Hari Yang Ku Tunggu

“Ya, Yaya kan?” sebuah suara datang dari arah kanan gue. Gue lalu menoleh untuk mencari siapa pria pemilik suara itu. Bersamaan dengan itu, seorang pria muncul dari balik rak buku di sebelah gue berdiri.

“Didit? Astaga! Apa kabar?”

Gue kemudian menyapa pria itu dengan antusias. Bagaimana tidak, kami sudah sekitar tujuh tahun putus komunikasi.

“Baik. Baik. Udah lama juga ya enggak ketemu. Sejak lulus SMA kan ya?” tanyanya, yang gue jawab dengan beberapa kali anggukan. “Bisa-bisanya malah ketemu lagi di toko buku.” lanjutnya sambil tertawa.

Gue mendadak nervous dengan pertemuan tiba-tiba ini. Dan aroma canggung menyerbak di antara kami berdua, yang dulu semasa SMA tidak pernah akur. Ya, 3 tahun sekelas dan semua tau bahwa kami saling tidak menyukai satu sama lain.

“Eh gue buru-buru, Ya. Kapan-kapan kita sambung ngobrolnya. Boleh tukeran kontak? Nomor atau PIN?”

Kami pun bertukar kontak lalu dia meninggalkan gue dengan sebuah lambaian dan senyuman yang ternyata, masih menimbulkan efek tonjokan di perut gue.

Ah Didit, sudah 10 tahun dan selama itu rasa ini mengapa belum juga lenyap?

Sudah dapat diprediksi, pertemuan tadi siang dengan Didit membuat gue kembali terlena dengan kenangan silam saat masih berseragamkan putih abu. Di hari pertama menjadi pelajar SMU, bahkan saat masih memakai seragam SMP selama masa ospek, gue sudah naksir Didit.

Didit yang tampan langsung menjadi idola, baik oleh anak-anak baru maupun para kakak kelas perempuan. Dia tidak begitu pintar sebenarnya, hanya saja berkarisma. Tak heran dia langsung ditunjuk sebagai pemimpin. Pemimpin di kelas, di angkatan, dan di tahun berikutnya terpilih menjadi ketua OSIS.

Didit sangat populer di sekolah gue dulu. Sedangkan gue? Seorang pengagum rahasia yang hanya berani curi-curi pandang kepadanya. Didit juga baik dan ramah. Awalnya dia sering mengajak gue ngobrol. Tapi sayangnya, gue adalah pengecut yang takut perasaan ini diketahui olehnya.

Dan ketakutan akan Didit dapat mengetahui perasaan ini, gue alihkan dengan berpura-pura tidak menyukainya. Dengan terang-terangan gue menentangnya. Gue selalu sinis jika berurusan dengannya. Ketidakcocokan kami ini, sudah menjadi rahasia umum di sekolah. Bahkan setelah saling lulus dan terpisah, gue maupun Didit sama-sama menghindari acara reuni karena enggan bertatap muka.

Ironis. Didit maupun orang lain tidak pernah tau, dibalik kebencian yang gue tunjukkan pada Didit sebenarnya ada perasaan sayang yang tak tersampaikan.

Adalah Lina, teman sebangku gue, satu-satunya yang mengetahui perasaan gue pada Didit. Dan sampai saat ini gue masih aktif berkomunikasi dengannya. Gue langsung menghubungi Lina dan menceritakan pertemuan dengan Didit.

“Liiiiin, guess what? Gue tadi siang ketemu Didit lagi. Ya ampun masih ganteng Lin. Deg-deg-an gue…”

“Eh lo tuh ye ujug-ujug telepon basa-basi dulu kek!” sungut Lina.

“Halah sama lo ini aja pake basa-basi.”

“Terus, kalian labrak-labrakan? Tampar-tamparan? Hahaha.” tanya Lina yang membuat gue ingin mencekiknya.

“Eh buset, ya enggak lah. Tapi aneh juga sih, dua musuh bebuyutan di jaman SMA ketemu lagi dan saling senyum hihi.”

“Aeeeh, CLBK nih kayaknya. Hati-hati naksir lagi, Ceu.”

“Ah Lina, jangan ingetin itu lagi. Udah lama woi, rasa-rasa anak SMA masa iya bisa bangkit lagi. Udah kekubur kali.”

Lagi-lagi gue harus bohong. Apanya yang terkubur? Nyatanya, rasa ini perlahan muncul lagi. Atau memang sebenarnya tidak pernah berakhir?

***

Sebuah pesan BBM gue terima. Dari Didit! Setelah pertemuan tiga hari yang lalu itu, dia atau gue sama-sama belum memulai kontak. Sampai akhirnya malam ini Didit menghubungi gue.

Gue enggak menyangka sama sekali, jantung ini langsung berdegup kencang. Mirip seperti yang gue rasakan dulu, ketika bertubrukan pandangan mata dengannya.

Dan layaknya remaja SMA yang sedang jatuh cinta, setelah lewat 10 tahun lamanya, gue kembali merasakan keriangan saat harus berbalas BBM dengan Didit.

Rasa naksir anak kelas 1 SMU itu, sudah berkembang dengan perasaan cinta yang mendalam. Sehingga ampasnya masih tersisa sampai 10 tahun lamanya.

Kini, Didit  lagi-lagi mencuri hati gue. Setidaknya malam ini.

Hingga esoknya, esoknya lagi, dan hari setelah esoknya lagi.

***
“Seriusan, Ya? Kalian jadi sering ketemuan sekarang?” Tanya Lina tak percaya saat gue menceritakan perkembangan hubungan gue dan Didit.

“Iya, Lin. Gue juga enggak nyangka.”

“Ya udah atuh di-follow up. Mumpung sama-sama single. Sapa tau-sapa tau…”

“Amiiiin.”

“Heh cepat amat Amininnya! Dasar ngarep lo. Ha ha.” Lina menoyor kepala gue. Kami sedang menikmati makan malam bersama.

“Inget nggak, Lin. Dulu gue pernah berjanji sama diri gue sendiri. Kalau suatu saat akan menyatakan perasaan ke Didit. Tapi di saat gue udah enggak ada feeling lagi sama dia.” Lina menyimak kata-kata gue.

“Gue ada niatan mau bilang gini: Eh Dit, dulu gue pernah suka sama lo tau. Tapi karena takut enggak terbalas, gue pilih pura-pura jutek.” lanjut gue.

“Apalagi kan Lin, dulu pas jaman naksir dia kan sambil dengerin lagu Selena yang Dreaming Of You. Memotivasi gue untuk ngaku ke Didit.”

 So I’ll wait till the day for the courage to say how much i love you.

“Terus? Kapan mau confession? Ya udah geura atuh, ceu. Siapa tau jadi. Gue dukung.”

***

“Halo, Ya. Long time no see.” sapa Andi sambil mengambil posisi duduk di depan gue. Andi ini teman SMA gue juga. Sepanjang yang gue tau, Andi adalah sahabat terdekat Didit. Dua hari yang lalu Andi tiba-tiba menghubungi gue dan meminta bertemu. Katanya ada yang ingin disampaikan. Dia meminta gue enggak memberitahukan Didit perihal rencana pertemuan kami.

Mungkinkah ini semacam konspirasi mereka? tanya gue dalam hati. Mengapa setelah kedekatan gue dan Didit akhir-akhir ini kemudian muncul Andi, sahabatnya. Gue masih bingung dan menebak-nebak sendiri apa yang akan disampaikan Andi.

“Apa kabar, Ndi? Kok tumben tau-tau ngehubungin gue? Ada hubungannya dengan Didit kah? tembak gue.

To the point banget, Bu. He he.” Andi menghela nafas sesaat. Tapi, iya benar. Apa yang akan gue sampaikan, ada hubungannya dengan Didit.” lalu Andi mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

Kalau tidak salah lihat, sepertinya sebuah undangan…pernikahan. DEG. Belum memegang dan membukanya saja gue merasa lemas. Perasaan gue mendadak enggak enak.

Andi menyerahkan kertas beramplopkan emas itu sambil mengisyaratkan agar gue membacanya. Ada nama gue tertulis di bagian depan. Oh shit! Untuk gue. Perasaan ini semakin enggak karuan.

Gue kemudian membaliknya sambil menahan napas. Nama panggilan pengantin yang tertera di situ sangat akrab sekali buat gue. Orang yang gue sayang bertahun-tahun lalu dan kini hadir lagi mewarnai hidup gue.

Didit dan seorang wanita lain, akan menikah DUA HARI LAGI.

Dunia gue yang semula berwarna karenanya, berubah gelap.

Ternyata Didit cukup pengecut dengan tidak berani menyerahkan langsung undangan ini pada gue. Dia meminta Andi yang menjadi penghubung di antara kami.

“Saat kalian bertemu lagi, Didit sedang mempersiapkan pernikahannya. Dia mengakui juga terbawa suasana nostalgia setelah pertemuan itu. Mengingat…sebenarnya dulu dia naksir lo, Ya.” penjelasan Andi ini membuat gue tersedak. Seolah dapat menangkap kebingungan gue, Andi melanjutkan ceritanya.

“Awalnya, dia bete. Kenapa sih Yaya kok sinis banget. Disaat cewek-cewek lain memujanya. Dulu si Didit itu curhat melulu tentang lo, Ya. Gue sih terkekeh aja. Gue cuma ngingetin kalau mungkin itu pertanda naksir. Gue suruh dia deketin lo. Dia mau coba, tapi lo terlalu angkuh di depannya.”

Oke. Ini masih sore kan. Cerah lagi. Terus kenapa tiba-tiba ada ada petir begini barusan?

Gue masih mencoba mencerna perkataan Andi dengan tenang. Jadi sebenarnya waktu SMU itu, gue dan Didit yang saling menunjukkan ketidaksukaan satu sama lain, sebenarnya..

Ah, tidak. Gue merasa menyesal. Teramat sangat. Gue bodoh sekali, ya Tuhan. Mengapa dulu bisa-bisanya gue memperlakukan orang yang gue sayang dengan tidak baik. Menyia-nyiakan perasaan dan membiarkannya terkurung selama bertahun-tahun. Tanpa pernah sedikitpun terpikirkan, bahwa gue bisa saja memiliki hati seorang Didit. Didit gue!

***

“Gue harus menelpon Didit dan mengaku tentang perasaan gue, Lin. Now or never. Masih ada waktu untuk mendapatkannya kan?” Selesai pertemuan dengan Andi tadi dan sampai di rumah, gue langsung menelpon Lina. Gue meminta persetujuannya akan ide gila yang akan gue lakukan. Malam ini juga.

Kalau gue pernah bertindak bodoh sepuluh tahun yang lalu, maka kali ini adalah kesempatan gue untuk memperbaikinya. Untuk merenggut kembali hak memiliki hati Didit yang seharusnya terjadi sejak beberapa tahun silam.

Lina mendukung rencana gue sepenuhnya. Tapi tidak malam ini. Menurut Lina, jangan tergesa-gesa. Pikirkan baik-baik dulu, kalau sudah yakin maka lakukan esok hari. Gue menuruti kata sahabat gue itu. Alhasil, malam ini gue tidak bisa tidur memikirkannya. Sangupkah gue mengatakan kepada Didit, tentang cinta gue yang begitu dalam dan berhasrat untuk memilikinya? Lalu setelah mendengarkan pengakuan gue, apa yang akan terjadi?

Late at night when all the world is sleeping. 
I stay up and think of you.
And I wish on a star, 
That somewhere you are thinking of me too.

***

30 Mei 2010


“Hai, Ya. Terima kasih sudah datang.” ucap Didit sambil menyalami gue di atas pelaminannya. Tangannya dingin sekali, dia lama memegang tangan gue sampai gue sendiri yang harus melepaskannya. Di sebelahnya berdiri seorang wanita, yang sudah resmi menjadi istri Didit. Pujaan hati gue.

Gue mengurungkan niat untuk menyatakan perasaan gue. Karena tak sampai hati, jika aksi nekat gue kemudian hanya akan menambah beban pikiran dan perasaan Didit.

Dan rupanya, hari yang gue tunggu untuk mengungkapkan sayang tidak pernah kunjung datang. Tapi sepertinya, hari ini sudah gue tunggu sejak pertama kali gue sadar memiliki perasaan kepada Didit. Sepuluh tahun silam, bahwa gue ditakdirkan untuk berdiri di atas pelaminan ini. Untuk mengucapkan selamat kepada Didit dan mempelainya.

Sometimes, love is meant to be unspoken.

***

Ditulis untuk working-paper.com

Advertisements

Time Magazine’s Woman of the Year Vs Playboy’s Playmate of the Year

Siapa sih yang enggak pernah suka dengan seseorang karena melihat fisiknya dulu? Wajar kok. Ketertarikan level satu kita pertama kali saat melihat lawan jenis ya fisiknya dulu. Barulah ketertarikan level berikutnya yang berbeda-beda setiap orang. Perbedaan paling kentara sih pada pria dan wanita. Secara general mungkin seperti ini ilustrasinya.

Wanita

Ketertarikan level 1 -> Oke dia menarik. Terus?
Ketertarikan level 2 -> Dia: a. Pintar?
b. Humoris?
c. Gentle?
d. Tajir? Good on bed? (Ooops!) And so on..and on..and on..

 Pria 

Ketertarikan level 1 -> Cantik nih. Tipe gue banget!
Ketertarikan level 2 -> Dia: a. Kurang pintar sih. Tapi cantik!
b. Selera humor biasa aja, kaku malah. Tapi cantik!
c. Manja banget sumpah! Tapi cantik!
d. Bukan wanita karir yang keren yang bisa dibanggakan. Tapi cantik!

Eaaaaaaaaaa :p

Gue enggak asal juga buat ilustrasi di atas. Itu fakta. Hasil observasi dan pengalaman sekeliling selama ini. Terutama yang pria. Buat mereka, wanita cantik itu tidak pernah salah. Semua kekurangannya acceptable asal cantik. Betapa fisik bisa mengalahkan segalanya. Lalu artinya, kalau fisiknya kurang menarik cenderung susah mendapatkan pacar dong?  Oh dear, so sorry but that’s the ugly truth.

Tapi bukan berarti yang enggak cantik lantas enggak laku. Totally no! Sadar punya kelemahan fisik seharusnya wanita bisa menonjolkan kelebihannya yang bisa juga bikin pria klepek-klepek. Itu teorinya sih… Faktanya, berdasarkan pengalaman di sekeliling gue, bohong kalau pria itu mengutamakan ‘nyaman’ duluan ketimbang ‘fisik’ duluan. Contoh nyata:

Pria A: Gue nyaman sih sama dia, tapi dia bukan tipe ideal buat gue. Jadi, ya gue masih belum yakin sama perasaan gue ke dia.

Pria B: Gue sayang sama dia, tapi sebagai sahabat. Gue akui akan balik ke dia lagi kalau butuh bertukar pikiran. Tapi ya itu, untuk jadi pacar…gue prefer pilih yang lain deh.

Pertanyaan gue simple aja kepada mereka. Karena enggak cantik?

Ah para cowok itu mana ada yang mau jujur sih. Jawaban ngelesnya, “Ya bukan, emang enggak ada feeling lebih aja. Cinta kan enggak bisa dipaksa”. Taeeee! Sorry guys, it’s a bullshit. Coba kalau cantik, ya lo pacarin langsung deh tuh cewek.

Guys, orang lain di luar hubungan kamu kadang yang bisa lihat. Pacar kamu cantik sih, tapi kepribadian ngilfilin. Kamu itu udah dibutakan cinta, yang sebenarnya tidak buta. Cinta-nya para pria itu melihat. Mereka jatuh cinta dengan mata, fisik dulu. Kenyamanan nomor dua.

Lain halnya wanita, mereka jatuh cinta melalui telinga.

Denger-denger, tuh cowo tajir lho… 😀

Hahaha. Enggak gitu juga ding. Maksudnya karena wanita bisa jatuh cinta dengan pria yang membuatnya nyaman dengan mendengarkan keluh kesahnya.

Ada salah satu film Hollywood yang pernah mengangkat tema seperti yang gue bahas ini. Judulnya The Truth About Cats and Dogs. Film komedi tahun 1996. Berkisah tantang seorang wanita yang sadar betul, kalau pria umumnya lebih tertarik dengan fisik yang cantik, maka ia yang sebenarnya pintar jadi enggak PD dalam urusan asmara.

What happens if you meet someone with whom you have almost everything in common, you find yourself falling for them..but the sparks of romance just don’t seem to fly on a physical level? ~ The Truth About Cats And Dog

Wanita yang dikisahkan bernama Abby ini terlibat blind date dengan seorang pria (Brian), tapi hanya melalui telepon. Komunikasi yang rutin dan nyambung membuat keduanya saling nyaman. Dan ketika tiba saatnya mereka akan bertemu, si Abby yang panik meminta tetangganya yang seorang model cantik,  Noelle, untuk memerankan dirinya. Sungguh apes nasib Abby, Brian langsung jatuh cinta pada Noelle. Di pikirannya, sudah pintar cantik pula. Perfect!

Well, no body perfect. Ada kelebihan pasti ada kekurangan. Pun sebaliknya. Noelle tidak pintar seperti Abby tapi bisa mendapatkan Brian karena kecantikannya. Merasa terancam Abby pun muncul, sehingga Abby dan Noelle jadi bertukar peran. Brian tetap memilih Noelle. Abby patah hati dan akhirnya membongkar kedok masing-masing. Brian jelas marah dan kecewa. Dengan cara yang smart, Abby menjelaskan semua dramanya ini dengan melemparkan pertanyaan menohok kepada Brian.

“OK. So say you meet one of these no sparks women, and you really take the time to get to know her and then you become intellectually stimulated by her. You just really enjoy her personality, thereby igniting all your lust and passion. Have you ever thought about that?

“Dan meskipun kamu jatuh cinta akan kepribadian seseorang. Jika harus terdampar di suatu tempat terpencil, bahkan out of space, kamu pilih mana yang akan menemani kamu? Time Magazine’s Woman of the Year atau Playboy’s Playmate of the Year?

Masih akan memilih ‘personality’? Jawabannya sudah jelas. Berlaku untuk semua pria normal lain.

Dan nyinyiran Abby rupanya menampar Brian. Brian merasa ditipu mentah-mentah dan marah banget. Keduanya kemudian saling menjauh. Tapi akhirnya Brian menyadari sesuatu.

Saat Brian melihat Noelle, dia jatuh cinta head-over-heels karena wanita ini akan jadi pasangan yang sempurna. Cantik dan pintar. Dan saat tau bahwa si cantik dan si pintar yang sudah membuatnya jatuh cinta ini ternyata dua orang yang berbeda, Brian pun mulai ragu. Jadi siapa yang sebenarnya telah membuatnya jatuh cinta? Then he discovered the not-so-simple truth about the woman he loves..

Alasan Brian jatuh cinta pada Noelle adalah karena dia pikir Noelle itu adalah Abby. Sebenarnya Abby lah yang ia cintai, karena kepribadiannya.

You know how someone’s appearance can change the longer you know them? How a really attractive person, if you don’t like them, can become more and more ugly; whereas someone you might not have even have noticed… that you wouldn’t look at more than once, if you love them, can become the most beautiful thing you’ve ever seen. All you want to do is be near them. 

Pada akhirnya pria akan lelah dan end up dengan wanita yang benar-benar memberikan kenyamanan. Benar kah begitu? Itu kan hanya terjadi di film. 😀

Entahlah, pesan moralnya. Cintailah wanita bukan karena kecantikan fisiknya. Percayalah seorang wanita akan cantik jika kamu tulus mencintainya.

Dan lewat tulisan ini gue juga mengingatkan, pada gue sendiri dan juga siapa aja, mungkin sudah saatnya kita melupakan dia yang ideal dan mulai lebih realistis.

Sometimes, that imperfect person could be perfectly fits you. 🙂

P.S

Dan jangan lupa banyak-banyak berdoa semoga masih ada kaum ‘Adam’ yang lebih mengutamakan kecantikan hati seorang wanita. Tsaaaah. 🙂

 

 

 

Kita (Pernah) Tertawa

-6 Januari 2011-

Kita masih disini 
Lepaskan semua untuk mengerti 
Dan bila semua terhenti 
Biarkan aku tetap menanti

“Sebuah buku?”

“Buku jerapah, begitu seharusnya buku ini disebut.”

“Pasti isinya gambar-gambar jerapah ya? Ha ha ha.”

“Ha ha ha. Enak aja. Itu loh cover depannya bergambar jerapah, jadi namanya buku jerapah. Isinya sih…”

“Apa?”

“Buka aja dan baca sendiri. Eh tunggu, bacanya dalam hati ya. Aku malu…”

“Justru aku akan membacanya keras-keras. Ha ha ha.”

“Jangan! Ah kamu tuh selalu begitu. Mana pernah menuruti kata-kataku.”

“Ha ha ha. Bodo!”

“Ha ha ha.”

“Baiklah aku buka, tapi aku tetap akan membacanya dengan suara ya. Pelan aja kok.”

The Story Of Us…hmmm..semacam diary?”

“Bukan sekedar diary. Di buku ini hanya kutulis kejadian-kejadian lucu yang pernah kita berdua alami. Sengaja hanya ditulis bagian yang membahagiakan saja. Only open up when I’m down. Ketika sedang sedih, aku akan membacanya dan mulai tersenyum. Bahkan tertawa. Ayo baca cepat.”

“Baiklah. 5 Juni 2010. 8 PM. Sebuah notifikasi kuterima di blackberry-ku. Ternyata itu kamu! Akhirnya kamu chatting-in duluan setelah aku menunggumu dari kemarin. Seperti biasa, kamu mengeluhkan yang harus lembur saat orang-orang sedang liburan weekend. Mencoba menghiburmu, akupun dengan tingkat kepercayaan diri meningkat 50%, mengirimkan foto penambilan baruku. Rambut keriting. Lalu komenmu hanya singkat. Gue suka lihat lo senyum.”

“Oke itu kan lagi lembur, capek. Foto yang aku lihat kayaknya fatamorgana deh. Aku pikir itu foto Megan Fox. Ya jelas suka. Ha ha ha.”

“Kyaaaaa! Reseeeee. Ha ha ha.”

“21 Juni 2010. 10 PM. Was it a date or what? Akhirnya kamu ajak aku pergi di malam minggu, just the two of us. Alasannya minta ditemenin beli modem! Makanya kita nge-date di Ambas! Oh yeah, nice try! Kamu bilang tadi, kita kayak orang pacaran aja berduaan. Dan bodohnya, kenapa aku tadi cuma tertawa! Itu kamu mancing kan?”

“Eh siapa bilang mancing. Dulu itu cuma bercanda tau. GR banget sih. Ha ha ha.”

“Hah! Kamu tuuuh. Ha ha ha. Itu masih ada lanjutannya, the best part-nya belum…”

“Setelah selesai menyantap pizza yang akhirnya kamu habiskan sendiri. Maaf ya, aku jaim. Kita pun berbincang cukup lama. Kamu benar-benar membiusku. Aku betah dibuat berlama-lama denganmu. Dan ketika tiba saatnya kamu harus mengantarku pulang, aku sedikit tak rela. Dan kenapa kamu membawa helm bukan SNI! Kita jadi ditilang polisi kan tadi.”

“Ha ha ha ha. Aku ingat ini. Ha ha ha. Ya ampun, memalukan. Sialan tuh polisi. Karena enggak ada uang kecil kan aku bayar 50 ribu tuh. Kampret.”

“Ha ha ha. Meski sudah setahun lewat, aku enggak bisa lupa. Lucu banget!”

“Aku lompat-lompat aja ya bacanya. Banyak banget, bisa-bisa sampai kafenya tutup belum kelar juga nih diary dibacanya. Ha ha ha.”

“Lebay!”

“Nah ini lucu. Kejadian ban motorku bocor sampai dua kali. Kamu sih gendut. Enggak kuat kan ban-nya. Ha ha ha.”

“Heh! Enak aja. Itu dasar aja si abang di tambal ban yang pertama enggak becus. Jadi bocor lagi kan. Tapi jadinya kita berdua jalan menelusuri trotoar gitu. Romantis ya.”

“Romantis apanya? Parah itu. Ha ha ha. Oke, lanjut baca.”

“Hmmm boneka jerapah. Kamu senang banget ya sama jerapah yang aku kasih? Itu kan biasa. Lagipula koleksi jerapah kamu sudah banyak banget dan lebih bagus. Tau enggak, itu kan murah. Dan yang beliin si Mamah, aku minta tolong dia cari. Males banget cowok-cowok keliling mall cari boneka. Jerapah pula. Dari dulu aku sudah mikir kok hobi kamu aneh banget. Biasanya cewek suka babi. Ha ha ha.”

What? Jadi selama ini aku kena tipu kamu? Ish, kenapa enggak cerita yang sebenarnya sih.”

“Nih aku cerita. Ha ha ha.”

“Cubit nih. Ha ha ha.”

Kita tertawa kita bicara 
Untuk merasakan tentang kita

“4 September 2010. Hari jadi… “

“Kok berhenti bacanya?”

Dan terlepas kita terdiam 
Untuk melupakan

“Enggak kerasa ya, waktu cepat berlalu.”

“Dan kamu masih saja diam.”

“Kamu menuntut jawaban apa lagi?”

“Aku tak ingin berpisah darimu.”

“Siapa yang memintamu pergi? Tetaplah di sampingku.”

“Untuk apa aku tetap di sampingmu, jika tak dapat memilikimu. Kamu pikir aku dapat bertahan dengan segala perih yang kurasa ini?”

“Memiliki? Untuk apa memiliki jika pada akhirnya kita berdua pasti berpisah. Ah kumohon jangan menangis. Aku enggak bisa melihatmu menangis.”

“Aku sayang kamu, sungguh. Dan penderitaan hati ini, mungkin hanya dapat berakhir dengan memiliki mu seutuhnya.”

“Sudahlah. Kita seharusnya enggak membahas ini lagi.”

“Diam lah terus, tapi waktu tak bisa menunggu. Simpanlah buku jerapah ini. Suatu saat kamu merindukanku, bacalah lagi. Kuharap kenangan kita di buku ini dapat membuatmu kembali padaku.”

“Sudahlah….”

“Baca dan tertawalah. Tapi kamu hanya akan tertawa sendiri. Karena tak akan ada lagi kita. Aku tak bisa terus di sampingmu. Bersamamu, sampai kamu menemukan orang lain…yang seiman.”

“Aku tau kamu tidak mempermasalahkan perbedaan ini, tapi buatku penting. Maafkan aku, Mei…”

“Aku pergi sekarang. Jaga buku jerapah ini baik-baik ya.”

Waktu terus berlalu 
Tinggalkan kita masih membisu 
Wajahmu tetap begitu 
Biarkan semua tetap membeku

***

Jakarta, 28 Juli 2012.

Sebuah kisah tentang dua insan yang pernah tertawa bersama. Terinspirasi dari lagu ‘Kita Tertawa’ oleh Peter Pan. Untuk #CerpenPeterpan lainnya silakan cek blog Wira Panda.

Aku, Cinta, dan Fisika

Siapa suka fisika?

Enggak ada yang jawab nih? Jarang emang yang suka Fisika, 2 dari 10 mungkin. Dan gue termasuk salah 1 dari 2 yang suka Fisika.

Jangan, jangan komen dulu. Begini asal muasalnya.

Penyebab suka Fisika sih dulu karena guru waktu SMA masih muda dan ganteng. Pak Nurdin, namanya. Dia usil banget sama gue. Hobinya nyuruh gue maju ngerjain soal. Awal-awal gue pikir, ah kebetulan pasti gue yang ketunjuk. Kok lama-lama, seperti dicari-cari alasannya.

Gue masih ingat cara dia menunjuk gue untuk maju.

“Hari ini tanggal 27. Yang absen no 27 maju ya, kita lihat siapa…hmmmmm…Mia.” Kata si pak guru ganteng.

Tiga hari kemudian.

“Hari ini tanggal 30. Yang maju absen nomor 30…dikurangi 3, jadi 27. Kita lihat siapa…Mia.”

PRET!

Untung pak guru ganteng, kalo enggak udah gue cembetutin kali.

Tapi efeknya bikin gue rajin latihan soal-soal. Itu kunci mengerti ilmu fisika. Sebenarnya gue menyayangkan nilai fisika gue di raport yang selalu..ehm..9, malah banting setir kuliah jurusan IPS.

Tapi gue enggak menyesal sih. 🙂

Sekarang, sudah 10 tahun gue enggak menyentuh fisika. Semua teori yang dulu gue babat habis, sudah di luar kepala semua. Iya, gue hilang ingatan seputar fisika.

Menurut gue sih, jaman sekarang anak-anak muda (sok tua nih gue) bisa lebih mudah mencerna ilmu fisika. Bisa lho dengan membuat perumpamaan-perumpamaan, yang membantu untuk mengingat dan memahami berbagai rumus brengsek itu.

Nah adik-adik, kak mimi boleh ya share berbagai teori fisika yang dapat diimplementasikan ke kehidupan sehari-hari. Terutama cinta. UHUK!

1. Teori Kecepatan Dasar

S = V x T, dimana S adalah jarak, V adalah kecepatan, dan T adalah waktu.

Untuk menghitung waktu, maka T = S/V.

Jadi, jika gebetan mu sudah sangat dekat jaraknya, tapi sinyal yang di kasih dikit-dikit ilang. Kira-kira kapan dia akan menyatakan cinta?

2. Teori Gravitasi Newton

Apa itu gaya gravitasi? Menurut bang Newton, hukum gravitasi adalah gaya tarik-menarik antar dua benda, misalnya gaya tarik bumi terhadap benda-benda. Rumusnya yaitu:

F=(G.m1.m2)/r^2, dimana F adalah gaya tarik gravitasi, m1&m2 adalah massa masing-masing benda, r adalah jarak antara kedua benda, dan G adalah konstanta gravitasi umum yaitu 6.673×10^-11 Nm2/kg2 (Udahlah terima saja angkanya, hidup terlalu pendek untuk mencari turunan rumus gravitasi)

Boook, ribet banget yak rumusnya. Padahal simpel lho kalo dipahami dengan baik. Mari kita analogikan pada cinta.

Besarnya gaya gravitasi antara kedua massa m1 dan m2, berbanding terbalik dengan kuadrat jarak.

Besarnya kekuatan cinta antara dua pasangan tergantung jaraknya. Makin besar jaraknya, makin kecil gayanya. Jadi, makin lemah dong cintanya?

Belum tentu. Tapi kebanyakan begitu hihhi. Eh jangan lupakan masih ada parameter G. Let’s say G itu takdir. Kalau takdir bilang enggak jodoh, mau jarak jauh kek deket kek, putus ya putus aja.

Dan satu hal, pesan Bapak Einstein. Jangan sekali-kali menyalahkan gravitasi atas jatuh cinta yang kamu alami 😀

3. Teori Relativitas Einstein.
Teori relativitas khusus einstein intinya begini, kecepatan suatu benda akan relatif berbeda terhadap pengamatnya. Pengamatnya bisa sesuatu yang ikut ada di dalam benda bergerak tersebut atau sesuatu yang diam di luar benda bergerak tersebut.

Jangan tanyakan mengapa ada teori ini.

Memahaminya dengan mudah sih begini: Kamu berada di nomor antrian 10, jika 1 antrian menghabiskan waktu 5 menit. Seberapa cepatkah perputaran antrian sehingga kamu menjadi terdepan? Akan menghabiskan waktu berapa lama kesepuluh antrian tersebut.

50 menit?

Tetot.

Tergantung. Dari pengamat di luar kamu ya bisa jadi lama, tapi dari sisi kamu, ya hanya berasa beberapa menit saja karena ada seseorang spesial yang menemani dalam antrian.

4. Hukum Kekalan Energi
Begini bunyinya:

“Energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan, tetapi dapat diubah bentuk dari satu bentuk energi menjadi bentuk energi lain.”

Susah menghafalnya?

Energi dalam hati insan manusia itu apa ya? Cinta bukan? Nah, sejak kapan kita bisa menentukan waktu munculnya cinta atau harus berhenti mencintai seseorang. Yang benar adalah, cinta dapat dialihkan kepada orang lain. Orang baru dan yang pantas mendapatkan cinta kita.

Sedap, kan? :p

5. Teori Usaha
Dalam istilah fisika, usaha adalah dorongan atau tarikan atas suatu benda yang sangat dipengaruhi oleh gaya.

W= F x S, dimana W adalah usaha, F adalah gaya, dan S adalah perpindahan. Usaha dinyatakan ada, ketika terjadi perpindahan.

Sehingga S= W/F.

Seberapa berhasil kamu mendapatkan pacar, ya tergantung besar kecilnya usaha dalam memperjuangkan cinta.

Tsaaaah.

Lalu apa hubungan energi dan usaha?

Perpindahan energi juga tergantung besar kecilnya usaha. Jadi, kamu mau cepat move on? Ya usaha.

Lima teori fisika di atas hanya sebagian kecil dari banyaknya teori njelimet yang lain. Tapi kalau kita pintar-pintar menganologikkan dengan apa saja, suka-suka kita, bisa lebih mudah paham lho.

Jadi, masih bilang fisika itu sulit?

Apa Adanya? Tapi, Pantes Enggak?

Beberapa hari yang lalu gue terlibat perdebatan dengan seorang sahabat cewe. Pemicunya adalah saat gue mengeluhkan padanya, bahwa salah seorang teman yang baru gue kenal dan sempat dekat, kenapa tiba-tiba seperti menjaga jarak.

Singkat cerita, teman cewe gue ini tau kenapa si cowok seolah malas dekat sama gue lagi. Awalnya si cowo memang suka berteman dengan gue, kalau sudah mengobrol bisa ngalor ngidul kemana-mana. Tapi makan lama, ya gue bisa merasakan lah kalau sepertinya dia mulai menghindar dari gue.

Ternyata masalahnya adalah satu. Menurut si cowo, kepribadian gue kenapa makin hari makin tidak seperti gue yang dia pertama kali kenal dulu. Sosok yang sempat membuatnya kagum pada gue.

Gue menghela nafas panjang mendengarnya. ASTAGA. Kemudian menanyakan pada teman cewe gue.

“Jadi dia enggak bisa terima gue apa adanya dong?”

“Apa adanya kamu yang bagaimana dulu? Yang bocor, ngomong enggak pake diayak? Orang kan mikir buset nih cewe mesum amat. Oiya, lo juga mulai ngerokok lagi dan sekarang udah cuek ngebul di depan teman-teman.”

“Itu yang kamu sebut apa adanya? lanjutnya.

Sorry to say, iya. Itu gue apa adanya. Bocor dan sesekali merokok. Gue capek harus jaim. Dan gue akan begitu di depan cowo, karena gue mencari cowo yang mau menerima gue apa adanya.” jelas gue.

Benar kan gue? Kita harus bisa menemukan seseorang yang mau menerima kita apa adanya. Dan bersamanya kita bisa all out, enggak jaim, dan jadi diri sendiri. Itu yang gue mau.

“Lo tuh punya otak enggak sih, Mi? Lo pikir dong, cowo yang tadinya dekat aja jadi menjauh gara2 ‘apa-adanya’ lo ini. Apalagi cowo yang baru kenal lo. Bisa ilfil lah.”

“Yaudah, kalo emang enggak tertarik sama gue yang begini, go away. Gue enggak maksa pertemanan kok. Kalau keberatan gue begini terus gue harus berubah gitu? Berusaha menyenangkan orang lain? Hell no!

“Lo stres ya, Mi?”

Oh tidak. Jangan ungkit itu. Gue enggak suka orang terdekat gue mulai nge-judge.Terlebih, jika itu benar.

Jadi gue terdiam. Lama.

Apa hasilnya gue jadi cewek baik-baik selama ini? Gue mencoba menjadi seseorang yang diinginkan oleh pria yang pernah gue sayang. Gue pernah selama 2 tahun tidak sedikitpun menyentuh rokok lagi karena dia enggak mau gue merokok. Gue juga menghindari pakaian seksi atau short karena dia pernah bilang jangan memakai yang terlalu pendek. Gue juga enggak pernah bocor di hadapannya karena sejak awal kami saling mengenal di matanya gue adalah wanita baik-baik.

Sekali lagi gue tanya. Apa hasilnya?

Gue disia-siakan. Dan tidak ada yang lebih membuat gondok dari semua kebaikan dirimu seolah percuma di hadapan seseorang. Dia malah bilang gue terlalu baik untuknya.

Karena pengalaman itu lah yang akhirnya membuat gue berpikir, untuk apa lagi jadi Mia yang terlalu baik untuk seseorang. Gue suka berbaju seksi. Gue bocor karena lingkungan yang memang begitu, tapi menurut gue sih masih ada aturan dan hanya untuk lucu-lucuan saja. Dan gue sesekali merokok di tempat dingin, hampir tidak pernah di Jakarta.

Dan tiga hal itu yang gue enggak mau tahan-tahan lagi. This is who i am. I want You to take me as I am.

Lalu teman cewe gue itu mengatakan sesuatu yang menyadarkan gue.

Perempuan baik-baik hanya untuk pria baik-baik. Kalau kemarin dia menyiakanmu itu artinya dia bukan pria baik-baik. Lalu kenapa jadi kamu yang harus berubah menjadi tidak baik?

Apa adanya kamu itu bukan masalah baik atau enggak baik sih. Karena baik juga relatif, tergantung cowoknya baik juga apa enggak. Tapi lebih ke pantas enggak?

“Pikir mi, sikap yang kamu bilang apa adanya kamu itu pantas enggak sih dilakukan oleh perempuan baik-baik? Kamu itu baik, baik banget. Manis. Kalau saat ini belum juga menemukan pria baik-baik juga ya enggak usah terlalu khawatir sampai ngaco gini.”

JLEB.

Pantaskanlah dirimu sendiri terlebih dahulu, lalu si pria yang tepat itu akan segera datang.

Benar sekali. Gue akan kembali menjadi Mia yang baik-baik dan pantas, tapi enggak lantas menjadi seperti yang diinginkan orang lain sih. Gue tetap menjadi diri sendiri, mempertahan kan yang pantas dan menyingkirkan yang tidak baik.

🙂

Ps.

Hari ini enggak sebatang rokok pun gue hisap. Bravo Mimi!