My Favorite Song

Sekitar 15 tahun yang lalu, gue pertama kali mendengarkan satu lagu yang langsung gue suka di sebuah warnet. Kala itu internet baru saja mewabah di kalangan pelajar.

Sepertinya gue sedang asik ber-mirc (anak 90-an pasti tau :p), ketika speaker di sudut langit-langit ruangan mendendangkan sebuah lagu. Gue enggak langsung familiar dengan musiknya, karena di usia belia saat itu sedang menggandrungi lagu-lagu milik para boyband. Jarang ada lagu yang dinyanyikan suara wanita bisa diterima telinga gue.

Tapi nada lagu itu langsung ketanam di benak gue. Dan dengan kemampuan berbahasa asing yang masih nol, gue tak mampu merekam liriknya dalam ingatan. Sekarang sih mudah saja, tinggal ketik beberapa kata lirik di google, lalu kita bisa mendapatkan jawaban lagu yang kita cari.

Jadi yang bisa kuingat saat itu adalah beberapa kata yang kira-kira begini,

“Na na na na na na, hmmmmm..na na na na.”

Setelah lagu selesai diputar, langsung gue hampiri mas-mas penjaga warnet. “Mas, nanya dong, itu lagu barusan judul dan penyanyinya apa ya?”

Yang ditanya malah memasang raut muka bingung. “Waduh, Dek, saya gak dengerin. Tadi penyiar radionya gak sebutin ya?”

Gue menggeleng dan dengan langkah gontai kembali ke balik monitor yang gue sewa.

Berhari-hari setelahnya, lagu itu masih terekam jelas di pikiran gue. Terkedang gue masih bisa mendendangkannya sendiri. “Na na na na na na, hmmmmm..na na na na.”

Waktu berlalu, gue masih belum juga menemukan judul dan penyanyinya. Guepun sudah enggak pernah mendengarkannya lagi, sampai beberapa tahun kemudian ketika gue baru mengenyam pendidikan tingkat tinggi.

Pulang kuliah, gue mampir ke warnet terdekat dari kos untuk mencari bahan tugas kuliah. Ya, sesekali main game online dan chatting dengan teman-teman SMA melalui Yahoo! Messenger.

Tiba-tiba, lagu yang bertahun-tahun membuat gue penasaran, terdengar kembali dari alat pengeras suara yang terpasang pada komputer mas-mas penjaga. Tanpa banyak ba-bi-bu, gue menghambur ke meja penjaga untuk menanyakan lagu yang masih 1/4 terputar.

“Mas..mas, ini lagu apa yang lagi diputer?” Tanya gue terburu-buru.

Sambil memainkan telunjuknya pada scroll mause, si penjaga berkata. “Bentar ya, Mbak, saya lihat dulu di winamp.”

Masih gue ingat, dada gue berdegup kencang menanti jawabannya.

“Sunny Came Home. Penyanyinya, Shawn Calvin.” ujarnya.

Aha!

Enggak ada perasaan yang dapat mewakili isi hati gue saat itu, lega. Rasa penasaran bertahun-tahun terbayar sudah. Tentu saja gue langsung meng-copy file lagu tersebut di flash disk gue.

Kalau dulu gue kembali ke tempat duduk dengan lemas, akhirnya gue bisa melompat kecil kegirangan.

Peristiwa bertahun-tahun silam itu, kini baru gue sadari hikmah yang bisa dipetik.

Bayangkan jika, saat remaja dulupun gue langsung mengetahui lagu dan penyanyinya juga enggak ada gunanya. Belum ada teknologi USB yang bisa menyimpan file-nya seperti yang bisa gue lakukan saat kuliah. Dan mungkin lagu Sunny Came Home jadi engak begitu berkesan. Malah mungkin terlupakan begitu saja.

Dengan penantian bertahun-tahun itu, membuatnya terasa sangat berkesan dan rasa senang yang luar biasa ketika mendapatkannya.

Layaknya penantian terhadap separuh jiwa kita. Enggak ada yang perlu dikhawatirkan, sesuatu yang sudah digariskan akan bersama, pada akhirnya akan bersama pada waktu yang tepat. Mungkin bisa sebentar, atau memerlukan waktu yang lama. Enggak masalah.

Dan dari Sunny Came Home gue pun memahami, hanya karena gue enggak bisa mendapatkan yang gue inginkan sekarang, bukan berarti gue enggak bisa mendapatkannya nanti. Yang penting harus yakin.

Ini nih lagu Sunny Came Home yang gue suka banget itu 😀

 

 

 

Advertisements

Pindah

Menyambut pergantian tahun kemarin, gue menginap di salah satu hotel berlokasi di Setia budi, Kuningan. Tanggal 31 sore ketika itu, tanpa sengaja gue melihat persis di sebrangnya ada kos yang sedang menerima penghuni baru. Hanya tersisa 1 kamar. Gue iseng menyatroni kos-kosan bernama Kencana Residence tersebut. Seperti cinta pada pandangan pertama, gue langsung suka. Harganya juga cocok.

Tanpa pikir panjang, gue langsung yakin banget akan pindah kos segera. Rencana ini sebenarnya sudah berbulan-bulan lamanya gue pertimbangkan, tapi enggak kunjung terlaksana.

Mungkin karena selama ini kurang yakin jadi berat rasanya meninggalkan kos lama. Terlebih kenangan di dalamnya yang sulit gue lepas. #tsah

Sama kayak move on sih, kalau dipaksain banget malah enggak berhasil. Ujung-ujungnya ya balik lagi balik lagi. Tapi kalau enggak diniatin malah dimudahkan jalannya.

Seperti gue yang secara tiba-tiba menemukan ‘rumah’ baru dan yakin akan keputusan untuk pindah. Suasananya pun mendukung. Tahun baru, penampilan baru, dan tempat tinggal baru.

Tapi ternyata, kepindahan gue ke kos baru ini belum dikehendaki sama Allah.

Sebelum gue memberi uang tanda jadi, tentunya harus memastikan dulu apakah kendaraan tersedia untuk mobilisasi dari kos lama ke baru. Karena kalau gue enggak mau dibebankan biaya sewa bulan Januari di kos lama, ya gue harus pindah di hari pertama bulan Januari ini juga!

Segeralah gue mencari sana sini sewa mobil untuk membantu kepindahan. Sayangnya, mungkin karena masih suasana libur agak sulit mendapatkannya. Sekitar jam 5 sore, barulah confirm kalau mobilnya siap dipakai. Lalu gue langsung menghubungi penjaga kos baru untuk mengabari kalau gue jadi menghuni kamar itu.

Dan si Mas penjaga pun sebelum menjawabnya malah mengambil nafas panjang dan membuangnya perlahan. Perasaan gue enggak enak.

“Baru saja sejam lalu ada yang isi. Maaf ya, Mbak.”

Gue telat! Cuma selisih satu jam 😦

Emang belum jodoh sih ya. Kembali lagi, manusia hanya bisa berusaha tetapi Allah berkehendak lain. Gue, masih disuru menempati ‘rumah’ yang lama.

Morale of the story: mau pindah kos aja kok ya gue sulit banget sih. Apalagi pindah yang lain 😐

20140101-215340.jpg

Hair Cut

Perhatian:
Tidak disarankan membaca tulisan ini dengan diiringi alunan lagu Wracking Ball-nya Miley Cyrus.

A woman who who cuts her hair is about to change her life. – Coco Channel

Yap, untuk memulai kehidupan baru gue di 2014 ditandai dengan potong rambut. Sebenarnya emang karena rambut gue yang sudah makin banyak rontok dan ujungnya yang agak kelihatan bercabang sih.

Selama 2013 kemarin gue mempertahankan rambut gue, sama sekali enggak dipotong (kecuali poni) demi memiliki impian punya rambut panjang sepunggung. Bayangin aja ya, satu tahun gue menunggu dan apa yang terjadi? Rambut gue malah rusak. 

Padahal kata hair styler, kalau mau rambutnya mudah panjang mesti sering dipotong ujungnya yang ‘mati’, jadi bisa memancing pertumbuhan. Hal itu juga sudah gue lakuin dan tetap saja rambut gue enggak bisa panjang lagi. Lima senti meter lagi aja menuju panjang rambut impian gue tapi tetap enggak bisa. Dan sudah satu tahun lho, catat, SATU TAHUN!

Emang nih, rambut gue sepertinya sudah mentok. Sama kayak hati gue…

EAAAAAA.

Menjelang penghujung tahun 2013 kemarin, gue iseng ke salon di Plaza Senayan. Niatnya cuma mau rapihin aja karena gue masih keras kepala (dasar taurus) untuk mempertahankan rambut panjang gue. Resolusi punya rambut sepunggung yang gak kesampaian di 2013 ceritanya mau gue lanjutin di 2014.

Karena salon di PS ini bukan salon langganan, jadi gue asal saja memilih hair styler yang akan merapikan rambut gue. Baru aja memegang beberapa helai rambut gue, dia sudah komen begini.

“Rambut kamu tuh tipis dan halus. Makanya rontok, dipanjangin sih. Maksimal tuh biar tetap sehat ya sebahu aja, boleh lah lebih sedikit.”

Bengong lah gue. Sebahu? Hellooo, not even in my wildest dream. Gue sahutin aja komen si Mbak itu.

“Yah, saya maunya punya rambut sepunggung. Udah setahun nih manjangin, tapi kok sepertinya mentok ya.”

“Ya seperti kata saya tadi. Rambut kamu enggak mampu lagi tumbuh lebih panjang, karena enggak sehat. Akhirnya malah jadi rontok. Dipotong sebahu aja ya?”

ENGGAAAAAK MAUUUUU.

“Kamu pilih mana? Panjang tapi enggak sehat atau pendek tapi sehat? Kamu enggak sayang ya sama rambut sendiri dibiarin enggak sehat begitu?”

DEG!

Ucapan dia sedikit menampar gue. Enam puluh detik kemudian membawa gue pada titik yang akhirnya membuat gue sadar. Ternyata, selama 2013 ini gue sudah mempertahankan sesuatu yang salah.

Setahun gue menunggu rambut yang bisa panjang sepunggung dan hasilnya tidak sesuai harapan.

Setahun, sejak awal membuka lembaran 2013 bersamanya di samping gue-seseorang dari masa lalu yang kembali lagi ke hidup gue- gue menunggu keajaiban dia akhirnya akan menjadikan gue bagian dari masa depannya. Menunggunya dengan sabar untuk meresmikan hubungan kami ke jenjang lebih serius.

Di telinga gue, suara si Mbak salon yang mengatakan sel rambut gue sudah rusak sehingga enggak bisa panjang lagi bergantian dengan suara si dia yang menyatakan bahwa gue enggak bisa menjadi calon isterinya. Dia sudah sangat yakin dengan keputusannya itu, kalau kami hanya bisa menjadi sepasang sahabat.

Gue sudah memaksakan sesuatu yang tak mungkin. Lalu, apa lagi yang masih gue tunggu?

Rambut gue sudah rusak, serusak hati gue karena kenyataan pahit bahwa punya rambut panjang dan menjadi isterinya itu hanya mimpi belaka. Mimpi yang tak akan menjadi kenyataan dan sudah seharusnya enggak boleh lagi gue teruskan di kehidupan baru gue.

Lima senti meter lagi aja menuju panjang rambut impian gue tapi tetap enggak bisa. Me and him, we’re just a breath away. So close yet so far. Gue masih tak mampu merebut hatinya. 

In the end, all the things that matter is how to gracefully let go of things not meant for us. No?

“Oke, Mbak. Aku siap dipotong rambutnya.” Ucap gue dengan mantap. 

Image

I’m ready to let you go.

Akhirnya, pergulatan gue selama setahun untuk mempertahankan atau melepaskan selesai sudah. Keputusan yang gue pilih atas dasar kesayangan gue pada diri sendiri. Gue enggak boleh membiarkan rambut gue jadi makin tidak sehat. Begitu pula dengan hati gue.

Image

Happy new year everyone. May 2014 be your best ever.

Curriculum Vitae: (Pernah) Melontang-lantung

Week end kemarin, waktu gue balik ke rumah si nyokap cerita kalau teman lama bokap gue berkunjung dan dia bawa anaknya. Gue udah sakit perut duluan, apa gue mau dijodohin? Gue mulai panik dan dag dig dug mikirin ganteng enggak ya doi…

Ah, tapi ternyata itu cuma pikiran jelek gue aja. Anaknya perempuan, dan mereka memang datang membawa lamaran. Tapi bukan lamaran pernikahan, melainkan mereka datang untuk minta tolong dicarikan pekerjaan oleh gue. Gue? Enggak salah tuh?

“Mia kan sekarang sudah sukses, bisa kali ya bantuin anak saya dapet kerjaan.” Ujar sebut saja Om A, si teman bokap gue itu, yang diceritakan ulang oleh nyokap gue.

Amiin kalau gue dibilang sukses. Tapi gue cuma pegawai biasa, kantor gue bukan punya moyang gue yang bisa dengan gampang masukin kerabat untuk bekerja di perusahaan. Bukan, gue juga cungpret.  Gue pun dulu melalui tahap yang panjang untuk akhirnya bisa bekerja di tempat gue sekarang untuk mengais lembaran rupiah.

Tapi gimana gue enggak terenyuh mendengar cerita si Om A, anaknya baru saja lulus tahun ini dengan mengantongi gelar Sarjana Ekonomi. Dia sudah mengirimkan lamaran ke pabrik-pabrik yang tersebar di daerah Anyer dan Merak, yang merupakan domisili tinggal mereka tapi sampai sekarang belum ada hasil. Minta bantuan sampai ke rumah gue mungkin sudah pilihan terakhir. Sayangnya, gue enggak bisa kasih janji.

Pertama, karena gue tahu kantor tempat gue bekerja tidak sedang membutuhkan karyawan baru. Membawa lamarannya ke HRD hanya akan memberikan harapan palsu, karena gue tahu paling-paling ditumpuk begitu saja. Kedua, jika sedang open recruitment pun kantor gue menggunakan jasa pihak luar, sehingga lamaran pun diproses melalui mereka.

Duh enggak tega sih, tapi biarlah. Lontang-lantung dan berjuang dapat pekerjaan adalah proses yang harus dilalui setiap insan yang baru lulus kerja. Pernah melontang-lantung kalau bisa dimasukin di CV, masukin deh. Idealisme mengaplikasikan ilmu saat kuliah jadi bikin semangat untuk cari kerja sana – sini. Justru kalau menurut gue sih, akan lebih kerasa manis ya, mengingat susahnya dulu cari kerja. Dan gue pribadi jadi menghargai usaha gue sendiri dengan enggak menghamburkan hasil jerih payah gue dan bekerja dengan baik, di tengah banyaknya isu korupsi dan gratifikasi yang lagi populer sekarang ini.

Ah, gue jadi inget bukunya si Roy, sahabat sekaligus rekan berbagi royalti di Trave(love)ing. Judul bukunya  Lontang-Lantung, sebelumnya berjudul Luntang Lantung. Justru awal tahu kalau Roy itu penulis ya lewat Luntang-Lantung ini. Sekarang, dicetak ulang dengan judul sedikit diperbaharui karena mau difilmkan! Tuh berarti keren kan bukunya. Emang keren.

photo (41)

Ceritanya simpel dan mewakili anaknya si Om A banget. Lulus kuliah, so what’s next?

Dari awal Roy memperkenalkan tokohnya yang bernama pasaran (dan mirip nama mantan gue, hiks) saja sudah bikin nyengir, gue ketawa terus setiap membalik halaman demi halaman. Sesuai judulnya, sudah bisa diduga jalan ceritanya yang mengisahkan susahnya cari pekerjaan.

Well, rata-rata dari kita semua pernah mengalaminya kan? Berbekal ijazah kuliah, pengetahuan yang dijejali dosen selama kurang lebih 4 tahun, dan doktrin lulusannya paling sial jadi Menteri (ehm, itu sih moto sombongnya kampus gue), bikin anak kuliahan yang baru lulus dan beridealis tinggi untuk mendapat pekerjaan yang bagus.

Sama kayak gue dulu, sama dengan si tokoh di Lontang Lantung itu, dan begitu juga dengan anak si Om A tadi. Ada hal yang karena idealisme yang dianut tersebut bikin kita gengsi bekerja di tempat ecek-ecek. Kita lupa satu hal, angka pengangguran setiap tahun tinggi, bro. Yang penting cari pengalaman dulu, untuk batu loncatan jenjang karir berikutnya. Jangan malu meski hanya mengawali karir sebagai seorang salesman oli XD

Om A melihat kantor gue yang menurutnya oke, lalu berusaha memasukkan anaknya agar bisa bekerja di situ lewat gue. Mana bisa instan, apalagi gue sendiri yang mengalami harus melewati beberapa tahap tes. Mulai dari psikotest menjumlah deretan angka yang bikin tangan keram dan leher pegal-pegal. Sampai diskusi kelompok yang membahas barang apa yang harus dibawa ketika terjebak sendirian di bulan. What the hell are you thinking going to the moon and stuck there??? Hadeh.

Tapi sebenarnya gue cukup beruntung, enggak salah ambil jurusan yang sejujurnya dipilihkan sama nyokap gue dulu. Ingat tentang tulisan gue yang cinta banget sama pelajaran fisika? Dulu cita-cita gue ketika SMA adalah melanjutkan studi teknik sipil. Adalah nyokap gue yang menentang habis-habisan pilihan gue. Kata dia, masa perempuan jadi tukang bangunan?? Ya kali Maaaaah. Satu-satunya alasan gue menuruti maunya nyokap adalah, doi saat itu sampai sakit-sakit yang belakangan gue tahu kalau itu cuma taktiknya saja. Pffft.

Karena gue waktu sekolah ada di jurusan IPA, untuk mengambil ujian SPMB (sekarang namanya apa ya?) maka gue harus mengambil ujian IPC. Gue tuh benci banget sama mata pelajaran IPS kayak ekonomi, akuntansi, dan geografi. Kecuali pelajaran sejarah yang gue suka banget, itu kenapa kali ya gue suka terjebak di masa lalu. Eaaaa.

Jadi untuk bisa jebol pilihan pertama SPMB yaitu akuntansi, gue sampai ikut les ,pemirsa. Itupun tetap saja nilai try out gue jelek. Tapi memang gue sudah digariskan untuk jadi akuntan, akhirnya gue berhasil tembus jurusan akuntansi di salah satu kampus favorit yang ada di Depok. Dan akhirnya, gue menjadi auditor garis keras sampai sekarang.

Awalnya jadi auditor, karena ya mana lagi kantor yang menerima karyawan belum lulus untuk bekerja? Sambil menunggu jadwal sidang kompre gue keluar, daripada enggak jelas di kampus gue dan beberapa teman melamar ke KAP 2 huruf yang lokasinya di twin towers bilangan SCBD. Seminggu setelah wawancara gue langsung diterima, lalu besoknya mulai bekerja, tepatnya tanggal 1 Desember 2005 (Njir, sudah lama banget ya gue kerja, kalau anak sih sudah masuk SD). Enggak tanggung-tanggung, langsung dijeburin ke kantor klien yang alhasil bikin gue nangis karena berantem sama klien di hari pertama kerja.

Begitu berat kerjaan gue sampai-sampai ketika besoknya sidang, malamnya masih lembur. Tega pisan ih. Gue lulus kompre bulan Januari 2006, diwisuda bulan Februari 2006.  Empat bulan kemudian diangkat jadi karyawan tetap dan akhirnya pensiun dini di bulan September 2009.

Lalu apakah gue akhirnya pensiun juga dari profesi auditor? Enggak, gue masih dikasi rejeki sebagai auditor. Di kantor setelah KAP dua huruf pun, gue masih bekerja sebagai auditor. Biarlah tetap menjadi auditor sampai tua dan enggak pernah merasakan jadi auditee, tapi paling enggak pernah ‘ngerasain’ auditee. Aeeeeh mati luh.

Enggak komplit rasanya hidup lo, kalau enggak pernah merasakan cinlok sama teman kantor. Atau dalam kasus gue tadi, flirting sama klien. Di Lontang-Lantung juga dibumbui dengan kisah cinta yang makin bikin buku ini uhuk-able. Uhuk!

Kembali ke anaknya si Om A tadi, untuk menghiburnya dan membuatnya semangat dalam mencari pekerjaan, gue putuskan untuk menitipkan buku Lontang-Lantung untuknya. Mungkin melalui buku ini, dia bisa jadi ada gambaran untuk menjalani proses pencarian kerja dan bagaimana dunia bekerja yang digamblangkan Roy dengan apa adanya. Apalagi di buku ini ada tips kerja yang lucu tapi enggak ngawur.

Gue sudah baca sampai habis dan selain bikin ngakak, buku ini benar-benar bikin nostalgia jaman dulu mencari kerja. Gue sangat terhibur dan gue harap anaknya si Om A juga merasakan yang sama.

Ada beberapa bagian yang gue suka banget di buku ini, pertama adalah quotes bangkek khas Roy yang menghiasi setiap pembuka bab. Ini nih yang paling nyeleneh, “Berusahalah sekarang juga, karena Senin harga naik!” Ngehek lo Roy. Kedua, unsur komedi yang diangkat Roy smart banget dan orisinil, contohnya tentang MLM. Penasaran kan?

Pastinya, Lontang-Lantung adalah salah satu buku yang dengan tuntas gue baca beberapa jam saja dan enggak ada satu bagian pun yang gue skip. Komplit karena bahasa yang mudah dimengerti dan alur cerita yang enggak bosenin.  Jadi, buat yang lagi mencari atau sudah duduk nyaman di kursi kantornya, gue rekomendasiin untuk baca buku Lontang-Lantung.

😀

myaharyono.com Giveaway!!!

20131106-104253.jpg

Whoooaaa ternyata hari ini myaharyono.com udah dua tahun! Duh uwuwuwu-able banget sih, udah bisa lari deh tuh kalo jadi bocah.

Nah dalam rangka dirhahayu blog tercinta gue ini, ada giveaway buat kamu-kamu pembaca setia blog ini. Asiiik kaan?

Caranya gampang deh. Tulis komen di postingan ini, tulisan gue yang mana yang jadi favorit kalian. Jangan lupa, tambahkan alasannya. Lima buku yang pernah gue terbitkan siap dibagikan.

Untuk komen teroke, ada voucher belanja menanti 😀

Gampang banget khaaaan, ditunggu seminggu dari sekarang okay 😉

Online Shop

“Eh, ada voucher sushi tei murah tuh di disdus. Beli yuk.” Ajak teman-teman kantor gue sekitar setahun yang lalu.

“Disdus? Apaan tuh?” tanya gue dengan bingung.

“Lo enggak tau disdus?”

Gue menggeleng.

“Deal keren?”

Gue menggeleng lagi.

“E-voucher?”

Lagi-lagi gue menggeleng.

“Ogah rugi?”

Hadeh. Itu sih tahu lah, siapa juga yang kepingin rugi. Teplok! Sebuah jitakan melayang ke kepala gue.

Rupanya saat itu gue ketinggalan info banget, kalau sudah menjamur jualan voucher makan dan barang via online shop. Istilah kerennya, virtual store. Disdus dkk itu salah satu yang mengusung jualan via internet dan memang laku. Selain praktis, mereka juga memberi harga promo yang lebih murah.

Karena saat itu gue tergoda untuk ikut membeli, akhirnya gue subscribe email untuk mendapat info promo setiap harinya. Alhasil, gue jadi ketagihan. Malah kadang jadi beli barang yang enggak penting-penting amat dan berujung cuma menuh-menuhin kamar doang.

Semakin maraknya online shop, ditandai dengan Facebook, Twitter, dan Istagram yang mulai beralih fungsi jadi tempat buka lapak. Awalnya Facebook, yang tiba-tiba saja gue dapet banyak notifikasi karena teman gue tag foto jualannya ke seluruh teman FB-nya. Setiap yang komen tentu saja jadi bikin rame dan bikin bb gue kelap-kelip saat itu.

Kemudian Twitter, yang promonya dilakukan dengan me-mention para buzzer untuk meretweet jualan mereka.

Yang paling ngenes sih Instagram, media yang seharusnya dijadikan ajang sharing photography dengan filter yang keren, sekarang malah penuh dengan akun-akun ig jualan.

“Cek ig kita, sis. Kami menjual bla bla bla..”

Ada jual jodoh? Gue beli deh 4 sekalian kalau bisa.

Akun IG yang berfollower banyak, seperti para seleb, sampai menyediakan jasa endorser untuk barang-barang online shop. Memang bisnis online shop ini sungguh menjanjikan.

Gue, sebagai cewek yang doyan belanja, jadi ikutan merubah list following IG gue dari akun-akun photography keren menjadi akun-akun jualan. Tapi emang murah kok, apalagi kalau yang dijual make up luar yang kalau di toko mahal banget. Pembenaran sih. Hehe.

Tapi kita harus jeli dan pintar ketika akan membeli barang online, karena resiko utama adalah kena tipu. Sudah transfer, eh barang enggak dikirim.

Gue sekali kena tipu, beli baju online dimana si penjual tidak menjawab semua email dan pesan gue. Yang begitu mesti di-blacklist. Sayangnya gue lupa nama OS-nya.

Itu kenapa gue rada percaya kalau beli lewat akun instagram, biasanya trusted seller. Bisa kelihatan dari komen-komen di fotonya. Atau cek followernya, kebanyakan aktif atau enggak. Bisa juga lihat foto testimonial dari customer yang mereka upload.

Dari IG, gue mulai melebarkan sayap ke Ebay dan Amazon. Awalnya karena gue kebelet pingin banget O’Clock edisi safari (ketebak lah ya motifnya jerapah) yang cuma ada di Italia. Dari hasil googling yang membawa gue ke ebay, lalu gue memberanikan diri daftar jadi member dan membuat akun di paypal.

Gue harus cermat memilih trusted seller yang terlihat dari tanda bintang yang bakal selalu membuntuti setiap seller. Gue juga enggak boleh terjebak shipping cost yang bisa mahal gila sampai Indo. Belum lagi ada resiko ditahan bea cukai. Langkah yang gue lakukan adalah mengontak seller dan nego shipping cost. Jangan lupa meminta mereka untuk menulis di paketnya sebagai ‘gift’, supaya aman saat di bea cukai nanti.

Ada sensasi yang beda ketika gue belanja online, gue bisa cukup dengan mengetik apa yang gue mau. And then I hit the search button. Surga seperti muncul di depan mata. Hal yang begini ini yang enggak bisa dilakukan kalau belanja langsung ke toko. Cape booo..harus hunting dari satu toko ke toko lain, ditambah jawaban pelayan yang kadang enggak banyak membantu.

Di web, gue juga bisa me-refine pilihan yang gue mau, seperti hanya munculkan barang dengan harga sekian dan free shipping only. Bagaimana dengan pembayarannya? Aman kah? Using paypal is highly recommended.

Mau tau rasanya saat gue berhasil deal dengan barang yang gue mau dengan harga murah plus free shipping? Kayak lihat pacar setelah seminggu enggak ketemu. Aeh.

Rasa excited tidak berhenti sampai di situ. Setiap harinya, gue memeriksa mail box gue a.k.a meja kantor karena gue lebih suka setiap urusan pos ditujukan pada alamat kantor. Dan ketika akhirnya gue melihat dari kejauhan, receptionist kantor gue membawa sebuah paket dan berjalan ke arah gue, senyum sumringah seketika merekah di bibir gue. Betapa bahagianya ketika paket bersampul coklat itu mendarat di genggaman gue.

Perlahan gue buka sampulnya, bersiap untuk melihat kejutan di dalamnya. Ya, barangnya sesuai dengan yang gue harapkan. Ah, senangnya.

Mungkin begitu rasanya, ketika akhirnya jodoh yang gue tunggu datang juga. Tanpa bosan gue berdoa untuk minta didekatkan dengan seseorang yang akan melengkapi hidup gue nantinya. Sama seperti yang gue lakukan ketika hendak memesan di online shop, gue terus mencari barang yang sesuai dengan yang gue mau dan gue butuh.

Lalu gue dengan sabar menunggu hari itu tiba dimana jodoh akan segera menghampiri. Seperti paket yang gue tunggu, mungkin kemasannya mengecewakan, tidak rapih, atau sedikit rusak karena tertumpuk di gudang penyimpanan kurir. Atau bisa saja barangnya tergores, menandakan tak ada yang sempurna di dunia ini. Jodoh gue nanti mungkin datang dengan hati yang pernah terluka, dan adalah tugas gue untuk mengobatinya.

Paket bisa saja terkirim salah alamat, sehingga waktu datang ke gue lebih lama dari yang gue harapkan. Itu kenapa jodoh gue belum sampai, mungkin dia saat ini masih bersama orang lain. Well, who knows?

Satu hal yang perlu dimiliki adalah keyakinan. Jika kita memang sudah memesannya dengan benar, paket tersebut pasti akan datang dan enggak akan tertukar. Layaknya jodoh, hanya masalah waktu saja. Begitu bukan? 🙂

A Note To The Groom

Dear Dendi,

In the next couple of days, lo akan jadi suami dari sahabat gue, Dian. Gila!!! Sumpah, mana pernah kepikiran sih kalau kalian akhirnya berjodoh?!!

Seperti tulisan lo beberapa waktu lalu, Plot Continues, tentang plot cerita hidup lo sampai akhirnya ketemu soulmate. Wellthere’s always two side of every stories, dan note ini gue buat untuk lo sang mempelai pria, dari gue sebagai maid of honor di acara akad nanti.

Eniwei, sedikit membedakan antara bridesmaid dengan maid of honor. Kalau bridesmaid bertugas sebagai pengiring pengantin saat resepsi, tapi kalau maid of honor di Indonesia biasanya mengantar pengantin dari ruang persembunyian menuju tempat akad. Malahan, kalau pengantinnya kebelet pipis, maid of honor harus siap menemani ke toilet dan membantu megangin kain yang melilit kakinya. Gimana kalau boker dong? Ah, biarlah itu nanti menjadi tugas si Gelaph, karena dia juga didaulat jadi maid of honor. Ahey.

Kembali ke tahun 2008, pertama kalinya gue ketemu Dian yang rambutnya masih kribo banget di halte BEJ. Kalau enggak salah saat itu adalah hari pertama dia kerja dan langsung mau diboyong ke kantor klien di Cikarang. Gue dan teman gue berasumsi kalau si Dian itu enggak disiplin. Kita lumayan menunggu dia lama di halte dan doi enggak muncul juga. Dengan kesal dan suara emosi ditingkatkan satu oktaf, teman gue memutuskan menelpon junior barunya itu.

“Dian, ya? Kamu dimana? Kok belum datang juga?”

“Sudah kok, aku di halte BEJ dari tadi.” jawab si Dian dengan suara gemetar, dia pasti ketakutan.

“Dimananya?”

Kok gue bisa dengar suara si Dian ini dengan jelas ya? Kan percakapan mereka via telpon. Ehhhh, ternyata si Diannya ada persis, pantat-pantatan, sama gue. *tepok jidat*

Sejak itu, kita sering bekerja dalam satu tim dan jadi teman di luar kantor. Ketika sudah sama-sama resign adari kantor kami dulu yang berada di BEJ, kita masih sering main bareng. Apalagi setelah Dian memutuskan pindah ke kamar yang kosong di kos gue.

Dear Dendi,

Selain menjadi penghubung tali kasih (tai banget bahasanya) di antara kalian, harap diketahui juga kalau gue adalah salah yang bertanggung jawab atas jadiannya Dian dengan mantan sebelum lo. Gue bisa tau banget siapa yang Dian taksir, meski anaknya enggak bilang.

Sama kayak dulu dia lagi kesengsem sama mantannya itu, meski dia enggak ngaku tapi gue punya feeling kalau sedikit-sedikit Dian pasti suka sama lo. Itu kenapa–mungkin lo lupa–waktu lo anterin buku-buku Trave(love)ing untuk dikirim ke endorser ke kos gue, pertama kalinya gue bilang sama lo, “Den, enggak mau coba sama Dian? Dia jomblo lho.”

Lo, Den, kaget waktu itu. Mungkin ucapan gue enggak pernah lo duga sebelumnya, terlihat dari kuping lo yang gerak-gerak maju mundur, bola mata yang muter-muter, hidung yang kembang kempis, dan mulut yang nganga. Sumpah Den, jelek banget deh.

Melalui note ini, gue sekaligus mau pengakuan dosa. Sebenarnya, gue dan Gelaph sudah mengatur awal kedekatan kalian. Buku-buku Trave(love)ing sengaja di-drop di kos Dian (saat itu gue dan Dian sudah pisah kos), jadi lo bisa ketemu Dian untuk ambil buku dan tentu saja jadi punya kesempatan untuk berduaan.

Setelah itu, berbagai skenario mulai dicetuskan. Pergi ke PRJ dan nonton bareng, adalah bagian dari alur yang gue dan Gelaph buat. Emang gue berbakat dalam hal ngejodohin Dian, dulu sama mantannya dan sama lo pun berhasil, Den. Sebenarnya sih, karena Dian itu nurut banget sama gue. Enggak cuma dalam hal kerjaan, tapi urusan percintaan juga 😀

Dear Dendi, sebelum nanti secara resmi gue bersama Gelaph mengantar Dian ke lo, ada beberapa hal yang gue harap lo perhatikan.

1.       Pastikan dalam rumah tangga kalian nanti selalu tersedia makanan. Dari jaman dulu sampe sekarang, hobinya ya cuma makan.

2.       Belajar masak dan beberes rumah ya. Selain doyan makan dan menghabiskan makanan lo, doi juga pemalas. Pantes gendut!

3.       Rajin olahraga, biar badan lo fit karena ditindih semalaman sama dia. Demen banget deh doi mepet-mepet kalau bobok -___-“

4.        Jangan macem-macem, Dian itu stalker abis. Kalau udah stalking apapun enggak pernah nanggung.

5.       Enggak perlu pusing masalah uang, Dian beda sama cewek pada umumnya yang enggak nuntut harus punya barang-barang branded atau mahal. Gue sama Gelaph juga sih, kita bertiga tuh enggak neko-neko kok.

(Lah, jadi  curcol!)

6.       Berkaca pada orang tuanya Dian, kalian tua nanti ya bakal begitu. Yang sabar ya, Den 😉

7.       Jatuh cintalah padanya berkali-kali, setiap hari. As if you just met her for the first time.

 

Last but not least, jaga sahabat gue baik-baik ya. Jangan pernah lukai hatinya, meski gue tau lo enggak akan pernah melakukannya. Jadilah suami yang bertanggung jawab dan bisa menjunjung tinggi martabat Dian dan keluarga kecil kalian kelak.

Lo, Den, sahabat terbaik gue sejak kita masih sama-sama berseragam putih-abu. Gue sudah sejak lama mengikuti setiap babak hidup lo, pasang surut kisah cinta lo, dan sekarang gue sangat bahagia karena akhirnya hati lo berada pada wanita yang tepat.

Selamat menuliskan plot berikutnya di bab kehidupan yang baru, Dendi dan Dian.

ddwedd