Perkara Setelah Putus

Nothing Last Forever.

Baru dua minggu yang lalu aku dan dia yang kusebut sebagai kekasih itu, masih bersama memadu kasih dengan bahagia. Setidaknya, aku bahagia. Dan aku pun mengira, dia juga merasakan hal yang sama.

Aku salah. Ah, aku tak tahu salahku dimana. Tiba-tiba saja hubungan kami terasa aneh. Pertengkaran tak bisa dihindari dan kata ‘putus’ terucap dari bibirnya.

Orang bilang, mencintai dengan tulus itu adalah dengan merelakan. Karenanya aku tak menentang kemauannya dan permintaan putus itu aku iyakan, dengan satu keyakinan jika kami berjodoh pasti ia akan kembali padaku.

Ada yang aneh di hari pertama menyandung status jomblo, mengingat keseharianku yang selalu bersamanya. Keinginanku untuk mengetahui kabarnya membuncah, namun akal sehat melarangku untuk menghubunginya. Dia sudah bukan lagi pacarku, logikaku terus mengingatkanku akan hal itu.

Meski begitu, hatiku tetap memegang teguh bahwa dia akan menghubungiku.

Dia pasti kangen.

Dia pasti akan minta balikan.

Benar saja, sebuah pesan kuterima darinya di malam kelima setelah perpisahan kami.

Satu kata panggilannya kepadaku yang cukup membuat jantungku berdegup kencang.

Benarkan apa kubilang, ia tak tahan juga berdiaman denganku lebih dari tiga hari, aku tersenyum dalam hati.

Aku langsung balas pesannya dengan sedikit jual mahal, “Ya, ada apa?”. Ah, tak mengapakan karena aku seolah di atas angin.

Aku merasa gugup menunggu kata-kata yang akan muncul di layar ponselku.

My ex lover is typing…

“Kita kan sempat beli tiket liburan berdua sebulan yang lalu, cancel aja ya. Bisa kamu transfer uang untuk bayar tagihan kartu kreditku secepatnya?”

F**k this! Bagaimana aku bisa lupa aku masih punya hutang padanya?

Ternyata setelah putus, lantas hubungan dua orang kekasih tidak serta merta berakhir. Ada banyak perkara setelahnya yang harus diselesaikan terlebih dulu.

P.s. Kalau masih pacaran, jangan beli tiket liburan berdua jauh-jauh hari. Kita enggak pernah tau masa depan bukan? 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Perkara Setelah Putus

  1. Ya ampun mbak Myaaaaa.
    Bacanya nyesek bangeeeet.
    Kirain dia mau minta balik. Atau paling tidak, bujuk rayu dikitlah.
    Hati masih dalam keadaan berduka begini, malah malah bahas utang? Sialan bener mantanmu mbak!
    Upss maaf, bukan maksud kasar, tapi sungguh, sebagai pembaca, rasanya saya kesel sampe ke ubun-ubun.
    Kamu gak balikan sama dia kan mbak?

    Kalo dalam kasusku sih, saya yang keseringan bilang putus, trus barang-barang dia yang sempat kupinjam, termasuk semua pemberiannya (yang tergolong mahal) kubalikin langsung. Padahal dia gak minta.
    Sumpah mbak, mantanmu bajingan. Pengen jedotin ke tembok.
    Astagfirullahalazim.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s