakan ide gilanya.

“Kala bayar setengah harga saja. Setengah lagi, kamu bayar dengan bantu mengasuh anak saya dan membantu saya di dapur. Bagaimana?”

Kala terdiam.

“Sayang sekali kalau pendidikan kamu tersendat karena biaya, tinggal setahun lagi kan?”

Kala masih berpikir, garis kepalanya mengerut. Lalu ia tersenyum lagi.

“Ah Mbak ternyata gak cuma cantik, tapi baik hati. Saya terima penawarannya.” Tangan pria itu kemudian menggenggam tangan Amini.

Keempat, rayuan pria ini mulai membuat Amini tak berdaya.

Kelima, beberapa bulan kemudian ia melamar Amini.

“Aku memang tak punya apa-apa dan tak bisa menjanjikan kehidupan layak untukmu dan anak-anakmu, Amini. Tapi aku jatuh cinta padamu, dan ingin segera menghabiskan sisa hidupku bersamamu.”

“Kalau sudah lulus nanti, aku langsung mengajar dan berstatus pegawai negeri. Itu cukup untuk hidup kita, anak-anakmu, dan anakku yang kelak kamu lahirkan. Ijinkan aku menjadi suami yang akan menjadi pelindungmu, sayangku.”

Singkat cerita, Kala akhirnya berhasil pindah dari kamar sewa berukuran 2 x 1.5 m ke kamar Amini. Sebagai seorang Isteri yang sangat mencintai suaminya, ia bahkan rela membiayai seluruh pendidikan Kala sampai selesai, dari hasil jualannya.

Setelah setahun berumah tangga, Amini dan Kala dianugerahi bayi laki-laki. Sayangnya, ketika sang bayi baru berusia 6 bulan, Kala harus mutasi pekerjaan ke luar kota.

Amini berhasil dibujuk oleh Kala agar tidak bersedih. “Tiap Jumat sore kan aku pulang sampai Minggu. Masa kamu mau menghalangi tugas suami mencari nafkah?”

Bertahun-tahun lamanya, Amini dibuat percaya oleh suami tercinta. Amini mengira, di kota tempatnya bekerja, Kala tinggal di sebuah kamar kontrakan. Bukan di kamar anak kepala sekolah tempatnya mengajar.

Ya, Kala ternyata menikah lagi.

Hati Amini hancur seketika, ia tak terima dimadu. Namun lagi-lagi, Kala dengan hebatnya dapat meyakinkan Amini agar dapat menerima poligami ini.

Cinta. Cinta yang membuat Amini bertahan.

Kala bahkan meminta Amini merahasiakan statusnya sebagai isteri pertama. Rupanya Kala mengaku sebagai bujangan, dan demi karir yang cemerlang ia mendekati anak gadis atasannya.

Amini hanya bisa pasrah, walau menangis dalam hati.

Namun lama kelamaan suaminya tak pernah pulang lagi. Sebulan sekali saja sudah bagus, tapi sayangnya Kala justru pulang saat sedang susah.

Amini yang sangat mencinta Kala lupa segala kesedihannya saat Kala datang, dengan sabarnya ia melayani suaminya itu.

Dan kembali menangis ketika suaminya pergi lagi.

Kelima anak perempuan Amini yang semakin tumbuh besar dan sudah mengerti apa yang terjadi, berusaha untuk menyadarkan Ibu mereka.

Putri ketiga Amini adalah yang paling membenci Ayah tirinya itu. Ia yang paling sering mengingatkan Ibunya.

“Ibu sadarlah, untuk apa masih mempertahankan laki-laki yang sudah menyakiti Ibu. Demi Tuhan, ia sudah menduakan Ibu. Dan Ibu masih mau baik padanya?”

Amini hanya dapat menangis, menangis, dan menangis.

***

Di suatu siang, Amini menerima sebuah surat. Setelah dibuka, ternyata isinya ada 2 lembar. Lembaran pertama berisi pernyataan cerai dari pengadilan agama, dan lembar berikutnya ditulis sendiri oleh Kala. Permintaan maaf, karena ia dipaksa hanya memiliki satu isteri. Dan pilihannya jatuh pada isteri mudanya.

Amini sayang,

Maafkan aku, aku harus melakukan ini. Aku tak punya pilihan. Terima kasih telah hadir dalam hidupku ya, kamulah penyelamatku.

Satu hal yang kamu perlu tahu, aku selalu mencintaimu. Kamu cinta pertamaku, tak ada yang dapat memberikan kenyamanan selain dirimu.

Kamu, wanitaku, tempatku selalu menginginkan pulang.

Anak-anaknya prihatin dengan keadaan Amini yang bertahun-tahun hidup dalam kepedihan. Ia sering menangis tiba-tiba. Di kamarnya, masih terpajang foto pernikahannya dengan Kala. Bahkan foto suami pertamanya saja sudah tak ada.

Beberapa pria sebayanya sempat melamar Amini setelah kembali menjanda, namun Amini menolaknya.

Tak ada yang salah dengan keputusan Amini untuk hidup sendiri tanpa pria. Tak salah juga hatinya yang tak dapat melupakan Kala. Toh Kala adalah Ayah kandung dari putranya, sesekali Kala juga masih datang ke rumah Amini untuk mengunjungi putra mereka.

Yang salah adalah, Kala masih memanfaatkan kelemahan Amini karena tahu wanita itu masih sangat mencintainya. Setiap mantan suaminya itu datang, ia pasti akan menyiapkan masakan enak. Dan setiap suaminya pergi, Amini juga membekalinya sesuatu.

Ah Amini, mau sampai kapan harus berkorban demi Kala?

Dan jawabannya adalah tak pernah. Sampai putri-putri dan putranya dewasa dan menikah, bahkan memiliki banyak cucu, Amini masih mencintai mantan suaminya itu.

***

Semalam tadi, gue baru saja mendengarkan cerita lengkap ini dari putri ketiga Ibu Amini, yang tak lain dan tak bukan adalah Mamah gue!

Ya, gue adalah keturunan Ibu Amini yang cinta mati pada pria, sampai rela melakukan apa saja. Kisah ini membuat gue merenungi kisah sendiri. Jangan-jangan, gue sangat mewarisi gen Nenek gue itu. Gue pun seperti dia ketika mencinta, begitu dalam, begitu hebat, dan tak ragu untuk berkorban.

“Sehabis Ibu pulang umroh kemarin sih sudah ngajakin anak-anaknya ngobrol. Minta ijin, katanya dia sama Bapak Kala ada rencana mau balikan. Rujuk.” Sungguh penutup cerita yang membuat gue terkejut.

Apah? Balikan? Astaga! Tuh kan, jangan-jangan memang benar, gagal move on itu faktor turunan juga!!

Baiklah, anggap saja ini sebuah peringatan buat gue dan membuktikan dugaan faktor keturunan itu salah.

Ps. Nama-nama pada kisah ini disamarkan.

11 Menit Terpenting Dalam Hidup

“Bali…I’m coming.” pekik gue waktu tiket ke Bali akhirnya issued juga untuk tanggal 14 April 2013.

Terakhir kali ke Bali akhir tahun 2011 dan gue emang udah kangeeeen banget sama Bali. Gak ngebosenin sih.

Lalu sabtu sore waktu gue lagi santai-santai nonton TV, ada breaking news kalau pesawat Lion tergelincir saat mencoba mendarat di Ngurah Rai. What?! *tv zoom in zoom out*

Pesawatnya nyusruk ke laut dan sampai patah bagian ekornya. Mendadak gue langsung pingin pipis setelah menonton berita itu (gue kalau gugup emang pingin pipis bawaannya, red.).

Untungnya (masih ada untungnya) semua penumpang dan crew selamat dari kecelakaan tersebut. Dan biasanya yang suka kecelakaan pesawat itu kalau pesawatnya sudah tua, nah ini baru 2 bulan terbang. Udah gitu kapten pesawatnya juga sudah senior. Wallahu Alam deh apa sebabnya kecelakaan tersebut, yang jelas apapun bentuk kecelakaan pasti membuat siapapun takut. Gak terkecuali gue, yang H+1 juga mau terbang ke Bali.

Meskipun maskapai yang gue pakai termasuk bagus karena mengutamakan keselamatan (that’s why harganya mahal), tetep aja kan enggak boleh takabur. Kapal Titanic yang disinyalir unsinkable aja akhirnya karam di dasar laut.

Tapi apa kita harus pasrah? Ya, namun sebagai penumpang pesawat kita juga harus waspada dengan memahami apa-apa yang penting ketika menaiki pesawat, termasuk di dalamnya adalah petunjuk keselamatan.

Pertama kali gue naik pesawat sekitar tahun sekian (maaf gue lupa :p), teman seperjalanan gue memberitahu kalau masa-masa paling mendebarkan saat terbang itu adalah saat take off dan menjelang landing. Jadilah gue kebelet kencing saat itu (karena gugup, gue sudah jelaskan di atas), saat pesawat lagi ‘nge-gas’ kenceng bangeeeet lalu take off ke udara. Gue yang masih belia saat itu cuma bisa mencengkeram erat pegangan kursi.

Dan saat tanda memasang sabuk pengaman dimatikan, gue segera menghambur ke toilet. Setelah itu baru gue bisa menikmati mengambang di antara awan biru.

Lagi asik-asik ngelamun ngeliatin awan, lalu suara kapten terdengar untuk memberitahukan pesawat akan segera landing. Lalu teman gue itu berbisik, “Berdoa, Mi. Mau landing nih. Saat-saat yang juga menentukan.”

Dengan kuping yang sedikit budeg akibat tekanan udara, gue enggak gitu dengar apa kata dia. “Lo ngomong apaan sik?”

“Berdoaaaa, mau landing. Jangan sampai gagal.” teriaknya.

Spontan tangan gue jadi keringet dingin, mulut komat-kamit mengucap Ayat Kursi supaya pesawat bisa mendarat dengan sempurna. Namun yang terjadi adalah…

DUG!

Roda pesawat menubruk landasan sampai pesawat sedikit terpental sekian centi dari permukaan aspal. Berarti keras banget kan tuh benturannya, sampai berbanting gitu.

Yang pasti jantung gue mau copot! Ini pesawat apa metromini, kasar banget pilotnya! Pikir gue saat itu.

Sejak saat itu, tiap gue mengudara (kok kedengaran kayak siaran ya?) selalu tegang di dua tahap itu.

Dan gue baru tahu, memang dalam dunia penerbangan, ada yang namanya Critical Eleven Minutes. Yaitu saat-saat kritis pesawat adalah 3 menit setelah take off dan 8 menit sebelum landing. Saat itu pesawat sedang dalam kondisi paling lemah dan rentan terhadap berbagai bahaya. Itu juga mengapa, keadaan pesawat harus dalam kondisi normal. Kursi kembali ditegakkan, penutup jendela dibuka, dll.

Sebagai penumpang yang mementingkan keselamatan, harus mematuhi aturan terutama selama 11 menit itu. Jangan tersinggung kalau disuruh mematikan semua alat elektronik. Atau lagi enak-enak nyender, eh disuru menegakkan kursi. Ikutin aja pokoknya.

Ini gue kutip dari internet

According to David Palmerton, a US Federal Aviation Administration (FAA) expert on plane crashes, these are the crucial 11 minutes when you need to be alert on an airplane. The three minutes during takeoff and final 8 minutes before landing are when 80% of plane crashes occur, usually due to wet weather. Stay sober, hold off on your nap, and don’t bury your face in a book and follow the plus three, minus eight rule.

Musibah Lion di Sabtu sore silam itu, ya contoh salah satu kecelakaan pesawat pada saat landing.

Amit-amit nih ya, jangan sampe sih. Kalau bisa barang penting spt dompet dan HP jangan ditaruh di kabin, tapi inside your pocket! Selama masih bisa menyelematkan diri, pikirkan diri sendiri. Jangan mikirin bawaan di dalam kabin!

Dan Alhamdulillah, setelah melalui masa-masa menegangkan dan ketakutan yang meningkat 2 x lipat, paska tragedi Lion, Minggu siang kemarin pesawat Airbus yang gue tumpangi mendarat dengan cantik.

Fiuh.

Khususnya mengenai terbang ke Bali, konon, sesenior apapun pilotnya dan sebagus apapun pesawatnya, tidak boleh sombong. Para pilot mitosnya harus ijin dulu ke para Dewa yang melindungi pulau tersebut.

Menurut salah satu penduduk Bali yang gue ajak ngobrol, dia bilang..

“Pesawat kan datang dari atas, sedangkan di bawahnya banyak Pure (Pura), jadi harus sopan…minta ijin bilang permisi.” jelasnya dengan patah-patah khas Bali.

Baiklah, intinya tetap rendah diri kan. Gak boleh takabur dan yang terpenting adalah berdoa, agar bisa melewati masa-masa terpenting dalam hidup, yaitu 11 menit saat terbang di udara. 11 menit dimana kita dihadapkan dengan resiko kematian. Boro-boro mikirin Orang Tua, kerjaan, pacar, mantan, atau sudah move on belum? Boro-boro! Yang terpenting adalah hidup kita.

Tetap semangat traveling ya! Because…

traveling is facing your biggest problem, flying is one of them.

A Hopeless Romantic Traveler: Senja Di Batam

Prolog:
Awal gue sering traveling ke luar kota adalah sejak gue memiliki profesi sebagai auditor di salah satu KAP Big 4 di Indonesia. Gue bekerja sejak lulus kuliah tahun ehm 2006 (ketahuan tua deh) dan sudah melalang-melintang traveling ke berbagai kota di Indonesia karena pekerjaan. Namun tak ada yang istimewa yang perlu diceritakan selain kisah cinta gue yang pernah terjadi di tahun 2008. Bukan, bukan tentang si koper yang sudah gue buang di Trave(love)ing. Pria yang gue kisahkan di sini adalah awal mengapa gue selalu menyukai dipanggil Mimi 🙂

***

Gambir, Suatu Minggu Sore Di Akhir 2008.

“Nah itu dia Damri-nya.” Gue spontan membuka pintu mobil, setelah melihat bus yang gue tunggu sejak 30 menit yang lalu akhirnya datang.

“Gue aja yang angkat kopernya, Mimi.” Suara pria yang sejak setengah jam yang lalu duduk di balik supir tiba-tiba menyaut.

Dung-dung, begitu biasa gue memanggilnya. Dan dia membalas memanggil gue dengan Mimi. Sebenarnya nama panggilan Mimi gue peroleh sejak tahun 2008 dari rekan sekerja gue yang bernama Ncus. Si Dung-dung ini lalu ikut-ikut memanggil gue Mimi karena menurutnya terdengar lucu.

Setelah mengeluarkan koper ukuran kabin pesawat dari bagasi mobilnya, ia lalu membantu menggeretnya sambil kami berjalan ke arah bus Damri, diiringi suara roda koper yang bergesekan dengan aspal jalan.

“Tiketnya siapin, lo kan suka ceroboh lupa naro barang.” perintahnya.

Gue membuka tas kecil tempat menaruh telepon genggam dengan merk yang juga dimiliki sejuta umat lainnya saat itu, kemudian mengeluarkan karcis bus yang sudah gue beli saat sampai di stasiun tadi. Lembaran kecil dan tipis itu lalu gue tunjukkan ke batang hidung Dung-dung sambil menjulurkan lidah padanya, “Nggak lupa dong, udah ditaruh di tempat yang gampang.”

Yang digoda hanya tertawa menanggapi ulah gue, lalu wajah chubby-nya berubah murung ketika sampai di depan pintu bus. “Maaf ya, cuma bisa anter sampe Gambir. Sebenarnya gue khawatir biarin lo sendirian sampai ke Bandara.”

Gue mencubit tangannya dengan gemas, “Gue udah sering terbang sejak belum kenal lo kali, biasanya juga sendiri. Hahaha.” Tertawa adalah cara gue menutupi perasaan sedih yang gue rasakan karena akan merindukannya selama seminggu ke depan dinas ke Batam.

Sesaat percakapan kami terusik oleh kondektur, yang mengambil koper berwarna biru muda gue dan memasukkannya ke dalam bus. Caranya mengangkat dengan asal membuat perhatian gue teralih dari Dung-dung lalu menegur pak kondektur, “Mas, hati-hati ya. Ada barang pecah belah.” Yang ditegur hanya mengangguk.

Setelah memastikan bawaannya aman, gue kembali tertuju pada pria di hadapan gue yang sedang terdiam menunduk.

“Hei, beneran gue gak apa-apa kok.” bujuk gue.

“Tapi gue pingin banget anter sampai Bandara, nemenin lo sampai boarding.” keluhnya.

“Gue gak apa-apa kok.” ujar gue sambil tersenyum yang mengundangnya untuk ikut tersenyum juga.

***

Hang Nadim, Minggu Malam.

Akhirnya boeing yang gue tumpangi mendarat setelah hampir 2 jam di atas udara. Gue sebenarnya paling enggak suka harus melakukan perjalanan sendirian, apalagi naik pesawat. Tapi gue enggak punya pilihan, pekerjaan sebagai auditor di salah satu KAP terbesar di Indonesia memaksa gue untuk sering terbang ke luar kota. Dan kali ini, terpaksa harus sendiri karena teman-teman gue sudah bertolak ke Batam seminggu sebelumnya.

Langit Batam hampir gelap, angin yang berhembus kencang dengan sekejap membuat rambut gue yang terurai berantakan. Gue berjalan terburu-buru memasuki bandara, yang termasuk kecil di kota industri dengan jadwal penerbangan cukup padat ini.

Begitu telepon genggam gue aktifkan kembali, sebuah notifikasi terdengar menandakan ada pesan SMS diterima. Ada dua kotak masuk, satu dari nyokap dan satu lagi dari sebuah nomor tak dikenal. Gue segera membalas nyokap dengan cepat, mengabari bahwa anak gadisnya sudah sampai dengan selamat. Pesan satunya lagi ternyata dari supir yang menjemput dan akan mengantar gue ke hotel.

Hampir saja gue menekan tombol last redial, sebelum teringat bahwa yang akan gue hubungi itu mungkin sedang enggak dapat mengangkat panggilan telepon. Akhirnya gue memutuskan mengirim pesan yang sama dengan yang gue kirim ke nyokap kepada Dung-dung.

Satu menit, gue yang mengenakan setelan jeans casual ini mematung di tengah hiruk-pikuknya bandara untuk menunggu balasan yang tak kunjung datang. Sambil menghela nafas panjang, gue kemudian bergerak menuju pintu keluar menerobos para supir taksi yang berburu mencari penumpang. Gue selalu memesan supir dari kantor klien untuk menjemput, karena enggak pernah berani mengambil taksi dari bandara dengan tarif tanpa argo. Gue malas menego harga. Untung saja gue enggak perlu berlama-lama mencari supir yang sudah menunggu. Pria tua berkumis terlihat mengangkat papan bertuliskan nama gue.

“Mari, Bu. Saya bantu bawa kopernya.”

Perjalanan dari Hang Nadim ke pusat kota Batam cukup lama, karena letak landasan yang di ujung pulau. Sekitar satu jam perjalanan gue habiskan untuk tidur. Hal itu karena selama di pesawat tadi gue hanya memejamkan mata tanpa pernah dapat tidur dengan tenang selama terbang.

Pak Agus, nama supir yang membawa gue dari bandara tadi membangunkan dengan suara cukup keras, sampai gue terkaget. “Maaf, Bu. Sudah sampai.”

Gue mengucek mata dan melihat ke sekeliling. Waktu di jam yang melingkar di tangan kiri gue menunjukkan pukul 9 malam. Pantas sudah sepi, gue membatin. Padahal gue menginap di salah satu hotel berbintang 5 di kawasan Nagoya, tengah kota Batam. Sudah kebiasaan di Batam, toko-toko mulai tutup jam 9 malam bergantian dengan gedung-gedung yang baru buka untuk menawarkan hiburan malam.

Setelah mengucapkan terima kasih sambil menyelipkan uang tips kepada Pak Agus, gue meninggalkan Van putih yang membawa gue tadi dan menuju resepsionis hotel. Gue menyempatkan memeriksa kembali ponsel disaat mengurus reservasi di tempat bermalam gue. Tak juga ada balasan dari Dung-dung. Sedikit kecewa harus gue telan, iyuuuh pahit 😐

***

Satu pesan diterima. Nama pria yang ditunggu-tunggu itu akhirnya menghiasi ponsel dan membuat pemiliknya, gue, memikik senang.

Maaf ya baru sempat kirim pesan. How’s Batam?

Dengan cepat jempol gue mengetikkan beberapa kata balasan untuknya. Betapa enggak, sejak semalam memang hanya kabar dari Dung-dung yang gue nantikan.

Gak apa-apa, gue ngerti kok. Batam seperti biasa, panas :p

Ponsel gue kembali bergetar akibat pesan yang masuk. Gue memang selalu memastikan semua alat komunikasi dalam keadaan vibrate only jika sedang bekerja.

Lo udah mulai sibuk? Gue ganggu ya?

Biasanya kalau kami berdua sudah saling berbalas pesan bisa seharian. Selain seharian texting, kebiasaan rutin kami adalah berjam-jam telepon di tengah malam. Dung-dung adalah pendengar yang baik. Ia mampu merekam setiap detil perkataan gue itu di memorinya. Itu mengapa semakin hari gue semakin mengagumi Dung-dung. Perasaan kagum yang mungkin lama kelamaan bertransformasi menjadi perasaan sayang.

Sebenarnya proses kedekatan kami berdua cukup singkat. Sejak berkenalan dua bulan yang lalu, kami seakan merasa cocok satu sama lain dan mudah saja untuk akrab.

Call you this night, promise. Lo jaga kesehatan di sana ya, Mimi.

***

Thank God It’s Friday! pekik gue dalam hati. Akhirnya setelah menghabiskan waktu lima hari di Batam, datang juga hari santai sedunia. Karena kesokan harinya sudah kembali ke Jakarta, maka hari ini gue dan rekan setim bekerja hanya separuh hari saja. Setelah waktu ibadah sholat Jumat sampai sore, klien akan membawa gue dan teman-teman jalan-jalan di kota yang jaraknya dengan Singapore hanya satu jam perjalanan laut.

Meski bukan pertama kalinya ke Batam, bahkan sudah lebih dari 5 kali gue dinas ke kota ini, gue sama sekali belum pernah mengunjungi jembatan yang terkenal di sana. Barelang namanya.

Jembatan yang juga dikenal masyarakat Batam dengan sebutan jembatan Fisabilillah ini adalah salah satu dari 6 jembatan yang ada di Batam. Barelang adalah singkatan dari Batam – Rempang – Galang, pulau yang dihubungkan oleh jembatan ke kota Batam. Dibanding 5 lainnya, Barelang yang terbesar sehingga dijadikan salah satu alternatif tempat wisata di Batam.

Jembatan Barelang
Jembatan Barelang

Kata orang, belum ke Batam kalau belum ke Barelang. Oleh karenanya, Jumat siang setelah pull out (auditor pasti familiar dengan istilah ini) gue dan teman-teman bertekad untuk menyempatkan diri ke sana. Di dekat jembatan itu juga ada sebuah restoran terkenal yang bernama Barelang Seafood Restaurant. Di resto itu menyajikan makanan khas Timur Tengah! Ya namanya juga seafood, menyajikan seafood pastinya. Katanya sih enak banget! Membuat gue dan teman-teman jadi kepingin banget nyobain.

Dan ternyata bukan enak banget tapi enak parah! Gue yang makannya enggak terlalu rakus jadi mendadak rakus banget. Piring gue sampai bersih tak bersisa. Makanan yang cuma ada di Batam itu namanya Gong-gong, sejenis keong tapi bersih, duh itu gue suka banget! Sayang jaman dulu enggak musim foto-lalu-masukin-instagram sebelum foto. Jadi gue enggak tahan melahapnya tanpa sebelumnya mengabadikannya 😐

Taraa
Taraa

Setelah perut kenyang dan hati senang, hampir waktu Magrib kami kembali ke Nagoya. Selama di perjalanan kembali pun gue habiskan sambil berbincang dengan teman-teman dan tak lupa menyempatkan diri untuk mengirimkan pesan kepada Dung-Dung.

Besok sore gue pulang. Kita bisa ketemu?

Kenapa enggak dari pagi pulangnya? Liat besok ya Mimi. Tapi kalau gak bisa jemput, lo gak marah kan?

Apa hak gue marah? Besok siang mau belanja dulu, sudah sampai Batam rugi gak belanja parfum. Lo mau oleh-oleh apa?

Gak usah, jangan repot-repot. Takutnya gak sempet ambil. Lo tahulah kenapa.

Iya gue ngerti. Gak apa-apa kok 🙂

Sebenarnya, gue enggak pernah dapat mengerti. Pun tak juga merasa baik-baik saja. Senyum tak sedang tersungging di bibir. Gue sangat khawatir akan hati gue, yang mulai dikuasai oleh keinginan memiliki Dung-Dung.

***

Sudah puluhan kali gue membuka dompet ponsel, memeriksa layar alat tersebut, dan berakhir dengan memasukkannya kembali ke asalnya. Pikiran gue campur aduk, antara senang karena sedang dalam perjalanan pulang dan resah. Sejak fajar sampai senja, belum juga menerima kabar dari Dung-Dung. Tadi pagi pria itu tak menjawab pesan gue.

Gue mencoba membuat diri gue rileks sambil mengobrol dengan rekan-rekan, yang juga kembali ke Jakarta Sabtu sore ini. Sudahlah, tetap tersenyum saja because we’re gonna back home, ladies!

My Ladies
My Ladies

Kebetulan rekan-rekan setim gue itu perempuan semua. Jadi sebenarnya enggak ada alasan tak terhibur di dalam kendaraan yang mengantar kami kembali ke Hang Nadim. Celotehan gosip memecahkan suasana sore itu yang sesekali dihiasi dengan tawa. Gue juga mencoba tertawa akan lelucon yang dilemparkan oleh teman gue, Dila. It didn’t work.

Dengan frustasi, gue menatap ke luar jendela. Astaga, sungguh indah warna yang menghiasi langit senja. Batin gue mengucap kagum. Warna antara merah dan kuning, seperti warna jingga yang tergores di langit Batam sore ini. Sang mentari sore yang membuat suhu udara sampai menyentuh angka 34 derajat, sepertinya masih enggan pamit. Terakhir gue menatap langit Batam itu kemarin, dan masih biru. Sore ini, warna jingga indah lukisan Tuhan itu gue abadikan.

Dung-Dung harus melihat ini. Ah, lagi-lagi Dung-Dung. Sedetikpun pria itu tak pernah meninggalkan pikirannya.

Tiba-tiba saja, sebuah ide menyerbu pikiran gue yang mengawang pada langit jingga yang sedang gue nikmati dengan pilu. Sampai di Jakarta malam nanti, gue akan memberitahu Dung-Dung akan isi hati gue.

Gue membuka menu memo di ponsel dan mengetikkan tulisan yang nantinya akan gue email kepada pria itu.

Dung-Dung,

Entah keberanian apa yang merasukiku menulis ini untukmu. Tapi kamu perlu tahu, saat menuliskannya aku sedang dikelilingi langit senja Batam yang berwarna jingga. Cantik sekali. Aku tadi sempat mengabadikannya, fotonya aku lampirkan juga agar kamu bisa melihatnya.

Kamu juga perlu tahu apa yang aku rasakan dan terlampiaskan melalui tulisan ini.

Sebelum kamu hadir di hidupku, tak ada yang spesial di antara jam 9 pagi sampai jam 5 sore waktu bekerjaku. Setiap harinya terasa sama. Aku bekerja dan bekerja.

Lalu sesuatu memecah fokusku. Di antara 9-5-ku itu sekarang terselip percakapan denganmu. Cerita dan canda yang menjadi kudapan mengisi kelaparan hatiku.

Dan kamu, satu-satunya pria yang mau mengangkat teleponku saat jutaan mata terlelap di muka bumi ini. Aku tahu kamu mengantuk, aku bisa mendengar suara menguap yang tertahan. Tapi kamu tetap bertahan.

Pertemuan kita yang baru hitungan jari itu, membuatku selalu diremukkan oleh rindu. Saat kita bersama, aku hanya menatapmu. Berharap aku mampu mengatakan aku menyayangimu, dengan mataku.

Iya, kamu perlu tahu kata-kata yang tak kusanggup mengatakannya..

Gue menghembuskan nafas dengan lega ketika mengetik tombol save. Tulisan isi hati gue, tersimpan aman di telepon genggam gue.

***

Tepat satu jam gue beserta rombongan tiba di Hang Nadim. Koper gue bertambah berat akibat oleh-oleh di dalamnya. Setelah selesai check in, ketika menuju ruang boarding, nada dering pendek terdengar dari ponsel yang gue genggam.

Akhirnya, Dung-Dung mengirim pesan juga!

***

Langit jingga yang sama terhampar luas di hadapan gue saat ini. Kali ini gue menatapnya bukan dari mobil, tapi dari dalam pesawat yang baru saja 30 menit take off membawa gue pulang.

fotografer.net
fotografer.net

Mata gue mungkin sudah berwarna sama dengan langit di atas awan ini. Jingga. Akibat air mata yang akhirnya mengalir, setelah tertahan pada saat pesan dari Dung-Dung gue baca.

Maaf baru memberi kabar. Gue bertengkar lagi dengan Rini. Tak sampai hati untuk menyakitinya, akhirnya gue melamarnya, Mimi. Maafin gue ya.

Pandangan gue beralih lagi dari layar ponsel ke jendela pesawat. Warna jingga pada cahaya terpecahkan oleh bayang Dung-Dung yang muncul tiba-tiba. Senyum pria itu tak lagi menentramkan, namun kini membuat gue gundah. Pedih akan kenangan bersamanya yang satu persatu muncul dari balik senja itu.

Ketika kami bertemu dua bulan yang lalu, Dung-Dung sedang masa break dengan kekasihnya yang sudah dipacari hampir 10 tahun. Mungkin ia sedang jenuh, lalu hadirlah sosok gue yang mengisi harinya. Gue sadar, gue mungkin hanya dijadikan tempat singgah sementara. Akal sehat gue mengingatkan agar hati gue tak boleh jatuh pada pria itu. Namun perasaan sayang tak dapat terbantah lagi

Diam-diam, gue berharap Dung-Dung akhirnya akan meninggalkan kekasihnya. Lalu menyandarkan pilihan hatinya pada gue. Itu mengapa, sore tadi di perjalanan itu, akhirnya ada keberanian besar di diri gue untuk jujur pada Dung-Dung hari ini. Ya, hari ini juga. Gue bahkan menuliskan kata-kata yang akan gue ucapkan. But now it’s too far.

Gue mengalihkan menu pesan masuk ke menu memo pada ponsel. Mata gue tertuju pada daftar teratas memo itu, tulisan yang gue buat untuk dikirimkan pada Dung-Dung. Namun sekarang tak ada gunanya lagi.

Do you want to delete notes?

Yes.

Tulisan itu pun terbuang, seperti perasaan gue yang belum sempat tersampaikan. Meski begitu, gue yakin dia sudah mengetahui isi hati gue. Itu mengapa dia menyampaikan maaf di pesan terakhirnya. Satu hal yang gue sesali, lalu membuat batin ini merintih,

Seharusnya aku memberitahumu kemarin, saat langit masih biru.

Comfortable Of Being Uncomfortable

“Lo nyari cowo yang kayak gimana sih, Mi?”

Siang menjelang sore kemarin, gue BBM-an sama ceweknya teman baik gue. Namanya Adel (disamarkan), pacarnya teman yang sudah gue anggap adik sendiri, bernama Evan (disamarkan juga).

Perbincangan kita ngalor-ngidul banget, biasalah girls things, gak jauh dari ngegosipin cewek-cewek yang pernah ngejar-ngejar si Evan.  Entahlah si Evan ini punya apa sampai punya banyak fans gitu. Ngakunya sih 11-12 sama VJ Daniel. VJ Daniel 11 siang, si Evan sih 12 malam.

Anyway, masuklah gue dan cewek yang selisihnya 5 tahun di bawah gue ini, ke pembahasan rencana ngumpul-ngumpul dalam waktu dekat. Adel menanyakan gue nanti datang bersama siapa? Ya gue jawab kalau gue datang sendiri. And she came up with the idea, “Yaudah nanti cari di tempat aja.” Yakali deh Del, semudah itu.

Dan pertanyaan di pembuka tulisan ini akhirnya dikirimkan oleh Adel. Gue berpikir lama sebelumnya, sampai akhirnya terdorong untuk mengetikkan beberapa kata.

Gue menekan tombol ENTER, lalu pesan gue yang semula bertanda ‘centang’ di layar berubah ‘D’ dan langsung berganti ‘R’. Pesan gue yang langsung dibaca olehnya itu bertuliskan..

“Jangan-jangan gue selama ini emang lagi enggak nyari ya, Del :|”

Adel is writing a message..

“Jangan-jangan lo udah nyaman begini. Keenakan.”

Sebuah pesan lanjutan tak lama diterima BB gue lagi dari orang yang sama, “Apa lagi yang dicari? Kerjaan mapan, umur matang, hidup enak.”

I hate to admit it, but yes. Damn she was right. Gue sedang berada dalam zona aman gue. Terlalu menikmati.

Gue saat ini sedang enggak mencari cinta, atau sebut saja pacar untuk nantinya menjadi calon suami gue. Mengingat wanita seumur gue lainnya sudah pada menyusui baby. Masa’ gue masih menyusui orang dewasa. Maksudnya menghidangkan segelas susu ya 😐

Status gue memang single, but appearently, gue saat ini kemana-mana masih bareng sahabat gue yang berjenis kelamin laki-laki. And he’s straight by the way. Cowok dan cewek sahabatan itu enggak selalu karena si cowoknya bencong kok. Gimana enggak masih bareng, kita udah sahabatan kurang lebih 3 tahun dan kita berdua sama-sama jomblo. He was there for me when no one was. He always tries his best for me. And I do the same things for him. Apalagi kita berdua berada di gedung yang sama lima hari dalam seminggu. Minimal satu jam dari waktu kita, ya dilalui dengan sarapan bersama. Sesekali kami juga menonton bioskop sepulang kerja. Apakah itu berlebihan?

Gue sudah sangat bersyukur dengan apa yang gue punya kok, dalam hal ini ya sahabat gue itu. At least gue enggak sendiri, gue nyaman bersamanya. Dia tempat cerita mulai dari kepusingan kerja di kantor, apa yang terjadi di keluarga gue, kekonyolan teman-teman gue, sampai tertawa untuk hal yang enggak penting. Apapun yang terjadi selama 24 jam kami, dipadatkan menjadi 1 jam saat kami saling bercerita sambil menikmati segelas jeruk hangat, yang ditemani oleh jus tomat favoritnya.

Kadang gue berpikir, jangan-jangan rasa kenyamanan ini hanya timbul di satu pihak saja. Yaitu gue. Dia mungkin saja merasa terpaksa dengan persahabatan kami ini. Selama ini, gue lah yang menciptakan rantai yang membelenggunya sampai tak punya pilihan lain selain bersama gue.

Gue pun menyampaikan kepadanya kekhawatiran itu. Dan dia berhasil meyakinkan gue untuk tidak berpikir aneh-aneh. Dia enggak pernah merasa terpaksa dan dengan senang hati menjadi sahabat baik gue, semampu yang dapat dia berikan. Dan gue tahu dia tulus, sehingga tak sampai hati untuk mengecewakan dia dengan menjauhinya (lagi).

Gue enggak butuh banyak, hanya butuh cukup. Gue enggak mencari ketampanan fisik atau materi berlimpah, gue hanya membutuhkan orang yang juga membutuhkan gue. Itu saja cukup untuk gue. Dan saat gue mendapatkan rasa dibutuhkan itu, itu lah definisi kenyamanan buat gue.

Tapi orang itu, sejauh ini, adalah dia. Si sahabat.

Ketika kenyamanan adalah hal yang kita cari, bagaimana jika kenyamanan itu kita temukan pada seseorang yang tak mungkin kita miliki?

Lalu apakah gue benar-benar merasa nyaman dengan keadaan gue sekarang? Ataukah sebenarnya gue tidak pernah merasa nyaman, tapi lama-kelamaan menjadi nyaman dengan ketidaknyamanan itu sendiri. I feel comfortable of being uncomfortable.

Comfortable Of Being Uncomfortable
Comfortable Of Being Uncomfortable

😐

Apapun itu, sepertinya  sudah saatnya keluar dari zona aman. Atau zona tidak aman yang sudah terlalu lama gue tinggali sampai nyaman rasanya.

People said, life begins when you’re out of your comfort zone. Gue sadar banget, kedekatan gue dan si sahabat enggak boleh menjadi halangan untuk gue mencari lagi yang lain. Tanpa merusak apa yang gue punya bersamanya.

Tapi biasanya, akan selalu ada yang harus dikorbankan. Kita enggak bisa memiliki cinta dan persahabatan sekaligus. Ketika cinta datang ditawarkan oleh pria lain, persahabatan gue dengan si sahabat perlahan pasti memudar. Atau dari sudut pandang lain…ketika gue mulai merenggangkan persahabatan gue dengannya, cinta baru akan muncul ke hidup gue.

Tampaknya sudut pandang kedua lebih mendukung untuk gue tidak lagi berada dalam posisi (yang gue pikir) aman. Mungkin gue sebaiknya melebarkan lagi sedikit jarak di antara gue dan sahabat, lalu mulai mencari seseorang yang tidak memberikan kenyamanan sementara. Mungkin. Entahlah.

We all want somenone who can make us feel comfortable permanently, not temporarily.

Am I right?

Hitam Manis

Sejumput cahaya menyeruak ke dalam kegelapan dan memaksa mataku untuk membuka perlahan. Butuh penyesuaian dengan sinar yang menusuk mataku sepersekian detik, sampai akhirnya pandangan samar-samar di depanku menjadi jelas.

“Aku di bawa kemana ini?” tanyaku dalam hati. Sementara tubuhku masih meringkuk di antara botol-botol besar yang ada di ruangan ini. Bau alkohol menyengat dari segala sudut menggelitik hidungku. Aku sudah hafal dengan baik botol berisi alkohol ini, yang biasanya juga ada di gudang rumah Ayah.

Aku mencoba untuk membangunkan badan mungilku sendiri, sedikit mengulet dan ah, sakit rasanya seluruh sendi ini. Ini pasti karena semalaman aku harus berbaring tanpa alas. Dengan susah payah aku berdiri sambil mengutuki kebodohan fatal, sampai aku bisa terjebak di sebuah mobil box yang berisi puluhan botol alkohol.

Masih jelas kuingat kemarin sore, aku sedang tertegun di depan halaman rumah. Senja, tiupan angin, dan daun yang gugur dari pohon di halaman mendukung suasana hatiku yang dilanda gundah. Penyebabnya adalah dia, si tampan, lagi-lagi bersikap cuek padaku. Entah sudah berapa kali ia berlaku seperti ini, mungkin kali itu sudah puncaknya sampai aku kesal dan mengambek padanya.

Lalu mobil box yang sering datang seminggu sekali ke rumahku ini muncul dan berhenti tepat di depan pagar.  Meski rutin, tapi supir yang mengendarainya jaranglah sama. Jadi aku pun malas berbasa-basi padanya. Biasanya aku cukup memperhatikan dari balik jendela, supir kendaraan itu mengeluarkan beberapa botol dan menyerahkannya kepada Ayah. Ia juga membawa beberapa lembar kertas untuk Ayah tandatangani. Lalu si supir akan pergi setelah menerima uang tips dari Ayah.

Alkohol dalam botol-botol itu dibutuhkan Ayah dalam pekerjaannya meramu parfum buatan sendiri. Setelah pensiun, ia mendapatkan penghasilan tambahan dari menjual parfum tiruan. Memang tak begitu banyak pesanan yang datang, tapi cukup dapat mengisi waktu Ayah sehari-hari.

Kemarin sore itu, karena aku ngambek sama si tampan, saat melihat pintu belakang mobil box membuka akupun dengan lincah melompat dan masuk ke dalamnya. Bodohnya aku, tak pernah berpikir bahwa mobil itu hanya mampir sebentar di rumah Ayah lalu pergi. belum sempat aku turun, pintu mobil sudah menutup dan terkunci.

***

“Miaaaaawww.”

Aku mengeong saat mendarat setelah melompat keluar dari mobil box. Aku tahu sebaiknya tetap berada di dalam mobil. Seminggu lagi mobil ini juga akan membawaku kembali ke rumah Ayah. Tapi aku lapar, sejak kemarin sore perutku belum terganjal makanan. Biasanya, aku dan si tampan makan bersama lalu setelah kekenyangan kami pun tidur melekuk berduaan.

Ah, aku kangen si tampan, seekor kucing jantan ras garfield dengan bulu coklat keemasan. Ia tampan sekali. Sedangkan aku, seekor kucing betina ras kampung yang sangat tidak menarik. Seluruh tubuhku dipenuhi bulu hitam, tak sedikitpun warna lain terselip di situ. Kami berdua dipelihara oleh Ayahku sejak kami sama-sama berusia 3 minggu, dibeli dari sebuah pet shop. Entah apa yang membuat Ayah memilihku. Jarang sekali ada yang menggemari kucing hitam.

Aku pun kangen Ayah, kangen dielus tangannya yang kasar. Dia memanggilku si manis. Kasihnya tak berbeda antara aku dan si tampan. Bahkan kami berdua diberi keranjang tidur yang sama. Enam bulan tumbuh dan bermain bersama si tampan, perasaan sayang ini pun muncul. Aku jatuh cinta padanya, tapi ia hanya menganggapku teman. Siapa bilang friend-zone hanya terjadi pada manusia?

Aku semakin was-was saat tetangga sebelah rumah, memiliki kucing persia betina berwarna abu-abu. Ya aku akui dia cantik menggemaskan. Pantas saja si tampan sering mondar-mandir di depan pagar sambil menggoyang-goyangkan ekornya, pasti sedang mencuri perhatian si abu-abu gatal itu. Kalau sudah begitu, aku akan memaksa si tampan masuk dan bermain di dalam rumah. Iya, aku sadar aku bukan siapa-siapanya, jadi kenapa harus inscure?

Aku menyesal, kecemburuanku membuatku bertindak tolol sampai terbawa ke tempat ini. Di mana ini?

Dari pantat mobil aku berjalan beberapa langkah ke arah sebuah rumah. Mobil box diparkir 2 meter dari rumah itu. Dapat kulihat supir yang kemarin mengantar botol berbicara dengan seorang pria tua. Lebih tua dari Ayah sepertinya. Wajahnya sangat memperihatinkan, dan lebih banyak menunduk. Ia menyerahkan botol-botol kosong kepada si supir. Karena aku penasaran dengan isi pembicaraan mereka, aku mendekat untuk menguping.

“Ini saya kembalikan botol-botolnya, ke depannya saya gak pesan lagi Mas. Usaha saya sementara berhenti dulu, gak ada modal.” ucap Pak tua itu dengan lirih.

“Oh gitu. Baik Pak, saya turut prihatin. Sabar ya, Pak. Kalau begitu saya pamit dulu. Terima kasih sudah bekerja sama dengan CV kami.” Si supir undur diri dari Pak tua itu dan segera berjalan ke arah mobil.

Apa yang baru saja kudengar membuatku berpikir untuk segera kembali dengan cepat ke dalam mobil. Tapi belum juga aku memutar badan, tiba-tiba saja sepasang tangan menangkap tubuhku, mengangkat, dan kemudian mendekapku ke tubuhnya. Aku berusaha memberontak, namun pegangannya sangat erat.

“LEPASKAN AKUUUUU! Kumohon. Mobilnya tak akan kembali lagi ke sini, aku harus ke mobil itu. Aku mau pulaaaaaang.”

***

“Aaaaarrrrrrrr.” Aku menunjukkan taringku, menandakan amarah ke arah wanita yang sudah mengambilku tadi.

Wanita ini pantas kubenci, karena ulahnya aku tak bisa pulang ke rumah Ayah lagi. Tak akan pernah. Selamanya.

Ia membalas tatapan bola mata biruku  yang sinis padanya dan berkata dengan suara berat, “Hai manis, jangan marah dong. Sudah lama aku menginginkan dirimu. Kucing hitam betina, akhirnya aku menemukanmu.” Aku memperhatikan penampilannya dari ujung rambut sampai kakinya. Aku pernah melihat penampilan seperti ini di tayangan telenovela yang sering ditonton oleh istri Ayah, yang kupanggil Mama. Mama pernah menyebut sesuatu seperti wanita gipsi.

Ya, seperti itulah kira-kira dandanan wanita ini.

Setelah tadi menculikku, ia menggendongku pergi. Suara langkah yang terburu-buru, berpacu dengan deru nafasnya. Aku mencoba memperhatikan sekelilingku, aku harus tahu sejauh apa wanita ini membawaku dari tempat si Pak tua tadi. Ternyata tak begitu jauh, kami masih berada dalam jalan yang sama di belakang sebuah gedung tua yang cukup luas.

Aku melihat sepatu boots coklat yang compang-camping itu berhenti tepat di depan selembar kain yang terhampar di atas jalanan. Rupanya kain itu adalah alasnya duduk. Masih sambil menggendongku, ia menjatuhkan badannya di situ.

“Home sweet home, kitty.” Ia mengelus kepalaku. Aku tak menyukainya, kupalingkan wajahku karena tak ingin bertubrukkan mata dengannya.

“Ini lah tempat tinggalku. Di lapak ini, tempat tinggal sekaligus tempat menjalankan usaha ramalku.”

Ia menghela nafas panjang. “Kamu tau, sudah beberapa minggu usaha ramalku sepi. Tak ada pelanggan yang datang. Mungkin mereka bosan dengan ramalan tarot. Padahal, aku ini dulu cukup terkenal, si wanita gipsi peramal di Kota tua.”

Ada kepercayaan diri yang memudar terdengar dari suaranya yang merendah. Raut mukanya mengingakanku pada Pak tua tadi. Oh aku mengerti, begini toh muka manusia saat tak punya uang. Tiba-tiba aku merasa iba kepada wanita ini.

“Tapi kamu akan mengembalikkan keberuntunganku. Aku yakin kamu bukan kucing biasa. Kamu adalah kucing yang dikirim alam sebagai pertanda, bahwa ilmu hocus pocus-ku akan bertambah kuat.” Lalu ia tertawa dan terus tertawa tanpa henti.

Aku hanya dapat berteriak dalam hati, “Ayah tolong akuuuuu.”

***

Hari demi hari aku lewati tanpa sedetikpun si wanita gipsi ini melepasku. Sudah satu bulan sejak ia menculikku dan ternyata ucapannya benar. Usaha ramalnya perlahan bangkit. Setiap harinya ada saja yang berkunjung. Mulai koko tua yang mempunyai usaha di sekitar daerah Kota ini, sampai karyawan bank besar yang jarak kantornya dapat ditempuh dengan jalan kaki dari lapak si gipsi ini.

Aku pun mulai pasrah dengan kondisiku yang terjebak bersama peramal gipsi. Apalagi aku membawa keberuntungan baginya, ia jadi punya penghasilan lagi untuk menyambung hidup. Hal itu dapat mengobati hatiku yang terluka karena kehilangan keluargaku. Aku sadar hidup itu tak selamanya di atas. Aku yang dulu seekor kucing peliharaan dengan makanan dan alas tidur yang terjaga dengan baik, sekarang terlantar di jalanan. Aku bahkan makan sisa makanan yang berhasil dikumpulkan wanita gipsi ini untukku dari warteg pinggir jalan. Sekarang aku benar-benar merasakan menjadi kucing kampung di jalanan. Ternyata, kehidupan di luar rumah Ayah begitu keras.

Ada yang berbeda dengan malam ini dari biasanya, bulan sedang menampakkan wujudnya yang bulat sempurna. Aku menikmati pemandangan ini sambil bersandar di dada si gipsi yang juga berbaring dan menatap langit.

“Bulannya indah ya manis. Itu yang namanya bulan purnama. Pada malam ini, saat bentuk bulan sedang sempurna, biasanya para ahli sihir melakukan ritual pembacaan mantera atau doa. Hal itu untuk menambah kekuatannya.”

Aku tak peduli dengan yang ia katakan, yang aku rasakan saat ini adalah aku merindukan Ayah dan Mama angkatku. Mereka menyayangiku dan aku yakin mereka sangat sedih karena kehilangan salah satu kucingnya.

Lalu si tampan, apakah kucing jantan yang aku cintai dalam diam itu merindukanku? Atau ia tak peduli seperti biasanya, dan tetap berusaha mencuri perhatian si persia cantik itu? Atau jangan-jangan mereka sudah menjadi sepasang sejoli sekarang?

Aku membiarkan perasaan rindu dan pedihku itu berputar dan menari di antara purnama yang bersinar terang malam ini. Jika memang benar ada mantera yang akan berhasil saat ini, aku hanya berharap mantera itu bisa membawaku kembali pulang.

***

Keesokan harinya, saat matahari tepat berada di atas kepala, seperti biasa wanita gipsi ini berjalan menyusuri sepanjang jalan mencari makanan untukku. Lalu aku sadar, ini bukan jalan biasa yang dia lewati. Tapi ini adalah jalan menuju rumah si Pak tua itu.

Aku mendongakkan kepalaku untuk memastikannya. Benar, aku kini melihat si Pak tua dan beberapa orang sedang sibuk lalu lalang di depan rumahnya. Mukanya tak lagi murung.

Si Pak Tua yang melihat kehadiran kami di dekat situ segera menghampiri. Tubuhnya sudah agak membungkuk dan berjalan sangat pelan.

“Anda pasti wanita gipsi yang dibicarakan anak saya. Saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya.”

Wanita gipsi sedikit bingung dengan ucapan si Pak tua. “Bapak salah satu pelanggan saya? Saya tak mengingatnya.”

“Bukan saya, tapi anak lelaki saya. Ia mengikuti saran anda lalu ia berhasil mendapatkan pinjaman uang dari orang yang tak terduga, sehingga usaha kami bisa kembali berjalan.” ucapnya bersemangat.

Ia kembali melanjutkan, “Dulu, karena sudah lesu, bahkan untuk membeli alkohol saja, material paling murah untuk usaha saja tak mampu. Sunguh memalukan.”

“Saya senang mendengarnya Pak. Semoga keberuntungan menyertai anda.”

Sudut mataku merasakan ada yang datang bergerak ke arah si gipsi dan Pak tua berdiri. Aku pun menengok ke arah itu dan melihat sebuah mobil mendekat. Itu mobil box-nya datang! pekikku. Mobil box yang aku pikir tak akan pernah datang lagi, tepat berhenti sekitar 1 meter di depan rumah Pak tua. Seorang supir keluar dari dalamnya dan berjalan ke arah belakang mobil untuk mengeluarkan beberapa botol alkohol pesanan Pak tua.

Aku tak percaya dengan apa yang aku lihat. Mobil itu adalah harapan bagiku untuk pulang. Tapi bagaimana caranya lepas dari si gipsi ini?

“Saya pamit pergi, Pak.” Lalu si gipsi meninggalkan Pak Tua. Aku masih berada dalam dekapannya sambil memikirkan bagaimana cara kabur dan masuk ke mobil itu.

Si  gipsi terus melangkah dan di luar dugaanku, ia berjalan mendekat ke belakang mobil.

Ia mengarahkan wajahku padanya, menatap mataku lekat-lekat dan berkata, “Manis, aku tau yang kamu inginkan. Aku mengambilmu sebulan yang lalu di dekat mobil ini. Kamu memang membawa keberuntungan untukku dan juga orang lain, tapi aku harus mengembalikanmu. Di sini, di tempat segalanya bermula.”

Mataku mungkin saat ini melukiskan wajah memelas kepada wanita di hadapanku. Tak kusangka begitu baik hatinya. Ia menggesekkan hidungnya ke hidungku. Aku tergelak dan kami berdua tersenyum.

Ia menjongkokkan badannya sambil meletakkanku di atas aspal jalan. Ia kembali mengelus kepalaku, “Terima kasih ya manis. Sekarang saatnya pulang.” Ia bangkit dan dengan cepat berlalu dari tempatku berdiri. Ia tak menengok ke belakang lagi, terus melangkah pergi. Aku masih mengawasinya sampai punggungnya lenyap dari pandanganku. Dan akupun siap meloncat masuk ke dalam mobil.

***

Mobil ini tak langsung membawaku pulang, Perlu menunggu satu hari di dalamnya sampai akhirnya aku mengenali udara yang menghambur masuk saat pintu belakang mobil terbuka. Ini aroma rumahku. Aku pun menghambur keluar mobil dan melompat melewati Pak supir yang terpekik kaget. Aku berlari kencang menuju tempat Ayahku berdiri di pintu.

“Maniiiiiis, kamukah itu nak?” Pria ini memelukku kencang dan menciumi kepalaku bertubi-tubi. “Maaa, manis pulang Ma. Aku tak percaya ini. Ayah pikir kita tak akan berjumpa lagi.” Aku bisa melihat raut bahagia di balik mata yang berkaca-kaca. “Kamu tau, si tampan sangat kehilangan kamu. Ia tak bersemangat. Kerjaannya hanya tiduran dan murung. Ayo sana samperin si tampan.”

Si tampan kangen sama aku? Aku melompat dari dekapan Ayah dan segera menuju ke dalam rumah, mencari keberadaan si tampan.

Itu dia, terlihat lesu di atas keranjang tidurnya. Matanya terpejam.

“Miaaaaaww.”

Suaraku membangunkan tubuh gempal keemasan itu. Ia terkejut melihatku saat mata coklatnya terbuka. Mulutnya menganga beberapa saat. Kemudian dengan sigap dan gagah si tampan keluar dari singgasananya, berjalan mendekatiku.

“Meoooong.”

Lalu ia memeluk tubuhku, mengenduskan hidungnya ke hidungku. Lama.

“Aku pikir kamu tak akan pernah kembali. Aku pikir aku sudah kehilanganmu. Dan aku pikir hidupku pun tak ada lagi gunanya tanpamu.”

“Kan ada si persia cantik itu. Kamu kan gak butuh aku.” ucapku manja, sambil menggaruk kumisku dengan kaki kanan. Aku menutupi grogi saat mendengar kata-katanya barusan.

“Kamu cemburu ya? Tambah manis lho kalau begitu.” godanya.

“Ih tampaaaan. Miaaaaaaw.”

“Manis, jangan pergi lagi ya.”

“Tampan, jangan buat aku pergi lagi ya.”

Lalu kami pun bergulat dan bercengkerama di atas lantai.

Si Manis dan Si Tampan
Si Manis dan Si Tampan

Note:
Hocus Pocus = Sihir

Love. Love. Love.

Love Symbol
Love Symbol

When it comes to love, anything is possible. Kata dalam bahasa Inggris ‘Heart’ yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai ‘Hati’ adalah salah satu kemungkinan itu.

Tapi kok bisa begitu ya? Kalau secara terjemahan kan jelas dong ‘heart’ itu jantung, bukan hati. Jadi kenapa selama ini di bangsa kita simbol cinta diidentikan dengan hati ya? Kenapa sih terdapat perbedaan simbol cinta dengan bangsa barat?

Nah bertepatan dengan hari Valentine 14 Februari ini, gue mau sharing sedikit pengetahuan seputar asal mula simbol cinta dan alasan perbedaan di Indonesia dengan bangsa barat.

Berdasarkan hasil googling sini-googling sana, alasan perbedaan tersebut karena murni karena perbedaan kiblat saja.

Bangsa barat berkiblat pada pandangan ilmuwan Aristoteles, bahwa jantung (heart) adalah fungsi paling krusial dalam hidup. Jantung yang berdetak adalah tanda seorang masih hidup. Selain itu, jantung juga pusat emosi. Itu mengapa manusia memiliki perasaan. Cinta adalah salah satu dari perasaan tersebut.

Penggunaan ‘heart’ sebagai simbol ini juga didukung oleh Leonardo Da Vinci yang pertama kali menggambarkan ‘heart’ dengan bentuk simbol cinta

Ia membentuk gambar anatomi tubuh manusia saat bekerja di Rumah Sakit milik gereja Santa Maria Nuova di Florence, Italia. Ia membedah ratusan mayat laki-laki dan perempuan untuk digambar anatomi tubuhnya. Dan jantung ia gambarkan dengan simbol cinta ( ❤ ). Warna merah dalam simbol adalah darah yang mengalir pada jantung, mencerminkan ‘passion’.

Sejak abad pertengahan itulah, bangsa barat resmi menggunakan ‘heart’ sebagai simbol cinta.

Lalu di Indonesia?

Budaya kita berkiblat pada masa Yunani kuno yang beranggapan ‘liver’ atau hati adalah organ terpenting dalam makhluk hidup, bukan jantung.

Pada masa itu, mereka percaya bahwa di dalam darah mengalir jiwa. Karena pada saat mempelajari anatomi tubuh binatang, organ dalam yang mengandung paling banyak darah adalah hati.

Maka ilmuwan meyakini bahwa di dalam hati lah terletak jiwa (seat-of-soul). Itu mengapa persembahan dewa ketika itu adalah menggunakan hati binatang.

Pengakuan hati sebagai organ paling vital juga terdapat pada karya sastra pada jamannya. Peristiwa pembunuhan tidak dengan melukai organ otak atau jantung tapi hati.

Prometheus dihukum Zeus dengan menyuruh elang raksasa memakan hatinya.

Hades menghukum Tytos dengan menyuruh dua burung bangkai mematuki hatinya. (sumber: forumsains.com)

Nah secara ilmu kedokteran, fungsi hati adalah penawar racun.

Cocok kan dengan istilah ‘Love is the cure’ 🙂

Lalu, mengapa kalau lagi jatuh cinta justru jantung yang berdebar? Ini sih sebenernya efek aja. Lebih tepatnya karena dipengaruhi oleh hormon norepinefin. Si hormon ini tersangka yang membuat detak jantung lebih cepat sehingga tubuh merasa panas dan bingung.

Dan jatuh cinta tentunya enggak melulu jantung berdebar kan, cinta yang dewasa cenderung sudah enggak ada deg-deg-an lagi. Biasanya hanya perasaan menggebu-gebu, senang, nyaman, dan tenang. Dan semua perasaan itu juga karena hormon doparmin dan oksitosin yang bekerja.

Tapi coba deh kalau kamu patah hati, ada rasa sakit yang kayak ‘nyut’ gitu enggak sih di hati? Rasanya kayak mblenyek gitu, enggak karuan. Mengutip kata-kata Ted Mosby di How I Met Your Mother:

Sakit hati itu rasanya seperti fisik yang terluka secara harfiah dikali sejuta. Iya, segitu dahsyat sakitnya.

Itu beneran hati loh yang sakit, bukan jantung! Karena kalau sakit jantung ya berhenti dong detaknya 😦

Nah kamu sendiri, cinta pake jantung apa pake hati? 😀

Dibuang Sayang

Makin kesini makin macam-macam aja penyebab patah hati. Kalok jaman dulu paling cuma ditolak atau diselingkuhi, hari gini banyak banget alasan yang bikin patah hati.

Ini nih di antaranya yang paling populer.

1. Pemberi Harapan Palsu (PHP)

Kayak gimana sih yang namanya di-PHP-in itu? Jangan-jangan kamu Cuma ke-GR-an, atau situ sendiri yang ngarepin seseorang. Orang itunya gak ngerasa ngasih harapan tuh. Nah, hati-hati banget deh sebelum memberi gelar PHP ke seseorang. Setau gue, kalau gak ada tindakan dan kata-kata dari si doi yang mengartikan memberi harapan, ya dia bukan PHP.

Contoh PHP ya gini, dia udah bersikap layaknya lagi PDKT atau bahkan udah kayak pacar ke kamu. Sering ngehubungin sekedar nanya udah makan atau belum, anter jemput, malam mingguan bareng, ngegombal di private message (BUKAN DI TL), ah pokoknya jadian udah nunggu waktu aja. Eh tau-tau doi menghilang, berhenti ngedeketin kamu. Nah itu baru namanya PHP.  Karena ulahnya selama ini udah menimbulkan percik harapan dan lama-lama tumbuh benih cinta. Ya sakitlah tau-tau ditinggal gitu aja.

PHP level dewa juga terjadi sama pihak yang ngajak ‘jalanin aja ya’, tanpa kepastian dan tanpa status. Karena mustahil kalau enggak ada salah satu pihak yang berharap, dan salah lainnya enggak yakin atau katakanlah enggak cinta.

Coba deh inget-inget, isi BBM dia standar ngobrol teman? Atau ngalor ngidul kayak orang lagi PDKT? Kamu pasti bisa bedain. Pasti!

2. Friendzone

Mencintai dalam diam dan berlindung di balik persahabatan, karena enggak mau kehilangan. Yang begini sih mungkin hatinya sekeras batu, rela dibuat pilu melihat yang dicintainya jatuh cinta sama orang lain dan mendam perasaan sendirian. Gak kebayang sih gue harus tahan mendengar curhatan orang yang kita taksir ngomongin orang lain yang ditaksirnya.

Dan anehnya, si sahabat yang disayang itu gak sadar kalo orang yang paling setia disampingnya itu cinta sama dia. Sementara seluruh dunia juga tau kaleeeee. Mungkin pura-pura gak sadar, denial, karena leih baik gak tau daripada tau dan jadi canggung karena gak bisa bales sayang sahabatnya.

3. Fans Keeper

Yang begini ini bisa jadi paduan nge-PHP dan nge-friendzone orang. Dia sadar banget kalau ada yang sayang. Tapi karena dia gak mau kehilangan orang yang sudah sayang itu, ya dipertahankan. Abisnya banyak manfaatnya. Ada yang perhatiin, ada yang nemenin jalan, ada yang nyupirin, whatever, tapi karena gak cinta ya cuma dikasih janji ‘kita jalanin aja ya’ atau ‘aku gak tau ke depannya gimana’. Ngasih harapan banget padahal tujuannya Cuma gak mau kehilangan fans. My GOD!!

Orang-orang kayak begitu kapan kena batunya sih nyakitin orang melulu? Sadly but true, enggak akan kena batunya sih. Kecuali kamu sendiri yang lempar batunya ke para heartbreaker itu. Gimana caranya? Buang! Tinggalin.

Tapi sayang..dan cinta 😐

Mamam tuh cinta!

ps. Ngomong gampang.