The Hopeless Romantic Traveler – Getaway to Middle East (Track 3 – End of Trip)

[Previously on The Hopeles Romantic Traveler: Getaway To Middle East, Discover Dubai, catatan perjalanan gue seminggu kemarin di Timur Tengah ]

 

No matter what happens, travel gives you a story to tell – Jewish Proverb

 

26 November 2011. Emirates Lounge. 00.00

 

The Emirates Business Class Lounge

 

Akhirnya sampai juga pada tujuan akhir sebuah perjalanan: pulang.*

 

Beberapa jam lagi gue akan balik ke Indonesia dan seharusnya gue tidur kayak temen gue yang udah pulas di sofa di samping gue. Ah ngga mau, gue mau menikmati 4 jam terakhir gue di Dubai, mengenang kembali apa yang sudah gue lewati dan pelajaran yang gue dapat selama di Middle East ini.

 

Moving Up for Moving On

 

And love, It’s not the easy thing, the only baggage that you can is all that you can’t leave behind- U2

 

I was moving up to the Top of Khalifa with a high speed lift, dari lantai dasar menuju lantai 124 yang hanya memakan waktu 1 menit saja. Sumpah. Gue ngga bohong. Gue nyalain stopwatch untuk test apa benar cuma 1 menit. Jeng-jeng. Semenit tepat. Keren kan.

 

Lebih keren lagi karena gue bisa naik sampai puncak tertinggi itu karena keberuntungan gue yang tiba-tiba dihubungi salah satu klien gue yang ternyata sedang ada dinas di Dubai juga. Dia seorang bule yang sudah lama di Indonesia dan sangat cinta Indonesia, terbukti dengan menikahi perempuan Solo. Well, yang gue maksud itu kota solo ya, bukan solo = single. Yakali ada yang sensi denger kata berbau single kayak solo, sendiri, eka, tunggal (itu gue sih sebenernya :p)

 

Si bule ini punya teman yang tinggal di apartment Burj Khalifa. Dia orang Indonesia yang jadi expat di Dubai yang so pasti gajinya aduhai sampai mampu menyewa apartment seharga 500 juta per tahun. Cerita ini akan jadi a happy ending fairytale kalau misalnya si Mas Expat ini masih muda dan single terus kenalan sama gue di Burj Khalifa, saling jatuh cinta, menikah, dan hidup selamanya bahagia di Dubai (dan gue yakin lo semua pasti ngarep endingnya begini kan waktu baca part 2, hayo jujuuuur, jujuuuur?). Damn right you Katy Perry, my love story is not like the movies, cinematic and dramatic with the perfect ending.

 

Burj Khalifa ngga cuma jadi saksi sejarah shooting Tom Cruise di Mission Imposible: Ghost Protocol tapi juga jadi saksi sejarah proses move on-nya gue (Cih. Sapa gue?). Thanks to si Bule dan Mas Expat yang bisa bawa gue juga ke Balkon dari Burj Khalifa ini. Hanya penghuni gedung ini yang punya akses ke lantai 76 di mana di sinilah terdapat balkon yang luas banget sampai ada kolam renang dan jacuzzi. Dan bayangin aja anginnya gimana dari lantai 76 itu, kenceng banget, kali ini gue mensyukuri punya tubuh (biar kedengaran halus) ngga kurus karena bisa mental kali ketiup angin. Di balkon ini gue bukan menikmati udara malam sambil jacuzzi-an sih ( I wish…) tapi disinilah titik dimana gue merasa, This is it! I have to move on, starting from here.

 

The Balcony of Burj Al Khalifa (76th floor)

Burj Al Khalifa from 76th floor

The Jacuzzi in the Balcony

 

Terus gimana ceritanya proses move on gue itu kakaaak? Wait for it**. Sebelum gue lanjutin cerita Burj Khalifanya gimana kalau gue cerita dulu tentang Safari Desert? (senyum licik)

 

I Heart Desert

 

I think I deserve something beautiful – Elizabeth Gilbert, Eat, Pray, Love

 

Yup, sesuatu yang indah, gurun misalnya 🙂

 

Setelah malam di Khalifa itu gue bangun pagi keesokannya dengan perasaan yang jauh lebih baik. Kenapa? Pilihan jawabannya:

(a) Ketemu Tom Cruise di Burj Khalifa (menurut lo?)

(b) Berhasil ngelupain dia dalam semalam sih (kalau ada yang bisa begini gue rela resign dari kantor gue sekarang terus kerja dan menetap di Dubai, lah itu sih mau lo mi)

(c) Kedua jawaban di atas benar

(d) Kedua jawaban di atas salah

 

Gue excited banget pagi itu karena siangnya gue mau Safari Desert. No matter how sad you are, the world doesnt stop for your grief. Akan selalu ada hal yang bisa buat lu happy qo, bahkan setelah sedih berat sekalipun. Karena lo mo terus sedih atau senang, lo pilih sendiri. “Gue pilih senang dan hari ini akan bersenang-senang di gurun. Yeay!” batin gue saat itu.

 

Kursus gue berakhir hari kamis (karena mulainya minggu, ingat kan) dan hanya setengah hari, sengaja diatur oleh penyelenggara agar peserta punya waktu lebih untuk menikmati Dubai sebelum kembali ke negara masing-masing. Tiket sendiri sudah kami pesan beberapa hari sebelumnya jadi kami hanya menunggu dijemput oleh supir yang akan membawa kami ke gurun.

 

Kendaraan yang datang jemput kami sebuah jeep, sudah ada satu peserta tour disitu, orang Afganistan. Iya, negaranya Osamma Bin Laden, Masya Allah, dalam hati gue sempet waswas gitu, duh, jangan-jangan anggota jaringan Al Khaida yang lagi misi bom bunuh diri di tengah gurun nanti. Oh please gue emang udah suka banget sama Dubai tapi ya ngga mau juga mati disini, apa lagi jadi korban teroris. Amit-amit.

 

Untungnya itu cuma pikiran si devil side of me aja, bapak asal Afganistan ini hanya penduduk biasa qo. Dia akhirnya banyak bercerita tentang kondisi mencekam di negaranya, yang ngga penting juga ya gue ceritain di sini.

 

Dari hotel kami kemudian masih menjemput 2 orang lagi. Ternyata suami istri dan dari jauh aja gue udah bisa nebak mereka orang melayu juga. Benar, ibu dan bapak peserta tour safari desert bersama kami ini asal Singapura. Baguslah jadi di perjalanan kami ngga melulu harus make bahasa inggris. Setelah 5 peserta lengkap, supir kami, Musa, asal India segera membawa kami menuju gurun.

 

Gurun yang kami tuju sekitar satu jam perjalanan dari Dubai, saat itu sudah sekitar jam 4 sore. Jeep kami berkumpul di meeting point, masih pinggirannya gurun, sebelum aksi dune dashing (semacam off road) dimulai. Ada sekitar 10 jeep yang siap berkonvoi untuk off road menuju kemah di tengah gurun. Di kemah itu akan ada berbagai atraksi, naik onta, ski gurun, barbeque party, dan pertunjukan tarian tradisional sufi dan belly dancing.

 

Sun Set on the Desert

 

Gurun pasir buat gue eksotis dan indah. Menikmati matahari tenggelam di gurun suatu pengalaman ngga terlupakan banget, apalagi naik onta, saking nagihnya gue dua kali naik hehe. Minum yakult aja gue dua ya masa naik onta ngga dua juga (anjiiiis gue garing abis).

 

“Are you ready for massage ladies and gentlement?” Tanya Musa sebelum aksi dune dashing dimulai. Heh, ngga salah denger kan gue, qo pijat. Ternyata, aksi off road di gurun ini super dahsyat. Ngeri banget sebenarnya, gimana kalau mobilnya keguling, astaga, mobil sampai miring banget ke kanan, miring ke kiri, badan jadi ketarik-tarik sama seatbelt, makanya istilah Musa itu dune dashing ya serasa dipijat karena badan ketarik-tarik. Pijat pala lo Musa!

 

The Dune Dashing

 

Malam hari di kemah para peserta safari desert berkumpul bersama untuk menikmati tarian sambil barbeque party. Well mereka semua ini lah teman-teman gue saat di gurun, berpesta bersama, melupakan kesulitan hidup sejenak. Gue jadi ingat adegan di STC 2 ketika Carrie and the gank bersenang-senang di gurun, ah betapa hepinya yang dulu gue pikir party di gurun cuma bisa gue tonton di film, akhirnya bisa ngerasain sendiri. Lucky bitch!

 

Riding a Camel

The Belly Dancing Show

The Sufi Dancing Show

 

No matter who broke your heart, or how long it takes to heal, you’ll never get through it without your friends.- Carrie Bradshaw***

 

Take a picture with Abaya for 10 AED

 

Di gurun ini selain bisa foto menggunakan baju tradisional Abaya (pastinya gue foto dong), kita bisa juga make henna (seni lukis di kulit). Sama aja kayak pacar Arab tapi di kulit gitu, ya anggap aja tato ngga permanen. Kenapa gue semangat banget pengen make henna di kaki kanan gue, karena gue pingin nutupin luka di kaki gue.

 

Henna Painting

 

Gue dan dia memang ngga pernah pergi travel bersama, satu-satunya adventure gue sama dia adalah riding a motorcycle around the city. Wansn’t it romantic? Apalagi banyak banget kejadian lucu selama dibonceng dia, mulai ditilang polisi sampai ban bocor. Bahkan pernah ban bocor dua kali (itu karena tambal ban yang pertama ngga bener woi bukan karena keberatan gue!! )

 

Pernah dia mengajak gue ke Pasar Gembrong, kata dia pusat jual mainan besar di Jakarta, bagi gue, astaga antah berantah banget, jauhnya minta ampun mau beli mainan helikopter aja. Dan harganya hampir sama dengan harga sepatu gue, ngga habis pikir deh sama cowo, boys will be boys, they love toys.

 

Di pasar yang ramai dan banyak motor parkir sembarangan itu, ketika helikopter sedang dicoba abangnya, karena harus mundur menghindari helikopter terbang, kaki gue menyentuh knalpot motor. Awch! Sakitnya ngga sante. Panas. Dan lukanya masih ada dan divonis dokter akan berberkas seumur hidup meski selalu rajin dioles salep. Ah cinta ternyata ngga cuma meninggalkan luka di hati tapi juga di kaki (tsaaaah….). Di hati mungkin bisa hilang, tapi yang di kaki gue seumur hidup!

 

Paling ngga dengan adanya henna di kaki gue ini yang bisa bertahan dua minggu ke depan bisa nutupin luka yang selalu bikin keinget dia tiap kali gue liat.

 

In desert we can experience a sand ski, or even a sand golf . Going with you around the city, is like having a whole time trip of love. #rhyme

 

Shopping for Love

 

“Honey, Which one do you prefer to spend your money on? Traveling or shopping?”

“I prefer shopping while traveling (*wink*)”

 

Berburu oleh-oleh itu salah satu best part dari traveling. Gue paling suka mencari sesuatu yang unik-unik untuk gue bawa pulang, beli buat sendiri, keluarga, teman-teman, dan orang yang gue sayang. Di Dubai untuk cari souvenir oleh-oleh yang murah bisa di Deira Old Souk, pasar tradisional di dekat Al Ghubaibah Water Transport Station. Atau bisa juga di Souk Madinat Jumeira. Mall yang berisi toko-toko kecil yang menjajakan berbagai barang, dari pernak-pernik, baju, kain, perhiasan, dan lain-lain. Di Mall ini juga ada food hall dengan pemandangan Burj Al Arab. Kalau menjelang magrib gitu indah banget.

 

Deira Old Souk

Souk Madinat Jumeira

Inside Jumeira

The Burj Al Arab from Souk Jumeira

Duty Free of Dubai

 

Di Airport juga bisa belanja di Duty Free, tapi menurut gue sih so far, Duty Free di Singapore masih yang terbaik. Harga parfum yang gue denger murah di Dubai, ternyata hanya issue belaka. Huh.

 

Biasanya di setiap perjalanan gue, gue selalu excited nyari barang untuk dia. Always on top of my list. Dan betapa anehnya bagi gue barang yang dia mau pun tetep aja gue jabanin untuk nyari, meski kaki sampe sakit, gue ngga peduli.

 

Setahun yang lalu di Hongkong, gue beli kaos bertuliskan ‘Someone who loves me very much went to Hongkong and bought this for me’. Dan di Dubai gue kembali menemukan kaos yang sama, hanya diganti kotanya saja. Sempat berkecamuk saat itu, should I buy this for him? Sedih, semua gue beliin oleh-oleh kecuali dia. Atau gue tetap beli terus dititipin? Buat apa? Hfffft.

 

Dari semua oleh-oleh yang pernah gue kasih, yang paling berkesan adalah waktu gue ke Singapore (dari Hongkong tahun lalu gue lanjut ke Singapore), di USS gue beli replika piala Oscar bertuliskan ‘Sweetheart Award’. Gue ingat malam di saat gue kasih itu piala di kamar kos gue.

 

“Wiiih, seumur hidup belum pernah dapet piala, makasih ya mi”

“Dipajang ya :)”

“Eh, dengerin ini lagu deh”. Lalu dia memutarkan lagu lewat HP jadulnya (saat itu belum punya blackberry, maklum hehe).

 

 

Feel your breath on my shoulder

And I know we couldn’t get any closer

I don’t wanna act tough, I just wanna fall in love

As we move into the night I get crazy

Thinking how it’s gonna be with you baby

I don’t wanna play rough I’ve been loving you enough. Oh, baby

 

I wanna take forever tonight

Wanna stay in this moment forever

I’m gonna give you all the love that I’ve got

I wanna take forever tonight

Fill you up, fill you up with love

When we close the door all I need is in your eyes

I wanna take forever tonight

 

Bisa ketebak selanjutnya adegan apa? Cuci piring sodara-sodara, habis makan malam soalnya :p.

 

Dan betapa itu lagu punya efek yang mendalam buat gue. Pernah ngga di antara lo semua yang punya kenangan manis sekaligus pahit dalam lagu yang sama? Gue ngalamin di lagu Forever Tonight-nya Peter Cetera ini.

 

Setahun lebih setelah malam romantis itu, di malam gue memutuskan untuk meninggalkannya, perpisahan kami diiringi lagu yang sama. What a kebetulan, live music di Planet Hollywood saat itu menyanyikan lagu Forever Tonight, dan replika patung oscar yang menghiasi Planet Hollywood, it just reminds me about the sweetheart award. Oh God, are You trying to punish me with these fucking memories or what?

 

Inspired by the Palm, Dubai created the Palm Island. And i hope that in time, you’ll be out of my mind #rhyme

 

The Doors Are Closed

 

Traveling is not just seeing the new; it is also leaving behind. Not just opening doors; also closing them behind you. – Jan Myrdal

 

Selama seminggu di Dubai gue selalu menggunakan Metro kemana-mana. Ada dua jalur Metro, jalur hijau dan jalur merah. Stasiun Deira yang terdekat dari hotel gue ada di jalur hijau. Sedangkan tempat-tempat menarik di Dubai kebanyakan ada di jalur merah, jadi gue dan teman gue harus ganti kereta.

 

Ya Tuhan, kalau di Indonesia ngga akan pernah ada Metro atau MRT, maka ijinkanlah hambaMu ini pindah dan menetap di Dubai. Amiin.

 

Habisnya desperate gue sama keadaan jalanan di Jakarta yang macet, banyak bus rongsokan, kereta listrik yang banyak copet, taksi susah, motor berjuta-juta yang saling tikung, dengan kata lain kerja di Jakarta sudah cukup bikin stres, jangan tambahin gue dengan stres masalah cinta, halah.

 

Kata-kata yang selalu gue inget dengan jelas banget bahkan sampai sekarang adalah suara di dalam Metro ketika pintu menutup dan Metro segera bergerak ke stasiun berikutnya.

 

“Al-Abwaab Maqfuulah, The Doors are closed”

 

Gimana ngga keinget, setiap stasiun suara ini gue denger. Dalam sehari bisa bolak-balik sekitar 20 stasiun, artinya 20 kali mendengar kata-kata itu dalam sehari. Dikali 6 hari berarti 120 kali gue terus-terusan mendengar kata-kata yang sama.

 

Dan di akhir perjalanan gue di Middle East ini gue baru paham. The universe were trying to teach me from this ‘The doors are closed’ voice. Tutup mi, sudah saatnya masa lalu ditutup, dan buka pintu baru menuju masa depan.

 

Kembali pada kejadian malam di Khalifa, gue bersusah payah menggendong kenangan berat yang gue bawa sampai ke puncak tertinggi di dunia untuk membuangnya. Memangnya bisa semudah itu? Tidak sayang, siapapun yang mengatakan move on itu mudah berarti ia tidak sepenuhnya pernah mencinta.

 

Kenapa harus dibuang, yang benar adalah ditutup dan pergi. Kenangan hanya dibutuhkan untuk tau sudah sejauh mana kita meninggalkan masa lalu kita. Dan kenangan tidak akan pernah hilang kecuali lo hilang ingatan. Kenangan ada di tempat yang pintunya sudah kita tutup tapi selalu muncul kapanpun kita menutup mata. Biarkan dia muncul sesekali tapi jangan buat dia menguasai pikiranmu.

 

04.15. Suara terdengar di Emirate Lounge menginformasikan sudah saatnya gue boarding.

 

I’ve been on this incredible journey and i’ve seen and learned so much.****

 

Terutama konsep move on gue yang salah selama ini. Nikmatin aja proses move on, semakin dipaksa malah semakin susah, there’s a right time for everything, termasuk move on. Dan berbagai kisah gue di Dubai semakin meyakinkan gue akan keputusan gue yang sudah tepat. Keep on moving and you should only look back to see how far you’ve come.

 

Sungguh gue mensyukuri kehidupan yang pernah gue lalui bersama dia di samping gue. It was a journey though. And it was wonderful. But i cant get a new destinations by traveling the same tired road. Thanks for the adventure, my bestfriend, now go have a new one*****.

 

Watching ‘Up’ while flying

 

If we are truly meant to be, then we will find our way back to each other. It’s as simple as that.- Dawson’s Creek

 

Gue dan teman gue mulai melangkah dengan tentengan isi oleh-oleh kami menuju pintu keluar Lounge untuk segera menuju boarding room. Di pintu bertulis EXIT itu gue berhenti dan terdiam sesaat. Gue keluarkan dari saku boarding pass pesawat gue menuju Jakarta. Gue tarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya sambil bolak-balik menatap antara tulisan EXIT dan boarding pass gue.

 

EXIT

 

BOARDING PASS

 

Boarding Pass Dubai – Jakarta

 

I got the meaning.

 

The Exit of something is just a Boarding pass to somewhere new, somewhere better to pursue my true happiness.

 

Dengan langkah pasti gue melanjutkan berjalan keluar Lounge sambil bernyanyi kecil..

 

Oh yes, I am wise

But it’s wisdom born of pain

Yes, I’ve paid the price

But look how much I gained

If I have to

I can do anything

I am strong

I am invincible

I am woman******

 

Ps. I love you, but I love my self more 🙂

 

* Dari buku ‘Life Traveler’ oleh Windy Ariestanty

** Ucapan khasnya Barney di How I Met Your Mother (HIMYM). Kalau lo penggemar HIMYM pastinya udah biasa dong dengan alur cerita yang dibolak-balik.

*** Kata-kata ini diucapkan Carrie di salah satu adegan di gurun STC 2

**** Apa aja yang gue lihat di Middle East sudah gue ceritakan di Track 2

***** Terinspirasi dari film favorit gue ‘Up’, di perjalanan pulang di pesawat gue nonton film ini lagi

****** Lagu yang dinyanyikan Carrie cs di STC 2, ketika sedang menikmati party di Abu Dhabi

 

 

In one word, i can summarize my Middle East Getaway: Awesome.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s