My First Debut As A Writer

-A Very Special Thanks-

Dear temans yang setia suka baca tulisan enggak jelas gue,

Pernah kebayang enggak sih kalo hobi corat-coret gue berbuah menulis sebuah buku? Pasti enggak! Sama gue juga enggak. Apalagi pas main-main ke Gramed buat hunting buku. Sama sekali enggak kepikiran bahwa nama gue akan tertulis sebagai pengarang salah satu buku yang banyak tersebar di tumpukan buku di toko buku.

Lagipula tulisan gue cuma asal dan enggak ada tekniknya, curhatan pula. Mana layak jadi buku.

Tapi Tuhan berkehendak lain rupanya.

Tanggal 26 Mei 2012, buku pertama gue, Trave(love)ing, akhirnya terbit. Buku ini dibuat bersama 3 sahabat yang akrab di Twitter. Rasanya seperti…ah sulit melukiskannya. Pokoknya gue norak deh hehe.

Di special thanks buku sebenarnya kalau boleh sih gue tulis semua nama yang sudah memberikan kontribusi, mulai dari ide, proses pembuatan, sampai terbit. Tapi jadi bisa satu buku sendiri itu sih…

Makanya tulisan ini sengaja gue buat sebagai special thanks kepada orang-orang itu. Here we go…

1. Mau enggak mau sih, gue tulis sang pemberi inspirasi di list paling atas. Kenapa, karena kalau enggak pernah ada cinta di antara kita, enggak akan ada cerita. Mungkin memang dia dikirimkan ke hidup gue supaya gue bisa jadi orang yang membanggakan dan bermanfaat bagi sekitar. Manfaat? Iya, siapa tau kan tulisan gue bisa jadi inspirasi juga bagi orang lain yang membacanya. 🙂

2. Dendi. Sahabat gue, teman dari SMA. Doi tuh yang memberanikan gue untuk enggak cuma jadi penikmat tulisan, tapi juga menulis. Mulai dari nulis 140 karakter di Twitter, tulisan di notes, dan di blog. Dan tulisan doi yang ter-mahsyur: The Nekad Traveler itu yang sudah memotivasi gue untuk pertama kali menulis sebuah notes yang berbentuk cerita. Gara-gara Dendi juga, gue kenal sama Roy.

3. Roy. Kalau enggak ada doi, enggak akan ada Trave(love)ing. Ide pertama kali membuat novel ini datangnya dari Roy. Syukur alhamdulillah yang diajak itu termasuk gue, yang notabene pengetahuan teknik nulisnya NOL BESAR. Roy itu penulis novel komedi, sudah menelurkan beberapa buku  sendiri maupun keroyokan. Waktu doi ngajakin, gue teriak di kamar kos. Serius! Kabar baik yang enggak pernah diharap-harap ataupun disangka-sangka. Gue, Dendi, dan Roy itu gank di Twitter yang suka ikut mainan kata-kata berirama gitu. Anggota satu lagi si Gelaph. Jadilah berempat ini bikin proyek novel tentang cinta berlatar perjalanan.

Kalo beberapa pembaca ada yang suka banget sama cerita gue itu, sebenarnya, hmmm bongkar dapur nih, ada ide Roy dibaliknya. Roy always comes up with his brilliant idea. Enggak cuma itu, doi juga editor pribadi gue, pemberi masukan enaknya begini enaknya begitu. Ah nih bocah benar-benar orang dibalik layar tulisan gue banget deh. Gue enggak bisa move on dari Roy nih. Doi akan selalu jadi draft reader gue! *Sambil mengepalkan tangan di udara*

4. Gelaph. Doi gue kenal dari si Dian, staf gue di EY dulu. Mungkin karena sama-sama Taurus jadi cocok aja gitu. Doi sih sudah lebih dulu nulis dibanding gue. Gue suka banget sama tulisan-tulisan cerdas doi.So, doi juga salah satu yang memotivasi gue untuk ikut-ikut ngelatih nulis di blog. Kami berdua juga punya blog yang kami asuh bersama, kumpulan cerpen yang ditampung di sebuah blog bernama working-paper.com. Mumpung sama-sama belum ada keluarga yang diurus kan. :p

5. Ortu dan kakak gue. Alasan utama untuk pulang di setiap perjalanan. Selalu bikin gue homesick nih. Awalnya gue takut banget setelah baca bukunya mereka akan marah melihat pengorbanan gue untuk seorang cowok sampai segitunya. Tapi ternyata enggak marah. Mereka senang melihat gue semangat lagi. Kata mereka, gue hanya terlalu baik untuk dipasangkn dengan yang enggak baik. Jadi sudah dipilihkan yang terbaik juga sama Tuhan untuk gue. Yess!

6. Diesti & Nunik. Diesti itu saksi waktu Roy ngajakin bikin novel hehe. Masih ingat gimana senangnya gue kan, Des? Doi bersama Nunik juga setia dengerin curhatan gue malam-malam, sampai nangis-nangis hehe. Thanks ya Ti, Nik, dukungan dan kehadiran lo berdua saat gue lagi ngenes-ngenesnya itu sangat-sangat berarti. 🙂

7. Helina. Sahabat dari SMA sampai sekarang. Teman menggila bersama bersama Efa, Adi, Doni, Yudhi. Aaaaak atu taneeeen taliaaaan. :))

8. Oppie, ibunya Al. Sahabat yang selalu ngebanggain gue. Pembaca setia tulisan gue, setiap draft yang selesai gue buat, gue kirim ke Oppie. Kata-kata dahsyatnya selalu membesarkan hati gue dalam menghadapi masalah. Belum lagi senyum baby Al yang selalu bikin gue kangen itu lhoooo. Makasih ya sayang. :p

9. Mba Kemek, Ginceng, Pak Haji, Juni, Kakak, dan Hafidh. Sahabat di kantor yang sudah kayak saudara. Mereka yang enggak pernah rela ngeliat gue disakitin. Saran-saran dari mereka yang memotivasi gue untuk bangkit. Bangga kan teman kalian ini ada juga kelebihannya selain kekurangannya yang ceroboh, suka numpahin makanan, ngilangin voucher karoke, dan masih banyak nyebelin lainnya. Hahahaha.

10. Gank Galon dan Akun UI-ers. Nani, Rini, Neni, Deha, Etha, Ima, Inne, Meily, Carla, Muli, Imel, Desita, Lucy, Denny, Tetty. Sahabat satu dekade lebih hehe. Kalian yang bisa kapan aja gue panggil untuk menghibur gue. Jangan pernah bosen yaaa. 🙂

11. Ex EY-ers and Ex-LG-ers. Dian, Achip, Nia, Robai, Betty, Putri, Dila, Ncus, Mas Ade, Adit, Riyan. Kalian sedikit banyak berkontribusi di cerita cinta gue ya. 🙂

12. Gank Vico. Tiara, Hanny, dan Handy. Sahabat baru gue. Gue enggak bisa banyak ngomong tapi kalian bertiga pasti sudah pahami banget. Thanks for sticking around. 😀

Last but not least. Semua yang pernah gue temui, kenal or enggak. Yang secara langsung maupun enggak sudah memberikan inspirasi. Terutama orang-orang yang gue follow di Twitter, para pengarang buku-buku yang gue baca (Ika Natassa dengan tulisan Traveling is-nya yang menginspirasi gue), penulis lagu-lagu yang gue suka, penulis naskah film-film yang gue gemari, pengarang kutipan-kutipan indah yang gue berikan tanda bintang, dan para teman blogger (cieeee gaya banget yang jadi blogger :p).

Terima kasih.

Terima kasih.

Terima kasih Tuhan, atas jalan hidup ini yang kadang luka, tapi selalu ada suka. Berkati terus jalanku agar enggak berhenti sampai di Trave(love)ing ya.

Berikutnya gue harus juga bisa menelurkan karya-karya lainnya, baik sendiri maupun bareng-bareng penulis lainnya.

Sekali lagi,

mohon doa restu ya kawaaaan…. 😀

Eh btw, sudah beli kan ya? Kalau belum, hanya segitu sajakah pertemanan kita???

#DRAMA

Advertisements

Trave[love]ing: Faktanya Adalah…

Trave(love)ing: Hati Patah Kaki Melangkah

Sebuah book teaser dari Novel pertama gue yan

Prolog

Fakta (kurang) penting…

Lebih dari sepuluh tahun yang lalu, di saat gue masih berseragamkan putih-abu, adalah pertama kalinya gue mengalami patah hati. Saat itu gue mengurung diri, mendengarkan lagu yang mewakili suasana hati, lalu menangis sampai pagi. Dan lagu patah hati gue saat itu adalah End Of The World. Begini liriknya:

Why does the sun go on shining
 Why does the sea rush to shore
 Don't they know it's the end of the world
 'Cause you don't love me any more
Why do the birds go on singing
 Why do the stars glow above
 Don't they know it's the end of the world
 It ended when I lost your love
I wake up in the morning and I wonder
 Why everything's the same as it was
 I can't understand, no, I can't understand
 How life goes on the way it does

Lagu lawas tahun 70-an tersebut pertama kali dipopulerkan oleh Nina Gordon, dan juga pernah dinyanyikan oleh The Carpenter. Waktu gue masih kanak-kanak, sudah sangat menyukai lagu ini karena bokap sering banget memutarnya. Kata kakak gue yang saat itu sudah remaja, lagu ini tentang patah hati. Gue manggut-manggut saja padahal enggak mengerti juga patah hati itu apa?

*Kira-kira begitu reka ulangnya :p*

Saat itu, gue enggak pernah membayangkan 12 tahun kemudian akan protes keras akan isi lagu tersebut. Patah hati bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal memulai sesuatu yang lebih baik. Dan bagi gue sesuatu yang baik itu adalah Trave[love]ing.

*****

Faktanya adalah…

Kisah patah hati gue yang menjadi inspirasi di novel ini terjadi kurang dari setahun yang lalu. Gue dikirim oleh kantor untuk mengikuti audit training di Dubai. Moment yang pas untuk getaway from broken heart. Traveling untuk menghilang sesaat dari pahitnya kenyataan, enggak dapat bersama lagi dengan seseorang yang terkasih. Menjelang keberangkatan ke Dubai, gue memang benar-benar meng-update status berikut (Trave[LOVE]ing hal: 65)

Status sebelum take-off

Dendi, teman gue sejak SMA, ikut memberikan komentar dengan membubuhkan sebuah judul dari travel notes-nya, yang pernah di-post juga di Facebook. Seketika komentarnya menginspirasikan gue untuk membuat notes, tentang perjalanan di Dubai.

Pulang dari Dubai, gue enggak langsung menyusun catatan perjalanan gue itu. Banyak pertimbangan dan butuh keberanian untuk menuliskan kisah perjalanan, terutama cerita patah hati di baliknya. Dan lebih luar biasa sulitnya, ketika pertama kali akan publish tulisan itu dan meng-share-nya ke media. Bagaimana perasaan si pematah hati ketika membacanya nanti? Itulah yang menjadi pertimbangan gue. Akhirnya, 4 Desember 2011, pertama kalinya gue post di Facebook, mengikuti jejak Dendi.

The Hopeless Romantic Traveler

Respon yang gue dapat dari teman-teman sangat positif. Si Dia pun bahkan awalnya sempat mengomentari “ A great note for a great person. And also a great traveler”.

Well, I took those words as a compliment. Thanks. 🙂 

Lagi-lagi enggak pernah terbayangkan bahwa beberapa bulan kemudian, gue akan melanjutkan kisah di notes Facebook itu ke sebuah novel.

*****

Fakta cihuynya…

Judul Trave[love]ing, pertama kali tercetus di sebuah restoran khas masakan Negeri Jiran di PS. Saat itu lagi traktiran si Dendi yang baru dapat bonus (Okay, this is too much information). Sebelum muncul nama Trave[love]ing, beberapa nama sempat jadi pertimbangan. Awal naskah sempat diberi judul Move On, Travel Up? Tapi sepertinya kurang gereget. Sempat juga mengalay dengan memberikan judul TraveLoGue End: Travel Lo Gue End!! Tuhan memaafkan hambaNya yang pernah khilaf.

Tepatnya akhir Januari 2012, kami berempat langsung sreg dengan judul Trave[love]ing: Hati Patah Kaki Melangkah. Dari judulnya saja tersurat bahwa buku ini adalah buku perjalanan. Bedanya dengan buku perjalanan lainnya adalah, ini adalah perjalanan dari patah hati menuju move on (baca sinopsisnya di web penerbit Gradien atau lihat teaser-nya di sini).

Proses dimulainya Trave[love]ing adalah patah hati. Patah hati yang menyebabkan seseorang menjadi kreatif. Kreatif kemudian melampiaskan ungkapan hati pada kata. Kata yang terangkai dalam sebuah tulisan. Tulisan yang bak mimpi indah yang terwujud, saat seorang teman, Roy, mengajak gue, Dendi, dan Gelaph (baca blog Dendi untuk proses perkenalan kami berempat) untuk membuat proyek novel cinta berlatar belakang perjalanan karena patah hati (baca blog Gelaph untuk behind the scene-nya).

Ada input, maka ada output. Jika patah hati adalah input, move on adalah output. Dan prosesnya adalah traveling. Begitulah garis besar Trave[love]ing.

*****

Fakta kerennya…

Di saat teman-teman seumuran melahirkan seorang bayi mungil, gue masih melahirkan sebuah novel (yak curhat, sodara-sodara :p).

Launching perdana buku ini sudah dilakukan tanggal 26 Mei 2012, ditandai dengan keempat penulisnya yang menjelajahi Jakarta, menebarkan obat patah hati.

Target pertama kami adalah para endorser yang sudah sangat berbaik hati mau memberikan sepenggal kalimat tentang buku kami ini. Mereka adalah:

@AlbethieneE – penulis
@Fatimaalkaff -penikmat sastra dan literatur
@dwikaputra – social media enthusiast, singer-song writer
@arievrahman – seasonal traveler (money season for the exact)
@rahneputri – delusional arbitch who is trapped in poem, music, film, and photography
@zarryhendrik – penyiar
@ekaotto- penulis Bayangan Kelima
@pervertauditor – pelakon audit, impulsive traveler wannabe, loveable character on Twitter

Dan salah seorang penulis favorit gue, Windy Ariestanty, berkenan memberikan pengantar untuk buku ini. Mimpi jadi kenyataannya paket combo! 🙂

Launching Trave(love)ing

Setelah menyebarkan obat tersebut kepada para endorser, Trave[love]ing kemudian disebarkan secara luas di Jakarta dan sekitarnya. Per tanggal tulisan ini diturunkan, hampir sebulan setelah terbit, sudah ada juga di kota besar lainnya dan toko buku Gramedia, Toko Gunung Agung, Kinokuniya, Leksika, Tisera, dan Toko Buku Salemba.

Faktanya lagi…

Setelah kurang lebih sebulan nangkring di toko buku, Trave[love]ing masuk jajaran best seller. Tercatat di H-1 month-versary ini, sudah laris manis di Gramedia Plaza Semanggi, Kelapa Gading, Botani Square, dan Grand Indonesia. Di online bookstore @bukukita juga sudah jadi best seller! Isn’t it cool? :p

Harapan kami, khususnya gue, buku ini bisa memberikan banyak warna bagi semua pembaca. Untuk yang sedang patah hati, sedang berbunga-bunga, bahkan yang sudah settling down juga. Untuk yang patah hati, setelah membacanya jadi bisa memotivasi untuk cepat move on. Yang sedang berbunga-bunga, agar dapat lebih menjaga suatu hubungan. Patah hati itu enggak enak, kalo enak sudah pasti habis dimakan (maap yak gue emang engak jago nge-jokes). Untuk yang sudah menemukan soulmate, selain jadi bernostalgia bisa jadi ingin honeymoon kedua. Karena buku ini menularkan sensasi ingin traveling. Enggak percaya? Buktikan saja!

Sebagai penutup, gue ingin mengutip pengantar dari @windyariestanty pada novel ini.

“Pada akhirnya, mereka tetap harus berterimakasih kepada para mantan yang membuat mereka melakukan perjalanan ‘patah hati’, dan kembali dengan cerita yang dituliskan. Sebuah cara ‘sembuh’ yang mengagumkan bukan?”

Gue pribadi mengucapkan terima kasih.

Terima kasih untuk dia, yang pasti enggak pernah menyangka bahwa si pensil yang enggak diinginkannya ini, sekarang bisa menuliskan sebuah buku. (Fakta lagi: Ada sebuah joke tentang pensil, hanya gue dan dia yang tau :p)

Terima kasih untuk orang-orang terdekat, yang telah mendukung, menyayangi, dan masih menyediakan ruang dalam hidup dan hatinya untuk seorang gue. Seorang anak, seorang adik, dan seorang sahabat.

Terima kasih untuk para pembaca, yang sudah membeli dan membaca buku ini.

Terima kasih Allah, yang dengan manisnya menjadikan luka dulu menjadi suka kini.

Menjawab lagu End Of The World:

And now I understand. How life goes on the way it does. It keeps on moving on, no matter how hard your heart is grieving.

*****

Epilog

Fakta bukan nih…

Kok bisa ya, kisah patah hati ke-empat penulis Trave[love]ing mewakili empat problematika derita cinta sejak jaman purba sampai akhir jaman: LDR, beda agama, friendzone, dan perselingkuhan. *angkat alis*

Foto yang ada di Trave[love]ing hal: 227, ada foto senyum move on. Benar enggak ya foto itu diambil setelah gue berteriak di balkon gedung tertinggi di dunia: Burj Khalifa…Hmmm. *angkat alis lagi*

😀

Why Giraffe?

In every girl’s favorite thing, there is an untold story.

Lady of Giraffe

Hai, I’m a lady of giraffe. The lady who loves giraffe things so much. Started to like the tallest-animal-nowadays since 2004. Until now, I’ve been collecting so many things about giraffe in my room, and also in my cubicle. But why should giraffe? Not many of you know the reasons behind.

The main reason is silly. In 2004, I got a crush on a very tall guy. My friends called him ‘giraffe’. Now I feel like my cheeks are blushing and my neck is itchy.

😀

My First Giraffe

My Collections
My Collections

But there are also other reasons. I may say them with a philosophy of giraffes. So many things we can learn from this long-neck animal.

Fight For Life

Evolution of Giraffe

It is obliged to browse on the leaves of trees and to make constant efforts to reach them. From this habit long maintained in all its race, it has resulted that the animal’s fore-legs have become longer than its hind legs, and that its neck is lengthened to such a degree that the giraffe, without standing up on its hind legs, attains a height of six metres (nearly 20 feet).” – Jean Baptiste Lamarck (1809) “Zoological Philosophy”

 A giraffe, in order to live, he has to eat. There was no more food on the land so he ate the leaves. Because the tree was growing up continually then the giraffe must adapt with it (remember the Evolution Theory by Darwin?). This animal is just one of many example that teach us how to fight for life.

Learn from a giraffe. Live your life to the fullest potential, and fight for your dreams.

Learn To Grow

Growing Giraffe

You will never see a giraffe say to itself one day, “Well, this is tall enough, I think I’m going to take a break from growing now”

The extended neck of giraffes instead appears to be a consequence of sexual selection. Male giraffes use their neck and head as clubs in agonistic displays with other males in competition for females: those with thicker necks and more massive skulls and horns are more successful, and are prefered by females. The extended neck of giraffes instead appears to be a consequence of sexual selection. Male giraffes use their neck and head as clubs in agonistic displays with other males in competition for females: those with thicker necks and more massive skulls and horns are more successful, and are prefered by females. (Jean Baptiste Lamarck (1809) “Zoological Philosophy”)

Almost everything on earth has an innate environment it can’t do anything about. It can’t change the direction of the wind, when it rains, among many other things. Yet, all living things still grow and thrive to their maximum potential in the wild.

In life, not being the best you can be, always has severe consequences.

And a giraffe allows us to learn how to grow. Life’s problems are sent to us to make us grow up, mentally and spiritually.

Problem Solving

Giraffe Kicking Ass

A giraffe, with all that height, comes the advantage of being able to see predators from great distances, especially out on the open grasslands. But vigilance is just one of a giraffe’s defense mechanisms. When attacked, a giraffe will use its large powerful hooves, and kick at its enemy. And a kick from a giraffe is no laughing matter. They have been known to sever lions’ heads.

So why don’t we learn from him, in a way of solving a problem. If something happened on his habitat, a giraffe would use his long neck to listen and  look around. He would observe first. Identifying first, he doesn’t take any decision in haste. But if he’s really sure that there are things bothering him, then without no doubt he will kick their asses.

😀

Low Profile

Giraffe, A pain in neck
Giraffe, A pain in neck

A giraffes is high yet so low. Being the highest animal on earth, while others are very shorter than him, makes him usually lower his neck.

Yes, sticking his neck out for friends.

The way I see it, is… no matter how high we are, sometimes we have to be able to low our standards. So we can stick around with others.

Unique

Spots Pattern

Each giraffe is unique with his long neck and spots pattern that are distinctive to other animals.

As a human, we must have an unique character that will distinct us to other human. Because the character is foundation.

Character is the real foundation of all worthwhile success. – John Hammond

Those above are some philosophy of giraffes that we can use in our daily life.

And I’m proud to say that I think I meant to be a big fan of giraffes. Wherever I go, I always find any cute-giraffe things.

🙂

My Family Tree

Lo pernah penasaran enggak sih sama silsilah keluarga lo? Ingin tau asal usul lo dan seperti apa buyut lo di masa lalu? Well, gue iya. Banget. Dari dulu paling suka mendengarkan cerita bokap nyokap gue tentang sejarah keluarga. Menurut gue, mengetahui cerita-cerita sejarah keluarga gue itu bagaikan dongeng yang pantas diturunkan ke para generasi penerus, selain cerita Cinderella atau Snow White tentunya. 🙂

Jadi ceritanya siang tadi gue sekeluarga menunjungi salah satu eyang yang masih hidup. Bukan eyang langsung gue, tapi adik laki-laki eyang kakung tepatnya. Setelah perjalanan jauh ke Pamulang plus sedikit nyasar, akhirnya sampai juga di rumah Eyang.

Eyang Sarosa namanya. Atau akrab dipanggil eyang Sar. Ternyata eyang gue yang sudah berumur 80 tahun ini masih sehat wal-afiat. Enggak seperti tipikal kakek tua umumnya yang sering gue lihat di TV. Tidak bertongkat dan tidak pikun. Beliau bahkan masih dapat membaca tanpa kaca mata! Meski jarak pandang mata dan yang dibaca maksimal 10 cm. Hehe.

Eyang Sar saat ini

Eyang gue tinggal sendiri di rumahnya yang cukup dihuni satu keluarga sebenarnya. Tapi hanya sepasang ART saja yang menemani beliau. Istrinya sudah lama meninggalkannya kembali kepada sang pencipta. Anak-anaknya sudah hidup terpencar, meski begitu bukan berarti eyang ditelantarkan. Tiap minggu anak cucunya pasti rajin mengunjunginya kok. Dan beliau akan merasa bahagia sekali, hiburan baginya melihat anak cucunya berkumpul.

Eyang Sar muda (engineer cuy)

Selain berkumpul, yang membuat eyang bahagia adalah teknologi. Jebolan teknik mesin ini di waktu senggangnya ditemani oleh netbook dan blackberry torch. Layar sentuh saudara-saudara! Kalah deh emak babe gue :))

Baru datang saja beliau langsung mengeluarkan sebuah buku dan beberapa poster. Ternyata buku itu adalah silsilah keluarga dan poster itu adalah bagan family tree. Keduanya beliau sendiri yang membuatnya! BRAVO!

Sambil membolak-balik lembaran demi lembaran gue memperhatikan silsilah keluarga gue. Gue menyentuh dan mengusap fotonya seolah ingin mengenalnya lebih dekat. Jujur gue kaget mengetahui buyut gue, selama ini bokap gue enggak pernah menceritakan dengan jelas asal usul kami. And I just found out the history of my family.

Silsilah Keluarga Besar Darsodipradjan
Bagan Silsilah
Buku Silsilah

SOROSILAH

Siapakah Darsodipradjan? Beliau adalah eyang kakung bokap gue, means buyut gue! Dilahirkan dengan nama Raden NG Darsodiprodjo. Namanya susah banget ya. Beliau ini masih bangsawan meski bukan turunan langsung Keraton. Makanya ayah beliau mendapat gelar Raden dari keraton sehingga masih dapat diturunkan kepadanya. Jika beliau menikahi rakyat biasa, gelar radennya enggak bisa diturunkan ke anak-anaknya. Dan kakek buyut gue menikahi wanita keturunan langsung Keraton Surakarta. Wanita itu adalah B. R. Ayu Asiyah, putri dari putri langsung Praboe Browidjojo IX yang menikah dengan cucu dari Mangkoe Nagara III. Kedua nama itu adalah nama-nama keturunan kesultanan Surakarta.

My Family Tree

Bingung? Intinya, karena eyang buyut putri masih keturunan langsung keraton oleh karena itu keturunan-keturunannya masih bisa diberi gelar Raden. Jika laki-laki bisa tak terhingga diturunkannya. Gelar akan berakhir pada keturunan perempuan yang menikah dengan pria bukan bergelar raden.

Buku Silsilah Keluarga Keraton Surakarta

Ah aku bangga sama eyang buyut, bisa aja ngedapetin cewe keraton. Semoga eyang tenang di alam sana ya. Terima kasih eyang sudah mencipratkan sedikit darah biru di darah cicitmu ini. 🙂

Jadi dari situ lah semuanya dimulai. Gue teringat siang tadi Eyang Sar menunjukkan ke satu titik pada kertas sebesar poster yang bergambarkan pohon keluarga kami itu. Berawal dari eyang Darso yang menikahi eyang putri Asiyah. Mereka berdua dianugerahi 16 putra dan putri! Astaga, makin salut gue sama buyut gue ini. Sayangnya 6 diantaranya diambil Tuhan YME saat masih kecil –  kecil, sehingga tersisa 10 saja. Dan Bapaknya bokap gue, biasa dipanggil Papih sama anak-anaknya, adalah sulung dari 10 bersaudara itu.

Nama eyang kakung nan tampan dan gagah gue adalah R.M Soeratmo. Beliau adalah prajurit dengan nama gelar Hindrajit. Itulah asal mula nama kepanjangan gue ‘Hindrayanti’. Sayangnya gue sendiri ngga sempat bertemu dengan eyang kakung gue itu. Beliau sudah wafat jauh lebih dulu sebelum bokap gue menikah dengan nyokap gue. Bokap gue memang telat menikah untuk ukuran orang jaman dulu.

10 Eyang

Nah, Eyang Sar itu anak keenam. Jadi om-nya bokap gue. Bokap gue dengan om-nya ini paling akrab. Dulunya sering main bareng katanya hehe.

Putra Putri Eyang Hindrajit
Mitos Keluarga

Di rumah eyang Sar tadi, selain menunjukkan silsilah beliau juga menceritakan beberapa mitos keluarga kami.

“Keluarga kita itu tidak sempurna, ada cacatnya. Ada enggak beresnya. Percaya enggak percaya, ada dua hal kejadian aneh yang terjadi di keluarga Darsodipradjan.” Jelas eyang panjang lebar.

“Pertama, enggak ada keturunan keluarga kita yang lahir kemudian diadakan syukuran atau selamatan. Tujuh bulanan aja enggak. Kalau dilanggar, pasti meninggal enggak lama setelah syukuran.” Begitu kira-kira translate bahasa Indonesianya dengan ejaan yang enggak sempurna juga. Eyang ini masih campur-campur bahasa Jawa kalau berbicara.

Dan mitos itu ternyata memang dipegang teguh oleh seluruh keluarga. Gue pun ternyata sewaktu lahir enggak diselamatin sedikitpun. Aqiqah hal yang berbeda ya, itu wajib dalam islam. Biasanya tradisi keluarga Jawa kan banyak syukuran menyambut kelahiran bayi tuh, nah satupun di keluarga kami enggak ada yang melakukannya. Kata nyokap gue, “Lahir ya lahir aja.”.

Mengapa keluarga gue mempertahankan mitos itu ya? Percaya hal seperti itu bukannya syirik? Kenyataannya, memang pernah ada salah satu anggota keluarga kami yang melanggarnya. Terbukti benar jika diadakan syukuran atas bayinya, enggak lama setelahnya meninggal. Bahkan ada sepupu bokap gue yang istrinya ngeyel (enggak nurut) tetap mengadakan syukuran untuk anak berikutnya setelah anak pertamanya meninggal. Yang terjadi, putranya pun meninggal lagi.

“Ingat itu ndok, jangan dilanggar.” Suara eyang Sar terdengar sedikit bergetar. Gue jadi merinding.

Mitos kedua, membuat bulu roma gue berdiri. Anjiis bahasa 80-an banget enggak sih.

“Di setiap keturunan perempuan, ada saja yang enggak menikah.” nada suara eyang menjadi serius. Lalu eyang menyebutkan tiga nama perempuan di keluarga yang enggak menikah hingga kini. Salah satunya, adik langsung bokap gue. Tante yang akrab gue panggil Ibu, karena dia mengganggap gue anaknya sendiri.

Gue, kakak gue, dan nyokap langsung mengetok meja bersamaan. Amit-amit.

“Makanya, kamu ingetin anak-anakmu supaya segera menikah. Mitos kedua ini untuk memotivasi. Putuskan mata rantai di mana ada perempuan yang enggak menikah di setiap keturunan. Hapus.” Pesan eyang ke bokap gue.

Lalu serta merta bokap dan nyokap gue meng-‘tuh dengerin eyang’ ke gue dan kakak gue. Hati gue mencelos. Pesan ini akan selalu gue ingat. Jangan banyak pilih, kata eyang. Tapi juga jangan sampai menikah karena enggak ada pilihan lain.

Iya eyang, tapi masih mending sih kalau enggak ada pilihan. Daripada belum ada yang bisa dipilih?

Alih-alih memecahkan kecanggungan yang tercipta di antara eyang, gue, dan kakak gue, lalu gue menanyakan satu hal pada eyang. “Kok eyang rajin banget buat silsilah dan senang menceritakannya ke anak cucu ya?”

Jawaban eyang cukup menohok, “Supaya kamu enggak pernah lupa darimana kamu berasal. Kamu tau riwayat keluarga kamu dengan harapan, kamu akan berhati-hati dalam bertindak. Menjaga tutur kata serta selalu santun. Ada nama para eyang yang kamu emban di pundak kamu.”

Ah Eyang, benar sekali. Family is where one (personality) starts from. Kepribadian seseorang ditentukan dari bagaimana ia dididik oleh keluarganya. Didikan keluarga yang sudah lurus, jangan dibuat bengkok.

Gue senang pengalaman kemarin membuat gue tau dan mempelajari silsilah keluarga gue. Karena gue bangga karena, maka gue menuliskannya. Meneruskan sejarah untuk anak cucu gue nanti. 🙂

If you don’t recount your family history, it will be lost. Honor your own stories and tell them too. The tales may not seem very important, but they are what binds families and makes each of us who we are. –  Madeleine L’Engle

Menyandang gelar keturunan langsung Keraton Solo lantas tidak menjadikan aku merasa spesial. Aku tetap orang biasa, bedanya adalah ada beban nama baik leluhur yang aku pikul. Dan menjadi Mia seperti di titik sekarang ini, kuharap para nenek moyangku bangga, tidak berkeberatan, dan merestuinya. Semoga tenang di sana, para Eyang…