Time Magazine’s Woman of the Year Vs Playboy’s Playmate of the Year

Siapa sih yang enggak pernah suka dengan seseorang karena melihat fisiknya dulu? Wajar kok. Ketertarikan level satu kita pertama kali saat melihat lawan jenis ya fisiknya dulu. Barulah ketertarikan level berikutnya yang berbeda-beda setiap orang. Perbedaan paling kentara sih pada pria dan wanita. Secara general mungkin seperti ini ilustrasinya.

Wanita

Ketertarikan level 1 -> Oke dia menarik. Terus?
Ketertarikan level 2 -> Dia: a. Pintar?
b. Humoris?
c. Gentle?
d. Tajir? Good on bed? (Ooops!) And so on..and on..and on..

 Pria 

Ketertarikan level 1 -> Cantik nih. Tipe gue banget!
Ketertarikan level 2 -> Dia: a. Kurang pintar sih. Tapi cantik!
b. Selera humor biasa aja, kaku malah. Tapi cantik!
c. Manja banget sumpah! Tapi cantik!
d. Bukan wanita karir yang keren yang bisa dibanggakan. Tapi cantik!

Eaaaaaaaaaa :p

Gue enggak asal juga buat ilustrasi di atas. Itu fakta. Hasil observasi dan pengalaman sekeliling selama ini. Terutama yang pria. Buat mereka, wanita cantik itu tidak pernah salah. Semua kekurangannya acceptable asal cantik. Betapa fisik bisa mengalahkan segalanya. Lalu artinya, kalau fisiknya kurang menarik cenderung susah mendapatkan pacar dong?  Oh dear, so sorry but that’s the ugly truth.

Tapi bukan berarti yang enggak cantik lantas enggak laku. Totally no! Sadar punya kelemahan fisik seharusnya wanita bisa menonjolkan kelebihannya yang bisa juga bikin pria klepek-klepek. Itu teorinya sih… Faktanya, berdasarkan pengalaman di sekeliling gue, bohong kalau pria itu mengutamakan ‘nyaman’ duluan ketimbang ‘fisik’ duluan. Contoh nyata:

Pria A: Gue nyaman sih sama dia, tapi dia bukan tipe ideal buat gue. Jadi, ya gue masih belum yakin sama perasaan gue ke dia.

Pria B: Gue sayang sama dia, tapi sebagai sahabat. Gue akui akan balik ke dia lagi kalau butuh bertukar pikiran. Tapi ya itu, untuk jadi pacar…gue prefer pilih yang lain deh.

Pertanyaan gue simple aja kepada mereka. Karena enggak cantik?

Ah para cowok itu mana ada yang mau jujur sih. Jawaban ngelesnya, “Ya bukan, emang enggak ada feeling lebih aja. Cinta kan enggak bisa dipaksa”. Taeeee! Sorry guys, it’s a bullshit. Coba kalau cantik, ya lo pacarin langsung deh tuh cewek.

Guys, orang lain di luar hubungan kamu kadang yang bisa lihat. Pacar kamu cantik sih, tapi kepribadian ngilfilin. Kamu itu udah dibutakan cinta, yang sebenarnya tidak buta. Cinta-nya para pria itu melihat. Mereka jatuh cinta dengan mata, fisik dulu. Kenyamanan nomor dua.

Lain halnya wanita, mereka jatuh cinta melalui telinga.

Denger-denger, tuh cowo tajir lho… 😀

Hahaha. Enggak gitu juga ding. Maksudnya karena wanita bisa jatuh cinta dengan pria yang membuatnya nyaman dengan mendengarkan keluh kesahnya.

Ada salah satu film Hollywood yang pernah mengangkat tema seperti yang gue bahas ini. Judulnya The Truth About Cats and Dogs. Film komedi tahun 1996. Berkisah tantang seorang wanita yang sadar betul, kalau pria umumnya lebih tertarik dengan fisik yang cantik, maka ia yang sebenarnya pintar jadi enggak PD dalam urusan asmara.

What happens if you meet someone with whom you have almost everything in common, you find yourself falling for them..but the sparks of romance just don’t seem to fly on a physical level? ~ The Truth About Cats And Dog

Wanita yang dikisahkan bernama Abby ini terlibat blind date dengan seorang pria (Brian), tapi hanya melalui telepon. Komunikasi yang rutin dan nyambung membuat keduanya saling nyaman. Dan ketika tiba saatnya mereka akan bertemu, si Abby yang panik meminta tetangganya yang seorang model cantik,  Noelle, untuk memerankan dirinya. Sungguh apes nasib Abby, Brian langsung jatuh cinta pada Noelle. Di pikirannya, sudah pintar cantik pula. Perfect!

Well, no body perfect. Ada kelebihan pasti ada kekurangan. Pun sebaliknya. Noelle tidak pintar seperti Abby tapi bisa mendapatkan Brian karena kecantikannya. Merasa terancam Abby pun muncul, sehingga Abby dan Noelle jadi bertukar peran. Brian tetap memilih Noelle. Abby patah hati dan akhirnya membongkar kedok masing-masing. Brian jelas marah dan kecewa. Dengan cara yang smart, Abby menjelaskan semua dramanya ini dengan melemparkan pertanyaan menohok kepada Brian.

“OK. So say you meet one of these no sparks women, and you really take the time to get to know her and then you become intellectually stimulated by her. You just really enjoy her personality, thereby igniting all your lust and passion. Have you ever thought about that?

“Dan meskipun kamu jatuh cinta akan kepribadian seseorang. Jika harus terdampar di suatu tempat terpencil, bahkan out of space, kamu pilih mana yang akan menemani kamu? Time Magazine’s Woman of the Year atau Playboy’s Playmate of the Year?

Masih akan memilih ‘personality’? Jawabannya sudah jelas. Berlaku untuk semua pria normal lain.

Dan nyinyiran Abby rupanya menampar Brian. Brian merasa ditipu mentah-mentah dan marah banget. Keduanya kemudian saling menjauh. Tapi akhirnya Brian menyadari sesuatu.

Saat Brian melihat Noelle, dia jatuh cinta head-over-heels karena wanita ini akan jadi pasangan yang sempurna. Cantik dan pintar. Dan saat tau bahwa si cantik dan si pintar yang sudah membuatnya jatuh cinta ini ternyata dua orang yang berbeda, Brian pun mulai ragu. Jadi siapa yang sebenarnya telah membuatnya jatuh cinta? Then he discovered the not-so-simple truth about the woman he loves..

Alasan Brian jatuh cinta pada Noelle adalah karena dia pikir Noelle itu adalah Abby. Sebenarnya Abby lah yang ia cintai, karena kepribadiannya.

You know how someone’s appearance can change the longer you know them? How a really attractive person, if you don’t like them, can become more and more ugly; whereas someone you might not have even have noticed… that you wouldn’t look at more than once, if you love them, can become the most beautiful thing you’ve ever seen. All you want to do is be near them. 

Pada akhirnya pria akan lelah dan end up dengan wanita yang benar-benar memberikan kenyamanan. Benar kah begitu? Itu kan hanya terjadi di film. 😀

Entahlah, pesan moralnya. Cintailah wanita bukan karena kecantikan fisiknya. Percayalah seorang wanita akan cantik jika kamu tulus mencintainya.

Dan lewat tulisan ini gue juga mengingatkan, pada gue sendiri dan juga siapa aja, mungkin sudah saatnya kita melupakan dia yang ideal dan mulai lebih realistis.

Sometimes, that imperfect person could be perfectly fits you. 🙂

P.S

Dan jangan lupa banyak-banyak berdoa semoga masih ada kaum ‘Adam’ yang lebih mengutamakan kecantikan hati seorang wanita. Tsaaaah. 🙂

 

 

 

Advertisements

Kita (Pernah) Tertawa

-6 Januari 2011-

Kita masih disini 
Lepaskan semua untuk mengerti 
Dan bila semua terhenti 
Biarkan aku tetap menanti

“Sebuah buku?”

“Buku jerapah, begitu seharusnya buku ini disebut.”

“Pasti isinya gambar-gambar jerapah ya? Ha ha ha.”

“Ha ha ha. Enak aja. Itu loh cover depannya bergambar jerapah, jadi namanya buku jerapah. Isinya sih…”

“Apa?”

“Buka aja dan baca sendiri. Eh tunggu, bacanya dalam hati ya. Aku malu…”

“Justru aku akan membacanya keras-keras. Ha ha ha.”

“Jangan! Ah kamu tuh selalu begitu. Mana pernah menuruti kata-kataku.”

“Ha ha ha. Bodo!”

“Ha ha ha.”

“Baiklah aku buka, tapi aku tetap akan membacanya dengan suara ya. Pelan aja kok.”

The Story Of Us…hmmm..semacam diary?”

“Bukan sekedar diary. Di buku ini hanya kutulis kejadian-kejadian lucu yang pernah kita berdua alami. Sengaja hanya ditulis bagian yang membahagiakan saja. Only open up when I’m down. Ketika sedang sedih, aku akan membacanya dan mulai tersenyum. Bahkan tertawa. Ayo baca cepat.”

“Baiklah. 5 Juni 2010. 8 PM. Sebuah notifikasi kuterima di blackberry-ku. Ternyata itu kamu! Akhirnya kamu chatting-in duluan setelah aku menunggumu dari kemarin. Seperti biasa, kamu mengeluhkan yang harus lembur saat orang-orang sedang liburan weekend. Mencoba menghiburmu, akupun dengan tingkat kepercayaan diri meningkat 50%, mengirimkan foto penambilan baruku. Rambut keriting. Lalu komenmu hanya singkat. Gue suka lihat lo senyum.”

“Oke itu kan lagi lembur, capek. Foto yang aku lihat kayaknya fatamorgana deh. Aku pikir itu foto Megan Fox. Ya jelas suka. Ha ha ha.”

“Kyaaaaa! Reseeeee. Ha ha ha.”

“21 Juni 2010. 10 PM. Was it a date or what? Akhirnya kamu ajak aku pergi di malam minggu, just the two of us. Alasannya minta ditemenin beli modem! Makanya kita nge-date di Ambas! Oh yeah, nice try! Kamu bilang tadi, kita kayak orang pacaran aja berduaan. Dan bodohnya, kenapa aku tadi cuma tertawa! Itu kamu mancing kan?”

“Eh siapa bilang mancing. Dulu itu cuma bercanda tau. GR banget sih. Ha ha ha.”

“Hah! Kamu tuuuh. Ha ha ha. Itu masih ada lanjutannya, the best part-nya belum…”

“Setelah selesai menyantap pizza yang akhirnya kamu habiskan sendiri. Maaf ya, aku jaim. Kita pun berbincang cukup lama. Kamu benar-benar membiusku. Aku betah dibuat berlama-lama denganmu. Dan ketika tiba saatnya kamu harus mengantarku pulang, aku sedikit tak rela. Dan kenapa kamu membawa helm bukan SNI! Kita jadi ditilang polisi kan tadi.”

“Ha ha ha ha. Aku ingat ini. Ha ha ha. Ya ampun, memalukan. Sialan tuh polisi. Karena enggak ada uang kecil kan aku bayar 50 ribu tuh. Kampret.”

“Ha ha ha. Meski sudah setahun lewat, aku enggak bisa lupa. Lucu banget!”

“Aku lompat-lompat aja ya bacanya. Banyak banget, bisa-bisa sampai kafenya tutup belum kelar juga nih diary dibacanya. Ha ha ha.”

“Lebay!”

“Nah ini lucu. Kejadian ban motorku bocor sampai dua kali. Kamu sih gendut. Enggak kuat kan ban-nya. Ha ha ha.”

“Heh! Enak aja. Itu dasar aja si abang di tambal ban yang pertama enggak becus. Jadi bocor lagi kan. Tapi jadinya kita berdua jalan menelusuri trotoar gitu. Romantis ya.”

“Romantis apanya? Parah itu. Ha ha ha. Oke, lanjut baca.”

“Hmmm boneka jerapah. Kamu senang banget ya sama jerapah yang aku kasih? Itu kan biasa. Lagipula koleksi jerapah kamu sudah banyak banget dan lebih bagus. Tau enggak, itu kan murah. Dan yang beliin si Mamah, aku minta tolong dia cari. Males banget cowok-cowok keliling mall cari boneka. Jerapah pula. Dari dulu aku sudah mikir kok hobi kamu aneh banget. Biasanya cewek suka babi. Ha ha ha.”

What? Jadi selama ini aku kena tipu kamu? Ish, kenapa enggak cerita yang sebenarnya sih.”

“Nih aku cerita. Ha ha ha.”

“Cubit nih. Ha ha ha.”

Kita tertawa kita bicara 
Untuk merasakan tentang kita

“4 September 2010. Hari jadi… “

“Kok berhenti bacanya?”

Dan terlepas kita terdiam 
Untuk melupakan

“Enggak kerasa ya, waktu cepat berlalu.”

“Dan kamu masih saja diam.”

“Kamu menuntut jawaban apa lagi?”

“Aku tak ingin berpisah darimu.”

“Siapa yang memintamu pergi? Tetaplah di sampingku.”

“Untuk apa aku tetap di sampingmu, jika tak dapat memilikimu. Kamu pikir aku dapat bertahan dengan segala perih yang kurasa ini?”

“Memiliki? Untuk apa memiliki jika pada akhirnya kita berdua pasti berpisah. Ah kumohon jangan menangis. Aku enggak bisa melihatmu menangis.”

“Aku sayang kamu, sungguh. Dan penderitaan hati ini, mungkin hanya dapat berakhir dengan memiliki mu seutuhnya.”

“Sudahlah. Kita seharusnya enggak membahas ini lagi.”

“Diam lah terus, tapi waktu tak bisa menunggu. Simpanlah buku jerapah ini. Suatu saat kamu merindukanku, bacalah lagi. Kuharap kenangan kita di buku ini dapat membuatmu kembali padaku.”

“Sudahlah….”

“Baca dan tertawalah. Tapi kamu hanya akan tertawa sendiri. Karena tak akan ada lagi kita. Aku tak bisa terus di sampingmu. Bersamamu, sampai kamu menemukan orang lain…yang seiman.”

“Aku tau kamu tidak mempermasalahkan perbedaan ini, tapi buatku penting. Maafkan aku, Mei…”

“Aku pergi sekarang. Jaga buku jerapah ini baik-baik ya.”

Waktu terus berlalu 
Tinggalkan kita masih membisu 
Wajahmu tetap begitu 
Biarkan semua tetap membeku

***

Jakarta, 28 Juli 2012.

Sebuah kisah tentang dua insan yang pernah tertawa bersama. Terinspirasi dari lagu ‘Kita Tertawa’ oleh Peter Pan. Untuk #CerpenPeterpan lainnya silakan cek blog Wira Panda.