Half Life Part 2

Sebenarnya udah lama banget gue pingin nge-post tulisan ini. Tapi berbulan-bulan cuma nangkring di draft gue. Kenapa part 2, karena sebelumnya pernah menulis posting-an dengan judul yang sama.

Biar enggak bingung, baca dulu deh ya part 1-nya.

Udah?

Nangis?

Haha.

Half Life, lagu yang diciptakan sendiri dan dinyanyikan oleh Duncan Sheik. Pertama kali gue tau lagu itu dari sahabat gue, ya you know lah. Konon, lagu itulah awal gue mulai jatuh hati sama dia. (Konon, bisa jadi cuma legenda :p)

Lagunya sedih banget, tapi nyandu! Denger deh nih youtube-nya.

Dan Alhamdulillah, gue berkesempatan bisa nonton konsernya Duncan Sheik di Bandung sekitar bulan Juli tahun lalu. Luar biasa rasanya mendengarkan lagu favorit gue dinyanyiin langsung sama penyanyi aslinya!

Tulisan ini adalah tentang cerita di balik konsernya yang enggak pernah gue share sebelumnya.

Back to July 2011.

Saat itu sedang masa krisis-krisisnya hubungan gue dan si sahabat gue itu. Demi membuat gue melupakan sayangnya sama dia, dia pernah benar-benar pushing me away. Semua BBM gue di-ignore. Kami saling diam berhari-hari.

Untungnya gue dinas ke Bandung setelah itu, jadi lumayan enggak terbebani sama pertengkaran dengannya. One week getaway really worked for me.

Dan munculah kabar tentang konser amal kecil-kecilan Duncan Sheik di Dago Pakar. Tiketnya 300ribu sajah! I was like, seriously? Pas banget gue di Bandung pula. Gue langsung kontak temen gue di Bandung dan dia mau nemenin, ahey! Senang bukan kepalang rasanya gue akhirnya bisa nonton musisi favorit gue itu.

Tiket Duncan Sheik
Tiket Duncan Sheik

Lalu gue-pun saat itu menuliskan sebuah tweet.

Nonton konser Duncan Sheik bareng kamu, dengerin lagu kita Hakf Life dinyanyiin langsung penyanyinya. #Impossible

Mana mungkin, pertama konsernya di Bandung dan si kamu di Jakarta. Bisa aja sih sebenarnya, tapi kedua, kan lagi musuhan.

Lalu muncul notifikasi Twitter di smartphone gue.

Dari si Kamu!

Sebuah reply dan terdiri satu kata “Mauuuuu”.

I was totally upset at that time, and his reply wouldn’t make me feel better. At all. I didn’t comment his ‘mauuu’. I kept on silent.

Lagipula kalau emang benar-benar pingin kenapa enggak usaha baikan sama gue dan nyusul untuk nonton konsernya?

Jadilah, di jumat malam ketika itu, gue tetap nyuekin mention-nya dan menikmati setiap alunan lagu yang dinyanyikan Sheik yang sudah mulai menua ini. (Waktu jaman gue SMP doi masih seganteng John Mayer gitu deh :*)

This is it, pikir gue saat itu, pas MC meneriakkan, “Let’s give it up for Half Life.”

Gue langsung merekam moment membahagiakan itu, dan saking menghayatinya tanpa sadar mata gue meneteskan air. Ada bahagia, haru, sedih. Bercampur.

I wish you were here. This is our song…

Ini hasil rekaman gue: Half Life.

Lagu Half Life selalu menjadi penyelamat hubungan gue dan sahabat gue itu. Saat awal-awal pisahnya kami, tulisan gue di Half Life part 1 yang membuat kami jadi dekat lagi.

Setelah pulang ke Jakarta dari Bandung dengan perasaan bahagia abis nonton Sheik, kami baikan lagi.

Dan ketika akhirnya hubungan kami benar-benar mengikis selama berbulan-bulan. Puncaknya bulan April 2012, kami bertengkar hebat. Pertengkaran yang diawali oleh keputusan gue yang ingin melepaskannya, dengan menghapus semua kontaknya. Gue lelah dan tak lagi ingin mempertahankan hubungan apapun dengannya, bahkan persahabatan kami sekalipun.

Namun lagi-lagi Half Life mengingatkan kami mengapa kami akan terus menjadi sahabat di hati meski sudah tak dapat saling berinteraksi.

“Kalau lagi sedih, tetep denger Half Life ya. Gue ada nemenin lo lewat lagu itu. Sedangkan fisik gue, nggak lagi bisa. Gue harap lo bisa nerima.” ucap gue di akhir cekcok kami.

April 2012, resmi kami berjauhan, namun saling berjanji tetap berteman dan tak lagi saling membenci.

It’s great how one song can be a reason for two people to remain friends.

Well, good job, Sheik 🙂

I am sterdam

I am sterdam

I am sterdam

Sebuah brand milik kota dan penduduk Amsterdam. Tak ada makna lebih selain ekspresi yang mengungkapkan: “Saya orang Amsterdam dan saya bangga!”

I am sterdam cukup berhasil meningkatkan kebanggaan pada tiap insan di kota ini. Terlihat dari tulisan yang terletak di depan Rijks Museum ini, selalu dipadati pengunjung untuk berfoto sambil berteriak dengan bangga, “Yes, I am sterdam.”

Tak hanya penduduk lokal, para turis pun menjadikan tempat ini wajib untuk dikunjungi jika ke Amsterdam. Belum ke Amsterdam namanya, jika tidak berfoto di I am sterdam.

Dan sambil melompat ke udara, aku pun bangga mengatakan, ” I am (in) sterdam.”

I am (in) sterdam

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Foto ini juga dipersembahkan untuk mengikuti Turnamen Foto Perjalanan – Ronde 6: Kota -> http://www.mainmakan.com/?p=1416

 

Friends, Lover, Stranger, Next?

“Gimana penjualan bukunya, Mi?”

Basa-basi! Kata gue dalam hati. Setelah sekian lama enggak pernah saling berbicara dan tegur sapa, gue bertemu lagi sama ‘stranger-after-lover’ gue itu di suatu acara kantor gue yang melibatkan kantornya.

Nasib punya mantan satu gedung kantor ya gini, kapanpun bisa ketemu. Sejak hubungan kami memburuk, dari yang pernah saling pura-pura enggak kenal sampai menghindar udah pernah dijabanin. Dan ya, lama-lama capek sendiri. Tiap ketemu enggak sengaja di lingkungan kantor, atau terjebak di lift yang sama misalnya, kami pada akhirnya bisa saling tersenyum.

Dan di suatu sore beberapa bulan yang lalu, kami sama-sama berada di tempat yang sama. Mustahil rasanya untuk balik badan dan kabur. Buat apa lagi juga?

And that awkward moment saat tangan yang pernah saling, ehm bergandengan, cuma bersalaman dengan kaku. Untungnya, dia mau membuka percakapan duluan. Meskipun terdengar aneh menanyakan buku yang di dalamnya adalah cerita, yang terinspirasi dari kisah kami berdua.

Mencoba biasa, gue dengan excited menjawab “Udah best seller lho…” Fyi, saat itu Trave(love)ing sudah 1 bulan dan 3 minggu terbit di pasaran.

“Selamat ya.”

Untungnya salah seorang teman yang melihak ke-krik-krik-an di antara kami berinisiatif untuk mengajak gue pergi meningalkannya.

FIUH.

Terkadang gue iri sama orang-orang yang mantannya sudah berada entah di mana. Saling berjauhan itu lebih baik, no contact at all.

Ya bukan berarti karena masih sering ketemu mantan secara enggak sengaja lantas membuat gue susah move on. Udah enggak ngaruh lagi kok dengan apa yang pernah kejadian sama kita berdua. Tapi tetep ada perasaan sebel dan gondok ketika harus mendengar kabar orang yang pernah mengiris-iris hati gue. Apalagi sampe ketemu!

Dan memang ada hal-hal terkait si ex yang kadang masih berpengaruh buat kita, enggak ada kaitannya sama udah move on atau belum. Gue menyebutnya ‘The Ex Factor’.

Misal, siapa di antara kita dan ex yang dapet pacar duluan, or bahkan merit duluan! Atau, gue harus dapet pacar baru lebih lebih lebih lebih segalanya dari si mantan. Dan nggak jarang, ada juga yang pengen buat mantannya nyesel.

Ada. Setiap orang pasti punya ‘the ex factors’, tingkat kadarnya aja yang beda. Manusiawi kok.

Dan the ex factor gue adalah, karena masih suka ketemu, gue sekuat tenaga bersikap cool, supaya dia tau gue baik-baik aja tanpa dia. Meski dalam hati sih…”Mati lo, ketemu dia!”

Dan sekali lagi gue tekankan. Masih. Dipengaruhi. The ex factors. Bukan. Berarti. Belum. Move on.

Sudah move on, wajar masih ada the ex factors. Karena ga ada yang benar-benar bisa 100% di dunia ini, emas 100% aja sebenarnya 99 koma sekian. :p

Any way…

Gue sudah move on!

So, after moving on, what’s next?

Ada yang beruntung cepat move in ke orang baru.

Ada yang tetap saja malas berhubungan baik dengan mantan, karena memaafkan bukan berarti melupakan. Hal ini yang terjadi pada Roy, coba baca tulisannya di sini.

Gue?

Setelah menemukan moment move on, yang digambarkan dalam Trave(love)ing dengan analogi ‘melempar koper dari atas Burj Khalifa’, lalu apa?

Sebelum menceritakan perihal paska move on gue,  ijinkan gue berterima kasih dulu kepada pembaca Trave(love)ing, yang enggak sekedar baca, tapi juga mau ‘akrab’ sama para penulisnya lewat linimasa. Dan mereka enggak hanya menyimak tweet gue, Dendi, Gelaph, dan Roy, tapi juga mengikuti gosip-gosipnya.

Dan gue rasa udah banyak yang percaya sama celaan Mia Gagal Move On. Ya kan? Ngaku deh. Huh.

Gue maklum sih, secara timeline ketiga teman gue itu sering banget nyindir-nyindir gagal move on, pasti pada kepo kan. Dan yang benar-benar ngikutin, bisa sampe tau akun twitter si mantan gue itu. Pernah ada yang nge-mention loh!

Keseret timeline!! *emoticon senderan di tembok*

Di tambah lagi sama…strip comic bikinan Dendi Iseng Riandi, tentang kelanjutan kejadian di atas Burj.

Moment Move On gue
Moment Move On gue
Joke Gagal Move On
Joke Gagal Move On

Enggak gini woi!

Gue enggak nyalahin sih, ketika melihat dua orang mantan yang kembali dekat, pasti pada mikirnya ‘balikan’.

Tunggu, missing information sepertinya. Emangnya gue deket lagi gitu sama mantan? Celaan gagal move on kan pasti enggak ada, kalau memang enggak terjadi apa-apa antara gue dan si mantan.

Nyatanya, gue dan si mantan memang kembali bersahabat. Tapi bukan balikan.

Pada akhirnya gue hanya bisa menerima nasib yang harus gue jalani, bahwa Tuhan mungkin masih menginginkan persahabatan di antara gue dengan orang yang pernah gue sayang. Itu enggak gampang!

Setelah pertemuan yang membuat dia menanyakan buku gue itu, beberapa hari setelahnya kami bertemu lagi di lobi belakang kantor. Enggak cuma ‘say Hi’, tapi menanyakan ‘lagi apa?’. Ya sedikit masih kaku, karena kemudian kami sama-sama diam kayak orang bego. Lalu…

“Temenin gue ngerokok bentar mau, Mi?”

Modus (–,)

Enggak selesai sampai di ‘nemenin dia ngerokok’, well… sebenarnya bukan nemenin-tapi ngehirup asapnya-secara gue enggak ngerokok, di kesempatan lainnya kami masih bertemu lagi. Lucunya, bahkan dia akhirnya bertemu dengan ketiga penulis Trave(love)ing lainnya. Ngobrol bareng.

You know what, after all this time – after all the things happened between us, both of us realize that we value our friendship more than anything.

Dia pernah, selalu, dan akan terus menjadi sahabat gue. Gue anggap, pernah mencintainya adalah kesalahan dalam hidup gue, yang enggak akan gue ulangi lagi. Second chance enggak selalu identik dengan mencoba kembali, tapi kesempatan kedua ada hanya untuk saling belajar.

Gue sudah membuang kenangan kisah cinta bersama dia, tapi bukan kisah persahabatan kami.

Persahabatan kami yang tulus, semoga tak akan putus. Hey it rhymes!

Dan siapapun suami gue nanti, harus bisa bersahabat juga dengan ‘sahabat’ gue itu.

🙂

The Hopeless Romantic Traveler: These Boots are Made For Walking

Udah sebulan ini tiap gue nge-mall selalu nyari-nyari sepatu boots. Dari satu mall ke mall lain, tak kunjung ketemu. Ya gimana mau nemu, wong gue nyari boots kulit yang bagus, kuat, tapi murah!!!

Tapi kata akang mas Jason Mraz juga jangan nyerah, So I won’t give up!

But… my kondisi keuangan sudah give up!

Harganya di atas sejuta semua. Udah gitu rata-rata kok, boots-nya berhak. Ketaker banget boots di Indonesia emang di-design buat ngeceng -___-“.

I need a real pair of boots! The boots which are made for walking in…Europe!

Yes, this hopeless romantic traveler is going to Europe.

*joged-joged*

Alhamdulillah, enggak ada habisnya gue bersyukur karena salah satu mimpi gue untuk bisa menginjak Eropa akan terwujud dalam waktu dekat. Karena gue ngebet banget ke Paris.

Lantas, masih ada hubungannya sama traveling gue ke Dubai tahun lalu kah?

Waktu ke Dubai itu kan pas banget gue lagi patah hati, so gue ke sana untuk lempar koper kenangan di atas Burj Khalifa. Kali ini, di Menara Eiffle gue dengan koper yang baru akan mengisinya lagi dengan cinta yang baru. Aeeh…

Going to Eiffel, is my dream vacation. I will go to travel, and your heart is my destination. #rhyme

***

Tepatnya 6 Oktober nanti gue akan berangkat ke Belanda selama seminggu, lalu extend cuti seminggu lagi untuk mampir ke Brussels, Jerman, dan Perancis (Aaamiin). Tepat sebulan sebelumnya,, gue sudah harus mulai nyiapin coat dan boots!

Hehehe dasar cewek. Enggak ding, nomor satu ya Visa. Karena gue harus masuk ke negara-negara Eropa dengan Visa Schengen.

Apa itu VISA SCHENGEN?

Yaitu Visa yang dibutuhkan untuk memasuki negara-negara yang termasuk dalam wilayah Schengen. Mencakup sebagian besar negara-negara anggota Uni Eropa, yaitu:

Austria, Belgia, Ceko, Denmark, Estonia, Finlandia, Perancis, Jerman, Yunani, Hungaria, Islandia, Italia, Latvia, Lithuania, Luxemburg, Malta, Belanda, Norwegia, Polandia, Portugis, Slovakia, Slovenia, Spanyol, Swedia, dan salah satu yang terakhir bergabung Swiss.

Dengan satu Visa ini kita bisa masuk ke beberapa negara yang diinginkan tanpa perlu repot mengajukan Visa ke kedutaan bersangkutan secara terpisah. Nah, Visa Schengen ini bisa didapat di Kedutaan Belanda.

Dokumen yang dibutuhkan:

  1. Passport asli
  2. Pass foto 3.5 x 4.5 zoom 70%, latar putih, terlihat kuping, dan enggak senyum. Foto ini penting, petugasnya bisa nyalahin foto dan suruh kita foto ulang…di jasa pass foto yang ada di situ. Biaya 50rb, dapet 4 lembar, dan hasilnya jelek! So, bener-bener harus udah siap banget.
  3. Fotokopi Kartu Keluarga dan buku nikah (jika sudah menikah)
  4. Copy tabungan 3 bulan terakhir (minimal saldo untuk seminggu di Eropa adalah sekitar Rp10 Juta)
  5. Rekomendasi pembuatan Visa dari atasan (menyatakan keperluan apa di Eropa)
  6. Bookingan jadwal pesawat
  7. Bookingan hotel (kebetulan gue diurus sama travel kantor gue. Bisa booking di booking.com kok, cari aja yang free cancelation)
  8. Itinerary selama di Eropa

Dokumen-dokumen itu beserta formulir Visa didaftarkan ke Kedutaan Belanda, lalu akan mendapatkan jadwal wawancara.

Gue sendiri baru melewati proses wawancara tanggal 14 September kemarin. Gue datang setengah 8 pagi, baru wawancara jam setengah 10. Dua jam sodara-sodara!

Wawancaranya juga cuma 10 menitan. Ditanya, in english, sama petugasnya yang orang Indonesia (jadi ga perlu takut hehe) tentang keperluan di sana apa bla bla bla. Setelah itu setor fee pembuatan Visa ke petugas yang mewawancarai kita itu sebesar Rp700 Ribu.

CAUTION: JANGAN PERNAH SETOR UANG DALAM AMPLOP.

Nanti kamu dimarahin petugas, mereka tidak terima amplop. Mereka hanya menerima uang.

Jam 1 siang Visa gue jadi, kalau enggak bisa ambil sendiri bisa diwakili dengan surat kuasa. Ini nih hasilnya…….Fiuh.

Visa
Visa

Lega.

Karena yang ribet emang urus Visa dan once approved, semua pintu jadi kebuka. Booking-an hotel dan pesawat bisa di-issued, dan…

Saatnya membeli coat dan sepatu boots!

Lalalalala yeyeyeye.

Setelah cari info sana-sini, banyak yang saranin cari Coat yang cocok dibawa ke Eropa ya di Mangga Dua. Coat-nya beneran Coat, enggak banci, dalam arti ya emang tebal, hangat, melindungi dari angin kencang juga. Udah mau masuk winter pula di sana.

Jadilah Sabtu tanggal 15 kemarin gue ke sana, dianter sahabat gue yang baik hati Ibu Oppie dan keluarganya hehe. Toko khusus menjual Coat dan aksesoris musim dingin lainnya itu terletak di ITC Mangga Dua lt 4 Blok D no 16.

Gue pikir disitu paling mahal 500-an, ternyata 500 aja enggak dapet! OMG. Mahal pisan deh. Tapi emang bagus sih. Gue disarankan beli yang bahan parasut karena di sana lagi banyak angin. Bahan dalamnya untuk hangat beli yang bulu angsa. Selain fungsi, coatnya harus biasa buat gaya juga dong. Akhirnya setelah ngoprak-ngaprik toko, pilihan gue jatuh pada sebuah coat coklat keemasan. Harganya 800-an, merk si Zara. Kalau cek ke Zara-nya sih Rp 2 Juta-an. Bisa dapet hampir 1/3-nya udah lumayan banget sih ya, meski masih mahal banget buat gue. Yasudahlah, anggap aja aset kan, tiap tahunnya tinggal didepresiasi deh. Sumpah gue anak akun sejati! Ngeahahaha.

Beli satu yang bagus dan awet, so tiap tahun ke luar ga usah beli lagi. (Gue sendiri ga yakin untuk enggak beli lagi *straight face*)

Prinsip itu juga yang harus gue terapkan untuk sepatu boots. Gue harus beli yang kuat, dua minggu di sana bakalan banyak jalan. Jangan sampai sol copot karena enggak kuat deh. Trus gue juga enggak mau yang berhak, bisa patah kecapean kakinya.

Tapi yang ceper juga ga menarik, akhirnya gue dapet yang model wedges! Harganya pun enggak sejutaan, tapi setengahnya. Kulit pula! Seneng deh dapet yang kuat sekaligus bisa buat gaya. Hidup gaya!

My perintilan for Europe walking

Hopefully sepatu boots ini yang akan menemani gue selama 2 minggu di Eropa nanti.

Travel is walking all over your sadness and galauness with a pair of shoes. When ordinary shoes are not strong enough to make you stand up, try boots!

🙂

These boots are made for walking, and that’s just what they’ll do.
One of these days these boots are gonna walk all over you.  – Nancy Sinatra

— to be continued —

Orde Baru: Kangen Aja, Kangen Banget, atau Kepingin Lagi?

Disclaimer: Postingan ini bukanlah semacam artikel politik. Baiknya, keep reading deh, jangan diskip ya. Plissssss *melas*

Yang seangkatan sama gue, anak lama deh pokoknya, pasti masih inget banget jaman orde baru. Menurut Wikipedea, ini nih penjelasan mengenai Orde Baru.

Istilah Orde Baru dalam sejarah politik Indonesia dicetuskan oleh pemerintahan Soeharto dan merujuk kepada masa pemerintahan Soeharto (19661999). Istilah ini digunakan untuk membedakan dengan Orde Lama pemerintahan Soekarno. Setelah kejatuhan Soeharto, Orde Baru digantikan dengan Orde Reformasi (1999-sekarang).

Sedari lahir sampai tumbuh dan berkembang (ke samping) menjadi ABG labil, hidup gue di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto. Pemerintahan beliau, kalau istilah Londo kerennya sekarang, rauwis-uwis. Selain Presiden yang enggak ganti-gati, kabinetnya pun sama terus.

Jadi dulu tuh, sekali punya RPUL ya awet. Kabinet enggak berubah sampai lima tahun ke depan. Dan gue, hapal di luar kepala! Tiap kenaikan kelas, gue ingat banget ada tes dari guru gue yaitu menyebutkan nama-nama Menteri. Yaelah, cemen badaaaaaai!

Lemme recall a several list of Kabinet jaman gue SD yang suka secara random ditanya guru gue ya.

Menteri Dalam Negeri: Rudini

Menteri Luar Negeri: Ali Alatas

Menteri Peneranan: Harmoko (Beliau yang paling setia banget nih sama Pak Harto)

Menteri Sekretaris Negara: Moerdiyono (Lately, ngetop banget dengan perselingkuhannya dengan Machica Moechtar- artis dangdut)

Menteri Olah Raga: Akbar Tanjung

Cuma inget segituan hehe 😀

Lalu apalagi hal yang paling diingat pada saat jaman Soeharto? Kata Bokap gue sih nilai tukar Dolar saat itu yang murah banget, sekitar Rp2,500.

:O

Ngaruhnya apa ya buat gue? Saat itu enggak main Dolar juga gitu kan gue. Oh, pokoknya serba murah lah intinya. Tingkat daya beli penduduk saat itu lebih tinggi. Hmmm..ya ya ya..sebagai bocah SD yang selalu memakai rok merah, yang gue ingat saat jaman orba dulu selain para anak cowok bandel yang hobi ngangkatin rok para cewek, duit jajan gue 500 perak aja udah kebeli ini itu. Bisa beli orang-orangan, stiker Sailormoon, main tarik benang-kalau-kosong-dapat-agar-agar-cair, beli arum manis, anak emas, coklat ayam jago…banyaaaak!

Selain harga barang yang mureeeee, yang kentara oke dari jaman Orba dulu juga keamanannya. Meski saat itu gue tetap merasa enggak aman dari bocah SD mesum yang demen banget naro serutan kaca di bawah rok! Genggeeeees tau enggak seeeeeh!

Saat itu, enggak pernah ada yang namanya TERORIS. Mana pernah ada mall yang tiba-tiba mendapat ancaman bom, hotel/gedung yang tiba-tiba ada bom bunuh diri, perang antar warga, tawuran, dan kondisi mencekam lainnya.

Enak kan ya jaman dulu? Kangen enggak sih ngerasain hidup yang tenteram dan aman lagi kayak dulu?

Kangen aja? Kangen banget? Atau Kangen rainbow? Halah.

Gue mah sebagai masyarakat biasa, yang enggak suka politik, yang cuma mikirin bisa makan dan beli sepatu baru aja siiih….punya opini sendiri. Awam banget tentunya.

Sapa yang bilang jaman sekarang, masa setelah orde baru semakin membaik? Kurs Dolar yang semakin melemah, ekonomi yang enggak merata, kondisi politik yang enggak stabil, teroris di mana-mana, dan banyak minus lainnya.

Di tambah lagi pemerintahan yang makin enggak becus, presiden cuma bisa prihatin dan bikin album nyanyi. Hffff.

KECEWA.

Kekecewaan terhadap kondisi saat ini memang membuat kita jadi tiba-tiba romantis mengingat masa lalu. Yang diingat cuma yang indah-indah saja. Yang serba murah lah, serba aman lah.

Sadar enggak sih, sedikit banyak kesulitan di masa kini ya akibat ulah masa Orba itu dulu. Serba murah karena subsidi yang gila-gilaan. Akibatnya, hutang negara ini harus ditanggung sampai entah berapa turunan lagi. Yang katanya dulu serba aman itu, itu kan karena  tangan besi pemerintahan Pak Harto. Protes dikit dipenjara, ngelawan dikit dikarungin. Emangnya kucing dikarungin, terus dibuang. Kucing sih masih bisa balik ke majikannya.

Eniwei…

Namanya juga masa lalu, seenak apapun, seindah apapun, ya cukup diingat aja untuk belajar. Oke lah kangen sama kondisi dulu yang bagus-bagus (di jamannya) itu, tapi ya enggak juga kepingin balik lagi ke jaman itu. Keep on moving.

Kalau boleh meminjam istilahnya Barney di How I Met Your Mother:

Kamu tidak bisa memutuskan kembali ke masa lalu hanya karena telah terbiasa, apalagi jika kamu tau itu adalah sebuah kesalahan.

Did you get my message through above orde baru things? *angkat alis*

 

 

 

Trave(Love)ing: Cara Galau Paling Elegan

Thanks Ariev for your review 🙂

arievrahman's avatarbackpackstory


I put my clothes in the bag, it’s time for me to pack.

No, this time I wont beg, for you to come back.

Itulah sepenggal rhyme pembuka cerita di Trave(Love)ing: Hati Patah Kaki Melangkah. Manis bukan? Tapi salah besar kalau kamu merasa rhyme tersebut ditulis oleh seorang wanita tulen. Dialah Dendi –seorang pria, yang masih diragukan orientasinya– yang memutuskan untuk melakukan perjalanan melintasi tiga negara dan lima kota untuk melupakan sakit hatinya, sekaligus mencari cinta yang baru.

Secara umum, Trave(Love)ing bercerita tentang empat orang anak manusia (dua berekor depan, dan dua tak berekor. -red) yang melakukan perjalanan (traveling) karena alasan cinta (love) atau lebih tepatnya, karena … ehem … p-a-t-a-h h-a-t-i. Ada Roy yang melakukan perjalanan ke Singapura dan Malaysia (termasuk menonton pertandingan tim papan tengah Liga Inggris), Mia yang jalan-jalan ke Dubai (karena gratis), Grahita yang berlibur di Bali (yang membuatnya semakin gelap)…

View original post 359 more words

Tell Us Your Shoes Story

Join my next writing project, anyone? 🙂

myaharyono's avatarworking-paper

Kamu penggila sepatu?Kamu suka nulis cerpen?Tertarik untuk nulis cerpen ttg sepatu?

Working-Paper.Com mau mengajak teman-teman untuk ikutan Project KumCer (kumpulan cerita) yang bertema sepatu. Kenapa?

Karena kami berdua suka banget sama sepatu! Hehe.

Sama halnya dengan sepatu yang punya jenis dan fungsi beragam. Kalau kita jeli, dari sepasang sepatu bisa dibuat banyak cerita. Kita berharap teman-teman bisa ikut jeli, mengupas segala cerita tentang sepatu dari berbagai sudut pandang.

Untuk ikutan project ini syaratnya gampang:

  1. Cewek .
  2. Maksimal 2000 kata.
  3. Cerita bisa seputar cinta cowok cewek, cinta general, hidup, apapun. Analogikan dengan sepatu.
  4. Ada pesan moral di balik sepatu, yang tersirat di dalam cerita.
  5. Satu orang maksimal mengumpulkan dua cerpen.
  6. Sudut pandang cerita tidak harus dari orang pertama, bisa dari orang ketiga juga.
  7. Batas waktu pengumpulan cerpen kurang lebih 2 minggu dari sekarang, atau setelah lebaran, tepatnya 21 Agustus 2012. Lebih cepat lebih baik, jadi bisa brainstorming sama kami…

View original post 66 more words

Hari Yang Ku Tunggu

“Ya, Yaya kan?” sebuah suara datang dari arah kanan gue. Gue lalu menoleh untuk mencari siapa pria pemilik suara itu. Bersamaan dengan itu, seorang pria muncul dari balik rak buku di sebelah gue berdiri.

“Didit? Astaga! Apa kabar?”

Gue kemudian menyapa pria itu dengan antusias. Bagaimana tidak, kami sudah sekitar tujuh tahun putus komunikasi.

“Baik. Baik. Udah lama juga ya enggak ketemu. Sejak lulus SMA kan ya?” tanyanya, yang gue jawab dengan beberapa kali anggukan. “Bisa-bisanya malah ketemu lagi di toko buku.” lanjutnya sambil tertawa.

Gue mendadak nervous dengan pertemuan tiba-tiba ini. Dan aroma canggung menyerbak di antara kami berdua, yang dulu semasa SMA tidak pernah akur. Ya, 3 tahun sekelas dan semua tau bahwa kami saling tidak menyukai satu sama lain.

“Eh gue buru-buru, Ya. Kapan-kapan kita sambung ngobrolnya. Boleh tukeran kontak? Nomor atau PIN?”

Kami pun bertukar kontak lalu dia meninggalkan gue dengan sebuah lambaian dan senyuman yang ternyata, masih menimbulkan efek tonjokan di perut gue.

Ah Didit, sudah 10 tahun dan selama itu rasa ini mengapa belum juga lenyap?

Sudah dapat diprediksi, pertemuan tadi siang dengan Didit membuat gue kembali terlena dengan kenangan silam saat masih berseragamkan putih abu. Di hari pertama menjadi pelajar SMU, bahkan saat masih memakai seragam SMP selama masa ospek, gue sudah naksir Didit.

Didit yang tampan langsung menjadi idola, baik oleh anak-anak baru maupun para kakak kelas perempuan. Dia tidak begitu pintar sebenarnya, hanya saja berkarisma. Tak heran dia langsung ditunjuk sebagai pemimpin. Pemimpin di kelas, di angkatan, dan di tahun berikutnya terpilih menjadi ketua OSIS.

Didit sangat populer di sekolah gue dulu. Sedangkan gue? Seorang pengagum rahasia yang hanya berani curi-curi pandang kepadanya. Didit juga baik dan ramah. Awalnya dia sering mengajak gue ngobrol. Tapi sayangnya, gue adalah pengecut yang takut perasaan ini diketahui olehnya.

Dan ketakutan akan Didit dapat mengetahui perasaan ini, gue alihkan dengan berpura-pura tidak menyukainya. Dengan terang-terangan gue menentangnya. Gue selalu sinis jika berurusan dengannya. Ketidakcocokan kami ini, sudah menjadi rahasia umum di sekolah. Bahkan setelah saling lulus dan terpisah, gue maupun Didit sama-sama menghindari acara reuni karena enggan bertatap muka.

Ironis. Didit maupun orang lain tidak pernah tau, dibalik kebencian yang gue tunjukkan pada Didit sebenarnya ada perasaan sayang yang tak tersampaikan.

Adalah Lina, teman sebangku gue, satu-satunya yang mengetahui perasaan gue pada Didit. Dan sampai saat ini gue masih aktif berkomunikasi dengannya. Gue langsung menghubungi Lina dan menceritakan pertemuan dengan Didit.

“Liiiiin, guess what? Gue tadi siang ketemu Didit lagi. Ya ampun masih ganteng Lin. Deg-deg-an gue…”

“Eh lo tuh ye ujug-ujug telepon basa-basi dulu kek!” sungut Lina.

“Halah sama lo ini aja pake basa-basi.”

“Terus, kalian labrak-labrakan? Tampar-tamparan? Hahaha.” tanya Lina yang membuat gue ingin mencekiknya.

“Eh buset, ya enggak lah. Tapi aneh juga sih, dua musuh bebuyutan di jaman SMA ketemu lagi dan saling senyum hihi.”

“Aeeeh, CLBK nih kayaknya. Hati-hati naksir lagi, Ceu.”

“Ah Lina, jangan ingetin itu lagi. Udah lama woi, rasa-rasa anak SMA masa iya bisa bangkit lagi. Udah kekubur kali.”

Lagi-lagi gue harus bohong. Apanya yang terkubur? Nyatanya, rasa ini perlahan muncul lagi. Atau memang sebenarnya tidak pernah berakhir?

***

Sebuah pesan BBM gue terima. Dari Didit! Setelah pertemuan tiga hari yang lalu itu, dia atau gue sama-sama belum memulai kontak. Sampai akhirnya malam ini Didit menghubungi gue.

Gue enggak menyangka sama sekali, jantung ini langsung berdegup kencang. Mirip seperti yang gue rasakan dulu, ketika bertubrukan pandangan mata dengannya.

Dan layaknya remaja SMA yang sedang jatuh cinta, setelah lewat 10 tahun lamanya, gue kembali merasakan keriangan saat harus berbalas BBM dengan Didit.

Rasa naksir anak kelas 1 SMU itu, sudah berkembang dengan perasaan cinta yang mendalam. Sehingga ampasnya masih tersisa sampai 10 tahun lamanya.

Kini, Didit  lagi-lagi mencuri hati gue. Setidaknya malam ini.

Hingga esoknya, esoknya lagi, dan hari setelah esoknya lagi.

***
“Seriusan, Ya? Kalian jadi sering ketemuan sekarang?” Tanya Lina tak percaya saat gue menceritakan perkembangan hubungan gue dan Didit.

“Iya, Lin. Gue juga enggak nyangka.”

“Ya udah atuh di-follow up. Mumpung sama-sama single. Sapa tau-sapa tau…”

“Amiiiin.”

“Heh cepat amat Amininnya! Dasar ngarep lo. Ha ha.” Lina menoyor kepala gue. Kami sedang menikmati makan malam bersama.

“Inget nggak, Lin. Dulu gue pernah berjanji sama diri gue sendiri. Kalau suatu saat akan menyatakan perasaan ke Didit. Tapi di saat gue udah enggak ada feeling lagi sama dia.” Lina menyimak kata-kata gue.

“Gue ada niatan mau bilang gini: Eh Dit, dulu gue pernah suka sama lo tau. Tapi karena takut enggak terbalas, gue pilih pura-pura jutek.” lanjut gue.

“Apalagi kan Lin, dulu pas jaman naksir dia kan sambil dengerin lagu Selena yang Dreaming Of You. Memotivasi gue untuk ngaku ke Didit.”

 So I’ll wait till the day for the courage to say how much i love you.

“Terus? Kapan mau confession? Ya udah geura atuh, ceu. Siapa tau jadi. Gue dukung.”

***

“Halo, Ya. Long time no see.” sapa Andi sambil mengambil posisi duduk di depan gue. Andi ini teman SMA gue juga. Sepanjang yang gue tau, Andi adalah sahabat terdekat Didit. Dua hari yang lalu Andi tiba-tiba menghubungi gue dan meminta bertemu. Katanya ada yang ingin disampaikan. Dia meminta gue enggak memberitahukan Didit perihal rencana pertemuan kami.

Mungkinkah ini semacam konspirasi mereka? tanya gue dalam hati. Mengapa setelah kedekatan gue dan Didit akhir-akhir ini kemudian muncul Andi, sahabatnya. Gue masih bingung dan menebak-nebak sendiri apa yang akan disampaikan Andi.

“Apa kabar, Ndi? Kok tumben tau-tau ngehubungin gue? Ada hubungannya dengan Didit kah? tembak gue.

To the point banget, Bu. He he.” Andi menghela nafas sesaat. Tapi, iya benar. Apa yang akan gue sampaikan, ada hubungannya dengan Didit.” lalu Andi mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

Kalau tidak salah lihat, sepertinya sebuah undangan…pernikahan. DEG. Belum memegang dan membukanya saja gue merasa lemas. Perasaan gue mendadak enggak enak.

Andi menyerahkan kertas beramplopkan emas itu sambil mengisyaratkan agar gue membacanya. Ada nama gue tertulis di bagian depan. Oh shit! Untuk gue. Perasaan ini semakin enggak karuan.

Gue kemudian membaliknya sambil menahan napas. Nama panggilan pengantin yang tertera di situ sangat akrab sekali buat gue. Orang yang gue sayang bertahun-tahun lalu dan kini hadir lagi mewarnai hidup gue.

Didit dan seorang wanita lain, akan menikah DUA HARI LAGI.

Dunia gue yang semula berwarna karenanya, berubah gelap.

Ternyata Didit cukup pengecut dengan tidak berani menyerahkan langsung undangan ini pada gue. Dia meminta Andi yang menjadi penghubung di antara kami.

“Saat kalian bertemu lagi, Didit sedang mempersiapkan pernikahannya. Dia mengakui juga terbawa suasana nostalgia setelah pertemuan itu. Mengingat…sebenarnya dulu dia naksir lo, Ya.” penjelasan Andi ini membuat gue tersedak. Seolah dapat menangkap kebingungan gue, Andi melanjutkan ceritanya.

“Awalnya, dia bete. Kenapa sih Yaya kok sinis banget. Disaat cewek-cewek lain memujanya. Dulu si Didit itu curhat melulu tentang lo, Ya. Gue sih terkekeh aja. Gue cuma ngingetin kalau mungkin itu pertanda naksir. Gue suruh dia deketin lo. Dia mau coba, tapi lo terlalu angkuh di depannya.”

Oke. Ini masih sore kan. Cerah lagi. Terus kenapa tiba-tiba ada ada petir begini barusan?

Gue masih mencoba mencerna perkataan Andi dengan tenang. Jadi sebenarnya waktu SMU itu, gue dan Didit yang saling menunjukkan ketidaksukaan satu sama lain, sebenarnya..

Ah, tidak. Gue merasa menyesal. Teramat sangat. Gue bodoh sekali, ya Tuhan. Mengapa dulu bisa-bisanya gue memperlakukan orang yang gue sayang dengan tidak baik. Menyia-nyiakan perasaan dan membiarkannya terkurung selama bertahun-tahun. Tanpa pernah sedikitpun terpikirkan, bahwa gue bisa saja memiliki hati seorang Didit. Didit gue!

***

“Gue harus menelpon Didit dan mengaku tentang perasaan gue, Lin. Now or never. Masih ada waktu untuk mendapatkannya kan?” Selesai pertemuan dengan Andi tadi dan sampai di rumah, gue langsung menelpon Lina. Gue meminta persetujuannya akan ide gila yang akan gue lakukan. Malam ini juga.

Kalau gue pernah bertindak bodoh sepuluh tahun yang lalu, maka kali ini adalah kesempatan gue untuk memperbaikinya. Untuk merenggut kembali hak memiliki hati Didit yang seharusnya terjadi sejak beberapa tahun silam.

Lina mendukung rencana gue sepenuhnya. Tapi tidak malam ini. Menurut Lina, jangan tergesa-gesa. Pikirkan baik-baik dulu, kalau sudah yakin maka lakukan esok hari. Gue menuruti kata sahabat gue itu. Alhasil, malam ini gue tidak bisa tidur memikirkannya. Sangupkah gue mengatakan kepada Didit, tentang cinta gue yang begitu dalam dan berhasrat untuk memilikinya? Lalu setelah mendengarkan pengakuan gue, apa yang akan terjadi?

Late at night when all the world is sleeping. 
I stay up and think of you.
And I wish on a star, 
That somewhere you are thinking of me too.

***

30 Mei 2010


“Hai, Ya. Terima kasih sudah datang.” ucap Didit sambil menyalami gue di atas pelaminannya. Tangannya dingin sekali, dia lama memegang tangan gue sampai gue sendiri yang harus melepaskannya. Di sebelahnya berdiri seorang wanita, yang sudah resmi menjadi istri Didit. Pujaan hati gue.

Gue mengurungkan niat untuk menyatakan perasaan gue. Karena tak sampai hati, jika aksi nekat gue kemudian hanya akan menambah beban pikiran dan perasaan Didit.

Dan rupanya, hari yang gue tunggu untuk mengungkapkan sayang tidak pernah kunjung datang. Tapi sepertinya, hari ini sudah gue tunggu sejak pertama kali gue sadar memiliki perasaan kepada Didit. Sepuluh tahun silam, bahwa gue ditakdirkan untuk berdiri di atas pelaminan ini. Untuk mengucapkan selamat kepada Didit dan mempelainya.

Sometimes, love is meant to be unspoken.

***

Ditulis untuk working-paper.com

Time Magazine’s Woman of the Year Vs Playboy’s Playmate of the Year

Siapa sih yang enggak pernah suka dengan seseorang karena melihat fisiknya dulu? Wajar kok. Ketertarikan level satu kita pertama kali saat melihat lawan jenis ya fisiknya dulu. Barulah ketertarikan level berikutnya yang berbeda-beda setiap orang. Perbedaan paling kentara sih pada pria dan wanita. Secara general mungkin seperti ini ilustrasinya.

Wanita

Ketertarikan level 1 -> Oke dia menarik. Terus?
Ketertarikan level 2 -> Dia: a. Pintar?
b. Humoris?
c. Gentle?
d. Tajir? Good on bed? (Ooops!) And so on..and on..and on..

 Pria 

Ketertarikan level 1 -> Cantik nih. Tipe gue banget!
Ketertarikan level 2 -> Dia: a. Kurang pintar sih. Tapi cantik!
b. Selera humor biasa aja, kaku malah. Tapi cantik!
c. Manja banget sumpah! Tapi cantik!
d. Bukan wanita karir yang keren yang bisa dibanggakan. Tapi cantik!

Eaaaaaaaaaa :p

Gue enggak asal juga buat ilustrasi di atas. Itu fakta. Hasil observasi dan pengalaman sekeliling selama ini. Terutama yang pria. Buat mereka, wanita cantik itu tidak pernah salah. Semua kekurangannya acceptable asal cantik. Betapa fisik bisa mengalahkan segalanya. Lalu artinya, kalau fisiknya kurang menarik cenderung susah mendapatkan pacar dong?  Oh dear, so sorry but that’s the ugly truth.

Tapi bukan berarti yang enggak cantik lantas enggak laku. Totally no! Sadar punya kelemahan fisik seharusnya wanita bisa menonjolkan kelebihannya yang bisa juga bikin pria klepek-klepek. Itu teorinya sih… Faktanya, berdasarkan pengalaman di sekeliling gue, bohong kalau pria itu mengutamakan ‘nyaman’ duluan ketimbang ‘fisik’ duluan. Contoh nyata:

Pria A: Gue nyaman sih sama dia, tapi dia bukan tipe ideal buat gue. Jadi, ya gue masih belum yakin sama perasaan gue ke dia.

Pria B: Gue sayang sama dia, tapi sebagai sahabat. Gue akui akan balik ke dia lagi kalau butuh bertukar pikiran. Tapi ya itu, untuk jadi pacar…gue prefer pilih yang lain deh.

Pertanyaan gue simple aja kepada mereka. Karena enggak cantik?

Ah para cowok itu mana ada yang mau jujur sih. Jawaban ngelesnya, “Ya bukan, emang enggak ada feeling lebih aja. Cinta kan enggak bisa dipaksa”. Taeeee! Sorry guys, it’s a bullshit. Coba kalau cantik, ya lo pacarin langsung deh tuh cewek.

Guys, orang lain di luar hubungan kamu kadang yang bisa lihat. Pacar kamu cantik sih, tapi kepribadian ngilfilin. Kamu itu udah dibutakan cinta, yang sebenarnya tidak buta. Cinta-nya para pria itu melihat. Mereka jatuh cinta dengan mata, fisik dulu. Kenyamanan nomor dua.

Lain halnya wanita, mereka jatuh cinta melalui telinga.

Denger-denger, tuh cowo tajir lho… 😀

Hahaha. Enggak gitu juga ding. Maksudnya karena wanita bisa jatuh cinta dengan pria yang membuatnya nyaman dengan mendengarkan keluh kesahnya.

Ada salah satu film Hollywood yang pernah mengangkat tema seperti yang gue bahas ini. Judulnya The Truth About Cats and Dogs. Film komedi tahun 1996. Berkisah tantang seorang wanita yang sadar betul, kalau pria umumnya lebih tertarik dengan fisik yang cantik, maka ia yang sebenarnya pintar jadi enggak PD dalam urusan asmara.

What happens if you meet someone with whom you have almost everything in common, you find yourself falling for them..but the sparks of romance just don’t seem to fly on a physical level? ~ The Truth About Cats And Dog

Wanita yang dikisahkan bernama Abby ini terlibat blind date dengan seorang pria (Brian), tapi hanya melalui telepon. Komunikasi yang rutin dan nyambung membuat keduanya saling nyaman. Dan ketika tiba saatnya mereka akan bertemu, si Abby yang panik meminta tetangganya yang seorang model cantik,  Noelle, untuk memerankan dirinya. Sungguh apes nasib Abby, Brian langsung jatuh cinta pada Noelle. Di pikirannya, sudah pintar cantik pula. Perfect!

Well, no body perfect. Ada kelebihan pasti ada kekurangan. Pun sebaliknya. Noelle tidak pintar seperti Abby tapi bisa mendapatkan Brian karena kecantikannya. Merasa terancam Abby pun muncul, sehingga Abby dan Noelle jadi bertukar peran. Brian tetap memilih Noelle. Abby patah hati dan akhirnya membongkar kedok masing-masing. Brian jelas marah dan kecewa. Dengan cara yang smart, Abby menjelaskan semua dramanya ini dengan melemparkan pertanyaan menohok kepada Brian.

“OK. So say you meet one of these no sparks women, and you really take the time to get to know her and then you become intellectually stimulated by her. You just really enjoy her personality, thereby igniting all your lust and passion. Have you ever thought about that?

“Dan meskipun kamu jatuh cinta akan kepribadian seseorang. Jika harus terdampar di suatu tempat terpencil, bahkan out of space, kamu pilih mana yang akan menemani kamu? Time Magazine’s Woman of the Year atau Playboy’s Playmate of the Year?

Masih akan memilih ‘personality’? Jawabannya sudah jelas. Berlaku untuk semua pria normal lain.

Dan nyinyiran Abby rupanya menampar Brian. Brian merasa ditipu mentah-mentah dan marah banget. Keduanya kemudian saling menjauh. Tapi akhirnya Brian menyadari sesuatu.

Saat Brian melihat Noelle, dia jatuh cinta head-over-heels karena wanita ini akan jadi pasangan yang sempurna. Cantik dan pintar. Dan saat tau bahwa si cantik dan si pintar yang sudah membuatnya jatuh cinta ini ternyata dua orang yang berbeda, Brian pun mulai ragu. Jadi siapa yang sebenarnya telah membuatnya jatuh cinta? Then he discovered the not-so-simple truth about the woman he loves..

Alasan Brian jatuh cinta pada Noelle adalah karena dia pikir Noelle itu adalah Abby. Sebenarnya Abby lah yang ia cintai, karena kepribadiannya.

You know how someone’s appearance can change the longer you know them? How a really attractive person, if you don’t like them, can become more and more ugly; whereas someone you might not have even have noticed… that you wouldn’t look at more than once, if you love them, can become the most beautiful thing you’ve ever seen. All you want to do is be near them. 

Pada akhirnya pria akan lelah dan end up dengan wanita yang benar-benar memberikan kenyamanan. Benar kah begitu? Itu kan hanya terjadi di film. 😀

Entahlah, pesan moralnya. Cintailah wanita bukan karena kecantikan fisiknya. Percayalah seorang wanita akan cantik jika kamu tulus mencintainya.

Dan lewat tulisan ini gue juga mengingatkan, pada gue sendiri dan juga siapa aja, mungkin sudah saatnya kita melupakan dia yang ideal dan mulai lebih realistis.

Sometimes, that imperfect person could be perfectly fits you. 🙂

P.S

Dan jangan lupa banyak-banyak berdoa semoga masih ada kaum ‘Adam’ yang lebih mengutamakan kecantikan hati seorang wanita. Tsaaaah. 🙂

 

 

 

Kita (Pernah) Tertawa

-6 Januari 2011-

Kita masih disini 
Lepaskan semua untuk mengerti 
Dan bila semua terhenti 
Biarkan aku tetap menanti

“Sebuah buku?”

“Buku jerapah, begitu seharusnya buku ini disebut.”

“Pasti isinya gambar-gambar jerapah ya? Ha ha ha.”

“Ha ha ha. Enak aja. Itu loh cover depannya bergambar jerapah, jadi namanya buku jerapah. Isinya sih…”

“Apa?”

“Buka aja dan baca sendiri. Eh tunggu, bacanya dalam hati ya. Aku malu…”

“Justru aku akan membacanya keras-keras. Ha ha ha.”

“Jangan! Ah kamu tuh selalu begitu. Mana pernah menuruti kata-kataku.”

“Ha ha ha. Bodo!”

“Ha ha ha.”

“Baiklah aku buka, tapi aku tetap akan membacanya dengan suara ya. Pelan aja kok.”

The Story Of Us…hmmm..semacam diary?”

“Bukan sekedar diary. Di buku ini hanya kutulis kejadian-kejadian lucu yang pernah kita berdua alami. Sengaja hanya ditulis bagian yang membahagiakan saja. Only open up when I’m down. Ketika sedang sedih, aku akan membacanya dan mulai tersenyum. Bahkan tertawa. Ayo baca cepat.”

“Baiklah. 5 Juni 2010. 8 PM. Sebuah notifikasi kuterima di blackberry-ku. Ternyata itu kamu! Akhirnya kamu chatting-in duluan setelah aku menunggumu dari kemarin. Seperti biasa, kamu mengeluhkan yang harus lembur saat orang-orang sedang liburan weekend. Mencoba menghiburmu, akupun dengan tingkat kepercayaan diri meningkat 50%, mengirimkan foto penambilan baruku. Rambut keriting. Lalu komenmu hanya singkat. Gue suka lihat lo senyum.”

“Oke itu kan lagi lembur, capek. Foto yang aku lihat kayaknya fatamorgana deh. Aku pikir itu foto Megan Fox. Ya jelas suka. Ha ha ha.”

“Kyaaaaa! Reseeeee. Ha ha ha.”

“21 Juni 2010. 10 PM. Was it a date or what? Akhirnya kamu ajak aku pergi di malam minggu, just the two of us. Alasannya minta ditemenin beli modem! Makanya kita nge-date di Ambas! Oh yeah, nice try! Kamu bilang tadi, kita kayak orang pacaran aja berduaan. Dan bodohnya, kenapa aku tadi cuma tertawa! Itu kamu mancing kan?”

“Eh siapa bilang mancing. Dulu itu cuma bercanda tau. GR banget sih. Ha ha ha.”

“Hah! Kamu tuuuh. Ha ha ha. Itu masih ada lanjutannya, the best part-nya belum…”

“Setelah selesai menyantap pizza yang akhirnya kamu habiskan sendiri. Maaf ya, aku jaim. Kita pun berbincang cukup lama. Kamu benar-benar membiusku. Aku betah dibuat berlama-lama denganmu. Dan ketika tiba saatnya kamu harus mengantarku pulang, aku sedikit tak rela. Dan kenapa kamu membawa helm bukan SNI! Kita jadi ditilang polisi kan tadi.”

“Ha ha ha ha. Aku ingat ini. Ha ha ha. Ya ampun, memalukan. Sialan tuh polisi. Karena enggak ada uang kecil kan aku bayar 50 ribu tuh. Kampret.”

“Ha ha ha. Meski sudah setahun lewat, aku enggak bisa lupa. Lucu banget!”

“Aku lompat-lompat aja ya bacanya. Banyak banget, bisa-bisa sampai kafenya tutup belum kelar juga nih diary dibacanya. Ha ha ha.”

“Lebay!”

“Nah ini lucu. Kejadian ban motorku bocor sampai dua kali. Kamu sih gendut. Enggak kuat kan ban-nya. Ha ha ha.”

“Heh! Enak aja. Itu dasar aja si abang di tambal ban yang pertama enggak becus. Jadi bocor lagi kan. Tapi jadinya kita berdua jalan menelusuri trotoar gitu. Romantis ya.”

“Romantis apanya? Parah itu. Ha ha ha. Oke, lanjut baca.”

“Hmmm boneka jerapah. Kamu senang banget ya sama jerapah yang aku kasih? Itu kan biasa. Lagipula koleksi jerapah kamu sudah banyak banget dan lebih bagus. Tau enggak, itu kan murah. Dan yang beliin si Mamah, aku minta tolong dia cari. Males banget cowok-cowok keliling mall cari boneka. Jerapah pula. Dari dulu aku sudah mikir kok hobi kamu aneh banget. Biasanya cewek suka babi. Ha ha ha.”

What? Jadi selama ini aku kena tipu kamu? Ish, kenapa enggak cerita yang sebenarnya sih.”

“Nih aku cerita. Ha ha ha.”

“Cubit nih. Ha ha ha.”

Kita tertawa kita bicara 
Untuk merasakan tentang kita

“4 September 2010. Hari jadi… “

“Kok berhenti bacanya?”

Dan terlepas kita terdiam 
Untuk melupakan

“Enggak kerasa ya, waktu cepat berlalu.”

“Dan kamu masih saja diam.”

“Kamu menuntut jawaban apa lagi?”

“Aku tak ingin berpisah darimu.”

“Siapa yang memintamu pergi? Tetaplah di sampingku.”

“Untuk apa aku tetap di sampingmu, jika tak dapat memilikimu. Kamu pikir aku dapat bertahan dengan segala perih yang kurasa ini?”

“Memiliki? Untuk apa memiliki jika pada akhirnya kita berdua pasti berpisah. Ah kumohon jangan menangis. Aku enggak bisa melihatmu menangis.”

“Aku sayang kamu, sungguh. Dan penderitaan hati ini, mungkin hanya dapat berakhir dengan memiliki mu seutuhnya.”

“Sudahlah. Kita seharusnya enggak membahas ini lagi.”

“Diam lah terus, tapi waktu tak bisa menunggu. Simpanlah buku jerapah ini. Suatu saat kamu merindukanku, bacalah lagi. Kuharap kenangan kita di buku ini dapat membuatmu kembali padaku.”

“Sudahlah….”

“Baca dan tertawalah. Tapi kamu hanya akan tertawa sendiri. Karena tak akan ada lagi kita. Aku tak bisa terus di sampingmu. Bersamamu, sampai kamu menemukan orang lain…yang seiman.”

“Aku tau kamu tidak mempermasalahkan perbedaan ini, tapi buatku penting. Maafkan aku, Mei…”

“Aku pergi sekarang. Jaga buku jerapah ini baik-baik ya.”

Waktu terus berlalu 
Tinggalkan kita masih membisu 
Wajahmu tetap begitu 
Biarkan semua tetap membeku

***

Jakarta, 28 Juli 2012.

Sebuah kisah tentang dua insan yang pernah tertawa bersama. Terinspirasi dari lagu ‘Kita Tertawa’ oleh Peter Pan. Untuk #CerpenPeterpan lainnya silakan cek blog Wira Panda.