The Hopeless Romantic Traveler – Getaway to Middle East (Track 2)

[Previously on The Romantic and Hopeless Traveler: Getaway To Middle East, kisah awal dibalik getaway-nya gue ke Timur Tengah]

 

The snow falls down in Mall of Emirates, the sun sets in Jumeira Beach Park. You’re just my past, that i try hard to not keep on looking back. #rhyme*

 

But i do still remember, in every detail.

 

[5 November 2010. Di perjalanan menuju Jakarta]

Menatap ke luar jendela taksi sambil tersenyum. Ya Allah, terima kasih untuk keberanian yang Kau munculkan padaku hari ini sehingga aku dapat melakukan perjalanan ke Hongkong  besok dengan pikiran tenang.

 

Notifikasi YM muncul di layar blackberry gue. Chat dari dia.

 

“Mi, makasih ya udah jauh-jauh dateng, seneng banget”

“Haha, 3 jam perjalanan hanya untuk 1 jam ketemu , maluuu x_x”

“:)”

“Ah udah kangen duluan nih, mau pergi lama akunya, nanti tetep kontak-kontak oke”

“Halah, cuma seminggu aja kali, sebentar itu, have fun ya di sana. Sekarang hati-hati di jalan”

 

[18 November 2011. Di perjalanan menuju Dubai dari Abu Dhabi]

Tidak ada lagi percakapan antara gue dan dia yang menemani perjalanan gue di malam hari. Now and then. Dan gue pun tertidur pulas di bus.

 

Discover Dubai

 

The voyage of discovery is not in seeking new landscapes but in having new eyes. – Marcel Proust

 

Dulu waktu temen gue Dendi pulang dari traveling 9 hari 3 negara setelah patah hati gue pernah tanya, “Lalu, setelah akhirnya nekat backpacking, sakit hati lo ilang den? udah bisa move on?” Dendi ngga langsung jawab, dia hanya bilang “jawabannya ada di The Nekad Traveler mi” **

 

Beberapa minggu setelah itu, Dendi ngga terlihat galau lagi, terlihat semangat, meskipun ngga bisa bohong, belum 100% move on (bener ngga den?). Satu hal yang gue salut dari Dendi, kehilangan seseorang ngga bikin dia lantas kehilangan selera humor. Sama kayak gue sih, ngga kehilangan selera makan :p

 

Lalu apa sih yang didapat dari bepergian sampe banyak orang yang memutuskan untuk travel sebagai salah satu cara untuk move on? Apa tujuan the brokenhearted people melakukan traveling? Runaway from life’s problem? No darling.

 

Tiap orang punya motivasi yang beda sih. But for me, I need something new. I want to see different things, so I can restart my life.

 

Gue butuh hal-hal baru yang ngga pernah gue lihat, tau atau dapat sebelumnya. Ngga cuma tempat, tapi juga budaya, sosial life, atau apa saja yang berbeda, ya seperti di Timur Tengah ini (tapi ngga sampai muluk-muluk pingin dapat pacar baru sih di sini).

 

Dan memang banyak hal baru yang gue temui di Land of Arabia ini.

 

Pertama. Desert. Yang ada gurun cuma di Arab, Jenderal. Jadi belum ke Arab namanya kalau belum main ke Gurun. Safari Desert mungkin wisata paling laris manis di Dubai. Menikmati sunset di pantai udah biasa, kalau di gurun baru luar biasa. Everybody wants to walk on desert. Everybody wants to ride a camel.

 

On the sands of Desert

 

Kedua. Everybody’s working on Sunday. Have i told you lately that in Arab, Sunday is Monday? Yup, hari pertama dimulai dengan hari minggu. Jadi aktivitas kerja, bisnis, sekolah dll dilaksanakan pada hari minggu. Hari Jumat dan sabtu adalah hari libur karena jumat harinya para cowok untuk melaksanakan ibadah jumat. So in Middle East, we will never hate Monday.

 

Ketiga. Glamour in black. Gue di Dubai ini dalam rangka kursus dan kebetulan pesertanya mayoritas berasal dari Abu Dhabi serta kebanyakan wanita. Gue dan teman gue satu-satunya orang Asia di Dubai. Ada 5 wanita muda asal Abu Dhabi yang semuanya fresh graduated, mereka kerja di perusahaan oil company terbesar di Abu Dhabi. Sesuai tradisi, selama kelaspun mereka semua memakai abaya hitam dan nyaris gue ngga bisa membedakan kelimanya. Di pikiran lo pasti mereka berlima ngga fashionable banget dengan jubah hitam yang setiap hari mereka kenakan.

 

No guys they’re not!

 

Mereka tetap bisa tampil gaya. Abaya hitamnya bermacam-macam hiasannya dan keliatan mewah serta elegan. Yang bikin gue dan teman gue shocked dan jadi bertanya-tanya berapa sih gaji mereka, setiap hari tas mereka ganti dan gue bisa liat jelas merk tasnya ya. Longchamp, DKNY, LV, etc. Pertanyaan kedua, itu KW super apa asli (kalau pertanyaan ini terlontar beneran bisa langsung dideportasi kayanya gue sama mereka).

 

We should learn from Arabic women that you can be still looked fabulous without breaking the tradition.

 

Keempat. No photo please. Cewek-cewek Arab ngga mau difoto! Astaga, can you imagine live without photo? Oke informasi keempat ini relatif ya, mungkin buat kalian ngga penting banget, tapi buat gue yang kadar narsisnya setinggi jambul Syahrini jelas bikin shocked.   

 

Kelima. Most of everything. Dubai itu perwujudan manusia banget. Ngga ada puasnya. Dia kalau buat sesuatu mesti yang ‘ter’. Dubai mengklaim memiliki mall terbesar di dunia (Mall of Dubai), gedung tertinggi di dunia (Burj Khalifa), Hotel termahal di dunia (Atlantis Hotel), bendera terbesar di dunia, pasar terbanyak di dunia (yang ini karangan gue, habisnya banyak banget pasar tradisional disini, disebut ‘souk’, ada gold souk, spicy souk, old souk dan masih banyak lagi)

 

World’s Biggest Mall   Atlantis Hotel. Dubai.  Burj Al Arab

 

Rata-rata semua yang menarik di Dubai itu ‘Man-Made’. Maksudnya Dubai ini kalau ngga ada gedung-gedung atau atraksi yang bikin kita berdecak kagum ya ngga ada apa-apanya. Siapa yang sangka kota yang tadinya gurun bisa disulap jadi semetropolis ini. Kalau lo tipe orang yang lebih suka menikmati keindahan hijaunya alam, di Indonesia banyak.

 

Dubai juga kreatif membuat sesuatu yang menarik para turis untuk datang, misal dinner di cruise di sepanjang Dubai Creek. Di Dubai juga ada salju, tepatnya di Mall of Emirates. Mirip-mirip snow world tapi luas banget, dan kita bisa main ski di situ, ada kereta gantung juga, serasa di Swiss lah kira-kira (yakali udah pernah ke Swiss).

 

Sky Dubai at Mall of Emirates

 

Untung saja menjelajahi Dubai melihat hal-hal baru lebih mudah dibanding Abu Dhabi, karena sistem transportasi Dubai sudah canggih. Mereka punya Metro***. Dari hotel kami menuju stasiun terdekat untuk menuju tempat – tempat yang ingin kami kunjungi. Jalur metro ini hanya ada dua dan ngga sulit, jadi gue dan temen gue hanya bermodalkan peta dan itinerary yang sudah kami prepare di Jakarta ngga mengalami kesulitan berarti di sana.

 

Deira Station, the nearest from my hotel.    Waiting for the next metro.

 

Seminggu trip gue di Dubai diawali dengan mengunjungi Mall of Dubai. Di mall ini ada aquarium raksasa macam seaworld dan underwater zoo. Sama aja dengan di negara lain qo hanya lebih besar aja. Yang paling gue suka di sini adalah nonton pinguin-pinguin jalan berbaris dan kemudian satu persatu loncat ke air terus berenang. Ah qo gue ngerasa damai liatnya. Gue minta difotoin sama temen gue dengan latar si pinguin yang lagi renang dan hasilnya bener-bener jadi foto favorit gue banget. Si pinguin seperti mau cium gue! Ahaha apa gue keliatan segitu kangen diciumnya? (should I answer this question? No? Oke bye)

 

He tried to kiss me 🙂

 

Selain aquarium yang menarik di sini adalah dancing fountain yang besar banget dan bagus banget (maap-maap nih, yang di GI kalah banget hehe). Tiap jamnya si air menari dengan gaya yang berbeda dan musik yang beda.  Dan waktu gue nonton, lagunya shit banget, Time To Say Goodbye-nya Andrea Bocelli. Bahkan Dancing Fountain aja mendukung proses move on gue. What a mestakung (semesta mendukung)!

 

The View of Dancing Water Fountain from top

 

Oke gue bohong. Water fountain di GI bagi gue tetap lebih bagus dari di Dubai karena gue dan dia pernah sama-sama menikmati pertunjukan itu. Hari itu bertepatan dengan ultahnya dia. Gue yang ajak dia ke GI. Kami merayakan ultah dia dengan makan, main fun zone kayak jaman SD dulu main di Time Zone (ketauan banget gue anak 90-an yang pernah hobi ngumpulin tiket timezone untuk dituker sama bermacem hadiah), karoke berdua, main rafting, dan photo box (ngga usah menghina deh, kalau kangen photobox yang unyu-unyu gitu gih sana ke GI). Terakhir gue bawa dia nonton water fountain. Itu pertama kalinya dia liat dancing water sampai terkagum-kagum. Gue ngga akan pernah lupa setelah itu dia menuliskan ‘birthday thanks especially for Mia’ di status facebooknya. You’re Welcome 🙂

 

Oh crap, kenapa setiap tempat di Dubai masih mengingatkan gue sama kenangan manis. Raga gue memang di Dubai, tapi hati gue sepertinya masih tertinggal di Jakarta. Super crap!

 

When you’re on trip to somewhere but you’re heart isn’t totally traveling with you, it’s probably that your heart is still jetlagged.

 

Sailing over Dubai’s Creek

 

I’m not afraid of storms, for I’m learning to sail my ship. – Louisa May Alcott

 

Going along Dubai creek with boat & enjoying the evening sky could be romantic thing if you were with your lover. Astaga udah beberapa hari di timur tengah tapi hati gue masih jetlagged aja.

 

Gue inget sama tekad awal gue pergi ke Dubai, ini perjalanan pertama gue tanpa dia di sisi gue. Before Dubai, every traveling is a-wish-you-were-here-trip. Setiap gue pergi ke suatu tempat yang bagus gue selalu berdoa dalam hati “Seandainya dia ada di sini, suatu saat kita akan kesini ya. Amiin”

 

Sekarang, ngga ada gunanya lagi. Gue jauh-jauh sampai sini untuk meyakinkan diri gue kalau keputusan gue untuk pergi melepaskan hal-hal yang hanya membuat gue sedih sudah tepat. Lebih baik menjauh daripada memaksakan kebersamaan dengan orang yang hatinya ngga pernah bersama kita kan. Gue anggap masalah pathetic gue ini kayak badai, ya sih badai pasti berlalu, tapi kan kita ngga bisa diam aja nunggu badainya berhenti, gue harus belajar untuk terus berlayar mengarungi bahtera kehidupan (sounds wrong ngga sih? or sounds like Mario Teguh?)

 

So here we go. Gue dan teman gue pergi ke Al Ghubaiba Water Transport Station untuk menikmati kota Dubai di malam hari, menelusuri Dubai’s Creek menggunakan perahu kecil yang disebut Abra. Abra ini sebenarnya alat transportasi seharga 1 Dirham**** yang digunakan untuk menyeberangi sungai. Tapi karena unik dijadikan daya tarik wisata juga oleh Dubai. Ancol mana Ancol?

 

 

Al Ghubaiba Water Transport Station   Agra (boat)

 

 

Puas mengarungi Dubai’s Creek gue mengelilingi pasar tradisional yang terletak di dekat dermaga. Deira Old Souk yang mengingatkan gue sama tayangan bulan puasa tentang sejarah Nabi, yang menggambarkan kota –kota di arab jaman dahulu yang bangunannya sederhana tapi tinggi dan tak beratap juga banyak pohon palm-nya.

 

Deira Old Souk

 

Di pasar itu dijual berbagai barang untuk oleh-oleh. Kami berdua sempat istirahat sejenak di restoran sambil mengisap shisha untuk kemudian lanjut hunting barang-barang unik di pasar ini.

 

Shisha-ing at Deira Old Souk

 

Guess what? Gue menemukan sepatu yang diborong di pasar tradisional Abu Dhabi sama Carrie di STC 2! Sepatu flat hand-made dengan rajutan khas timur tengah. Tapi gue ngga kayak Carrie yang borong semua sepatu di toko itu ya, satu aja gue nawarnya setengah mati. Sepatu yang model-model begitu di Ambasador paling mahal juga 50 ribu udah dapet. Ini dijual 250ribu paling murah sama si penjual asal India. 15 menit gue nawar akhirnya dapat harga 150rb. Horeeee!

 

Sepatu yang dibeli Carrie di STC 2

 

Top of the world

 

 Your love puts me on the top of the world. – The Carpenter (Top of The World)

 

Allah bener-bener cinta sama gue. Ngga ada habisnya gue bersyukur sama lagi-lagi keberuntungan yang gue dapet. Puncak keberuntungan gue di Dubai adalah bisa berada di puncak tertinggi dunia. Masuk ke Burj Khalifa for free!

Gue sama temen gue emang ngga niat untuk masuk ke Burj Khalifa mengingat harganya yang mahal. Tiketnya seharga 400 Dirham atau sejuta! Kalau mau beli jauh-jauh hari katanya sih bisa dapet 100 Dirham (Rp250,000). 1 tiket untuk menaiki lift langsung menuju ke lantai 124. Di lantai tertinggi tersebut bentuknya lounge, jadi gedung tertutup, ngga seperti Macau Tower yang terbuka. Ya emang harus tertutup lah ya, nanti kalau ada yang bunuh diri gimana coba? Eh tapi apa ada yang mau bayar sejuta untuk bunuh diri? Demi gengsi barangkali.

 

Dan di gedung tertinggi ini adalah titik dimana gue ngerasa this is the right time untuk bertekad move on se move on-nya. Karena di kasih jalan banget yang tadinya ngga niat masuk tapi beruntung gue ketemu seseorang di sana yang baik hati yang bikin gue bisa naik ke Burj Khalifa dan melepaskan semua beban yang ngeganjel di hati gue.

 

 

Gimana bisa? Penasaran?

 

Dubai has the tallest Burj, also has the exotic desert. The story will be continued, to the next part. #rhyme

 

World’s tallest tower

 

*       Hashtag di twitter yang dipopulerkan oleh Fatima Al Kaff dan Dwika Putra, bermain kata-kata yang berirama

**     Ayo yang belum baca The Nekad Traveler silahkan diintip Facebooknya Dendi 🙂

***   Semacam MRT (Mass Rapid Transportation) di Singapore

**** 1 Dirham senilai kurang lebih Rp2,500,-

The Hopeless Romantic Traveler – Getaway to Middle East (Track 1)

“Honey, if it hurts so much, why are you going traveling?”

“Well.. I have a broken heart. Not a broken spirit” 🙂 *

 

Pernah nonton Sex and The City 2? Eat, Love, and Pray? Atau pernah baca Honeymoon with My Brother? The Nekad Traveler? Cih bangga banget pasti ya temen gue si Dendi disejajarkan sama Carrie Bradshaw, Elizabeth Gilbert, dan Franz Wisner haha. Yup, semuanya bercerita tentang perjalanan medis alias perjalanan untuk mengobati hati yang terluka (aiih).

 

Butuh uang yang banyak dan tekad yang bulat untuk memutuskan melakukan suatu perjalanan, atau modal nekat kayak temen gue si Dendi itu. Kalau gue? Well lo boleh panggil gue the lucky bustard. Gue emang biasa travel karena urusan pekerjaan, bisa dihitung deh traveling gue yang dibiayai dengan uang gue sendiri. Dan beruntungnya gue tahun ini dikasih kesempatan sama kantor untuk kursus ke Dubai. Yes baby, The Middle East, where the sexysm and misogyni are alive. Dan kenapa juga tanggal berangkatnya qo ya bertepatan sama gue yang lagi patah hati? Gue cuma bisa jawab: God is good.

 

I used to travel to see the world hoping that someday You and Me can travel together. But now I travel to erase You from my heart and my mind – Kata tekad gue

 

Gue akhirnya melakukan travel untuk pelarian dari sakit hati gue juga. Dan ini pertama kalinya dalam hidup gue traveling sebagai bagian dari proses recovery. Ya emang sih masalah gue nggak sesetres Carrie yang merasa kehidupan cintanya dengan Mr. Big monoton dan Jennifer yang mudah jatuh cinta sama pria kemudian sakit hati. Masalah gue juga nggak sengenes Franz yang ditinggal nikah di altar dan Dendi yang … (sudahlah, pokonya kasian deh hehe -piss den-). Tapi si empunya masalah ya pasti merasa masalahnya itulah yang paling berat bagi dirinya dong. Semua orang di muka bumi ini kan tipe orang yang ‘lo ngga tau sih beratnya jadi gue’. Everyone you meet in this world are facing some form of battle. Jadi sah-sah aja ya kalau gue ngerasa menderita banget dengan masalah patah hati yang gue alami ini sampai-sampai perlu juga pergi ke suatu tempat yang jauh, berharap rekaman gambar dari setiap kejutan menyakitkan dalam hidup gue akhir-akhir ini ngga akan ngikutin gue sampai ke Dubai untuk gangguin pikiran gue. Karena kan kalau udah ngelewatin lautan katanya ngga mempan (lo pikir santet apa?).

 

Dan gue excited banget sama perjalanan kali ini. Timur Tengah Man! It’s an expensive and luxury trip. Sudah sewajarnya gue bahagia dan ngga sedih lagi dong. It would be the perfect getaway! Nyatanya, masih aja gue galau. H minus 1. The galauest ever feeling before traveling. Kejadian setahun yang lalu kebayang-bayang lagi. Setahun kemarin, bulan November juga, gue travel ke Hongkong yang juga dinas dari kantor. H-1 ke Hongkong, demi menyemangati seseorang yang sangat gue sayang, gue rela menempuh 3 jam perjalanan karena macet: Jakarta – (maaf daerah harus disembunyikan) – Jakarta untuk 1 jam menghabiskan waktu bersamanya. Dan setelah itu gue berangkat ke Hongkong dengan perasaan senang, karena pas ketemuan itu pertama kalinya juga gue sama dia…(ada deh, kepo banget sih :p)

 

Like my friend said, it was so last year ya Mi, jangan sampe ganggu trip lo kali ini deh. Well she’s right, but I’m wrong. Tahun lalu, gue di mana dan dia di mana aja bisa berduaan dulu sebelum gue berangkat, tahun ini? For God’s sake kami berada dalam satu gedung kantor, dan di pagi itu kami bertemu dan bedanya, kami berdua sekarang adalah dua orang yang berbeda**. What’s more pathetic than that?

 

4000 Miles Apart (Jakarta – Dubai)

 

I guess we’re at our best when we’re miles away – Madonna (Miles Away)

 

18 November 2011 terbanglah gue ke Dubai. Gue terharu banyak teman-teman gue yang melepas dengan ucapan semoga selamat sampai tujuan atau selamat bersenang-senang di sana (meski sebenarnya ada “oleh-oleh ya mi” di setiap “have fun di Dubai ya mi” tapi gue senang dan tidak berkeberatan membawakan mereka oleh-oleh, sungguh!). Dan 8 jam perjalanan malam gue lewatin tanpa perasaan sedih karena ketutup sama noraknya gue yang baru pertama kali naik pesawat duduk di business class, hihi malu-maluin ya. Masa sih gue harus mikirin orang yang ngga sedetikpun mikirin gue di kursi pesawat yang nyaman dan ada automatic massage-nya ini. Gengsi dong. “Ah tapi pasti masih kepikiran dia kan? Ayo jujur..jujuuuur..” Goda si devil side of myself. Reseeee, ya jujur sih masih kepikiranlah, tapi dikit aja, saat orang-orang udah pada tertidur lelap di pesawat, gue ngga ada habis-habisnya bersyukur bisa pergi sejauh mungkin karena gue butuh waktu untuk menenangkan diri, dia pun juga ngga harus ngerasa beban kalau ketemu gue di kantor selama gue di Dubai kan. Jika dekatnya jarak membuat kami selalu bertengkar, jauhnya jarak adalah hal terbaik, ngga mungkin berantemlah minimal.

 

Jam 11 malam waktu Dunia Bagian Timur Tengah*** gue akhirnya sampai Dubai. Terpujilah kantor gue yang mau membiayai perjalanan ini mahal-mahal lewat business class jadi gue ngga perlu antri panjang-panjang di Imigrasi. Dan hey, ini negara Arab, wanita diberi keistimewaan dengan antrian pemeriksaan visa khusus wanita, gue bisa melewati proses administrasi dengan lebih cepat. Dan yang pertama kali gue pikirin setelah menginjak negara Arab ini adalah: Aneh ya liat cowo-cowo make rok gini, jalan aja susah apalagi lari, bisa banget kayanya ngejar cowo Arab (yakali ngegebet semudah kejar dalam arti sebenarnya. Hfff).

 

Sweet Escape to Abu Dhabi

 

المسافر له في البحر طريق

(Transliteration: Al-mussafer lahu fil-bahar tireeg)

 

A traveler has a path in the sea – Arabic Proverb ****

 

 

19 November 2011, setelah memastikan bisa check in di hotel yang ditentukan kantor selama kami di Dubai (JW Marriott dan sekali lagi terpujilah kantor gue), jam 10 pagi gue dan teman gue satu kantor yang juga dinas bareng gue langsung menuju Abu Dhabi, ibu kota negara Uni Emirates Arab (UEA). Gue bisa mampir ke Abu Dhabi ya lagi-lagi karena beruntung banget gue punya sepupu yang kerja di sana dan 15 tahun kurang lebih ngga pernah ketemu! Udah kayak adegan di Termehek-mehek yang akhirnya berhasil menemukan anggota keluarga setelah perpisahan bertahun-tahun, gue dan sepupu gue berpelukan erat dan lama, di parkiran hihi. City tour di Abu Dhabi difasilitasi oleh my beloved cousin bareng her lovely Pinoy friend yang kita panggil Madame. Jadi kami jalan-jalan berempat dengan mobil (plus supirnya) yang berhasil dipinjam sepupu gue dari temannya. Ah sepupu gue ini emang supel, jadi banyak teman dimana-mana dan bersedia nolongin. Karena  agak susah ya transportasi umum di Abu Dhabi, jadi lagi-lagi gue merasa beruntung banget. So, berasa meremake film Sex and the City 2, gue bersenang-senang di Abu Dhabi, just like Carrie and her ganks did!

 

Karena keterbatasan waktu tujuan utama kami di Abu Dhabi adalah Masjid kebanggaan di sana yaitu Sheikh Zayed Mosque dan Ferrari World. Tepat jam 12 siang sampai ke Masjid Raya Abu Dhabi ini yang ternyata luar biasa indahnya, luar biasa besarnya, luar biasa mewahnya. Subhanallah dan Alhamdulillah gue bisa ngerasain sholat Dhuhur juga (terharu). Dan gue make Abaya dong, jubah hitam yang dikenakan wanita-wanita di Abu Dhabi, abaya wajib dipakai semua wanita yang ingin memasuki Masjid meski hanya foto-foto. Sesuatu yang exciting buat gue. Beda aja, jadi gadis timur tengah sesaat, tertutup rapat sehingga panas matahari yang menyengat dan suhu udara 31 derajat celcius saat itu diserap dengan amat sempurna oleh abaya hitam ini menimbulkan keringat yang keluar dari tubuh gue. Dan gue malah ngerasa….sexy…ahhhiy.

 

At Sheikh Zayed Mosque, Abu Dhabi, women must wear Abaya.

 

Setelah makan siang di Mall of Abu Dhabi (ternyata makanan di Abu Dhabi mahal-mahal sampai gue hanya makan Carl’s Junior di Food court), perjalanan dilanjutkan ke Yas Island di mana ada Yas Marina Formula One Circuit yang di dalamnya ada Ferrari World. Gila! Gue ngga bisa nutupin betapa happynya gue bisa melewati lintasan yang juga dilalui pembalap kelas dunia, Schumi dan Kimi***** sampai-sampai ingin rasanya gue turun dan sujud syukur di tengah jalan lalu menuliskan gede-gede di lintasan tersebut “Mia was here” lalu gue diamankan security UEA ya karena bertindak ngga waras.

 

Di Yas Island inilah terdapat Ferrari World, yaitu Ferrari Theme Park, permainan roller coaster yang kecepatannya seperti mengendarai Ferrari saat balapan. Keren banget ya. Tapi nyali dan kantong gue mendadak kompak ciut. Ngga sanggup gue harus sport jantung naik roller coaster tercepat di dunia dan harga tiketnya ngga reasonable buat anak ekonomi kayak gue, kalau di rupiahin sekitar 600 ribu rupiah dan hanya 1 permainan. Ah, gue meratapi kondisi keuangan gue hiks hiks. Tapi bukan Mia namanya kalau ngga punya cara having fun di Ferrari World, cukup menyalurkan hobi foto dan belanja aja sudah bikin girang bukan kepalang.

 

Thx to my beloved cousin who made this happened. Lotta kisses….:*

 

Puas muterin Abu Dhabi saatnya kembali ke Dubai. Jam 6 sore di terminal bus gue berpisah sama sepupu gue (ah, because of you, my dreams are coming true sweety)

 

[Next on The Romantic and Hopeless Traveler: Discover Dubai, catatan perjalanan gue seminggu berikutya di Timur Tengah]

 

*         Terinspirasi dari serial Sex and the City, pertanyaan yang ditanya Carrie pada Samantha, tepatnya begini:

          “Honey, if it hurts so much, why are you going shopping?”

 

          “Well.. I have a broken toe. Not a broken spirit” 🙂

**       Kisah sebenarnya ngga perlu dipublish, ngga enak ngumbar di social media

***     Beda waktu UEA dengan Indonesia, UEA 3 jam lebih lambat

****   Maksud proverb ini untuk memberanikan diri seorang traveler dalam menghadapi kesulitan selama perjalanan

bahwa Tuhan selalu melindungi mereka yang memiliki keyakinan

***** Mantan Pembalap Ferrari, keduanya favorite gue