Half Life Part 2

Sebenarnya udah lama banget gue pingin nge-post tulisan ini. Tapi berbulan-bulan cuma nangkring di draft gue. Kenapa part 2, karena sebelumnya pernah menulis posting-an dengan judul yang sama.

Biar enggak bingung, baca dulu deh ya part 1-nya.

Udah?

Nangis?

Haha.

Half Life, lagu yang diciptakan sendiri dan dinyanyikan oleh Duncan Sheik. Pertama kali gue tau lagu itu dari sahabat gue, ya you know lah. Konon, lagu itulah awal gue mulai jatuh hati sama dia. (Konon, bisa jadi cuma legenda :p)

Lagunya sedih banget, tapi nyandu! Denger deh nih youtube-nya.

Dan Alhamdulillah, gue berkesempatan bisa nonton konsernya Duncan Sheik di Bandung sekitar bulan Juli tahun lalu. Luar biasa rasanya mendengarkan lagu favorit gue dinyanyiin langsung sama penyanyi aslinya!

Tulisan ini adalah tentang cerita di balik konsernya yang enggak pernah gue share sebelumnya.

Back to July 2011.

Saat itu sedang masa krisis-krisisnya hubungan gue dan si sahabat gue itu. Demi membuat gue melupakan sayangnya sama dia, dia pernah benar-benar pushing me away. Semua BBM gue di-ignore. Kami saling diam berhari-hari.

Untungnya gue dinas ke Bandung setelah itu, jadi lumayan enggak terbebani sama pertengkaran dengannya. One week getaway really worked for me.

Dan munculah kabar tentang konser amal kecil-kecilan Duncan Sheik di Dago Pakar. Tiketnya 300ribu sajah! I was like, seriously? Pas banget gue di Bandung pula. Gue langsung kontak temen gue di Bandung dan dia mau nemenin, ahey! Senang bukan kepalang rasanya gue akhirnya bisa nonton musisi favorit gue itu.

Tiket Duncan Sheik
Tiket Duncan Sheik

Lalu gue-pun saat itu menuliskan sebuah tweet.

Nonton konser Duncan Sheik bareng kamu, dengerin lagu kita Hakf Life dinyanyiin langsung penyanyinya. #Impossible

Mana mungkin, pertama konsernya di Bandung dan si kamu di Jakarta. Bisa aja sih sebenarnya, tapi kedua, kan lagi musuhan.

Lalu muncul notifikasi Twitter di smartphone gue.

Dari si Kamu!

Sebuah reply dan terdiri satu kata “Mauuuuu”.

I was totally upset at that time, and his reply wouldn’t make me feel better. At all. I didn’t comment his ‘mauuu’. I kept on silent.

Lagipula kalau emang benar-benar pingin kenapa enggak usaha baikan sama gue dan nyusul untuk nonton konsernya?

Jadilah, di jumat malam ketika itu, gue tetap nyuekin mention-nya dan menikmati setiap alunan lagu yang dinyanyikan Sheik yang sudah mulai menua ini. (Waktu jaman gue SMP doi masih seganteng John Mayer gitu deh :*)

This is it, pikir gue saat itu, pas MC meneriakkan, “Let’s give it up for Half Life.”

Gue langsung merekam moment membahagiakan itu, dan saking menghayatinya tanpa sadar mata gue meneteskan air. Ada bahagia, haru, sedih. Bercampur.

I wish you were here. This is our song…

Ini hasil rekaman gue: Half Life.

Lagu Half Life selalu menjadi penyelamat hubungan gue dan sahabat gue itu. Saat awal-awal pisahnya kami, tulisan gue di Half Life part 1 yang membuat kami jadi dekat lagi.

Setelah pulang ke Jakarta dari Bandung dengan perasaan bahagia abis nonton Sheik, kami baikan lagi.

Dan ketika akhirnya hubungan kami benar-benar mengikis selama berbulan-bulan. Puncaknya bulan April 2012, kami bertengkar hebat. Pertengkaran yang diawali oleh keputusan gue yang ingin melepaskannya, dengan menghapus semua kontaknya. Gue lelah dan tak lagi ingin mempertahankan hubungan apapun dengannya, bahkan persahabatan kami sekalipun.

Namun lagi-lagi Half Life mengingatkan kami mengapa kami akan terus menjadi sahabat di hati meski sudah tak dapat saling berinteraksi.

“Kalau lagi sedih, tetep denger Half Life ya. Gue ada nemenin lo lewat lagu itu. Sedangkan fisik gue, nggak lagi bisa. Gue harap lo bisa nerima.” ucap gue di akhir cekcok kami.

April 2012, resmi kami berjauhan, namun saling berjanji tetap berteman dan tak lagi saling membenci.

It’s great how one song can be a reason for two people to remain friends.

Well, good job, Sheik 🙂

Friends, Lover, Stranger, Next?

“Gimana penjualan bukunya, Mi?”

Basa-basi! Kata gue dalam hati. Setelah sekian lama enggak pernah saling berbicara dan tegur sapa, gue bertemu lagi sama ‘stranger-after-lover’ gue itu di suatu acara kantor gue yang melibatkan kantornya.

Nasib punya mantan satu gedung kantor ya gini, kapanpun bisa ketemu. Sejak hubungan kami memburuk, dari yang pernah saling pura-pura enggak kenal sampai menghindar udah pernah dijabanin. Dan ya, lama-lama capek sendiri. Tiap ketemu enggak sengaja di lingkungan kantor, atau terjebak di lift yang sama misalnya, kami pada akhirnya bisa saling tersenyum.

Dan di suatu sore beberapa bulan yang lalu, kami sama-sama berada di tempat yang sama. Mustahil rasanya untuk balik badan dan kabur. Buat apa lagi juga?

And that awkward moment saat tangan yang pernah saling, ehm bergandengan, cuma bersalaman dengan kaku. Untungnya, dia mau membuka percakapan duluan. Meskipun terdengar aneh menanyakan buku yang di dalamnya adalah cerita, yang terinspirasi dari kisah kami berdua.

Mencoba biasa, gue dengan excited menjawab “Udah best seller lho…” Fyi, saat itu Trave(love)ing sudah 1 bulan dan 3 minggu terbit di pasaran.

“Selamat ya.”

Untungnya salah seorang teman yang melihak ke-krik-krik-an di antara kami berinisiatif untuk mengajak gue pergi meningalkannya.

FIUH.

Terkadang gue iri sama orang-orang yang mantannya sudah berada entah di mana. Saling berjauhan itu lebih baik, no contact at all.

Ya bukan berarti karena masih sering ketemu mantan secara enggak sengaja lantas membuat gue susah move on. Udah enggak ngaruh lagi kok dengan apa yang pernah kejadian sama kita berdua. Tapi tetep ada perasaan sebel dan gondok ketika harus mendengar kabar orang yang pernah mengiris-iris hati gue. Apalagi sampe ketemu!

Dan memang ada hal-hal terkait si ex yang kadang masih berpengaruh buat kita, enggak ada kaitannya sama udah move on atau belum. Gue menyebutnya ‘The Ex Factor’.

Misal, siapa di antara kita dan ex yang dapet pacar duluan, or bahkan merit duluan! Atau, gue harus dapet pacar baru lebih lebih lebih lebih segalanya dari si mantan. Dan nggak jarang, ada juga yang pengen buat mantannya nyesel.

Ada. Setiap orang pasti punya ‘the ex factors’, tingkat kadarnya aja yang beda. Manusiawi kok.

Dan the ex factor gue adalah, karena masih suka ketemu, gue sekuat tenaga bersikap cool, supaya dia tau gue baik-baik aja tanpa dia. Meski dalam hati sih…”Mati lo, ketemu dia!”

Dan sekali lagi gue tekankan. Masih. Dipengaruhi. The ex factors. Bukan. Berarti. Belum. Move on.

Sudah move on, wajar masih ada the ex factors. Karena ga ada yang benar-benar bisa 100% di dunia ini, emas 100% aja sebenarnya 99 koma sekian. :p

Any way…

Gue sudah move on!

So, after moving on, what’s next?

Ada yang beruntung cepat move in ke orang baru.

Ada yang tetap saja malas berhubungan baik dengan mantan, karena memaafkan bukan berarti melupakan. Hal ini yang terjadi pada Roy, coba baca tulisannya di sini.

Gue?

Setelah menemukan moment move on, yang digambarkan dalam Trave(love)ing dengan analogi ‘melempar koper dari atas Burj Khalifa’, lalu apa?

Sebelum menceritakan perihal paska move on gue,  ijinkan gue berterima kasih dulu kepada pembaca Trave(love)ing, yang enggak sekedar baca, tapi juga mau ‘akrab’ sama para penulisnya lewat linimasa. Dan mereka enggak hanya menyimak tweet gue, Dendi, Gelaph, dan Roy, tapi juga mengikuti gosip-gosipnya.

Dan gue rasa udah banyak yang percaya sama celaan Mia Gagal Move On. Ya kan? Ngaku deh. Huh.

Gue maklum sih, secara timeline ketiga teman gue itu sering banget nyindir-nyindir gagal move on, pasti pada kepo kan. Dan yang benar-benar ngikutin, bisa sampe tau akun twitter si mantan gue itu. Pernah ada yang nge-mention loh!

Keseret timeline!! *emoticon senderan di tembok*

Di tambah lagi sama…strip comic bikinan Dendi Iseng Riandi, tentang kelanjutan kejadian di atas Burj.

Moment Move On gue
Moment Move On gue
Joke Gagal Move On
Joke Gagal Move On

Enggak gini woi!

Gue enggak nyalahin sih, ketika melihat dua orang mantan yang kembali dekat, pasti pada mikirnya ‘balikan’.

Tunggu, missing information sepertinya. Emangnya gue deket lagi gitu sama mantan? Celaan gagal move on kan pasti enggak ada, kalau memang enggak terjadi apa-apa antara gue dan si mantan.

Nyatanya, gue dan si mantan memang kembali bersahabat. Tapi bukan balikan.

Pada akhirnya gue hanya bisa menerima nasib yang harus gue jalani, bahwa Tuhan mungkin masih menginginkan persahabatan di antara gue dengan orang yang pernah gue sayang. Itu enggak gampang!

Setelah pertemuan yang membuat dia menanyakan buku gue itu, beberapa hari setelahnya kami bertemu lagi di lobi belakang kantor. Enggak cuma ‘say Hi’, tapi menanyakan ‘lagi apa?’. Ya sedikit masih kaku, karena kemudian kami sama-sama diam kayak orang bego. Lalu…

“Temenin gue ngerokok bentar mau, Mi?”

Modus (–,)

Enggak selesai sampai di ‘nemenin dia ngerokok’, well… sebenarnya bukan nemenin-tapi ngehirup asapnya-secara gue enggak ngerokok, di kesempatan lainnya kami masih bertemu lagi. Lucunya, bahkan dia akhirnya bertemu dengan ketiga penulis Trave(love)ing lainnya. Ngobrol bareng.

You know what, after all this time – after all the things happened between us, both of us realize that we value our friendship more than anything.

Dia pernah, selalu, dan akan terus menjadi sahabat gue. Gue anggap, pernah mencintainya adalah kesalahan dalam hidup gue, yang enggak akan gue ulangi lagi. Second chance enggak selalu identik dengan mencoba kembali, tapi kesempatan kedua ada hanya untuk saling belajar.

Gue sudah membuang kenangan kisah cinta bersama dia, tapi bukan kisah persahabatan kami.

Persahabatan kami yang tulus, semoga tak akan putus. Hey it rhymes!

Dan siapapun suami gue nanti, harus bisa bersahabat juga dengan ‘sahabat’ gue itu.

🙂

Orde Baru: Kangen Aja, Kangen Banget, atau Kepingin Lagi?

Disclaimer: Postingan ini bukanlah semacam artikel politik. Baiknya, keep reading deh, jangan diskip ya. Plissssss *melas*

Yang seangkatan sama gue, anak lama deh pokoknya, pasti masih inget banget jaman orde baru. Menurut Wikipedea, ini nih penjelasan mengenai Orde Baru.

Istilah Orde Baru dalam sejarah politik Indonesia dicetuskan oleh pemerintahan Soeharto dan merujuk kepada masa pemerintahan Soeharto (19661999). Istilah ini digunakan untuk membedakan dengan Orde Lama pemerintahan Soekarno. Setelah kejatuhan Soeharto, Orde Baru digantikan dengan Orde Reformasi (1999-sekarang).

Sedari lahir sampai tumbuh dan berkembang (ke samping) menjadi ABG labil, hidup gue di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto. Pemerintahan beliau, kalau istilah Londo kerennya sekarang, rauwis-uwis. Selain Presiden yang enggak ganti-gati, kabinetnya pun sama terus.

Jadi dulu tuh, sekali punya RPUL ya awet. Kabinet enggak berubah sampai lima tahun ke depan. Dan gue, hapal di luar kepala! Tiap kenaikan kelas, gue ingat banget ada tes dari guru gue yaitu menyebutkan nama-nama Menteri. Yaelah, cemen badaaaaaai!

Lemme recall a several list of Kabinet jaman gue SD yang suka secara random ditanya guru gue ya.

Menteri Dalam Negeri: Rudini

Menteri Luar Negeri: Ali Alatas

Menteri Peneranan: Harmoko (Beliau yang paling setia banget nih sama Pak Harto)

Menteri Sekretaris Negara: Moerdiyono (Lately, ngetop banget dengan perselingkuhannya dengan Machica Moechtar- artis dangdut)

Menteri Olah Raga: Akbar Tanjung

Cuma inget segituan hehe 😀

Lalu apalagi hal yang paling diingat pada saat jaman Soeharto? Kata Bokap gue sih nilai tukar Dolar saat itu yang murah banget, sekitar Rp2,500.

:O

Ngaruhnya apa ya buat gue? Saat itu enggak main Dolar juga gitu kan gue. Oh, pokoknya serba murah lah intinya. Tingkat daya beli penduduk saat itu lebih tinggi. Hmmm..ya ya ya..sebagai bocah SD yang selalu memakai rok merah, yang gue ingat saat jaman orba dulu selain para anak cowok bandel yang hobi ngangkatin rok para cewek, duit jajan gue 500 perak aja udah kebeli ini itu. Bisa beli orang-orangan, stiker Sailormoon, main tarik benang-kalau-kosong-dapat-agar-agar-cair, beli arum manis, anak emas, coklat ayam jago…banyaaaak!

Selain harga barang yang mureeeee, yang kentara oke dari jaman Orba dulu juga keamanannya. Meski saat itu gue tetap merasa enggak aman dari bocah SD mesum yang demen banget naro serutan kaca di bawah rok! Genggeeeees tau enggak seeeeeh!

Saat itu, enggak pernah ada yang namanya TERORIS. Mana pernah ada mall yang tiba-tiba mendapat ancaman bom, hotel/gedung yang tiba-tiba ada bom bunuh diri, perang antar warga, tawuran, dan kondisi mencekam lainnya.

Enak kan ya jaman dulu? Kangen enggak sih ngerasain hidup yang tenteram dan aman lagi kayak dulu?

Kangen aja? Kangen banget? Atau Kangen rainbow? Halah.

Gue mah sebagai masyarakat biasa, yang enggak suka politik, yang cuma mikirin bisa makan dan beli sepatu baru aja siiih….punya opini sendiri. Awam banget tentunya.

Sapa yang bilang jaman sekarang, masa setelah orde baru semakin membaik? Kurs Dolar yang semakin melemah, ekonomi yang enggak merata, kondisi politik yang enggak stabil, teroris di mana-mana, dan banyak minus lainnya.

Di tambah lagi pemerintahan yang makin enggak becus, presiden cuma bisa prihatin dan bikin album nyanyi. Hffff.

KECEWA.

Kekecewaan terhadap kondisi saat ini memang membuat kita jadi tiba-tiba romantis mengingat masa lalu. Yang diingat cuma yang indah-indah saja. Yang serba murah lah, serba aman lah.

Sadar enggak sih, sedikit banyak kesulitan di masa kini ya akibat ulah masa Orba itu dulu. Serba murah karena subsidi yang gila-gilaan. Akibatnya, hutang negara ini harus ditanggung sampai entah berapa turunan lagi. Yang katanya dulu serba aman itu, itu kan karena  tangan besi pemerintahan Pak Harto. Protes dikit dipenjara, ngelawan dikit dikarungin. Emangnya kucing dikarungin, terus dibuang. Kucing sih masih bisa balik ke majikannya.

Eniwei…

Namanya juga masa lalu, seenak apapun, seindah apapun, ya cukup diingat aja untuk belajar. Oke lah kangen sama kondisi dulu yang bagus-bagus (di jamannya) itu, tapi ya enggak juga kepingin balik lagi ke jaman itu. Keep on moving.

Kalau boleh meminjam istilahnya Barney di How I Met Your Mother:

Kamu tidak bisa memutuskan kembali ke masa lalu hanya karena telah terbiasa, apalagi jika kamu tau itu adalah sebuah kesalahan.

Did you get my message through above orde baru things? *angkat alis*

 

 

 

Trave(Love)ing: Cara Galau Paling Elegan

Thanks Ariev for your review 🙂

arievrahman's avatarbackpackstory


I put my clothes in the bag, it’s time for me to pack.

No, this time I wont beg, for you to come back.

Itulah sepenggal rhyme pembuka cerita di Trave(Love)ing: Hati Patah Kaki Melangkah. Manis bukan? Tapi salah besar kalau kamu merasa rhyme tersebut ditulis oleh seorang wanita tulen. Dialah Dendi –seorang pria, yang masih diragukan orientasinya– yang memutuskan untuk melakukan perjalanan melintasi tiga negara dan lima kota untuk melupakan sakit hatinya, sekaligus mencari cinta yang baru.

Secara umum, Trave(Love)ing bercerita tentang empat orang anak manusia (dua berekor depan, dan dua tak berekor. -red) yang melakukan perjalanan (traveling) karena alasan cinta (love) atau lebih tepatnya, karena … ehem … p-a-t-a-h h-a-t-i. Ada Roy yang melakukan perjalanan ke Singapura dan Malaysia (termasuk menonton pertandingan tim papan tengah Liga Inggris), Mia yang jalan-jalan ke Dubai (karena gratis), Grahita yang berlibur di Bali (yang membuatnya semakin gelap)…

View original post 359 more words

Tell Us Your Shoes Story

Join my next writing project, anyone? 🙂

myaharyono's avatarworking-paper

Kamu penggila sepatu?Kamu suka nulis cerpen?Tertarik untuk nulis cerpen ttg sepatu?

Working-Paper.Com mau mengajak teman-teman untuk ikutan Project KumCer (kumpulan cerita) yang bertema sepatu. Kenapa?

Karena kami berdua suka banget sama sepatu! Hehe.

Sama halnya dengan sepatu yang punya jenis dan fungsi beragam. Kalau kita jeli, dari sepasang sepatu bisa dibuat banyak cerita. Kita berharap teman-teman bisa ikut jeli, mengupas segala cerita tentang sepatu dari berbagai sudut pandang.

Untuk ikutan project ini syaratnya gampang:

  1. Cewek .
  2. Maksimal 2000 kata.
  3. Cerita bisa seputar cinta cowok cewek, cinta general, hidup, apapun. Analogikan dengan sepatu.
  4. Ada pesan moral di balik sepatu, yang tersirat di dalam cerita.
  5. Satu orang maksimal mengumpulkan dua cerpen.
  6. Sudut pandang cerita tidak harus dari orang pertama, bisa dari orang ketiga juga.
  7. Batas waktu pengumpulan cerpen kurang lebih 2 minggu dari sekarang, atau setelah lebaran, tepatnya 21 Agustus 2012. Lebih cepat lebih baik, jadi bisa brainstorming sama kami…

View original post 66 more words

Time Magazine’s Woman of the Year Vs Playboy’s Playmate of the Year

Siapa sih yang enggak pernah suka dengan seseorang karena melihat fisiknya dulu? Wajar kok. Ketertarikan level satu kita pertama kali saat melihat lawan jenis ya fisiknya dulu. Barulah ketertarikan level berikutnya yang berbeda-beda setiap orang. Perbedaan paling kentara sih pada pria dan wanita. Secara general mungkin seperti ini ilustrasinya.

Wanita

Ketertarikan level 1 -> Oke dia menarik. Terus?
Ketertarikan level 2 -> Dia: a. Pintar?
b. Humoris?
c. Gentle?
d. Tajir? Good on bed? (Ooops!) And so on..and on..and on..

 Pria 

Ketertarikan level 1 -> Cantik nih. Tipe gue banget!
Ketertarikan level 2 -> Dia: a. Kurang pintar sih. Tapi cantik!
b. Selera humor biasa aja, kaku malah. Tapi cantik!
c. Manja banget sumpah! Tapi cantik!
d. Bukan wanita karir yang keren yang bisa dibanggakan. Tapi cantik!

Eaaaaaaaaaa :p

Gue enggak asal juga buat ilustrasi di atas. Itu fakta. Hasil observasi dan pengalaman sekeliling selama ini. Terutama yang pria. Buat mereka, wanita cantik itu tidak pernah salah. Semua kekurangannya acceptable asal cantik. Betapa fisik bisa mengalahkan segalanya. Lalu artinya, kalau fisiknya kurang menarik cenderung susah mendapatkan pacar dong?  Oh dear, so sorry but that’s the ugly truth.

Tapi bukan berarti yang enggak cantik lantas enggak laku. Totally no! Sadar punya kelemahan fisik seharusnya wanita bisa menonjolkan kelebihannya yang bisa juga bikin pria klepek-klepek. Itu teorinya sih… Faktanya, berdasarkan pengalaman di sekeliling gue, bohong kalau pria itu mengutamakan ‘nyaman’ duluan ketimbang ‘fisik’ duluan. Contoh nyata:

Pria A: Gue nyaman sih sama dia, tapi dia bukan tipe ideal buat gue. Jadi, ya gue masih belum yakin sama perasaan gue ke dia.

Pria B: Gue sayang sama dia, tapi sebagai sahabat. Gue akui akan balik ke dia lagi kalau butuh bertukar pikiran. Tapi ya itu, untuk jadi pacar…gue prefer pilih yang lain deh.

Pertanyaan gue simple aja kepada mereka. Karena enggak cantik?

Ah para cowok itu mana ada yang mau jujur sih. Jawaban ngelesnya, “Ya bukan, emang enggak ada feeling lebih aja. Cinta kan enggak bisa dipaksa”. Taeeee! Sorry guys, it’s a bullshit. Coba kalau cantik, ya lo pacarin langsung deh tuh cewek.

Guys, orang lain di luar hubungan kamu kadang yang bisa lihat. Pacar kamu cantik sih, tapi kepribadian ngilfilin. Kamu itu udah dibutakan cinta, yang sebenarnya tidak buta. Cinta-nya para pria itu melihat. Mereka jatuh cinta dengan mata, fisik dulu. Kenyamanan nomor dua.

Lain halnya wanita, mereka jatuh cinta melalui telinga.

Denger-denger, tuh cowo tajir lho… 😀

Hahaha. Enggak gitu juga ding. Maksudnya karena wanita bisa jatuh cinta dengan pria yang membuatnya nyaman dengan mendengarkan keluh kesahnya.

Ada salah satu film Hollywood yang pernah mengangkat tema seperti yang gue bahas ini. Judulnya The Truth About Cats and Dogs. Film komedi tahun 1996. Berkisah tantang seorang wanita yang sadar betul, kalau pria umumnya lebih tertarik dengan fisik yang cantik, maka ia yang sebenarnya pintar jadi enggak PD dalam urusan asmara.

What happens if you meet someone with whom you have almost everything in common, you find yourself falling for them..but the sparks of romance just don’t seem to fly on a physical level? ~ The Truth About Cats And Dog

Wanita yang dikisahkan bernama Abby ini terlibat blind date dengan seorang pria (Brian), tapi hanya melalui telepon. Komunikasi yang rutin dan nyambung membuat keduanya saling nyaman. Dan ketika tiba saatnya mereka akan bertemu, si Abby yang panik meminta tetangganya yang seorang model cantik,  Noelle, untuk memerankan dirinya. Sungguh apes nasib Abby, Brian langsung jatuh cinta pada Noelle. Di pikirannya, sudah pintar cantik pula. Perfect!

Well, no body perfect. Ada kelebihan pasti ada kekurangan. Pun sebaliknya. Noelle tidak pintar seperti Abby tapi bisa mendapatkan Brian karena kecantikannya. Merasa terancam Abby pun muncul, sehingga Abby dan Noelle jadi bertukar peran. Brian tetap memilih Noelle. Abby patah hati dan akhirnya membongkar kedok masing-masing. Brian jelas marah dan kecewa. Dengan cara yang smart, Abby menjelaskan semua dramanya ini dengan melemparkan pertanyaan menohok kepada Brian.

“OK. So say you meet one of these no sparks women, and you really take the time to get to know her and then you become intellectually stimulated by her. You just really enjoy her personality, thereby igniting all your lust and passion. Have you ever thought about that?

“Dan meskipun kamu jatuh cinta akan kepribadian seseorang. Jika harus terdampar di suatu tempat terpencil, bahkan out of space, kamu pilih mana yang akan menemani kamu? Time Magazine’s Woman of the Year atau Playboy’s Playmate of the Year?

Masih akan memilih ‘personality’? Jawabannya sudah jelas. Berlaku untuk semua pria normal lain.

Dan nyinyiran Abby rupanya menampar Brian. Brian merasa ditipu mentah-mentah dan marah banget. Keduanya kemudian saling menjauh. Tapi akhirnya Brian menyadari sesuatu.

Saat Brian melihat Noelle, dia jatuh cinta head-over-heels karena wanita ini akan jadi pasangan yang sempurna. Cantik dan pintar. Dan saat tau bahwa si cantik dan si pintar yang sudah membuatnya jatuh cinta ini ternyata dua orang yang berbeda, Brian pun mulai ragu. Jadi siapa yang sebenarnya telah membuatnya jatuh cinta? Then he discovered the not-so-simple truth about the woman he loves..

Alasan Brian jatuh cinta pada Noelle adalah karena dia pikir Noelle itu adalah Abby. Sebenarnya Abby lah yang ia cintai, karena kepribadiannya.

You know how someone’s appearance can change the longer you know them? How a really attractive person, if you don’t like them, can become more and more ugly; whereas someone you might not have even have noticed… that you wouldn’t look at more than once, if you love them, can become the most beautiful thing you’ve ever seen. All you want to do is be near them. 

Pada akhirnya pria akan lelah dan end up dengan wanita yang benar-benar memberikan kenyamanan. Benar kah begitu? Itu kan hanya terjadi di film. 😀

Entahlah, pesan moralnya. Cintailah wanita bukan karena kecantikan fisiknya. Percayalah seorang wanita akan cantik jika kamu tulus mencintainya.

Dan lewat tulisan ini gue juga mengingatkan, pada gue sendiri dan juga siapa aja, mungkin sudah saatnya kita melupakan dia yang ideal dan mulai lebih realistis.

Sometimes, that imperfect person could be perfectly fits you. 🙂

P.S

Dan jangan lupa banyak-banyak berdoa semoga masih ada kaum ‘Adam’ yang lebih mengutamakan kecantikan hati seorang wanita. Tsaaaah. 🙂

 

 

 

Aku, Cinta, dan Fisika

Siapa suka fisika?

Enggak ada yang jawab nih? Jarang emang yang suka Fisika, 2 dari 10 mungkin. Dan gue termasuk salah 1 dari 2 yang suka Fisika.

Jangan, jangan komen dulu. Begini asal muasalnya.

Penyebab suka Fisika sih dulu karena guru waktu SMA masih muda dan ganteng. Pak Nurdin, namanya. Dia usil banget sama gue. Hobinya nyuruh gue maju ngerjain soal. Awal-awal gue pikir, ah kebetulan pasti gue yang ketunjuk. Kok lama-lama, seperti dicari-cari alasannya.

Gue masih ingat cara dia menunjuk gue untuk maju.

“Hari ini tanggal 27. Yang absen no 27 maju ya, kita lihat siapa…hmmmmm…Mia.” Kata si pak guru ganteng.

Tiga hari kemudian.

“Hari ini tanggal 30. Yang maju absen nomor 30…dikurangi 3, jadi 27. Kita lihat siapa…Mia.”

PRET!

Untung pak guru ganteng, kalo enggak udah gue cembetutin kali.

Tapi efeknya bikin gue rajin latihan soal-soal. Itu kunci mengerti ilmu fisika. Sebenarnya gue menyayangkan nilai fisika gue di raport yang selalu..ehm..9, malah banting setir kuliah jurusan IPS.

Tapi gue enggak menyesal sih. 🙂

Sekarang, sudah 10 tahun gue enggak menyentuh fisika. Semua teori yang dulu gue babat habis, sudah di luar kepala semua. Iya, gue hilang ingatan seputar fisika.

Menurut gue sih, jaman sekarang anak-anak muda (sok tua nih gue) bisa lebih mudah mencerna ilmu fisika. Bisa lho dengan membuat perumpamaan-perumpamaan, yang membantu untuk mengingat dan memahami berbagai rumus brengsek itu.

Nah adik-adik, kak mimi boleh ya share berbagai teori fisika yang dapat diimplementasikan ke kehidupan sehari-hari. Terutama cinta. UHUK!

1. Teori Kecepatan Dasar

S = V x T, dimana S adalah jarak, V adalah kecepatan, dan T adalah waktu.

Untuk menghitung waktu, maka T = S/V.

Jadi, jika gebetan mu sudah sangat dekat jaraknya, tapi sinyal yang di kasih dikit-dikit ilang. Kira-kira kapan dia akan menyatakan cinta?

2. Teori Gravitasi Newton

Apa itu gaya gravitasi? Menurut bang Newton, hukum gravitasi adalah gaya tarik-menarik antar dua benda, misalnya gaya tarik bumi terhadap benda-benda. Rumusnya yaitu:

F=(G.m1.m2)/r^2, dimana F adalah gaya tarik gravitasi, m1&m2 adalah massa masing-masing benda, r adalah jarak antara kedua benda, dan G adalah konstanta gravitasi umum yaitu 6.673×10^-11 Nm2/kg2 (Udahlah terima saja angkanya, hidup terlalu pendek untuk mencari turunan rumus gravitasi)

Boook, ribet banget yak rumusnya. Padahal simpel lho kalo dipahami dengan baik. Mari kita analogikan pada cinta.

Besarnya gaya gravitasi antara kedua massa m1 dan m2, berbanding terbalik dengan kuadrat jarak.

Besarnya kekuatan cinta antara dua pasangan tergantung jaraknya. Makin besar jaraknya, makin kecil gayanya. Jadi, makin lemah dong cintanya?

Belum tentu. Tapi kebanyakan begitu hihhi. Eh jangan lupakan masih ada parameter G. Let’s say G itu takdir. Kalau takdir bilang enggak jodoh, mau jarak jauh kek deket kek, putus ya putus aja.

Dan satu hal, pesan Bapak Einstein. Jangan sekali-kali menyalahkan gravitasi atas jatuh cinta yang kamu alami 😀

3. Teori Relativitas Einstein.
Teori relativitas khusus einstein intinya begini, kecepatan suatu benda akan relatif berbeda terhadap pengamatnya. Pengamatnya bisa sesuatu yang ikut ada di dalam benda bergerak tersebut atau sesuatu yang diam di luar benda bergerak tersebut.

Jangan tanyakan mengapa ada teori ini.

Memahaminya dengan mudah sih begini: Kamu berada di nomor antrian 10, jika 1 antrian menghabiskan waktu 5 menit. Seberapa cepatkah perputaran antrian sehingga kamu menjadi terdepan? Akan menghabiskan waktu berapa lama kesepuluh antrian tersebut.

50 menit?

Tetot.

Tergantung. Dari pengamat di luar kamu ya bisa jadi lama, tapi dari sisi kamu, ya hanya berasa beberapa menit saja karena ada seseorang spesial yang menemani dalam antrian.

4. Hukum Kekalan Energi
Begini bunyinya:

“Energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan, tetapi dapat diubah bentuk dari satu bentuk energi menjadi bentuk energi lain.”

Susah menghafalnya?

Energi dalam hati insan manusia itu apa ya? Cinta bukan? Nah, sejak kapan kita bisa menentukan waktu munculnya cinta atau harus berhenti mencintai seseorang. Yang benar adalah, cinta dapat dialihkan kepada orang lain. Orang baru dan yang pantas mendapatkan cinta kita.

Sedap, kan? :p

5. Teori Usaha
Dalam istilah fisika, usaha adalah dorongan atau tarikan atas suatu benda yang sangat dipengaruhi oleh gaya.

W= F x S, dimana W adalah usaha, F adalah gaya, dan S adalah perpindahan. Usaha dinyatakan ada, ketika terjadi perpindahan.

Sehingga S= W/F.

Seberapa berhasil kamu mendapatkan pacar, ya tergantung besar kecilnya usaha dalam memperjuangkan cinta.

Tsaaaah.

Lalu apa hubungan energi dan usaha?

Perpindahan energi juga tergantung besar kecilnya usaha. Jadi, kamu mau cepat move on? Ya usaha.

Lima teori fisika di atas hanya sebagian kecil dari banyaknya teori njelimet yang lain. Tapi kalau kita pintar-pintar menganologikkan dengan apa saja, suka-suka kita, bisa lebih mudah paham lho.

Jadi, masih bilang fisika itu sulit?

Apa Adanya? Tapi, Pantes Enggak?

Beberapa hari yang lalu gue terlibat perdebatan dengan seorang sahabat cewe. Pemicunya adalah saat gue mengeluhkan padanya, bahwa salah seorang teman yang baru gue kenal dan sempat dekat, kenapa tiba-tiba seperti menjaga jarak.

Singkat cerita, teman cewe gue ini tau kenapa si cowok seolah malas dekat sama gue lagi. Awalnya si cowo memang suka berteman dengan gue, kalau sudah mengobrol bisa ngalor ngidul kemana-mana. Tapi makan lama, ya gue bisa merasakan lah kalau sepertinya dia mulai menghindar dari gue.

Ternyata masalahnya adalah satu. Menurut si cowo, kepribadian gue kenapa makin hari makin tidak seperti gue yang dia pertama kali kenal dulu. Sosok yang sempat membuatnya kagum pada gue.

Gue menghela nafas panjang mendengarnya. ASTAGA. Kemudian menanyakan pada teman cewe gue.

“Jadi dia enggak bisa terima gue apa adanya dong?”

“Apa adanya kamu yang bagaimana dulu? Yang bocor, ngomong enggak pake diayak? Orang kan mikir buset nih cewe mesum amat. Oiya, lo juga mulai ngerokok lagi dan sekarang udah cuek ngebul di depan teman-teman.”

“Itu yang kamu sebut apa adanya? lanjutnya.

Sorry to say, iya. Itu gue apa adanya. Bocor dan sesekali merokok. Gue capek harus jaim. Dan gue akan begitu di depan cowo, karena gue mencari cowo yang mau menerima gue apa adanya.” jelas gue.

Benar kan gue? Kita harus bisa menemukan seseorang yang mau menerima kita apa adanya. Dan bersamanya kita bisa all out, enggak jaim, dan jadi diri sendiri. Itu yang gue mau.

“Lo tuh punya otak enggak sih, Mi? Lo pikir dong, cowo yang tadinya dekat aja jadi menjauh gara2 ‘apa-adanya’ lo ini. Apalagi cowo yang baru kenal lo. Bisa ilfil lah.”

“Yaudah, kalo emang enggak tertarik sama gue yang begini, go away. Gue enggak maksa pertemanan kok. Kalau keberatan gue begini terus gue harus berubah gitu? Berusaha menyenangkan orang lain? Hell no!

“Lo stres ya, Mi?”

Oh tidak. Jangan ungkit itu. Gue enggak suka orang terdekat gue mulai nge-judge.Terlebih, jika itu benar.

Jadi gue terdiam. Lama.

Apa hasilnya gue jadi cewek baik-baik selama ini? Gue mencoba menjadi seseorang yang diinginkan oleh pria yang pernah gue sayang. Gue pernah selama 2 tahun tidak sedikitpun menyentuh rokok lagi karena dia enggak mau gue merokok. Gue juga menghindari pakaian seksi atau short karena dia pernah bilang jangan memakai yang terlalu pendek. Gue juga enggak pernah bocor di hadapannya karena sejak awal kami saling mengenal di matanya gue adalah wanita baik-baik.

Sekali lagi gue tanya. Apa hasilnya?

Gue disia-siakan. Dan tidak ada yang lebih membuat gondok dari semua kebaikan dirimu seolah percuma di hadapan seseorang. Dia malah bilang gue terlalu baik untuknya.

Karena pengalaman itu lah yang akhirnya membuat gue berpikir, untuk apa lagi jadi Mia yang terlalu baik untuk seseorang. Gue suka berbaju seksi. Gue bocor karena lingkungan yang memang begitu, tapi menurut gue sih masih ada aturan dan hanya untuk lucu-lucuan saja. Dan gue sesekali merokok di tempat dingin, hampir tidak pernah di Jakarta.

Dan tiga hal itu yang gue enggak mau tahan-tahan lagi. This is who i am. I want You to take me as I am.

Lalu teman cewe gue itu mengatakan sesuatu yang menyadarkan gue.

Perempuan baik-baik hanya untuk pria baik-baik. Kalau kemarin dia menyiakanmu itu artinya dia bukan pria baik-baik. Lalu kenapa jadi kamu yang harus berubah menjadi tidak baik?

Apa adanya kamu itu bukan masalah baik atau enggak baik sih. Karena baik juga relatif, tergantung cowoknya baik juga apa enggak. Tapi lebih ke pantas enggak?

“Pikir mi, sikap yang kamu bilang apa adanya kamu itu pantas enggak sih dilakukan oleh perempuan baik-baik? Kamu itu baik, baik banget. Manis. Kalau saat ini belum juga menemukan pria baik-baik juga ya enggak usah terlalu khawatir sampai ngaco gini.”

JLEB.

Pantaskanlah dirimu sendiri terlebih dahulu, lalu si pria yang tepat itu akan segera datang.

Benar sekali. Gue akan kembali menjadi Mia yang baik-baik dan pantas, tapi enggak lantas menjadi seperti yang diinginkan orang lain sih. Gue tetap menjadi diri sendiri, mempertahan kan yang pantas dan menyingkirkan yang tidak baik.

🙂

Ps.

Hari ini enggak sebatang rokok pun gue hisap. Bravo Mimi!

My First Debut As A Writer

-A Very Special Thanks-

Dear temans yang setia suka baca tulisan enggak jelas gue,

Pernah kebayang enggak sih kalo hobi corat-coret gue berbuah menulis sebuah buku? Pasti enggak! Sama gue juga enggak. Apalagi pas main-main ke Gramed buat hunting buku. Sama sekali enggak kepikiran bahwa nama gue akan tertulis sebagai pengarang salah satu buku yang banyak tersebar di tumpukan buku di toko buku.

Lagipula tulisan gue cuma asal dan enggak ada tekniknya, curhatan pula. Mana layak jadi buku.

Tapi Tuhan berkehendak lain rupanya.

Tanggal 26 Mei 2012, buku pertama gue, Trave(love)ing, akhirnya terbit. Buku ini dibuat bersama 3 sahabat yang akrab di Twitter. Rasanya seperti…ah sulit melukiskannya. Pokoknya gue norak deh hehe.

Di special thanks buku sebenarnya kalau boleh sih gue tulis semua nama yang sudah memberikan kontribusi, mulai dari ide, proses pembuatan, sampai terbit. Tapi jadi bisa satu buku sendiri itu sih…

Makanya tulisan ini sengaja gue buat sebagai special thanks kepada orang-orang itu. Here we go…

1. Mau enggak mau sih, gue tulis sang pemberi inspirasi di list paling atas. Kenapa, karena kalau enggak pernah ada cinta di antara kita, enggak akan ada cerita. Mungkin memang dia dikirimkan ke hidup gue supaya gue bisa jadi orang yang membanggakan dan bermanfaat bagi sekitar. Manfaat? Iya, siapa tau kan tulisan gue bisa jadi inspirasi juga bagi orang lain yang membacanya. 🙂

2. Dendi. Sahabat gue, teman dari SMA. Doi tuh yang memberanikan gue untuk enggak cuma jadi penikmat tulisan, tapi juga menulis. Mulai dari nulis 140 karakter di Twitter, tulisan di notes, dan di blog. Dan tulisan doi yang ter-mahsyur: The Nekad Traveler itu yang sudah memotivasi gue untuk pertama kali menulis sebuah notes yang berbentuk cerita. Gara-gara Dendi juga, gue kenal sama Roy.

3. Roy. Kalau enggak ada doi, enggak akan ada Trave(love)ing. Ide pertama kali membuat novel ini datangnya dari Roy. Syukur alhamdulillah yang diajak itu termasuk gue, yang notabene pengetahuan teknik nulisnya NOL BESAR. Roy itu penulis novel komedi, sudah menelurkan beberapa buku  sendiri maupun keroyokan. Waktu doi ngajakin, gue teriak di kamar kos. Serius! Kabar baik yang enggak pernah diharap-harap ataupun disangka-sangka. Gue, Dendi, dan Roy itu gank di Twitter yang suka ikut mainan kata-kata berirama gitu. Anggota satu lagi si Gelaph. Jadilah berempat ini bikin proyek novel tentang cinta berlatar perjalanan.

Kalo beberapa pembaca ada yang suka banget sama cerita gue itu, sebenarnya, hmmm bongkar dapur nih, ada ide Roy dibaliknya. Roy always comes up with his brilliant idea. Enggak cuma itu, doi juga editor pribadi gue, pemberi masukan enaknya begini enaknya begitu. Ah nih bocah benar-benar orang dibalik layar tulisan gue banget deh. Gue enggak bisa move on dari Roy nih. Doi akan selalu jadi draft reader gue! *Sambil mengepalkan tangan di udara*

4. Gelaph. Doi gue kenal dari si Dian, staf gue di EY dulu. Mungkin karena sama-sama Taurus jadi cocok aja gitu. Doi sih sudah lebih dulu nulis dibanding gue. Gue suka banget sama tulisan-tulisan cerdas doi.So, doi juga salah satu yang memotivasi gue untuk ikut-ikut ngelatih nulis di blog. Kami berdua juga punya blog yang kami asuh bersama, kumpulan cerpen yang ditampung di sebuah blog bernama working-paper.com. Mumpung sama-sama belum ada keluarga yang diurus kan. :p

5. Ortu dan kakak gue. Alasan utama untuk pulang di setiap perjalanan. Selalu bikin gue homesick nih. Awalnya gue takut banget setelah baca bukunya mereka akan marah melihat pengorbanan gue untuk seorang cowok sampai segitunya. Tapi ternyata enggak marah. Mereka senang melihat gue semangat lagi. Kata mereka, gue hanya terlalu baik untuk dipasangkn dengan yang enggak baik. Jadi sudah dipilihkan yang terbaik juga sama Tuhan untuk gue. Yess!

6. Diesti & Nunik. Diesti itu saksi waktu Roy ngajakin bikin novel hehe. Masih ingat gimana senangnya gue kan, Des? Doi bersama Nunik juga setia dengerin curhatan gue malam-malam, sampai nangis-nangis hehe. Thanks ya Ti, Nik, dukungan dan kehadiran lo berdua saat gue lagi ngenes-ngenesnya itu sangat-sangat berarti. 🙂

7. Helina. Sahabat dari SMA sampai sekarang. Teman menggila bersama bersama Efa, Adi, Doni, Yudhi. Aaaaak atu taneeeen taliaaaan. :))

8. Oppie, ibunya Al. Sahabat yang selalu ngebanggain gue. Pembaca setia tulisan gue, setiap draft yang selesai gue buat, gue kirim ke Oppie. Kata-kata dahsyatnya selalu membesarkan hati gue dalam menghadapi masalah. Belum lagi senyum baby Al yang selalu bikin gue kangen itu lhoooo. Makasih ya sayang. :p

9. Mba Kemek, Ginceng, Pak Haji, Juni, Kakak, dan Hafidh. Sahabat di kantor yang sudah kayak saudara. Mereka yang enggak pernah rela ngeliat gue disakitin. Saran-saran dari mereka yang memotivasi gue untuk bangkit. Bangga kan teman kalian ini ada juga kelebihannya selain kekurangannya yang ceroboh, suka numpahin makanan, ngilangin voucher karoke, dan masih banyak nyebelin lainnya. Hahahaha.

10. Gank Galon dan Akun UI-ers. Nani, Rini, Neni, Deha, Etha, Ima, Inne, Meily, Carla, Muli, Imel, Desita, Lucy, Denny, Tetty. Sahabat satu dekade lebih hehe. Kalian yang bisa kapan aja gue panggil untuk menghibur gue. Jangan pernah bosen yaaa. 🙂

11. Ex EY-ers and Ex-LG-ers. Dian, Achip, Nia, Robai, Betty, Putri, Dila, Ncus, Mas Ade, Adit, Riyan. Kalian sedikit banyak berkontribusi di cerita cinta gue ya. 🙂

12. Gank Vico. Tiara, Hanny, dan Handy. Sahabat baru gue. Gue enggak bisa banyak ngomong tapi kalian bertiga pasti sudah pahami banget. Thanks for sticking around. 😀

Last but not least. Semua yang pernah gue temui, kenal or enggak. Yang secara langsung maupun enggak sudah memberikan inspirasi. Terutama orang-orang yang gue follow di Twitter, para pengarang buku-buku yang gue baca (Ika Natassa dengan tulisan Traveling is-nya yang menginspirasi gue), penulis lagu-lagu yang gue suka, penulis naskah film-film yang gue gemari, pengarang kutipan-kutipan indah yang gue berikan tanda bintang, dan para teman blogger (cieeee gaya banget yang jadi blogger :p).

Terima kasih.

Terima kasih.

Terima kasih Tuhan, atas jalan hidup ini yang kadang luka, tapi selalu ada suka. Berkati terus jalanku agar enggak berhenti sampai di Trave(love)ing ya.

Berikutnya gue harus juga bisa menelurkan karya-karya lainnya, baik sendiri maupun bareng-bareng penulis lainnya.

Sekali lagi,

mohon doa restu ya kawaaaan…. 😀

Eh btw, sudah beli kan ya? Kalau belum, hanya segitu sajakah pertemanan kita???

#DRAMA

Trave[love]ing: Faktanya Adalah…

Trave(love)ing: Hati Patah Kaki Melangkah

Sebuah book teaser dari Novel pertama gue yan

Prolog

Fakta (kurang) penting…

Lebih dari sepuluh tahun yang lalu, di saat gue masih berseragamkan putih-abu, adalah pertama kalinya gue mengalami patah hati. Saat itu gue mengurung diri, mendengarkan lagu yang mewakili suasana hati, lalu menangis sampai pagi. Dan lagu patah hati gue saat itu adalah End Of The World. Begini liriknya:

Why does the sun go on shining
 Why does the sea rush to shore
 Don't they know it's the end of the world
 'Cause you don't love me any more
Why do the birds go on singing
 Why do the stars glow above
 Don't they know it's the end of the world
 It ended when I lost your love
I wake up in the morning and I wonder
 Why everything's the same as it was
 I can't understand, no, I can't understand
 How life goes on the way it does

Lagu lawas tahun 70-an tersebut pertama kali dipopulerkan oleh Nina Gordon, dan juga pernah dinyanyikan oleh The Carpenter. Waktu gue masih kanak-kanak, sudah sangat menyukai lagu ini karena bokap sering banget memutarnya. Kata kakak gue yang saat itu sudah remaja, lagu ini tentang patah hati. Gue manggut-manggut saja padahal enggak mengerti juga patah hati itu apa?

*Kira-kira begitu reka ulangnya :p*

Saat itu, gue enggak pernah membayangkan 12 tahun kemudian akan protes keras akan isi lagu tersebut. Patah hati bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal memulai sesuatu yang lebih baik. Dan bagi gue sesuatu yang baik itu adalah Trave[love]ing.

*****

Faktanya adalah…

Kisah patah hati gue yang menjadi inspirasi di novel ini terjadi kurang dari setahun yang lalu. Gue dikirim oleh kantor untuk mengikuti audit training di Dubai. Moment yang pas untuk getaway from broken heart. Traveling untuk menghilang sesaat dari pahitnya kenyataan, enggak dapat bersama lagi dengan seseorang yang terkasih. Menjelang keberangkatan ke Dubai, gue memang benar-benar meng-update status berikut (Trave[LOVE]ing hal: 65)

Status sebelum take-off

Dendi, teman gue sejak SMA, ikut memberikan komentar dengan membubuhkan sebuah judul dari travel notes-nya, yang pernah di-post juga di Facebook. Seketika komentarnya menginspirasikan gue untuk membuat notes, tentang perjalanan di Dubai.

Pulang dari Dubai, gue enggak langsung menyusun catatan perjalanan gue itu. Banyak pertimbangan dan butuh keberanian untuk menuliskan kisah perjalanan, terutama cerita patah hati di baliknya. Dan lebih luar biasa sulitnya, ketika pertama kali akan publish tulisan itu dan meng-share-nya ke media. Bagaimana perasaan si pematah hati ketika membacanya nanti? Itulah yang menjadi pertimbangan gue. Akhirnya, 4 Desember 2011, pertama kalinya gue post di Facebook, mengikuti jejak Dendi.

The Hopeless Romantic Traveler

Respon yang gue dapat dari teman-teman sangat positif. Si Dia pun bahkan awalnya sempat mengomentari “ A great note for a great person. And also a great traveler”.

Well, I took those words as a compliment. Thanks. 🙂 

Lagi-lagi enggak pernah terbayangkan bahwa beberapa bulan kemudian, gue akan melanjutkan kisah di notes Facebook itu ke sebuah novel.

*****

Fakta cihuynya…

Judul Trave[love]ing, pertama kali tercetus di sebuah restoran khas masakan Negeri Jiran di PS. Saat itu lagi traktiran si Dendi yang baru dapat bonus (Okay, this is too much information). Sebelum muncul nama Trave[love]ing, beberapa nama sempat jadi pertimbangan. Awal naskah sempat diberi judul Move On, Travel Up? Tapi sepertinya kurang gereget. Sempat juga mengalay dengan memberikan judul TraveLoGue End: Travel Lo Gue End!! Tuhan memaafkan hambaNya yang pernah khilaf.

Tepatnya akhir Januari 2012, kami berempat langsung sreg dengan judul Trave[love]ing: Hati Patah Kaki Melangkah. Dari judulnya saja tersurat bahwa buku ini adalah buku perjalanan. Bedanya dengan buku perjalanan lainnya adalah, ini adalah perjalanan dari patah hati menuju move on (baca sinopsisnya di web penerbit Gradien atau lihat teaser-nya di sini).

Proses dimulainya Trave[love]ing adalah patah hati. Patah hati yang menyebabkan seseorang menjadi kreatif. Kreatif kemudian melampiaskan ungkapan hati pada kata. Kata yang terangkai dalam sebuah tulisan. Tulisan yang bak mimpi indah yang terwujud, saat seorang teman, Roy, mengajak gue, Dendi, dan Gelaph (baca blog Dendi untuk proses perkenalan kami berempat) untuk membuat proyek novel cinta berlatar belakang perjalanan karena patah hati (baca blog Gelaph untuk behind the scene-nya).

Ada input, maka ada output. Jika patah hati adalah input, move on adalah output. Dan prosesnya adalah traveling. Begitulah garis besar Trave[love]ing.

*****

Fakta kerennya…

Di saat teman-teman seumuran melahirkan seorang bayi mungil, gue masih melahirkan sebuah novel (yak curhat, sodara-sodara :p).

Launching perdana buku ini sudah dilakukan tanggal 26 Mei 2012, ditandai dengan keempat penulisnya yang menjelajahi Jakarta, menebarkan obat patah hati.

Target pertama kami adalah para endorser yang sudah sangat berbaik hati mau memberikan sepenggal kalimat tentang buku kami ini. Mereka adalah:

@AlbethieneE – penulis
@Fatimaalkaff -penikmat sastra dan literatur
@dwikaputra – social media enthusiast, singer-song writer
@arievrahman – seasonal traveler (money season for the exact)
@rahneputri – delusional arbitch who is trapped in poem, music, film, and photography
@zarryhendrik – penyiar
@ekaotto- penulis Bayangan Kelima
@pervertauditor – pelakon audit, impulsive traveler wannabe, loveable character on Twitter

Dan salah seorang penulis favorit gue, Windy Ariestanty, berkenan memberikan pengantar untuk buku ini. Mimpi jadi kenyataannya paket combo! 🙂

Launching Trave(love)ing

Setelah menyebarkan obat tersebut kepada para endorser, Trave[love]ing kemudian disebarkan secara luas di Jakarta dan sekitarnya. Per tanggal tulisan ini diturunkan, hampir sebulan setelah terbit, sudah ada juga di kota besar lainnya dan toko buku Gramedia, Toko Gunung Agung, Kinokuniya, Leksika, Tisera, dan Toko Buku Salemba.

Faktanya lagi…

Setelah kurang lebih sebulan nangkring di toko buku, Trave[love]ing masuk jajaran best seller. Tercatat di H-1 month-versary ini, sudah laris manis di Gramedia Plaza Semanggi, Kelapa Gading, Botani Square, dan Grand Indonesia. Di online bookstore @bukukita juga sudah jadi best seller! Isn’t it cool? :p

Harapan kami, khususnya gue, buku ini bisa memberikan banyak warna bagi semua pembaca. Untuk yang sedang patah hati, sedang berbunga-bunga, bahkan yang sudah settling down juga. Untuk yang patah hati, setelah membacanya jadi bisa memotivasi untuk cepat move on. Yang sedang berbunga-bunga, agar dapat lebih menjaga suatu hubungan. Patah hati itu enggak enak, kalo enak sudah pasti habis dimakan (maap yak gue emang engak jago nge-jokes). Untuk yang sudah menemukan soulmate, selain jadi bernostalgia bisa jadi ingin honeymoon kedua. Karena buku ini menularkan sensasi ingin traveling. Enggak percaya? Buktikan saja!

Sebagai penutup, gue ingin mengutip pengantar dari @windyariestanty pada novel ini.

“Pada akhirnya, mereka tetap harus berterimakasih kepada para mantan yang membuat mereka melakukan perjalanan ‘patah hati’, dan kembali dengan cerita yang dituliskan. Sebuah cara ‘sembuh’ yang mengagumkan bukan?”

Gue pribadi mengucapkan terima kasih.

Terima kasih untuk dia, yang pasti enggak pernah menyangka bahwa si pensil yang enggak diinginkannya ini, sekarang bisa menuliskan sebuah buku. (Fakta lagi: Ada sebuah joke tentang pensil, hanya gue dan dia yang tau :p)

Terima kasih untuk orang-orang terdekat, yang telah mendukung, menyayangi, dan masih menyediakan ruang dalam hidup dan hatinya untuk seorang gue. Seorang anak, seorang adik, dan seorang sahabat.

Terima kasih untuk para pembaca, yang sudah membeli dan membaca buku ini.

Terima kasih Allah, yang dengan manisnya menjadikan luka dulu menjadi suka kini.

Menjawab lagu End Of The World:

And now I understand. How life goes on the way it does. It keeps on moving on, no matter how hard your heart is grieving.

*****

Epilog

Fakta bukan nih…

Kok bisa ya, kisah patah hati ke-empat penulis Trave[love]ing mewakili empat problematika derita cinta sejak jaman purba sampai akhir jaman: LDR, beda agama, friendzone, dan perselingkuhan. *angkat alis*

Foto yang ada di Trave[love]ing hal: 227, ada foto senyum move on. Benar enggak ya foto itu diambil setelah gue berteriak di balkon gedung tertinggi di dunia: Burj Khalifa…Hmmm. *angkat alis lagi*

😀