A Hopeless Romantic Traveler: Little Things That Matter

Kebanyakan cewek tuh kalau traveling sehari atau seminggu bawaannya ya sama banyaknya. Sama rempongnya! Ya kan? Ngaku deh.

Kalau baju, sepatu atau tas yang memenuhi koper sih dimaklumi. Nah masalahnya, perintilan cewek tuh bisa makan tempat satu koper sendiri. Gue lah contohnya, tiap bepergian enggak pernah tuh bisa bawa satu koper ukuran kecil. Padahal mungkin perginya cuma dua hari.

Sepertinya barang-barang toiletris gue akan pindah ke dalam koper. Mana kan botolnya segede-gede gaban. Hal ini bikin traveling gue enggak praktis, karena tas yang keberatan barang-barang yang enggak mungkin gue tinggal.

Mengingat pentingnya barang kewanitaan, membuat gue merasa wajib bin kudu mengumpulkan barang-barang tersebut dalam ukuran kecil atau disebut ‘travel size’. Kalau misalnya sulit mendapatkannya, bisa juga dengan membeli botol kecil khusus untuk travel yang banyak dijual di supermarket atau toko pernak-pernik di mall. Pindahkan sampo dan sabun dan apa saja yang dibutuhkan sehari-hari ke dalam tuh botol.

Alhasil, gue bisa meminimalkan dari yang tadinya memakan tempat hapir setengah koper, menjadi satu pouch saja.

Taraaaa…..

photo 1

Bagi cewek-cewek yang serempong gue di luar sana, nah ini gue mau berbagi tips bawaan apa saja yang diperlukan ketika traveling, tapi tetap ringkas.

1. Shampoo + Conditioner 

Syukur-syukur kalau sampo yang biasa lo pake itu udah 2 in 1. Sayangnya sampo andalan gue masih terpisah sama conditioner-nya. Apalagi mengingat rambut gue yang susah banget nemu shampoo yang cocok, bikin gue enggak bisa sembarangan memakai shampoo. Jadilah kemana-mana selalu membawa dua botol kecil ini. Tiap nge-gym pun gue akan selalu gue bawa.

Kiehls Shampoo + Conditioner
Kiehls Shampoo + Conditioner

Selain itu, gue juga akan bawa dry shampoo yang sangat berguna banget waktu gue di Cappadoccia. Cuaca saat itu dinginnya mencapai minus 2 derajat celcius!!! Menurut lo gue mandi gitu di sana? Ya enggak laaah. Buset, buat pipis saja perjuangan banget, apalagi mandi dan sampoan! Kalau gue enggak keramas sehari saja, rambut gue akan mudah lepek karena saking tipisnya (ya nasib).

photo 2

Thanks to the invention of dry shampoo yang bisa menyelamatkan gue dari bebas lepek tanpa keramas selama 2 hari di Cappadoccia. Jadi kan foto-foto gue bisa bagus. Hehe.

2. Sabun

Selama masih bisa memanfaatkan sabun dari hotel, gunakan saja jadi enggak perlu bawa dari rumah. Buat apa mengkhawatirkan kulit toh kan traveling-nya enggak lama-lama. Begitu pulang tinggal spa dan scrub juga beres 😀

3. Sabun muka

Yang satu ini penting banget dan runyam kalau sampai ketinggalan. Kalau bisa punya travel size-nya biar ringan.

4. Pembersih muka

Sehari-hari paket pembersih wajah yang gue pakai selain cleansing soap adalah make up remover, milk cleanser, dan toner. Bok, enggak mungkin lah ya gue bawa tiga botol besar begitu. Nah, selama traveling gue enggak akan membawa ketiganya tapi cukup di-replace sama cleansing wipesCleansing wipes itu kayak tissue basah untuk muka, hanya saja lebih nampol buat bersihin muka. Bahkan bisa mengangkat sisa make up yang waterproof sekalipun. Praktis kan?

5. Lotion + Lip balm

Kalau traveling ke tempat yang punya musim dingin sih wajib membawa 2 barang ini supaya kulit enggak kering dan menghindari bibir pecah-pecah. Nanti lipstick-nya enggak oke di bibir 😦

6. Obat muka

Cewek yang berusia di akhir 20 sudah seharusnya merawat wajah, enggak terkecuali pada saat traveling. Bayangin aja, kalau pagi dan malam harus pakai serum yang beda. Jadi harus banget punya tube ukuran mini untuk membawa berbagai obat muka supaya enggak ribet.

7. Fragrance

Pingin selalu wangi tapi malas bawa botol parfum? Bawa miniatur-nya dong ah 😉

8. Feminine tissue

Wajib dibawa kalau traveling ke negara yang menganut ‘dry cleaning‘ kayak di Eropa. Mau cari ke mana juga enggak akan nemu air di toilet, so tissue ini adalah penolong.

9. Foot spray

Traveling adalah satu-satunya yang hal bikin gue mau jalan kaki berlama-lama, setiap hari. Kasihan banget kan kakinya kalau enggak dimanjain sehabis jalan jauh. Pakai foot spray deh supaya si kaki bisa refresh.

Itu tadi perintilan yang biasa gue bawa saat traveling. Biar kecil tapi penting banget, selevel di bawah passport dan uang lah 😀

Semoga bisa membantu kamu-kamu yang sedang mempersiapkan bawaan untuk liburan ya. Happy traveling!

Advertisements

A Hopeless Romantic Traveler: Senja Di Batam

Prolog:
Awal gue sering traveling ke luar kota adalah sejak gue memiliki profesi sebagai auditor di salah satu KAP Big 4 di Indonesia. Gue bekerja sejak lulus kuliah tahun ehm 2006 (ketahuan tua deh) dan sudah melalang-melintang traveling ke berbagai kota di Indonesia karena pekerjaan. Namun tak ada yang istimewa yang perlu diceritakan selain kisah cinta gue yang pernah terjadi di tahun 2008. Bukan, bukan tentang si koper yang sudah gue buang di Trave(love)ing. Pria yang gue kisahkan di sini adalah awal mengapa gue selalu menyukai dipanggil Mimi 🙂

***

Gambir, Suatu Minggu Sore Di Akhir 2008.

“Nah itu dia Damri-nya.” Gue spontan membuka pintu mobil, setelah melihat bus yang gue tunggu sejak 30 menit yang lalu akhirnya datang.

“Gue aja yang angkat kopernya, Mimi.” Suara pria yang sejak setengah jam yang lalu duduk di balik supir tiba-tiba menyaut.

Dung-dung, begitu biasa gue memanggilnya. Dan dia membalas memanggil gue dengan Mimi. Sebenarnya nama panggilan Mimi gue peroleh sejak tahun 2008 dari rekan sekerja gue yang bernama Ncus. Si Dung-dung ini lalu ikut-ikut memanggil gue Mimi karena menurutnya terdengar lucu.

Setelah mengeluarkan koper ukuran kabin pesawat dari bagasi mobilnya, ia lalu membantu menggeretnya sambil kami berjalan ke arah bus Damri, diiringi suara roda koper yang bergesekan dengan aspal jalan.

“Tiketnya siapin, lo kan suka ceroboh lupa naro barang.” perintahnya.

Gue membuka tas kecil tempat menaruh telepon genggam dengan merk yang juga dimiliki sejuta umat lainnya saat itu, kemudian mengeluarkan karcis bus yang sudah gue beli saat sampai di stasiun tadi. Lembaran kecil dan tipis itu lalu gue tunjukkan ke batang hidung Dung-dung sambil menjulurkan lidah padanya, “Nggak lupa dong, udah ditaruh di tempat yang gampang.”

Yang digoda hanya tertawa menanggapi ulah gue, lalu wajah chubby-nya berubah murung ketika sampai di depan pintu bus. “Maaf ya, cuma bisa anter sampe Gambir. Sebenarnya gue khawatir biarin lo sendirian sampai ke Bandara.”

Gue mencubit tangannya dengan gemas, “Gue udah sering terbang sejak belum kenal lo kali, biasanya juga sendiri. Hahaha.” Tertawa adalah cara gue menutupi perasaan sedih yang gue rasakan karena akan merindukannya selama seminggu ke depan dinas ke Batam.

Sesaat percakapan kami terusik oleh kondektur, yang mengambil koper berwarna biru muda gue dan memasukkannya ke dalam bus. Caranya mengangkat dengan asal membuat perhatian gue teralih dari Dung-dung lalu menegur pak kondektur, “Mas, hati-hati ya. Ada barang pecah belah.” Yang ditegur hanya mengangguk.

Setelah memastikan bawaannya aman, gue kembali tertuju pada pria di hadapan gue yang sedang terdiam menunduk.

“Hei, beneran gue gak apa-apa kok.” bujuk gue.

“Tapi gue pingin banget anter sampai Bandara, nemenin lo sampai boarding.” keluhnya.

“Gue gak apa-apa kok.” ujar gue sambil tersenyum yang mengundangnya untuk ikut tersenyum juga.

***

Hang Nadim, Minggu Malam.

Akhirnya boeing yang gue tumpangi mendarat setelah hampir 2 jam di atas udara. Gue sebenarnya paling enggak suka harus melakukan perjalanan sendirian, apalagi naik pesawat. Tapi gue enggak punya pilihan, pekerjaan sebagai auditor di salah satu KAP terbesar di Indonesia memaksa gue untuk sering terbang ke luar kota. Dan kali ini, terpaksa harus sendiri karena teman-teman gue sudah bertolak ke Batam seminggu sebelumnya.

Langit Batam hampir gelap, angin yang berhembus kencang dengan sekejap membuat rambut gue yang terurai berantakan. Gue berjalan terburu-buru memasuki bandara, yang termasuk kecil di kota industri dengan jadwal penerbangan cukup padat ini.

Begitu telepon genggam gue aktifkan kembali, sebuah notifikasi terdengar menandakan ada pesan SMS diterima. Ada dua kotak masuk, satu dari nyokap dan satu lagi dari sebuah nomor tak dikenal. Gue segera membalas nyokap dengan cepat, mengabari bahwa anak gadisnya sudah sampai dengan selamat. Pesan satunya lagi ternyata dari supir yang menjemput dan akan mengantar gue ke hotel.

Hampir saja gue menekan tombol last redial, sebelum teringat bahwa yang akan gue hubungi itu mungkin sedang enggak dapat mengangkat panggilan telepon. Akhirnya gue memutuskan mengirim pesan yang sama dengan yang gue kirim ke nyokap kepada Dung-dung.

Satu menit, gue yang mengenakan setelan jeans casual ini mematung di tengah hiruk-pikuknya bandara untuk menunggu balasan yang tak kunjung datang. Sambil menghela nafas panjang, gue kemudian bergerak menuju pintu keluar menerobos para supir taksi yang berburu mencari penumpang. Gue selalu memesan supir dari kantor klien untuk menjemput, karena enggak pernah berani mengambil taksi dari bandara dengan tarif tanpa argo. Gue malas menego harga. Untung saja gue enggak perlu berlama-lama mencari supir yang sudah menunggu. Pria tua berkumis terlihat mengangkat papan bertuliskan nama gue.

“Mari, Bu. Saya bantu bawa kopernya.”

Perjalanan dari Hang Nadim ke pusat kota Batam cukup lama, karena letak landasan yang di ujung pulau. Sekitar satu jam perjalanan gue habiskan untuk tidur. Hal itu karena selama di pesawat tadi gue hanya memejamkan mata tanpa pernah dapat tidur dengan tenang selama terbang.

Pak Agus, nama supir yang membawa gue dari bandara tadi membangunkan dengan suara cukup keras, sampai gue terkaget. “Maaf, Bu. Sudah sampai.”

Gue mengucek mata dan melihat ke sekeliling. Waktu di jam yang melingkar di tangan kiri gue menunjukkan pukul 9 malam. Pantas sudah sepi, gue membatin. Padahal gue menginap di salah satu hotel berbintang 5 di kawasan Nagoya, tengah kota Batam. Sudah kebiasaan di Batam, toko-toko mulai tutup jam 9 malam bergantian dengan gedung-gedung yang baru buka untuk menawarkan hiburan malam.

Setelah mengucapkan terima kasih sambil menyelipkan uang tips kepada Pak Agus, gue meninggalkan Van putih yang membawa gue tadi dan menuju resepsionis hotel. Gue menyempatkan memeriksa kembali ponsel disaat mengurus reservasi di tempat bermalam gue. Tak juga ada balasan dari Dung-dung. Sedikit kecewa harus gue telan, iyuuuh pahit 😐

***

Satu pesan diterima. Nama pria yang ditunggu-tunggu itu akhirnya menghiasi ponsel dan membuat pemiliknya, gue, memikik senang.

Maaf ya baru sempat kirim pesan. How’s Batam?

Dengan cepat jempol gue mengetikkan beberapa kata balasan untuknya. Betapa enggak, sejak semalam memang hanya kabar dari Dung-dung yang gue nantikan.

Gak apa-apa, gue ngerti kok. Batam seperti biasa, panas :p

Ponsel gue kembali bergetar akibat pesan yang masuk. Gue memang selalu memastikan semua alat komunikasi dalam keadaan vibrate only jika sedang bekerja.

Lo udah mulai sibuk? Gue ganggu ya?

Biasanya kalau kami berdua sudah saling berbalas pesan bisa seharian. Selain seharian texting, kebiasaan rutin kami adalah berjam-jam telepon di tengah malam. Dung-dung adalah pendengar yang baik. Ia mampu merekam setiap detil perkataan gue itu di memorinya. Itu mengapa semakin hari gue semakin mengagumi Dung-dung. Perasaan kagum yang mungkin lama kelamaan bertransformasi menjadi perasaan sayang.

Sebenarnya proses kedekatan kami berdua cukup singkat. Sejak berkenalan dua bulan yang lalu, kami seakan merasa cocok satu sama lain dan mudah saja untuk akrab.

Call you this night, promise. Lo jaga kesehatan di sana ya, Mimi.

***

Thank God It’s Friday! pekik gue dalam hati. Akhirnya setelah menghabiskan waktu lima hari di Batam, datang juga hari santai sedunia. Karena kesokan harinya sudah kembali ke Jakarta, maka hari ini gue dan rekan setim bekerja hanya separuh hari saja. Setelah waktu ibadah sholat Jumat sampai sore, klien akan membawa gue dan teman-teman jalan-jalan di kota yang jaraknya dengan Singapore hanya satu jam perjalanan laut.

Meski bukan pertama kalinya ke Batam, bahkan sudah lebih dari 5 kali gue dinas ke kota ini, gue sama sekali belum pernah mengunjungi jembatan yang terkenal di sana. Barelang namanya.

Jembatan yang juga dikenal masyarakat Batam dengan sebutan jembatan Fisabilillah ini adalah salah satu dari 6 jembatan yang ada di Batam. Barelang adalah singkatan dari Batam – Rempang – Galang, pulau yang dihubungkan oleh jembatan ke kota Batam. Dibanding 5 lainnya, Barelang yang terbesar sehingga dijadikan salah satu alternatif tempat wisata di Batam.

Jembatan Barelang
Jembatan Barelang

Kata orang, belum ke Batam kalau belum ke Barelang. Oleh karenanya, Jumat siang setelah pull out (auditor pasti familiar dengan istilah ini) gue dan teman-teman bertekad untuk menyempatkan diri ke sana. Di dekat jembatan itu juga ada sebuah restoran terkenal yang bernama Barelang Seafood Restaurant. Di resto itu menyajikan makanan khas Timur Tengah! Ya namanya juga seafood, menyajikan seafood pastinya. Katanya sih enak banget! Membuat gue dan teman-teman jadi kepingin banget nyobain.

Dan ternyata bukan enak banget tapi enak parah! Gue yang makannya enggak terlalu rakus jadi mendadak rakus banget. Piring gue sampai bersih tak bersisa. Makanan yang cuma ada di Batam itu namanya Gong-gong, sejenis keong tapi bersih, duh itu gue suka banget! Sayang jaman dulu enggak musim foto-lalu-masukin-instagram sebelum foto. Jadi gue enggak tahan melahapnya tanpa sebelumnya mengabadikannya 😐

Taraa
Taraa

Setelah perut kenyang dan hati senang, hampir waktu Magrib kami kembali ke Nagoya. Selama di perjalanan kembali pun gue habiskan sambil berbincang dengan teman-teman dan tak lupa menyempatkan diri untuk mengirimkan pesan kepada Dung-Dung.

Besok sore gue pulang. Kita bisa ketemu?

Kenapa enggak dari pagi pulangnya? Liat besok ya Mimi. Tapi kalau gak bisa jemput, lo gak marah kan?

Apa hak gue marah? Besok siang mau belanja dulu, sudah sampai Batam rugi gak belanja parfum. Lo mau oleh-oleh apa?

Gak usah, jangan repot-repot. Takutnya gak sempet ambil. Lo tahulah kenapa.

Iya gue ngerti. Gak apa-apa kok 🙂

Sebenarnya, gue enggak pernah dapat mengerti. Pun tak juga merasa baik-baik saja. Senyum tak sedang tersungging di bibir. Gue sangat khawatir akan hati gue, yang mulai dikuasai oleh keinginan memiliki Dung-Dung.

***

Sudah puluhan kali gue membuka dompet ponsel, memeriksa layar alat tersebut, dan berakhir dengan memasukkannya kembali ke asalnya. Pikiran gue campur aduk, antara senang karena sedang dalam perjalanan pulang dan resah. Sejak fajar sampai senja, belum juga menerima kabar dari Dung-Dung. Tadi pagi pria itu tak menjawab pesan gue.

Gue mencoba membuat diri gue rileks sambil mengobrol dengan rekan-rekan, yang juga kembali ke Jakarta Sabtu sore ini. Sudahlah, tetap tersenyum saja because we’re gonna back home, ladies!

My Ladies
My Ladies

Kebetulan rekan-rekan setim gue itu perempuan semua. Jadi sebenarnya enggak ada alasan tak terhibur di dalam kendaraan yang mengantar kami kembali ke Hang Nadim. Celotehan gosip memecahkan suasana sore itu yang sesekali dihiasi dengan tawa. Gue juga mencoba tertawa akan lelucon yang dilemparkan oleh teman gue, Dila. It didn’t work.

Dengan frustasi, gue menatap ke luar jendela. Astaga, sungguh indah warna yang menghiasi langit senja. Batin gue mengucap kagum. Warna antara merah dan kuning, seperti warna jingga yang tergores di langit Batam sore ini. Sang mentari sore yang membuat suhu udara sampai menyentuh angka 34 derajat, sepertinya masih enggan pamit. Terakhir gue menatap langit Batam itu kemarin, dan masih biru. Sore ini, warna jingga indah lukisan Tuhan itu gue abadikan.

Dung-Dung harus melihat ini. Ah, lagi-lagi Dung-Dung. Sedetikpun pria itu tak pernah meninggalkan pikirannya.

Tiba-tiba saja, sebuah ide menyerbu pikiran gue yang mengawang pada langit jingga yang sedang gue nikmati dengan pilu. Sampai di Jakarta malam nanti, gue akan memberitahu Dung-Dung akan isi hati gue.

Gue membuka menu memo di ponsel dan mengetikkan tulisan yang nantinya akan gue email kepada pria itu.

Dung-Dung,

Entah keberanian apa yang merasukiku menulis ini untukmu. Tapi kamu perlu tahu, saat menuliskannya aku sedang dikelilingi langit senja Batam yang berwarna jingga. Cantik sekali. Aku tadi sempat mengabadikannya, fotonya aku lampirkan juga agar kamu bisa melihatnya.

Kamu juga perlu tahu apa yang aku rasakan dan terlampiaskan melalui tulisan ini.

Sebelum kamu hadir di hidupku, tak ada yang spesial di antara jam 9 pagi sampai jam 5 sore waktu bekerjaku. Setiap harinya terasa sama. Aku bekerja dan bekerja.

Lalu sesuatu memecah fokusku. Di antara 9-5-ku itu sekarang terselip percakapan denganmu. Cerita dan canda yang menjadi kudapan mengisi kelaparan hatiku.

Dan kamu, satu-satunya pria yang mau mengangkat teleponku saat jutaan mata terlelap di muka bumi ini. Aku tahu kamu mengantuk, aku bisa mendengar suara menguap yang tertahan. Tapi kamu tetap bertahan.

Pertemuan kita yang baru hitungan jari itu, membuatku selalu diremukkan oleh rindu. Saat kita bersama, aku hanya menatapmu. Berharap aku mampu mengatakan aku menyayangimu, dengan mataku.

Iya, kamu perlu tahu kata-kata yang tak kusanggup mengatakannya..

Gue menghembuskan nafas dengan lega ketika mengetik tombol save. Tulisan isi hati gue, tersimpan aman di telepon genggam gue.

***

Tepat satu jam gue beserta rombongan tiba di Hang Nadim. Koper gue bertambah berat akibat oleh-oleh di dalamnya. Setelah selesai check in, ketika menuju ruang boarding, nada dering pendek terdengar dari ponsel yang gue genggam.

Akhirnya, Dung-Dung mengirim pesan juga!

***

Langit jingga yang sama terhampar luas di hadapan gue saat ini. Kali ini gue menatapnya bukan dari mobil, tapi dari dalam pesawat yang baru saja 30 menit take off membawa gue pulang.

fotografer.net
fotografer.net

Mata gue mungkin sudah berwarna sama dengan langit di atas awan ini. Jingga. Akibat air mata yang akhirnya mengalir, setelah tertahan pada saat pesan dari Dung-Dung gue baca.

Maaf baru memberi kabar. Gue bertengkar lagi dengan Rini. Tak sampai hati untuk menyakitinya, akhirnya gue melamarnya, Mimi. Maafin gue ya.

Pandangan gue beralih lagi dari layar ponsel ke jendela pesawat. Warna jingga pada cahaya terpecahkan oleh bayang Dung-Dung yang muncul tiba-tiba. Senyum pria itu tak lagi menentramkan, namun kini membuat gue gundah. Pedih akan kenangan bersamanya yang satu persatu muncul dari balik senja itu.

Ketika kami bertemu dua bulan yang lalu, Dung-Dung sedang masa break dengan kekasihnya yang sudah dipacari hampir 10 tahun. Mungkin ia sedang jenuh, lalu hadirlah sosok gue yang mengisi harinya. Gue sadar, gue mungkin hanya dijadikan tempat singgah sementara. Akal sehat gue mengingatkan agar hati gue tak boleh jatuh pada pria itu. Namun perasaan sayang tak dapat terbantah lagi

Diam-diam, gue berharap Dung-Dung akhirnya akan meninggalkan kekasihnya. Lalu menyandarkan pilihan hatinya pada gue. Itu mengapa, sore tadi di perjalanan itu, akhirnya ada keberanian besar di diri gue untuk jujur pada Dung-Dung hari ini. Ya, hari ini juga. Gue bahkan menuliskan kata-kata yang akan gue ucapkan. But now it’s too far.

Gue mengalihkan menu pesan masuk ke menu memo pada ponsel. Mata gue tertuju pada daftar teratas memo itu, tulisan yang gue buat untuk dikirimkan pada Dung-Dung. Namun sekarang tak ada gunanya lagi.

Do you want to delete notes?

Yes.

Tulisan itu pun terbuang, seperti perasaan gue yang belum sempat tersampaikan. Meski begitu, gue yakin dia sudah mengetahui isi hati gue. Itu mengapa dia menyampaikan maaf di pesan terakhirnya. Satu hal yang gue sesali, lalu membuat batin ini merintih,

Seharusnya aku memberitahumu kemarin, saat langit masih biru.