The Heart Breaker

Beberapa orang memang dianugrahi kemampuan untuk hidup tenang dalam rasa bersalah. – Roy Saputra

Dear heart breaker, mungkin ungkapan Roy itu cocok ditujukan ke kalian ya. Dan salah satu heart breaker yang mau gue ceritain ini bernama Rosaline. Hmmmph siapa tuh Rosaline? Apa hubungan dia sama si Roy?

Bukan, bukan. Dia bukan mantannya Roy.

Wajar sih kalau dia kurang dikenal. Sosoknya memang terlupakan begitu saja, padahal memainkan peran penting terhadap kisah cinta paling tersohor sepanjang masa. Romeo dan Juliet.

Sosok Rosaline hanya disebutkan di awal cerita naskah asli Love’s Tragedy of Romeo and Juliet. Tetapi ketika cerita tersebut dipentaskan pertama kali, sedikitpun cerita mengenainya tidak ada. Karakternya tak pernah diperankan. Kasihan ya.

Jadi siapa sih sebenarnya Rosaline?

Dia adalah cinta pertamanya Romeo. Wanita cantik yang dicintai Romeo dengan menggebu-gebu. Tetapi ia telah mematahkan hati sang Romeo. Kenapa ya doi nolak Romeo yang notabene ganteng dan romantis itu? Apa karena Romeo terlalu baik untuknya? Biasanya kan suka gitu ya wanita, menolak ‘nice guy’ demi ‘jerk’.

Ya simpel karena ia tidak memiliki perasaan yang sama kepada Romeo. Ia tak dapat membalasnya karena perasaan kan enggak pernah bisa dipaksakan. At least Rosaline ini bukan tipe ‘keeping fans’ ya. Enggak suka ya udah, bukannya dijadiin TTM atau di-friendzone-in kayak cewek-cewek super gatal jaman sekarang.

Meh!

Heartbreaker. Orang yang mematahkan hati yang mencintainya. Bisa dengan menduakan, mempermainkan, atau cukup dengan menolak. Dan orang yang menyandang predikat sebagai heart breaker tidak punya pilihan lain selain siap-siap dibenci sama orang yang sudah tersakiti olehnya. Oleh karena itu, mereka dipandang negatif. Dihujat, dinyinyirin, dipojokkan dan ikut disebelin sama temannya orang yang disakiti karena solidaritas.

Pernah enggak mikirin perasaan si heart breaker itu. Buat apa juga ya? Mereka juga gak mikirin perasaan kita kan? Ya tapi apa iya dia sengaja menyakiti? Apakah dia benar-benar bisa hidup tenang dan bahagia di atas penderitaan orang yang sudah tersakiti itu?

Dalam kasus Rosaline, dikisahkan saat itu memang Romeo sangat patah hati dan sempat tidak bisa menerima kenyataan pahit. Kalau Romeo punya twitter, pasti Timeline-nya udah galau akut deh pasti. Dendi Riandi mah lewat.

Rosaline juga diliputi rasa bersalah melihat Romeo yang terluka. Dan untuk mengurangi rasa bersalah, ia mengundang Romeo ke acara pesta Capulet. Disitulah tempat dimana Romeo bertemu dan berkenalan dengan Juliet. You know the rest of the story, please skip about the tragedy.

Kenapa kita enggak melihat dari sisi positifnya seorang heart breaker, seperti si Rosaline ini. Kalau dia enggak ada, kalau dia enggak menolak Romeo, maka kisah Romeo dan Juliet tak akan pernah terjadi. Jadinya Romeo dan Rosaline. Behehehek.

Lalu bagaimana dengan kelanjutan kisah hidup Rosaline? Tak pernah diceritakan. Terlupakan.

Bukankah memang begitu seharusnya memperlakukan seorang heart breaker? Lupakan.

Sudahlah, cukup membuang energi dengan begitu membencinya. Justru karena benci, kita malah selalu kepikiran kan. Forget that they’ve ever existed and forgive yourself for once loving them. Mungkin itu cara terbaik untuk menghargai keberadaannya dan berterima kasih. Iya berterima kasih, karena patah hati adalah batu loncatan untuk menemukan kekasih sejati kelak.

Seperti Romeo yang menemukan Juliet.

🙂

Percayalah, para heart breaker tidak benar-benar tenang kok melihat orang yang sudah disakitinya bisa move on dan cepat pulih. Mereka kadang sebel berat kalau sampai dilupakan gitu aja. Reaksinya macam-macam, ada yang marah-marah enggak terima dijauhin. Apalagi kalau dulunya sahabat gitu deh (bukan pengalaman gue).

Jadi gini deh ya para Rosaline-wati dan Rosaline-wan di luar sana. Kami, ecieee kami, ya pokoknya para orang yang pernah tersakiti oleh kalian. Kami sih pada akhirnya akan ikhlas dan menerima kenyataan. Kami juga pada akhirnya memaafkan kalian. Tapi maaf juga kalau jalan yang kami tempuh adalah dengan melupakan dan kemudian menjauhi kalian. Kenapa? Yaudah sih!

Kenapa jadi menyayangkan kami yang kalian anggap tidak tulus sebagai teman. Ketika cinta tidak bisa dipaksakan kemudian pergi meninggalkan.  Kalau persahabatan real, pasti stay. Dih yaudah sih!

YAUDAH SIH!

You can’t have everything because life is a choise, no? Yakali mau dua-duanya. Pacaran sama orang lain tapi mempertahankan yang naksir…sebagai teman. Enak banget lo! Ada harga mahal yang harus dibayar karena suatu pilihan. Lo pilih orang lain, ya lo kehilangan fans. Is it fair enough?

Mulai sekarang kita sama-sama hidup tenang ya. Kami hidup tenang karena akhirnya gak tersakiti kalian lagi, kalian hidup tenang dalam rasa bersalah. Hahaha.

Gak terima? YAUDAH SIH.

Arti Mimpi

Kamu percaya tafsir di balik mimpi nggak?

Well, gue sih (tadinya) enggak begitu percaya. Ya karena selama ini gue sudah mengalami jutaan kali mimpi dan tak lebih dari bunga tidur saja.

Tapi tidak menutup kemungkinan, mungkin mimpi kita baru terealisasi sekian tahun kemudian.

Bisa saja, enggak ada yang kebetulan di dunia ini. Tuhan pasti punya maksud termasuk dalam menjatuhkan mimpi ke dalam tidur hambanya.

Contoh nyata ya mimpi basah. Aeeeh 😀

Masalahnya, kebanyakan setelah terbangun dari tidur kita seringnya enggak bisa mengingat mimpi yang baru saja terjadi. Paling ingat bentar, terus dibawa mandi juga lupa.

Atau ingat sih, tapi kok mimpinya random banget. Misal kejadian yang habis menghantui kita di siang hari. Itu sih jelas no meaning lah.

Intinya, gue sih enggak mau ambil pusing mimpi yang gue alamin pas tidur. Sampai….

***

4 Januari 2013

Tak ada yang aneh di hari itu kecuali gue yang terbangun lebih cepat. Dan teringat, mimpi yang gue alami di sepertiga malam itu. Mimpi yang menyenangkan. Gue bersama seorang pria (Shit! Kok ya dari masa lalu sik) berjalan di sebuah taman. Gue masih dapat mengingat dengan jelas, pria itu mengusap punggungku. Saat terbangun gue bahkan masih bisa merasakan hangat sentuhannya.

Tapi gue sadar, mungkin gue hanya kangen.

5 Januari 2013

“Akhirnya kita bisa liburan bareng juga ya, enggak nanggung-nanggung lagi. Ke Eropa. Belanda, Paris…ah, senangnya.” ucap gue pada pria di hadapan gue itu.

Pria itu tersenyum, his signature smile yang sangat gue kenal itu merasuki jiwa gue.

Dia menarik nafas panjang sebelum menanggapi, “Tapi aku enggak bisa ikut kamu ke Paris ya. Kamu enggak apa-apa kan sendirian?”

Kecewa lah gue, bagaimana bisa dia enggak ikut melanjutkan perjalanan? Kami mau ke kota paling romantis di dunia dan dia malah memilih langsung pulang dari Belanda.

Seingat gue ketika akhirnya terbangun di Sabtu pagi itu, dia melepaskan genggamannya pada tangan gue dan gue pun meninggalkannya sambil berbisik, “Tunggu aku.”

Gue pernah ke Eropa Oktober 2012 dan kembali memimpikannya di awal 2013. Betapa traveling tersebut berkesan sampai terbawa mimpi. Tapi kenapa ada pria yang sama dengan mimpi semalam?

6 Januari 2013

Mimpi gue berlanjut.

Bahkan masih bisa gue ingat tiap detilnya saat terbangun. Sama seperti dua mimpi sebelumnya.

Di episode ke-3 ini, gue dan si pria berada dalam sebuah bus yang melaju ke suatu tempat. Di tiap sisi bus berjejer 2 bangku yang terpisahkan oleh lorong. Gue duduk di sebelah sisi kanan, seorang penumpang di sebelah gue tampak asik memperhatikan pemandangan dari dalam jendela. Sedangkan si pria di sisi kiri, tempat duduk sebelahnya juga terisi penumpang.

Kami terlibat percakapan, saling tertawa. Lalu tak lama, penumpang di sebelahnya turun ketika bus singgah di salah satu halte. Pria itu menggeser posisi duduknya, dan menarik gue pindah ke bangku kosong di sebelahnya. Gue nurut.

Kini kami duduk bersebelahan, melanjutkan pembicaraan di dalam bus yang siap menuju pemberhentian berikutnya.

Mimpi tersebut bikin minggu pagi menyenangkan, tiga kali berturut-turut dengan orang yang sama di tempat yang berbeda. Mimpi-mimpi yang seolah indah bagi gue.

Seolah indah?

Iya.

Karena yang tampaknya seperti menyenangkan, belum tentu artinya bagus.

Setelah tiga kali mimpi itu, gue mulai kepikiran apa maksud dari mimpinya. Gue mulai yakin, ini semua petunjuk. Tinggal baik atau buruk saja.

Selang seminggu, tepatnya sabtu subuh kemarin, 12 Januari 2013, gue kembali didatangi mimpi serupa. Orang yang sama muncul di mimpi, namun di tempat berbeda.

Kami seperti sedang berada di suatu gunung. Ada beberapa orang dalam rombongan yang sedang menanjak sisi lereng tersebut. Dia jalan di depanku, bahkan tak sedikitpun membantu gue menanjak. Gue kecewa karena ia tak memedulikan gue yang berjalan susah payah di belakangnya. Dengan gemas gue memanggil namanya.

Ia menengok sambil terkejut. Ia lalu menjulurkan tangannya untuk meraih gue. Gue menggenggam lengannya dan langsung menghambur ke pelukannya. “Kok enggak nolong aku sih?”

“Maaf ya.” ucapnya singkat, sambil mencium kening gue dan…mengecup gue sekilas. Ada perasaan bahagia setelahnya.

Dan gue terbangun, dengan kening agak berkeringat. Apakah efek forehead kiss tadi di mimpi? :p

Ah gue ingin balik tidur saja rasanya dan kembali bermimpi. Karena ketika terbangun, gue harus menghadapi kenyataan bahwa kehadiran pria itu di sisi gue tidak (lagi) nyata.

Jadi, total mimpi bersambung gue sudah sampai jilid 4.

Gue mulai mengkhawatirkan maksud di balik mimpi itu. Entah mengapa, sepertinya sesuatu yang kurang menyenangkan aja.

Benar dong.

Keesokan harinya setelah mimpi terakhir itu, gue bertemu seorang teman yang cukup mengerti tafsir mimpi. Dia mencoba untuk membuka tabir di balik ke-4 mimpi gue. Ini dia artinya.

1. Jalan-jalan berdua di taman

Apa yang gue lihat di mimpi  itu adalah cerminan masa lalu kami berdua yang pernah bahagia berdua. Perlu di-bold, MASA LALU.

2. Terpisah di Eropa

Ketika gue akan melanjutkan perjalanan ke Paris, pria itu tidak ikut. Artinya, dia menyerah untuk melanjutkan hubungan dengan gue. Kanapa lokasinya di Belanda? Sepertinya gue sangat terkesan dengan negara tersebut, dan ketika Oktober lalu ke sana sempat memikirkan si pria.

AH MASAAAA??? GAK DEH KAYAKNYA.

3. Pindah ke bangku di sebelahnya di dalam bus

Gue yang pindah ke sebelahnya. Artinya, guelah yang selalu mengikuti kemauannya. Mengalah. Jika masih ingin bersama dia, ya gue yang menyesuaikan dengan segala sifatnya. Bukan dia yang mencoba memahami gue.

DAMN! EMANG IYE! EMANG BENER!

4. Mendaki gunung

Menurut teman gue itu, mimpi di gunung adalah salah satu mimpi kasta tinggi. Tingkatannya udah tinggi, dalam arti gue sudah di tahap dewasa. Kalo diaplikasikan ke mimpi gue itu ya hubungan kami sedang ‘mendaki’ ke arah lebih tinggi. Bagus dong?

Enggak tuh, karena di mimpi itu dia meninggalkan gue.

Tapi kan dia minta maaf, nyium juga. :/

Mimpi cium kening ternyata melambangkan perpisahan sodara-sodara. Jadi si pria mencium gue itu kayak mau pisah baik-baik. Huffff.

Itulah kurleb tafsir mimpi bersambung gue. Sampai tulisan ini di-post, belum ada lanjutan mimpi ke-5.

Haruskah gue percaya arti mimpi gue itu? Mungkin enggak ya jadi kenyataan?

Iya, gue takut kalau benar gue sama dia harus bermusuhan lagi. Tapi jika itu benar adanya, berarti itu sesuai dengan yang digariskan Tuhan.

Pokoknya jangan sampai tafsir mimpi yang kurang baik menghantui kehidupan nyata dan bikin stres. JANGAN.

Tapi jujur, ya gue kepikiran.

Dan entahlah, yang terlintas dalam pikiran gue adalah menceritakan mimpi gue itu kepada si pria.

Dia diam.

Kan, padahal gue kepo sama yang ada di pikirannya.

Dan ternyata mimpi gue itu menjadi nyata. Kami bertengkar hari ini. Akhirnya si pria mengungkapkan juga pendapatnya soal mimpi gue.

“Kamu sendiri yang membuat mimpi itu jadi kenyataan.”

Mungkin dia benar. Jangan terlalu banyak mengkhawatirkan yang kurang perlu. Dan apa yang kita takuti akan terjadi, malah jadi kenyataan.

Entahlah…

Setahun Kemarin

What’s so special about 2012?

For me, it was special because during the year, I’ve been feeling so many ups and downs.

Berikut kaleidoskop peristiwa penting yang gue alami selama 2012.

Januari
Awal tahun 2012 masih gue lewati dengan kegalauan sisa bawaan dr 2011. Gue seharusnya bisa menutupi kesedihan hati dengan merayakan pergantian tahun di Bali, nyatanya tanggal 31 Desember gue harus kembali ke Jakarta. Gue ingat sewaktu check in di Ngurah Rai, petugasnya sampai terheran, kenapa enggak pulang besok? Yang gue berharap bisa menjawabnya dengan “Emang masalah buat lo?” tapi akhirnya senyuman lirih yang bisa gue berikan. Dan saat itulah pertama kali gue mengetik tweet tentang label fragile pada koper sekaligus hati, yang kemudian gue tulis juga di novel Trave(love)ing. Di bulan Januari ini gue gempor-gemporan membuat draft calon novel pertama gue. Pas banget dengan suasana hati gue yang..sebutlah..kesal karena sang mantan punya pacar duluan. Dan ya, gue kesal karena doi sering memamerkan kemesraannya atau sekedar suasana hatinya yang senang ketika bersama wanitanya. Entahlah, tapi beberapa tweetnya masih memojokkan gue. Dia berusaha membandingkan dengan waktu bersama gue dulu. Crap!

Februari.
Gue rawat inap di RS dong. Seumur-umur gue sampe masuk RS tuh cuma waktu mau operasi amandel, dan di awal tahun gue udah divonis infeksi kantung kemih. Penyebab utamanya karena gue sering nahan pipis plus kurang minum.

Maret.
Sewaktu akhir tahun 2011 di Bali, gue bertemu seorang teman baru, pria. Sebut saja rendang. Dia menyenangkan dan di bulan Maret kami makin akrab. Kedekatan kami cukup membuat gue lupa dari kesedihan. Dialah orang yang membuat gue berani memutuskan kontak dengan si mantan. Gue harus menghapusnya, karena dengan gue tau aktivitasnya dengan wanitanya akan membuat gue makin sakit. Bahkan di hari ultah mantan, akhir maret, gue lalui bersama rendang di Bromo. Tapi gue sadar, gue harus menjaga hati agar tak terjatuh padanya. Gue belum siap terluka lagi.

Sementara itu, draft Trave(love)ing sedang dalam proses editing oleh penerbit (‘-‘)9

April.
Gue makin menikmati kedekatan kami, tapi ternyata gue malah nyaman dalam kakak-adik-zone. Umurnya dua tahun lebih muda dan gue yang bungsu seakan memiliki adik baru. Tapi rupanya ketenangan gue terusik oleh ulah mantan yang enggak terima sikap gue yang memutus kontak. Ditambah lagi, teman-teman dia malah jadi tambah dekat dengan gue. Padahal maksud gue menjauh baik, gue yang dianggap sahabat olehnya, enggak mau jadi pengganggu dia dan wanitanya. Kami bertengkar hebat. Kami saling marah dan mencaci, lalu berujung dengan saling menangis meratapi semua yang terjadi di antara kami. Akhirnya kami sepakat saling memaafkan dan melanjutkan hidup masing-masing.

Akhir bulan ditandai dengan naik cetaknya Trave(love)ing 🙂

Mei.
My month. My birth day. Saat yang menggembirakan melihat begitu banyak teman yang peduli. Surprise kue ultah, kiriman bunga, dan kado yang melimpah. Ditambah lagi, tanggal 26 Mei, debut pertama gue sebagai penulis terealisasi. Trave(love)ing akhirnya terbit juga. Akhirnya, galau putus cinta menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Di titik ini gue baru memahami, the reason why my relationship with him didn’t work. Life happens!

Juni.
Holiday! Saatnya melepas penat dengan nge-USS di awal bulan. Lalu akhir bulan berpelesir ke Lombok.

Juli.
Surprisingly, gue bisa baikan lagi dengan mantan. Masih awkward dikit sih, tapi gue merasa sudah ikhlas banget sampe bisa nerima kehadirannya lagi di hidup gue sebatas teman.

Sementara itu, di bulan ini Trave(love)ing lagi laris-larisnya. Di beberapa Gramedia sudah nangkring di tumpukan best seller dan best fiction di Plasa Semanggi. Many thanks you, you, and you 🙂

Agustus.
Wait? Pacarnya si mantan enggak marah apa cowoknya kontekan lagi sama gue? Ternyata mereka sudah bubar. Sorry to hear that 😐

Lalu bagaimana dengan rendang? Pekerjaan dia yang di luar kota juga membuat hubungan kami renggang. Sesekali hanya mention di twitter.

Yang lucu, suatu hari di GI gue diajak kenalan oleh bule Perancis. Dia blak-blakan bilang menyukai gue dan minta nomor handphone gue. Gila kan! Untung gue sadar konsekuensi menjalin hubungan dengan bule, so gue enggak angkat telpon dan abaikan sms-nya. Hilang kesampatan dapat pacar? Belum saatnya mungkin 🙂

September
Bulan ini adalah titik hubungan kami yang dimulai kembali dari nol, kembali sebagai sahabat. Ibarat pita kaset, ada satu bagian rekaman yang sengaja diputus dan dibuang. Yaitu bagian dimana pernah ada asmara terselip di persahabatan kami. Kami sepakat untuk sama-sama melupakan kenangan pahit itu di tanggal 4 September. Pita yang dihapus adalah semua kenangan yang tercatat mulai 4 September 2010 – 4 September 2012. Tanggal 5 dan seterusnya menjadi awal yang baru bagi pertemanan kami.

Oktober
Resolusi 2012 gue tercapai. Ke Eropa. Iya, EROPA. Selama dua minggu gue menginjakkan kaki ke Belanda, Brussels, dan Paris. Mengunjungi Eiffel adalah impian hidup gue yang akhirnya tercapai. Alhamdulillah.

November.
Trave(love)ing cetakan kedua! Horeee. Tepat di anniversary ke 6 bulan, penerbit Gradien mengabarkan bahwa novel gue dkk akan cetak ulang. Luar biasa 🙂

Desember.
Kakak tercinta satu-satunya menikah juga akhirnya! Jelas peristiwa ini sudah ditunggu oleh keluarga kami sejak lama. Penantian terbayar dengan manis.

Tentang menulis, di bulan ini diisibukkan dengan project buku kedua gue, yang masih dikerjakan bersama teman-teman. Rencananya buku kumcer bertema sepatu ini akan terbit awal 2013.

Ah, penghujung tahun yang sempurna untuk gue.

2012, tahun dimana gue banyak berkenalan dan bekerja sama dengan orang-orang baru. Tahun dimana gue menemukan kembali bagian dari hidup gue yang pernah hilang.

Terima kasih Tuhan. Atas pengalaman berharga yang sudah kulewati, yang menjadikan aku wanita yang lebih dewasa. Atas tangisan yang menjadikanku lebih kuat. Atas tawa dan senyum yang membuat gue optimis. Atas rejeki yang tak Kau kurangi, semoga tetap membuat gue tetap rendah hati.

Semoga di tahun mendatang berkah dan kesehatan masih menyelimutiku dan orang-orang yang kucintai. Amiin

Happy new year 2013!!!

Perkara Setelah Putus

Nothing Last Forever.

Baru dua minggu yang lalu aku dan dia yang kusebut sebagai kekasih itu, masih bersama memadu kasih dengan bahagia. Setidaknya, aku bahagia. Dan aku pun mengira, dia juga merasakan hal yang sama.

Aku salah. Ah, aku tak tahu salahku dimana. Tiba-tiba saja hubungan kami terasa aneh. Pertengkaran tak bisa dihindari dan kata ‘putus’ terucap dari bibirnya.

Orang bilang, mencintai dengan tulus itu adalah dengan merelakan. Karenanya aku tak menentang kemauannya dan permintaan putus itu aku iyakan, dengan satu keyakinan jika kami berjodoh pasti ia akan kembali padaku.

Ada yang aneh di hari pertama menyandung status jomblo, mengingat keseharianku yang selalu bersamanya. Keinginanku untuk mengetahui kabarnya membuncah, namun akal sehat melarangku untuk menghubunginya. Dia sudah bukan lagi pacarku, logikaku terus mengingatkanku akan hal itu.

Meski begitu, hatiku tetap memegang teguh bahwa dia akan menghubungiku.

Dia pasti kangen.

Dia pasti akan minta balikan.

Benar saja, sebuah pesan kuterima darinya di malam kelima setelah perpisahan kami.

Satu kata panggilannya kepadaku yang cukup membuat jantungku berdegup kencang.

Benarkan apa kubilang, ia tak tahan juga berdiaman denganku lebih dari tiga hari, aku tersenyum dalam hati.

Aku langsung balas pesannya dengan sedikit jual mahal, “Ya, ada apa?”. Ah, tak mengapakan karena aku seolah di atas angin.

Aku merasa gugup menunggu kata-kata yang akan muncul di layar ponselku.

My ex lover is typing…

“Kita kan sempat beli tiket liburan berdua sebulan yang lalu, cancel aja ya. Bisa kamu transfer uang untuk bayar tagihan kartu kreditku secepatnya?”

F**k this! Bagaimana aku bisa lupa aku masih punya hutang padanya?

Ternyata setelah putus, lantas hubungan dua orang kekasih tidak serta merta berakhir. Ada banyak perkara setelahnya yang harus diselesaikan terlebih dulu.

P.s. Kalau masih pacaran, jangan beli tiket liburan berdua jauh-jauh hari. Kita enggak pernah tau masa depan bukan? 🙂

Hey Soul Sister!

There’s a wait so long. Here comes your man. – 500 days of summer Original Soundtrack.

 011212

Akhirnya datang juga hari yang sudah lama ditunggu oleh keluarga gue, terutama Nyokap gue. Karena setelah penantian panjang, bisa juga beliau merasakan yang dirasakan Ibu-ibu lainnya yang memiliki anak wanita dengan umur pantas menikah.

Ya, kakak gue menikah juga di penghujung 2012 ini.

Nyokap gue sudah mulai gelisah sejak kakak gue memasuki usia 30 tahun dan tak kunjung ada tanda-tanda akan menikah. Tahun demi tahun beliau sabar menanti, tapi Tuhan sepertinya masih menguji kesabaran hati Orang tua gue.

Ortu gue hanya memiliki dua anak, dan dua-duanya perempuan. Bukan, bukan karena mereka menerapkan KB. Tapi Tuhan menghendaki kakak laki-laki gue nomor dua adik kembar cowok-cewek gue kembali kepadaNya di umur muda. Jadilah Bokap gue yang paling ganteng di rumah gue J

Meninggalnya kakak cowok gue terjadi saat gue berusia 3 tahun, dan kakak cewek gue sudah menginjak usia remaja. Gue sama sekali enggak ingat kejadiannya seperti apa, yang jelas sejak saat itu, kakak gue jadi lebih sayang sama adik perempuannya ini. Ditambah lagi, adik kembar kami juga diambil sang kuasa. We are two out of four, so it makes us getting closer.

Karena Ortu gue dulu dua-duanya sibuk bekerja, akhirnya peran menjaga gue diambil alih oleh Kakak cewek gue itu. Pulang sekolah doi nemenin gue main ketimbang layaknya ABG yang lagi seru-serunya jalan sama teman atau pacar. Doi juga yang menyiapkan makan buat gue, karena kalo enggak disiapin gue pasti ogah makan. Dan kebiasaan itu berlangsung sampe gue dewasa J

Jadi enggak heran kan, gue akrab sama lagu atau artis tahun 80-an, ya semua itu karena gue yang selalu di kamar kakak gue. Ikut mendengarkan NKOTB, dan ikut suka sama personel ganteng-gantengnya itu :p

Ketika akhirnya Kakak gue harus kerja di Jakarta, saat itu gue masih SMA di Serang. Gue sedih banget karena enggak ada yang manjain gue lagi. tapi enaknya, tiap doi pulang selalu bawa makanan buat gue sih. Pantes gue gendut.

Meski kemudian gue melanjutkan studi S1 di Jakarta, enggak membuat gue jadi dekat sih, soale gue tinggal di Jakarta coret. Depok. Tiga tahun 6 bulan menyelesaikan kuliah lalu gue akhirnya pindah ke kos kakak gue di Sudirman. Betapa happy-nya gue akhirnya bisa sama-sama mencari nafkah di Jakarta bareng. Bersama doi, gue merasa aman. Iyalah, dia memantau tanpa gue harus merasa menjadi si bungsu yang overprotected. Kerjaan gue yang mengharuskan pulang pagi, membuat doi enggak bisa tidur dengan nyenyak. Karena doi menunggu gue pulang. Lalu pagi-pagi sebelum doi berangkat kerja dan gue masih tidur karena kelelahan sehabis lembur, sarapan untuk gue sudah disiapkan. Gue pun enggak perlu khawatir dengan pakaian kotor menumpuk yang untuk tidur saja gue susah, apalagi mencuci. Kakak gue dengan ikhlas melakukannya untuk gue.

Apa sih yang enggak dia lakukan buat gue?

Saat wanita seumurnya sudah mengurus suami dan anak, dia masih mengurus adiknya.

Tahun 2009, kakak gue memutuskan untuk pindah kerja ke Cilegon. Hal itu dikarenakan agar doi bisa merawat Ortu gue yang sudah semakin tua. Di malam terakhir sebelum doi pindah, diam-diam gue manangis. Bukan karena gue sedih harus hidup mandiri di Jakarta dan melakukan apa-apa sendiri. Tapi gue sedih enggak bisa dekat dengan doi lagi.

Day by day…month by month…year by year…

Meski gue udah enggak serumah dengan kakak gue, tapi gue selalu berusaha bisa pulang minimal dua minggu sekali. ketika di rumah gue betah hanya doing nothing atau leha-leha sama kakak gue. atau di malam hari ketika kami nonton TV, dia akan bisik-bisik sama gue bilang, “Laper enggak? Ning buatin Indomie mau?”

Pantes gue gendut.

Kesedihan hatinya di awal tahun karena harus putus dari kekasih yang diharapkan akan menikahinya di 2012 ini juga ikut meremas hati gue. Jadi kapan kakak gue menikah ya Tuhan?

Dia itu anak baik, terlalu baiknya. Apa dosanya sampai Kau biarkan seorang pria lama menjemputnya dan memberikan mimpi baru untuknya?

Beberapa orang mungkin ditakdirkan harus menanti lebih lama, sebelum akhirnya tiba juga jodohnya.

Dan gue adalah orang yang paling antusias dengan kabar akhirnya kakak gue bertemu juga dengan pria bertanggung jawab yang meminangnya. Pernikahan akan segera dilakukan akhir tahun ini. Gue, dengan semangat menemaninya mengurus kebutuhan pernikahan. Mencari suvenir sampai menemani fitting kebaya.

Suatu minggu siang setelah gue menemaninya fitting, ia terpaksa menurunkan gue di tengah jalan karena macet. Jadi taksinya langsung menuju Slipi, dari situ dia melanjutkan dengan bus umum ke Cilegon. Toh gue diturunkan dekat dari kos jadi gue enggak keberatan sama sekali harus jalan kaki. Ternyata dari dalam taksi, kakak gue yang melihat gue jalan sendiri merasa bersalah dan sedih sampai hampir menangis. Ia tak tega melihat adik semata wayang yang sangat disayanginya ini harus jalan sendirian.

Ya ampun, sesayang itu kakak gue sama adiknya yang kadang suka jutek sama dia. Suka sebel kalo kakak gue nelpon di jam yang gue lagi males ngomong sama dia. Suka lupa jawab sms-nya.

Dan sungguh, seminggu sebelum pernikahannya adalah saat yang berat buat gue. Gue kembali menangis diam-diam. Kakak gue akan diambil oleh suaminya nanti. Kami tidak lagi akan membagi tempat tidur bersama. Kami tidak lagi dua kakak beradik yang selalu bersama. Tidak ada lagi malam-malam makan indomie bersama.

Tapi gue harus merelakannya. Dia layak hidup bahagia dengan suaminya, membangun rumah tangganya sendiri. Dan hei, bukankah ini yang sudah lama kami inginkan.

Ya aku bahagia untukmu kakakku.

Even we dont live under the same roof, but we belong together. Always.

photo (34)

Daddy Vs. Him

Pernah nggak, ngalamin masa dicemburuin Bokap karena waktu lo habis buat cowok lo?

Well, been there done that.

In love sama cowok itu emang menyita waktu dan perhatian banget, sampe-sampe gue lupa ada cowok di hidup gue yang enggak kalah pentingnya. Bokap.

Gue emang deket banget sih sama Bokap, meski usia gue udah 20-an (28 juga 20-an kan :p), tapi kalo di rumah kayak anak umur 8 tahun. Gue masih suka bercanda anak kecil sama dia, gue seneng banget main tindih ke dia, atau bobo di pahanya lalu dia elus-elus kepala gue. Kebiasaan yang masih dan gue harap akan terus berlangsung. AMIIIIN.

Sejak kuliah gue meninggalkan rumah sampai kemudian melanjutkan kerja di Jakarta. Jadinya, sudah sepuluh tahun gue hanya pulang semingu sekali atau paling maksimal ya sekali sebulan. Enggak boleh lebih dari itu atau Bokap gue akan ngambek. Iya, doi tukang ngambek. Anaknya kudu sering-sering telepon nanyain keadaannya, atau doi akan ngediemin gue berhari-hari.

Mengetahui sifat Bokap yang sedikit posesif sama gue, membuat gue enggak pernah cerita sama sekali masalah-masalah seputar cinta gue ke beliau. Tapi Bokap bisa rasain anaknya yang lagi sedih diem-diem. Bentuk support dia buat gue dengan cara elus-elus kepala gue, dan itu berhasil menenangkan gue.

Gue menyesal, ya, sangat menyesal pernah menomorduakan Bokap. Ketika itu, gue sedang dekat dengan cowok tentunya.

Enggak cuma waktu yang banyak gue habiskan sama cowok, sampe akhirnya gue jarang pulang. Materipun lebih banyak gue habiskan untuk si cowok. Kalau gue traveling, si cowok dapet oleh-oleh paling banyak melebihi Bokap!

Gebleg!

Bokap gue enggak pernah protes, dia diem aja. Adalah Nyokap, yang waktu itu nyadarin gue kalau gue udah berkurang perhatian ke keluarga. Cenderung lebih perhatian ke keluarga si cowok bahkan. Nyokap sampe bilang, jangan sampe kamu menyesal dan semuanya terlambat.

Lalu tibalah waktu di mana gue dicampakkan oleh si cowok. Gue terpukul, dan kemana lagi gue berlari kalau bukan kembali ke keluarga.

Bokap gue, orang yang tidak pernah menyinggung masalah percintaan gue itu, sampai ikut bersuara, “dengerin Papah ya Ndok, laki-laki itu enggak baik, kamu jauhi dan lupakan dia ya.”

Ah, gue merasa tertampar. “Papaaaaaah…”

“Go home frequently, cause someday someone will steal you from me and build you a new home.”

I smile listening to his words. I know one thing, I may not a man’s special woman yet, but I will always be a Daddy’s little girl. And it makes me special.

🙂

Sejak saat itu, Bokap kembali menjadi prioritas gue. Gue harus bersyukur punya Ortu yang masih lengkap yang harus gue curahkan segenap waktu dan perhatian gue kepada mereka. Betapa pelajaran hidup itu berharga ya…

So, khususnya para cewek, jangan sampe kepedulian kamu ke pacar melebihi kepedulian ke Bokap ya. Harus imbang, ingat selalu sama dua cowok penting dalam hidup kita. Cowok bisa nyakitin hati kita, tapi Bokap enggak akan pernah lukain perasaan anaknya.

Don’t spend most of your time for your beloved man, your Daddy deserves more. Be there always for him before too late or you may regret it. Ever.

Nah, compare ke cowok spesial dalam hidupmu, seberapa dekat kamu dengan Ayahmu? Do you know his size or favorite things as well as your man? Let’s start listing it. Contoh dari gue tapi ini dulu ya 😉

Daddy Vs Him.
Shoe size: 41 Vs 42
Clothes size: L Vs L
Things:
-          Demen masakan yang kecut Vs Nasgor mania
-          Coffe lover Vs Coffee hater
-          Ex smoker Vs Heavy smoker
-          Sama-sama ngambekan 😀

As Long As We Got Each Other

Inget film Deep Impact?

Armageddon? End Of The World? Atau 2012?

Semuanya tentang kisah di mana dunia sedang mendekati akhirnya. Dan di film-film itu diceritakan bagaimana para penghuni bumi melakukan berbagai persiapan menghadapi hari akhir tersebut. Yang dapat gue cermati dari film-film itu adalah, at least mereka diberikan waktu untuk menghadapi hari akhir itu.

Bagaimana jika tanpa ada tanda sedikitpun. Suasana pagi hari terasa tenang, cuaca berawan, dan burung berkicauan. Lalu tiba-tiba Malaikat meniupkan terompet sasangkala, pertanda kiamat tiba?

Ah, mungkin contoh gue terlalu besar, itu tadi kiamat besar. Oke, masih banyak kiamat kecil lainnya yang terjadi tiba-tiba. Kun Faya Kun, maka terjadilah. Gunung meletus. Bencana tsunami. Gempa. Kematian.

Tak ada peringatan. Tak ada persiapan.

Begitupun yang terjadi melanda tempat gue bekerja, pertengahan November kemarin.

Tak ada yang menjanggal di pagi hari ketiga gue bangun tidur. Seperti biasa hal pertama yang gue pikirkan di pagi hari adalah, hari ini mau pakai baju apa ya?

Sampai di gedung kantor juga tak ada peristiwa yang aneh. I’ve come to this building for a hundred times and everything was normal.

Suasana di pagi itu baik-baik saja, gue bertegur sapa dengan para security, front office, dan rekan kerja lain. Gue turun sarapan jam 9 seperti biasa dengan sahabat gue yang kerja masih di lingkungan satu gedung dengan gue. Gue ingat, we both even took some silly pictures lalu bercanda dan tertawa.

Gue kemudian melanjutkan pekerjaan setelahnya, dan jam 11 muncul sebuah kabar berita mengejutkan.

Rasanya seperti dikabari kerabat dekat meninggal mendadak!

Kami semua shocked. Tak percaya akan keputusan yang sudah dibuat. Tapi apa daya, palu sudah diketuk. Kami hanya bisa pasrah dan menanti arahan.

Kemudian di sore harinya seluruh pegawai yang mencapai angka 1,000 dikumpulkan oleh pimpinan kami. Bagaimana ya gue dapat menggambarkan suasana saat itu…hmmm oke, Film Titanic.

Ketika si raksasa laut menabrak gunung es, dalam hitungan jam si hitam ‘unsinkable’ itu nyatanya tenggelam juga. Penumpangnya tentu panik, karena kematian di depan mata.

Seperti itulah yang kami rasakan saat itu. Berada dalam keadaan penuh ketidak-pastian dengan status resmi PHK. Berbagai macam pikiran dapat terbaca di mimik tiap wajah yang berkumpul di town-hall meeting dadakan tersebut. Yang jelas semuanya memikirkan nasib dan masa depan masing-masing.

Dan di sinilah peran seorang pemimpin dibutuhkan. Di hadapan kami, beliau memberikan speech-nya yang mengharukan. Ada perkataannya yang membekas di benak gue.

“Mungkin Tuhan cemburu akan kedekatan seorang pimpinan dengan stafnya. Mungkin kalian terlalu mencintai saya. Oleh karena itu Tuhan memisahkan kalian dari saya. Jadikan ini ujian, untuk semakin mendekatkan diri kepada-Nya.”

Standing applause for him.

Beliau menangis, kami pun menangis.

Baru kali ini gue melihat pemimpin sehebat-hebatnya pemimpin. Dan gue yakin benar, semakin kencang anginnya, akan semakin kokoh pohon. Dan angin yang menerpa beliau begitu besar, sampai akhirnya tumbang juga.

Kembali ke Titanic, ada adegan mengharukan yang gue masih ingat. Yaitu beberapa gentleman pemain musik klasik yang di saat kapal menjelang tenggelam, mereka tetap menjalankan tugas sebagai penghibur. Di akhir musik selesai dimainkan, mereka saling bersalaman dan mengucapkan,

“Gentleman, It’s been an honor to work with you.”

Itu juga yang gue rasakan pada rekan-rekan kerja gue. Gue baru tiga tahun berkarir dan harus berakhir dengan cara yang menyakitkan. Sepertinya kebahagian dan kebersamaan kami direnggut begitu saja. Tapi apapun yang terjadi, di tengah segala ketidakpastian ini kami mencoba bertahan dan saling mendukung. Menyontek line popular dari serial TV jaman gue TK, The Growing Paints:

As Long As We Got Each Other .

Seperti the unsinkable ship, Titanic pun pernah sombong sebelum terpuruk menjadi bangkai di dasar laut. Mencoba positif, ya mungkin selama ini kami sombong dan meremehkan banyak pihak. Ini adalah teguran, tapi kami tidak akan seperti Titanic yang tenggelam, kami justru akan terus maju dan menjaga profesionalisme serta bekerja sesuai kewajiban kami. Kami yakin, sebuah akhir adalah awal yang baru.

Awal yang lebih baik sudah menanti di depan kami.

Alhamdulillah, per tulisan ini di-publish, sudah ada kejelasan mengenai nasib organisasi dan seluruh SDMnya.

Terima kasih atas dukungan berbagai pihak, tak luput juga teman-teman terdekat yang peduli.

It means a lot for us 🙂

Joey McIntyre Was Outside The Window!

Joey McIntyre Was Outside The Window!

Ada yang bilang di dunia ini ada 7 orang dengan wajah yang memiliki kemiripan. Tujuh orang tersebut tidak memiliki hubungan darah dan tersebar ke berbagai sudut di ruang bumi ini. Dan yang aku temui ketika berada di dalam Atomium, Brussels, Belgia, adalah seorang pria yang sangat mirip dengan Joey McIntyre, penyanyi yang juga salah satu personil New Kids On The Block. Dua orang yang mirip, yang satu artis dengan kekayaan melimpah. Sedangkan satu lainnya sedang bergelantungan dari ketinggian 100 meter di luar jendela, karena profesinya sebagai cleaning service. Sadar akan para pengunjung wanita yang terpesona pada ketampanannya, ia pun dengan ramah menebarkan senyumannya.

Foto ini diikutsertakan dalam #TurnamenFotoPejalan 7: Hello human! (http://windy-ariestanty.tumblr.com/post/35701697368/turnamen-foto-perjalanan-ronde-7-hello-human)

Tipe Kepribadian Wanita Dilihat Dari Kosmetik

Wanita dan kosmetik.

Keduanya sudah seperti sepasang sahabat baik. Kosmetik lah yang sangat-sangat mengerti kaum gue, yaitu kaum bukan-wanita-yang-polos-tanpa-make-up-saja-cantiknya-kayak-bidadari. Kami ini, butuh di-endorse sama make-up supaya lebih pede.

Sedangkan kaum wanita-yang-polos-tanpa-make-up-saja-cantiknya-kayak-bidadari itu, meminjam istilahnya mbak Yessy Muchtar (yessymuchtar.wordpress.com), disebut cantik effortless. Nggak perlu usaha banyak juga udah cantik.

Bukan berarti si cantik effortless itu juga enggak butuh kosmetik. Mereka juga memakainya supaya lebih kece, lebih enak dilihat.

Gue sendiri mulai berteman dengan kosmetik sejak memasuki dunia kantoran. Hari pertama menjadi pegawai, gue baru berani memakai pewarna bibir yang terkenal disebut dengan lipstick. Selama kuliah paling cuma lipbalm doang. Bedakpun ya asal bedak aja, belum tau apa yang namanya foundation.

Lalu mulailah gue tergoda dengan berbagai kosmetik yang membuat para cewek-cewek di kantor gue jadi lebih kece. Saat mata mereka berkedip, kelopak matanya berwarna! “Aku mau juga kayak gitu!” teriak gue dalam hati.

Gue kemudian berkonsultasi sama nyokap gue, dengan malu-malu, layaknya remaja yang baru pertama kali mendapatkan menstruasi, gue menanyakan, “Mah, Sex itu apa?” @!@#$$#*^%$^%#

Nggak ding.

“Mah, ajarin Mia make-up-an dong.” Pinta gue ke nyokap. Dan nyokap pun mengerutkan jidatnya sambil memandang anaknya from head to toe. Mungkin dalam hati dia berpikir…”Wah, bayiku sudah jadi wanita dewasa.”

Nyokap mengeluarkan seperangkat alat kosmetiknya dan dengan tegas bilang sama gue, “Tapi nanti kosmetiknya beli sendiri, ya. Kan udah bias cari duit sendiri.” Ah Mamah, tak rela sekali perlengkapan dempulnya dipakai sama anaknya.

Iya, Mah. Iya.

Setelah pengalaman pertama bersentuhan dengan berbagai alat bikin cantik itu, hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun, koleksi make up gue makin banyak dan lengkap. Bukan, bukan karena gue butuh banyak usaha untuk cantik. Tapi gue suka banget sama dandan. Berikut ini perlengkapan cantik gue yang dikategorikan jadi 3.

>> Kosmetik ‘berat’ yang cuma dipake sekali-kali, pesta misalnya, dan gue simpan di make up box yang lumayan besar.

>> Kosmetik harian yang gue pake monday to friday di kantor, enggak too much, tapi juga enggak natural banget.

>> Kosmetik untuk traveling, palette kecil yang isinya udah lengkap dari bedak, lipstick, eye shadow, dan blush on. Praktis dibawa untuk traveling kemana-mana.

Gue enggak mau cerita tentang jenis dan fungsi berbagai kosmetik yang ada di muka bumi ini sih. Gue bukan make up consultant juga dan masih bego juga meski pernah ikutan make up class. Gue mau share analisa gue, tentang kepribadian wanita dilihat dari kosmetiknya. Here we go.

1. Tipe Royal

Si tipe ini prinipnya, buat kulit kok coba-coba. Bisa ketebak dari caranya yang teliti sebelum memilih kosmetik. Dia akan browsing dulu, nggak sungkan juga konsultasi sana sini, buat tau apa foundation yang paling nempel di kulit, bedak yang enggak mudah luntur, bla bla bla. Nah segala kosmetik yang ter-ter-ter itu ya pastinya harga enggak bisa bohong lah. Mahal berat. Jadi cuma cewek berduit yang royal beli kosmetik mahal. Nah yang begini gampang nih dimanfaatin cowok. #oops

2. Tipe Eksis

Cewek yang beli kosmetik yang emang lagi booming, cocok apa enggak urusan belakangan yang penting beli dulu. Gaul dong cuys, kalau perlu abis beli difoto deh tuh kosmetik dan diupload di instagram. Kasih judul: My best friends…atau my mood boosters.

3. Tipe Labil

Doi pasti gampang banget ikut-ikut temen yang punya lipstick baru atau bedak baru. Mudah percaya juga sama omongan “katanya yang bagus merk ini loh”. Belum juga habis kadaluarsa kosmetik yang ada, udah beli lagi. Numpuk deh *straight face*

4. Tipe Agamis

Tipe cewek yang begini ribet banget deh meriksain konten dalam kosmetik ada unsur babi-nya apa enggak. Sampe pelayan toko segala ditanya, “Ada babinya enggak?” Ya mane die tehe, cek aja sendri ke Lab, sis.

5. Tipe Peduli

Cewek yang selalu ngecek kosmetik ada merkurinya or enggak, trus rajin nyatet tanggal beli dan tanggal kadaluarsanya. Doi peduli banget tuh artinya sama kesehatan, dan biasanya peduli juga sama sekitarnya. Tipe oke untuk dipacarin banget. Halah.

6. Tipe Misterius

Cewek misterius pasti hobi make kosmetik waterproof. Doi enggak mau ketauan nangis dengan belebernya maskara karena air mata. Doi juga make lipstick waterproof biar enggak ninggalin bekas bibir di kemeja si om. #eh

7. Tipe Minimalis

Doi cukup make caring or Viva or Puteri, or berbagai kosmetik lainnya yang cukup didapat di Indomart. Minimalis banget deh budgetnya. Piss!

8. Tipe Susah Move On

Kalau sudah cocok dan nyaman sama kosmetik kesayangannya, enggak akan berpaling deh. Mau digosipin si kosmetiknya mengandung merkuri dan dapat membahayakan juga BODO.

Itu sih menurut analisa suka-suka gue. Kalau kamu, termasuk tipe yang mana? 🙂

A Gentle Smile In Amsterdam

In front on the tram
In front on the tram

Cik!

Aku berlari melewati hujan, yang menimbulkan bunyi gemericik akibat sepasang bootsku beradu dengan genangan air. Hujan tiba-tiba saja menyerbu di saat aku sedang menikmati suasana di negeri tanah rendah ini. Ya, tanah rendah, the lower land, atau dalam bahasa Dutch disebut The Nether Land.

Begitulah asal mula bagaimana negeri yang pernah menjajah Indonesia selama 3,5 abad lamanya disebut, The Netherland. Rendah, karena berada sekian kaki ribu di bawah permukaan laut.

Dan aku, berkesempatan untuk mengunjungi ke Amsterdam, ibu kota negara itu. Sayangnya, perjalananku bertepatan dengan musim winter, dimana hampir setiap hari turun hujan.

“Miw…tunggu.” panggil Arin, teman seperjalanku di Amsterdam.

Dia selalu ingin menjadi satu-satunya orang yang memanggilku dengan nama selain Mia atau Mimi, nickname-ku. Dia bahkan pernah mengatakan padaku seperti ini, “Kalau ada lagi yang manggil lo Mimiw, kasi tau ya. Gue cari nickname lain.”

Ada-ada saja travel mate-ku kali ini.

“Buruan, Rin. Kita naik tram aja ya daripada ujan-ujanan.” Suaraku meninggi agar Arin dapat mendengarnya, di tengah hembusan angin dan curahan hujan yang saling bersautan.

Kalau di Indonesia, aku suka berlarian di bawah hujan. Hujan tropis yang hangat dan sejuk dapat mengusir segala gundahku. Romantis sekali. Tapi di Belanda, air yang jatuh mencubiti kulit mukaku sampai sakit rasanya. Tak ketinggalan angin kencang yang membawa udara dingin menembus coat tebalku. Jadi, ketika hujan tiba-tiba datang ya kami harus segera berteduh.

We saved by the bell. Untung saja kami tepat sampai halte dan masih dapat memasuki tram sebelum kereta mini itu melanjutkan lajunya. Jadi nggak harus berteduh lebih lama di halte.

Tram adalah salah satu alat transportasi umum di Amsterdam, selain kereta dan taksi. Tram ini mungkin seperti monorail, kereta mini dengan lintasan 1 rel. Jarang sekali ditemui kendaraan roda empat maupun roda dua yang mengeluarkan polusi asap.

Selain itu, hampir separuh penduduknya menggunakan sepeda. Bahkan di sepanjang jalan, banyak diparkir sepeda. Hal tersebut menyebabkan kota Amsterdam sungguh luar biasa sejuknya.

Hujan membuat tram agak penuh dari biasanya. Setelah menempelkan kartu akses 24 jam seharga 7.5 euro atau sama dengan 93,750 rupiah, aku masuk ke dalam sambil menyapu pandangan ke seluruh isi tram ini mencari kursi kosong. No result found.

Udah mahal-mahal, berdiri pula. Keluhku dalam hati. Cukup mahal memang biaya hidup di Amsterdam. Tak terkecuali transportasi. Untuk dapat menggunakan seluruh alat transportasi umum sepuasnya di Amsterdam, tiket yang tersedia selain one-trip yaitu 1-hour-access, atau 24-hour-access. Hari ini aku membeli yang perhari, sesuai prediksiku seharian akan banyak diguyur hujan. Sehingga tak memungkinkan jika berjalan kaki.

Yasudahlah, yang penting kan enggak kehujanan. Aku mencoba menyenangkan hati sendiri.

Kereta mini yang aku naiki kemudian dengan gesit menyusuri bangunan-bangunan yang berdiri sejak tahun 1600-an ini. Amsterdam memang sangat mempertahankan sejarah. Tata kota yang meski tua, justru membuatnya terlihat unik. Aku sungguh menikmati perpaduan bangunan, kanal, dan kapal kecil yang menghiasi pemandangan dalam kereta. Jadi, meski berdiri, aku tak merasa susah.

Teng. Teng.

Begitu bunyi klakson tram ketika berjalan dan memberi peringatan, agar pejalan kaki maupun pengendara sepeda memperhatikan kereta yang lewat.

Aku sungguh menikmati tram, pemandangan di luar jendela, bunyi, ah segalanya. Sampai-sampai aku tak menyadari ada kursi kosong di belakangku. Yang semula menempatinya baru saja turun di halte tujuan.

“Miw, tuh duduk.” perintah Arin sambil menunjuk ke arah kursi kosong.

Setelah aku duduk Arin menanyakan tujuan kami kepadaku, “Jadi turun di mana? Berapa halte lagi, Miw?”

Biarlah peta yang menjawabnya. Aku mengeluarkan teman kesayangan Dora itu dari tasku. Sekilas, dari sudut mataku aku merasa diperhatikan oleh pria yang duduk di sebelahku. Aku meliriknya, benar saja, dia memang tadi memperhatikanku. Namun ia segera mengalihkan perhatiannya seoalah ketakutan dipergoki.

Tampan. Aku tersenyum ke-GR-an dalam hati.

Tapi aku langsung ingat bahwa di negeri Holland ini banyak beredar copet juga. Dan copet di sini tentu saja ganteng. Aku reflek menutup resleting tasku dengan cepat. Apa salahnya berhati-hati kan.

Aku membuka petaku, dan mencari-cari daerah yang hendak aku datangi. Kami ingin menuju Rijks Museum, di depannya ada tulisan I am sterdam yang terkenal itu. Kami ingin berfoto di manifesto kebanggaan Amsterdam tersebut.

“Rin, tiga halte lagi kita turun ya. Abis itu ganti tram.”

Aku menoleh lagi, pria di sampingku itu kembali memperhatikanku.

Ah, matanya biru dan bening. Ingin rasanya berlama-lama menyelam sampai ke dasarnya. Aku mendadak gugup dan sulit bernapas.

Oh my God!

Akupun kembali berkutat dengan petaku. Aku melihat lagi ke luar tram, kendaraan ini sedang berhenti di halte berikutnya. Dan aku bisa melihat pantulan pria itu dari jendela. Dia memperhatikanku dengan seksama.

Seketika aku merasa kegerahan, padahal tadi sempat menggigil kehujanan. Dengan malu-malu aku menoleh padanya lagi.

Dan kali ini, ia tersenyum. A gentle smile that makes me warm.

Astaga, he’s so damn cute! Mungkin senyuman ter-cute yang pernah kulihat selama tiga hari menjadi turis di kota ini.

Aku merasakan jantung ini mulai berdebar cepat. Aku lirik lagi, ia tersenyum lagi. Aku menunduk lagi. Begitu seterusnya sampai tram kembali berhenti.

Satu halte lagi aku akan turun, jadi aku tidak boleh melewatkan kesempatan baik ini. Ada pria bule tampan dan menggemaskan di sampingku lalu aku harus diam saja?

Tidak, it’s now or never. Aku buang segala ketakutanku dan mengumpulkan segenap nadi keberanian yang aku punya.

Aku menghela nafas sejenak, sebelum akhirnya nekad menanyakan namanya.

Hi, what’s your name.

He’s Sebastian. Isn’t he cute, huh?” ucap wanita yang menggendongnya di pangkuan.

Yes, he’s charming. I love his smile. Hi Sebastian..” aku menyalaminya dengan memegang tangan mungilnya.

Ia menggelembungkan ludah dari mulut mungilnya, pertanda sedang sangat riang.

Dengan masih memegang jemarinya, aku mengatakan kepada Ibunya sambil tersenyum, “You’re so lucky to have a cute baby like Sebastian.”

Aku ingin juga punya anak bule selucu ini! tekadku dalam hati, tepat sebelum pintu tram terbuka di pemberhentian tujuanku.

-THE END-

Di-publish untuk working-paper.com