Perfect Stranger

Bintang.

Nama yang mengisi hari-hariku selama hampir dua bulan ini.

Sambil menghela nafas panjang, aku kembali menatap layar telepon genggamku dan mulai menekannya untuk mengetikkan sebuah pesan what’s app kepada pria yang aku kenal secara acak dari sebuah situs perjodohan.

“Kamu di mana?”

Sudah dua kali kalimat singkat itu aku kirimkan padanya, namun tak kunjung ada jawaban. Rasa panik dan gelisah berkejaran di benakku. Sejuk dari alat pendingin yang sempat membuatku kedinginan di sudut kafe ini, tak cukup membuatku merasa nyaman.

Satu jam sudah berlalu aku hanya ditemani secangkir cappuccino yang hampir habis tanpa ada kepastian dimana keberadaan Bintang. Bahkan meja di sebelahku sudah berganti pelanggan dua kali.

Hari ini adalah hari pertemuan pertama kami setelah delapan pekan hanya berkomunikasi mengandalkan telepon. Tepatnya tiga hari yang lalu, Bintang mengajakku untuk bertemu.

“Kita…kayaknya udah lumayan ya, Ta deket via telepon gini. Udah saatnya deh kita ketemu, menurut kamu gimana?” Teringat kembali suara beratnya ketika mengajakku saat itu.

Awalnya aku ragu untuk menyambut tawarannya. Ada rasa takut menyeruak di seluruh hatiku. Bagaimana jika tidak berhasil, pikirku. Bagaimana jika ia tidak tertarik pada diriku?

Aku takut gagal lagi.

Sepertinya dewi cinta memang tak sedang berpihak padaku. Untuk kesekian kalinya aku gagal menjalin berhubungan, padahal teman-teman seumuranku rata-rata sudah beranak-pinak.

Adalah Siska, sahabatku yang prihatin dengan keadaanku yang belum juga bisa move on dari mantan yang pernah aku pacari dua tahun terakhir.

Padahal sudah lima bulan yang lalu ia mengakhiri hubungan denganku, namun aku masih saja berharap ia akan kembali. Siska memaksaku untuk ikut mendaftar salah satu situs perjodohan populer di Jakarta.

“Lo butuh distraction, Ta. Punya kenalan baru akan bikin lupain si Adi tolol itu.” Sahabatku itu terdengar sudah sangat kesal sekali padaku sampai memaksaku ikut biro jodoh.

Yang benar saja, tidak pernah terpikirkan sedikitpun untuk mengikutinya. “Enggak. Kesannya gue nggak laku banget sampai ikutan online match segala. Ogah.”

Dua hari kemudian aku akhirnya mengikuti saran Siska juga. Dan aku bertemu Bintang.

***

Sejak mengenal Bintang, pikiranku memang benar-benar teralihkan dari mantanku. Tanpa aku sadari, hari demi hari Bintang selalu menemaniku untuk sekedar mengobrol tidak penting. Kami pun sudah saling bertukar cerita masa lalu.

“Are you out of your mind, Tita?” Mata Siska membesar mendengar pengakuanku bahwa aku sepertinya sudah jatuh cinta lagi.

Aku mengangguk kencang dan sangat antusias menceritakan semua yang selama dua bulan ini aku simpan rapat-rapat. “I know….he’s just a stranger. But I think I have loved him in a strange way.”

“Ketemu dulu deh, Ta. Semua bisa berubah setelah ketemu. Set your expectation low.”

“Lagian lo gak boleh gegabah mempercayakan hati lo buat orang yang nggak jelas gitu ah. Hati-hati pokoknya. Gimana kalau dia itu serial killer?” lanjutnya.

Aku mencibir sahabat yang sudah kukenal sejak masih kuliah itu. “Haduh. Lo sih kebanyakan nonton film horor.”

Aku tahu, meski belum pernah bertemu aku sudah merasa sangat menyukainya. Kabar darinya seperti candu yang aku tunggu setiap hari. Senyum selalu mengembang di bibirku, setiap saat ia menelponku sebelum terlelap.

***

“Mau tambah minumannya, Mbak?” tawar mas pelayan kafe setelah dua jam aku hanya melamun sambil mengaduk-aduk kopiku. Aku menggeleng lemas sambil tersenyum padanya. Dari tadi aku melamun sampai tak sadar suasana kafe ini semakin ramai. Si mas pelayan itu mungkin sudah gemas mengapa aku tak kunjung pergi, disaat banyaknya pengunjung sudah mengantri untuk masuk ke kafe ini.

Aku merasakan udara panas menyelimuti sekelilingku. Keringat mulai muncul di sela-sela rambutku. I thought it was the feeling of butterfly in my stomach, but now I know it’s the pain I think I’m going to get hurt again.

Pesanku belum dibalas juga oleh Bintang. What’s App pria itu menunjukkan ‘last seen’ pukul 19.03, sedangkan pesanku terkirim pukul 18.50. Artinya, ia sudah membaca semua pesanku.

Tapi mengapa tak ada jawaban?

“Lima belas menit lagi kamu nggak muncul, aku balik ya.”

Pesan terakhirku kepadanya lagi-lagi hanya dibaca, lima panggilanku pada telepon genggamnya pun tak ada yang terjawab.

Ia tak datang.. ia secara sengaja tak datang..

Perlahan rasa sakit menjalar di hatiku, memaksa air mata menyeruak dan mengalir di pipiku.

***

Oh, itu dia yang namanya Tita.

Gadis itu menempati meja paling pojok di kafe yang sudah aku pilihkan sebagai tempat pertemuan kami yang pertama. Ia tampak gelisah dan pucat dengan setelan berwarna biru muda membalut kulit putihnya. Tangan kanannya terus mengaduk-aduk cangkir yang berisi minuman, sedangkan satu tangan lainnya menggenggam sebuah hand phone.

Ia pasti sedang menunggu jawabanku atas pesan-pesan yang sudah ia kirimkan padaku.

Aku terus menatapnya dari luar jendela kafe. Aku bahkan masih menggunakan helm-ku dan duduk di atas motor yang kuparkir di halaman samping gedung bernuansa merah itu. Tita tak jelek, meski juga tak rupawan. Yang pasti, aku nyaman berbicara dengannya selama hampir dua bulan ini.

Hanya saja…dia bukan tipe yang aku inginkan. Dia bukan lah yang aku cari dan cocok menjadi pendampingku kelak.

Handphone-ku bergetar lagi, sebuah pesan what’s app muncul di layar berukuran 5″ itu.

“Lima belas menit lagi kamu nggak muncul, aku balik ya.”

Aku sudah yakin dengan keputusanku ini.

Mesin motor kunyalakan dan segera kubersiap meninggalkan parkiran kafe, sambil menatap Tita untuk terakhir kalinya. Pundaknya berguncang, ia sepertinya sedang menangis. Kasihan, ia pikir aku tak pernah datang dan ia pasti akan sangat membenciku setelah hari ini. Tapi itu lebih baik, sebelum ia semakin kecewa.

Maafkan aku, Tita.

Advertisements

My Favorite Song

Sekitar 15 tahun yang lalu, gue pertama kali mendengarkan satu lagu yang langsung gue suka di sebuah warnet. Kala itu internet baru saja mewabah di kalangan pelajar.

Sepertinya gue sedang asik ber-mirc (anak 90-an pasti tau :p), ketika speaker di sudut langit-langit ruangan mendendangkan sebuah lagu. Gue enggak langsung familiar dengan musiknya, karena di usia belia saat itu sedang menggandrungi lagu-lagu milik para boyband. Jarang ada lagu yang dinyanyikan suara wanita bisa diterima telinga gue.

Tapi nada lagu itu langsung ketanam di benak gue. Dan dengan kemampuan berbahasa asing yang masih nol, gue tak mampu merekam liriknya dalam ingatan. Sekarang sih mudah saja, tinggal ketik beberapa kata lirik di google, lalu kita bisa mendapatkan jawaban lagu yang kita cari.

Jadi yang bisa kuingat saat itu adalah beberapa kata yang kira-kira begini,

“Na na na na na na, hmmmmm..na na na na.”

Setelah lagu selesai diputar, langsung gue hampiri mas-mas penjaga warnet. “Mas, nanya dong, itu lagu barusan judul dan penyanyinya apa ya?”

Yang ditanya malah memasang raut muka bingung. “Waduh, Dek, saya gak dengerin. Tadi penyiar radionya gak sebutin ya?”

Gue menggeleng dan dengan langkah gontai kembali ke balik monitor yang gue sewa.

Berhari-hari setelahnya, lagu itu masih terekam jelas di pikiran gue. Terkedang gue masih bisa mendendangkannya sendiri. “Na na na na na na, hmmmmm..na na na na.”

Waktu berlalu, gue masih belum juga menemukan judul dan penyanyinya. Guepun sudah enggak pernah mendengarkannya lagi, sampai beberapa tahun kemudian ketika gue baru mengenyam pendidikan tingkat tinggi.

Pulang kuliah, gue mampir ke warnet terdekat dari kos untuk mencari bahan tugas kuliah. Ya, sesekali main game online dan chatting dengan teman-teman SMA melalui Yahoo! Messenger.

Tiba-tiba, lagu yang bertahun-tahun membuat gue penasaran, terdengar kembali dari alat pengeras suara yang terpasang pada komputer mas-mas penjaga. Tanpa banyak ba-bi-bu, gue menghambur ke meja penjaga untuk menanyakan lagu yang masih 1/4 terputar.

“Mas..mas, ini lagu apa yang lagi diputer?” Tanya gue terburu-buru.

Sambil memainkan telunjuknya pada scroll mause, si penjaga berkata. “Bentar ya, Mbak, saya lihat dulu di winamp.”

Masih gue ingat, dada gue berdegup kencang menanti jawabannya.

“Sunny Came Home. Penyanyinya, Shawn Calvin.” ujarnya.

Aha!

Enggak ada perasaan yang dapat mewakili isi hati gue saat itu, lega. Rasa penasaran bertahun-tahun terbayar sudah. Tentu saja gue langsung meng-copy file lagu tersebut di flash disk gue.

Kalau dulu gue kembali ke tempat duduk dengan lemas, akhirnya gue bisa melompat kecil kegirangan.

Peristiwa bertahun-tahun silam itu, kini baru gue sadari hikmah yang bisa dipetik.

Bayangkan jika, saat remaja dulupun gue langsung mengetahui lagu dan penyanyinya juga enggak ada gunanya. Belum ada teknologi USB yang bisa menyimpan file-nya seperti yang bisa gue lakukan saat kuliah. Dan mungkin lagu Sunny Came Home jadi engak begitu berkesan. Malah mungkin terlupakan begitu saja.

Dengan penantian bertahun-tahun itu, membuatnya terasa sangat berkesan dan rasa senang yang luar biasa ketika mendapatkannya.

Layaknya penantian terhadap separuh jiwa kita. Enggak ada yang perlu dikhawatirkan, sesuatu yang sudah digariskan akan bersama, pada akhirnya akan bersama pada waktu yang tepat. Mungkin bisa sebentar, atau memerlukan waktu yang lama. Enggak masalah.

Dan dari Sunny Came Home gue pun memahami, hanya karena gue enggak bisa mendapatkan yang gue inginkan sekarang, bukan berarti gue enggak bisa mendapatkannya nanti. Yang penting harus yakin.

Ini nih lagu Sunny Came Home yang gue suka banget itu 😀

 

 

 

Estee Lauder Face Chart Competition

20140206-161200.jpg

Hi makeup freaks,

You are invited to join this event by Estee Lauder:

Face Chart Competition
Semi Final 15 Februari 2014
Lotte Shopping Avenue

Final 23 Februari 2014
Sogo Plaza Senayan

1st winner – Estee Lauder product worth IDR10.000.000

2nd winner – Estee Lauder product worth IDR5.000.000

3rd winner – Estee Lauder product worth IDR2.500.000

How to?

– draw face chart using makeup
– write your theme, for example : “blue ivy” / “summer pop”
– scan and submit to mktg.esteelauder@thetempogroup.com or send to our nearest counter
– dont forget to write down your name & phone number
– wait for us to call you whoever will go to the semifinals or simply tune in to our fanpage at facebook Estee Lauder Indonesia

To get the soft file of face chart, please email mia.hindrayanti@gmail.com

Dare to win?

A Hopeless Romantic Traveler: Little Things That Matter

Kebanyakan cewek tuh kalau traveling sehari atau seminggu bawaannya ya sama banyaknya. Sama rempongnya! Ya kan? Ngaku deh.

Kalau baju, sepatu atau tas yang memenuhi koper sih dimaklumi. Nah masalahnya, perintilan cewek tuh bisa makan tempat satu koper sendiri. Gue lah contohnya, tiap bepergian enggak pernah tuh bisa bawa satu koper ukuran kecil. Padahal mungkin perginya cuma dua hari.

Sepertinya barang-barang toiletris gue akan pindah ke dalam koper. Mana kan botolnya segede-gede gaban. Hal ini bikin traveling gue enggak praktis, karena tas yang keberatan barang-barang yang enggak mungkin gue tinggal.

Mengingat pentingnya barang kewanitaan, membuat gue merasa wajib bin kudu mengumpulkan barang-barang tersebut dalam ukuran kecil atau disebut ‘travel size’. Kalau misalnya sulit mendapatkannya, bisa juga dengan membeli botol kecil khusus untuk travel yang banyak dijual di supermarket atau toko pernak-pernik di mall. Pindahkan sampo dan sabun dan apa saja yang dibutuhkan sehari-hari ke dalam tuh botol.

Alhasil, gue bisa meminimalkan dari yang tadinya memakan tempat hapir setengah koper, menjadi satu pouch saja.

Taraaaa…..

photo 1

Bagi cewek-cewek yang serempong gue di luar sana, nah ini gue mau berbagi tips bawaan apa saja yang diperlukan ketika traveling, tapi tetap ringkas.

1. Shampoo + Conditioner 

Syukur-syukur kalau sampo yang biasa lo pake itu udah 2 in 1. Sayangnya sampo andalan gue masih terpisah sama conditioner-nya. Apalagi mengingat rambut gue yang susah banget nemu shampoo yang cocok, bikin gue enggak bisa sembarangan memakai shampoo. Jadilah kemana-mana selalu membawa dua botol kecil ini. Tiap nge-gym pun gue akan selalu gue bawa.

Kiehls Shampoo + Conditioner
Kiehls Shampoo + Conditioner

Selain itu, gue juga akan bawa dry shampoo yang sangat berguna banget waktu gue di Cappadoccia. Cuaca saat itu dinginnya mencapai minus 2 derajat celcius!!! Menurut lo gue mandi gitu di sana? Ya enggak laaah. Buset, buat pipis saja perjuangan banget, apalagi mandi dan sampoan! Kalau gue enggak keramas sehari saja, rambut gue akan mudah lepek karena saking tipisnya (ya nasib).

photo 2

Thanks to the invention of dry shampoo yang bisa menyelamatkan gue dari bebas lepek tanpa keramas selama 2 hari di Cappadoccia. Jadi kan foto-foto gue bisa bagus. Hehe.

2. Sabun

Selama masih bisa memanfaatkan sabun dari hotel, gunakan saja jadi enggak perlu bawa dari rumah. Buat apa mengkhawatirkan kulit toh kan traveling-nya enggak lama-lama. Begitu pulang tinggal spa dan scrub juga beres 😀

3. Sabun muka

Yang satu ini penting banget dan runyam kalau sampai ketinggalan. Kalau bisa punya travel size-nya biar ringan.

4. Pembersih muka

Sehari-hari paket pembersih wajah yang gue pakai selain cleansing soap adalah make up remover, milk cleanser, dan toner. Bok, enggak mungkin lah ya gue bawa tiga botol besar begitu. Nah, selama traveling gue enggak akan membawa ketiganya tapi cukup di-replace sama cleansing wipesCleansing wipes itu kayak tissue basah untuk muka, hanya saja lebih nampol buat bersihin muka. Bahkan bisa mengangkat sisa make up yang waterproof sekalipun. Praktis kan?

5. Lotion + Lip balm

Kalau traveling ke tempat yang punya musim dingin sih wajib membawa 2 barang ini supaya kulit enggak kering dan menghindari bibir pecah-pecah. Nanti lipstick-nya enggak oke di bibir 😦

6. Obat muka

Cewek yang berusia di akhir 20 sudah seharusnya merawat wajah, enggak terkecuali pada saat traveling. Bayangin aja, kalau pagi dan malam harus pakai serum yang beda. Jadi harus banget punya tube ukuran mini untuk membawa berbagai obat muka supaya enggak ribet.

7. Fragrance

Pingin selalu wangi tapi malas bawa botol parfum? Bawa miniatur-nya dong ah 😉

8. Feminine tissue

Wajib dibawa kalau traveling ke negara yang menganut ‘dry cleaning‘ kayak di Eropa. Mau cari ke mana juga enggak akan nemu air di toilet, so tissue ini adalah penolong.

9. Foot spray

Traveling adalah satu-satunya yang hal bikin gue mau jalan kaki berlama-lama, setiap hari. Kasihan banget kan kakinya kalau enggak dimanjain sehabis jalan jauh. Pakai foot spray deh supaya si kaki bisa refresh.

Itu tadi perintilan yang biasa gue bawa saat traveling. Biar kecil tapi penting banget, selevel di bawah passport dan uang lah 😀

Semoga bisa membantu kamu-kamu yang sedang mempersiapkan bawaan untuk liburan ya. Happy traveling!

Pindah

Menyambut pergantian tahun kemarin, gue menginap di salah satu hotel berlokasi di Setia budi, Kuningan. Tanggal 31 sore ketika itu, tanpa sengaja gue melihat persis di sebrangnya ada kos yang sedang menerima penghuni baru. Hanya tersisa 1 kamar. Gue iseng menyatroni kos-kosan bernama Kencana Residence tersebut. Seperti cinta pada pandangan pertama, gue langsung suka. Harganya juga cocok.

Tanpa pikir panjang, gue langsung yakin banget akan pindah kos segera. Rencana ini sebenarnya sudah berbulan-bulan lamanya gue pertimbangkan, tapi enggak kunjung terlaksana.

Mungkin karena selama ini kurang yakin jadi berat rasanya meninggalkan kos lama. Terlebih kenangan di dalamnya yang sulit gue lepas. #tsah

Sama kayak move on sih, kalau dipaksain banget malah enggak berhasil. Ujung-ujungnya ya balik lagi balik lagi. Tapi kalau enggak diniatin malah dimudahkan jalannya.

Seperti gue yang secara tiba-tiba menemukan ‘rumah’ baru dan yakin akan keputusan untuk pindah. Suasananya pun mendukung. Tahun baru, penampilan baru, dan tempat tinggal baru.

Tapi ternyata, kepindahan gue ke kos baru ini belum dikehendaki sama Allah.

Sebelum gue memberi uang tanda jadi, tentunya harus memastikan dulu apakah kendaraan tersedia untuk mobilisasi dari kos lama ke baru. Karena kalau gue enggak mau dibebankan biaya sewa bulan Januari di kos lama, ya gue harus pindah di hari pertama bulan Januari ini juga!

Segeralah gue mencari sana sini sewa mobil untuk membantu kepindahan. Sayangnya, mungkin karena masih suasana libur agak sulit mendapatkannya. Sekitar jam 5 sore, barulah confirm kalau mobilnya siap dipakai. Lalu gue langsung menghubungi penjaga kos baru untuk mengabari kalau gue jadi menghuni kamar itu.

Dan si Mas penjaga pun sebelum menjawabnya malah mengambil nafas panjang dan membuangnya perlahan. Perasaan gue enggak enak.

“Baru saja sejam lalu ada yang isi. Maaf ya, Mbak.”

Gue telat! Cuma selisih satu jam 😦

Emang belum jodoh sih ya. Kembali lagi, manusia hanya bisa berusaha tetapi Allah berkehendak lain. Gue, masih disuru menempati ‘rumah’ yang lama.

Morale of the story: mau pindah kos aja kok ya gue sulit banget sih. Apalagi pindah yang lain 😐

20140101-215340.jpg

Hair Cut

Perhatian:
Tidak disarankan membaca tulisan ini dengan diiringi alunan lagu Wracking Ball-nya Miley Cyrus.

A woman who who cuts her hair is about to change her life. – Coco Channel

Yap, untuk memulai kehidupan baru gue di 2014 ditandai dengan potong rambut. Sebenarnya emang karena rambut gue yang sudah makin banyak rontok dan ujungnya yang agak kelihatan bercabang sih.

Selama 2013 kemarin gue mempertahankan rambut gue, sama sekali enggak dipotong (kecuali poni) demi memiliki impian punya rambut panjang sepunggung. Bayangin aja ya, satu tahun gue menunggu dan apa yang terjadi? Rambut gue malah rusak. 

Padahal kata hair styler, kalau mau rambutnya mudah panjang mesti sering dipotong ujungnya yang ‘mati’, jadi bisa memancing pertumbuhan. Hal itu juga sudah gue lakuin dan tetap saja rambut gue enggak bisa panjang lagi. Lima senti meter lagi aja menuju panjang rambut impian gue tapi tetap enggak bisa. Dan sudah satu tahun lho, catat, SATU TAHUN!

Emang nih, rambut gue sepertinya sudah mentok. Sama kayak hati gue…

EAAAAAA.

Menjelang penghujung tahun 2013 kemarin, gue iseng ke salon di Plaza Senayan. Niatnya cuma mau rapihin aja karena gue masih keras kepala (dasar taurus) untuk mempertahankan rambut panjang gue. Resolusi punya rambut sepunggung yang gak kesampaian di 2013 ceritanya mau gue lanjutin di 2014.

Karena salon di PS ini bukan salon langganan, jadi gue asal saja memilih hair styler yang akan merapikan rambut gue. Baru aja memegang beberapa helai rambut gue, dia sudah komen begini.

“Rambut kamu tuh tipis dan halus. Makanya rontok, dipanjangin sih. Maksimal tuh biar tetap sehat ya sebahu aja, boleh lah lebih sedikit.”

Bengong lah gue. Sebahu? Hellooo, not even in my wildest dream. Gue sahutin aja komen si Mbak itu.

“Yah, saya maunya punya rambut sepunggung. Udah setahun nih manjangin, tapi kok sepertinya mentok ya.”

“Ya seperti kata saya tadi. Rambut kamu enggak mampu lagi tumbuh lebih panjang, karena enggak sehat. Akhirnya malah jadi rontok. Dipotong sebahu aja ya?”

ENGGAAAAAK MAUUUUU.

“Kamu pilih mana? Panjang tapi enggak sehat atau pendek tapi sehat? Kamu enggak sayang ya sama rambut sendiri dibiarin enggak sehat begitu?”

DEG!

Ucapan dia sedikit menampar gue. Enam puluh detik kemudian membawa gue pada titik yang akhirnya membuat gue sadar. Ternyata, selama 2013 ini gue sudah mempertahankan sesuatu yang salah.

Setahun gue menunggu rambut yang bisa panjang sepunggung dan hasilnya tidak sesuai harapan.

Setahun, sejak awal membuka lembaran 2013 bersamanya di samping gue-seseorang dari masa lalu yang kembali lagi ke hidup gue- gue menunggu keajaiban dia akhirnya akan menjadikan gue bagian dari masa depannya. Menunggunya dengan sabar untuk meresmikan hubungan kami ke jenjang lebih serius.

Di telinga gue, suara si Mbak salon yang mengatakan sel rambut gue sudah rusak sehingga enggak bisa panjang lagi bergantian dengan suara si dia yang menyatakan bahwa gue enggak bisa menjadi calon isterinya. Dia sudah sangat yakin dengan keputusannya itu, kalau kami hanya bisa menjadi sepasang sahabat.

Gue sudah memaksakan sesuatu yang tak mungkin. Lalu, apa lagi yang masih gue tunggu?

Rambut gue sudah rusak, serusak hati gue karena kenyataan pahit bahwa punya rambut panjang dan menjadi isterinya itu hanya mimpi belaka. Mimpi yang tak akan menjadi kenyataan dan sudah seharusnya enggak boleh lagi gue teruskan di kehidupan baru gue.

Lima senti meter lagi aja menuju panjang rambut impian gue tapi tetap enggak bisa. Me and him, we’re just a breath away. So close yet so far. Gue masih tak mampu merebut hatinya. 

In the end, all the things that matter is how to gracefully let go of things not meant for us. No?

“Oke, Mbak. Aku siap dipotong rambutnya.” Ucap gue dengan mantap. 

Image

I’m ready to let you go.

Akhirnya, pergulatan gue selama setahun untuk mempertahankan atau melepaskan selesai sudah. Keputusan yang gue pilih atas dasar kesayangan gue pada diri sendiri. Gue enggak boleh membiarkan rambut gue jadi makin tidak sehat. Begitu pula dengan hati gue.

Image

Happy new year everyone. May 2014 be your best ever.

Curriculum Vitae: (Pernah) Melontang-lantung

Week end kemarin, waktu gue balik ke rumah si nyokap cerita kalau teman lama bokap gue berkunjung dan dia bawa anaknya. Gue udah sakit perut duluan, apa gue mau dijodohin? Gue mulai panik dan dag dig dug mikirin ganteng enggak ya doi…

Ah, tapi ternyata itu cuma pikiran jelek gue aja. Anaknya perempuan, dan mereka memang datang membawa lamaran. Tapi bukan lamaran pernikahan, melainkan mereka datang untuk minta tolong dicarikan pekerjaan oleh gue. Gue? Enggak salah tuh?

“Mia kan sekarang sudah sukses, bisa kali ya bantuin anak saya dapet kerjaan.” Ujar sebut saja Om A, si teman bokap gue itu, yang diceritakan ulang oleh nyokap gue.

Amiin kalau gue dibilang sukses. Tapi gue cuma pegawai biasa, kantor gue bukan punya moyang gue yang bisa dengan gampang masukin kerabat untuk bekerja di perusahaan. Bukan, gue juga cungpret.  Gue pun dulu melalui tahap yang panjang untuk akhirnya bisa bekerja di tempat gue sekarang untuk mengais lembaran rupiah.

Tapi gimana gue enggak terenyuh mendengar cerita si Om A, anaknya baru saja lulus tahun ini dengan mengantongi gelar Sarjana Ekonomi. Dia sudah mengirimkan lamaran ke pabrik-pabrik yang tersebar di daerah Anyer dan Merak, yang merupakan domisili tinggal mereka tapi sampai sekarang belum ada hasil. Minta bantuan sampai ke rumah gue mungkin sudah pilihan terakhir. Sayangnya, gue enggak bisa kasih janji.

Pertama, karena gue tahu kantor tempat gue bekerja tidak sedang membutuhkan karyawan baru. Membawa lamarannya ke HRD hanya akan memberikan harapan palsu, karena gue tahu paling-paling ditumpuk begitu saja. Kedua, jika sedang open recruitment pun kantor gue menggunakan jasa pihak luar, sehingga lamaran pun diproses melalui mereka.

Duh enggak tega sih, tapi biarlah. Lontang-lantung dan berjuang dapat pekerjaan adalah proses yang harus dilalui setiap insan yang baru lulus kerja. Pernah melontang-lantung kalau bisa dimasukin di CV, masukin deh. Idealisme mengaplikasikan ilmu saat kuliah jadi bikin semangat untuk cari kerja sana – sini. Justru kalau menurut gue sih, akan lebih kerasa manis ya, mengingat susahnya dulu cari kerja. Dan gue pribadi jadi menghargai usaha gue sendiri dengan enggak menghamburkan hasil jerih payah gue dan bekerja dengan baik, di tengah banyaknya isu korupsi dan gratifikasi yang lagi populer sekarang ini.

Ah, gue jadi inget bukunya si Roy, sahabat sekaligus rekan berbagi royalti di Trave(love)ing. Judul bukunya  Lontang-Lantung, sebelumnya berjudul Luntang Lantung. Justru awal tahu kalau Roy itu penulis ya lewat Luntang-Lantung ini. Sekarang, dicetak ulang dengan judul sedikit diperbaharui karena mau difilmkan! Tuh berarti keren kan bukunya. Emang keren.

photo (41)

Ceritanya simpel dan mewakili anaknya si Om A banget. Lulus kuliah, so what’s next?

Dari awal Roy memperkenalkan tokohnya yang bernama pasaran (dan mirip nama mantan gue, hiks) saja sudah bikin nyengir, gue ketawa terus setiap membalik halaman demi halaman. Sesuai judulnya, sudah bisa diduga jalan ceritanya yang mengisahkan susahnya cari pekerjaan.

Well, rata-rata dari kita semua pernah mengalaminya kan? Berbekal ijazah kuliah, pengetahuan yang dijejali dosen selama kurang lebih 4 tahun, dan doktrin lulusannya paling sial jadi Menteri (ehm, itu sih moto sombongnya kampus gue), bikin anak kuliahan yang baru lulus dan beridealis tinggi untuk mendapat pekerjaan yang bagus.

Sama kayak gue dulu, sama dengan si tokoh di Lontang Lantung itu, dan begitu juga dengan anak si Om A tadi. Ada hal yang karena idealisme yang dianut tersebut bikin kita gengsi bekerja di tempat ecek-ecek. Kita lupa satu hal, angka pengangguran setiap tahun tinggi, bro. Yang penting cari pengalaman dulu, untuk batu loncatan jenjang karir berikutnya. Jangan malu meski hanya mengawali karir sebagai seorang salesman oli XD

Om A melihat kantor gue yang menurutnya oke, lalu berusaha memasukkan anaknya agar bisa bekerja di situ lewat gue. Mana bisa instan, apalagi gue sendiri yang mengalami harus melewati beberapa tahap tes. Mulai dari psikotest menjumlah deretan angka yang bikin tangan keram dan leher pegal-pegal. Sampai diskusi kelompok yang membahas barang apa yang harus dibawa ketika terjebak sendirian di bulan. What the hell are you thinking going to the moon and stuck there??? Hadeh.

Tapi sebenarnya gue cukup beruntung, enggak salah ambil jurusan yang sejujurnya dipilihkan sama nyokap gue dulu. Ingat tentang tulisan gue yang cinta banget sama pelajaran fisika? Dulu cita-cita gue ketika SMA adalah melanjutkan studi teknik sipil. Adalah nyokap gue yang menentang habis-habisan pilihan gue. Kata dia, masa perempuan jadi tukang bangunan?? Ya kali Maaaaah. Satu-satunya alasan gue menuruti maunya nyokap adalah, doi saat itu sampai sakit-sakit yang belakangan gue tahu kalau itu cuma taktiknya saja. Pffft.

Karena gue waktu sekolah ada di jurusan IPA, untuk mengambil ujian SPMB (sekarang namanya apa ya?) maka gue harus mengambil ujian IPC. Gue tuh benci banget sama mata pelajaran IPS kayak ekonomi, akuntansi, dan geografi. Kecuali pelajaran sejarah yang gue suka banget, itu kenapa kali ya gue suka terjebak di masa lalu. Eaaaa.

Jadi untuk bisa jebol pilihan pertama SPMB yaitu akuntansi, gue sampai ikut les ,pemirsa. Itupun tetap saja nilai try out gue jelek. Tapi memang gue sudah digariskan untuk jadi akuntan, akhirnya gue berhasil tembus jurusan akuntansi di salah satu kampus favorit yang ada di Depok. Dan akhirnya, gue menjadi auditor garis keras sampai sekarang.

Awalnya jadi auditor, karena ya mana lagi kantor yang menerima karyawan belum lulus untuk bekerja? Sambil menunggu jadwal sidang kompre gue keluar, daripada enggak jelas di kampus gue dan beberapa teman melamar ke KAP 2 huruf yang lokasinya di twin towers bilangan SCBD. Seminggu setelah wawancara gue langsung diterima, lalu besoknya mulai bekerja, tepatnya tanggal 1 Desember 2005 (Njir, sudah lama banget ya gue kerja, kalau anak sih sudah masuk SD). Enggak tanggung-tanggung, langsung dijeburin ke kantor klien yang alhasil bikin gue nangis karena berantem sama klien di hari pertama kerja.

Begitu berat kerjaan gue sampai-sampai ketika besoknya sidang, malamnya masih lembur. Tega pisan ih. Gue lulus kompre bulan Januari 2006, diwisuda bulan Februari 2006.  Empat bulan kemudian diangkat jadi karyawan tetap dan akhirnya pensiun dini di bulan September 2009.

Lalu apakah gue akhirnya pensiun juga dari profesi auditor? Enggak, gue masih dikasi rejeki sebagai auditor. Di kantor setelah KAP dua huruf pun, gue masih bekerja sebagai auditor. Biarlah tetap menjadi auditor sampai tua dan enggak pernah merasakan jadi auditee, tapi paling enggak pernah ‘ngerasain’ auditee. Aeeeeh mati luh.

Enggak komplit rasanya hidup lo, kalau enggak pernah merasakan cinlok sama teman kantor. Atau dalam kasus gue tadi, flirting sama klien. Di Lontang-Lantung juga dibumbui dengan kisah cinta yang makin bikin buku ini uhuk-able. Uhuk!

Kembali ke anaknya si Om A tadi, untuk menghiburnya dan membuatnya semangat dalam mencari pekerjaan, gue putuskan untuk menitipkan buku Lontang-Lantung untuknya. Mungkin melalui buku ini, dia bisa jadi ada gambaran untuk menjalani proses pencarian kerja dan bagaimana dunia bekerja yang digamblangkan Roy dengan apa adanya. Apalagi di buku ini ada tips kerja yang lucu tapi enggak ngawur.

Gue sudah baca sampai habis dan selain bikin ngakak, buku ini benar-benar bikin nostalgia jaman dulu mencari kerja. Gue sangat terhibur dan gue harap anaknya si Om A juga merasakan yang sama.

Ada beberapa bagian yang gue suka banget di buku ini, pertama adalah quotes bangkek khas Roy yang menghiasi setiap pembuka bab. Ini nih yang paling nyeleneh, “Berusahalah sekarang juga, karena Senin harga naik!” Ngehek lo Roy. Kedua, unsur komedi yang diangkat Roy smart banget dan orisinil, contohnya tentang MLM. Penasaran kan?

Pastinya, Lontang-Lantung adalah salah satu buku yang dengan tuntas gue baca beberapa jam saja dan enggak ada satu bagian pun yang gue skip. Komplit karena bahasa yang mudah dimengerti dan alur cerita yang enggak bosenin.  Jadi, buat yang lagi mencari atau sudah duduk nyaman di kursi kantornya, gue rekomendasiin untuk baca buku Lontang-Lantung.

😀