Tinderella Story: Mr. (swipe) Right – Part One

Before reading this story, please watch this video by College Humor: Tinderella, A Modern Fairy Tale.

You may not find Mr. Right, but you can always find Mr. Swipe Right.

Apa? Swipe right? Maksudnya? Yang main Tinder pasti ngerti.

Pict from storyofmylifecards.com
Pict from storyofmylifecards.com

Tinder adalah aplikasi di smart phone yang khusus dirancang untuk pemakainya menemukan teman baru. Cara mainnya dengan memilih foto lawan jenis sesuai kriteria jarak dan usia. Kalau suka tinggal swipe right, kalau enggak tertarik ya swipe left. As simple as that. Jika sama-sama suka, artinya ‘match’. Kalau sudah begitu boleh deh pasangan tersebut untuk chat di menu yang tersedia pada aplikasi tersebut.

Pict from huntnewsnu.com
Pict from huntnewsnu.com

Tujuan awalnya memang mulia sih ya, menambah teman. Tapi kalau dasar untuk berteman yang dipilih adalah fotonya, disinilah menurut gue agak klise. Berarti ada ketertarikan di antara keduanya untuk jadi lebih dari teman.

Benar saja, ada artikel bagus tentang penelitian terhadap penggunaan Tinder di berbagai negara berikut ini: Tinder Fuels Indonesia’s Digital Sexual Revolution (http://thejakartaglobe.beritasatu.com/blogs/tinder-fuels-indonesias-digital-sexual-revolution/)

Ternyata, memang tujuan seseorang memasang Tinder tidak hanya mencari teman, melainkan mencari ‘teman’. Iya ‘teman’ atau kerennya ‘friends with benefit’ atau ‘teman tapi mesra’. When expectation becomes sexpectation. Tidak terkecuali di Indonesia, bahkan berdasarkan artikel tersebut di Jakarta termasuk kategori paling haus hasrat sexual.

:s

Tapi bukan berarti semua pengguna Tinder begitu kok, sebagian kecil masih naif berharap dari Tinder dapat bertemu pacar bahkan berjodoh. Salah satunya ya gue. Pffft.

I was a tinder-ella who’s desperately in searching for tinder-fella.

How silly I was, pernah suatu ketika secara enggak sengaja swipe left foto cowok keren dan gue merasa ‘Damn! He might be my soulmate but now he’s gone..’

😀

Baiklah. Di tulisan kali ini gue mau blak-blakan bercerita tentang pengalaman gue di Tinder. Kiddo, this is the story of how I met my Mr. Swipe Right.

***

Pengenalan gue dengan Tinder diawali dengan cerita salah satu sahabat gue yang baru saja mendapatkan gebetan via aplikasi dating tersebut. Lalu dia menyarankan supaya gue ikutan juga. Ya sekalian saja buat pengalihan karena gue baru patah hati (LAGI) karena hubungan enggak jelas gue sama si ‘mantan jadi sahabat’ (yang ngikutin kisah gue pasti tau) akhirnya kandas juga. Dengan keyakinan untuk fucking move on again and again, gue install deh si Tinder di Iphone gue.

Gue dapat beberapa ‘match’ tetapi dari hasil chat kami banyak yang enggak gue terusin karena jauh dari asik dan ada yang langsung nyerempet ke ‘sex’. Oke tapi gue masih berpikir positif (apa naïf?), palingan cuma dikit lah yang tujuannya sex. So, gue lanjutin sampai akhirnya dapat juga 2 cowok yang lumayan enak diajak ngobrol. Dan dua-duanya minta pindah ke What’s app.

Dari dua cowok itu, segera saja salah satunya tereliminasi karena baru dua hari chat, arahnya–ujung-ujungnya– ke sex juga. Jadilah tinggal satu cowok yang bertahan. Nama profil Tinder-nya Azka. 31 tahun. Jakarta.

I found him tinder-esting.

Ada yang menarik dari Azka. Dia dengan jujurnya bilang kalau dia dari kampung (tepatnya Kebumen) yang mencari nafkah di Jakarta dengan usaha bengkel. Bahkan dia tidak malu mengakui bahwa dia hanya lulusan SMA. Awalnya gue sempet waduh-waduh nih. Ya jujur lah hari gini kadang milih jodoh kan kayak milih karyawan. Ada syarat minimal berpendidikan tinggi dan enggak cuma di bangku SMA. Gue sendiri ragu sebenarnya, kira-kira kami berdua bisa nyambung apa enggak ya. Ada ego muncul kalau gue lulusan S1 FEUI yang punya slogan sombong paling sial jadi Menteri lalu malah berjodoh sama cowok lulusan SMA.

So what?

Kok gue jadi merendahkan orang gini? And who I am to judge? Miii ini masih temenan Miiii. You’re not expecting to meet someone online and marry him, right? Gue mengingatkan diri sendiri. Ya maklum, dari awal kan tujuan gue main Tinder untuk dapet destin-der, eh, destiny. Akhirnya gue putuskan untuk tetap mencoba berteman sama Azka apapun latar belakangnya. Karena above all, kejujuran dia lebih penting kan.

“Kamu kerja apa, Mia?” tanyanya.

Gue pun karena enggak punya tujuan main-main ya cerita apa adanya kalau gue kerja kantoran sebagai auditor, yang langsung ditanggapi dengan.. “Oo.. Kamu orang hebat dong.”

Duh. Semoga dia enggak tinder, eh, minder.

Seharian chat via Tinder, dia mulai ajak gue pindah ke What’s app.

“Mirip ya nomor hp kita..” lalu dia terkekeh yang gue tangkap sebagai sinyal ‘kayaknya kita jodoh nih’. Shit! Gue mulai ketinderan.

Di luar dugaan gaya bicaranya yang sederhana dan dia yang mau mendengarkan ocehan malah bikin gue mau nanggapin chatting-an dia. Setelah beberapa hari bahkan dia niat banget baca blog gue ini hanya untuk cari tau tentang gue. Di situ gue jadi makin suka sama dia. Tapi kemudian dia menghilang. What’s app-nya enggak aktif lagi sampai akhirnya gue lupa sama dia.

He’s probably my soulmate and now he’s gone…forever.

Keep trying enggak ya cari cowok lagi di Tinder? Tapi kok malas ya. Toh kebetulan kerjaan gue lagi banyak dan sering dinas, gue ikut lupa deh sama Tinder.

But he’s back!!!!

Sebulan kemudian, tiba-tiba Azka menghubungi gue lagi. Katanya waktu itu HP dia hilang dan dia akhirnya berhasil menemukan nomor gue lagi di aplikasi Tinder. Jujur, gue suka dengan usaha dia yang masih mau mencari gue. Gue cewek gitu, semua cewek kan suka kalau diusahakan. Mungkin kalau gue jadi dia.. hilang yasudah, tinggal cari yang lain.

Tapi karena gue lagi galau dan kangen sama yang lama, ya kan manusiawi ya kalau rasa sedih itu muncul lagi. Gimanapun juga gue emang belum bisa 100% lupain yang lama. Jadi gue ogah-ogahan balas chat Azka. Cuma bertahan 2 hari lalu dia pun berhenti menghubungi gue.

Yasudah. Mungkin memang bukan dia makanya gue pun setengah hati. Saat itu gue sedang di titik lagi senang-senangnya sendiri. Belum mau share kehidupan pribadi gue sama orang lain.

Lalu entah apa yang membuat gue di suatu malam sebulan kemudian, mungkin sedang bosan dan mulai oprak-aprik aplikasi sosmed Path. Exactly foto dia muncul di daftar recommended people to be friend with, tapi kok namanya Denny?

Gue pun iseng mengirimkan pesan What’s app padanya. Gue menemukan Path dia dan niat gue What’s app untuk minta ijin add plus basa-basi menanyakan kabar. Dia menjelaskan ternyata Denny atau Denmas itu nama panggilan oleh teman-teman dia. Hmmm. Oh. Gue enggak ambil pusing deh masalah nama. Gue pun enggak berniat ngobrol lama sama dia karena baru saja sampai di KL untuk liburan. Tapi kemudian dia mengirimkan pesan ini…

“Aku suka foto Line kamu, kamu sexy sekali…”

Duh. Aduuuuhhhh. Bingung gue menanggapinya. Tapi siapa sih cewek yang enggak suka dipuji?

Setelah itu, hubungan kami malah berkembang. Chat kami semakin intens sampai hampir dua minggu, tak jarang kami pun akhirnya saling mengirimkan sexy messages. Memang sih cukup aneh mengingat baru saja kenal via online tapi dia sudah manggil gue sayang dan bahkan mengirimkan ‘kiss‘.

tinder 5

Ya gue tau itu enggak serius, di pikiran gue dia juga pasti begitu ke beberapa kenalan cewek lain dari Tinder dong. Intinya saat itu gue cuma berpikir, yasudahlah jabanin saja siapa tau bisa jadi teman dan sukur-sukur jodoh (teteuuuup ya ke jodoh :p).

Have I mention that I was a tinder-ella who’s desperately in searching for tinder-fella? Wajar dong ya. Apalagi kalau dapat pesan seperti ini.

tinder 4

But at that time I keep telling my self that he was joking. Yeah pinter banget ngajak bercanda beginian ke cewek yang sudah berumur dan menanti jodoh.

Tapi kemudian komunikasi kami meningkat ke jenjang telepon.

Di telepon itu lah kami mulai berbicara dengan serius. Kami saling bercerita tentang masa lalu, keluarga, kegiatan, hobi, bahkan pandangan ke depan mengenai berkeluarga. Dunia dia benar-benar jauh dari gue. Dia mengaku pengusaha bengkel dan cuci mobil di daerah Cipete. Kerjaan sehari-hari ya mengotak-atik mobil dengan tangan belepotan oli, sedangkan gue berpenampilan rapi karena harus bertemu klien dan berkutat dengan dokumen. Dia juga hobi banget beli mobil Mercy sampai tergabung di club Mercy 202. Waw! Ternyata dibalik kejujuran dan kesederhanaan dia yang cuma lulusan SMA, dia adalah pengusaha muda yang sukses. Dia terpaksa menghentikan pendidikannya untuk fokus usahanya ini. Dia juga cerita pertama kali bagaimana mencari uang sendiri untuk mendapatkan sepeda impiannya.

“Sampai saat ini, sepeda itu aku gantung di rumah untuk pengingat kerja kerasku dulu.”

Yah, gue mulai impressed nih sama dia.

Oh iya. Katanya dia main Tinder juga disuruh sahabatnya. Siapa tau nemu jodoh. Begitu saran sahabatnya itu.

Tapi gue masih bingung sih, harusnya enggak sulit buat dia dapat cewek. Anak Mercy gitu lochhhh! Tapi kata dia, dia rada minder kalau hadepin cewek. Itu kenapa teman dia lakik semua. Ah masa sih??!

Dari telponan pertama kali itu, satu hal yang gue simpulkan dari dia adalah cowok yang mempunyai niat untuk komitmen serius. Dan sepertinya..gue mulai terbuai dengan ucapan dia yang bilang ingin menikmati proses dengan gue pelan-pelan dari teman. “Enggak ada sedikitpun niatan aku yang enggak baik ke kamu.” tekannya. Dia juga bilang biasanya easy come easy go, dan dia enggak mau itu terjadi di gue. Iye deh masnyeee…

Naluri cewek yang merangkap auditor jelas gue enggak bisa percaya kata-kata orang. Tapi gue akan pura-pura bego untuk menggali lebih lanjut tentang orang tersebut. Ya begitulah gue. Hehe.

Entahlah memang gombal sih, dia juga bilang enggak melihat fisik gue karena yang dia cari dari perempuan adalah kecerdasan untuk mendidik anak-anaknya kelak. Gue sendiri heran dia mau begitu terbuka sama gue tentang hidupnya dan gue pun mempertanyakan itu ke dia. Dan jawaban dia sungguh bikin hati gue ikutan tersenyum saat itu, “Enggak tau, sama kamu aja aku mau terbuka. Sama kenalan di Tinder lain sih enggak.”

Baeklah. Tapi ini sih malah makin kayak warning buat gue untuk enggak percaya bulet-bulet sama dia.

Minggu berikutnya di tengah sexy(or dirty?) messages kami yang hampir tiap hari itu, dia tiba-tiba mengajak gue bertemu dengan satu syarat, jangan pernah menyesal setelahnya. Dia meminta gue untuk enggak menilai dia dari fisik. Ya ampun, cuma cowok idiot atau alien kali yang begitu.

Kok belum ketemu saja gue sudah suka dan gue punya keyakinan dia lah orang yang tepat untuk gue selama ini. Aaaak, gue mendadak jadi naïf banget.

“Mia, kalau kamu nanti ketemu aku lihat aku enggak punya kaki…ya kamu harus terima.” Begitu ucapannya yang bikin gue ngerasa nyesss.

Well I don’t mind dating the one without leg, since I’ve dated the one without heart before…

Jumat, 14 November 2014 akhirnya gue bertemu langsung sang Mr. Swipe Right. How was the detail of the meeting and what happened after, I’ll write in the second part of the story ya gaes hehe.

Advertisements