A Hopeless Romantic Traveler: Senja Di Batam

Prolog:
Awal gue sering traveling ke luar kota adalah sejak gue memiliki profesi sebagai auditor di salah satu KAP Big 4 di Indonesia. Gue bekerja sejak lulus kuliah tahun ehm 2006 (ketahuan tua deh) dan sudah melalang-melintang traveling ke berbagai kota di Indonesia karena pekerjaan. Namun tak ada yang istimewa yang perlu diceritakan selain kisah cinta gue yang pernah terjadi di tahun 2008. Bukan, bukan tentang si koper yang sudah gue buang di Trave(love)ing. Pria yang gue kisahkan di sini adalah awal mengapa gue selalu menyukai dipanggil Mimi 🙂

***

Gambir, Suatu Minggu Sore Di Akhir 2008.

“Nah itu dia Damri-nya.” Gue spontan membuka pintu mobil, setelah melihat bus yang gue tunggu sejak 30 menit yang lalu akhirnya datang.

“Gue aja yang angkat kopernya, Mimi.” Suara pria yang sejak setengah jam yang lalu duduk di balik supir tiba-tiba menyaut.

Dung-dung, begitu biasa gue memanggilnya. Dan dia membalas memanggil gue dengan Mimi. Sebenarnya nama panggilan Mimi gue peroleh sejak tahun 2008 dari rekan sekerja gue yang bernama Ncus. Si Dung-dung ini lalu ikut-ikut memanggil gue Mimi karena menurutnya terdengar lucu.

Setelah mengeluarkan koper ukuran kabin pesawat dari bagasi mobilnya, ia lalu membantu menggeretnya sambil kami berjalan ke arah bus Damri, diiringi suara roda koper yang bergesekan dengan aspal jalan.

“Tiketnya siapin, lo kan suka ceroboh lupa naro barang.” perintahnya.

Gue membuka tas kecil tempat menaruh telepon genggam dengan merk yang juga dimiliki sejuta umat lainnya saat itu, kemudian mengeluarkan karcis bus yang sudah gue beli saat sampai di stasiun tadi. Lembaran kecil dan tipis itu lalu gue tunjukkan ke batang hidung Dung-dung sambil menjulurkan lidah padanya, “Nggak lupa dong, udah ditaruh di tempat yang gampang.”

Yang digoda hanya tertawa menanggapi ulah gue, lalu wajah chubby-nya berubah murung ketika sampai di depan pintu bus. “Maaf ya, cuma bisa anter sampe Gambir. Sebenarnya gue khawatir biarin lo sendirian sampai ke Bandara.”

Gue mencubit tangannya dengan gemas, “Gue udah sering terbang sejak belum kenal lo kali, biasanya juga sendiri. Hahaha.” Tertawa adalah cara gue menutupi perasaan sedih yang gue rasakan karena akan merindukannya selama seminggu ke depan dinas ke Batam.

Sesaat percakapan kami terusik oleh kondektur, yang mengambil koper berwarna biru muda gue dan memasukkannya ke dalam bus. Caranya mengangkat dengan asal membuat perhatian gue teralih dari Dung-dung lalu menegur pak kondektur, “Mas, hati-hati ya. Ada barang pecah belah.” Yang ditegur hanya mengangguk.

Setelah memastikan bawaannya aman, gue kembali tertuju pada pria di hadapan gue yang sedang terdiam menunduk.

“Hei, beneran gue gak apa-apa kok.” bujuk gue.

“Tapi gue pingin banget anter sampai Bandara, nemenin lo sampai boarding.” keluhnya.

“Gue gak apa-apa kok.” ujar gue sambil tersenyum yang mengundangnya untuk ikut tersenyum juga.

***

Hang Nadim, Minggu Malam.

Akhirnya boeing yang gue tumpangi mendarat setelah hampir 2 jam di atas udara. Gue sebenarnya paling enggak suka harus melakukan perjalanan sendirian, apalagi naik pesawat. Tapi gue enggak punya pilihan, pekerjaan sebagai auditor di salah satu KAP terbesar di Indonesia memaksa gue untuk sering terbang ke luar kota. Dan kali ini, terpaksa harus sendiri karena teman-teman gue sudah bertolak ke Batam seminggu sebelumnya.

Langit Batam hampir gelap, angin yang berhembus kencang dengan sekejap membuat rambut gue yang terurai berantakan. Gue berjalan terburu-buru memasuki bandara, yang termasuk kecil di kota industri dengan jadwal penerbangan cukup padat ini.

Begitu telepon genggam gue aktifkan kembali, sebuah notifikasi terdengar menandakan ada pesan SMS diterima. Ada dua kotak masuk, satu dari nyokap dan satu lagi dari sebuah nomor tak dikenal. Gue segera membalas nyokap dengan cepat, mengabari bahwa anak gadisnya sudah sampai dengan selamat. Pesan satunya lagi ternyata dari supir yang menjemput dan akan mengantar gue ke hotel.

Hampir saja gue menekan tombol last redial, sebelum teringat bahwa yang akan gue hubungi itu mungkin sedang enggak dapat mengangkat panggilan telepon. Akhirnya gue memutuskan mengirim pesan yang sama dengan yang gue kirim ke nyokap kepada Dung-dung.

Satu menit, gue yang mengenakan setelan jeans casual ini mematung di tengah hiruk-pikuknya bandara untuk menunggu balasan yang tak kunjung datang. Sambil menghela nafas panjang, gue kemudian bergerak menuju pintu keluar menerobos para supir taksi yang berburu mencari penumpang. Gue selalu memesan supir dari kantor klien untuk menjemput, karena enggak pernah berani mengambil taksi dari bandara dengan tarif tanpa argo. Gue malas menego harga. Untung saja gue enggak perlu berlama-lama mencari supir yang sudah menunggu. Pria tua berkumis terlihat mengangkat papan bertuliskan nama gue.

“Mari, Bu. Saya bantu bawa kopernya.”

Perjalanan dari Hang Nadim ke pusat kota Batam cukup lama, karena letak landasan yang di ujung pulau. Sekitar satu jam perjalanan gue habiskan untuk tidur. Hal itu karena selama di pesawat tadi gue hanya memejamkan mata tanpa pernah dapat tidur dengan tenang selama terbang.

Pak Agus, nama supir yang membawa gue dari bandara tadi membangunkan dengan suara cukup keras, sampai gue terkaget. “Maaf, Bu. Sudah sampai.”

Gue mengucek mata dan melihat ke sekeliling. Waktu di jam yang melingkar di tangan kiri gue menunjukkan pukul 9 malam. Pantas sudah sepi, gue membatin. Padahal gue menginap di salah satu hotel berbintang 5 di kawasan Nagoya, tengah kota Batam. Sudah kebiasaan di Batam, toko-toko mulai tutup jam 9 malam bergantian dengan gedung-gedung yang baru buka untuk menawarkan hiburan malam.

Setelah mengucapkan terima kasih sambil menyelipkan uang tips kepada Pak Agus, gue meninggalkan Van putih yang membawa gue tadi dan menuju resepsionis hotel. Gue menyempatkan memeriksa kembali ponsel disaat mengurus reservasi di tempat bermalam gue. Tak juga ada balasan dari Dung-dung. Sedikit kecewa harus gue telan, iyuuuh pahit 😐

***

Satu pesan diterima. Nama pria yang ditunggu-tunggu itu akhirnya menghiasi ponsel dan membuat pemiliknya, gue, memikik senang.

Maaf ya baru sempat kirim pesan. How’s Batam?

Dengan cepat jempol gue mengetikkan beberapa kata balasan untuknya. Betapa enggak, sejak semalam memang hanya kabar dari Dung-dung yang gue nantikan.

Gak apa-apa, gue ngerti kok. Batam seperti biasa, panas :p

Ponsel gue kembali bergetar akibat pesan yang masuk. Gue memang selalu memastikan semua alat komunikasi dalam keadaan vibrate only jika sedang bekerja.

Lo udah mulai sibuk? Gue ganggu ya?

Biasanya kalau kami berdua sudah saling berbalas pesan bisa seharian. Selain seharian texting, kebiasaan rutin kami adalah berjam-jam telepon di tengah malam. Dung-dung adalah pendengar yang baik. Ia mampu merekam setiap detil perkataan gue itu di memorinya. Itu mengapa semakin hari gue semakin mengagumi Dung-dung. Perasaan kagum yang mungkin lama kelamaan bertransformasi menjadi perasaan sayang.

Sebenarnya proses kedekatan kami berdua cukup singkat. Sejak berkenalan dua bulan yang lalu, kami seakan merasa cocok satu sama lain dan mudah saja untuk akrab.

Call you this night, promise. Lo jaga kesehatan di sana ya, Mimi.

***

Thank God It’s Friday! pekik gue dalam hati. Akhirnya setelah menghabiskan waktu lima hari di Batam, datang juga hari santai sedunia. Karena kesokan harinya sudah kembali ke Jakarta, maka hari ini gue dan rekan setim bekerja hanya separuh hari saja. Setelah waktu ibadah sholat Jumat sampai sore, klien akan membawa gue dan teman-teman jalan-jalan di kota yang jaraknya dengan Singapore hanya satu jam perjalanan laut.

Meski bukan pertama kalinya ke Batam, bahkan sudah lebih dari 5 kali gue dinas ke kota ini, gue sama sekali belum pernah mengunjungi jembatan yang terkenal di sana. Barelang namanya.

Jembatan yang juga dikenal masyarakat Batam dengan sebutan jembatan Fisabilillah ini adalah salah satu dari 6 jembatan yang ada di Batam. Barelang adalah singkatan dari Batam – Rempang – Galang, pulau yang dihubungkan oleh jembatan ke kota Batam. Dibanding 5 lainnya, Barelang yang terbesar sehingga dijadikan salah satu alternatif tempat wisata di Batam.

Jembatan Barelang
Jembatan Barelang

Kata orang, belum ke Batam kalau belum ke Barelang. Oleh karenanya, Jumat siang setelah pull out (auditor pasti familiar dengan istilah ini) gue dan teman-teman bertekad untuk menyempatkan diri ke sana. Di dekat jembatan itu juga ada sebuah restoran terkenal yang bernama Barelang Seafood Restaurant. Di resto itu menyajikan makanan khas Timur Tengah! Ya namanya juga seafood, menyajikan seafood pastinya. Katanya sih enak banget! Membuat gue dan teman-teman jadi kepingin banget nyobain.

Dan ternyata bukan enak banget tapi enak parah! Gue yang makannya enggak terlalu rakus jadi mendadak rakus banget. Piring gue sampai bersih tak bersisa. Makanan yang cuma ada di Batam itu namanya Gong-gong, sejenis keong tapi bersih, duh itu gue suka banget! Sayang jaman dulu enggak musim foto-lalu-masukin-instagram sebelum foto. Jadi gue enggak tahan melahapnya tanpa sebelumnya mengabadikannya 😐

Taraa
Taraa

Setelah perut kenyang dan hati senang, hampir waktu Magrib kami kembali ke Nagoya. Selama di perjalanan kembali pun gue habiskan sambil berbincang dengan teman-teman dan tak lupa menyempatkan diri untuk mengirimkan pesan kepada Dung-Dung.

Besok sore gue pulang. Kita bisa ketemu?

Kenapa enggak dari pagi pulangnya? Liat besok ya Mimi. Tapi kalau gak bisa jemput, lo gak marah kan?

Apa hak gue marah? Besok siang mau belanja dulu, sudah sampai Batam rugi gak belanja parfum. Lo mau oleh-oleh apa?

Gak usah, jangan repot-repot. Takutnya gak sempet ambil. Lo tahulah kenapa.

Iya gue ngerti. Gak apa-apa kok 🙂

Sebenarnya, gue enggak pernah dapat mengerti. Pun tak juga merasa baik-baik saja. Senyum tak sedang tersungging di bibir. Gue sangat khawatir akan hati gue, yang mulai dikuasai oleh keinginan memiliki Dung-Dung.

***

Sudah puluhan kali gue membuka dompet ponsel, memeriksa layar alat tersebut, dan berakhir dengan memasukkannya kembali ke asalnya. Pikiran gue campur aduk, antara senang karena sedang dalam perjalanan pulang dan resah. Sejak fajar sampai senja, belum juga menerima kabar dari Dung-Dung. Tadi pagi pria itu tak menjawab pesan gue.

Gue mencoba membuat diri gue rileks sambil mengobrol dengan rekan-rekan, yang juga kembali ke Jakarta Sabtu sore ini. Sudahlah, tetap tersenyum saja because we’re gonna back home, ladies!

My Ladies
My Ladies

Kebetulan rekan-rekan setim gue itu perempuan semua. Jadi sebenarnya enggak ada alasan tak terhibur di dalam kendaraan yang mengantar kami kembali ke Hang Nadim. Celotehan gosip memecahkan suasana sore itu yang sesekali dihiasi dengan tawa. Gue juga mencoba tertawa akan lelucon yang dilemparkan oleh teman gue, Dila. It didn’t work.

Dengan frustasi, gue menatap ke luar jendela. Astaga, sungguh indah warna yang menghiasi langit senja. Batin gue mengucap kagum. Warna antara merah dan kuning, seperti warna jingga yang tergores di langit Batam sore ini. Sang mentari sore yang membuat suhu udara sampai menyentuh angka 34 derajat, sepertinya masih enggan pamit. Terakhir gue menatap langit Batam itu kemarin, dan masih biru. Sore ini, warna jingga indah lukisan Tuhan itu gue abadikan.

Dung-Dung harus melihat ini. Ah, lagi-lagi Dung-Dung. Sedetikpun pria itu tak pernah meninggalkan pikirannya.

Tiba-tiba saja, sebuah ide menyerbu pikiran gue yang mengawang pada langit jingga yang sedang gue nikmati dengan pilu. Sampai di Jakarta malam nanti, gue akan memberitahu Dung-Dung akan isi hati gue.

Gue membuka menu memo di ponsel dan mengetikkan tulisan yang nantinya akan gue email kepada pria itu.

Dung-Dung,

Entah keberanian apa yang merasukiku menulis ini untukmu. Tapi kamu perlu tahu, saat menuliskannya aku sedang dikelilingi langit senja Batam yang berwarna jingga. Cantik sekali. Aku tadi sempat mengabadikannya, fotonya aku lampirkan juga agar kamu bisa melihatnya.

Kamu juga perlu tahu apa yang aku rasakan dan terlampiaskan melalui tulisan ini.

Sebelum kamu hadir di hidupku, tak ada yang spesial di antara jam 9 pagi sampai jam 5 sore waktu bekerjaku. Setiap harinya terasa sama. Aku bekerja dan bekerja.

Lalu sesuatu memecah fokusku. Di antara 9-5-ku itu sekarang terselip percakapan denganmu. Cerita dan canda yang menjadi kudapan mengisi kelaparan hatiku.

Dan kamu, satu-satunya pria yang mau mengangkat teleponku saat jutaan mata terlelap di muka bumi ini. Aku tahu kamu mengantuk, aku bisa mendengar suara menguap yang tertahan. Tapi kamu tetap bertahan.

Pertemuan kita yang baru hitungan jari itu, membuatku selalu diremukkan oleh rindu. Saat kita bersama, aku hanya menatapmu. Berharap aku mampu mengatakan aku menyayangimu, dengan mataku.

Iya, kamu perlu tahu kata-kata yang tak kusanggup mengatakannya..

Gue menghembuskan nafas dengan lega ketika mengetik tombol save. Tulisan isi hati gue, tersimpan aman di telepon genggam gue.

***

Tepat satu jam gue beserta rombongan tiba di Hang Nadim. Koper gue bertambah berat akibat oleh-oleh di dalamnya. Setelah selesai check in, ketika menuju ruang boarding, nada dering pendek terdengar dari ponsel yang gue genggam.

Akhirnya, Dung-Dung mengirim pesan juga!

***

Langit jingga yang sama terhampar luas di hadapan gue saat ini. Kali ini gue menatapnya bukan dari mobil, tapi dari dalam pesawat yang baru saja 30 menit take off membawa gue pulang.

fotografer.net
fotografer.net

Mata gue mungkin sudah berwarna sama dengan langit di atas awan ini. Jingga. Akibat air mata yang akhirnya mengalir, setelah tertahan pada saat pesan dari Dung-Dung gue baca.

Maaf baru memberi kabar. Gue bertengkar lagi dengan Rini. Tak sampai hati untuk menyakitinya, akhirnya gue melamarnya, Mimi. Maafin gue ya.

Pandangan gue beralih lagi dari layar ponsel ke jendela pesawat. Warna jingga pada cahaya terpecahkan oleh bayang Dung-Dung yang muncul tiba-tiba. Senyum pria itu tak lagi menentramkan, namun kini membuat gue gundah. Pedih akan kenangan bersamanya yang satu persatu muncul dari balik senja itu.

Ketika kami bertemu dua bulan yang lalu, Dung-Dung sedang masa break dengan kekasihnya yang sudah dipacari hampir 10 tahun. Mungkin ia sedang jenuh, lalu hadirlah sosok gue yang mengisi harinya. Gue sadar, gue mungkin hanya dijadikan tempat singgah sementara. Akal sehat gue mengingatkan agar hati gue tak boleh jatuh pada pria itu. Namun perasaan sayang tak dapat terbantah lagi

Diam-diam, gue berharap Dung-Dung akhirnya akan meninggalkan kekasihnya. Lalu menyandarkan pilihan hatinya pada gue. Itu mengapa, sore tadi di perjalanan itu, akhirnya ada keberanian besar di diri gue untuk jujur pada Dung-Dung hari ini. Ya, hari ini juga. Gue bahkan menuliskan kata-kata yang akan gue ucapkan. But now it’s too far.

Gue mengalihkan menu pesan masuk ke menu memo pada ponsel. Mata gue tertuju pada daftar teratas memo itu, tulisan yang gue buat untuk dikirimkan pada Dung-Dung. Namun sekarang tak ada gunanya lagi.

Do you want to delete notes?

Yes.

Tulisan itu pun terbuang, seperti perasaan gue yang belum sempat tersampaikan. Meski begitu, gue yakin dia sudah mengetahui isi hati gue. Itu mengapa dia menyampaikan maaf di pesan terakhirnya. Satu hal yang gue sesali, lalu membuat batin ini merintih,

Seharusnya aku memberitahumu kemarin, saat langit masih biru.

Advertisements

Comfortable Of Being Uncomfortable

“Lo nyari cowo yang kayak gimana sih, Mi?”

Siang menjelang sore kemarin, gue BBM-an sama ceweknya teman baik gue. Namanya Adel (disamarkan), pacarnya teman yang sudah gue anggap adik sendiri, bernama Evan (disamarkan juga).

Perbincangan kita ngalor-ngidul banget, biasalah girls things, gak jauh dari ngegosipin cewek-cewek yang pernah ngejar-ngejar si Evan.  Entahlah si Evan ini punya apa sampai punya banyak fans gitu. Ngakunya sih 11-12 sama VJ Daniel. VJ Daniel 11 siang, si Evan sih 12 malam.

Anyway, masuklah gue dan cewek yang selisihnya 5 tahun di bawah gue ini, ke pembahasan rencana ngumpul-ngumpul dalam waktu dekat. Adel menanyakan gue nanti datang bersama siapa? Ya gue jawab kalau gue datang sendiri. And she came up with the idea, “Yaudah nanti cari di tempat aja.” Yakali deh Del, semudah itu.

Dan pertanyaan di pembuka tulisan ini akhirnya dikirimkan oleh Adel. Gue berpikir lama sebelumnya, sampai akhirnya terdorong untuk mengetikkan beberapa kata.

Gue menekan tombol ENTER, lalu pesan gue yang semula bertanda ‘centang’ di layar berubah ‘D’ dan langsung berganti ‘R’. Pesan gue yang langsung dibaca olehnya itu bertuliskan..

“Jangan-jangan gue selama ini emang lagi enggak nyari ya, Del :|”

Adel is writing a message..

“Jangan-jangan lo udah nyaman begini. Keenakan.”

Sebuah pesan lanjutan tak lama diterima BB gue lagi dari orang yang sama, “Apa lagi yang dicari? Kerjaan mapan, umur matang, hidup enak.”

I hate to admit it, but yes. Damn she was right. Gue sedang berada dalam zona aman gue. Terlalu menikmati.

Gue saat ini sedang enggak mencari cinta, atau sebut saja pacar untuk nantinya menjadi calon suami gue. Mengingat wanita seumur gue lainnya sudah pada menyusui baby. Masa’ gue masih menyusui orang dewasa. Maksudnya menghidangkan segelas susu ya 😐

Status gue memang single, but appearently, gue saat ini kemana-mana masih bareng sahabat gue yang berjenis kelamin laki-laki. And he’s straight by the way. Cowok dan cewek sahabatan itu enggak selalu karena si cowoknya bencong kok. Gimana enggak masih bareng, kita udah sahabatan kurang lebih 3 tahun dan kita berdua sama-sama jomblo. He was there for me when no one was. He always tries his best for me. And I do the same things for him. Apalagi kita berdua berada di gedung yang sama lima hari dalam seminggu. Minimal satu jam dari waktu kita, ya dilalui dengan sarapan bersama. Sesekali kami juga menonton bioskop sepulang kerja. Apakah itu berlebihan?

Gue sudah sangat bersyukur dengan apa yang gue punya kok, dalam hal ini ya sahabat gue itu. At least gue enggak sendiri, gue nyaman bersamanya. Dia tempat cerita mulai dari kepusingan kerja di kantor, apa yang terjadi di keluarga gue, kekonyolan teman-teman gue, sampai tertawa untuk hal yang enggak penting. Apapun yang terjadi selama 24 jam kami, dipadatkan menjadi 1 jam saat kami saling bercerita sambil menikmati segelas jeruk hangat, yang ditemani oleh jus tomat favoritnya.

Kadang gue berpikir, jangan-jangan rasa kenyamanan ini hanya timbul di satu pihak saja. Yaitu gue. Dia mungkin saja merasa terpaksa dengan persahabatan kami ini. Selama ini, gue lah yang menciptakan rantai yang membelenggunya sampai tak punya pilihan lain selain bersama gue.

Gue pun menyampaikan kepadanya kekhawatiran itu. Dan dia berhasil meyakinkan gue untuk tidak berpikir aneh-aneh. Dia enggak pernah merasa terpaksa dan dengan senang hati menjadi sahabat baik gue, semampu yang dapat dia berikan. Dan gue tahu dia tulus, sehingga tak sampai hati untuk mengecewakan dia dengan menjauhinya (lagi).

Gue enggak butuh banyak, hanya butuh cukup. Gue enggak mencari ketampanan fisik atau materi berlimpah, gue hanya membutuhkan orang yang juga membutuhkan gue. Itu saja cukup untuk gue. Dan saat gue mendapatkan rasa dibutuhkan itu, itu lah definisi kenyamanan buat gue.

Tapi orang itu, sejauh ini, adalah dia. Si sahabat.

Ketika kenyamanan adalah hal yang kita cari, bagaimana jika kenyamanan itu kita temukan pada seseorang yang tak mungkin kita miliki?

Lalu apakah gue benar-benar merasa nyaman dengan keadaan gue sekarang? Ataukah sebenarnya gue tidak pernah merasa nyaman, tapi lama-kelamaan menjadi nyaman dengan ketidaknyamanan itu sendiri. I feel comfortable of being uncomfortable.

Comfortable Of Being Uncomfortable
Comfortable Of Being Uncomfortable

😐

Apapun itu, sepertinya  sudah saatnya keluar dari zona aman. Atau zona tidak aman yang sudah terlalu lama gue tinggali sampai nyaman rasanya.

People said, life begins when you’re out of your comfort zone. Gue sadar banget, kedekatan gue dan si sahabat enggak boleh menjadi halangan untuk gue mencari lagi yang lain. Tanpa merusak apa yang gue punya bersamanya.

Tapi biasanya, akan selalu ada yang harus dikorbankan. Kita enggak bisa memiliki cinta dan persahabatan sekaligus. Ketika cinta datang ditawarkan oleh pria lain, persahabatan gue dengan si sahabat perlahan pasti memudar. Atau dari sudut pandang lain…ketika gue mulai merenggangkan persahabatan gue dengannya, cinta baru akan muncul ke hidup gue.

Tampaknya sudut pandang kedua lebih mendukung untuk gue tidak lagi berada dalam posisi (yang gue pikir) aman. Mungkin gue sebaiknya melebarkan lagi sedikit jarak di antara gue dan sahabat, lalu mulai mencari seseorang yang tidak memberikan kenyamanan sementara. Mungkin. Entahlah.

We all want somenone who can make us feel comfortable permanently, not temporarily.

Am I right?

Hitam Manis

Sejumput cahaya menyeruak ke dalam kegelapan dan memaksa mataku untuk membuka perlahan. Butuh penyesuaian dengan sinar yang menusuk mataku sepersekian detik, sampai akhirnya pandangan samar-samar di depanku menjadi jelas.

“Aku di bawa kemana ini?” tanyaku dalam hati. Sementara tubuhku masih meringkuk di antara botol-botol besar yang ada di ruangan ini. Bau alkohol menyengat dari segala sudut menggelitik hidungku. Aku sudah hafal dengan baik botol berisi alkohol ini, yang biasanya juga ada di gudang rumah Ayah.

Aku mencoba untuk membangunkan badan mungilku sendiri, sedikit mengulet dan ah, sakit rasanya seluruh sendi ini. Ini pasti karena semalaman aku harus berbaring tanpa alas. Dengan susah payah aku berdiri sambil mengutuki kebodohan fatal, sampai aku bisa terjebak di sebuah mobil box yang berisi puluhan botol alkohol.

Masih jelas kuingat kemarin sore, aku sedang tertegun di depan halaman rumah. Senja, tiupan angin, dan daun yang gugur dari pohon di halaman mendukung suasana hatiku yang dilanda gundah. Penyebabnya adalah dia, si tampan, lagi-lagi bersikap cuek padaku. Entah sudah berapa kali ia berlaku seperti ini, mungkin kali itu sudah puncaknya sampai aku kesal dan mengambek padanya.

Lalu mobil box yang sering datang seminggu sekali ke rumahku ini muncul dan berhenti tepat di depan pagar.  Meski rutin, tapi supir yang mengendarainya jaranglah sama. Jadi aku pun malas berbasa-basi padanya. Biasanya aku cukup memperhatikan dari balik jendela, supir kendaraan itu mengeluarkan beberapa botol dan menyerahkannya kepada Ayah. Ia juga membawa beberapa lembar kertas untuk Ayah tandatangani. Lalu si supir akan pergi setelah menerima uang tips dari Ayah.

Alkohol dalam botol-botol itu dibutuhkan Ayah dalam pekerjaannya meramu parfum buatan sendiri. Setelah pensiun, ia mendapatkan penghasilan tambahan dari menjual parfum tiruan. Memang tak begitu banyak pesanan yang datang, tapi cukup dapat mengisi waktu Ayah sehari-hari.

Kemarin sore itu, karena aku ngambek sama si tampan, saat melihat pintu belakang mobil box membuka akupun dengan lincah melompat dan masuk ke dalamnya. Bodohnya aku, tak pernah berpikir bahwa mobil itu hanya mampir sebentar di rumah Ayah lalu pergi. belum sempat aku turun, pintu mobil sudah menutup dan terkunci.

***

“Miaaaaawww.”

Aku mengeong saat mendarat setelah melompat keluar dari mobil box. Aku tahu sebaiknya tetap berada di dalam mobil. Seminggu lagi mobil ini juga akan membawaku kembali ke rumah Ayah. Tapi aku lapar, sejak kemarin sore perutku belum terganjal makanan. Biasanya, aku dan si tampan makan bersama lalu setelah kekenyangan kami pun tidur melekuk berduaan.

Ah, aku kangen si tampan, seekor kucing jantan ras garfield dengan bulu coklat keemasan. Ia tampan sekali. Sedangkan aku, seekor kucing betina ras kampung yang sangat tidak menarik. Seluruh tubuhku dipenuhi bulu hitam, tak sedikitpun warna lain terselip di situ. Kami berdua dipelihara oleh Ayahku sejak kami sama-sama berusia 3 minggu, dibeli dari sebuah pet shop. Entah apa yang membuat Ayah memilihku. Jarang sekali ada yang menggemari kucing hitam.

Aku pun kangen Ayah, kangen dielus tangannya yang kasar. Dia memanggilku si manis. Kasihnya tak berbeda antara aku dan si tampan. Bahkan kami berdua diberi keranjang tidur yang sama. Enam bulan tumbuh dan bermain bersama si tampan, perasaan sayang ini pun muncul. Aku jatuh cinta padanya, tapi ia hanya menganggapku teman. Siapa bilang friend-zone hanya terjadi pada manusia?

Aku semakin was-was saat tetangga sebelah rumah, memiliki kucing persia betina berwarna abu-abu. Ya aku akui dia cantik menggemaskan. Pantas saja si tampan sering mondar-mandir di depan pagar sambil menggoyang-goyangkan ekornya, pasti sedang mencuri perhatian si abu-abu gatal itu. Kalau sudah begitu, aku akan memaksa si tampan masuk dan bermain di dalam rumah. Iya, aku sadar aku bukan siapa-siapanya, jadi kenapa harus inscure?

Aku menyesal, kecemburuanku membuatku bertindak tolol sampai terbawa ke tempat ini. Di mana ini?

Dari pantat mobil aku berjalan beberapa langkah ke arah sebuah rumah. Mobil box diparkir 2 meter dari rumah itu. Dapat kulihat supir yang kemarin mengantar botol berbicara dengan seorang pria tua. Lebih tua dari Ayah sepertinya. Wajahnya sangat memperihatinkan, dan lebih banyak menunduk. Ia menyerahkan botol-botol kosong kepada si supir. Karena aku penasaran dengan isi pembicaraan mereka, aku mendekat untuk menguping.

“Ini saya kembalikan botol-botolnya, ke depannya saya gak pesan lagi Mas. Usaha saya sementara berhenti dulu, gak ada modal.” ucap Pak tua itu dengan lirih.

“Oh gitu. Baik Pak, saya turut prihatin. Sabar ya, Pak. Kalau begitu saya pamit dulu. Terima kasih sudah bekerja sama dengan CV kami.” Si supir undur diri dari Pak tua itu dan segera berjalan ke arah mobil.

Apa yang baru saja kudengar membuatku berpikir untuk segera kembali dengan cepat ke dalam mobil. Tapi belum juga aku memutar badan, tiba-tiba saja sepasang tangan menangkap tubuhku, mengangkat, dan kemudian mendekapku ke tubuhnya. Aku berusaha memberontak, namun pegangannya sangat erat.

“LEPASKAN AKUUUUU! Kumohon. Mobilnya tak akan kembali lagi ke sini, aku harus ke mobil itu. Aku mau pulaaaaaang.”

***

“Aaaaarrrrrrrr.” Aku menunjukkan taringku, menandakan amarah ke arah wanita yang sudah mengambilku tadi.

Wanita ini pantas kubenci, karena ulahnya aku tak bisa pulang ke rumah Ayah lagi. Tak akan pernah. Selamanya.

Ia membalas tatapan bola mata biruku  yang sinis padanya dan berkata dengan suara berat, “Hai manis, jangan marah dong. Sudah lama aku menginginkan dirimu. Kucing hitam betina, akhirnya aku menemukanmu.” Aku memperhatikan penampilannya dari ujung rambut sampai kakinya. Aku pernah melihat penampilan seperti ini di tayangan telenovela yang sering ditonton oleh istri Ayah, yang kupanggil Mama. Mama pernah menyebut sesuatu seperti wanita gipsi.

Ya, seperti itulah kira-kira dandanan wanita ini.

Setelah tadi menculikku, ia menggendongku pergi. Suara langkah yang terburu-buru, berpacu dengan deru nafasnya. Aku mencoba memperhatikan sekelilingku, aku harus tahu sejauh apa wanita ini membawaku dari tempat si Pak tua tadi. Ternyata tak begitu jauh, kami masih berada dalam jalan yang sama di belakang sebuah gedung tua yang cukup luas.

Aku melihat sepatu boots coklat yang compang-camping itu berhenti tepat di depan selembar kain yang terhampar di atas jalanan. Rupanya kain itu adalah alasnya duduk. Masih sambil menggendongku, ia menjatuhkan badannya di situ.

“Home sweet home, kitty.” Ia mengelus kepalaku. Aku tak menyukainya, kupalingkan wajahku karena tak ingin bertubrukkan mata dengannya.

“Ini lah tempat tinggalku. Di lapak ini, tempat tinggal sekaligus tempat menjalankan usaha ramalku.”

Ia menghela nafas panjang. “Kamu tau, sudah beberapa minggu usaha ramalku sepi. Tak ada pelanggan yang datang. Mungkin mereka bosan dengan ramalan tarot. Padahal, aku ini dulu cukup terkenal, si wanita gipsi peramal di Kota tua.”

Ada kepercayaan diri yang memudar terdengar dari suaranya yang merendah. Raut mukanya mengingakanku pada Pak tua tadi. Oh aku mengerti, begini toh muka manusia saat tak punya uang. Tiba-tiba aku merasa iba kepada wanita ini.

“Tapi kamu akan mengembalikkan keberuntunganku. Aku yakin kamu bukan kucing biasa. Kamu adalah kucing yang dikirim alam sebagai pertanda, bahwa ilmu hocus pocus-ku akan bertambah kuat.” Lalu ia tertawa dan terus tertawa tanpa henti.

Aku hanya dapat berteriak dalam hati, “Ayah tolong akuuuuu.”

***

Hari demi hari aku lewati tanpa sedetikpun si wanita gipsi ini melepasku. Sudah satu bulan sejak ia menculikku dan ternyata ucapannya benar. Usaha ramalnya perlahan bangkit. Setiap harinya ada saja yang berkunjung. Mulai koko tua yang mempunyai usaha di sekitar daerah Kota ini, sampai karyawan bank besar yang jarak kantornya dapat ditempuh dengan jalan kaki dari lapak si gipsi ini.

Aku pun mulai pasrah dengan kondisiku yang terjebak bersama peramal gipsi. Apalagi aku membawa keberuntungan baginya, ia jadi punya penghasilan lagi untuk menyambung hidup. Hal itu dapat mengobati hatiku yang terluka karena kehilangan keluargaku. Aku sadar hidup itu tak selamanya di atas. Aku yang dulu seekor kucing peliharaan dengan makanan dan alas tidur yang terjaga dengan baik, sekarang terlantar di jalanan. Aku bahkan makan sisa makanan yang berhasil dikumpulkan wanita gipsi ini untukku dari warteg pinggir jalan. Sekarang aku benar-benar merasakan menjadi kucing kampung di jalanan. Ternyata, kehidupan di luar rumah Ayah begitu keras.

Ada yang berbeda dengan malam ini dari biasanya, bulan sedang menampakkan wujudnya yang bulat sempurna. Aku menikmati pemandangan ini sambil bersandar di dada si gipsi yang juga berbaring dan menatap langit.

“Bulannya indah ya manis. Itu yang namanya bulan purnama. Pada malam ini, saat bentuk bulan sedang sempurna, biasanya para ahli sihir melakukan ritual pembacaan mantera atau doa. Hal itu untuk menambah kekuatannya.”

Aku tak peduli dengan yang ia katakan, yang aku rasakan saat ini adalah aku merindukan Ayah dan Mama angkatku. Mereka menyayangiku dan aku yakin mereka sangat sedih karena kehilangan salah satu kucingnya.

Lalu si tampan, apakah kucing jantan yang aku cintai dalam diam itu merindukanku? Atau ia tak peduli seperti biasanya, dan tetap berusaha mencuri perhatian si persia cantik itu? Atau jangan-jangan mereka sudah menjadi sepasang sejoli sekarang?

Aku membiarkan perasaan rindu dan pedihku itu berputar dan menari di antara purnama yang bersinar terang malam ini. Jika memang benar ada mantera yang akan berhasil saat ini, aku hanya berharap mantera itu bisa membawaku kembali pulang.

***

Keesokan harinya, saat matahari tepat berada di atas kepala, seperti biasa wanita gipsi ini berjalan menyusuri sepanjang jalan mencari makanan untukku. Lalu aku sadar, ini bukan jalan biasa yang dia lewati. Tapi ini adalah jalan menuju rumah si Pak tua itu.

Aku mendongakkan kepalaku untuk memastikannya. Benar, aku kini melihat si Pak tua dan beberapa orang sedang sibuk lalu lalang di depan rumahnya. Mukanya tak lagi murung.

Si Pak Tua yang melihat kehadiran kami di dekat situ segera menghampiri. Tubuhnya sudah agak membungkuk dan berjalan sangat pelan.

“Anda pasti wanita gipsi yang dibicarakan anak saya. Saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya.”

Wanita gipsi sedikit bingung dengan ucapan si Pak tua. “Bapak salah satu pelanggan saya? Saya tak mengingatnya.”

“Bukan saya, tapi anak lelaki saya. Ia mengikuti saran anda lalu ia berhasil mendapatkan pinjaman uang dari orang yang tak terduga, sehingga usaha kami bisa kembali berjalan.” ucapnya bersemangat.

Ia kembali melanjutkan, “Dulu, karena sudah lesu, bahkan untuk membeli alkohol saja, material paling murah untuk usaha saja tak mampu. Sunguh memalukan.”

“Saya senang mendengarnya Pak. Semoga keberuntungan menyertai anda.”

Sudut mataku merasakan ada yang datang bergerak ke arah si gipsi dan Pak tua berdiri. Aku pun menengok ke arah itu dan melihat sebuah mobil mendekat. Itu mobil box-nya datang! pekikku. Mobil box yang aku pikir tak akan pernah datang lagi, tepat berhenti sekitar 1 meter di depan rumah Pak tua. Seorang supir keluar dari dalamnya dan berjalan ke arah belakang mobil untuk mengeluarkan beberapa botol alkohol pesanan Pak tua.

Aku tak percaya dengan apa yang aku lihat. Mobil itu adalah harapan bagiku untuk pulang. Tapi bagaimana caranya lepas dari si gipsi ini?

“Saya pamit pergi, Pak.” Lalu si gipsi meninggalkan Pak Tua. Aku masih berada dalam dekapannya sambil memikirkan bagaimana cara kabur dan masuk ke mobil itu.

Si  gipsi terus melangkah dan di luar dugaanku, ia berjalan mendekat ke belakang mobil.

Ia mengarahkan wajahku padanya, menatap mataku lekat-lekat dan berkata, “Manis, aku tau yang kamu inginkan. Aku mengambilmu sebulan yang lalu di dekat mobil ini. Kamu memang membawa keberuntungan untukku dan juga orang lain, tapi aku harus mengembalikanmu. Di sini, di tempat segalanya bermula.”

Mataku mungkin saat ini melukiskan wajah memelas kepada wanita di hadapanku. Tak kusangka begitu baik hatinya. Ia menggesekkan hidungnya ke hidungku. Aku tergelak dan kami berdua tersenyum.

Ia menjongkokkan badannya sambil meletakkanku di atas aspal jalan. Ia kembali mengelus kepalaku, “Terima kasih ya manis. Sekarang saatnya pulang.” Ia bangkit dan dengan cepat berlalu dari tempatku berdiri. Ia tak menengok ke belakang lagi, terus melangkah pergi. Aku masih mengawasinya sampai punggungnya lenyap dari pandanganku. Dan akupun siap meloncat masuk ke dalam mobil.

***

Mobil ini tak langsung membawaku pulang, Perlu menunggu satu hari di dalamnya sampai akhirnya aku mengenali udara yang menghambur masuk saat pintu belakang mobil terbuka. Ini aroma rumahku. Aku pun menghambur keluar mobil dan melompat melewati Pak supir yang terpekik kaget. Aku berlari kencang menuju tempat Ayahku berdiri di pintu.

“Maniiiiiis, kamukah itu nak?” Pria ini memelukku kencang dan menciumi kepalaku bertubi-tubi. “Maaa, manis pulang Ma. Aku tak percaya ini. Ayah pikir kita tak akan berjumpa lagi.” Aku bisa melihat raut bahagia di balik mata yang berkaca-kaca. “Kamu tau, si tampan sangat kehilangan kamu. Ia tak bersemangat. Kerjaannya hanya tiduran dan murung. Ayo sana samperin si tampan.”

Si tampan kangen sama aku? Aku melompat dari dekapan Ayah dan segera menuju ke dalam rumah, mencari keberadaan si tampan.

Itu dia, terlihat lesu di atas keranjang tidurnya. Matanya terpejam.

“Miaaaaaww.”

Suaraku membangunkan tubuh gempal keemasan itu. Ia terkejut melihatku saat mata coklatnya terbuka. Mulutnya menganga beberapa saat. Kemudian dengan sigap dan gagah si tampan keluar dari singgasananya, berjalan mendekatiku.

“Meoooong.”

Lalu ia memeluk tubuhku, mengenduskan hidungnya ke hidungku. Lama.

“Aku pikir kamu tak akan pernah kembali. Aku pikir aku sudah kehilanganmu. Dan aku pikir hidupku pun tak ada lagi gunanya tanpamu.”

“Kan ada si persia cantik itu. Kamu kan gak butuh aku.” ucapku manja, sambil menggaruk kumisku dengan kaki kanan. Aku menutupi grogi saat mendengar kata-katanya barusan.

“Kamu cemburu ya? Tambah manis lho kalau begitu.” godanya.

“Ih tampaaaan. Miaaaaaaw.”

“Manis, jangan pergi lagi ya.”

“Tampan, jangan buat aku pergi lagi ya.”

Lalu kami pun bergulat dan bercengkerama di atas lantai.

Si Manis dan Si Tampan
Si Manis dan Si Tampan

Note:
Hocus Pocus = Sihir