P U T U

Sore tadi gue iseng main ke Plaza Semanggi. Di sana baru saja dibuka sebuah Nail Art Shop yang sedang mempromosikan paket mempercantik kuku dengan potongan harga 50%. Lumayan banget buat gue yang modis (baca: modal diskon) ini :p

Sambil rebahan di kursi eksekusi, gue di-pedicure sama mbak-mbak pelayannya. Gue asik memantau Timeline dan ber-BBM ria untuk mengisi waktu. Lalu ada seorang wanita memasuki ruangan toko menuju tempat kasir. Gue lihat dia melihat-lihat paket treatment yang ditawarkan. Setelah beberapa saat lalu dia berjalan menuju salah satu kursi yang masih kosong, tepatnya dua kursi di samping kiri gue.

Wanita itu sangat familiar di ingatan gue. Dude, is that you?

Putu.

Gue mengenalnya saat pertama kali masuk ke kantor gue sekarang. 28 September 2009. Dia lah orang pertama yang gue kenal di kantor. Mulai dari sama-sama mengisi kelengkapan data di HR Department, sampai mengelilingi satu ruangan untuk menyalami para pekerja lainnya satu-persatu. Beruntung kami berada dalam divisi yang sama.

Wanita muslim keturunan Bali ini memiliki perbedaan usia yang cukup jauh dengan gue, 11 tahun. Dia bahkan masih single di usianya yang berada di penghujung 30-an. Orang tuanya kaya raya dan memiliki jabatan yang cukup berpengaruh di dunia perbursaan. Oleh karenanya, semenjak remaja dia mengemban ilmu di negeri Paman Sam. Bahkan sejak lulus S2 dia juga bekerja di sana. Baru sekitar awal 2000-an dia kembali ke Indonesia.

Berada lama di luar negeri membuatnya tidak suka dipanggil dengan kata sapaan ‘Mbak’ atau ‘Ibu’ misalnya. Just call me Putu, she said. Sehari-hari lebih sering menggunakan bahasa inggris karena menurutnya, susah untuk menghilangkan kebiasaan.

Sejak hari sama-sama menjadi newbie di kantor, kemudian kami menjadi sahabat baik. Bagi gue, dia bahkan sudah seperti kakak sendiri.

Kebiasaan kami bersama dulu adalah pulang kerja bersama, di mana gue selalu ‘nebeng’ CRV silver-nya menerobos polisi 3-in-1. Sama-sama masih sendiri juga membuat kami kerap menghabiskan weekend bersama dengan belanja, perawatan, bahkan datang ke acara nikahan teman bersama. Sebenarnya tidak sepenuhnya belanja, tapi menemaninya belanja barang-barang dengan merk yang harganya berlipat-lipat dari gaji gue. Thanks to her, gue jadi pernah merasakan masuk ke dalam toko Channel, Kate Spade, Gucci, dan seterusnya yang cuma bisa buat sakit hati saja mengetahui harganya.

Dia tidak perhitungan, pernah bersama-sama beberapa teman pergi ke Taman Safari menggunakan mobilnya. Kami pergi dalam rangka mengantar gue melihat jerapah secara langsung. Lucu ya hehe. Kami hanya duduk manis di dalam mobil tanpa harus mengeluarkan uang bahkan. Tapi bukan itu yang membuat gue bisa bersahabat dengannya.

Banyak kisah hidupnya yang membuat gue iba. Dia kaya raya, tapi tidak bahagia. Dia tak memiliki kekasih dan kasih sayang keluarga yang kurang. Orang-orang di sekitarnya hanya mengukur kebahagian dari materi.

Suatu saat kami makan bersama, gue ‘curhat’ padanya tentang seorang laki-laki yang gue sayang pada saat itu. Saking sedihnya gue sampai menangis. Yang Putu lakukan adalah memarahi gue.

“Come on, dude. Don’t be such a fool crying over him. You deserve to be happy. You’re still young, you have so many best friends and a caring family.”

“Look at me.” Lanjutnya semakin berapi-api. “You’re luckier than me, dude.”Putu mulai terisak.

Dia benar. Gue memang ngga seharusnya terpuruk hanya karena seorang laki-laki. Ada orang lain yang memiliki masalah lebih berat ternyata. Melihatnya menangis membuat gue semakin merasa bersalah. Akhirnya kami putuskan untuk menghibur diri bersama. Shopping, menonton film midnight, dan dilanjutkan dengan menginap di rumah mewahnya. Besar tapi sepi. Dia sendiri dan hanya ditemani seorang asisten rumah tangga.

Gue juga masih ingat malam di kamarnya itu kami bermain ramalan kartu. Dia meramalkan kisah gue dan laki-laki yang gue sayang itu. “Berliku. Akan ada beberapa pihak ketiga di antara kalian. But, he’s gonna be your husband.” Begitu ramalannya.

Putu sudah mengatakan itu sejak gue memperkenalkannya pertama kali pada laki-laki itu. Dia teman pertama yang gue perkenalkan, dan gue ceritakan seluruh kisah antara gue dan laki-laki itu sejak awal. Laki-laki itupun pernah mengantarkan gue menjenguk Putu saat sakit.

“Kenapa kalian ngga pacaran saja sih, sudah bersahabat dekat kan?” tanya Putu saat itu.

Gue dan laki-laki itu sama-sama menggeleng dan tersenyum kikuk. Kami menegaskan saat itu hanya bersahabat. Setidaknya saat itu.

God sent people into our life for a reason, and remove them from our life for a lesson.

Mungkin porsi Putu dalam hidup gue hanya sesaat. Dia tidak nyaman dengan kehidupan di kantor kami. “So many fake people, here. F**k them all.” ucapnya dengan gaya khas seorang Newyorker. Peringainya yang keras membuatnya banyak bermasalah dengan banyak orang di kantor. Mulai atasan sampai rekan tim. Gue sendiri takut jika melihatnya marah, tak dapat diredam. Tapi gue berusaha sedemikian rupa menengahi masalah-masalah dia di kantor. Mungkin memang yang terbaik adalah dia harus mengundurkan diri. Dia tiba-tiba resign tanpa sedikitpun memberi kabar pada gue. Bahkan memutuskan kontak dengan gue dan juga teman-teman lain.

Tak ada lagi Putu menemani gue makan siang. Teman pulang kantor. Teman menghabiskan akhir pekan bersama. Teman bercerita apa saja. Dia tidak pernah tau akhir kisah gue dan laki-laki itu. Ingin sekali sebenarnya jika diberi kesempatan bertemu lagi dengannya, hal yang akan gue katakan pada Putu adalah:

Dude, You’re wrong. Ramalan lo salah. Bahkan gue dan laki-laki itu sudah menjadi asing satu sama lain. Semua yang indah pernah kami alami saat dulu berakhir menjadi bencana. Ingat dulu laki-laki itu pernah menamani gue di acara Family Gathering kantor? I bet you never thought that, me and him working at the same buiding now. Dia bekerja di industri yang sama dengan gue, dude. So close yet so far away.

And dude, you’re always wrong. Mengira gue adalah salah satu dari fake people seperti yang lo tuduhkan pada orang lain, sehingga dengan begitu saja memutuskan komunikasi dengan gue. I’m always true, dude. I feel so sad about us.

Don’t you know that I miss you, dude? If only you were not leaving me, at least I still have you as a bestfriend after loosing him.

Dan sore tadi gue sendiri pun ngga yakin apakah lo adalah wanita itu, dude. Sangat mirip tapi ngga mungkin. Lo ngga bergaya seperti wanita itu. Lo selalu memakai rok mahal dan bukannya celana selutut kumal seperti itu. Rambut lo yang di-highlight seperti wanita bule pirang selalu terurai, tidak berwarna hitam dan dikuncir asal seperti itu. Baju, tas, dan sandal wanita itu gue sangat yakin sama sekali bukan selera lo, dude. Dan dude, lo ngga mungkin beredar di Plaza Semanggi kan, bukan level lo.

Dude, dimanapun lo berada saat ini. Gue hanya ingin lo tau, lo tetap teman gue. Dan gue selalu mendoakan yang terbaik untuk lo. Ingat tasbih pemberian gue? Semoga masih disimpan dan dipakai setelah beribadah ya 🙂

Putu, till we meet again, dude.

Travel is…

Travel is...Travel is figuring out that you are braver than before.

Travel is wondering there’s a world outside every darkened door.

Travel is falling a sleep on a bus and letting the bus driver take you anywhere until the last stop.

Travel is waking up earlier then you use to be and getting ready for today’s adventure.

Travel is enjoying sunset somewhere far away from home.

Travel is turning your head to the wind.

Travel is living life to the fullest, because life is like a road you travel on.

Travel is falling in love… with God, for any creatures you see along the trip.

Travel is waiting for surprise you may get in every journey.

Travel is planning for the next destination.

Travel is hunting for something you can bring home for the one you care about.

Travel is being somewhere that make you say “wish you were here’.

Travel is forgetting that you are on diet.

Travel is sharing your experience because you never have any story to tell if you have been nowhere.

Travel is guessing, perhaps that someone across the street is your soul mate.

Travel is either making you love your someone more or less, depends on your traveling purpose.

Travel is being awake, you never really sleep because you can’t wait until tomorrow comes and gives another experience.

Travel is taking a break from your busy hours that make you go insane.

Travel is sometimes sleeping on an inconvenience bed but feeling extremely satisfied.

Travel is wearing your old favorite shoes but every steps count a great adventure.

Travel is tasting the specialty of somewhere and when you come home you will suggest “you have to try the food”.

Travel is managing your time, you mess one day itinerary then you should rearrange for whole week.

Travel is being sexy without trying hard to be, in your own way.

Travel is knowing the things you never knew before.

Travel is going the distance to make a room for a while

Travel is seeing the world and meeting different races.

Travel is discovering that there is some act of kindness you never thought it existed before.

Travel is creating one simple conversation that could lead to a lifelong friendship.

Travel is being somewhere that you can always proudly say “been there” later on.

Travel is bringing the same bag for a week with difference experience everyday.

Travel is capturing moments you never want to forget, everytime you see the picture you will smile and say “I miss that moment”.

Travel is also learning how to communicate and deal with a completely stranger.

Travel is remembering one day when you’re old that you were once young, wild, free, and cool.

Travel is knowing that you may deserve something better.

Travel is feeling lucky for having a chance to see great places that some people may not have one.

Travel is getting something new that surprisingly surprised!

Travel is listening to one song in your iPod that will remind you of that one gloomy night somewhere.

Travel is figuring out, who is the one who did not miss you and the one who missed you the most

Travel is finding some place you’ve never been before but it just reminds you of that someone special.

Travel is realizing that there is still the one thing missing no matter how far you go.

Travel is wondering there’s a world outside every darkened door.

Travel is making new friends.

Travel is getting away for a while from your problem.

Travel is throwing your sorrow and counting your blessings.

When She Cries

“Ngga bisa. Pokoknya gue ngga bisa.” tegas gue.

“Kenapa ngga mau mencobanya dulu?” ucapnya sambil terisak.

Argh, wanita ini sungguh keras kepala. Pake acara menangis segala. Gue paling ngga bisa lihat wanita menangis sebenarnya. Tapi entah sudah berapa kali dia menitikkan air matanya di depan gue. Dan untuk kesekian kalinya gue ngga juga merasa iba. Gue sendiri heran mengapa hati gue ngga tergerak sedikitpun akan kesungguhan wanita ini. Gue kasihan padanya. Cintanya setengah mati sama gue. Sedangkan gue? Tidak memiliki perasaan apapun padanya.

Sudah setahun lamanya ketika pertama kali gue menolak cintanya. Tapi dia tetap gigih mengejar gue. Tetap setia bertahan menjadi teman gue. Bukan gue yang meminta loh, dia sendiri yang dengan suka rela melakukannya. Atas dasar ‘ngga enak’ ya gue pun tetap memperlakukannya sebagai teman baik.. Tapi kalau kebaikan gue diartikan terus-menerus olehnya sebagai harapan, lama-lama gue bingung juga.

Jujur, gue menikmati rasa sayangnya itu. Disaat gue susah, dia toh selalu ada buat gue. Bangga lah gue punya fans setia semacam dia. Tapi sebagai pria dewasa normal pada umumnya, gue juga ingin mengejar wanita. Wanita yang ingin gue sayang. Dan sayangnya, itu bukan dia. Dia yang kini menangis tersedu di hadapan gue karena cintanya ditolak untuk ke sekian kalinya.

Gue keluarkan sebatang rokok dari saku kantong lalu membakar ujungnya dengan korek api. Kondisi seperti ini membuat mood gue rusak. Dan hanya rokok yang dapat menyelamatkan ketegangan gue. Gue tarik satu hisapan panjang lalu mendongakkan wajah ke atas. Gue memainkan asapnya di dalam mulut sebelum menghembuskannya ke udara. Dari sudut mata gue bisa tau kalau wanita itu sedang memperhatikan gue. Gue melirik ke arahnya. Tak ada lagi air mata di wajahnya. Tersisa hanya lengkungan tipis bibirnya. Dia sedang tersenyum.

“Udah nangisnya? Kok sekarang senyum?” tanya gue yang terdengar cukup galak.

“Gue suka lihat gaya lo ngerokok. Makin jantan deh.” ucapnya sambil terkikik.

“Gak usah ngerayu. Kata-kata begitu doang ngga lantas bikin gue nerima cinta lo juga.” kata-kata gue langsung merubah mimiknya dari senyum menjadi semburat kesedihan. Sebelum dia mulai menangis lagi sebaiknya gue segera ajak pulang.

“Udah malam nih, makin sepi juga nih taman. Yuk, gue anter pulang.”

Sepanjang perjalanan mengantarnya pulang kami saling diam. Gue geser spion motor sedikit agar dapat memperhatikannya yang duduk di boncengan motor gue. Astaga, dia menangis lagi. Ah, bagaimana gue bisa berkonsentrasi mengendarai motor kalau begini. Ada ketakutan luar biasa kalau-kalau wanita yang sedang rapuh ini terjatuh dari motor gue.

Diam-diam aku berdoa. Mengapa Engkau membawanya masuk ke kehidupanku, Ya Tuhan? Sungguh aku sulit menentukan sikap menghadapi semua ini. Setiap jiwaku sepertinya ingin mati saja ketika melihatnya menangis. Beban yang kurasa sungguh berat karena tak mampu membalas cinta dan kebaikannya. Sangat ingin aku memantaskan diriku untuknya yang sudah dengan setia menantiku. Sudah kucoba dan tak bisa. Lalu apa yang harus aku lakukan? Mencintanya aku tak sanggup tapi meninggalkannya aku tak mampu.

Tiba di halaman depan rumahnya, tanpa banyak bicara dia menyerahkan helm kepada gue. Dia lalu melangkah pergi menuju pintu pagar dan membukanya. Bunyi decitan kunci dibuka terdengar memecahkan kesunyian malam ini. Dia membalikkan badan ke arah gue lalu berkata, “Thanks ya. Untuk semuanya. Bye.” Sambil mengusap pipi dengan punggung tangannya, dia pun membalikkan badan lagi.

Gerakannya yang beberapa kali membalikkan badan, menghapus air mata, mengunci pagar, lalu berjalan memasuki rumahnya terlihat anggun sekali. Dia layak mendapatkan pria yang tepat. Yang dapat mencintainya. Gue pasang kembali helm dan menstater motor gue. Bunyi raungan mesin pun mengiringi laju kendaraan roda dua yang meninggalkan rumahnya.

Doa sekali lagi kupanjatkan pada Tuhan, menemani perjalanan pulang di malam ini. Ya Tuhan, jangan biarkan dia menangis lagi.

Cukup jelas kan doa gue? Gue ingin dia tidak menangis lagi. Bukan menjauhi gue. Karena gue belum siap ditinggalkan olehnya.

Setelah malam itu, dia memutuskan segala komunikasi dengan gue. Dia benar-benar berusaha untuk melupakan perasaannya. Melupakan gue. Lalu mengapa gue harus kehilangan? Bukankah ini yang sejak awal gue inginkan. Bahkan gue pernah mencoba menjauhinya beberapa kali.

Selang beberapa hari tanpa kehadirannya, ada rasa gamang gue rasakan. Tapi nyali gue sangat ciut untuk menghubunginya. Ngga sanggup untuk menghadapinya. Sudahlah, gue tidak ingin mengganggunya lagi.

Sekarang, biarlah gue jalani kenyataan menjadi seorang stalker yang mengamati timeline-nya. Ya, membaca tweet-nya diam-diam karena dia sudah block account Twitter gue.

Melepaskanmu adalah bukti ketulusanku mencintaimu.

Gue baca berkali-kali kata demi kata.

Melepaskanmu adalah bukti ketulusanku mencintaimu.

Lalu air mata membasahi pipi.

Tuhan, apa yang telah aku lakukan?

The Hopeless Romantic Traveler – Jangan Jatuh Di Bromo

Jangan Jatuh Di Bromo

Kisah sebelumnya: Patah hati membuat gue memanfaatkan dinas kantor ke Dubai sebagai pelarian untuk move on. Meski selama perjalanan terasa berat karena selalu teringat kenangan masa lalu, di Dubai gue banyak belajar yang membuka mata gue bahwa hidup terus berjalan. Tutup yang lama dan segera mulai lembaran baru.

***

Lembaran baru segera gue buka sekembalinya dari Dubai. Meski belum 100% move on tapi gue mencoba untuk menikmati prosesnya. Perlahan tapi pasti gue mulai kembali ceria dan optimis dengan masa depan indah yang siap menyambut. Amiin.

Tapi terkadang beberapa orang masih salah mengartikan move on. Gue dibilang belum move on karena masih berteman dengan mantan dan belum juga menemukan pengganti. Emang gue peduli? Move on beda dengan move in. Gue sudah move on, yang belum kan tinggal move in aja. Daripada sudah move in tapi ternyata sebenarnya belum bisa move on? (Sumpah ini bukan sindiran).

“Lo sih terlalu milih, Mi.” seorang teman berkata pada gue lewat BBM suatu waktu.

“Bukan, salah banget. Gue bukan milih-milih, tapi lebih hati-hati aja.” balas gue.

Pengalaman menyakitkan di masa lalu jadi alasan otak gue memberikan peringatan keras pada hati. Hati-hati lah hati. Jangan salah jatuh lagi. Mungkin gue juga belum siap jatuh cinta lagi karena ngga mau kembali terluka. Jadi, gue pilih bersenang-senang menikmati hidup sampai hati gue benar-benar pulih. Tentunya juga, sambil terus berdoa agar jangan dibiarkan jatuh cinta kepada yang bukan Jodoh gue. Capek ah pacaran terus putus. Gue mau nikah, serius! (Hey It’s Rhyme).

Selang beberapa bulan setelah pulang dari Dubai, gue sempat beberapa kali dinas ke luar kota. Tapi padatnya pekerjaan ngga bikin gue sempat menikmati holi-work-day. Akhir tahun 2011 gue dinas di Bali tapi sama sekali ngga menikmati Bali. Pergantian tahun pun gue lewati di tempat tidur. Bobok pulas.

Si hopeless romantic ini kangen traveling lagi!

Tapi traveling berikutnya harus beda dong. Bukan untuk move on lagi, tapi..eh lucu juga kali ya kalau ketemu p-a-t-j-a-r pas lagi traveling. Kayak kisah si Dendi dan Riani (Spoiler)*.

Travel is guessing, perhaps that someone across the street is your soul mate. – @myaharyono

Well, perhaps loh. Siapa tau kan?

Tapi gue ngga ngarep muluk-muluk sih. At least, ketemu teman baru aja sudah cukup kok. Dan gue menemukannya waktu Dinas di Bali akhir tahun lalu itu.

Sebut saja dia si Rendang, panggilan akrab gue untuknya yang sangat menyukai makanan berlemak tinggi khas Padang itu.

Travel is creating one simple conversation that could lead to a lifetime friendship. – @myaharyono

Percakapan di Bali itu kalau gue ingat-ngat lagi sangat-sangat ngga penting ya. Si rendang ini awalnya cuma mamer-mamer Iphone miliknya yang lebih bagus dari punya gue. Sial. Lalu percakapan ngga penting itu berlanjut menjadi kicauan ngga jelas di Twitter. Karena dia bekerja di kota yang berbeda dengan gue, ya memang komunikasi kami hanya lewat Twitter dan LINE (aplikasi chatting di Iphone). Punya hobi dan zodiak yang sama mungkin membuat kami cocok berteman. Sangat menyenangkan rasanya punya teman ngobrol ngalur ngidul lagi setelah terakhir kali sama…ah sudahlah.

Tempat favorit kami berdua untuk ngobrol-ngobrol adalah di Starbucks dekat kantor gue. Beberapa kali kami bertemu kalau dia sedang dinas di Jakarta. Suatu ketika, gue memperkenalkannya pada sang masa lalu gue itu. Sejak itu si rendang resmi menjadi tempat gue berkeluh kesah. Kepadanya gue akhirnya bisa menceritakan semua kisah pribadi gue. Tampaknya, persahabatan gue dan si rendang setingkat lebih maju.

Gue punya banyak teman untuk tempat curhat, tapi beda aja rasanya curhat ke someone new. Dia yang baru mengenal gue malah memandang masalah gue dengan fair dan ngga nge-judge. Dia biarkan gue bercerita dulu sampai tuntas, lalu terkekeh.

“Ish kok malah ketawa sih rendang!” umpat gue yang kesal karena tertawa di tengah kesedihan gue yang sedang bercerita.

“Gue males ngasih masukan, percuma lo ngga akan denger juga. Ada 2 orang yang ngga bisa dikasih saran. Pertama lagi jatuh cinta. Kedua sedang patah hati tapi masih ngarep. Hahaha.” tawanya lepas seolah kisah gue itu lucu banget.

Gue cuma bisa merengut.

“Lo juga pasti udah dapet banyak saran dari temen-temen lo kan? Semuanya suru lo lupain dan tinggalin mantan lo kan?” Gue mengangguk setuju dengan perkataannya. “Yaudah, buat apalagi gue komen?” lanjutnya.

“Jadi gue ngga boleh nih cerita-cerita lagi tentang dia? tanya gue.

“Cerita tentang dia gunanya apa? Masih suka berarti kan? haha.” godanya.

“Bukaaaaan. Ish. Ya kalau misal keinget or ketemu dia lagi di kantor kan pengen juga cerita ke seseorang. Temen-temen gue udah bosen pasti denger cerita yang masih berhubungan dengan dia.” semoga pipi gue ngga terlihat merah saat menyangkal ucapannya. Dan si rendang itu tertawa lagi.

“Boleh aja. Kasian amat masa’ dilarang.”

Begitulah awal gue selalu cerita apa saja ke si rendang ini. When I suddenly feel down, karena teringat masa lalu, gue akan mencari si rendang. Gue akan terus bercerita meski responnya hanya ‘haha-hehe’. Dan sungguh, gue bisa ngga sedih lagi dan malah jadi ketawa-ketawa bareng.

Suatu waktu setelah selesai curhat panjang padanya gue mengucapkan rasa terima kasih untuknya karena mau waktunya terbuang dengerin keluhan gue. Dia hanya berkata “Yang penting, ngga galau lagi kan?”

Ucapannya menyadarkan gue, ah betapa baiknya orang-orang di sekitar gue yang ingin melihat gue ngga sedih lagi. Dan gue ngga boleh mengecewakan mereka dengan menunjukkan kesedihan lagi. Menurutnya, gue jadi suka sedih karena membaca status BBM dan tweet si mantan. Setelah membacanya lalu mulai membandingkan dengan ketika masih bersama dulu, tentu saja menyakitkan. Mengetahui dan kemudian mengingat lagi jadi sumber kegelisahan dan penyebab gue kembali sedih.

The less you know, the less you care, and the happier you will be.That is the golden rule, sweety.

“Gue akan delete BBM-nya. Gimana menurut lo?” tanya gue di suatu tengah malam kepada rendang.

“Seharusnya dari dulu malah.” responnya singkat.

Ngga neko-neko, tapi sahabat baru gue itu bisa memotivasi untuk bangkit lagi. Dialah yang membuat gue yakin untuk 100% lepas dari masa lalu. Sempat sedikit ragu di awal, karena sebentar lagi sang mantan akan berulang tahun. Dengan kondisi seperti ini, gue takut galau di hari ultahnya nanti. Karena pasti akan teringat setahun lalu kami masih merayakannya bersama-sama.

“Jangan khawatir, kan pas tanggal dia ultah kita mau ke Bromo. Senang-senang ajalah kita.” hiburnya.

Yes, petualangan si hopeless romantic traveler akan berlanjut di Bromo!

***

Gue dan si rendang kebetulan sama-sama dinas di Surabaya. Kami beserta beberapa teman yang lain merencanakan akan liburan di Bromo. Masa udah ke surabaya ngga ke Bromo. Lalu mulailah si rendang mengatur kepergian kami. Karena gue sedikit manja, gue merengek dulu ke teman-teman lain agar tidak backpacking-an (Please do not ask why). Menggunakan jasa tour sepertinya jadi pilihan tepat kami. Memang mahal sih. Minimal setengah juta per kantong untuk keseluruhan biaya melihat sunrise di Bromo.

Satu jam menjelang tengah malam, sebuah Daihatsu Grand Max sudah menunggu kami di hotel. Mobil tersebut akan membawa kami sampai Malang untuk kemudian bertukar dengan mobil jeep menuju Bromo.

Di tengah perjalanan, tepat pukul 12 malam, muncul reminder ulang tahun sang masa lalu di Iphone gue. Crap! Merusak mood gue aja. Supaya ngga sedih, iseng gue malah mengirimkan ucapan selamat ulang tahun ke Iphone si Rendang. Bunyi notifikasi menandakan ada balasan dari dia berupa siulan, terdengar memecahkan kesunyian di dalam mobil. Sesaat gue merasa ngga enak karena takut menganggu teman-teman lain yang sudah tidur. Lalu gue membaca pesannya. “Masih mau jadi yang pertama ngucapin ke mantan?”

“Ngga kok, malesin.” gue kirimkan balasan singkat kepadanya. Balasan dari dia berikutnya hanya terdengar suara getaran saja karena gue sudah mengaktifkan silent mode. Tapi chatting diam-diam sama si rendang di saat yang lain tidur pulas itu..lucu juga.

“Nanti saja kalau sudah di Bromo. Kirim aja begini: From Bromo, I wish you a happy birthday.” usul si rendang. Gue langsung cepat membalasnya lagi. “Norak ah.”

Rasa kantuk membuat gue ngga berlama-lama memikirkan kalau hari itu adalah hari yang pernah spesial buat gue. Gue ikut tertidur sampai bapak supir membangunkan kami. Pukul dua pagi di Kota Malang. Kami harus bertukar kendaraan. Sebuah mobil jeep sudah menanti kami.

Dua setengah jam perjalanan dilalui untuk sampai ke kawasan Bromo. Mobil jeep kami menghantam pekatnya malam, hanya ditemani cahaya bulan dan bintang yang bertebaran dengan indahnya. Hebat sekali pak supir ini hapal rute perjalanan melintasi gunung dan hutan. Bayangkan saja, salah-salah bisa kesasar! Aduh ada binatang buas ngga ya? Amit-amit!

Di tengah lamunan yang ngawur, tiba-tiba gue dihentakkan oleh udara yang masuk ke dalam mobil. Dinginnya menusuk. Ternyata si rendang membuka kaca jendela untuk melihat indahnya bintang. Dia meminta gue untuk melihatnya juga. Ah, pemandangan gugusan bintang ini jarang-jarang bisa dilihat di kota besar. Tapi gue ngga kuat berlama-lama menikmatinya. Gue meminta rendang juga menutup kaca jendela mobil. Dinginnya gak sante!

Tepat pukul setengah lima pagi, kami sampai di Pananjakan View untuk menyambut sunrise bersama pengunjung lainnya. Semua orang bersiap dengan kamera masing-masing. Gue percayakan SLR merah kesayangan gue pada si rendang untuk memotret pemandangan, yang membuat kami berkali-kali berdecak kagum. Gue cukup dengan Iphone saja. Sesekali gue ambil foto si rendang yang sedang asik mengabadikan moment matahari terbit di Bromo.

Ramai pengunjung menyambut matahari terbit di Bromo.

Travel is falling in love..with God, for any creatures you see along the trip. – @myaharyono

One of God’s best creatures.

Heaven on Earth.

Subhanallah! Indah banget. Seperti lukisan yang dikuas oleh tangan Tuhan sendiri. Gunung-gunung di Bromo tersebut tampak seperti mengambang di antara lautan kabut. Konon, Bromo adalah salah satu gunung dengan pemandangan terbaik di dunia. Ngga heran, pengunjung yang datang juga banyak dari berbagai luar negeri. Jarang-jarang kan ada bule mau ke gunung, biasanya mereka lebih memilih bersantai di pantai.

Heaven is what I feel.

Perjalanan di lanjutkan ke puncak gunung untuk melihat kawah. Pak supir tour menyarankan kami untuk menunggang kuda saja sebelum akhirnya menaiki tangga menuju puncak bukit. Harga sewa kuda untuk bolak-balik mengantar kami naik turun gunung adalah Rp100 ribu. Ya hitung-hitung sambil menolong bapak yang merupakan penduduk asli Tengger tersebut. Dia lah yang mengawal kami dengan berjalan memegangi kuda.

Yihhaaa!

Dan luar biasa capeknya ketika harus menapaki anak tangga menuju puncak gunung. Awalnya gue coba menghitung berapa jumlah anak tangga tersebut tapi lama-lama gue kehilangan konsentrasi.

Satu anak tangga. I do miss him.

Dua anak tangga. I do not miss him.

Tiga anak tangga. Why do i have to think that I miss him or not?

Empat anak tangga. Well who cares if I miss him or not.

Lima anak tangga. I’m tired of missing him.

Gue kecapek-an saat menaiki tangga ke puncak gunung.

Begitu seterusnya hingga beberapa anak tangga terakhir. Gue kehabisan nafas dan menghentikan langkah. Tinggal beberapa anak tangga lagi dan gue akan sampai ke puncak. Lalu gue menengadahkan kepala. Hembusan angin dingin menerpa wajah gue. Sinaran cahaya menyambut mata gue yang menyipit. Ada sesosok siluet tubuh menanti gue di ujung tangga. Tersenyum. Ah, senyum yang mendamaikan hati seketika. Senyum yang sudah lama hilang dan sedang kunanti kembali. Semakin dekat gue lihat sosok itu dengan jelas. Bersamaan dengan itu, telinga gue pun mendengarkan suaranya yang menyemangati gue. “Ayo, sebentar lagi sampai. “ Ternyata sosok itu adalah si rendang.

Dengan keyakinan pasti, gue melanjutkan menaiki anak tangga terakhir.

I’m done thinking of him.

Gue menggapai tangan si rendang agar tidak terjatuh. Lalu dia memastikan gue agar duduk di atas sebuah batu di dekat ujung tangga untuk beristirahat. Gue sudah tergopoh-gopoh saking capeknya. Fakor U nih pasti.

Lalu gue perhatikan keadaan sekitar. Puncak gunung ini seram banget sebenarnya. Ngga ada pembatas dan di bawah gunung yang curam ini langsung kawah. Butuh ekstra hati-hati agar tidak terpeleset dan terjatuh. Yang punya highphobia tidak disarankan mendaki sampai di puncak ini deh.

Gue melihat si rendang berjalan ke ujung jurang untuk memotret kawah. Setelah nafas gue kembali normal lalu gue menyusul ke tempat si rendang berdiri. Sadar gue yang sedang berjalan ‘sradak-sreduk’ ke arahnya dia spontan berteriak agar gue berhati-hati. Wajahnya terlihat khawatir. Mungkin dikiranya gue ada niat untuk lompat ke dalam jurang. Sial.

Ngga ada niatan lompat kok. Sunguh!

Dengan sok berani gue duduk di dekat jurang dan meminta dia mengambil foto gue dengan beberapa gaya. “Gue mau bergaya semacam lompat karena stres ya.” pinta gue lalu dengan kesusahan mencoba berdiri dan hampir terpeleset. Gue pun kena omelan si rendang. Dia cerewet banget meminta gue jangan terlalu ke pinggir. “Hati-hati lo. Awas jatuh!”

Entahlah, tapi seperti ada yang salah dengan peringatannya kali ini. Permintaannya agar tidak terjatuh di Bromo, terdengar seperti… Jangan.  Jatuh. Cinta…kepadanya.

But how can  I not fall for you?

Lalu sederet peristiwa yang terjadi sebulan terakhir berputar-putar di kepala gue. Teringat lagi masa-masa chatting kami malam hari menjelang tidur. Tanggapannya yang cuma terkekeh mendengar curhatan gue. Keisengannya mengirimkan gambar-gambar yang membuat gue mengucap…”ish..” lalu tersenyum. Komentar sinisnya yang mengatakan gue ngga bisa mengemas koper dengan baik. Pujiannya yang mengatakan bahwa dia salut karena gue wanita yang tegar disaat orang lain mungkin mengasihani gue. Dukungannya agar tetap menulis di saat sedih. Pembenarannya kalau menghibur diri dengan berbelanja sesekali itu tidak dilarang. Sikap ogah-ogahannya untuk menemani gue yang ketakutan sendirian, tapi toh dia mau memani gue juga. Sikapnya yang gentle dan memperlakukan gue dengan baik. Mengangkat bawaan gue yang berat ngga peduli tangannya kapalan dan hanya membiarkan gue membawa boarding pass. Menawaran jaketnya untuk menghangatkan gue yang kedinginan di bandara. Satu jam menggalau berduaan di dalam pesawat di atas udara. Dan… teringat juga akan kisahnya dengan wanita itu.

Ya, ada seseorang telah mengisi hatinya.

Alasan yang cukup kuat untuk gue tidak merusak pertemanan kami dengan jatuh cinta padanya. Semua kebaikannya sudah semestinya tidak disalahartikan yang lain.

Kali ini harus lebih berhati-hati. Salah langkah bisa menyebabkan gue terjatuh di Bromo. Resikonya bisa mati masuk jurang. Begitupun dengan hati gue. Syukurlah sejak awal gue sudah diberi peringatan agar tidak jatuh dan terperosok lebih dalam. Jika tak ada wanita lain pun, ada batasan-batasan yang sudah dia tetapkan di awal yang membuat gue dan dia tidak akan berujung pada hubungan lebih dari persahabatan. Masalah prinsipal.

Sekarang yang gue lakukan adalah menikmati kebaikannya dan kedekatan kami sambil tetap menjaga agar tidak jatuh hati padanya. Hati harus seperti kendaraan, dipasang rem yang dipakai untuk mengontrol kapan harus berhenti dan kapan harus terus berjalan.

Mungkin tiga puluh menit di puncak kawasan Bromo ini adalah masa yang akan gue ingat selamanya. Setengah jam dalam masa hidup gue, di mana gue hampir terjatuh di Bromo. Secara harfiah maupun istilah.

Sebelum kami kembali menuruni tangga dan melanjutkan petualangan di pasir berbisik, patung singa, dan padang savanah. Gue memanggil si rendang yang hendak turun mendahului gue. “Eh tunggu, lo jalan di belakang gue aja. Jaga gue ya. Don’t let me fall.” gue memberi penekanan pada kalimat terakhir. Sebuah perintah untuknya.

Dia tersenyum dan mempersilahkan gue melewatinya. Gue terus melangkah turun dengan hati dan kaki yang ringan. Tetapi harus terhenti ketika gue mendengar suaranya yang memanggil. Gue pun segera berbalik badan mengarah padanya yang masih berdiri di atas ujung tangga. Belum sempat gue berucap lalu…

JEPRET. JEPRET. JEPRET.

Thanks for making my day still special without him..

Notes.

* Coming soon: Trave(love)ing, Hati Patah Kaki Melangkah. Sebuah novel oleh Mia, Dendi, Roy, dan Grahita. Doanya ya Kakaaaak….