Kebetulan Suratan

Kamu percaya kebetulan?

Gue engga. Ngga ada yang kebetulan di dunia ini. Dan semua kebetulan ngga sengaja, gue percaya adalah rencana Tuhan yang disengaja.

Tapi pernah ngga sih bertanya-tanya, kenapa harus ada kebetulan? Sesungguhnya ada apa di balik kebetulan? Ada pesan apa yang dikirim Tuhan melalui kebetulan?

Kalau gue sering kali dalam hati bertanya, “is it a sign?”

Life is not merely a series of meaningless accidents or coincidences. But rather, its a tapestry of events that culminate in an exquisite, sublime plan. – Serendipity the movie (2001)

Serendipity adalah salah satu bentuk kebetulan. Tepatnya kebetulan yang menyenangkan. Sesuatu yang tidak terduga terjadi justru membawa pada jodoh kita.

Serendipity. Look for something, find something else, and realize that what you’ve found is more suited to your needs than what you thought you were looking for. – Lawrence Block

Nah itu kan ‘kebetulan’ menyenangkan. Gimana dengan yang tidak menyenangkan? Awalnya kita pikir suatu kebetulan yang bisa saja menyenangkan, tapi nyatanya engga.

Enaknya kita sebut apa ya? Not-a-serendipity-but-what-a-pity! atau bahasa gaulnya, “kasiaaaan deh lo!” Heheh.

Baru kemarin ini, gue mendengarkan percakapan dua sahabat gue.

“Eh baru sadar, kita sama-sama lahir tanggal 24. Lo Januari, gue Februari. Lo Aquarius, gue Pisces. Ikan kan emang hidupnya hanya bisa di air. Kebetulan banget ya? Pertanda apa ya?”

Bisa jadi, bukan pertanda apa-apa. Dan itu tidak menyenangkan sama sekali kawan.

Berikut pengalaman-pengalaman gue tentang ‘not-a-serendipity-but-what-a-pity’.

Lebih dari 10 tahun yang lalu, gue juga pernah merasakan ‘is-it-a-sign moment’, mirip pertanyaan sahabat gue tadi.

Tanggal lahir gue adalah 3 Mei 1984. Gue bertemu dengan seseorang yang bertanggal lahir 5 Maret 1984. Terus kenapa? Sekilas ngga ada yang aneh kan? Coba lebih perhatikan lagi deh.

5 Maret 1984 (050384) dan 3 Mei 1984 (030584) adalah angka-angka yang hanya dibalik aja kan? Maksa ya? Hahaha. Biarin. Orang kalau lagi jatuh cinta kan memang suka maksa. Sukak-sukak gue.

Tapi kepercayaan kalau barangkali itu bisa saja suatu pertanda, berlangsung bertahun-tahun loh. Gue masih mikir, ngga mungkin cuma kebetulan. Bisa aja kami berdua jodoh! Bukan jodoh yang ada malah bodoh! It doesnt mean anything!

Lalu bagaimana kamu menjelaskan peristiwa ini.

Gue punya adik kembar, cowo-cewe, tapi meninggal saat lahir. Gue juga punya Om favorit di antara Om gue yang lain, mereka kembar. Intinya, ada darah kembar di keluarga gue. Dan itu mendoktrin gue pingin punya anak kembar, enak banget sekali lahir dua. Nyokap gue bilang, biar kemungkinan punya anak kembar gede, cari suami kembar. Si empunya tanggal lahir kebalikan gue itu kembar loh. Tapi kami toh ngga berjodoh.

Selang beberapa tahun gue bertemu lagi dengan cowo kembar.

Gue tanya lagi ya, how can you explain about that?

Si kembar yang kedua, fyi, orang yang masih jadi inspirasi di balik tulisan-tulisan di blog ini. Hehe.

Berikutnya tentang mimpi.

Pernah ngga di antara kamu yang memimpikan seseorang terlalu sering. Mulai dari berkenalan, dekat, ada hubungan spesial, sampai kembali berteman biasa. Mulai dari belum ada perasaan apa-apa sampai menjadi ada apa-apa.

Jauh sebelum gue tau dia kembar, dan hanya selang beberapa minggu dari perkenalan kami. Gue memimpikan dia, siang bolong. Gue masih ingat mimpinya. Yang jelas saat itu gue terbangun dengan shocked dan mengumpat, “Issshhh kok dia bisa ada di mimpi gue????”

Lalu takdir mendekatkan kami. Ibarat garis, garis hidup kami suatu waktu pernah saling bersinggungan.

Gue percaya bisa jatuh cinta sama dia itu juga sudah di atur sama Tuhan. Lagi-lagi Tuhan menganugerahi cinta di hati gue pada manusia yang terlahir kembar.

Dan bagaimana takdir tidak hanya pernah mendekatkan hati kami, tetapi juga jarak kami.

Gue dan dia bertemu waktu gue ngaudit kantor tempat dia bekerja dulu. Lalu gue resign pindah ke kantor gue sekarang. Industri kami saja sudah berbeda banget. Ngga pernah sedikitpun gue ngebayangin kami bekerja di industri yang sama, atau satu gedung kantor. Ngga mungkin.

Tapi ngga ada yang ngga mungkin di dunia ini kan?

Nyatanya dia dapat pekerjaan di industri yang sama dengan gue bekerja. Dan lagi-lagi bagaimana kamu menjelaskan, ternyata kantor gue mendadak pindah ke gedung yang sama dengan gedung dia bekerja. Tanggal gue menempati gedung itu sama dengan tanggal hari pertama dia bekerja, 24 Januari 2011.

Tunggu, tanggal yang sama dengan yang sahabat gue omongin kemarin. Jangan-jangan…hehhe abaikan ya….. Back to topic.

Semua kebetulan yang mempertemukan dan mendekatkan gue sama dia awalnya gue pikir akan berakhir seperti di Film. Happy ending. Nyaris saja impian gue tercapai, tapi ternyata engga.

Garis yang pernah bersinggungan itu kini berada pada jalurnya masing-masing.

Kebetulan yang berahir tidak menyenangkan bukan? What a pity!

Dan manusiawi dong jika gue bertanya-tanya, jadi maksud semua pertanda itu apa? Alasan gue ketemu dia, hanya untuk membantunya lebih sukses dan mempertemukan dia dengan jodohnya kah? Pedih 😦

Suatu ketika, pagi jam berangkat kerja gue terjebak macet di kolong flyover Kuningan. Gue di dalam taksi seperti biasa sibuk dengan BB gue. Dan begitu gue melihat ke depan, motor-motor banyak seliweran, kebetulan salah satu yang melintas adalah dia. Gue bisa yakin cukup dari jaket merah khasnya. Dan memang benar dia, kami bertemu di depan lift 15 menit sesudahnya. Kebetulan yang aneh bukan?

Dan bagaimana satu lagu menjadi lagu menyenangkan sekaligus menyedihkan buat gue, Forever Tonight by Peter Cetera yang kami dengarkan saat awal-awal, ehm asmara kami. Setahun kemudian, saat kami memutuskan untuk saling menjauh, di Planet Hollywood, lagu yang dinyanyikan live band saat itu adalah Forever Tonight! (Cerita ini juga pernah disinggung di The Hopeless Romantic Traveler Track 3)

Siapa yang tidak pernah suka lagu Grow Old With You-nya Adam Sandler? Popular tahun 1998 lewat film The Wedding Singer. Termasuk gue yang suka banget. Sampe dulu sempet ngapalin. Sekitar tahun 2007, gue masih bersama orang lain, gue berharap banget ada cowok yang juga suka lagu ini dan akan nyanyiin ini lagu buat gue. Gue sampe kirimin lagu dan liriknya ke cowo yang saat itu dekat dengan gue. Tapi yang bersangkutan ngga gitu suka sama lagunya. Bete.

4 tahun setelah itu, di rumahnya, dia memutarkan lagu Grow Old With You dari BB-nya. Dia bilang suka banget sama lagu itu. Gue diam saja saat itu, tapi tersenyum dalam hati. Dan beberapa bulan setelah kejadian di rumahnya, akhirnya gue tau, lagu kesukaannya itu ditujukan untuk wanita lain.

Banyak sekali kebetulan dan tanda-tanda yang gue alami di bab hidup gue sama dia.

Tanda-tanda yang menjadi tanda tanya (?).

Seminggu yang lalu, gue nonton film Thailand 30 + SOS (Single On Sale). Ngga tau kenapa buat gue film Thailand meski dikemas komedi super lucu, tetap saja meaningful.

Singkatnya begini. Si wanita bertemu seseorang, berteman, dan bersandiwara menjadi sepasang kekasih. Tujuannya hanya jadi pemancing, siapa tau malah membawa si wanita pada jodoh yang diinginkan. Yang cakep, kaya, pokoknya idaman semua wanita.

Dan pancingannya berhasil. Si wanita bertemu dengan seseorang yang diinginkannya. Seseorang yang menjadi at the top of her list. Dia bahkan yakin, maybe he’s the one.

Lalu gimana nasib teman prianya itu. Peran dia hanya sebagai penghubungkah? (Sama dengan gue dong)

Si wanita diajak pergi dengan pacar barunya yang ‘dia pikir membuat dia bahagia itu’. Ke Kutub untuk proyek fotografi. Seneng dong, dia langsung oke. Dan hal pertama yang dia ingin bawa ke kutub adalah pena yang tintanya tahan beku, sehingga bisa dipakai di sana.

Ceritanya itu pena cuma satu-satunya di Thailand. Dia cari-cari ngga ketemu. Ternyata sudah dibeli pacarnya untuk hadiah. ‘Satu-satunya pena yang dapat dipakai di kutub untuk wanita yang sangat spesial’. Begitu ucapannya. Mana ada wanita ngga kelepek-kelepek?

Dan menjelang keberangkatan, si wanita disadarkan oleh sebuah hadiah pemberian teman prianya, si penghubung jodohnya itu.

Sebuah pensil. Dengan ucapan, ‘Bisa juga untuk menulis di kutub’.

Astaga, saya sibuk mencari-cari pena tanpa pernah berpikir bahwa masih ada pensil yang bisa juga digunakan. Pikir si wanita.

Selama ini kita terlalu sibuk mencari sesuatu yang belum pernah kita rasakan sebelumnya. Mencari-cari kebahagiaan tanpa pernah sadar, mungkin saja kebahagiaan sejati justru sudah sejak lama menunggu kita. Kebahagian yang datang dari sesuatu yang ngga kita harapkan.

Si wanita mengharapkan kebahagiannya di dapat dari pria impiannya yang tampan dan kaya. Tapi justu kebahagiaan yang sebenarnya di dapat dari teman prianya, yang semula dia anggap sebagai penghubung.

Tapi itu hanya di film kan. Kebetulan tak terduga yang berakhir menyenangkan. Faktanya, si penghubung kerap kali dilupakan. Seperti gue.

Dan daripada terus-terusan questioning life dengan Is it a sign?, What’s the reason behind this?, atau What if?. Bagaimana jika keep the faith. Percaya dan yakin semua sudah takdir Tuhan.

Mungkin memang kebetulan, tapi itu sudah menjadi suratan hidup gue 🙂

Beberapa pertanyaan sebaiknya memang dibiarkan tak terjawab. Hidup akan jadi lebih simple kalau ngga usah ada tanda-tanda.

Kembali mengutip dari film Serendipity:

“Maybe the absence of signs is really a sign”.

Advertisements

Blendship: Friend-love-ship.

What if in the one you love, you find a best friend instead of a lover? (Ika Natassa – Antologi Rasa)

Persahabatan dan cinta. Topik yang ngga ada matinya banget. Sudah berapa kisah yang dibuat bertemakan ‘dari temen jadi demen’. Atau istilah keren jaman sekarang ‘Friendzone‘. Yaitu kondisi pertemanan cowo-cewe dimana salah satunya menyimpan perasaan lebih. Kira-kira begitu. Takut pertemanan jadi rusak, si pihak yang mencinta lebih memilih diam dan bersembunyi dalam zona aman.

Gue lebih suka menyebutnya sebagai ‘blendship‘, percampuran antara persahabatan dan cinta. And it’s a perfect blendship, ketika sahabat dan kekasih kita adalah orang yang sama. Bukankah yang terpenting itu adalah kenyamanan? Kita tentu ingin hidup sampai tua bersama orang yang sudah sangat membuat kita nyaman bukan, dan mostly, itu adalah sahabat.

Sayangnya, sedikit sekali yang beruntung mengalami ‘perfect blendship’. Ngga semua orang bisa menikmati fase ‘dari temen jadi demen’. Bahkan ada yang sampai persahabatan menjadi rusak lalu musuhan. Well, jika berakhir begitu, mungkin memang persahabatan’ yang sesungguhnya ngga pernah terjadi. Persahabatan hanya dipakai sebagai alat untuk memperlancar PDKT. Malah ada juga yang awalnya PDKT, eh jadi keterusan sebagai sahabat.

Ada film Thailand yang mengusung tema persahabatan, judulnya ‘Friendship‘. Cinta sejati yang berawal dari persahabatan. Sayangnya semesta ngga merestui kedua insan ini bersatu. Ketika si pria sadar bahwa ia menyayangi sahabatnya,  mereka harus terpisah. Namun waktu juga yang akhirnya mempertemukan mereka kembali. Sayangnya, si perempuan sudah dalam keadaan sekarat. Ada kutipan bagus yang gue ambil dari film ini yang entah mengapa selalu membuat gue tergetar.

Rasanya baru kemarin kita menjadi teman baik. Tapi kini persahabatan kita telah memudar.

Kutipan itu mengingatkan pada kisah gue sendiri. Persahabatan gue dengan seseorang. Gue termasuk salah satu dari sekian banyak yang tidak beruntung dalam ‘sahabat jadi cinta’.

Gue pernah jatuh cinta pada sahabat gue sendiri. Sahabat dekat. Sebenarnya gue punya banyak sahabat berbeda jenis kelamin. Rata-rata persahabatan yang memang terjalin sejak sekolah. Dan yang begitu justru sudah jelas sekali batasannya. Ngga ada tuh yang namanya gue pernah naksir sama sahabat dekat sendiri. Sampai gue bertemu dia.

Meeting him was fate, becoming his friend was a choice, but falling in love with him I had no control over.

Pertemuan kami di mulai sekitar akhir 2008. Gue auditor dan dia klien gue. Hubungan kami lancar-lancar saja sebagai rekan kerja. Jujur malah gue ngga begitu menyukai sikapnya yang menyebalkan dan kurang kooperatif. Di luar kerjaan, dia justru malah mencoba berteman dengan gue. Awalnya sih banyak nanya tentang akuntansi dan perpajakan. Semangat ingin tau yang tinggi bikin gue mau aja ladenin dia. Dari sharing ilmu lama-lama malah jadi suka ngobrol dan bercanda. Hampir setiap hari gue chatting via Yahoo Messanger sama dia. Sesekali dia juga telpon gue.

Singkat cerita, persahabatan terjalin di antara gue dan dia.

Dan kita memang ngga pernah benar-benar mengingat kapan perasaan cinta itu hadir.

Tapi yang jelas, gue mulai merasa berbeda, sejak malam dia pernah telpon gue dan kami saling bertukar rahasia pribadi. Obrolan yang cukup lama dengan seseorang yang bukan pacar. Gue di rumah, dia di pinggir  jalan. Gue masih ingat bahkan waktu dia bilang “keluar deh, lihat bulan. Gue juga lagi lihat bulan, bagus ya”.

Bulan yang sama yang kami lihat dari jarak yang berjauhan, seakan jadi saksi perasaan gue yang tiba-tiba buncah. Gimana ngga, romantis banget kan?

Dan sesungguhnya saat itu masa depan kami berdua sangat gelap gulita. Tidak ada cahaya bulan sedikitpun yang menerangi dan membuat kami dapat memprediksi seperti apa hubungan kami mendatang.

Berantakan.

Kurang lebih setahun kemudian gue nekat menyatakan perasaan gue sama dia. Seenggaknya gue jujur sama perasaan gue. Ngapain dipendem, sekarang sudah ngga jaman naksir diem-diem. And boom! Our friendship was turning to complicated-shit!

Dia ngga menginginkan lebih dari persahabatan, tetapi bersedia mencoba. But it didn’t work. Hanya bertahan beberapa bulan aja dia kemudian ngga bisa melanjutkan lagi hubungan lebih dari persahabatan ini. Semuanya kacau. Jelas hubungan yang sudah rusak ini ngga bisa diperbaiki. Kami ngga bisa kembali menjadi sahabat dekat seperti dulu. Terutama gue yang mencoba menjaga jarak karena harus menormalkan perasaan dulu.

Entah siapa yang memulai, kami kembali dekat. Persahabatan yang dulu terjalin akrab kembali lagi. Dan kami berdua menikmatinya. Dan gue jatuh lagi. Atau mungkin memang perasaan itu sebenarnya ngga benar-benar hilang. Gue memang sayang sama dia, dan gue sadar sedang berada di zona aman.

Tepatnya bertahan sebagai sahabat adalah cara agar gue selalu di dekatnya.

And it sucks when you’re so close to someone, more than friendship but less than lover. 

Persahabatan kami jelas ngga bisa normal karena gue masih mencampur-adukkan antara persahabatan dan cinta. Selalu saja bertengkar. Gue pernah meninggalkannya, dia juga pernah meninggalkan gue. Dan kami selalu kembali berbaikan.

No matter how hard I try, love always leads me back to him.

Tapi hanya kembali sebagai sahabat. Sampai kapan? Percayalah ngga cuma teman dan keluarga gue yang bertanya. Gue sendiripun kerap selalu menanyakannya dalam setiap doa gue.

Dan jawabannya ternyata, sampai dia akhirnya menemukan seseorang. Seseorang yang dia sayang, dan itu bukan gue.

Gue kecewa dan marah. Entah gue marah kepada siapa. Mungkin kepada takdir. Mengapa gue dibiarkan terperangkap dalam lingkaran blend-shit yang berujung dengan kepahitan. Mengapa semua pengorbanan dan penantian gue dibiarkan berakhir sia-sia.

Kami bertengkar hebat. Tentu saja dia kecewa karena gue yang seharusnya bisa menerima kenyataan dengan ikhlas, malah lebih memilih keluar dari persahabatan kami.

Sudah cukup gue jatuh bangun dalam persahabatan kami. Dan gue tetap pada pendirian gue untuk menjauh dari dia. Dan dia sebaliknya. Dia mencoba mendapatkan kembali apa yang pernah kami miliki sejak awal, persahabatan.

Gue bingung, mengapa dia begitu ngga ingin kehilangan sahabatnya ini. Dia punya banyak teman dekat, pria dan wanita, punya kekasih juga. Lalu untuk apa lagi bersahabat dengan gue.

Dan gue belajar sesuatu, ketulusan. Betapa dia yang sudah menyakiti hati gue, berkali-kali gue coba menghukumnya dengan meng-ignore dia. Tapi gue ngga sanggup untuk terus berusaha menyakitinya. Gue mencoba memahami, bahwa mungkin bagi dia satu-satunya cara yang dapat dilakukan untuk membalas sayang gue adalah tetap menjadi sahabat gue.

Akhirnya gue mau memaafkannya kembali. Mencoba tetap menjalin kembali persahabatan dengan orang yang kita sayang sungguh ngga mudah. Tapi gue harus bisa. Gue ngga ada pilihan lain. Gue capek dengan drama di antara kami selama ini. Pertengkaran. Saling sindir. Buang muka. Toh gue sudah kalah dalam permainan cinta yang dikemas rapih dalam persahabatan. Lebih baik gue menjadi seorang yang kalah terhormat, bukan?

Lalu babak baru persahabatan kami dimulai. Persahabatan gue dan dia yang, kalau gue boleh mengambil contoh, seperti persahabatan Zarry-Rahne.

Yang main Twitter pasti tau mereka berdua, selebriti twitter. Entah ada unsur drama atau bagaimana yang jelas, dua orang pecinta kata ini bersahabat di Twitter. Banyak yang menyukai tulisan mereka sampai ada perkumpulan ‘Pecinta Kata Zarry – Rahne’.

Zarry dan Rahne yang sama-sama sendiri kerap saling meggoda lewat tweet puitis mereka. Sampai-sampai banyak yang menduga di antara mereka memang ada sesuatu. Kemudian dunia pertwitteran Indonesia dihebohkan dengan Zarry yang punya pacar. Bukan Rahne.

Banyak follower yang kasihan sama Rahne ditinggal Zarry demi wanita lain. Mungkin hanya menyenangkan para follower, mereka berdua yang saling tweet berbalas kata puitis. Berikut tweet Rahne dan Zarry:

@rahneputri: Ternyata kamu bukan hilir, kini biarkan aku terus mengalir.

@rahneputri: Jadi rupanya hujan itu berupa dia, yang lebih turun menyentuhmu dulu daripada aku.

@zarryhendrik: Aku adalah kata, tetapi kata tidak aku saja.

@rahneputri: Ada yang tergenang di wajahku, ada yang terngiang di telingaku. Entah apa, entah bagaimana. Mungkin ini namanya mati rasa.

@zarryhendrik: Ada yang memandikan mata indahnya. 🙂

@rahneputri: Jika aku tidak lagi menyebutmu dalam doa, semoga hatiku tidak berdosa.

@zarryhendrik: Now I don’t know how to make you happy. Because as far as I am, if I’m happy you should be happy.

@rahneputri: Entah kamu bagian dari cerita yang mana. Mungkin kamu akan hadir lagi di beberapa halaman di depan …….. atau tidak sama sekali.

Drama mereka berdua berlanjut dengan surat-suratan melalui blog mereka. Kalau penasaran boleh diintip link berikut:

http://rahneputri.com/post/15935436997/drama-semalam

http://zarryhendrik.tumblr.com/post/15937277803/drama-lanjutan#post-notes

Mereka berdua menyatakan dalam tumblr masing-masing, keduanya sahabat dan akan selalu sahabat. Rahne sendiri mengatakan semua kata puitisnya bukan untuk Zarry, murni drama.

Apapun itu, buat gue dalem dan menohok banget. Mengingatkan gue sama sahabat gue, dia.

Gue bahagia kok karena akhirnya sahabat gue itu menemukan kebahagiannya.

Gue selamanya tetap menjadi sahabat dia. Dan dia bagi gue? Entahlah.

Bagaimana mungkin kamu bisa bersahabat dengan orang yang pernah menjadi pusat semestamu. Tak pernah sedetikpun hilang dari pikiranmu. Berada pada urutan tertinggi daftar terpentingmu. Mengisi mimpi di setiap tidurmu. Alasan kesedihan sekaligus kebahagianmu. Sandaran yang selalu kamu andalkan. Dan nama yang disebut dalam doamu. Bagaimana caranya?

Ada pepatah yang bilang, jangan pernah menyerah pada sesuatu yang tidak seharipun kamu berhenti memikirkannya.

Aku sedang melepaskan ranting di hatiku ini, bukan menyerah tetapi menerima.

Kadang berjuang tidak hanya ketika mencintai. Mempertahankan, bahkan melepaskan cinta juga butuh perjuangan.

Inilah yang sedang gue lakukan, berjuang sekuat hati menjalani persahabatan ini.

Dan sesungguhnya, mulai detik ini, masa depan persahabatan gue dan dia kembali menjadi gelap gulita.

 


Coffeanologia – Kopi Vs Cowo

Kalau ada tempat umum yang ngga pernah sepi ya salah satunya Coffee Shop. Tadi sore gue sengaja ke Setia Budi One cari tempat ngopi sambil ngetik untuk proyek buku gue. Buset susah banget, penuh semua. Sebenernya sih masih ada lah meja kosong, yang susah di dapet itu yang deket colokan hehe.

Kedai kopi emang tempat paling oke untuk sekedar duduk-duduk ngopi sambil baca buku. Atau ngetik kayak gue. Ada juga yang cuma mau nge-wifi, bahkan kerja juga ada. Meeting sama klien, diskusi, rumpi, sampe pacaran (sigh). Cuma modal pesen secangkir atau se-tumbler kopi bisa nyantai disitu semalunya deh.

Eniwei, gue ngga mau ngomongin coffee shop sih sebenernya. Tapi kopi itu sendiri.

Kopi adalah sebuah minuman yang diolah dari biji kopi. Menurut Wikipedia, pertama kali minuman kopi dikenalkan itu tahun 700-1000 M oleh orang Arab. Ngga ada keterangan siapa dan awal mula yang nemu resep itu minuman. Karena kalau ada so pasti udah kaya raya keturunannya dapet royalti, karena kopi adalah salah satu minuman paling banyak diminum di seluruh dunia.

Thanks to Bapak Kopi, siapapun itu deh 🙂

Gue sih termasuk yang beruntung yang suka banget sama kopi, meski kadarnya ngga nyandu. Banyak juga loh yang ngga demen. Ngga masuk akal sih qo bisa ngga suka kopi. Tapi ada lagi yang lebih ngga masuk akal yaitu penggila kopi yang rela merogoh kantong mengeluarkan duit yang banyak untuk minum the ass-coffee alias kopi luwak. Katanya sih enak banget dan pembuatannya yang unik yang bikin mahal.

Makin berkembang jaman kopi juga semakin mengalami degradasi warna. Dulu kopi cuma kopi hitam pekat terus jadi coklat karena dicampur susu atau krim. Digawangi oleh Starbucks, sekarang kopi udah aneh-aneh. Coffee latte, Cappuchino, dan kawan-kawan yang bisa juga dikasi toping whipped cream, ceres, whatever you like lah.

Gue minum kopi cuma pas lagi butuh aja. Butuh begadang, butuh semangat kerja, butuh pikiran tenang, butuh buat ngegosip, dan butuh tempat nge-wifi hehe.

Waktu masih jadi auditor di KAP gue minimal mengkonsumsi kopi 3 kali sehari. Faktor mesin kopi otomatis yang bikin gue jadi bolak-balik ngambil kopi. Apalagi kalau harus ngelembur, butuh doping kopi dulu deh gue. Dan murni kebutuhan kopi gue untuk daya tahan mata aja ketimbang cuma gaya, ngga kayak para karyawan perusahaan asuransi yang kantornya selantai di bawah gue. Tiap pagi sebelum ngantor pasti beli Starbucks dulu. Buset banyak duit ya hehe.

Sadar kebanyakan kopi juga bahaya gue mulai stop minum kopi akhir 2009. Waktu itu gue udah pindah ke kantor yang jam kerjanya lebih manusiawi. No overtime means no need coffee, because I don’t have to awake a lit bit longer in the night, right?

Hampir setahun gue stop ngopi. Bisa dihitung deh gue ngopi berapa kali. Ke Starbucks palingan belinya Green tea latte. Dan kondisi badan gue malah gampang ngedrop. Kepala suka keliengan dan lemes banget. Sampe puncaknya tensi gue drop di 80/50. Hampir pingsan. Ternyata gue menderita Hypo tensi. Agak mengejutkan mengingat dulu gue selalu normal. Dokter nyuruh gue banyak-banyak makan ati/kambing untuk naikin tekanan darah. Boleh juga mulai mengkonsumsi lagi kopi asal ngga berlebihan.

Horeeee.

Gue sadar gaya konsumsi ngopi gue udah mengalami perubahan dari dua tahun yang lalu. Kalo dulu kopi sachet-an sekarang cuma ngopi di kedai kopi kayak Starbucks, Coffee Bean, Coffee World, Anomali Cafe, sampai Bengawan Solo. Makin kesini gue lebih milih minuman kopi yang rada mahal. Kenapa? Karena sekarang udah bisa gaya haha. Ngga ding, udah tau enaknya sih. Biji kopinya kualitas oke dan diolah dengan baik.

Ah kaya pernah liat, tau dari mana lo? Anggep aja begitu deh 😀

Dan bagi gue, kopi itu dianalogikan dengan cowo. Itu kenapa gue cinta sama kopi. Berikut adalah persamaan antara kopi dan cowo menurut gue.

1. Coffee, the best quality, can keep you awake all night long.

Kopi punya kafein yang fungsinya bikin ngga ngantuk. Tapi tergantung kualitasnya, sorry to say, tapi kopi sachet-an emang ngga gitu ngefek, tetep ngantuk. Sama halnya dengan cowo. Semakin oke bisa bikin kita betah deh berjam-jam. Ngga ngantuk sampe malem karena keasyikan. Apalagi kalo hot, bikin anget!!! So, coffee and men can keep you both awake and warm all night long.

2. Coffee, the more it’s rich, the more people like.

Semakin mahal kopi semakin digilai kan? Kayak gue juga sekarang yang milih-milih kalau minum kopi, kayak milih cowo. Masa yang sachet-an? hehe. No offense loh. Maksudnya, hari gini kondisi keuangan kan ngga bisa disepelein. So, coffee and men are some things that are better rich.

3. Deja Brew: The feeling that you’ve had this coffee before – Unknown.

Kalo minum kopi kesukaan yang wanginya khas itu berasa…aaaah…haruuuum. Wangi yang sudah gue apal banget dan selalu gue nikmatin sebelum menyeruput minuman itu. Aroma yang ngga ngebosenin. Kayak cowo yang bisa bikin cewe jatuh dan tejatuh lagi. So, coffee and men can give the same old feeling you always love.

4. Behind every successful woman is a substantial amount of coffee – Stephanie Piro.

Wanita karir rata-rata suka kopi. Butuh kopi untuk mood booster, supaya tenang berpikir saat bekerja. Di balik cewe sukses juga ada seorang pria yang ikut andil, apakan pria yang mendukung atau yang pernah menyakiti 😉 So, coffee and men are the booster of a successful woman.

5. Coffee can speed up your blood pressure.

Sama dengan cowok, bawaannya bikin emosi! So, too much of loving coffee and men are not good for your health :p

6. He was my cream, and I was his coffee – And when you poured us together, it was something – Josephine Baker.

Jika wanita adalah kopi, maka pria adalah krimnya. Kopi saja udah enak, tapi lebih anak kalau dikasih krim. Wanita hebat itu mandiri, tetapi tetap butuh pria agar lebih hebat. So, women need both coffee and men in their life 🙂

I can live without coffee and men, but I don’t feel alive without them.

Image