Tinderella Story: Mr. (swipe) Right – Part Three (The End)

Pict from keena-equinox.com
Pict from keena-equinox.com

When I find someone that makes my heart skip a beat, I’ll stop the search and take the risk.

Previously on Tinderella Story part two:

Gue galau sih karena sudah sebulan sejak peristiwa Puncak (halah) itu kami belum tau juga kapan akan bertemu lagi. Males aja gitu kan kalau kami cuma telponan dan berkirim sexy messages doang. Lama-lama gue bosan juga pasti. (Cerita lengkap di sini)

 

Untungnya memang jadwal kami beneran enggak pas untuk ketemu, jadi gue lumayan rileks. Akhir November kemarin gue juga sempat ke Lombok seminggu penuh, pas gue balik eh dia ke Solo untuk acara Jambore Nasional Mercy. Dia pulang eh gue pergi lagi Ke Bandung. Sabar, Mi. Not to hurry, nothing good gets away.

“Kamu kapan pulang nduut?” tanyanya yang hampir saja memancing gue untuk menjawab, “Kangen ya?” Tapi gue tahan lah. Gengsi dong. Hehe.

Selama gue di Bandung dan di sela-sela gue yang sibuk parah, di malam hari gue selalu ketagihan untuk ngobrol sama dia sebelum dia tidur. Iya, sebelum dia tidur…karena gue harus kerja lagi sampai tengah malam. Pffft. Dan meskipun jauh, dia juga bisa membuat gue merasa aman. Hotel yang rada bikin parno bikin gue enggak bisa tidur sebenarnya, but one good night kiss from him can make me feel so much better. Aeh 🙂

Perubahan di diri gue ini mulai tercium oleh orang-orang di sekitar gue. Gue terlihat sibuk selalu dengan HP gue plus senyum-senyum. Enggak sedikit yang pada kepo sama gebetan baru gue ini. Kadang, di Indonesia belum lazim ya bertemu pacar lewat online gitu. Gue sendiri awalnya sempat bohong sama beberapa teman, enggak mau terus terang kalau gue dan Denny ketemu di Tinder. Tapi lama-lama gue enggak peduli juga apa kata orang, jodoh memang bisa ketemu dari banyak jalan kan.

One thing for sure, I don’t care how we both met. I’m just glad we did.

Kembali ke rencana pertemuan gue dan dia berikutnya yang juga enggak jelas. Gue sih udah kirim kode kalau bakal ada film The Hobbit terbaru dan gue pingin banget nonton itu. Tapi dia alihin pembicaraan dan berhasil bikin gue gemesssss. Sampai lah di hari Rabu sore kami telponan dan dengan sangat mendadaknya dia bilang “Kita nontonnya malam ini aja yuk.”

Gimana gue enggak gedabak gedubuk cobaaaa….

Mungkin gue memang belum ada perasaan yang lebih sama dia, tapi unpredictable-nya dia itu malah bikin gue penasaran.

Rabu malam tanggal 17 Desember 2014 kami bertemu lagi di Setia Budi One. Di pertemuan kedua ini gue enggak mau buat dia nunggu jadi udah maksimal banget lah gue siap-siapnya biar enggak sampai telat kayak pas mau ke Puncak kemarin. Taunya pas gue sampai Setia Budi, dia juga sudah di situ dong. Beda banget deh ya waktu gue sama yang lama, kayaknya banyakan gue yang nunggu dia.

Gue berdiri di lobi sambil menanti kedatangan dia dari parkiran mobil. Perlahan gue lihat bayangan dia mendekat sampai akhirnya gue bisa benar-benar melihat Mr. Swipe Right gue. Dalam hati gue kembali bersyukur, untung saja gue swipe right dia ya.. 🙂

“Hai, apa kabar?” sapanya.

Enggak ada yang berubah sejak sebulan lalu, Denny masih pria yang nice, sopan, dan menyenangkan. Sama sekali enggak seperti dirinya kalau kita sedang saling mengirimkan sexy messages. Hehe.

“Kita ngopi dulu yuk sebelum nonton.” Ajaknya yang langsung gue sambut dengan antusias.

Secangkir Americano coffee dan segelas lychee ice tea jadi saksi obrolan kami malam itu. Dia bersemangat bercerita tentang Elvaro anaknya yang justru membuat gue jadi makin kagum.

“Jarang lho ada cowok single mau adopsi anak. Pasangan yang sudah lama menikah tapi belum punya anak aja kadang suka malas adopsi.” Selidik gue.

“Itung-itung bagi rejeki. Lagian kan aku suka anak kecil.”

“Kenapa enggak bikin sendiri aja, Dutt?” Kenapa gue nanya gini sih, nanti disangka kode kalau gue ajak dia bikin bareng kan x_x

“Kan belum menikah, nanti kalau sudah ada istri.” Fiuh gue lega dengar jawabannya. Berarti Denny ini memang lurus. Mudah-mudahan.

Sambil berjalan menuju XXI, tiba-tiba dia berbisik di telinga gue, dekat sekali…gue sampai risih. Cuma untuk bilang ini…

“Mia, mantan aku jaman kuliah bahkan lebih gemuk dari kamu lho. Tapi dia baik banget. Kayak kamu…”

Cieeeeee. Aaaaw.

“Tapi sering disakitin, Dutt.” Gue timpali ucapannya itu yang dia balas lagi dengan “Itu kan mantan kamu yang sakitin. Aku sih enggak akan.”

Ah, don’t make promises of something that you can never keep, Dutt.

Sepanjang nonton, jujur dia membuat gue nyaman. Enggak seperti kebiasaan gue sama yang dulu yang flat-flat aja kalau nonton, sama Denny ini beda. Dia kerap kali goda-goda gue sambil senggol-senggol manja.

“Mia jangan nangis, Mia.” Goda dia di tengah film, sambil mendempet lengan gue. Gue balas saja dengan mendempet dia juga. “Kamu kali yang nangis.” Lalu kami sama-sama tertawa.

Gue bahkan sadar dia tengah memperhatikan gue yang serius nonton. Lalu ketika gantian gue yang lihatin dia, dia tersenyum. Senyum yang sama waktu kami saling menggoda di dalam mobil menuju Puncak. I will always remember his signature smile yang malu-malu itu.

God, is he the one? Dalam hati gue terus bertanya. Jangan buat gue jatuh cinta dulu pada pria ini ya Tuhan. Masih banyak misteri pada dirinya. Intuisi wanita gue enggak bisa diabaikan.

***

Kira-kira jam 11.30 malam, dia mengantar gue pulang. Gue sempat bertanya padanya “Kita akan ketemu lagi, nggak?”

Dia menegaskan iya, dia akan sempetin bertemu gue di sela kesibukannya. Saat itu sebuah peraasan aneh muncul di perut gue.

I can’t tell the difference between the butterflies in my stomach and the pain that I think I’m going to get hurt again.

Tiba-tiba gue insecure akan kehilangan dia. Bagaimana kalau malam ini adalah pertemuan kami yang terakhir?

Gue melangkah masuk ke kamar kos gue sambil terus membuang pikiran jelek gue. Baru saja sampai kamar dan berganti pakaian, tau-tau dia telpon.

“Kenapa, Dutt? Nyasar ya?”

“Temenin aku ngobrol dong sampai aku nyampe rumah. Sepi nih.”

AAAAAK! JOGET-JOGET!!

Di percakapan telpon malam itu dia kembali menceritakan rahasia hidupnya yang membuat gue semakin appreciate dia. Dia ternyata diangkat anak juga sama Ortunya di Jogja. Ortu kandung masih ada di Kebumen. Itu mengapa dia melakukan hal yang sama karena dia merasa hidupnya jadi beruntung setelah dipungut keluarga lain. Jadi dia murni ingin berbagi dengan anak kecil yang susah.

Isn’t he sweet?

The moment we said goodbye that night, yang sama-sama agak enggan mengakhiri telpon, membuat gue jadi yakin bahwa cerita gue sama dia akan berlanjut lebih dari pertemanan.

He is my too good to be true. My prince. My destin-der. My tinder fella.

I was happy at the moment. But I was afraid, because every time I was too happy…something bad happened.

Benar saja. Tiga hari kemudian, tepatnya Sabtu malam gue menerima telpon dari seorang cewek.

Cewek itu mengaku istrinya.

JEGERRRRR.

Lutut gue lemas. INI KENAPA HIDUP GUE KAYAK SINETRON GINIII???!!!

Gue bingung dan segera menghubungi Denny yang enggak aktif dong ya HP-nya. Pusing lah gue. Gue mulai mengingat-ingat setiap cerita yang pernah disampaikan Denny.

“Mia, kamu sih komen di FB aku. Nanti jadi ketauan mantan aku. Kamu enggak sadar kan kalau kamu tuh lagi dipantau. Kamu jaga-jaga aja suatu waktu diganggu dia.”

Saat itu gue enggak terlalu peduli sih. Ah masa bisa segitunya dapat info tentang gue?

Dan gue jadi kepikiran apa iya benaran nih mantan pacarnya yang neror? Aduh si Denny enggak bisa dihubungin semalaman. Gue enggak bisa tidur ya Tuhan iki piye??? Banyak pertanyaan yang enggak bisa juga terjawab sampai gue ketiduran. Dari mana mantannya bisa dapat nomor gue? Kalau dia sampai begitu berarti ada sesuatu yang berarti di antara mereka. Apa? Kalau memang mantan, kenapa sekarang enggak ada kabar dari Denny? Jangan-jangan memang beneran istri?

Gue berasa jadi Cameron Diaz di The Other Woman ketika pertama kali tau cowok yang dikencaninya sudah beristri. Bingung dan marah.

Shit! Now I’m the other woman???

Untung saja akhirnya Minggu pagi ada kabar juga dari si Denny, yang langsung bercerita kalau cewek itu adalah mantannya yang kembali mengganggu. Menurut Denny, mantannya yang sakit ini masih berusaha menggagalkan setiap Denny mulai dekat dengan cewek. Ini sudah kali ke-empat dan Denny mulai capek menghadapi mantannya ini.

Menurutnya, si cewek datang ke bengkel dan merebut HP-nya jadi dia bisa baca What’s App kami. Dari situ juga si cewek dapat nomor gue.

Aneh sih. Masa iya segitunya? Tapi apa hak gue untuk enggak percaya juga. Toh kami masih berteman. Tapi gue penasaran banget dan feeling gue mengatakan ada yang ditutupi oleh Denny.

Denny bilang dia enggak mau menyusahkan gue dan mau lindungi gue dari mantannya yang sakit jiwa itu. Awalnya dia minta maaf dan bilang kalau lebih baik kami saling menjauh saja. Dia kasihan sama gue yang kena apesnya. Ya masa kami selesai begini saja, gue enggak mau lah. Lalu akhirnya dia minta komunikasi kami sementara jangan intens dulu, apalagi ketemuan. Sebagai cara meyakinkan gue, Denny juga mengirimkan isi sms mantannya yang menyumpah-nyumpah dan meminta gue dan Denny enggak berhubungan lagi.

Menurut gue Denny kurang tegas. Harusnya dia bisa menyelesaikan masalahnya dulu sebelum kembali berhubungan sama gue. Gue mencoba yakinkan Denny kalau gue enggak akan ninggalin dia. Gue mau kok jalanin sama dia. (Berasa ada backsound lagu ‘walau badai menghadang….’)

“Aku enggak rela kalau kita bubar cuma karena mantan kamu yang enggak penting. Kalau kita enggak jadi karena enggak cocok malah lebih fair. At least kita berdua sudah berusaha.”

“Kamu kuat? Kalau dia ganggu kamu lagi gimana?” tanyanya.

Senin malam setelah kejadian gue dilabrak mantannya, melalui telepon kami sepakat kalau hubungan kami akan baik-baik saja. Itu mampu membuat gue tenang sih.

“Den, kalau nanti kita jadian…”

“Mudah-mudahan..” Potongnya.

“Dengerin aku duluuuu. Maksud aku, kalau nanti kita jadian kamu harus bisa bikin mantan kamu enggak ganggu aku lagi dong.”

Denny hanya diam.

Diam yang enggak pernah gue duga kalau dia akan diam seterusnya. Tak ada kabar dari Denny keesokan harinya. Mendadak Denny menghilang.

Semua pesan gue enggak terbalas, belasan telpon gue pun enggak dijawab. Setelah sekian lama gue kembali merasakan spaneng karena hal ini. Berjuta pertanyaan muncul di otak gue. Ada apa ini? Denny kemana?

Sore harinya gue sadar dia sudah men-delete Path dan FB gue, bahkan nomor gue juga di-block dari What’s App-nya. Gue putuskan menyelidiki langsung ke bengkelnya. Man, jiwa auditor gue terpanggil. Gue langsung ajak tukang ojek langganan gue dan menuju ke Cipete.

Alhamdulillah ya gue enggak sulit menemukan bengkel mobil di daerah Cipete yang enggak jauh dari Kemang Village. Gue langsung masuk ke kantornya tapi sangat disayangkan Pak Denny sudah pulang.

Bengkel ini lah kuncinya. Hasil ngobrol-ngobrol dengan beberapa karyawannya, gue malah dapat banyak fakta mengejutkan tentang Denny atau yang punya nama samaran Azka.

DAMN!

Jadi benar dong itu istrinya? Gue anggap benar dengan kaburnya Denny ini. Meski orang bengkel enggak tau pasti apakah Pak Denny sudah menikah apa belum. Tapi mereka juga enggak mengenali foto mantan Denny yang gue tunjukan. Padahal kan menurut Denny, karyawan bengkelnya kenal baik sang mantan yang dipanggil ‘Ibu bos’. Another bullshit.

Entah mana yang benar yang jelas, Denny ini sudah gue cap pembohong. He made up story about his life. Segera gue mengetikkan pesan via What’s App dari nomor gue yang lain kalau gue sudah tau semuanya dan bahwa dia pembohong. Dia langsung block gue.

Well, not to mention he’s also a coward.

Kabur, man. Kabur!

Kayak rekaman yang langsung muncul di ingatan gue betapa manisnya sikap dia selama ini ke gue..dan itu palsu. Syukurlah gue masih dilindungi, belum sampai jauh sama Denny dan terbongkar sudah kebohongannya. Bau busuk cepat atau lambat memang akan tercium juga. Dia membuktikan dirinya yang sebenarnya. Gue sudah dipermainkan mentah-mentah olehnya.

He was selling me dreams but then delivering me a nightmare.

Gue jadi ingat salah satu pembahasan kami dulu di telpon. Dia minta pendapat gue untuk berhenti dari komunitas Mercy dan akan ganti nomor lalu menghilang. Gue dengan polosnya melarang dia melakukan hal itu. “Jangan ah, Den. Jangan pernah menciptakan kesan tidak baik pada siapapun.”

Harusnya di situ gue sadar, kalau Denny ini memang tipe cowok yang lebih memilih kabur dari masalah.

Bagaimanapun juga, gue masih beruntung daripada isterinya sih. Semoga dia sabar punya suami buaya.

Kejadian ini bikin gue berani menyimpulkan enggak ada deh cowok yang emang normal dan benar main Tinder. Rata-rata cowok iseng semua di situ. Rata-rata lho ya.

Semoga dia baca tulisan ini karena dia harus tau, gue cewek yang punya harga diri. Gue memang sedang butuh kasih sayang tapi bukan berarti bisa dimanfaatin cowok seenaknya.

Bukan kekayaan yang bisa buat gue impressed, bukan mobil mewah yang dapat membuat gue jatuh cinta. Dulu bahkan gue mampu sayang pada pegawai pabrik yang hanya memakai motor bebek. Tapi kesederhanaan yang dapat memenangkan hati gue. Gue pikir dia begitu penuh kesederhanaan yang akan menghargai wanita seperti ucapannya selama ini. Tapi nyatanya…satu lagi pria brengsek yang singgah di hidup gue.

Dear Denny, semoga kamu senang tulisan tentang kamu sudah beredar luas dan dibaca banyak orang. Ini kan yang kamu mau?

Kamu memang memiliki kaki yang utuh, tapi hati kamu kemana? Sadar Den, tobat. You better save your drama, for your karma.

 

 

 

 

 

 

 

Pelajaran besar buat hidup gue dan semoga bisa berguna untuk orang lain juga. When you meet someone that is too good to be true, maybe he isn’t real…

Teman-teman, gue share tulisan ini dengan tujuan enggak ada lagi yang terjebak dengan cowok-cowok iseng di luar sana. Mereka bahkan mampu membentuk dirinya terlihat sempurna, tapi justru yang seperti itu lah yang patut dicurigai. Hati-hati juga kalau kenal lewat apapun itu atau bahkan dikenalin dengan cowok bernama palsu Azka.

Good luck untuk para Tinderella yang masih mencari pangerannya. Kalau gue sih sudah uninstall Tinder, for a better life.

P.S Benar juga ya kata penutup video College Humor tentang Tinderella…they’re finally happy because they never spoke again 😀

 

Advertisements