Hari Yang Ku Tunggu

“Ya, Yaya kan?” sebuah suara datang dari arah kanan gue. Gue lalu menoleh untuk mencari siapa pria pemilik suara itu. Bersamaan dengan itu, seorang pria muncul dari balik rak buku di sebelah gue berdiri.

“Didit? Astaga! Apa kabar?”

Gue kemudian menyapa pria itu dengan antusias. Bagaimana tidak, kami sudah sekitar tujuh tahun putus komunikasi.

“Baik. Baik. Udah lama juga ya enggak ketemu. Sejak lulus SMA kan ya?” tanyanya, yang gue jawab dengan beberapa kali anggukan. “Bisa-bisanya malah ketemu lagi di toko buku.” lanjutnya sambil tertawa.

Gue mendadak nervous dengan pertemuan tiba-tiba ini. Dan aroma canggung menyerbak di antara kami berdua, yang dulu semasa SMA tidak pernah akur. Ya, 3 tahun sekelas dan semua tau bahwa kami saling tidak menyukai satu sama lain.

“Eh gue buru-buru, Ya. Kapan-kapan kita sambung ngobrolnya. Boleh tukeran kontak? Nomor atau PIN?”

Kami pun bertukar kontak lalu dia meninggalkan gue dengan sebuah lambaian dan senyuman yang ternyata, masih menimbulkan efek tonjokan di perut gue.

Ah Didit, sudah 10 tahun dan selama itu rasa ini mengapa belum juga lenyap?

Sudah dapat diprediksi, pertemuan tadi siang dengan Didit membuat gue kembali terlena dengan kenangan silam saat masih berseragamkan putih abu. Di hari pertama menjadi pelajar SMU, bahkan saat masih memakai seragam SMP selama masa ospek, gue sudah naksir Didit.

Didit yang tampan langsung menjadi idola, baik oleh anak-anak baru maupun para kakak kelas perempuan. Dia tidak begitu pintar sebenarnya, hanya saja berkarisma. Tak heran dia langsung ditunjuk sebagai pemimpin. Pemimpin di kelas, di angkatan, dan di tahun berikutnya terpilih menjadi ketua OSIS.

Didit sangat populer di sekolah gue dulu. Sedangkan gue? Seorang pengagum rahasia yang hanya berani curi-curi pandang kepadanya. Didit juga baik dan ramah. Awalnya dia sering mengajak gue ngobrol. Tapi sayangnya, gue adalah pengecut yang takut perasaan ini diketahui olehnya.

Dan ketakutan akan Didit dapat mengetahui perasaan ini, gue alihkan dengan berpura-pura tidak menyukainya. Dengan terang-terangan gue menentangnya. Gue selalu sinis jika berurusan dengannya. Ketidakcocokan kami ini, sudah menjadi rahasia umum di sekolah. Bahkan setelah saling lulus dan terpisah, gue maupun Didit sama-sama menghindari acara reuni karena enggan bertatap muka.

Ironis. Didit maupun orang lain tidak pernah tau, dibalik kebencian yang gue tunjukkan pada Didit sebenarnya ada perasaan sayang yang tak tersampaikan.

Adalah Lina, teman sebangku gue, satu-satunya yang mengetahui perasaan gue pada Didit. Dan sampai saat ini gue masih aktif berkomunikasi dengannya. Gue langsung menghubungi Lina dan menceritakan pertemuan dengan Didit.

“Liiiiin, guess what? Gue tadi siang ketemu Didit lagi. Ya ampun masih ganteng Lin. Deg-deg-an gue…”

“Eh lo tuh ye ujug-ujug telepon basa-basi dulu kek!” sungut Lina.

“Halah sama lo ini aja pake basa-basi.”

“Terus, kalian labrak-labrakan? Tampar-tamparan? Hahaha.” tanya Lina yang membuat gue ingin mencekiknya.

“Eh buset, ya enggak lah. Tapi aneh juga sih, dua musuh bebuyutan di jaman SMA ketemu lagi dan saling senyum hihi.”

“Aeeeh, CLBK nih kayaknya. Hati-hati naksir lagi, Ceu.”

“Ah Lina, jangan ingetin itu lagi. Udah lama woi, rasa-rasa anak SMA masa iya bisa bangkit lagi. Udah kekubur kali.”

Lagi-lagi gue harus bohong. Apanya yang terkubur? Nyatanya, rasa ini perlahan muncul lagi. Atau memang sebenarnya tidak pernah berakhir?

***

Sebuah pesan BBM gue terima. Dari Didit! Setelah pertemuan tiga hari yang lalu itu, dia atau gue sama-sama belum memulai kontak. Sampai akhirnya malam ini Didit menghubungi gue.

Gue enggak menyangka sama sekali, jantung ini langsung berdegup kencang. Mirip seperti yang gue rasakan dulu, ketika bertubrukan pandangan mata dengannya.

Dan layaknya remaja SMA yang sedang jatuh cinta, setelah lewat 10 tahun lamanya, gue kembali merasakan keriangan saat harus berbalas BBM dengan Didit.

Rasa naksir anak kelas 1 SMU itu, sudah berkembang dengan perasaan cinta yang mendalam. Sehingga ampasnya masih tersisa sampai 10 tahun lamanya.

Kini, Didit  lagi-lagi mencuri hati gue. Setidaknya malam ini.

Hingga esoknya, esoknya lagi, dan hari setelah esoknya lagi.

***
“Seriusan, Ya? Kalian jadi sering ketemuan sekarang?” Tanya Lina tak percaya saat gue menceritakan perkembangan hubungan gue dan Didit.

“Iya, Lin. Gue juga enggak nyangka.”

“Ya udah atuh di-follow up. Mumpung sama-sama single. Sapa tau-sapa tau…”

“Amiiiin.”

“Heh cepat amat Amininnya! Dasar ngarep lo. Ha ha.” Lina menoyor kepala gue. Kami sedang menikmati makan malam bersama.

“Inget nggak, Lin. Dulu gue pernah berjanji sama diri gue sendiri. Kalau suatu saat akan menyatakan perasaan ke Didit. Tapi di saat gue udah enggak ada feeling lagi sama dia.” Lina menyimak kata-kata gue.

“Gue ada niatan mau bilang gini: Eh Dit, dulu gue pernah suka sama lo tau. Tapi karena takut enggak terbalas, gue pilih pura-pura jutek.” lanjut gue.

“Apalagi kan Lin, dulu pas jaman naksir dia kan sambil dengerin lagu Selena yang Dreaming Of You. Memotivasi gue untuk ngaku ke Didit.”

 So I’ll wait till the day for the courage to say how much i love you.

“Terus? Kapan mau confession? Ya udah geura atuh, ceu. Siapa tau jadi. Gue dukung.”

***

“Halo, Ya. Long time no see.” sapa Andi sambil mengambil posisi duduk di depan gue. Andi ini teman SMA gue juga. Sepanjang yang gue tau, Andi adalah sahabat terdekat Didit. Dua hari yang lalu Andi tiba-tiba menghubungi gue dan meminta bertemu. Katanya ada yang ingin disampaikan. Dia meminta gue enggak memberitahukan Didit perihal rencana pertemuan kami.

Mungkinkah ini semacam konspirasi mereka? tanya gue dalam hati. Mengapa setelah kedekatan gue dan Didit akhir-akhir ini kemudian muncul Andi, sahabatnya. Gue masih bingung dan menebak-nebak sendiri apa yang akan disampaikan Andi.

“Apa kabar, Ndi? Kok tumben tau-tau ngehubungin gue? Ada hubungannya dengan Didit kah? tembak gue.

To the point banget, Bu. He he.” Andi menghela nafas sesaat. Tapi, iya benar. Apa yang akan gue sampaikan, ada hubungannya dengan Didit.” lalu Andi mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

Kalau tidak salah lihat, sepertinya sebuah undangan…pernikahan. DEG. Belum memegang dan membukanya saja gue merasa lemas. Perasaan gue mendadak enggak enak.

Andi menyerahkan kertas beramplopkan emas itu sambil mengisyaratkan agar gue membacanya. Ada nama gue tertulis di bagian depan. Oh shit! Untuk gue. Perasaan ini semakin enggak karuan.

Gue kemudian membaliknya sambil menahan napas. Nama panggilan pengantin yang tertera di situ sangat akrab sekali buat gue. Orang yang gue sayang bertahun-tahun lalu dan kini hadir lagi mewarnai hidup gue.

Didit dan seorang wanita lain, akan menikah DUA HARI LAGI.

Dunia gue yang semula berwarna karenanya, berubah gelap.

Ternyata Didit cukup pengecut dengan tidak berani menyerahkan langsung undangan ini pada gue. Dia meminta Andi yang menjadi penghubung di antara kami.

“Saat kalian bertemu lagi, Didit sedang mempersiapkan pernikahannya. Dia mengakui juga terbawa suasana nostalgia setelah pertemuan itu. Mengingat…sebenarnya dulu dia naksir lo, Ya.” penjelasan Andi ini membuat gue tersedak. Seolah dapat menangkap kebingungan gue, Andi melanjutkan ceritanya.

“Awalnya, dia bete. Kenapa sih Yaya kok sinis banget. Disaat cewek-cewek lain memujanya. Dulu si Didit itu curhat melulu tentang lo, Ya. Gue sih terkekeh aja. Gue cuma ngingetin kalau mungkin itu pertanda naksir. Gue suruh dia deketin lo. Dia mau coba, tapi lo terlalu angkuh di depannya.”

Oke. Ini masih sore kan. Cerah lagi. Terus kenapa tiba-tiba ada ada petir begini barusan?

Gue masih mencoba mencerna perkataan Andi dengan tenang. Jadi sebenarnya waktu SMU itu, gue dan Didit yang saling menunjukkan ketidaksukaan satu sama lain, sebenarnya..

Ah, tidak. Gue merasa menyesal. Teramat sangat. Gue bodoh sekali, ya Tuhan. Mengapa dulu bisa-bisanya gue memperlakukan orang yang gue sayang dengan tidak baik. Menyia-nyiakan perasaan dan membiarkannya terkurung selama bertahun-tahun. Tanpa pernah sedikitpun terpikirkan, bahwa gue bisa saja memiliki hati seorang Didit. Didit gue!

***

“Gue harus menelpon Didit dan mengaku tentang perasaan gue, Lin. Now or never. Masih ada waktu untuk mendapatkannya kan?” Selesai pertemuan dengan Andi tadi dan sampai di rumah, gue langsung menelpon Lina. Gue meminta persetujuannya akan ide gila yang akan gue lakukan. Malam ini juga.

Kalau gue pernah bertindak bodoh sepuluh tahun yang lalu, maka kali ini adalah kesempatan gue untuk memperbaikinya. Untuk merenggut kembali hak memiliki hati Didit yang seharusnya terjadi sejak beberapa tahun silam.

Lina mendukung rencana gue sepenuhnya. Tapi tidak malam ini. Menurut Lina, jangan tergesa-gesa. Pikirkan baik-baik dulu, kalau sudah yakin maka lakukan esok hari. Gue menuruti kata sahabat gue itu. Alhasil, malam ini gue tidak bisa tidur memikirkannya. Sangupkah gue mengatakan kepada Didit, tentang cinta gue yang begitu dalam dan berhasrat untuk memilikinya? Lalu setelah mendengarkan pengakuan gue, apa yang akan terjadi?

Late at night when all the world is sleeping. 
I stay up and think of you.
And I wish on a star, 
That somewhere you are thinking of me too.

***

30 Mei 2010


“Hai, Ya. Terima kasih sudah datang.” ucap Didit sambil menyalami gue di atas pelaminannya. Tangannya dingin sekali, dia lama memegang tangan gue sampai gue sendiri yang harus melepaskannya. Di sebelahnya berdiri seorang wanita, yang sudah resmi menjadi istri Didit. Pujaan hati gue.

Gue mengurungkan niat untuk menyatakan perasaan gue. Karena tak sampai hati, jika aksi nekat gue kemudian hanya akan menambah beban pikiran dan perasaan Didit.

Dan rupanya, hari yang gue tunggu untuk mengungkapkan sayang tidak pernah kunjung datang. Tapi sepertinya, hari ini sudah gue tunggu sejak pertama kali gue sadar memiliki perasaan kepada Didit. Sepuluh tahun silam, bahwa gue ditakdirkan untuk berdiri di atas pelaminan ini. Untuk mengucapkan selamat kepada Didit dan mempelainya.

Sometimes, love is meant to be unspoken.

***

Ditulis untuk working-paper.com

Advertisements

7 thoughts on “Hari Yang Ku Tunggu

  1. waw, aku bisa ngerasain apa yg dirasain yaya. tapi aku malah jadi selingkuh sama “dia”, perlu 4 bulan sampe akhirnya sadar, dunia ngga hanya “dia”, dan merelakan dia bersama calon istrinya.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s