Travel is…

Travel is...Travel is figuring out that you are braver than before.

Travel is wondering there’s a world outside every darkened door.

Travel is falling a sleep on a bus and letting the bus driver take you anywhere until the last stop.

Travel is waking up earlier then you use to be and getting ready for today’s adventure.

Travel is enjoying sunset somewhere far away from home.

Travel is turning your head to the wind.

Travel is living life to the fullest, because life is like a road you travel on.

Travel is falling in love… with God, for any creatures you see along the trip.

Travel is waiting for surprise you may get in every journey.

Travel is planning for the next destination.

Travel is hunting for something you can bring home for the one you care about.

Travel is being somewhere that make you say “wish you were here’.

Travel is forgetting that you are on diet.

Travel is sharing your experience because you never have any story to tell if you have been nowhere.

Travel is guessing, perhaps that someone across the street is your soul mate.

Travel is either making you love your someone more or less, depends on your traveling purpose.

Travel is being awake, you never really sleep because you can’t wait until tomorrow comes and gives another experience.

Travel is taking a break from your busy hours that make you go insane.

Travel is sometimes sleeping on an inconvenience bed but feeling extremely satisfied.

Travel is wearing your old favorite shoes but every steps count a great adventure.

Travel is tasting the specialty of somewhere and when you come home you will suggest “you have to try the food”.

Travel is managing your time, you mess one day itinerary then you should rearrange for whole week.

Travel is being sexy without trying hard to be, in your own way.

Travel is knowing the things you never knew before.

Travel is going the distance to make a room for a while

Travel is seeing the world and meeting different races.

Travel is discovering that there is some act of kindness you never thought it existed before.

Travel is creating one simple conversation that could lead to a lifelong friendship.

Travel is being somewhere that you can always proudly say “been there” later on.

Travel is bringing the same bag for a week with difference experience everyday.

Travel is capturing moments you never want to forget, everytime you see the picture you will smile and say “I miss that moment”.

Travel is also learning how to communicate and deal with a completely stranger.

Travel is remembering one day when you’re old that you were once young, wild, free, and cool.

Travel is knowing that you may deserve something better.

Travel is feeling lucky for having a chance to see great places that some people may not have one.

Travel is getting something new that surprisingly surprised!

Travel is listening to one song in your iPod that will remind you of that one gloomy night somewhere.

Travel is figuring out, who is the one who did not miss you and the one who missed you the most

Travel is finding some place you’ve never been before but it just reminds you of that someone special.

Travel is realizing that there is still the one thing missing no matter how far you go.

Travel is wondering there’s a world outside every darkened door.

Travel is making new friends.

Travel is getting away for a while from your problem.

Travel is throwing your sorrow and counting your blessings.

The Hopeless Romantic Traveler – Jangan Jatuh Di Bromo

Jangan Jatuh Di Bromo

Kisah sebelumnya: Patah hati membuat gue memanfaatkan dinas kantor ke Dubai sebagai pelarian untuk move on. Meski selama perjalanan terasa berat karena selalu teringat kenangan masa lalu, di Dubai gue banyak belajar yang membuka mata gue bahwa hidup terus berjalan. Tutup yang lama dan segera mulai lembaran baru.

***

Lembaran baru segera gue buka sekembalinya dari Dubai. Meski belum 100% move on tapi gue mencoba untuk menikmati prosesnya. Perlahan tapi pasti gue mulai kembali ceria dan optimis dengan masa depan indah yang siap menyambut. Amiin.

Tapi terkadang beberapa orang masih salah mengartikan move on. Gue dibilang belum move on karena masih berteman dengan mantan dan belum juga menemukan pengganti. Emang gue peduli? Move on beda dengan move in. Gue sudah move on, yang belum kan tinggal move in aja. Daripada sudah move in tapi ternyata sebenarnya belum bisa move on? (Sumpah ini bukan sindiran).

“Lo sih terlalu milih, Mi.” seorang teman berkata pada gue lewat BBM suatu waktu.

“Bukan, salah banget. Gue bukan milih-milih, tapi lebih hati-hati aja.” balas gue.

Pengalaman menyakitkan di masa lalu jadi alasan otak gue memberikan peringatan keras pada hati. Hati-hati lah hati. Jangan salah jatuh lagi. Mungkin gue juga belum siap jatuh cinta lagi karena ngga mau kembali terluka. Jadi, gue pilih bersenang-senang menikmati hidup sampai hati gue benar-benar pulih. Tentunya juga, sambil terus berdoa agar jangan dibiarkan jatuh cinta kepada yang bukan Jodoh gue. Capek ah pacaran terus putus. Gue mau nikah, serius! (Hey It’s Rhyme).

Selang beberapa bulan setelah pulang dari Dubai, gue sempat beberapa kali dinas ke luar kota. Tapi padatnya pekerjaan ngga bikin gue sempat menikmati holi-work-day. Akhir tahun 2011 gue dinas di Bali tapi sama sekali ngga menikmati Bali. Pergantian tahun pun gue lewati di tempat tidur. Bobok pulas.

Si hopeless romantic ini kangen traveling lagi!

Tapi traveling berikutnya harus beda dong. Bukan untuk move on lagi, tapi..eh lucu juga kali ya kalau ketemu p-a-t-j-a-r pas lagi traveling. Kayak kisah si Dendi dan Riani (Spoiler)*.

Travel is guessing, perhaps that someone across the street is your soul mate. – @myaharyono

Well, perhaps loh. Siapa tau kan?

Tapi gue ngga ngarep muluk-muluk sih. At least, ketemu teman baru aja sudah cukup kok. Dan gue menemukannya waktu Dinas di Bali akhir tahun lalu itu.

Sebut saja dia si Rendang, panggilan akrab gue untuknya yang sangat menyukai makanan berlemak tinggi khas Padang itu.

Travel is creating one simple conversation that could lead to a lifetime friendship. – @myaharyono

Percakapan di Bali itu kalau gue ingat-ngat lagi sangat-sangat ngga penting ya. Si rendang ini awalnya cuma mamer-mamer Iphone miliknya yang lebih bagus dari punya gue. Sial. Lalu percakapan ngga penting itu berlanjut menjadi kicauan ngga jelas di Twitter. Karena dia bekerja di kota yang berbeda dengan gue, ya memang komunikasi kami hanya lewat Twitter dan LINE (aplikasi chatting di Iphone). Punya hobi dan zodiak yang sama mungkin membuat kami cocok berteman. Sangat menyenangkan rasanya punya teman ngobrol ngalur ngidul lagi setelah terakhir kali sama…ah sudahlah.

Tempat favorit kami berdua untuk ngobrol-ngobrol adalah di Starbucks dekat kantor gue. Beberapa kali kami bertemu kalau dia sedang dinas di Jakarta. Suatu ketika, gue memperkenalkannya pada sang masa lalu gue itu. Sejak itu si rendang resmi menjadi tempat gue berkeluh kesah. Kepadanya gue akhirnya bisa menceritakan semua kisah pribadi gue. Tampaknya, persahabatan gue dan si rendang setingkat lebih maju.

Gue punya banyak teman untuk tempat curhat, tapi beda aja rasanya curhat ke someone new. Dia yang baru mengenal gue malah memandang masalah gue dengan fair dan ngga nge-judge. Dia biarkan gue bercerita dulu sampai tuntas, lalu terkekeh.

“Ish kok malah ketawa sih rendang!” umpat gue yang kesal karena tertawa di tengah kesedihan gue yang sedang bercerita.

“Gue males ngasih masukan, percuma lo ngga akan denger juga. Ada 2 orang yang ngga bisa dikasih saran. Pertama lagi jatuh cinta. Kedua sedang patah hati tapi masih ngarep. Hahaha.” tawanya lepas seolah kisah gue itu lucu banget.

Gue cuma bisa merengut.

“Lo juga pasti udah dapet banyak saran dari temen-temen lo kan? Semuanya suru lo lupain dan tinggalin mantan lo kan?” Gue mengangguk setuju dengan perkataannya. “Yaudah, buat apalagi gue komen?” lanjutnya.

“Jadi gue ngga boleh nih cerita-cerita lagi tentang dia? tanya gue.

“Cerita tentang dia gunanya apa? Masih suka berarti kan? haha.” godanya.

“Bukaaaaan. Ish. Ya kalau misal keinget or ketemu dia lagi di kantor kan pengen juga cerita ke seseorang. Temen-temen gue udah bosen pasti denger cerita yang masih berhubungan dengan dia.” semoga pipi gue ngga terlihat merah saat menyangkal ucapannya. Dan si rendang itu tertawa lagi.

“Boleh aja. Kasian amat masa’ dilarang.”

Begitulah awal gue selalu cerita apa saja ke si rendang ini. When I suddenly feel down, karena teringat masa lalu, gue akan mencari si rendang. Gue akan terus bercerita meski responnya hanya ‘haha-hehe’. Dan sungguh, gue bisa ngga sedih lagi dan malah jadi ketawa-ketawa bareng.

Suatu waktu setelah selesai curhat panjang padanya gue mengucapkan rasa terima kasih untuknya karena mau waktunya terbuang dengerin keluhan gue. Dia hanya berkata “Yang penting, ngga galau lagi kan?”

Ucapannya menyadarkan gue, ah betapa baiknya orang-orang di sekitar gue yang ingin melihat gue ngga sedih lagi. Dan gue ngga boleh mengecewakan mereka dengan menunjukkan kesedihan lagi. Menurutnya, gue jadi suka sedih karena membaca status BBM dan tweet si mantan. Setelah membacanya lalu mulai membandingkan dengan ketika masih bersama dulu, tentu saja menyakitkan. Mengetahui dan kemudian mengingat lagi jadi sumber kegelisahan dan penyebab gue kembali sedih.

The less you know, the less you care, and the happier you will be.That is the golden rule, sweety.

“Gue akan delete BBM-nya. Gimana menurut lo?” tanya gue di suatu tengah malam kepada rendang.

“Seharusnya dari dulu malah.” responnya singkat.

Ngga neko-neko, tapi sahabat baru gue itu bisa memotivasi untuk bangkit lagi. Dialah yang membuat gue yakin untuk 100% lepas dari masa lalu. Sempat sedikit ragu di awal, karena sebentar lagi sang mantan akan berulang tahun. Dengan kondisi seperti ini, gue takut galau di hari ultahnya nanti. Karena pasti akan teringat setahun lalu kami masih merayakannya bersama-sama.

“Jangan khawatir, kan pas tanggal dia ultah kita mau ke Bromo. Senang-senang ajalah kita.” hiburnya.

Yes, petualangan si hopeless romantic traveler akan berlanjut di Bromo!

***

Gue dan si rendang kebetulan sama-sama dinas di Surabaya. Kami beserta beberapa teman yang lain merencanakan akan liburan di Bromo. Masa udah ke surabaya ngga ke Bromo. Lalu mulailah si rendang mengatur kepergian kami. Karena gue sedikit manja, gue merengek dulu ke teman-teman lain agar tidak backpacking-an (Please do not ask why). Menggunakan jasa tour sepertinya jadi pilihan tepat kami. Memang mahal sih. Minimal setengah juta per kantong untuk keseluruhan biaya melihat sunrise di Bromo.

Satu jam menjelang tengah malam, sebuah Daihatsu Grand Max sudah menunggu kami di hotel. Mobil tersebut akan membawa kami sampai Malang untuk kemudian bertukar dengan mobil jeep menuju Bromo.

Di tengah perjalanan, tepat pukul 12 malam, muncul reminder ulang tahun sang masa lalu di Iphone gue. Crap! Merusak mood gue aja. Supaya ngga sedih, iseng gue malah mengirimkan ucapan selamat ulang tahun ke Iphone si Rendang. Bunyi notifikasi menandakan ada balasan dari dia berupa siulan, terdengar memecahkan kesunyian di dalam mobil. Sesaat gue merasa ngga enak karena takut menganggu teman-teman lain yang sudah tidur. Lalu gue membaca pesannya. “Masih mau jadi yang pertama ngucapin ke mantan?”

“Ngga kok, malesin.” gue kirimkan balasan singkat kepadanya. Balasan dari dia berikutnya hanya terdengar suara getaran saja karena gue sudah mengaktifkan silent mode. Tapi chatting diam-diam sama si rendang di saat yang lain tidur pulas itu..lucu juga.

“Nanti saja kalau sudah di Bromo. Kirim aja begini: From Bromo, I wish you a happy birthday.” usul si rendang. Gue langsung cepat membalasnya lagi. “Norak ah.”

Rasa kantuk membuat gue ngga berlama-lama memikirkan kalau hari itu adalah hari yang pernah spesial buat gue. Gue ikut tertidur sampai bapak supir membangunkan kami. Pukul dua pagi di Kota Malang. Kami harus bertukar kendaraan. Sebuah mobil jeep sudah menanti kami.

Dua setengah jam perjalanan dilalui untuk sampai ke kawasan Bromo. Mobil jeep kami menghantam pekatnya malam, hanya ditemani cahaya bulan dan bintang yang bertebaran dengan indahnya. Hebat sekali pak supir ini hapal rute perjalanan melintasi gunung dan hutan. Bayangkan saja, salah-salah bisa kesasar! Aduh ada binatang buas ngga ya? Amit-amit!

Di tengah lamunan yang ngawur, tiba-tiba gue dihentakkan oleh udara yang masuk ke dalam mobil. Dinginnya menusuk. Ternyata si rendang membuka kaca jendela untuk melihat indahnya bintang. Dia meminta gue untuk melihatnya juga. Ah, pemandangan gugusan bintang ini jarang-jarang bisa dilihat di kota besar. Tapi gue ngga kuat berlama-lama menikmatinya. Gue meminta rendang juga menutup kaca jendela mobil. Dinginnya gak sante!

Tepat pukul setengah lima pagi, kami sampai di Pananjakan View untuk menyambut sunrise bersama pengunjung lainnya. Semua orang bersiap dengan kamera masing-masing. Gue percayakan SLR merah kesayangan gue pada si rendang untuk memotret pemandangan, yang membuat kami berkali-kali berdecak kagum. Gue cukup dengan Iphone saja. Sesekali gue ambil foto si rendang yang sedang asik mengabadikan moment matahari terbit di Bromo.

Ramai pengunjung menyambut matahari terbit di Bromo.

Travel is falling in love..with God, for any creatures you see along the trip. – @myaharyono

One of God’s best creatures.

Heaven on Earth.

Subhanallah! Indah banget. Seperti lukisan yang dikuas oleh tangan Tuhan sendiri. Gunung-gunung di Bromo tersebut tampak seperti mengambang di antara lautan kabut. Konon, Bromo adalah salah satu gunung dengan pemandangan terbaik di dunia. Ngga heran, pengunjung yang datang juga banyak dari berbagai luar negeri. Jarang-jarang kan ada bule mau ke gunung, biasanya mereka lebih memilih bersantai di pantai.

Heaven is what I feel.

Perjalanan di lanjutkan ke puncak gunung untuk melihat kawah. Pak supir tour menyarankan kami untuk menunggang kuda saja sebelum akhirnya menaiki tangga menuju puncak bukit. Harga sewa kuda untuk bolak-balik mengantar kami naik turun gunung adalah Rp100 ribu. Ya hitung-hitung sambil menolong bapak yang merupakan penduduk asli Tengger tersebut. Dia lah yang mengawal kami dengan berjalan memegangi kuda.

Yihhaaa!

Dan luar biasa capeknya ketika harus menapaki anak tangga menuju puncak gunung. Awalnya gue coba menghitung berapa jumlah anak tangga tersebut tapi lama-lama gue kehilangan konsentrasi.

Satu anak tangga. I do miss him.

Dua anak tangga. I do not miss him.

Tiga anak tangga. Why do i have to think that I miss him or not?

Empat anak tangga. Well who cares if I miss him or not.

Lima anak tangga. I’m tired of missing him.

Gue kecapek-an saat menaiki tangga ke puncak gunung.

Begitu seterusnya hingga beberapa anak tangga terakhir. Gue kehabisan nafas dan menghentikan langkah. Tinggal beberapa anak tangga lagi dan gue akan sampai ke puncak. Lalu gue menengadahkan kepala. Hembusan angin dingin menerpa wajah gue. Sinaran cahaya menyambut mata gue yang menyipit. Ada sesosok siluet tubuh menanti gue di ujung tangga. Tersenyum. Ah, senyum yang mendamaikan hati seketika. Senyum yang sudah lama hilang dan sedang kunanti kembali. Semakin dekat gue lihat sosok itu dengan jelas. Bersamaan dengan itu, telinga gue pun mendengarkan suaranya yang menyemangati gue. “Ayo, sebentar lagi sampai. “ Ternyata sosok itu adalah si rendang.

Dengan keyakinan pasti, gue melanjutkan menaiki anak tangga terakhir.

I’m done thinking of him.

Gue menggapai tangan si rendang agar tidak terjatuh. Lalu dia memastikan gue agar duduk di atas sebuah batu di dekat ujung tangga untuk beristirahat. Gue sudah tergopoh-gopoh saking capeknya. Fakor U nih pasti.

Lalu gue perhatikan keadaan sekitar. Puncak gunung ini seram banget sebenarnya. Ngga ada pembatas dan di bawah gunung yang curam ini langsung kawah. Butuh ekstra hati-hati agar tidak terpeleset dan terjatuh. Yang punya highphobia tidak disarankan mendaki sampai di puncak ini deh.

Gue melihat si rendang berjalan ke ujung jurang untuk memotret kawah. Setelah nafas gue kembali normal lalu gue menyusul ke tempat si rendang berdiri. Sadar gue yang sedang berjalan ‘sradak-sreduk’ ke arahnya dia spontan berteriak agar gue berhati-hati. Wajahnya terlihat khawatir. Mungkin dikiranya gue ada niat untuk lompat ke dalam jurang. Sial.

Ngga ada niatan lompat kok. Sunguh!

Dengan sok berani gue duduk di dekat jurang dan meminta dia mengambil foto gue dengan beberapa gaya. “Gue mau bergaya semacam lompat karena stres ya.” pinta gue lalu dengan kesusahan mencoba berdiri dan hampir terpeleset. Gue pun kena omelan si rendang. Dia cerewet banget meminta gue jangan terlalu ke pinggir. “Hati-hati lo. Awas jatuh!”

Entahlah, tapi seperti ada yang salah dengan peringatannya kali ini. Permintaannya agar tidak terjatuh di Bromo, terdengar seperti… Jangan.  Jatuh. Cinta…kepadanya.

But how can  I not fall for you?

Lalu sederet peristiwa yang terjadi sebulan terakhir berputar-putar di kepala gue. Teringat lagi masa-masa chatting kami malam hari menjelang tidur. Tanggapannya yang cuma terkekeh mendengar curhatan gue. Keisengannya mengirimkan gambar-gambar yang membuat gue mengucap…”ish..” lalu tersenyum. Komentar sinisnya yang mengatakan gue ngga bisa mengemas koper dengan baik. Pujiannya yang mengatakan bahwa dia salut karena gue wanita yang tegar disaat orang lain mungkin mengasihani gue. Dukungannya agar tetap menulis di saat sedih. Pembenarannya kalau menghibur diri dengan berbelanja sesekali itu tidak dilarang. Sikap ogah-ogahannya untuk menemani gue yang ketakutan sendirian, tapi toh dia mau memani gue juga. Sikapnya yang gentle dan memperlakukan gue dengan baik. Mengangkat bawaan gue yang berat ngga peduli tangannya kapalan dan hanya membiarkan gue membawa boarding pass. Menawaran jaketnya untuk menghangatkan gue yang kedinginan di bandara. Satu jam menggalau berduaan di dalam pesawat di atas udara. Dan… teringat juga akan kisahnya dengan wanita itu.

Ya, ada seseorang telah mengisi hatinya.

Alasan yang cukup kuat untuk gue tidak merusak pertemanan kami dengan jatuh cinta padanya. Semua kebaikannya sudah semestinya tidak disalahartikan yang lain.

Kali ini harus lebih berhati-hati. Salah langkah bisa menyebabkan gue terjatuh di Bromo. Resikonya bisa mati masuk jurang. Begitupun dengan hati gue. Syukurlah sejak awal gue sudah diberi peringatan agar tidak jatuh dan terperosok lebih dalam. Jika tak ada wanita lain pun, ada batasan-batasan yang sudah dia tetapkan di awal yang membuat gue dan dia tidak akan berujung pada hubungan lebih dari persahabatan. Masalah prinsipal.

Sekarang yang gue lakukan adalah menikmati kebaikannya dan kedekatan kami sambil tetap menjaga agar tidak jatuh hati padanya. Hati harus seperti kendaraan, dipasang rem yang dipakai untuk mengontrol kapan harus berhenti dan kapan harus terus berjalan.

Mungkin tiga puluh menit di puncak kawasan Bromo ini adalah masa yang akan gue ingat selamanya. Setengah jam dalam masa hidup gue, di mana gue hampir terjatuh di Bromo. Secara harfiah maupun istilah.

Sebelum kami kembali menuruni tangga dan melanjutkan petualangan di pasir berbisik, patung singa, dan padang savanah. Gue memanggil si rendang yang hendak turun mendahului gue. “Eh tunggu, lo jalan di belakang gue aja. Jaga gue ya. Don’t let me fall.” gue memberi penekanan pada kalimat terakhir. Sebuah perintah untuknya.

Dia tersenyum dan mempersilahkan gue melewatinya. Gue terus melangkah turun dengan hati dan kaki yang ringan. Tetapi harus terhenti ketika gue mendengar suaranya yang memanggil. Gue pun segera berbalik badan mengarah padanya yang masih berdiri di atas ujung tangga. Belum sempat gue berucap lalu…

JEPRET. JEPRET. JEPRET.

Thanks for making my day still special without him..

Notes.

* Coming soon: Trave(love)ing, Hati Patah Kaki Melangkah. Sebuah novel oleh Mia, Dendi, Roy, dan Grahita. Doanya ya Kakaaaak….

The Hopeless Romantic Traveler – Getaway to Middle East (Track 3 – End of Trip)

[Previously on The Hopeles Romantic Traveler: Getaway To Middle East, Discover Dubai, catatan perjalanan gue seminggu kemarin di Timur Tengah ]

 

No matter what happens, travel gives you a story to tell – Jewish Proverb

 

26 November 2011. Emirates Lounge. 00.00

 

The Emirates Business Class Lounge

 

Akhirnya sampai juga pada tujuan akhir sebuah perjalanan: pulang.*

 

Beberapa jam lagi gue akan balik ke Indonesia dan seharusnya gue tidur kayak temen gue yang udah pulas di sofa di samping gue. Ah ngga mau, gue mau menikmati 4 jam terakhir gue di Dubai, mengenang kembali apa yang sudah gue lewati dan pelajaran yang gue dapat selama di Middle East ini.

 

Moving Up for Moving On

 

And love, It’s not the easy thing, the only baggage that you can is all that you can’t leave behind- U2

 

I was moving up to the Top of Khalifa with a high speed lift, dari lantai dasar menuju lantai 124 yang hanya memakan waktu 1 menit saja. Sumpah. Gue ngga bohong. Gue nyalain stopwatch untuk test apa benar cuma 1 menit. Jeng-jeng. Semenit tepat. Keren kan.

 

Lebih keren lagi karena gue bisa naik sampai puncak tertinggi itu karena keberuntungan gue yang tiba-tiba dihubungi salah satu klien gue yang ternyata sedang ada dinas di Dubai juga. Dia seorang bule yang sudah lama di Indonesia dan sangat cinta Indonesia, terbukti dengan menikahi perempuan Solo. Well, yang gue maksud itu kota solo ya, bukan solo = single. Yakali ada yang sensi denger kata berbau single kayak solo, sendiri, eka, tunggal (itu gue sih sebenernya :p)

 

Si bule ini punya teman yang tinggal di apartment Burj Khalifa. Dia orang Indonesia yang jadi expat di Dubai yang so pasti gajinya aduhai sampai mampu menyewa apartment seharga 500 juta per tahun. Cerita ini akan jadi a happy ending fairytale kalau misalnya si Mas Expat ini masih muda dan single terus kenalan sama gue di Burj Khalifa, saling jatuh cinta, menikah, dan hidup selamanya bahagia di Dubai (dan gue yakin lo semua pasti ngarep endingnya begini kan waktu baca part 2, hayo jujuuuur, jujuuuur?). Damn right you Katy Perry, my love story is not like the movies, cinematic and dramatic with the perfect ending.

 

Burj Khalifa ngga cuma jadi saksi sejarah shooting Tom Cruise di Mission Imposible: Ghost Protocol tapi juga jadi saksi sejarah proses move on-nya gue (Cih. Sapa gue?). Thanks to si Bule dan Mas Expat yang bisa bawa gue juga ke Balkon dari Burj Khalifa ini. Hanya penghuni gedung ini yang punya akses ke lantai 76 di mana di sinilah terdapat balkon yang luas banget sampai ada kolam renang dan jacuzzi. Dan bayangin aja anginnya gimana dari lantai 76 itu, kenceng banget, kali ini gue mensyukuri punya tubuh (biar kedengaran halus) ngga kurus karena bisa mental kali ketiup angin. Di balkon ini gue bukan menikmati udara malam sambil jacuzzi-an sih ( I wish…) tapi disinilah titik dimana gue merasa, This is it! I have to move on, starting from here.

 

The Balcony of Burj Al Khalifa (76th floor)

Burj Al Khalifa from 76th floor

The Jacuzzi in the Balcony

 

Terus gimana ceritanya proses move on gue itu kakaaak? Wait for it**. Sebelum gue lanjutin cerita Burj Khalifanya gimana kalau gue cerita dulu tentang Safari Desert? (senyum licik)

 

I Heart Desert

 

I think I deserve something beautiful – Elizabeth Gilbert, Eat, Pray, Love

 

Yup, sesuatu yang indah, gurun misalnya 🙂

 

Setelah malam di Khalifa itu gue bangun pagi keesokannya dengan perasaan yang jauh lebih baik. Kenapa? Pilihan jawabannya:

(a) Ketemu Tom Cruise di Burj Khalifa (menurut lo?)

(b) Berhasil ngelupain dia dalam semalam sih (kalau ada yang bisa begini gue rela resign dari kantor gue sekarang terus kerja dan menetap di Dubai, lah itu sih mau lo mi)

(c) Kedua jawaban di atas benar

(d) Kedua jawaban di atas salah

 

Gue excited banget pagi itu karena siangnya gue mau Safari Desert. No matter how sad you are, the world doesnt stop for your grief. Akan selalu ada hal yang bisa buat lu happy qo, bahkan setelah sedih berat sekalipun. Karena lo mo terus sedih atau senang, lo pilih sendiri. “Gue pilih senang dan hari ini akan bersenang-senang di gurun. Yeay!” batin gue saat itu.

 

Kursus gue berakhir hari kamis (karena mulainya minggu, ingat kan) dan hanya setengah hari, sengaja diatur oleh penyelenggara agar peserta punya waktu lebih untuk menikmati Dubai sebelum kembali ke negara masing-masing. Tiket sendiri sudah kami pesan beberapa hari sebelumnya jadi kami hanya menunggu dijemput oleh supir yang akan membawa kami ke gurun.

 

Kendaraan yang datang jemput kami sebuah jeep, sudah ada satu peserta tour disitu, orang Afganistan. Iya, negaranya Osamma Bin Laden, Masya Allah, dalam hati gue sempet waswas gitu, duh, jangan-jangan anggota jaringan Al Khaida yang lagi misi bom bunuh diri di tengah gurun nanti. Oh please gue emang udah suka banget sama Dubai tapi ya ngga mau juga mati disini, apa lagi jadi korban teroris. Amit-amit.

 

Untungnya itu cuma pikiran si devil side of me aja, bapak asal Afganistan ini hanya penduduk biasa qo. Dia akhirnya banyak bercerita tentang kondisi mencekam di negaranya, yang ngga penting juga ya gue ceritain di sini.

 

Dari hotel kami kemudian masih menjemput 2 orang lagi. Ternyata suami istri dan dari jauh aja gue udah bisa nebak mereka orang melayu juga. Benar, ibu dan bapak peserta tour safari desert bersama kami ini asal Singapura. Baguslah jadi di perjalanan kami ngga melulu harus make bahasa inggris. Setelah 5 peserta lengkap, supir kami, Musa, asal India segera membawa kami menuju gurun.

 

Gurun yang kami tuju sekitar satu jam perjalanan dari Dubai, saat itu sudah sekitar jam 4 sore. Jeep kami berkumpul di meeting point, masih pinggirannya gurun, sebelum aksi dune dashing (semacam off road) dimulai. Ada sekitar 10 jeep yang siap berkonvoi untuk off road menuju kemah di tengah gurun. Di kemah itu akan ada berbagai atraksi, naik onta, ski gurun, barbeque party, dan pertunjukan tarian tradisional sufi dan belly dancing.

 

Sun Set on the Desert

 

Gurun pasir buat gue eksotis dan indah. Menikmati matahari tenggelam di gurun suatu pengalaman ngga terlupakan banget, apalagi naik onta, saking nagihnya gue dua kali naik hehe. Minum yakult aja gue dua ya masa naik onta ngga dua juga (anjiiiis gue garing abis).

 

“Are you ready for massage ladies and gentlement?” Tanya Musa sebelum aksi dune dashing dimulai. Heh, ngga salah denger kan gue, qo pijat. Ternyata, aksi off road di gurun ini super dahsyat. Ngeri banget sebenarnya, gimana kalau mobilnya keguling, astaga, mobil sampai miring banget ke kanan, miring ke kiri, badan jadi ketarik-tarik sama seatbelt, makanya istilah Musa itu dune dashing ya serasa dipijat karena badan ketarik-tarik. Pijat pala lo Musa!

 

The Dune Dashing

 

Malam hari di kemah para peserta safari desert berkumpul bersama untuk menikmati tarian sambil barbeque party. Well mereka semua ini lah teman-teman gue saat di gurun, berpesta bersama, melupakan kesulitan hidup sejenak. Gue jadi ingat adegan di STC 2 ketika Carrie and the gank bersenang-senang di gurun, ah betapa hepinya yang dulu gue pikir party di gurun cuma bisa gue tonton di film, akhirnya bisa ngerasain sendiri. Lucky bitch!

 

Riding a Camel

The Belly Dancing Show

The Sufi Dancing Show

 

No matter who broke your heart, or how long it takes to heal, you’ll never get through it without your friends.- Carrie Bradshaw***

 

Take a picture with Abaya for 10 AED

 

Di gurun ini selain bisa foto menggunakan baju tradisional Abaya (pastinya gue foto dong), kita bisa juga make henna (seni lukis di kulit). Sama aja kayak pacar Arab tapi di kulit gitu, ya anggap aja tato ngga permanen. Kenapa gue semangat banget pengen make henna di kaki kanan gue, karena gue pingin nutupin luka di kaki gue.

 

Henna Painting

 

Gue dan dia memang ngga pernah pergi travel bersama, satu-satunya adventure gue sama dia adalah riding a motorcycle around the city. Wansn’t it romantic? Apalagi banyak banget kejadian lucu selama dibonceng dia, mulai ditilang polisi sampai ban bocor. Bahkan pernah ban bocor dua kali (itu karena tambal ban yang pertama ngga bener woi bukan karena keberatan gue!! )

 

Pernah dia mengajak gue ke Pasar Gembrong, kata dia pusat jual mainan besar di Jakarta, bagi gue, astaga antah berantah banget, jauhnya minta ampun mau beli mainan helikopter aja. Dan harganya hampir sama dengan harga sepatu gue, ngga habis pikir deh sama cowo, boys will be boys, they love toys.

 

Di pasar yang ramai dan banyak motor parkir sembarangan itu, ketika helikopter sedang dicoba abangnya, karena harus mundur menghindari helikopter terbang, kaki gue menyentuh knalpot motor. Awch! Sakitnya ngga sante. Panas. Dan lukanya masih ada dan divonis dokter akan berberkas seumur hidup meski selalu rajin dioles salep. Ah cinta ternyata ngga cuma meninggalkan luka di hati tapi juga di kaki (tsaaaah….). Di hati mungkin bisa hilang, tapi yang di kaki gue seumur hidup!

 

Paling ngga dengan adanya henna di kaki gue ini yang bisa bertahan dua minggu ke depan bisa nutupin luka yang selalu bikin keinget dia tiap kali gue liat.

 

In desert we can experience a sand ski, or even a sand golf . Going with you around the city, is like having a whole time trip of love. #rhyme

 

Shopping for Love

 

“Honey, Which one do you prefer to spend your money on? Traveling or shopping?”

“I prefer shopping while traveling (*wink*)”

 

Berburu oleh-oleh itu salah satu best part dari traveling. Gue paling suka mencari sesuatu yang unik-unik untuk gue bawa pulang, beli buat sendiri, keluarga, teman-teman, dan orang yang gue sayang. Di Dubai untuk cari souvenir oleh-oleh yang murah bisa di Deira Old Souk, pasar tradisional di dekat Al Ghubaibah Water Transport Station. Atau bisa juga di Souk Madinat Jumeira. Mall yang berisi toko-toko kecil yang menjajakan berbagai barang, dari pernak-pernik, baju, kain, perhiasan, dan lain-lain. Di Mall ini juga ada food hall dengan pemandangan Burj Al Arab. Kalau menjelang magrib gitu indah banget.

 

Deira Old Souk

Souk Madinat Jumeira

Inside Jumeira

The Burj Al Arab from Souk Jumeira

Duty Free of Dubai

 

Di Airport juga bisa belanja di Duty Free, tapi menurut gue sih so far, Duty Free di Singapore masih yang terbaik. Harga parfum yang gue denger murah di Dubai, ternyata hanya issue belaka. Huh.

 

Biasanya di setiap perjalanan gue, gue selalu excited nyari barang untuk dia. Always on top of my list. Dan betapa anehnya bagi gue barang yang dia mau pun tetep aja gue jabanin untuk nyari, meski kaki sampe sakit, gue ngga peduli.

 

Setahun yang lalu di Hongkong, gue beli kaos bertuliskan ‘Someone who loves me very much went to Hongkong and bought this for me’. Dan di Dubai gue kembali menemukan kaos yang sama, hanya diganti kotanya saja. Sempat berkecamuk saat itu, should I buy this for him? Sedih, semua gue beliin oleh-oleh kecuali dia. Atau gue tetap beli terus dititipin? Buat apa? Hfffft.

 

Dari semua oleh-oleh yang pernah gue kasih, yang paling berkesan adalah waktu gue ke Singapore (dari Hongkong tahun lalu gue lanjut ke Singapore), di USS gue beli replika piala Oscar bertuliskan ‘Sweetheart Award’. Gue ingat malam di saat gue kasih itu piala di kamar kos gue.

 

“Wiiih, seumur hidup belum pernah dapet piala, makasih ya mi”

“Dipajang ya :)”

“Eh, dengerin ini lagu deh”. Lalu dia memutarkan lagu lewat HP jadulnya (saat itu belum punya blackberry, maklum hehe).

 

 

Feel your breath on my shoulder

And I know we couldn’t get any closer

I don’t wanna act tough, I just wanna fall in love

As we move into the night I get crazy

Thinking how it’s gonna be with you baby

I don’t wanna play rough I’ve been loving you enough. Oh, baby

 

I wanna take forever tonight

Wanna stay in this moment forever

I’m gonna give you all the love that I’ve got

I wanna take forever tonight

Fill you up, fill you up with love

When we close the door all I need is in your eyes

I wanna take forever tonight

 

Bisa ketebak selanjutnya adegan apa? Cuci piring sodara-sodara, habis makan malam soalnya :p.

 

Dan betapa itu lagu punya efek yang mendalam buat gue. Pernah ngga di antara lo semua yang punya kenangan manis sekaligus pahit dalam lagu yang sama? Gue ngalamin di lagu Forever Tonight-nya Peter Cetera ini.

 

Setahun lebih setelah malam romantis itu, di malam gue memutuskan untuk meninggalkannya, perpisahan kami diiringi lagu yang sama. What a kebetulan, live music di Planet Hollywood saat itu menyanyikan lagu Forever Tonight, dan replika patung oscar yang menghiasi Planet Hollywood, it just reminds me about the sweetheart award. Oh God, are You trying to punish me with these fucking memories or what?

 

Inspired by the Palm, Dubai created the Palm Island. And i hope that in time, you’ll be out of my mind #rhyme

 

The Doors Are Closed

 

Traveling is not just seeing the new; it is also leaving behind. Not just opening doors; also closing them behind you. – Jan Myrdal

 

Selama seminggu di Dubai gue selalu menggunakan Metro kemana-mana. Ada dua jalur Metro, jalur hijau dan jalur merah. Stasiun Deira yang terdekat dari hotel gue ada di jalur hijau. Sedangkan tempat-tempat menarik di Dubai kebanyakan ada di jalur merah, jadi gue dan teman gue harus ganti kereta.

 

Ya Tuhan, kalau di Indonesia ngga akan pernah ada Metro atau MRT, maka ijinkanlah hambaMu ini pindah dan menetap di Dubai. Amiin.

 

Habisnya desperate gue sama keadaan jalanan di Jakarta yang macet, banyak bus rongsokan, kereta listrik yang banyak copet, taksi susah, motor berjuta-juta yang saling tikung, dengan kata lain kerja di Jakarta sudah cukup bikin stres, jangan tambahin gue dengan stres masalah cinta, halah.

 

Kata-kata yang selalu gue inget dengan jelas banget bahkan sampai sekarang adalah suara di dalam Metro ketika pintu menutup dan Metro segera bergerak ke stasiun berikutnya.

 

“Al-Abwaab Maqfuulah, The Doors are closed”

 

Gimana ngga keinget, setiap stasiun suara ini gue denger. Dalam sehari bisa bolak-balik sekitar 20 stasiun, artinya 20 kali mendengar kata-kata itu dalam sehari. Dikali 6 hari berarti 120 kali gue terus-terusan mendengar kata-kata yang sama.

 

Dan di akhir perjalanan gue di Middle East ini gue baru paham. The universe were trying to teach me from this ‘The doors are closed’ voice. Tutup mi, sudah saatnya masa lalu ditutup, dan buka pintu baru menuju masa depan.

 

Kembali pada kejadian malam di Khalifa, gue bersusah payah menggendong kenangan berat yang gue bawa sampai ke puncak tertinggi di dunia untuk membuangnya. Memangnya bisa semudah itu? Tidak sayang, siapapun yang mengatakan move on itu mudah berarti ia tidak sepenuhnya pernah mencinta.

 

Kenapa harus dibuang, yang benar adalah ditutup dan pergi. Kenangan hanya dibutuhkan untuk tau sudah sejauh mana kita meninggalkan masa lalu kita. Dan kenangan tidak akan pernah hilang kecuali lo hilang ingatan. Kenangan ada di tempat yang pintunya sudah kita tutup tapi selalu muncul kapanpun kita menutup mata. Biarkan dia muncul sesekali tapi jangan buat dia menguasai pikiranmu.

 

04.15. Suara terdengar di Emirate Lounge menginformasikan sudah saatnya gue boarding.

 

I’ve been on this incredible journey and i’ve seen and learned so much.****

 

Terutama konsep move on gue yang salah selama ini. Nikmatin aja proses move on, semakin dipaksa malah semakin susah, there’s a right time for everything, termasuk move on. Dan berbagai kisah gue di Dubai semakin meyakinkan gue akan keputusan gue yang sudah tepat. Keep on moving and you should only look back to see how far you’ve come.

 

Sungguh gue mensyukuri kehidupan yang pernah gue lalui bersama dia di samping gue. It was a journey though. And it was wonderful. But i cant get a new destinations by traveling the same tired road. Thanks for the adventure, my bestfriend, now go have a new one*****.

 

Watching ‘Up’ while flying

 

If we are truly meant to be, then we will find our way back to each other. It’s as simple as that.- Dawson’s Creek

 

Gue dan teman gue mulai melangkah dengan tentengan isi oleh-oleh kami menuju pintu keluar Lounge untuk segera menuju boarding room. Di pintu bertulis EXIT itu gue berhenti dan terdiam sesaat. Gue keluarkan dari saku boarding pass pesawat gue menuju Jakarta. Gue tarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya sambil bolak-balik menatap antara tulisan EXIT dan boarding pass gue.

 

EXIT

 

BOARDING PASS

 

Boarding Pass Dubai – Jakarta

 

I got the meaning.

 

The Exit of something is just a Boarding pass to somewhere new, somewhere better to pursue my true happiness.

 

Dengan langkah pasti gue melanjutkan berjalan keluar Lounge sambil bernyanyi kecil..

 

Oh yes, I am wise

But it’s wisdom born of pain

Yes, I’ve paid the price

But look how much I gained

If I have to

I can do anything

I am strong

I am invincible

I am woman******

 

Ps. I love you, but I love my self more 🙂

 

* Dari buku ‘Life Traveler’ oleh Windy Ariestanty

** Ucapan khasnya Barney di How I Met Your Mother (HIMYM). Kalau lo penggemar HIMYM pastinya udah biasa dong dengan alur cerita yang dibolak-balik.

*** Kata-kata ini diucapkan Carrie di salah satu adegan di gurun STC 2

**** Apa aja yang gue lihat di Middle East sudah gue ceritakan di Track 2

***** Terinspirasi dari film favorit gue ‘Up’, di perjalanan pulang di pesawat gue nonton film ini lagi

****** Lagu yang dinyanyikan Carrie cs di STC 2, ketika sedang menikmati party di Abu Dhabi

 

 

In one word, i can summarize my Middle East Getaway: Awesome.

The Hopeless Romantic Traveler – Getaway to Middle East (Track 2)

[Previously on The Romantic and Hopeless Traveler: Getaway To Middle East, kisah awal dibalik getaway-nya gue ke Timur Tengah]

 

The snow falls down in Mall of Emirates, the sun sets in Jumeira Beach Park. You’re just my past, that i try hard to not keep on looking back. #rhyme*

 

But i do still remember, in every detail.

 

[5 November 2010. Di perjalanan menuju Jakarta]

Menatap ke luar jendela taksi sambil tersenyum. Ya Allah, terima kasih untuk keberanian yang Kau munculkan padaku hari ini sehingga aku dapat melakukan perjalanan ke Hongkong  besok dengan pikiran tenang.

 

Notifikasi YM muncul di layar blackberry gue. Chat dari dia.

 

“Mi, makasih ya udah jauh-jauh dateng, seneng banget”

“Haha, 3 jam perjalanan hanya untuk 1 jam ketemu , maluuu x_x”

“:)”

“Ah udah kangen duluan nih, mau pergi lama akunya, nanti tetep kontak-kontak oke”

“Halah, cuma seminggu aja kali, sebentar itu, have fun ya di sana. Sekarang hati-hati di jalan”

 

[18 November 2011. Di perjalanan menuju Dubai dari Abu Dhabi]

Tidak ada lagi percakapan antara gue dan dia yang menemani perjalanan gue di malam hari. Now and then. Dan gue pun tertidur pulas di bus.

 

Discover Dubai

 

The voyage of discovery is not in seeking new landscapes but in having new eyes. – Marcel Proust

 

Dulu waktu temen gue Dendi pulang dari traveling 9 hari 3 negara setelah patah hati gue pernah tanya, “Lalu, setelah akhirnya nekat backpacking, sakit hati lo ilang den? udah bisa move on?” Dendi ngga langsung jawab, dia hanya bilang “jawabannya ada di The Nekad Traveler mi” **

 

Beberapa minggu setelah itu, Dendi ngga terlihat galau lagi, terlihat semangat, meskipun ngga bisa bohong, belum 100% move on (bener ngga den?). Satu hal yang gue salut dari Dendi, kehilangan seseorang ngga bikin dia lantas kehilangan selera humor. Sama kayak gue sih, ngga kehilangan selera makan :p

 

Lalu apa sih yang didapat dari bepergian sampe banyak orang yang memutuskan untuk travel sebagai salah satu cara untuk move on? Apa tujuan the brokenhearted people melakukan traveling? Runaway from life’s problem? No darling.

 

Tiap orang punya motivasi yang beda sih. But for me, I need something new. I want to see different things, so I can restart my life.

 

Gue butuh hal-hal baru yang ngga pernah gue lihat, tau atau dapat sebelumnya. Ngga cuma tempat, tapi juga budaya, sosial life, atau apa saja yang berbeda, ya seperti di Timur Tengah ini (tapi ngga sampai muluk-muluk pingin dapat pacar baru sih di sini).

 

Dan memang banyak hal baru yang gue temui di Land of Arabia ini.

 

Pertama. Desert. Yang ada gurun cuma di Arab, Jenderal. Jadi belum ke Arab namanya kalau belum main ke Gurun. Safari Desert mungkin wisata paling laris manis di Dubai. Menikmati sunset di pantai udah biasa, kalau di gurun baru luar biasa. Everybody wants to walk on desert. Everybody wants to ride a camel.

 

On the sands of Desert

 

Kedua. Everybody’s working on Sunday. Have i told you lately that in Arab, Sunday is Monday? Yup, hari pertama dimulai dengan hari minggu. Jadi aktivitas kerja, bisnis, sekolah dll dilaksanakan pada hari minggu. Hari Jumat dan sabtu adalah hari libur karena jumat harinya para cowok untuk melaksanakan ibadah jumat. So in Middle East, we will never hate Monday.

 

Ketiga. Glamour in black. Gue di Dubai ini dalam rangka kursus dan kebetulan pesertanya mayoritas berasal dari Abu Dhabi serta kebanyakan wanita. Gue dan teman gue satu-satunya orang Asia di Dubai. Ada 5 wanita muda asal Abu Dhabi yang semuanya fresh graduated, mereka kerja di perusahaan oil company terbesar di Abu Dhabi. Sesuai tradisi, selama kelaspun mereka semua memakai abaya hitam dan nyaris gue ngga bisa membedakan kelimanya. Di pikiran lo pasti mereka berlima ngga fashionable banget dengan jubah hitam yang setiap hari mereka kenakan.

 

No guys they’re not!

 

Mereka tetap bisa tampil gaya. Abaya hitamnya bermacam-macam hiasannya dan keliatan mewah serta elegan. Yang bikin gue dan teman gue shocked dan jadi bertanya-tanya berapa sih gaji mereka, setiap hari tas mereka ganti dan gue bisa liat jelas merk tasnya ya. Longchamp, DKNY, LV, etc. Pertanyaan kedua, itu KW super apa asli (kalau pertanyaan ini terlontar beneran bisa langsung dideportasi kayanya gue sama mereka).

 

We should learn from Arabic women that you can be still looked fabulous without breaking the tradition.

 

Keempat. No photo please. Cewek-cewek Arab ngga mau difoto! Astaga, can you imagine live without photo? Oke informasi keempat ini relatif ya, mungkin buat kalian ngga penting banget, tapi buat gue yang kadar narsisnya setinggi jambul Syahrini jelas bikin shocked.   

 

Kelima. Most of everything. Dubai itu perwujudan manusia banget. Ngga ada puasnya. Dia kalau buat sesuatu mesti yang ‘ter’. Dubai mengklaim memiliki mall terbesar di dunia (Mall of Dubai), gedung tertinggi di dunia (Burj Khalifa), Hotel termahal di dunia (Atlantis Hotel), bendera terbesar di dunia, pasar terbanyak di dunia (yang ini karangan gue, habisnya banyak banget pasar tradisional disini, disebut ‘souk’, ada gold souk, spicy souk, old souk dan masih banyak lagi)

 

World’s Biggest Mall   Atlantis Hotel. Dubai.  Burj Al Arab

 

Rata-rata semua yang menarik di Dubai itu ‘Man-Made’. Maksudnya Dubai ini kalau ngga ada gedung-gedung atau atraksi yang bikin kita berdecak kagum ya ngga ada apa-apanya. Siapa yang sangka kota yang tadinya gurun bisa disulap jadi semetropolis ini. Kalau lo tipe orang yang lebih suka menikmati keindahan hijaunya alam, di Indonesia banyak.

 

Dubai juga kreatif membuat sesuatu yang menarik para turis untuk datang, misal dinner di cruise di sepanjang Dubai Creek. Di Dubai juga ada salju, tepatnya di Mall of Emirates. Mirip-mirip snow world tapi luas banget, dan kita bisa main ski di situ, ada kereta gantung juga, serasa di Swiss lah kira-kira (yakali udah pernah ke Swiss).

 

Sky Dubai at Mall of Emirates

 

Untung saja menjelajahi Dubai melihat hal-hal baru lebih mudah dibanding Abu Dhabi, karena sistem transportasi Dubai sudah canggih. Mereka punya Metro***. Dari hotel kami menuju stasiun terdekat untuk menuju tempat – tempat yang ingin kami kunjungi. Jalur metro ini hanya ada dua dan ngga sulit, jadi gue dan temen gue hanya bermodalkan peta dan itinerary yang sudah kami prepare di Jakarta ngga mengalami kesulitan berarti di sana.

 

Deira Station, the nearest from my hotel.    Waiting for the next metro.

 

Seminggu trip gue di Dubai diawali dengan mengunjungi Mall of Dubai. Di mall ini ada aquarium raksasa macam seaworld dan underwater zoo. Sama aja dengan di negara lain qo hanya lebih besar aja. Yang paling gue suka di sini adalah nonton pinguin-pinguin jalan berbaris dan kemudian satu persatu loncat ke air terus berenang. Ah qo gue ngerasa damai liatnya. Gue minta difotoin sama temen gue dengan latar si pinguin yang lagi renang dan hasilnya bener-bener jadi foto favorit gue banget. Si pinguin seperti mau cium gue! Ahaha apa gue keliatan segitu kangen diciumnya? (should I answer this question? No? Oke bye)

 

He tried to kiss me 🙂

 

Selain aquarium yang menarik di sini adalah dancing fountain yang besar banget dan bagus banget (maap-maap nih, yang di GI kalah banget hehe). Tiap jamnya si air menari dengan gaya yang berbeda dan musik yang beda.  Dan waktu gue nonton, lagunya shit banget, Time To Say Goodbye-nya Andrea Bocelli. Bahkan Dancing Fountain aja mendukung proses move on gue. What a mestakung (semesta mendukung)!

 

The View of Dancing Water Fountain from top

 

Oke gue bohong. Water fountain di GI bagi gue tetap lebih bagus dari di Dubai karena gue dan dia pernah sama-sama menikmati pertunjukan itu. Hari itu bertepatan dengan ultahnya dia. Gue yang ajak dia ke GI. Kami merayakan ultah dia dengan makan, main fun zone kayak jaman SD dulu main di Time Zone (ketauan banget gue anak 90-an yang pernah hobi ngumpulin tiket timezone untuk dituker sama bermacem hadiah), karoke berdua, main rafting, dan photo box (ngga usah menghina deh, kalau kangen photobox yang unyu-unyu gitu gih sana ke GI). Terakhir gue bawa dia nonton water fountain. Itu pertama kalinya dia liat dancing water sampai terkagum-kagum. Gue ngga akan pernah lupa setelah itu dia menuliskan ‘birthday thanks especially for Mia’ di status facebooknya. You’re Welcome 🙂

 

Oh crap, kenapa setiap tempat di Dubai masih mengingatkan gue sama kenangan manis. Raga gue memang di Dubai, tapi hati gue sepertinya masih tertinggal di Jakarta. Super crap!

 

When you’re on trip to somewhere but you’re heart isn’t totally traveling with you, it’s probably that your heart is still jetlagged.

 

Sailing over Dubai’s Creek

 

I’m not afraid of storms, for I’m learning to sail my ship. – Louisa May Alcott

 

Going along Dubai creek with boat & enjoying the evening sky could be romantic thing if you were with your lover. Astaga udah beberapa hari di timur tengah tapi hati gue masih jetlagged aja.

 

Gue inget sama tekad awal gue pergi ke Dubai, ini perjalanan pertama gue tanpa dia di sisi gue. Before Dubai, every traveling is a-wish-you-were-here-trip. Setiap gue pergi ke suatu tempat yang bagus gue selalu berdoa dalam hati “Seandainya dia ada di sini, suatu saat kita akan kesini ya. Amiin”

 

Sekarang, ngga ada gunanya lagi. Gue jauh-jauh sampai sini untuk meyakinkan diri gue kalau keputusan gue untuk pergi melepaskan hal-hal yang hanya membuat gue sedih sudah tepat. Lebih baik menjauh daripada memaksakan kebersamaan dengan orang yang hatinya ngga pernah bersama kita kan. Gue anggap masalah pathetic gue ini kayak badai, ya sih badai pasti berlalu, tapi kan kita ngga bisa diam aja nunggu badainya berhenti, gue harus belajar untuk terus berlayar mengarungi bahtera kehidupan (sounds wrong ngga sih? or sounds like Mario Teguh?)

 

So here we go. Gue dan teman gue pergi ke Al Ghubaiba Water Transport Station untuk menikmati kota Dubai di malam hari, menelusuri Dubai’s Creek menggunakan perahu kecil yang disebut Abra. Abra ini sebenarnya alat transportasi seharga 1 Dirham**** yang digunakan untuk menyeberangi sungai. Tapi karena unik dijadikan daya tarik wisata juga oleh Dubai. Ancol mana Ancol?

 

 

Al Ghubaiba Water Transport Station   Agra (boat)

 

 

Puas mengarungi Dubai’s Creek gue mengelilingi pasar tradisional yang terletak di dekat dermaga. Deira Old Souk yang mengingatkan gue sama tayangan bulan puasa tentang sejarah Nabi, yang menggambarkan kota –kota di arab jaman dahulu yang bangunannya sederhana tapi tinggi dan tak beratap juga banyak pohon palm-nya.

 

Deira Old Souk

 

Di pasar itu dijual berbagai barang untuk oleh-oleh. Kami berdua sempat istirahat sejenak di restoran sambil mengisap shisha untuk kemudian lanjut hunting barang-barang unik di pasar ini.

 

Shisha-ing at Deira Old Souk

 

Guess what? Gue menemukan sepatu yang diborong di pasar tradisional Abu Dhabi sama Carrie di STC 2! Sepatu flat hand-made dengan rajutan khas timur tengah. Tapi gue ngga kayak Carrie yang borong semua sepatu di toko itu ya, satu aja gue nawarnya setengah mati. Sepatu yang model-model begitu di Ambasador paling mahal juga 50 ribu udah dapet. Ini dijual 250ribu paling murah sama si penjual asal India. 15 menit gue nawar akhirnya dapat harga 150rb. Horeeee!

 

Sepatu yang dibeli Carrie di STC 2

 

Top of the world

 

 Your love puts me on the top of the world. – The Carpenter (Top of The World)

 

Allah bener-bener cinta sama gue. Ngga ada habisnya gue bersyukur sama lagi-lagi keberuntungan yang gue dapet. Puncak keberuntungan gue di Dubai adalah bisa berada di puncak tertinggi dunia. Masuk ke Burj Khalifa for free!

Gue sama temen gue emang ngga niat untuk masuk ke Burj Khalifa mengingat harganya yang mahal. Tiketnya seharga 400 Dirham atau sejuta! Kalau mau beli jauh-jauh hari katanya sih bisa dapet 100 Dirham (Rp250,000). 1 tiket untuk menaiki lift langsung menuju ke lantai 124. Di lantai tertinggi tersebut bentuknya lounge, jadi gedung tertutup, ngga seperti Macau Tower yang terbuka. Ya emang harus tertutup lah ya, nanti kalau ada yang bunuh diri gimana coba? Eh tapi apa ada yang mau bayar sejuta untuk bunuh diri? Demi gengsi barangkali.

 

Dan di gedung tertinggi ini adalah titik dimana gue ngerasa this is the right time untuk bertekad move on se move on-nya. Karena di kasih jalan banget yang tadinya ngga niat masuk tapi beruntung gue ketemu seseorang di sana yang baik hati yang bikin gue bisa naik ke Burj Khalifa dan melepaskan semua beban yang ngeganjel di hati gue.

 

 

Gimana bisa? Penasaran?

 

Dubai has the tallest Burj, also has the exotic desert. The story will be continued, to the next part. #rhyme

 

World’s tallest tower

 

*       Hashtag di twitter yang dipopulerkan oleh Fatima Al Kaff dan Dwika Putra, bermain kata-kata yang berirama

**     Ayo yang belum baca The Nekad Traveler silahkan diintip Facebooknya Dendi 🙂

***   Semacam MRT (Mass Rapid Transportation) di Singapore

**** 1 Dirham senilai kurang lebih Rp2,500,-

The Hopeless Romantic Traveler – Getaway to Middle East (Track 1)

“Honey, if it hurts so much, why are you going traveling?”

“Well.. I have a broken heart. Not a broken spirit” 🙂 *

 

Pernah nonton Sex and The City 2? Eat, Love, and Pray? Atau pernah baca Honeymoon with My Brother? The Nekad Traveler? Cih bangga banget pasti ya temen gue si Dendi disejajarkan sama Carrie Bradshaw, Elizabeth Gilbert, dan Franz Wisner haha. Yup, semuanya bercerita tentang perjalanan medis alias perjalanan untuk mengobati hati yang terluka (aiih).

 

Butuh uang yang banyak dan tekad yang bulat untuk memutuskan melakukan suatu perjalanan, atau modal nekat kayak temen gue si Dendi itu. Kalau gue? Well lo boleh panggil gue the lucky bustard. Gue emang biasa travel karena urusan pekerjaan, bisa dihitung deh traveling gue yang dibiayai dengan uang gue sendiri. Dan beruntungnya gue tahun ini dikasih kesempatan sama kantor untuk kursus ke Dubai. Yes baby, The Middle East, where the sexysm and misogyni are alive. Dan kenapa juga tanggal berangkatnya qo ya bertepatan sama gue yang lagi patah hati? Gue cuma bisa jawab: God is good.

 

I used to travel to see the world hoping that someday You and Me can travel together. But now I travel to erase You from my heart and my mind – Kata tekad gue

 

Gue akhirnya melakukan travel untuk pelarian dari sakit hati gue juga. Dan ini pertama kalinya dalam hidup gue traveling sebagai bagian dari proses recovery. Ya emang sih masalah gue nggak sesetres Carrie yang merasa kehidupan cintanya dengan Mr. Big monoton dan Jennifer yang mudah jatuh cinta sama pria kemudian sakit hati. Masalah gue juga nggak sengenes Franz yang ditinggal nikah di altar dan Dendi yang … (sudahlah, pokonya kasian deh hehe -piss den-). Tapi si empunya masalah ya pasti merasa masalahnya itulah yang paling berat bagi dirinya dong. Semua orang di muka bumi ini kan tipe orang yang ‘lo ngga tau sih beratnya jadi gue’. Everyone you meet in this world are facing some form of battle. Jadi sah-sah aja ya kalau gue ngerasa menderita banget dengan masalah patah hati yang gue alami ini sampai-sampai perlu juga pergi ke suatu tempat yang jauh, berharap rekaman gambar dari setiap kejutan menyakitkan dalam hidup gue akhir-akhir ini ngga akan ngikutin gue sampai ke Dubai untuk gangguin pikiran gue. Karena kan kalau udah ngelewatin lautan katanya ngga mempan (lo pikir santet apa?).

 

Dan gue excited banget sama perjalanan kali ini. Timur Tengah Man! It’s an expensive and luxury trip. Sudah sewajarnya gue bahagia dan ngga sedih lagi dong. It would be the perfect getaway! Nyatanya, masih aja gue galau. H minus 1. The galauest ever feeling before traveling. Kejadian setahun yang lalu kebayang-bayang lagi. Setahun kemarin, bulan November juga, gue travel ke Hongkong yang juga dinas dari kantor. H-1 ke Hongkong, demi menyemangati seseorang yang sangat gue sayang, gue rela menempuh 3 jam perjalanan karena macet: Jakarta – (maaf daerah harus disembunyikan) – Jakarta untuk 1 jam menghabiskan waktu bersamanya. Dan setelah itu gue berangkat ke Hongkong dengan perasaan senang, karena pas ketemuan itu pertama kalinya juga gue sama dia…(ada deh, kepo banget sih :p)

 

Like my friend said, it was so last year ya Mi, jangan sampe ganggu trip lo kali ini deh. Well she’s right, but I’m wrong. Tahun lalu, gue di mana dan dia di mana aja bisa berduaan dulu sebelum gue berangkat, tahun ini? For God’s sake kami berada dalam satu gedung kantor, dan di pagi itu kami bertemu dan bedanya, kami berdua sekarang adalah dua orang yang berbeda**. What’s more pathetic than that?

 

4000 Miles Apart (Jakarta – Dubai)

 

I guess we’re at our best when we’re miles away – Madonna (Miles Away)

 

18 November 2011 terbanglah gue ke Dubai. Gue terharu banyak teman-teman gue yang melepas dengan ucapan semoga selamat sampai tujuan atau selamat bersenang-senang di sana (meski sebenarnya ada “oleh-oleh ya mi” di setiap “have fun di Dubai ya mi” tapi gue senang dan tidak berkeberatan membawakan mereka oleh-oleh, sungguh!). Dan 8 jam perjalanan malam gue lewatin tanpa perasaan sedih karena ketutup sama noraknya gue yang baru pertama kali naik pesawat duduk di business class, hihi malu-maluin ya. Masa sih gue harus mikirin orang yang ngga sedetikpun mikirin gue di kursi pesawat yang nyaman dan ada automatic massage-nya ini. Gengsi dong. “Ah tapi pasti masih kepikiran dia kan? Ayo jujur..jujuuuur..” Goda si devil side of myself. Reseeee, ya jujur sih masih kepikiranlah, tapi dikit aja, saat orang-orang udah pada tertidur lelap di pesawat, gue ngga ada habis-habisnya bersyukur bisa pergi sejauh mungkin karena gue butuh waktu untuk menenangkan diri, dia pun juga ngga harus ngerasa beban kalau ketemu gue di kantor selama gue di Dubai kan. Jika dekatnya jarak membuat kami selalu bertengkar, jauhnya jarak adalah hal terbaik, ngga mungkin berantemlah minimal.

 

Jam 11 malam waktu Dunia Bagian Timur Tengah*** gue akhirnya sampai Dubai. Terpujilah kantor gue yang mau membiayai perjalanan ini mahal-mahal lewat business class jadi gue ngga perlu antri panjang-panjang di Imigrasi. Dan hey, ini negara Arab, wanita diberi keistimewaan dengan antrian pemeriksaan visa khusus wanita, gue bisa melewati proses administrasi dengan lebih cepat. Dan yang pertama kali gue pikirin setelah menginjak negara Arab ini adalah: Aneh ya liat cowo-cowo make rok gini, jalan aja susah apalagi lari, bisa banget kayanya ngejar cowo Arab (yakali ngegebet semudah kejar dalam arti sebenarnya. Hfff).

 

Sweet Escape to Abu Dhabi

 

المسافر له في البحر طريق

(Transliteration: Al-mussafer lahu fil-bahar tireeg)

 

A traveler has a path in the sea – Arabic Proverb ****

 

 

19 November 2011, setelah memastikan bisa check in di hotel yang ditentukan kantor selama kami di Dubai (JW Marriott dan sekali lagi terpujilah kantor gue), jam 10 pagi gue dan teman gue satu kantor yang juga dinas bareng gue langsung menuju Abu Dhabi, ibu kota negara Uni Emirates Arab (UEA). Gue bisa mampir ke Abu Dhabi ya lagi-lagi karena beruntung banget gue punya sepupu yang kerja di sana dan 15 tahun kurang lebih ngga pernah ketemu! Udah kayak adegan di Termehek-mehek yang akhirnya berhasil menemukan anggota keluarga setelah perpisahan bertahun-tahun, gue dan sepupu gue berpelukan erat dan lama, di parkiran hihi. City tour di Abu Dhabi difasilitasi oleh my beloved cousin bareng her lovely Pinoy friend yang kita panggil Madame. Jadi kami jalan-jalan berempat dengan mobil (plus supirnya) yang berhasil dipinjam sepupu gue dari temannya. Ah sepupu gue ini emang supel, jadi banyak teman dimana-mana dan bersedia nolongin. Karena  agak susah ya transportasi umum di Abu Dhabi, jadi lagi-lagi gue merasa beruntung banget. So, berasa meremake film Sex and the City 2, gue bersenang-senang di Abu Dhabi, just like Carrie and her ganks did!

 

Karena keterbatasan waktu tujuan utama kami di Abu Dhabi adalah Masjid kebanggaan di sana yaitu Sheikh Zayed Mosque dan Ferrari World. Tepat jam 12 siang sampai ke Masjid Raya Abu Dhabi ini yang ternyata luar biasa indahnya, luar biasa besarnya, luar biasa mewahnya. Subhanallah dan Alhamdulillah gue bisa ngerasain sholat Dhuhur juga (terharu). Dan gue make Abaya dong, jubah hitam yang dikenakan wanita-wanita di Abu Dhabi, abaya wajib dipakai semua wanita yang ingin memasuki Masjid meski hanya foto-foto. Sesuatu yang exciting buat gue. Beda aja, jadi gadis timur tengah sesaat, tertutup rapat sehingga panas matahari yang menyengat dan suhu udara 31 derajat celcius saat itu diserap dengan amat sempurna oleh abaya hitam ini menimbulkan keringat yang keluar dari tubuh gue. Dan gue malah ngerasa….sexy…ahhhiy.

 

At Sheikh Zayed Mosque, Abu Dhabi, women must wear Abaya.

 

Setelah makan siang di Mall of Abu Dhabi (ternyata makanan di Abu Dhabi mahal-mahal sampai gue hanya makan Carl’s Junior di Food court), perjalanan dilanjutkan ke Yas Island di mana ada Yas Marina Formula One Circuit yang di dalamnya ada Ferrari World. Gila! Gue ngga bisa nutupin betapa happynya gue bisa melewati lintasan yang juga dilalui pembalap kelas dunia, Schumi dan Kimi***** sampai-sampai ingin rasanya gue turun dan sujud syukur di tengah jalan lalu menuliskan gede-gede di lintasan tersebut “Mia was here” lalu gue diamankan security UEA ya karena bertindak ngga waras.

 

Di Yas Island inilah terdapat Ferrari World, yaitu Ferrari Theme Park, permainan roller coaster yang kecepatannya seperti mengendarai Ferrari saat balapan. Keren banget ya. Tapi nyali dan kantong gue mendadak kompak ciut. Ngga sanggup gue harus sport jantung naik roller coaster tercepat di dunia dan harga tiketnya ngga reasonable buat anak ekonomi kayak gue, kalau di rupiahin sekitar 600 ribu rupiah dan hanya 1 permainan. Ah, gue meratapi kondisi keuangan gue hiks hiks. Tapi bukan Mia namanya kalau ngga punya cara having fun di Ferrari World, cukup menyalurkan hobi foto dan belanja aja sudah bikin girang bukan kepalang.

 

Thx to my beloved cousin who made this happened. Lotta kisses….:*

 

Puas muterin Abu Dhabi saatnya kembali ke Dubai. Jam 6 sore di terminal bus gue berpisah sama sepupu gue (ah, because of you, my dreams are coming true sweety)

 

[Next on The Romantic and Hopeless Traveler: Discover Dubai, catatan perjalanan gue seminggu berikutya di Timur Tengah]

 

*         Terinspirasi dari serial Sex and the City, pertanyaan yang ditanya Carrie pada Samantha, tepatnya begini:

          “Honey, if it hurts so much, why are you going shopping?”

 

          “Well.. I have a broken toe. Not a broken spirit” 🙂

**       Kisah sebenarnya ngga perlu dipublish, ngga enak ngumbar di social media

***     Beda waktu UEA dengan Indonesia, UEA 3 jam lebih lambat

****   Maksud proverb ini untuk memberanikan diri seorang traveler dalam menghadapi kesulitan selama perjalanan

bahwa Tuhan selalu melindungi mereka yang memiliki keyakinan

***** Mantan Pembalap Ferrari, keduanya favorite gue